Thursday, January 1, 2009

Arthur In Love With A Princess


International Student Organization di kampus saya setiap tahun mengadakan acara dance cruise yaitu acara dansa yang diadakan diatas kapal pesiar. Acara ini dikhususkan untuk mahasiswa international di universitas saya tapi juga terbuka bagi mahasiswa warga negara Amerika juga. Tahun 1996 merupakan tahun terakhir saya kuliah sebelum saya selesai menempuh pendidikan S1. Sebelumnya saya tidak kepikiran untuk ikut acara seperti itu, tapi setelah dibujuk oleh teman saya, akhirnya saya berminat untuk ikut dance cruise.

“What the heck, perhaps it’ll be fun” saya berpikir dalam hati.
Sabtu Sore Di Pier 6
Bulan September di kota San Francisco belum terlalu dingin. Malam itu saya dan 4 teman Indonesia saya telah tiba di pelabuhan tempat naik kapal pesiar. Jangan bayangkan kapal pesiar yang besar dan mewah, karena sesungguhnya kapal pesiar yang dipakai dalam acara ini hanya berukuran medium dan terdiri dari 3 deck. Cukup banyak yang ikut dance cruise ini, saya perkirakan ada sekitar 100 orang yang telah berkumpul. Semua berpakaian rapih, yang pria mengenakan jas dan yang wanita mengenakan evening gown. Di tiket ditulis jam boarding ke kapal pukul 17:30.
Sambil menunggu, saya melihat teman baik saya, Natha Sankavadhana (orang Thailand) datang dengan serombongan besar orang Thailand. Ia melambaikan tangannya pada saya dan menyampiri saya. Saya dan Natha berteman baik karena kita sama-sama mulai dari freshman (tahun pertama), sophomore (tahun kedua) dan junior (tahun ketiga). Tapi ditahun senior (tahun keempat) saya jarang sekelas dengannya karena saya berkonsentrasi di finance sedangkan Natha di accounting. Kami langsung asyik ngobrol sambi tertawa-tawa. Mata saya tiba-tiba tertumbuk pada satu perempuan Thailand yang berdiri diantara orang-orang Thailand.
Penampilannya anggun dengan evening gown warna merah dan rambutnya ditata dengan rapih. Sambil memperhatikan dirinya, saya tetap ngobrol dengan Natha. Sekali dua kali mata saya dan perempuan Thailand itu saling beradu. Saya menganggukan kepala sambil senyum dan ia membalas senyum. Obrolan dengan Natha terpaksa terhenti karena terdengar bunyi sirene kapal pertanda pintu kapal telah dibuka dan orang-orang antri untuk pemeriksaan karcis.
Deck satu diperuntukkan untuk dance floor, dance dua untuk duduk-duduk dan bar sedangkan deck tiga sebagai tempat untuk melihat pemandangan. Jam 18:00 tepat kapal pun berangkat. Orang-orang langsung naik ke deck tiga untuk melihat matahari terbenam di teluk San Francisco. Saya dan teman-teman akrab saya, yaitu Hiroko dan Matsumi (Jepang), Nicholas (Russia) Hendri Wong (Hong Kong), Jafar (Malaysia) dan beberapa teman lainnya lebih memilih untuk hang out di bar untuk ngobrol-ngobrol. Alunan musik disko disusul reggae, musik pop dan slow dance silih berganti di deck satu. Tertawa hiruk pikuk orang-orang terdengar saat ada acara games dan pembagian hadiah. Tapi hal tersebut tidak membuat saya dan teman-teman tertarik dan kami tetap ngobrol dan becanda sambil minum bir.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22:00 dan kapal pun siap-siap untuk merapat ke pelabuhan. Oh damn it, saya langsung teringat ke perempuan Thailand yang saya perhatikan sebelum berangkat. Dimana dia? Saya cari ke deck satu, suasana agak remang-remang. Orang-orang masih asyik slow dance menikmati lagu “For ever young”. Saya ke deck tiga dan celingukan. Ternyata ia ada ditengah-tengah group Thailand dan sedang berfoto-foto. Akhirnya pintu kapal dibuka dan orang-orang pun turun dari kapal. Saya melihat kebelakang dan kelihatannya group Thailand itu belum turun dari deck tiga. Ya sudahlah, nanti saja hari senin saya tanya ke Natha.
Senin Pagi Di Kampus
“Hai Natha, what’s up?” saya menegur Natha yang sedang sarapan di kafetaria kampus.
“Hi Arthur, apa kabar? Saya lagi lihat-lihat foto dance cruise. Lihat deh” Natha menawarkan.
Saya cepat-cepat membuka foto demi foto mencari perempuan yang saya incar, dan ada!
“Eh, yang ini cantik ya? Siapa sih namanya?” tanya saya to the point.
“Hahahaha.. Kamu mau kenal juga ya?” kata Natha sambil tertawa.
“Kenapa?”
“What a coincidence. Namanya Nadia. Waktu di dance cruise, dia tanya ke saya nama kamu, langsung aja saya tawarin mau kenalan nggak?” kata Natha
“Wah terus? Kok nggak jadi?” tanya saya kecewa.
“Yah abisan kamu lagi mabuk di bar dengan anak-anak” kata Natha.
“Enak aja! Saya nggak mabuk” jawab saya sengit.
“Just kidding! Anyway, nih saya kasih nomor telepon dia dan kamu hubungi sendiri ya?” kata Natha sambil menulis angka dikertas lalu memberikannya pada saya.
“Thanks a lot Natha, you’re so sweet” lalu saya cium pipinya.
Malam itu saya telepon Nadia. Orangnya ramah sekali. Nama panjangnya Nadia Padvangkash. Gaya bicaranya tegas dan accent inggrisnya juga lancar, beda dengan orang Thailand lainnya yang accent inggrisnya masih tercampur dengan accent bahasa Thailand sehingga tidak enak didengar. Ternyata Nadia sedang mengambil program S-2, pantesan saya tidak pernah melihatnya di kampus karena jam kelasnya beda dengan mahasiswa S1. Usianya sendiri 3 tahun lebih tua dari saya.
“Mau makan siang nggak besok?” saya menawarkan.
“Besok saya agak sibuk. Bagaimana kalau Jum’at siang?”
“Boleh, kita ketemu di student lounge ya?”
“Sounds great” Lalu saya ucapkan selamat malam dan menutup telepon.
Jum’at Siang Di Student Lounge
“Eh Arthur mau ngedate loh sama anak Thailand” goda si Ucok.
“Anaknya yang tinggi itu ya? Cantik loh” si Jenny nambah-nambahin.
“Ah rese loe semua, sana-sana pergi, bentar lagi orangnya datang” saya belagak marah.
Teman-teman tertawa terbahak-bahak lalu meninggalkan saya. Tidak berapa lama, si Nadia datang. Saya tersenyum dan memanggilnya, Nadia melambaikan tangannya dan balas senyum. Nadia mengenakan celana jeans agak ketat dengan kemeja warna cerah. Rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai. Nadia memang mempunyai pesona tersendiri dan kelihatan cantik dan anggun. Kulitnya putih, hidungnya mancung dan matanya agak sipit.
“Hi, ready to go?” kata saya.
“OK, I’m starving” jawab Nadia
Saya mengemudikan mobil saya kearah Japan Town dan kami makan siang di sebuah restoran sushi yang cukup terkenal di San Francisco. The best sushi in town! Sambil makan siang, kami tak henti-hentinya ngobrol tentang berbagai macam topik. Selesai makan siang, saya menawarkan untuk nonton di bioskop disamping restoran sushi. Nadia setuju-setuju saja. Lalu kami nonton “The Saint” yang baru main. Selesai nonton, saya mengantar Nadia pulang ke apartemennya di daerah down town.
Gedung apartemennya cukup modern dan terawat. Nadia mempersilakan saya masuk ke apartemennya. Kami lalu kembali melanjutkan obrolannya sambil nonton TV. Jam 18:00, dengan menyesal saya terpaksa harus minta ijin karena mau latihan bola basket. Nadia terlihat agak kecewa.
“Saya jemput kamu lagi ya besok” kata saya.
“Bagaimana kalau saya masak untuk kamu besok malam? Setuju?” Nadia menawarkan.
“Boleh aja” jawab saya dengan tersenyum.
“Datang ya jam 17:00, saya tunggu” Lalu saya diantar keluar oleh Nadia dan saya langsung kembali ke kampus untuk latihan bola basket.
Sabtu Sore Di Liquor Store
Saya mempelajari budaya orang bule, apabila diundang makan malam, jangan datang dengan tangan kosong dan perut keroncongan. Harus membawa sesuatu! Saya membeli sebotol white wine yang saya sudah tau pasti rasanya enak. Saya langsung memacu mobil saya ke apartemen Nadia supaya tidak terlambat. Jam 17:00 tepat saya sudah tiba di apartemennya. Nadia membukakan pintu dan tersenyum lebar
“Halo, silakan masuk. Wah kamu beli white wine ya?” kata Nadia.
“Iya, white wine goes well with Thai food” kata saya sok tahu.
“Hahaha, bisa aja kamu” kata Nadia.
Malam ini Nadia mengenakan rok selutut warna hitam dan baju lengan pendek. Pakaiannya sangat sopan. Rambutnya yang panjang ia ikat keatas.
“Wow, kamu masak ini semua?” tanya saya.
“Iya, dari kecil saya sudah terbiasa masak. Saya diajar ibu saya. Yang ini adalah udang goreng, yang itu sayur dan yang ini daging sapi” ujar Nadia memperkenalkan masakannya.
Meja makan sudah tertata rapih, piring, gelas, sendok dan garpu diatur dengan rapih dan ditengah meja ada tempat lilin dengan lilin yang sudah menyala. A perfect dinner. Saya membuka gabus penutup botol wine dan menuangkannya di gelas wine lalu memberikannya ke Nadia dan menuangkan satu gelas untuk saya. Setelah itu kita mulai makan malam.
“Suka nggak?” Tanya Nadia.
“Lezat sekali. Benar-benar enak” puji saya dengan jujur.
Selesai makan, Nadia bangkit untuk mengumpulkan piring dan gelas kotor tapi saya larang. Saya minta Nadia tetap duduk dan saya yang membersihkan meja. Piring, gelas, dan peralatan makan yang kotor saya bilas dengan air lalu dimasukkan ke dish washer (mesin untuk cuci piring, gelas, sendok, garpu dan keluarganya). Nadia memperhatikan kesibukan saya sambil minum wine. Setelah itu, Nadia mengajak saya nonton TV. Kami duduk di sofa sambil nonton TV tapi kami tidak terlalu memperhatikan acara TV karena asyik ngobrol berdua. Diatas coffee table, ada sebuah buku besar bertuliskan “Thailand”.
Saya mengambil buku itu lalu membukanya. Sambil memperhatikan gambar-gambar di buku itu, Nadia sibuk menceritakan tentang adat istiadat negaranya, menceritakan tentang Bangkok. Kira-kira dipertengahan buku, ada satu foto Raja Bhumibol (Raja Thailand) memakai pakaian kasual dan sedang tertawa-tawa dengan 2 remaja putri dan 3 remaja putra. Dibawah foto itu ada tulisan “Raja Bhumibol sedang menikmati masa liburannya dengan berkumpul bersama keluarga besarnya dan tampak sedang bergurau dengan keponakannya”. Saya perhatikan wajah remaja-remaja ini dan ternyata remaja putri itu adalah Nadia.
“Ini kamu ya?” tanya saya.
Nadia tersenyum dan mengiyakan
“Kamu keponakan Raja Bhumibol?”
“Iya, masih keponakan langsung. Dari kecil saya sudah diajar tata krama dilingkungan kerajaan, cara berbicara, cara berjalan, cara makan, belajar menari, dsb” Nadia menerangkan.
“Wah pantesan aja dari pertama kali saya melihat kamu kok rasanya beda sekali dengan anak-anak Thailand lainnya” kata saya dengan kagum.
“Are you a princess?” tanya saya.
“Yah semacam itulah” jawab Nadia tanpa nada sombong.
Nadia menceritakan kisah-kisah lucu selama diajar di kerajaan. Saya mendengarnya dengan asyik. Selesai bercerita, Nadia memutar CD Jim Brickman lalu melanjutkan obrolannya. Ditengah obrolan, saya meletakkan gelas saya yang berisi wine lalu berdiri depan Nadia. Saya julurkan tangan kanan saya lalu membungkuk
“May I have the honor to dance with you, my lady?”
“Certainly, Sir” jawab Nadia sambil tersenyum dengan manis.
Tangan kiri saya terjulur kesamping kiri saya dan tangan kanan saya merangkul pinggang Nadia, sedangkan tangan kanan Nadia menggenggam tangan kiri saya dan tangan kirinya merangkul bahu kanan saya. Kami berdansa diiringi lantunan piano dari Jim Brickman. Sambil dansa, mata kami saling menatap. Dalam hati saya memuji kecantikan Nadia. Saya menjadi sungkan dengan Nadia begitu tahu dia adalah keluarga dekat Raja Bhumibol, hal ini membuat saya menjadi segan untuk mengajaknya ML, kecuali dia yang mengajak ya lain perkara.. hehehe.
Jarak kami menjadi semakin dekat sehingga kami praktis berpelukan. Saya melingkarkan kedua tangan saya dipinggangnya dan Nadia mengalungkan tangannya di leherku. Nadia mendekatkan bibirnya lalu mengecup bibir saya. Saya lalu membalas ciumannya dan Nadia pun membalas ciumanku dan kita berciuman sambil berdansa. Biasanya kalau sudah begini, tangan saya sudah sibuk bergerilya ke tubuh si wanita, tapi kali ini tangan saya tetap dipinggang dan tidak berani bergerak kemana-mana.
Anehnya, si Nadia justru yang meraih tangan saya dari pinggang dan memindahkannya ke pantatnya. Lampu hijau dari Nadia membuat saya mulai bereksplorasi. Saya raba-raba pantatnya dan pinggangnya. Tangan Nadia pun mulai meraba dada saya dan pantat saya. Wah ternyata dia agresif juga. Kami berciuman beberapa lama, lalu Nadia menarik mukanya dan tersenyum pada saya, tangan saya digenggam dan saya dibawa ke kamarnya. Nadia kembali mencium saya dipinggir tempat tidur. Perlahan saya beranikan diri meraba payudaranya. Nafas Nadia mendengus menahan nafsu.
Perlahan saya baringkan Nadia ditempat tidur, saya membuka semua kancing bajunya sehingga tampak BHnya warna merah maroon. Nadia meraih kebelakang roknya dan membuka kaitan roknya lalu saya menarik roknya kebawah dan terlihat celana dalam yang sewarna dengan BHnya. Nadia tersenyum malu lalu ia meraih kemeja saya dan membukanya lalu dilanjutkan dengan membuka celana panjang saya berikut celana dalamku.
Saya kembali mencium Nadia, meremas payudaranya dan memainkan jariku divaginanya. Nadia nafasnya memburu tak teratur, tangannya meraih kontolku dan mengocoknya dengan cepat. Saya membuka BHnya lalu menghisap putingnya. Payudaranya tidak terlalu besar berukuran 32 dan putingnya berwarna coklat muda. Nadia mendesah dengan kencang dan tangannya tak henti-hentinya mengocok kontolku. Nadia memutar tubuhnya sehingga kepalanya persis diatas kontolku sedangkan pinggulnya disamping kepala saya, saya menarik pinggulnya dan mengambil posisi 69.
Saya tarik celana dalamnya kebawah melewati kaki kanannya dan membiarkan celana dalamnya tergantung dipaha sebelah kirinya. Bulu kemaluan Nadia agak lebat tapi terawat dengan baik. Bulu-bulunya terlihat merunduk kebawah dengan rapih. Saya mulai jilat vaginanya dengan rakus sembari meremas pantatnya. Nadia merespon dengan mengulum kontolku.
“Oh Arthur, terus sayang, enak sekali” ujar Nadia.
Setelah ber-69 untuk beberapa lama, saya menggeser Nadia kesamping lalu saya berdiri keluar. Nadia memperhatikan dengan wajah bingung. Saya kembali ke kamar dengan membawa botol white wine. Saya telentangkan Nadia lalu saya tuang sedikit wine ke dadanya turun ke perut ke paha dan ke mata kaki. Lalu perlahan saya jilat wine itu dari dada Nadia. Nadia mendongakkan kepalanya merasakan gairah saat saya memainkan lidah diputingnya.
Kembali saya lanjutkan menjilat wine di perut Nadia, turun ke vaginanya. Saya buka bibir vaginanya lalu menuang sedikit wine ke dalamnya, setelah itu saya hirup wine itu dari vaginanya. Beberapa tetes wine keluar dari vagina dan turun ke pantat Nadia. Tak luput saya menjilat seluruh daerah pantatnya. Nadia menjerit dengan nikmat.
“Arthur, seksi sekali. Sangat erotis. Kamu memang jago membuat saya terangsang”
Saya jilat habis seluruh wine di vagina Nadia, lalu turun ke dengkul hingga mata kaki dan ujung jari kakinya. Semua dijilat habis. Nafas Nadia tersengal-sengal merasakan itu semua.
“Sekarang giliran saya” kata Nadia.
Saya baring terlentang lalu Nadia mengambil selimut yang tipis dan kedua tangan saya diikat dipinggir tempat tidur.
“This girl is getting kinky” kata saya dalam hati.
Nadia menuangkan wine dileher saya lalu ke dada, perut, seluruh kontol saya dituang wine, paha sampai ke jari kaki. Dengan kedua tangan saya terikat diujung tempat tidur, Nadia mulai menjilat wine di leher saya. Ciuman Nadia di leher saya sungguh merangsang. Lalu ia turun ke dada saya dan menjilat kedua puting saya dilanjutkan ke perut dan akhirnya ke kontol saya. Kontol saya dihisap dan dijilat sampai ke biji saya. Kedua belah paha saya diangkat dan Nadia menjilat sampai ke selangkangan saya.
“Oh my goodness Nadia, it feels so fuckin good, terus sayang” kata saya menikmati setiap rangsangan yang saya dapat dari jilatan Nadia.
Nadia menjilati seluruh wine di paha dan betis hingga ujung jari kaki. Puas membuat saya sampai tersengal-sengal menahan nafsu, Nadia memandang saya dengan tatapan yang erotis. Kontol saya kembali diremas, lalu ia jongkok dipinggul saya dan memasukkan kontolku kedalam vaginanya. Baru sekali ini saya ML dalam keadaan terikat, tapi ada sensasi tersendiri yang saya rasakan. Nadia mulai menggoyangkan tubuhnya keatas kebawah dan memutar pantatnya.
Ikatan rambut Nadia terlepas sehingga rambutnya terurai. Tapi Nadia dengan cepat menggulung rambutnya keatas kepalanya dan tangan kanannya menahan rambutnya diatas sedangkan tangan kirinya sibuk meremas payudaranya. Mata Nadia terpejam merasakan kontolku dalam vaginanya. Saya benar-benar terangsang habis-habisan melihat Nadia yang begitu erotis memompa vaginanya dalam kontolku. Ada saat dimana Nadia tidak bergerak tapi saya merasakan vaginanya seperti menghisap kontolku lebih dalam dan terasa seperti digenggam dengan keras.
“Aahh, yes, yes, your dick feels so good in my pussy” ujar sang princess.
Nadia lalu menyorongkan tubuhnya kearah dadaku dan ia mencium bibirku sementara pantatnya masih terus memompa kontolku dalam vaginanya. Nadia melengkungkan dadanya keatas sehingga saya bisa menjilat putingnya. Saya menjilat seluruh payudaranya. Nadia melenguh dengan keras sambil memegang rambutnya yang tergulung diatas kepalanya dengan kedua belah tangannya.
Akhirnya saya mencapai klimaks dan peju saya keluar dengan deras didalam vagina Nadia. Tubuh Nadia mengejang dan ia juga orgasme. Nadia terkulai lemas didadaku, ia melepaskan ikatan tangan saya dan langsung tertidur didadaku. Saya mengecup bibirnya yang mungil dan ikut tertidur dengannya.
Jam 22:00, kami terbangun. Saya ingat ada janji dengan teman untuk hadir dalam acara ulang tahunnya yang diadakan disebuah club di down town San Francisco. Saya mengajak Nadia untuk ikut tapi Nadia lebih memilih untuk tinggal dirumah. Saya pun berpakaian lalu mencium Nadia yang mengenakan jubah kamar.
“I had a wonderful evening with you, my lady” ujar saya.
“Saya juga. Anda membuat saya terbang ke langit ketujuh” jawab Nadia dengan tersenyum
Kami berciuman dan Nadia mengantar saya sampai ke pintu. Princess Nadia yang anggun dan cantik, siapa sangka dibalik sikapnya yang kalem ternyata ia memiliki hasrat seksual yang besar.

No comments:

Post a Comment

Musim Panas di Los Angeles - 3

  Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sa...