Monday, August 4, 2014

Laut Biru 8

Samudera Indonesia
Mendekati ground zero
06.38 WIB
H minus 77:22:00


Penerbangan berlangsung cukup lambat di tengah-tengah turbulensi angin, dan ini membuat Alex sedikit frustrasi. Alex paham, bahwa apabila berbicara soal menyelamatkan awak kapal selam yang tenggelam artinya sama saja dengan berlomba dengan waktu, karena waktu adalah musuh utama di sini. Berapa waktu yang tersisa, Alex tidak tahu, dan itulah yang membuat Alex  semakin senewen seiring detik-detik yang berlalu. Apakah mereka masih punya waktu, atau sudah terlambat.


Alex pun teringat tragedi kecelakaan kapal selam Kursk milik AL Russia di Laut Barentz.Pada saat itu, ketidakmampuan Russia untuk menyediakan DSRV (Wahana Penyelamatan Laut Dalam) membuat Russia harus menempuh serangkaian negosiasi panjang dan melelahkan untuk meminjam peralatan tersebut dari Norwegia atau Amerika Serikat. Ketika akhirnya DSRV milik Norwegia berhasil mencapai kapal selam itu, mereka menemukan bahwa meskipun kapal selam itu masih utuh, akan tetapi semua orang di dalamnya sudah meninggal. Meskipun pihak Norwegia mengklaim bahwa semua orang mungkin sudah mati semenjak awal, beberapa pihak independen menilai bahwa DSRV Norwegia mungkin saja terlambat datang beberapa jam, beberapa jam yang terbukti mematikan. Hal yang sama bisa saja terjadi pada KRI Antasena, pada Lucia. Jadi, keterlambatan amat jelas tidak bisa ditolerir di sini.

Prita sendiri tidak menunjukkan kegelisahan seperti Alex dan berusaha mengusir semua kecemasan dengan menikmati saja perjalanan ini, apalagi pemandangan ketika fajar memang betul-betul memukau dan indah. Prita sering sekali bertugas keluar sehubungan dengan posisinya sebagai awak tim Khatulistiwa, program travelling NewsTV; dan dengan itu Prita sering sekali melihat keindahan alam yang luar biasa. Bagaimanapun, melihat suasana fajar dari sebuah pesawat tempur ini tetap menjadi pengalaman luar biasa, apalagi kokpit pesawat mengizinkannya untuk melemparkan pandangan dengan luas, tidak seperti jendela sempit ketika ia naik pesawat komersial. Prita pun mendendangkan sebuah lagu.

"Miyo toukai no sora akete
(Lihat dan bukalah langit di laut timur)
Kyokujitsu takaku kagayakeba
(Jika mentari pagi bersinar tinggi)
Tenchi no seiki hatsuratsu to
(Dengan penuh semangat hidup di jagat raya)
Kibou wa odoru ooyashima
(Harapan kami adalah Ooyashima berjaya)
Oo seiro no asagumo ni
(Oh di awan pagi nan cerah)
Sobiyuru Fuji no sugata koso
(Sosok gunung Fuji yang menjulang)
Kin'ou muketsu yuruginaki
(Tak gentar bergetar sedikitpun dari ancaman luar)
Wa ga nippon no hokorinare
(Jadilah kebanggaan Jepang kami!)"

Lagu itu merupakan salah satu mars nasional Jepang, yang berjudul "Aikoku Koshinkyoku". Lirik lagunya serta suara Prita yang merdu sungguh cocok sekali untuk dinyanyikan pada pagi seperti itu. Letnan Danur sendiri hanya diam, karena ia bertugas mengendalikan pesawat dalam keadaan angin yang tidak menentu semacam ini.

“Lihat, kita sudah sampai!” teriak Lt. Danur.

Alex mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Lt. Danur. Dua buah siluet hitam tampak di sana, kontras dengan warna air yang keemasan menyala-nyala. Lt. Danur mendekati kedua siluet itu dengan gerakan memutar yang semakin lama semakin mendekat. Nampaknya itu adalah manuver perkenalan supaya tidak mengacaukan pesawat Lt. Danur dengan pesawat lain. Lambat laun mulai jelas terlihat bahwa kedua siluet hitam yang berdampingan itu adalah siluet dua buah kapal. Yang besar tentu saja adalah KRI Ternate, sementara yang lebih kecil pastilah KRI Harimau, yang terlebih dahulu sudah ada di sana. KRI Ternate pun lalu memberikan isyarat lampu kepada pesawat Lt. Danur. Tidak ada kontak radio yang dibuat, hanya dari kontak lampu dari kapal dan manuver perkenalan Lt. Danur.

Kapal KRI Ternate adalah kapal besar yang cukup agung buatan dari PT PAL. Akan tetapi, aslinya ini bukanlah kapal penempur (kombatan). Kapal KRI Ternate adalah kapal main body yang dalam operasi pendaratan amfibi menempati posisi sebagai KAU (Kapal Alas Utama). Basis pengembangannya dibuat dari modul kapal pendarat LPD, jadi meskipun KRI Ternate adalah kapal pertama di kelasnya, kelas yang dipakai tetap saja bukanlah “kelas Ternate” melainkan “kelas KAU”. Kapal ini memiliki pasangan yaitu kapal “kelas KAK (Kapal Alas Kedua)”, dan dalam hal KRI Ternate, maka pasangannya adalah KRI Tidore. Kedua kapal ini akan menjadi semacam garis pelepasan akhir dari setiap operasi pendaratan amfibi yang sekaligus berfungsi pula sebagai kapal sensor dan bombardemen awal.

Kapal ini memiliki panjang hingga 200 meter dan baik KAU maupun KAK semuanya memiliki senjata utama 6 kanon 5-inchi autoloader dalam dua triple-turret dan 2 buah peluncur roket R-HAN 40x122mm serta senjata pertahanan diri berupa 2 buah kanon AK-630 ukuran 30mm ditambah beberapa kanon Oerlikon 20mm serta senapan mesin berat 12,7mm. Perbedaan dari dua kelas kapal alas adalah bahwa KAU dilengkapi dengan sensor anti-kapal-selam sementara KAK dilengkapi sensor anti-serangan-udara. Perbedaan lainnya adalah posisi penempatan turret kedua; bahwa pada KAU turret kedua dipasang di tengah kapal, antara forward dan aft bridge (midship), sementara pada KAK, turret kedua diletakkan di buritan kapal, yatu di belakang aft-bridge. Dalam hal senjata khusus, KAU ditambahkan 4 peluncur mortir anti kapal selam RBU-1200 sementara KAK dilengkapi dengan sistem rudal anti pesawat, Kashtan.

Dalam skema serangan amfibi yang dikembangkan oleh Angkatan Laut, posisi kapal alas memang ada di paling depan; di belakangnya ada kapal BTK (Bantuan Tembakan Kapal) yang akan diemban perannya oleh destroyer yang akan rampung dari kelas Yos Sudarso. Di belakang BTK adalah kapal-kapal pendarat LST dan LPD dengan dipandu oleh Kapal Komando dari kelas Bukit Barisan, sementara paling belakang, armada pendarat ini akan dilindungi oleh kapal-kapal tabir yang diperankan oleh korvet dan KCR-KCT.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka TNI AL mengusahakan pembuatan kapal-kapal fungsi di atas lewat industri lokal. Untuk kapal alas dibuatlah beberapa kapal berpasangan yaitu selain KRI Ternate-KRI Tidore ada lagi KRI Haruku-KRI Seram, KRI Bangka-KRI Belitung, serta KRI Sangihe-KRI Talaud. Pada kelas Destroyer akan dibuat kelas Yos Sudarso dengan rencana mencapai lima buah kapal sekaligus, yaitu KRI Yos Sudarso, KRI Soedomo, KRI Ahmad Yani, KRI D.I. Panjaitan, dan KRI Pierre Tendean. Sementara itu dari kapal Komando, selain ada KRI Bukit Barisan, juga akan dibuat pula KRI Cartenz, KRI Gamalama, dan KRI Tangkuban Parahu. Terakhir bagi kapal-kapal tabir adalah peran dari Korvet SIGMA-PAL (kelas Diponegoro) dan korvet nasional dari kelas Keumalahayati, yaitu KRI Keumalahayati, KRI I Gusti Ketut Jelantik, KRI Panglima Polim, dan KRI Nala di samping korvetnas lain yang akan dibuat kemudian.

Sehubungan dengan peranannya sebagai kapal alas untuk elemen pertempuran ASW (Anti Submarine Warfare), maka KRI Ternate amat sangat cocok digunakan untuk melacak kapal selam KRI Antasena. Sensor bawah air milik kapal ini adalah yang terbaik dan tercanggih yang dimiliki oleh TNI AL, bahkan lebih canggih daripada sensor bawah air milik KCT maupun Kapal Komando KRI Bukit Barisan. Oleh karena itu, sejak awal memang kapal ini, selain sudah diset bagi elemen ASW dan kapal alas, juga berfungsi sebagai kapal SAR dalam operasi penyelamatan bawah laut.

Pesawat pun menurunkan ketinggiannya dan akhirnya mendarat di antara KRI Ternate dan KRI Harimau. Tidak seperti ketika mendarat di darat, di mana alas pendaratan adalah tetap dan solid; mendarat di air sama saja mendarat di landasan yang plastis, fleksibel, dan terus bergerak. Beberapa kali pesawat sempat terpental kembali ke atas akibat hantaman ombak, tetapi dengan pengalamannya, Lt. Danur akhirnya berhasil mendaratkan pesawatnya dengan baik. Berada di antara KRI Ternate dan KRI Harimau juga melindungi pesawat dari hempasan gelombang sepanjang proses debarkasi.

Namun ketegangan belum usai sampai di situ. Sebuah crane diturunkan dari atas KRI Ternate dengan salah seorang operator hinggap di atasnya sambil memberi komando. Operator ini akan memastikan bahwa posisi crane sudah benar, lalu ia pula yang akan mengaitkan hook crane pada pesawat. Sudah barang tentu ini bukan pekerjaan mudah, bahkan walaupun sudah mengenakan harness, tetap saja berbahaya, apalagi angin menghembus kabel crane hingga bergoyang keras. Pun pengangkutan pesawat harus dilakukan secepatnya, karena ombak bisa pula menghanyutkan pesawat dari posisinya semula.

Prita melihat proses ini dengan penuh kengerian, tapi akhirnya hook itu berhasil pula dikaitkan ke pesawat dan pesawat pun segera ditarik naik ke atas kapal walaupun masih pula bergoyang ditiup angin. Ketegangan baru mereda setelah pelampung pesawat menyentuh landasan kapal.

***

07.36 WIB
H minus 76:24:00

Proses pendaratan dan pengangkatan pesawat ke atas kapal sendiri cukup memakan waktu, apalagi ditambah dengan keadaan angin dan cuaca yang menghambat proses. Letnan Danur sendiri, yang sudah biasa dikerek dengan pesawat ke atas kapal, bisa langsung turun dengan tenang seolah tak kurang satu apapun; akan tetapi bagi Alex dan Prita, yang baru kali ini merasakan “dikerek” tentu membutuhkan waktu untuk recovery selepas kaki mereka menjejak di atas kapal. Apalagi peristiwa debut dikerek itu dilakukan di bawah angin yang besar sehingga pesawat bergoyang-goyang dan beberapa kali terpaksa crane berhenti mengerek.

Seorang kelasi, tanpa membuang waktu segera meminta Alex dan Prita untuk mengikutinya menghadap kapten kapal. Alex pun menyalami Letnan Danur, karena Letnan Danur hanya akan di kapal ini sejenak untuk mengisi bahan bakar pesawatnya sebelum nanti terbang kembali pulang. Bagaimanapun, kalau bukan karena Letnan Danur, belum tentu Alex dan Prita bisa sampai di sini dengan selamat.

Jalan antara buritan dengan anjungan cukup jauh, dan setelah berjalan baru terasalah bahwa kapal ini memang benar-benar besar. Secara dimensi, kapal perang ini menyamai kapal-kapal tempur (battleship) legendaris; hanya soal armor, bobot tempur, dan persenjataannya sajalah yang kurang memadai. Tidak seperti jenis LPD yang memang seperti mengumbar ruang terbuka di atas dek, bangunan utama kapal ini lebih rapat, persis seperti kapal perang sungguh-sungguh. Oleh karena itu jalan-jalan atau lorong-lorong yang harus dilewati oleh Alex dan Prita untuk menuju anjungan juga relatif berukuran sempit. Hal ini mengingatkan Alex akan koridor-koridor di gedung NewsTV yang juga kecil dan menyesatkan, karena memang dirancang untuk menghambat gerilyawan yang hendak menguasai stasiun TV.

Ruangan kendali terletak di lantai atas anjungan depan, dan dipenuhi oleh instrumen-instrumen pengendali seluruh fungsi dan kerja kapal. Alex dan Prita terkesima dengan begitu banyaknya komputer serta peralatan elektronik di sini, jauh lebih banyak dari yang mereka bayangkan. Salah satu dari instrumen ini adalah juga termasuk sistem MANDALA atau Komando Pendaratan Laut Amfibi serta KALIMASADA atau Komando Perlindungan Armada dari Serangan Udara.

MANDALA digunakan sebagai instrumen dalam penyerangan amfibi, yang memungkinkan semua komponen dalam operasi amfibi untuk bergerak dengan sinkron seperti sebuah orkestra, termasuk di antaranya adalah salvo bantuan artileri, salvo rudal jelajah, serta pelepasan pasukan. Saking sinkronnya, sehingga misal ada yang iseng untuk memperhatikan dengan seksama salvo bantuan tembakan, maka suara rangkaian tembakannya akan terdengar seperti permainan orkestra! Sementara KALIMASADA adalah sistem pertahanan anti serangan udara yang setara dengan sistem AEGIS di Armada Amerika Serikat.

Kapten kapal KRI Ternate segera menyalami Alex dan Prita. Di kalangan Angkatan Laut, nama Alex dan Prita memang cukup terkenal pasca Pertempuran di Selat Ombai. Ingat, bahkan Komodor Mahan pun rela untuk melindungi Lucia, istri Alex. Kapten kapal dari KRI Ternate sekarang adalah Kapten I Made Suwantara, atau biasa dipanggil Kapten Kadek; ia juga seorang pelaut senior, dan ia pun menghormati Alex dan Prita sama seperti yang lainnya.

“Tuan Alex, sebelumnya maaf,” kata Kapt. Kadek, “tapi ada yang mau bicara dengan Anda,”

“Sekarang?” tanya Alex, “tapi saya kan baru datang,”

“Iya, betul,” kata Kapten Kadek, “tapi dia sudah menanti Anda dari tadi,”

Dia? Siapakah dia ini? Kapten Kadek pun mengulurkan sebuah piranti transmisi radio militer. Alex agak ragu juga ketika menerimanya, tapi ketika ia mendengarkan, terdengarlah suara sapaan seorang wanita.

“Tuan Alex, akhirnya Anda sampai juga,” kata wanita itu.

“Maaf, saya berbicara dengan siapa, ya?” tanya Alex.

“Perkenalkan Tuan Alex, nama saya Najwa, Najwa Shihab,” kata wanita yang ternyata adalah Najwa.

“Penasihat Keamanan Presiden?” tanya Alex.

“Betul sekali; nah, kita memang belum pernah bertemu satu sama lain, tapi saya mengenal Anda, dan saya yakin Anda pun mengenal saya,” kata Najwa, “Anda pasti mengenal saya dari pemberitaan yang pasti rajin Anda ikuti, dan saya pun mengenal Anda dari data yang saya dapatkan, tapi maaf tidak bisa saya beritahukan dari mana data itu berasal,”

“Saya mengerti, Nona Najwa,” kata Alex.

“Langsung saja yah, saya saat ini membutuhkan seorang supervisor sipil di sana; normalnya sih saya ingin terbang sendiri ke sana dan berada di KRI Ternate, tapi banyak urusan di Jakarta yang lebih membutuhkan perhatian saya,” kata Najwa, “maukah Anda menjadi perwakilan saya di KRI Ternate?”

Alex tertegun mendengar instruksi ini. Tentu saja dia mengerti siapa itu Najwa Shihab.Orang dengan posisi seperti Alex pasti sering mendengar tentang wanita ini. Hanya saja, agak aneh saja ketika Najwa meminta hal tersebut.

“Apa Anda yakin, Nona Najwa?” tanya Alex.

“Sudah saya bilang, saya sudah mengetahui soal Anda, Tuan Alex,” kata Najwa, “dan saya yakin Anda adalah orang yang tepat untuk mewakili saya,”

“Kalau begitu, baiklah,” kata Alex.

“Terima kasih, Tuan Alex,” kata Najwa, “sekarang Anda berhak untuk mengetahui semua yang telah terjadi, dan semua laporan dari Kapten Kadek boleh Anda akses, tapi Anda harus melaporkan juga semuanya langsung ke saya, ini perintah Presiden,”

Najwa pun akhirnya menceritakan kronologis yang sebenarnya dari tragedi KRI Antasena. Kini tahulah Alex dan Prita, bahwa ternyata ledakan itu bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan sebuah penyerangan yang sempurna. Ini tentu saja lebih mengguncangkan jiwa Alex, apalagi mengetahui jenis senjata apa yang ditembakkan ke arah kapal yang ditunggangi istrinya itu.

“NASROC? Tapi itu kan…” kata Alex.

“Iya, itu memang rudal nuklir taktis,” kata Najwa, “entah bagaimana, KRI Antasena sepertinya bisa selamat dari ledakannya,”

“Tapi bagaimana?” tanya Alex.

“Saya tidak tahu,” kata Najwa, “tapi mungkin tembakan ASROC itu meleset sehingga KRI Antasena cukup jauh dari pusat ledakan,”

“Jadi benar…” kata Alex.

“Benar apanya?” tanya Najwa.

“Kalau KRI Antasena yang diserang kapal perang Australia,” kata Alex.

Najwa tampak curiga dengan perkataan Alex ini. “Anda pernah mendengarnya sebelumnya?” tanya Najwa, “ceritakan tolong,”

“Jadi ada rekan kami di Australia, dan dia mendapatkan berita kalau ada kapal perang Australia yang rusak parah akibat diserang oleh kapal tak dikenal, meskipun kapal tak dikenal itu berhasil dimusnahkan,” kata Alex, “jadi rupanya itu yang terjadi?”

“Astaga…” kata Najwa dengan nada terkejut.

“Ada apa, Nona Najwa?” tanya Alex.

“Kapan, Tuan Alex, Anda mendengar berita itu?” tanya Najwa.

“Kemarin pagi,” kata Alex, “persis sekitar jam sekarang,”

Najwa terdiam sejenak, tampaknya memikirkan sesuatu hal yang cukup pelik.

“Apakah ada yang salah?” tanya Alex lagi.

“Tuan Alex, jujur saja sepertinya keadaannya bakal berkembang lebih pelik dari yang saya perkirakan,” kata Najwa, “tapi jangan khawatir, itu bukan urusan Anda, jadi lebih baik Anda fokus pada tugas Anda saat ini; Aku akan ada di sini selama krisis ini, jaga terus kontak,”

“Baik, Nn. Najwa,” kata Alex.

Najwa pun memutus sambungan radio. Dari cara Najwa melakukannya, Alex bisa membaca bahwa perkara ini bukanlah bakal jadi perkara penyelamatan biasa. Kapten Kadek pun lalu memberi hormat pada Alex, karena dengan tugas dari Najwa, kini dia pun menjadi salah satu pihak berwenang dalam kapal ini, meskipun tentu saja tidak sampai melampaui wewenang kapten kapal.

“Anda baru saja tiba, Pak Alex, juga Anda, Nona Prita,” kata Kapten Kadek, “awak saya akan menunjukkan kabin Anda sekalian,”

“Tidak perlu repot-repot, saya tidak datang kemari untuk pelesir,” kata Alex, “kalau bisa malah saya ingin membantu sekarang juga,”

“Istirahatlah dahulu, kalau ada apa-apa, yakinlah bahwa Anda akan segera diberitahu,” kata Kapten Kadek, “semoga kita bisa menemukan istri Anda,”

“Saya cukup yakin, Kapten,” kata Alex, “nama kapal ini KRI Ternate, kan? Itu adalah tempat lahir istri saya,”

“Anda percaya klenik juga, Pak Alex?” tanya Kapten Kadek.

“Kadang beberapa hal memang tidak bisa dijelaskan lewat logika, Kep,” kata Alex.

***

Bina Graha
08.07 WIB
H minus 75:53:00

Najwa begitu gusar mendengar berita bahwa di Australia sudah beredar berita semacam itu, meskipun detil dari berita itu serba tidak jelas. Walaupun begitu, logika berpikir Najwa bisa langsung menangkap bahwa itu adalah berita mengenai kapal KRI Antasena, tidak lain. Jika memang sudah beredar seperti itu, pastinya Angkatan Laut Australia sendiri sudah mengetahuinya, bahkan mungkin dengan detil yang lebih jelas. Dan kalau AL Australia memang terlibat dalam penyerangan itu, pastinya mereka pun bakal juga mencari tahu bagaimana keadaan korban mereka.

Bukan cuma masalah itu saja yang dicemaskan oleh Najwa, melainkan juga apa langkah Australia setelah itu. Selama ini Najwa memang bergerak berdasarkan asumsi bahwa Australia telah mengira kapal selam KRI Antasena sudah hancur sehingga hampir tak mungkin mereka melakukan langkah lanjutan; oleh karena itu pula penyelamatan KRI Antasena pun dilakukan dengan suasana penuh rahasia, bahkan KRI Ternate pun dipaksa untuk buru-buru berangkat tanpa persiapan yang lebih matang. Najwa pun sekarang jadi menyesal bahwa dia mengirim KRI Ternate berangkat hanya ditemani oleh KRI Harimau seorang, sebuah kapal cepat torpedo (KCT) yang mungkin hanya bisa memberikan perlawanan minimal misal terjadi apa-apa.

Tanpa pikir panjang kembali, Najwa pun menekan tombol komunikasi. Hal yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana untuk mengetahui langkah Australia selanjutnya, akan tetapi untuk itu dia membutuhkan wewenang dari seseorang: Presiden Chaidir sendiri. Apa yang akan ia sarankan sekarang bukanlah sesuatu yang bisa dikerjakan sendiri, bahkan oleh Marsekal Kambu sekalipun.

“Ya, silakan Nn. Najwa,” kata Presiden Chaidir dari ujung kabel.

“Tuan Presiden, sekali lagi maaf, saya mengganggu Anda pagi-pagi begini,” kata Najwa, “tapi yakinlah, apa yang akan saya minta sekarang amat penting dan mendesak,”

“Silakan, Nn. Najwa, ada apa?” tanya Presiden.

“Saya ingin Anda mengautorisasi pengiriman pesawat Tu-22M untuk misi pengintaian ke Australia,” kata Najwa.

Terdengar suara tercekat dari ujung telepon. Permintaan itu betul-betul datang seperti petir yang menyambar pagi-pagi begini. “Anda yakin dengan apa yang Anda minta, Nn. Najwa?” tanya Presiden.

“Saya yakin, Pak, tidak ada cara lain,” kata Najwa, “saya baru saja mendapat tahu bahwa kemungkinan besar masalah ini tidak bisa kita selesaikan setenang seperti yang kita harapkan,”

“Saya memang percaya sepenuhnya kepada Anda, Nn. Najwa,” kata Presiden, “tapi yang Anda minta kali ini bukan permintaan main-main,”

“Saya paham risikonya, Pak Presiden,” kata Najwa dengan nada yang getir. Kemudian pembicaraan pun hening sejenak.

“Apa tidak bisa Anda cari alternatif lain?” tanya Presiden kemudian.

“Saya tidak bisa memikirkan kemungkinan lain,” kata Najwa, “dan kita butuh secepatnya,”

Presiden Chaidir kembali terdiam. Sepertinya permintaan Najwa ini bukanlah sebuah permintaan yang bisa begitu saja diluluskan. Walaupun terlihat sederhana, permintaan ini adalah permintaan yang memiliki konsekuensi cukup besar serta efek lanjutannya pun bisa cukup panjang dan pelik.

“Pak Presiden, tolonglah,” kata Najwa, “kita berpacu dengan waktu di sini,”

Terdengar sebuah suara desahan nafas yang amat berat. “Baiklah, Saya akan berikan autorisasi kepada Marsekal Kambu selekasnya,” kata Presiden, “target pengintaian?”

“Pangkalan Utama Angkatan Laut Australia di Sidney,” kata Najwa, “detail selanjutnya akan saya berikan kepada Marsekal Kambu,”

“Semoga Tuhan menolong kita kali ini, Nn. Najwa,” kata Presiden.

Komunikasi pun terputus, dan Najwa terduduk lemas. Tangannya disatukan ke depan menumpu kepalanya yang terkulai tanpa daya. Matanya terpejam dan ia terus menerus menggumam, sepertinya berdoa memohon ampun atas apa yang baru saja ia lakukan.Najwa amat sangat paham dengan konsekuensi permintaannya ini, tapi ia memang tidak bisa memikirkan kemungkinan lain.

Pesawat pembom strategis Tu-22M Backfire adalah pesawat pembom strategis berkecepatan supersonik buatan pabrikan Tupolev di Russia. Pada era Perang Dingin, pesawat ini adalah salah satu arsenal garis depan Uni Soviet yang cukup ditakuti oleh Barat. Saking ampuhnya, pesawat ini hanya dipakai oleh Uni Soviet sendiri dan tidak diekspor ke negara lain, sekutunya sekalipun. Kebijakan ini pun diteruskan bahkan setelah Uni Soviet runtuh. Hanya negara pecahan Soviet utama seperti Russia, Ukraina, dan Belarus saja memiliki dan menggunakan arsenal ini. Perkecualian adalah ketika Russia meminjamkan 4 unit pesawat ini kepada India, hal yang sama yang sekarang dilakukan terhadap Indonesia, hanya saja jumlahnya 6 buah.

Meskipun oleh TNI AU, seperti juga oleh India, pesawat ini digunakan sebagai pesawat pengintai berkecepatan tinggi (setara dengan pesawat SR-71 Blackbird di Amerika Serikat), tetap saja tidak menyembunyikan potensi tempur dari pesawat ini. Apabila dipakai sebagai elemen bomber strategis, pesawat ini bisa mengangkut bom hingga 21 ton dengan jarak jangkau sejauh 7.000 km dan kecepatan maksimal mencapai lebih dari 2.300 km/jam. Akan tetapi, aslinya pesawat ini adalah pesawat yang diperuntukkan sebagai pengangkut bom nuklir. Meskipun potensi persenjataan nuklir Indonesia sendiri belum jelas, data-data intelijen Barat sendiri menunjukkan kecenderungan yang mengarah pada pembangunan kekuatan nuklir sebagai salah satu bentuk persenjataan strategis TNI; oleh karena itu dimilikinya Tu-22M adalah sebuah ancaman yang bukan main-main.

Dengan kemampuannya, pesawat ini bisa menjangkau dua pangkalan utama Armada Amerika Serikat di Pasifik, yaitu Guam di Pasifik dan Markas Pusat Armada Ketujuh di Yokosuka, Jepang. Dengan sedikit modifikasi, bahkan pusat Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbour pun bisa dijangkau, meski untuk ini hanya bisa dilakukan sekali jalan. Oleh karena itu, bisa dibayangkan reaksi negara-negara tetangga yang relatif lebih dekat dengan Indonesia, terutama setelah CIA memperingatkan pula mengenai potensi ini kepada negara-negara di Asia Pasifik yang pro kepada AS.

Australia, Malaysia, dan Singapura bahkan menganggap kehadiran wing Tu-22M ini sebagai “pedang yang amat berbahaya”, sehingga bersama-sama dengan Selandia Baru, mereka harus terus menerus meningkatkan kesiagaannya menghadapi ancaman burung besi ini, sesumir apapun bentuk ancaman itu. Sebagai pereda ketegangan, maka diambil sikap bahwa pesawat-pesawat ini tidak akan sekalipun beranjak terbang tanpa perintah langsung dari Presiden sendiri. Mirip dengan kebijakan peluncuran nuklir di Amerika Serikat ataupun Uni Soviet. Tapi kini mereka pun harus terbang dengan semua konsekuensinya.

***

Samudera Indonesia
Kedalaman 200 meter
08.32 WIB
H minus 75:28:00

Di dalam KRI Antasena, waktu berjalan dengan amat lambat. Sekarang memang belum ada tanda-tanda bahwa udara telah semakin menipis, tapi nanti pasti akan dirasakan. Banyaknya jumlah awak kapal yang mati akibat serangan, selain sebagai tragedi, juga disyukuri sebagai sebuah berkah. Artinya, berkurang pula paru-paru yang harus mengambil nafas di dalam udara yang serba terbatas ini. Sistem sirkulasi dan daur ulang udara memang masih berfungsi dengan baik, akan tetapi nanti ada saat di mana bahkan udara yang terlalu kotor pun harus segera dibuang. Kegiatan perbaikan pun hanya sebatas menambal kebocoran saja, tidak lebih. Perbaikan terhadap kerusakan yang memiliki kemungkinan kecil untuk bisa dilaksanakan sekarang sama sekali dilarang untuk mencegah pemakaian udara lebih yang tidak perlu. Kegiatan fisik yang berlebihan pun ikut pula dilarang, bahkan api pun dilarang dinyalakan kalau memang tidak perlu.

Laksma. Mahan memang menerapkan aturan amat keras dalam hal ini. Ia sudah menginstruksikan untuk bertahan sebisanya, tapi kepada awak-awaknya tidak diberikan sama sekali harapan mengenai kemungkinan selamat, sehingga mereka cenderung bisa menerima dengan keadaan ini. Lagipula Laksma. Mahan juga berjanji, bahwa bila tiba waktunya, ia tak akan membiarkan awak kapal mati kehabisan nafas, cara mati yang amat menyiksa dan mengerikan. Ia akan memerintahkan penenggelaman kapal ini dengan segera dan mati sebagaimana layaknya pelaut sejati. Cara yang manapun, bagi Lucia sama saja, toh hasilnya sama-sama mati.

Anjungan sudah bisa dioperasikan, sehingga kini Lucia terpaksa harus melanjutkan menulis diari-nya di Anjungan. Ia duduk di meja perwira senjata yang kini sudah tiada. Seperti sistem yang lain, sistem senjata pun rusak juga. Pipa pemberi tekanan pada torpedo bocor dan tidak bisa diperbaiki, sehingga tidak mungkin untuk meluncurkan torpedo. Rudal masih bagus, tapi purwarupa dari RAK-V3 tidak bisa ditembakkan dari dalam air; sementara itu, kapal hanya dibekali satu torpedo super jenis Shkval yang sudah digunakan dalam pertempuran. Otomatis, meja yang Lucia tempati kini menganggur. Lucia sendiri lebih sering “menggelandang”, membantu station mana saja di Anjungan yang butuh bantuannya, mulai dari ikut melacak signatur sonar, sampai perkara remeh seperti memegangkan kabel sementara awak yang berwenang memperbaiki station tersebut.

Dan karena berada di Anjungan, maka Lucia tahu bahwa meskipun kepada para awak, Laksma. Mahan memang tidak menjanjikan harapan. Beliau sendiri memiliki sebuah harapan yang amat kecil, mungkin satu-satunya usaha yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan awak kapal.

Sinyal, itu yang dari tadi selalu dipikirkan oleh Laksma. Mahan. KRI Antasena memang tidak mungkin untuk mengirim sinyal ke atas, jauh ke markas; tetapi masih mungkin untuk memperbaiki piranti pengirim sonar aktif, yang mana piranti ini bisa digunakan untuk memberi pertanda bahwa ada kapal selam hidup di sini. Tentu saja hanya mengandalkan ini saja adalah bagaikan sebuah perjudian dengan taruhan amat besar. Bagaimana kalau yang menerima sonar aktif itu bukan kawan tetapi malah musuh? Bahkan kalaupun sinyal ini tertangkap oleh kawan sekalipun, tidak ada jaminan mereka bakal memberikan pertolongan. Ini karena secara umum, sonar aktif digunakan sebagai penanda tembakan, sehingga tertangkapnya sonar aktif bukannya akan diinterpretasikan sebagai sinyal SOS, bisa jadi malah diartikan sebagai teriakan perang! Akan tetapi hanya ini kesempatannya, dan cara mati manapun masih lebih baik daripada mati kehabisan nafas.

“Apa bisa diperbaiki?” tanya Laksma. Mahan pada Sersan Andre, teknisi kepala KRI Antasena.

“Bisa Kep, tapi nggak jamin cepat, apalagi kalau saya cuman sendirian,” kata Sers. Andre.

Tim teknik memang paling banyak “menderita” pasca-perlawanan. Ini tidak lain karena dari sekian banyak korban jiwa, kesatuan teknik termasuk yang paling banyak “menyumbang” nama. Paling vital adalah teknisi elektronik, karena hanya Sersan Andre saja yang tersisa; sementara untuk mesin dan kelistrikan masih cukup memadai, walaupun minim juga.

“Mungkin bisa lebih cepat kalau saya punya cetak biru sistem komputer yang ada di sini,” kata Sers. Andre, “cuma Sers. Edo yang paham soal piranti elektronik buatan Russia ini, tapi Sersan Edo sudah mati,”

“Sayangnya tidak ada, Sersan,” kata Kdr. Mahan, “lakukan sebisanya,”

Lucia mendengar pembicaraan ini, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Elektronika bukanlah keahliannya semenjak dulu. Alex sekalipun tidak pandai dalam hal elektronik, jadi kalau misal ada piranti elektronik yang rusak, ya mereka langsung masukkan saja ke bengkel servis dan tahu jadi. Lucia kembali menulis ke dalam diarinya. Ia baru saja membeli diari itu setelah diari lamanya habis sebulan lalu, dan masih cukup banyak halaman yang kosong ke belakang; entah apa yang harus Lucia isi, sepertinya pula kisah dalam diari itu akan berakhir tak terselesaikan.

Menulis diari merupakan kegemaran Lucia semenjak dahulu, dan ia masih pula menyimpan hingga diari pertama yang ia miliki semenjak SD. Lucia memang cukup rajin menulisnya, bahkan kadang lebih rajin daripada ketika ia membuat naskah berita. Entah untuk siapa sebenarnya Lucia menulis diari itu. Mungkin suatu saat ia akan menurunkan diari itu ke Lani, sehingga Lani pun bakal paham bagaimana sebenarnya kehidupannya. Mungkin menyenangkan saja membagi kisah hidup dengan orang lain, meskipun hanya lewat perantaraan diari. Masa-masa kelam selama 6 tahun pernikahannya dengan Ben pun terekam dengan baik dalam kumpulan diari-nya, yang sering harus ia sembunyikan dengan betul-betul karena Ben gemar sekali membaca diarinya lalu merusak diari itu jika menemukan Lucia menulis hal buruk soal dirinya.

Lucia mendengus sejenak. Hanya Alex yang pernah membaca diari-diari kelam itu, itupun karena Lucia yang memintanya. Berbeda sekali dengan Ben, Alex sangat menghormati diari istrinya, bahkan ketika tergeletak dalam keadaan terbuka sekalipun, Alex hanya akan menutup dan merapikannya tanpa membaca sepatah kata pun. Diari-diari kelam itu kadang penuh dengan coretan-coretan, kadang sampai kertasnya tersobek akibat pena ditekan terlalu dalam, kadang huruf-hurufnya tidak beraturan, dan kadang penuh dengan huruf-huruf yang kabur akibat tetesan air mata. Apa yang Lucia alami dalam pernikahannya dengan Ben itu memang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, bahkan Alex pun menangis ketika membaca diari-diari itu. Sungguhpun banyak kata-kata atau kalimat yang tidak jelas, Alex jelas bisa merasakan bagaimana keadaan Lucia ketika menulisnya, dan itu sudah cukup. Itulah masa lalu, dan kini diari-diari Lucia tertuliskan dengan tulisan tangan Lucia yang bersambung indah dan mengalir, tanda kebahagian telah pula mengalir dalam hidupnya… dan itu akan segera berakhir.

“Mbak Lucia, sudah!” kata Reza yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.

Lucia hampir saja terkena serangan jantung gara-gara kaget. Buru-buru ia menutup diarinya dan menarik nafas. Ya ampun, dia melamun lagi. Reza sendiri agak terheran-heran, tapi ia segera menyodorkan sebuah HP pada Lucia. Ya, itu HP Lucia yang rusak dan diperbaiki oleh Reza.

“Udah jadi, masa?” tanya Lucia.

“Lihat aja,” kata Reza, “nggak kalah lah, ama hasil servisan konter,”

Ya, HP itu sudah menyala kembali, memperlihatkan wallpaper bergambarkan Alex dan Lani. Lucia berkaca-kaca menerima HP dari Reza itu. Entahlah, tapi HP dengan wallpaper itu kini bagaikan sebuah harta yang amat sangat tak ternilai bagi Lucia.

“Makasih banget ya, Reza…” kata Lucia, menjaga supaya tidak menangis.

“Nggak masalah koq,” kata Reza, “jadi, Mbak Lucia ada lagi yang mau diperbaiki?”

Lucia hampir saja menggeleng kalau saja dia tidak ingat sesuatu. “Kamu bisa perbaiki alat elektronik apa aja?” tanya Lucia.

“Tergantung, tapi semuanya bisa,” kata Reza.

“Bagus, ikut aku,” kata Lucia. Ia segera menyeret Reza, yang masih bingung, ke hadapan Laksma. Mahan. Tentu saja selain Lucia, semua orang yang ada di sana sama bingungnya dengan Reza.

“Ada apa, Nona Lucia?” tanya Laksma.. Mahan.

“Masih butuh ahli elektro, Laksma.?” tanya Lucia, “Reza bisa bantu,”

“Kebetulan sekali,” kata Sers. Andre, “saya memang butuh bantuan di sini,”

“Kamu bisa memperbaiki alat elektronik, Reza?” tanya Laksma. Mahan.

“Insya Allah bisa,” kata Reza, “memangnya memperbaiki apa, Pak?”

“Alat sonar!” kata Sers. Andre.

Tentu saja Reza terperanjat. Dia memang bisa memperbaiki radio atau televisi, atau paling banter juga handphone. Tapi alat sonar kapal selam? Seumur-umur melihat wujudnya seperti apa juga baru kali ini.

“Udah, sini bantu saya!” kata Sers. Andre sambil menarik Reza.

“Lho, tapi Mbak Lucia…” kata Reza.

“Udah, demi semuanya, ya,” kata Lucia, “you trust on the miracle, I trust on you,”

Maka dengan terpaksa, Reza pun membantu Sersan Andre untuk memperbaiki alat sonar. Laksma. Mahan memberi isyarat salut pada Lucia, yang dibalas dengan sebuah senyum. Tentu saja ada sedikit rasa was-was pada senyum itu, karena Lucia tahu bahwa jika semua itu gagal, maka memang tidak ada harapan lagi untuk bisa selamat.

***

Pangkalan Udara Hasanuddin
Makassar
11.32 WIB
H minus 72:28:00

Perintah dari Jakarta memang datang tidak terlambat, tapi untuk mempersiapkan semuanya, membutuhkan waktu yang tidak bisa singkat. Ketika perintah itu turun, tidak ada satu pun dari total 4 awak sebuah pesawat Tu-22M yang tengah siap, dan mereka pun dengan tergopoh-gopoh segera menjalani apel untuk misi kali ini. Wajar saja, karena misi ini baru diputuskan beberapa jam yang lalu dan belum ada pembicaraan sebelumnya. Kolonel Udara Sarmin Arief, yang akan menjadi pimpinan misi kali ini, bahkan sedang berada di Jeneponto ketika perinah misi ini turun.

Apabila menurut jadwal, seharusnya mereka baru akan terbang paling cepat 3 hari lagi, untuk latihan tempur rutin di Sengata, Kalimantan Timur. Akan tetapi perintah misi kali ini mengharuskan mereka untuk segera melapor apapun yang terjadi. Tim yang dipimpin oleh Kol. Sarmin Arief adalah tim pesawat Tu-22M bernomor BS22M637, dengan kode sandi “Black Falcon”. Tim ini memang dipersiapkan khusus sebagai pengintai berkecepatan tinggi sekaligus pesawat pembom-perintis dalam keadaan perang. Dari enam tim Tu-22M yang dimiliki, memang tim “Black Falcon” lah yang latihannya paling baik.

Begitu semua orang sudah berkumpul, mereka pun langsung saja diberi masing-masing dua buah taklimat. Satu taklimat terbuka, dan satunya lagi dalam amplop tertutup, yang baru boleh mereka buka setelah mereka di udara. Dari taklimat terbuka, hanya terdapat instruksi sebagai berikut:

“MISI LATIHAN PENGINTAIAN STRATEGIS; TARGET BERADA DI SELATAN PULAU BAWEAN; KOORDINAT DI DALAM MANIFEST B; BUKA SETELAH KETINGGIAN 8000 KAKI MIN 800 KM DARI TITIK AWAL.”

Kol. Arief pun mengernyitkan dahi. Aneh sekali misi kali ini. Ia melihat tadi bahwa kru darat tengah memasang peralatan pengintaian serta sensor foto udara ke dalam pesawat BS22M637 yang akan dipakai. Namun, ia melihat juga pemasangan dua buah tangki bahan bakar cadangan, dan inilah yang membuatnya merasa aneh. Pulau Bawean bukanlah jarak yang terlalu jauh untuk ukuran sebuah Tu-22M. Ia sendiri pernah melakukan misi latihan ke Pulau Anak Krakatau di Selat Sunda tanpa harus menggunakan tangki bahan bakar cadangan. Jelas sekali misi kali ini ada apa-apanya, yang mana baru bisa diketahui setelah pesawat ini mengudara nanti. Bagaimana pun juga, sebagai prajurit profesional, Kol. Arief melaksanakan perintah itu tanpa banyak bertanya.

Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya para awak sudah siap dalam pesawatnya. Tidak ada pesawat lain yang ditugaskan dalam misi ini, tidak pesawat tempur, ataupun pesawat pengintai lain. Kol. Arief pun maklum, karena sejatinya misi sebuah pesawat pengintai adalah misi seorang diri. Setelah ketinggian tertentu, maka keadaan menjadi sangat sepi bagi pesawat pengintai, karena kontak radio akan diputus sama sekali. Menjadi pilot atau awak pesawat tempur memang amat sangat identik dengan sebuah kesepian dan kesendirian. Setelah memastikan semua awaknya memakai kelengkapannya, termasuk memasang masker oksigen, Kol Arief pun memberi tanda “OK” kepada kru di darat.

Pesawat pun ditarik menuju ke apron. Mesinnya sudah sejak tadi dipanasi oleh kru perawatan di darat, dan Kol. Armin cukup tinggal menggebernya saja. Memang, kru darat lah yang sebenarnya “memiliki” pesawat-pesawat tempur ini, sementara pilot hanya “meminjam” saja. Berhubung landasan pacu dijadikan satu dengan bandara sipil, maka proses tinggal landas dan pendaratan dari 4 buah pesawat penerbangan komersial terpaksa harus ditunda untuk memberi kesempatan “Black Falcon” mengudara. Begitu dari menara kontrol tanda “OK” diberikan, “Black Falcon” segera menggeber mesinnya keras-keras, dan dengan ditandai suara gemuruh keras, pesawat itu melesat dengan cepat melintasi landasan pacu dan segera mengudara.

***

11:59 WIB
H minus 72:01:00

Cheryl Tanzil, reporter utama NewsTV Biro Makassar, yang memang sengaja berdiam di kendaraan peliputan NewsTV, kaget ketika mendengar suara pesawat yang bergemuruh amat keras. Setelah taklimatnya kemarin secara tele-conference dengan Alex di Jakarta, Cheryl pun memutuskan untuk melakukan peliputan secara mandiri atas akses-akses militer TNI di Makassar. Empat orang reporter yang dimiliki Biro Makassar (dua di antaranya masih magang) langsung saja ia kerahkan untuk peliputan ini (Cheryl berposisi sebagai caretaker Biro Makassar), dan dengan begitu berita lainnya terpaksa harus dipinggirkan. Dua orang ia tempatkan di Pangkalan Aju Angkatan Laut, sementara dua sisanya plus dia sendiri “menjaga” Lanud Hasanuddin. Tidak hanya itu, semua kontributor dan koresponden NewsTV di seluruh Sulawesi pun ia bangunkan untuk memantau wilayah masing-masing.

Untuk peliputan di Lanud, Cheryl memang menyebar dua orang reporter di Bandara, sementara dia sendiri bersama satu unit kru mobil bergerak di sekitar Lanud. Pilihan yang bijaksana, karena semenjak tadi pagi, pihak Pangkalan sudah menutup diri bagi orang luar, termasuk bagi Cheryl. Untunglah bagi Cheryl, belum ada kru TV lain yang juga melakukan peliputan di sini, sehingga ia meyakini bakal dapat berita eksklusif, misal pun ada yang terjadi.

Sejak kemarin Cheryl sudah ada di sini, makan dan minum seadanya, bahkan selama semalam ia tidak tidur, hanya memantau situasi dari luar. Pagi ini sejatinya dia mau tidur sejenak untuk menyegarkan badan, ”Aaacch...” Cheryl menguap sambil menutup mulutnya, ”Capek nih..” ia berkata pada Dino, juru kamera yang ada di sebelahnya.

”Iya, sepi sekali ya,” Dino berkomentar.

“Bikin ngantuk,” Cheryl menjawab sambil memeluk leher Dino dan merebahkan wajah di dada pemuda itu. Ia menggerak-gerakkan kepala bagaikan orang yang sedang menikmati mimpinya.

Kejantanan Dino langsung menegang diperlakukan seperti itu karena ia merasakan payudara bulat Cheryl yang menekan lembut di atas perutnya. Sementara paha Cheryl yang nakal juga bergerak-gerak halus, persis mengenai kejantanannya.

”Kamu kok ngaceng?” wajah lembut Cheryl menatap Dino dengan senyum menggoda. Dan sebelum pemuda itu sempat menjawab, ia sudah menarik kepala Dino ke arah wajahnya dan mencium bibir Dino dengan begitu mesra.

Tanpa ragu lagi, Dino membalas dengan mengulum bibir tipis Cheryl. Inilah yang ia tunggu sejak semalam, dan tentu saja tidak akan ia sia-siakan. Sesaat kemudian, ciuman Cheryl makin bertambah ganas. Mereka terus saling berpagutan, kedua lidah mereka menari-nari. Kadang Dino menyedot lidah Cheryl, kadang Cheryl yang mengulum lidah Dino, begitu terus berganti-ganti.

Perlahan-lahan Dino melepas bibirnya, dan kini ganti menciumi hidung, pipi, kelopak mata dan kening Cheryl dengan lembut. Cheryl menarik wajah Dino mendekat. Ditatapnya mata pemuda itu dengan pandangan memohon bercampur gelora birahi. ”Puaskan aku, ya!” ia berbisik. Dan Dino lekas menganggukkan kepala.

Bibir mereka pun kembali saling berpagutan dan kini tangan-tangan keduanya mulai saling menjelajahi. Tangan kiri Dino mengelus dada kiri Cheryl melalui blouse sutra yang masih tertutup beha. Sementara tangan kanannya merayap ke bawah, dari lutut terus naik ke paha, lalu masuk ke dalam rok mini Cheryl  dan menuju ke pangkal paha perempuan cantik itu.

Jari-jari lembut Cheryl juga tak mau kalah dengan terus aktif mengelus kejantanan Dino dari luar celana pantalonnya, bahkan kini ia mulai melepaskan kancing jaket Dino dengan kedua tangannya. Mulut dan lidah mereka masih tetap saling berpagutan. Setelah jaket Dino terlepas, Cheryl dengan gemas menjelajahi dada pemuda itu. Ia menarik hem Dino ke atas, dan langsung mulai melepasi kancingnya satu persatu. Hingga akhirnya Dino pun bertelanjang dada.

”Mbak curang!” Dino berkata sambil mengangkat tubuh mungil Cheryl untuk ditaruh ke dalam pelukannya. Dengan cepat ia juga melepas blazer dan blouse perempuan cantik itu, kemudian menarik perlahan retsleting Cheryl hingga rok mininya jatuh ke bawah.

Cheryl sendiri masih asyik mengulum dan menciumi sekujur dada, bahu serta leher Dino sambil mengeluarkan suara yang tak beraturan dari mulutnya, ”Hhm... ahh... mmm... ahh...”

”Aku suka wangi parfummu, Mbak.” ujar Dino kalem, ”Sudah lama aku membayangkan yang seperti ini.” dengan jemarinya ia menjelajahi dada bulat Cheryl, memijit dan meremas-remasnya pelan sambil kadang jarinya turun ke perut Cheryl. Lalu kedua tangannya berpindah ke punggung Cheryl untuk membuka pengait bra-nya. Benda itupun langsung terjatuh ke lantai mobil.

Dino mengangkat dagu Cheryl yang sedang asyik menjelajahi dadanya. Mereka pun bertatapan, Dino melihat nafas Cheryl mulai menderu. Dadanya naik turun seirama dengan tarikan nafasnya. Kedua payudaranya terlihat mekar dengan begitu indahnya. Sambil menatap wajah perempuan itu, Dino mengelus-elus lembut kedua payudara Cheryl dengan gerakan memutar tanpa menyentuh kedua putingnya.

Mulut Dino juga kembali menciumi mulut Cheryl dan perlahan-lahan turun ke bawah, ke arah dagu. Dan terus turun hingga ia bisa menjilati leher Cheryl yang jenjang. Dino mengulum pangkal leher itu sambil lidahnya aktif menari-nari di sana. Lalu ia bergeser ke bawah telinga, kini daun telinga Cheryl yang jadi sasaran. Dino menjilati lubangnya sambil sesekali mengulum dan menggigit-gigit kecil.

Cheryl hanya bisa mendesah-desah sambil tangannya meremas punggung dan kejantanan Dino dari balik celana. ”Aah... geli... tapi enak...” rintihnya.

Kedua tangan Dino terus asyik mengelus-elus kedua payudara Cheryl dengan gerakan memutar dan kadang meremas kedua payudara itu, tetapi putingnya tetap tidak ia sentuh.

”Dino, remas putingku, please…” rengek Cheryl manja sambil berusaha menarik kedua tangan Dino.

”Iya, sabar ya,” Dino mengelus dada Cheryl memutar, namun tetap menghindari kedua putingnya. Yang ada ia malah kembali memagut bibir tipis Cheryl. Yang membuat Cheryl segera memeluk lehernya dan melenguh menikmati ciuman mereka untuk kesekian kalinya.

Bibir Dino lalu turun menciumi pipi, dagu, dan leher jenjang Cheryl. Juga bahu, dada dan dengan masih menghindari putingnya, terus turun menuju ke perut Cheryl yang ramping.Lidah Dino bergerak liar disana, menjilati sekitar perut dengan gerakan melingkar dan akhirnya terdiam di pusar.

”Aah... geli, Dino...” erang Cheryl menikmati sensasi bibir dan lidah Dino.

Pelan Dino menyelipkan kedua jarinya di celana dalam Cheryl yang berwarna hitam berenda, lalu menariknya ke bawah, dan dengan bantuan Cheryl yang mengangkat kedua kakinya satu persatu, maka terlepaslah celana dalam itu dari tubuh indahnya.

Dino mundur untuk menatap sejenak sekujur tubuh Cheryl yang indah, yang terpampang jelas di hadapannya. Tampak seorang wanita yang cantik dan sexy, dengan hanya mengenakan stocking dan sepatu hak tinggi yang semuanya berwarna hitam. Sungguh kontras dengan warna kulit tubuhnya yang seputih susu, dengan putingnya berwarna pink kecoklatan.

”Mbak cantik sekali,” kata Dino berterus terang. Matanya bergantian menatap paha dan payudara Cheryl.

”Kamu suka?” tanya Cheryl sambil tersenyum menggoda. Tangannya bergerak meremasi kedua payudaranya sendiri.

Tidak menjawab, Dino malah melepaskan sepatu, celana dan kaos kakinya. Membuat Cheryl memandangi kejantanannya yang telah berdiri perkasa di balik celana dalam tanpa berkedip. ”Hmm... kontol kamu udah tegang tuh,” kata Cheryl dengan mata mendelik.

Kembali Dino meraih Cheryl ke dalam pelukannya dan menaruhnya dalam pangkuan. Sekali lagi bibir mereka saling berpagutan. Lidah keduanya menari-nari, dengan kepala bergerak ke kiri dan ke kanan, bergantian. Terkadang keluar suara aneh yang erotis, ”Pprt... prrt... mmnguuh... mmh...” dari bibir mereka yang saling menyedot keras.

Kembali kedua tangan Dino meremas dan mengitari payudara Cheryl dengan tetap menghindari kedua putingnya. Ia juga mengarahkan mulut ke dada itu, lidahnya dengan lincah mengitari dada Cheryl yang sebelah kanan sambil terkadang menciuminya dengan halus. Hal yang sama Dino ulang di dada kiri. Setelah keduanya sama-sama basah, barulah ia membuka bibir, dan dengan lidah terjulur, mulai menjilat dan menyapu puting kanan Cheryl dengan begitu lembut.

Cheryl yang telah lama menantikan kenikmatan ini, kontan melenguh panjang, ”Ooh... ooh... enak... geli... ooh...”

Lidah Dino masih terus menjilat dengan perlahan-lahan puting kanan itu, hingga membuatnya jadi berdiri tegak. Baru kemudian Dino memindahkan bibirnya ke yang kiri, dan kembali menjilat dengan begitu halus. Cheryl pun kembali melenguh panjang, ”Eehh... hmmm...”

Sambil mengemut puting yang kiri, Dino memutar-mutarkan lidahnya di sana. Kadang naik kadang turun, terus merangsang puting Cheryl hingga jadi begitu tegak. Bahkan sampai punggung Cheryl terangkat dan bergetar pelan sambil berteriak panjang, ”Aaacchh...” Rupanya puting adalah salah satu daerah paling sensitif di tubuhnya.

Dino pun sangat senang menikmati dada yang indah, kenyal, kencang berwarna putih, dengan semburat pink kecoklatan di sekitar putingnya itu. Ia terus menikmati kedua payudara Cheryl. Kadang satu persatu, kadang bergantian kiri dan kanan sambil tak lupa menciumi belahannya yang curam. Dino menjilat-jilat lembut di sana. Nikmat sekali melihat Cheryl yang merintih penuh kepuasan.

Tangan Dino juga bekerja, kini jemari kanannya bergerak menyusuri perut Cheryl dan mengusap-usap lembut disana, sebelum terus turun hingga sampai di rambut kewanitaannya. Dino mengitarinya sejenak sambil mengelus pangkal paha Cheryl yang putih mulus. Dino terus mengelus dengan telapak tangan naik turun di atas kewanitaan perempuan cantik itu, sebelum ujung jari tengahnya memutar di pinggir celah Cheryl yang sempit.

Cheryl pun langsung bergetar dan menggoyangkan pinggulnya. Apalagi saat ujung jari tangan Dino bergerak naik turun di atas kewanitaannya. Tak lama kemudian tubuh Cheryl bergetar dan makin mengejang. Dino tidak menghentikan gerakannya, malah jari tangannya semakin mencari sebuah daging kecil berwarna merah di celah lipatan, yang ia tahu akan semakin meningkatkan sensasi rangsangannya. Begitu menemukan, lekas Dino menekan dan mengelusnya lembut dengan menggunakan ujung jari tengahnya.

”Aaah... aah... aku keluarr...” teriak Cheryl pada saat itu juga.

Ciuman di puting maupun elusan di klitoris tidak Dino hentikan. Agak lama juga Cheryl berteriak, kadang mendesah, melenguh, hingga akhirnya tubuhnya kembali lemas dengan nafas yang masih tersengal-sengal.

”Gila kamu! Pinter banget bikin aku klimaks, padahal cuma pake tangan.” Cheryl berbisik.

Dino tersenyum dan menghentikan ciumannya. ”Ada lagi lho yang lebih nikmat, pake ini!” kata Dino sambil menjulurkan lidahnya.

Cheryl langsung mengangguk, ”Mau donk.”

Dino tertawa dan kembali menciumi belahan dada Cheryl, lalu turun ke perut, ke rambut kewanitaannya, dan berhenti di celah kemaluannya. Cheryl membuka pahanya lebih lebar agar Dino bisa lebih leluasa menikmati seluruh lipatan-lipatan kewanitaannya. Benda putih dengan bibir berwarna merah kecoklatan itu tampak masih tertutup rapat oleh rimbunnya bulu-bulu pubis. Dino mulai menciumi, lalu dengan lidah ia membelahnya jadi dua hingga terbukalah bibir kewanitaan Cheryl yang mungil indah.

Dino menciumi sambil menjilatinya, kadang naik turun, kadang menyamping, kadang melingkar, lalu ia berkonsentrasi menjilati daging kecil merah yang tampak tegang mengeras di bagian atasnya. ”Uuuh... aahh...” Cheryl langsung melenguh dibuatnya.

Lalu tiba giliran kedua bibir kewanitaan Cheryl yang Dino jilati. Terkadang ia mengulum, terkadang menyedot hingga keduanya jadi memerah. Dino menjilati rongga dalam kewanitaan Cheryl yang sudah sangat basah, memutar, kanan kiri dan kadang menusuk-nusuk dengan ujung lidahnya yang sengaja ia bulatkan. Dino tidak memperhatikan lagi lenguhan Cheryl, karena terus terang ia pun sangat terangsang.

Tangan Cheryl mulai mendorong kepala Dino ke arah lubang kewanitaannya sambil pinggulnya bergoyang dengan desah yang tak beraturan lagi, ”Uuh... aah... enak, Dino... aah...”

Akhirnya Cheryl pun mencapai klimaksnya lagi sambil menarik kepala Dino. Ia benamkan kepala laki-laki itu ke arah kewanitaannya, sambil mendekap dengan kedua pahanya kencang-kencang. Dino terpaksa menggapai-gapai udara yang hangat tipis, lalu tubuh Cheryl kembali mengejang, tertahan, dan terjatuh. Dino terus menjilati lelehan cairan hangat perempuan cantik itu, dan langsung menelannya penuh rasa nikmat.

”Aah... tak kusangka kamu pinter banget, Dino.” bisik Cheryl begitu orgasmenya berlalu. ”kini giliranku untuk memuaskanmu,” lanjutnya.

Cheryl lalu menggeser tubuhnya. Dengan wajah tersenyum menggoda, ia perlahan mulai menjilati ujung kejantanan Dino yang telah mengeluarkan cairan bening. Karena kejantanan itu sudah tegak menegang, maka dengan mudah Cheryl menciuminya dari atas ke bawah, terutama pada bagian biji pelernya. Lama Cheryl menjilatinya di sana, sebelum akhirnya lidahnya naik perlahan hingga kembali ke ujung kejantanan Dino. Diulangnya beberapa kali hingga membuat tubuh Dino bergetar karena nikmat.

”Emut, Mbak!” pemuda itu meminta.

Mengangguk mengiyakan, Cheryl pun memasukkan kejantanan itu ke dalam mulutnya, sementara tangan kanannya mengelus-elus bagian dalam paha Dino. Sambil mulutnya bergerak maju-mundur, dibelai-belainya testis Dino. Juga ia kocok batang coklat panjang itu dengan tangan kirinya. Tingkah Cheryl itu menyebabkan Dino jadi terjinjit-jinjit karena menahan geli yang amat sangat. Sesekali mata Cheryl menatap ke atas melihat reaksi Dino yang lebih banyak terpejam.

Setelah limabelas menit berlalu, Dino pun mulai tak tahan. Lekas ia tarik tangan Cheryl hingga kuluman mulutnya terlepas. Mereka kembali berciuman, namun kali ini dengan lembut dan mesra. Menggunakan tangan kiri, Dino mulai memasukkan kejantanannya ke dalam celah sempit kewanitaan Cheryl, dan langsung memompanya maju mundur begitu sudah terbenam semua.

Lima menit kemudian, gerakan memompanya menjadi semakin cepat. Kadang diselingi dengan gerakan memutar. Dino juga memajukan sedikit kaki Cheryl hingga ia bisa menusukkan kejantanannya lebih dalam lagi. Sambil menggoyang, tangan Dino juga meremas-remas kasar, mengusap-usap kedua bukit payudara Cheryl untuk menunda masa orgasmenya.

Setelah beberapa menit berlalu, Cheryl mulai nampak tersengal-sengal. Namun ia masih terus bergerak naik turun di atas tubuh Dino. Tangan mereka saling berpegangan, berpelukan. Kedua mata Dino tak henti-hentinya memandangi payudara Cheryl yang terayun-ayun indah tiap kali perempuan cantik itu menggerakkan tubuhnya.

Menjelang datangnya klimaks, kembali Dino memeluk erat tubuh montok Cheryl.  Dengan irama yang semakin lama semakin cepat, iapun tidak mampu menahannya lebih lama lagi.

”Lebih cepat, Dino... lebih keras!” jerit Cheryl keenakan. ”Aku keluar! Arghh...” pekiknya dengan tubuh berkedut-kedut pelan yang langsung diikuti oleh Dino.

”Aahh... aahh...” lava kental Dino yang telah cukup lama mendesak-desak di dalam batang kejantanannya, meledak muncrat dengan begitu kuatnya di dalam rongga kewanitaan Cheryl.

Tetap berpelukan, peluh mereka saling bercucuran. Dino menopang tubuh molek Cheryl di atas perutnya, sambil ia menciumi kening perempuan cantik itu dengan lembut. Di tengah deru nafas mereka berdua yang masih tersengal-sengal, Dino bisa melihat ekspresi nikmat yang terpancar dari wajah cantik Cheryl.

Sesaat setelah nikmat orgasme itu berlalu, suara gemuruh pesawat  terdengar; dan Cheryl tahu, itu bukan gemuruh pesawat komersial sebagaimana layaknya di sebuah bandara.

Maka Cheryl pun sontak meloncat keluar dari mobil sambil menyambar tumpukan bajunya untuk digunakan menutupi tubuhnya yang telanjang. Dino menyusul di belakangnya yang dengan gelagapan berusaha secepatnya menghidupkan kamera. Bayangan sebuah pesawat besar melayang di atas mereka, diikuti oleh hembusan angin yang amat kencang, menunjukkan betapa besarnya laju pesawat itu. Cheryl terpana melihatnya, bahkan mulutnya sampai terbuka ketika menyaksikan pesawat itu lewat di atas.

“Kamu dapat tadi?” tanya Cheryl pada Dino.

“Waduh, belum tahu, tapi aku tadi sempat rekam, cuma tidak tahu hasilnya bagaimana,” kata Dino.

“Pastikan,” kata Cheryl sambil mengenakan pakaiannya kembali, “aku harus hubungi Jakarta dulu,”

Muka Cheryl tampak serius dan khawatir. Tidak salah lagi, itu adalah pesawat Tu-22M, bukan yang lain. Cheryl tahu itu, karena Cheryl juga lah yang meliput ketika pertama kali pesawat itu tiba di Makassar dulu, dan oleh Komandan Lanud, dia dijelaskan mengenai kegunaan pesawat itu kelak. Itulah sebabnya dia merasa amat khawatir. Cheryl jelas tahu mengenai jadwal latihan tempur rutin di Sengata, dan kalau pesawat ini sampai harus terbang di luar jadwal rutinnya, jelas ini ada apa-apanya.

***

Selat Makassar
Ketinggian 8050 kaki dpl
12.10 WIB
H minus 71:50:00

Dalam waktu singkat, pesawat “Black Falcon” sudah jauh sekali meninggalkan Makassar menuju ke arah Pulau Bawean. Juru navigasi kemudian memberi tanda pada Kol. Arief bahwa saatnya sudah aman untuk membuka manifest. Mulai sejak lima menit yang lalu, hubungan radio sudah bungkam sama sekali, dan mereka kini sudah betul-betul “seorang diri”, bagaikan kapal yang berlayar di atas lautan awan yang putih menggumpal bagai kapas.

Kol. Arief membetulkan pemasangan masker oksigennya sebelum akhirnya membuka manifest yang tertutup. Di ketinggian ini, udara amat tipis, sehingga para awak pesawat Tu-22M wajib selalu menggunakan masker oksigen. Kol. Arief tampak terbelalak melihat apa yang tertulis dalam manifest itu. Semua awak pun sadar, bahwa apa pun itu, sepertinya bukan main-main.

“MISI PENGINTAIAN UDARA STRATEGIS; SASARAN PADA MANIFEST A DIBATALKAN, SASARAN BARU: PANGKALAN ANGKATAN LAUT AUSTRALIA DI SIDNEY; AMBIL FOTO DAN GAMBAR SASARAN, DETAIL TERLAMPIR; HINDARI KONTAK DENGAN PESAWAT APA PUN; INI BUKAN LATIHAN; MUSNAHKAN SEGERA SEMUA MANIFEST SETELAH DIBACA,”

Sidney? Jauh sekali, pantas saja dipakai tangki bahan bakar cadangan. Semua awak terdiam setelah mengetahui isi manifest itu. Selama ini memang penerbangan mereka hanya sebatas latihan saja, lagipula hanya dilakukan di dalam wilayah udara Indonesia. Tapi misi kali ini bukan main-main, karena harus menembus wilayah udara Australia, yang pastinya apabila ketahuan bakal menimbulkan konsekuensi serius, tidak hanya bagi mereka, tapi juga bagi Pemerintah. Dalam lampiran lanjutan ada data-data sekaligus perintah terperinci apa-apa saja yang akan menjadi sasaran, termasuk jalur intrusi dan ekstraksi. Akhirnya, ada juga misi serius bagi mereka.

“Here goes, Boys!” kata Kol. Arief.

Dengan kecepatan amat tinggi, pesawat itu pun berbelok arah lalu melesat bagai kilat menuju ke Sidney. Tidak ada yang berani bercanda…

***

Gedung NewsTV
Balkon Cafetaria, Lantai 2
12.21 WIB
H minus 71:39:00

Fessy tidak berkedip sama sekali, dan raut mukanya tampak tegang setelah mendengar apa penuturan dari Meutia. Penyerangan? Jadi KRI Antasena diserang oleh Australia?? Ini kejutan terbesar kedua yang diterima oleh Fessy dalam dua hari terakhir ini. Mereka berdua terdiam, dan nyaris tak terdengar apa-apa kecuali suara desir angin yang bertiup kencang di balkon cafetaria ini. Puding coklat yang tengah disantap oleh Fessy pun dibiarkan begitu saja teronggok.

“Kamu yakin!?” tanya Fessy dengan tegas tapi tak begitu keras, takut semua orang mendengar.

“Itu yang dibilang ama Rahma semalem,” kata Meutia.

“Tapi itu gila!” kata Fessy, “kalau kejadiannya kayak gini, aku gak bakal kasih Alex buat nyusul Lucia, sekalipun Lucia itu istrinya!”

“Aku tahu, aku juga ngerasa gitu,” kata Meutia.

Fessy hanya mendengus sambil menusukkan sendok ke atas puding. Berita yang dibawa oleh Meutia membuat nafsu makannya tiba-tiba menghilang.

“Menurut kamu, apa yang bakal terjadi?” tanya Meutia.

“Apa lagi,” kata Fessy, “kalau udah menyangkut negara lain, pastinya urusannya nggak bisa simpel,”

“Apa insiden ini bisa memicu perang ama Australia?” tanya Meutia.

“Moga-moga aja enggak,” kata Fessy, “cuman masalahnya, perang sering kali meletus gara-gara perkara sepele; apalagi ini soal penyerangan,”

Meutia menghirup sejenak jus tropis kesukaannya, tapi tentu saja bukan dengan ritme yang santai seperti biasanya. “Dengar, aku nggak gitu suka dengan keadaan ini,” kata Meutia, “semua stasiun TV pastinya sudah punya firasat soal apa yang sedang terjadi; dan kita, dengan informasi yang berlebih, memilih untuk diam,”

“Diam adalah pilihan terbaik saat ini, Mut,” kata Fessy, “banyak yang harus dipertaruhkan, dan pastinya kita ingin menyimpan keunggulan kita atas yang lain,”

“Makin lama kita menahan semua ini, aku nggak percaya kalau kita masih punya keunggulan atas yang lain,” kata Meutia, “aku pernah berada di garis depan, aku tahu bagaimana reporter yang keras kepala akan melakukan apa saja untuk mengungkap semua ini,”

“Kita punya line-up terbaik untuk peliputan,” kata Fessy, “sistem terbaik, strategi terunggul, dan informasi lebih,”

“Demi Tuhan, Fes, kamu mulai terdengar seperti Bu Isyana sekarang,” kata Meutia dengan nada keras, “beberapa reporter terbaik di Indonesia bukan berada di sisi kita, dan kamu tahu itu! Itu yang aku khawatirkan sekarang, apalagi dengan strategi diam kita,”

Fessy terdiam melihat Meutia mulai berbicara dengan nada keras, dan menarik perhatian dari beberapa meja lain yang kebetulan berada di dekat mereka. “Kita tetap pada posisi kita,” kata Fessy, “untuk sekarang,”

“Fessy, kamu tahu kan, kalau kita tidak bisa menahan informasi ini lebih lama?” tanya Meutia.

“Untuk sekarang…” kata Fessy.

Meutia kembali diam. Namun keheningan mereka segera dipecah oleh kedatangan Fifi. Fifi tampak pucat, seolah-olah seperti baru menerima kabar yang amat mengagetkan.

“Syukur kalian di sini,” kata Fifi.

“Ada apa?” tanya Fessy.

“Aku baru saja dihubungi Rachel,” kata Fifi, “pesawat Backfire kita sudah meninggalkan sarangnya…”

“Astaga! Kapan?” tanya Fessy kaget.

“Dua puluh menit yang lalu kayaknya,” kata Fifi, “aku mau segera nyiapin berita buat ini…”

“JANGAN!” cegah Fessy tiba-tiba.

Fifi tertegun. Fessy mencegahnya sedemikian rupa, dan terdengar keras pula.
“Kenapa tidak?” tanya Fifi.

“Kamu mau bikin perang ya, mberitain hal itu?” kata Fessy, “kamu tahu kan, pesawat itu cuman boleh keluar dengan persetujuan Presiden langsung?”

“Hei, ini bukan kali pertama Backfire kita keluar sarang, kan?” tanya Fifi, “lagipula mau ada latihan tempur rutin di Sengata,”

“Itu kan baru besok lusa! Apa kamu nggak ngerasa aneh, apa?” tanya Fessy.

“Hei, apa kamu tahu sesuatu yang aku nggak tahu?” tanya Fifi. Ia menatap ke arah Fessy dengan pandangan mata menyelidik. Namun Fessy pun dengan pintar segera mengalihkan tatapan mata kecurigaan itu.

“Fi, kita nggak tahu apa yang bakal terjadi, juga apa efek dari kejadian ini,” kata Fessy, “tolong ya, minimal untuk sekarang aja…”

“Oke,” kata Fifi sambil mendengus, “mungkin kamu bener,” Ia pun lalu berbalik kembali dan meninggalkan Fessy serta Meutia berdua saja.

Meutia segera menatap Fessy dengan pandangan mata yang aneh. “Kenapa kamu nggak cerita ke Fifi soal ini?” tanya Meutia.

“Dia nggak perlu tahu,” kata Fessy, “lagian kalau memang nggak berbuntut apa-apa, dia pun lebih baik nggak usah tahu,”

“Astaga, Fessy! Ada apa sih dengan kamu?” tanya Meutia tak mengerti, “aku lihat kamu kemarin ngobrol berdua ama Bu Isyana, apa ini soal itu?”

“Psst!! Jangan ngomong di sini!!” kata Fessy sambil membungkam mulut Meutia, kemudian menariknya keluar dari tempat itu.

Meutia sendiri hanya bisa mengikuti Fessy saja, meskipun jujur saja dia agak kurang suka dengan sikap Fessy. Apakah Fessy sedang memainkan sesuatu yang Meutia tidak mengerti? Mereka pun akhirnya masuk ke kamar mandi wanita, yang kebetulan saat itu memang tidak ada orang. Pun, Fessy  memeriksa semua cubicle untuk memastikan bahwa memang benar-benar tidak ada orang.

“Dengar, apa yang aku bicarain kemarin ama Bu Isyana, ini demi kebaikan Alex juga Fifi,” kata Fessy lirih.

“Demi Tuhan, kebaikan apa sih?” tanya Meutia, “kamu sedang mainin apa?”

“Kalau keadaan memanas, Bu Isyana minta aku buat ngegantiin Fifi, itu berarti jadi first-in-command di posisi Alex sekarang,” kata Fessy.

Meutia terkejut bukan kepalang. Ia tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Fessy. “Apa maksudmu? Sebuah kudeta!??” tanya Meutia, “aku nggak habis pikir, bisa-bisanya kamu bikin perjanjian itu!!?”

“Ini demi kebaikan semua orang!” kata Fessy.

“Bullshit!! Di bagian Alex tidak ada yang namanya third-in-command, satu-satunya cara buat ngegantiin Fifi adalah memakzulkan Alex dan Fifi sekaligus! Dan kita semua tahu itu!!” kata Meutia, “tega-teganya kamu berbuat gitu!!”

“Masih lebih baik mana? Aku atau orang lain!!?” tanya Fessy, “kalau Fifi menunjukkan tanda kelemahan sedikit saja, orang lain akan mengambil posisinya; dan kita semua tahu, kalau itu terjadi, tidak bakal ada ampun bagi Alex… Alex dalam posisi lemah sekarang; jauh dari manapun… dan dia punya banyak musuh yang walaupun dia sendiri nggak sadar; dia terlalu baik buat nyadarin itu,”

“Masih ada Fifi…” kata Meutia.

“Jadi kamu percaya kalau Fifi bisa memegang tanggung jawab sebesar itu!!??” tanya Fessy, “dia selama ini hidup di bawah bayang-bayang Alex, Mut!! Kamu sendiri tahu itu, kan!?”

Meutia agak terhuyung, lalu bersandar di tembok sejenak sebelum akhirnya turun duduk di lantai. Bagi Meutia, ini jelas bukan perkara yang amat ringan.

“Aku bisa berbuat sesuatu, Mut,” kata Fessy, “aku bisa menyelamatkan Alex…”

“Dengan mengorbankan Fifi?” tanya Meutia.

“Kalau perlu, dengan mengorbankan Fifi…” kata Fessy, “aku cuma mau kamu ngerti, Mut, juga dukung aku kalau-kalau saat itu memang kudu terjadi,”

Meutia kembali menatap Fessy dengan pandangan mata yang ganjil. “Kamu benar… aku nggak percaya kalau Fifi bisa menjaga tanggungjawab itu… mengelakkan serangan seperti yang selama ini dilakukan Alex,” kata Meutia, “tapi Anton percaya ama Fifi… itu cukup harusnya,”

“Aku janji… aku nggak bakal ngapa-ngapain, selama Fifi masih bisa mengerjakan tugasnya,” kata Fessy.

“Kalau gitu mari berharap seperti itu,” kata Meutia.

***

Samudera Indonesia
KRI Ternate
14.16 WIB
H minus 69:44:00

Suasana riuh terjadi di atas geladak kapal KRI Ternate. KRI Harimau akhirnya berhasil menemukan peralatan FST dari KRI Antasena. Selama ini memang pencarian difokuskan dahulu untuk menemukan piranti itu, berhubung piranti itu mungkin bakal memberikan informasi yang jelas mengenai apa yang terjadi dengan KRI Antasena. Sebuah tali katrol diturunkan ke arah KRI Harimau, dan dengan cekatan awak kapal di kedua kapal bekerjasama untuk mengangkut piranti itu ke KRI Ternate, yang memang memiliki peralatan elektronik yang lebih baik daripada KRI Harimau. Di luar dugaan, piranti itu ternyata cukup besar, nyaris sebesar sebuah perahu karet penyelamat.

Alex dan Prita pun ikut-ikutan ke geladak, ingin mengetahui seperti apa piranti yang ditemukan itu, yang mungkin memberi informasi soal keberadaan KRI Antasena, soal keberadaan Lucia. Penarikan pun dilakukan dengan hati-hati, karena piranti ini cukup kecil dan ringan, sehingga mudah tertiup angin. Yang ditakutkan adalah apabila ketika tertiup angin piranti ini menghantam badan kapal dengan keras, karena benturan yang terjadi ditakutkan bisa merusak data apapun yang terkandung di dalamnya. Semua menahan nafas ketika FST diturunkan secara perlahan-lahan ke atas lantai dek, dan segera bersorak riang ketika FST dengan selamat berhasil turun di atas dek.

Dengan sigap, beberapa orang kelasi segera membawa piranti itu ke tempat yang memang sudah dipersiapkan, dan seorang teknisi segera memasangkan peralatan ke dalam piranti itu. Nampak ahli sekali tampaknya, tapi ia pun terlihat gugup. Wajar saja, karena seperti halnya KRI Antasena, FST ini juga masih sebatas purwarupa, sehingga masih jarang teknisi yang bisa menangani piranti ini. Tak berbeda dengan teknisi kali ini, karena ia cuma mengenal mengenai piranti ini secara teori saja, tidak pernah langsung. Untungnya yang cukup ia lakukan hanyalah mencolokkan kabel koneksi ke piranti, dan ahli lain yang ada di Jakarta-lah yang akan melakukan sisanya.

Alex dan Prita diizinkan untuk melihat dengan lebih dekat. Piranti itu sudah mulai berkarat akibat terlalu lama berada di air laut, namun juga bahwa beberapa bagiannya terlihat terkelupas atau gosong, tanda dari pertempuran yang telah dialaminya. Mereka berdua hanya melihat sejenak, lalu kemudian bergegas menuju ke ruang kendali, karena di sanalah observasi akan dilakukan.

***

14.33 WIB
H minus 69:27:00

Seorang ahli komputer yang memang khusus dibawa oleh KRI Ternate, dengan sigap memeriksa data-data dari FST. Data itu memang ia bagi dengan rekannya yang berada jauh di Jakarta. Dari sini, Kapten Kadek, Prita, dan Alex mengawasi proses itu sementara jauh di Jakarta, Najwa dan Sam melakukan hal yang serupa. Saluran radio pun dibuka lebar, sehingga masing-masing bisa saling mengetahui kegiatan di seberang.

“Bagaimana?” tanya Alex.

“Data-datanya berhasil kita ambil, tapi analisanya masih menunggu beberapa bagian kode dipecahkan di Jakarta,” kata ahli komputer itu. “Satu jam lagi paling cepat,” kata Sam dari balik corong radio.

“Apa tidak bisa lebih dipercepat?” tanya Alex tak sabar.

“Sabarlah, kita sudah menggunakan semua peralatan terbaik yang kita punya di sini,” kata Najwa, “kode militer tidak dibuat supaya mudah dipecahkan,”

“Tolong cepat, kalau begitu,” kata Alex gelisah.

“Kami usahakan secepat lebih dari yang kami bisa,” kata Najwa.

Prita pun lalu memegangi tangan Alex untuk menenangkannya. Antara Prita dan Alex memang sangat unik, karena mereka berdua bisa saling menenangkan misalnya salah satu tengah gelisah. Bagaimanapun, Prita merasa bahwa kegelisahan Alex kali ini cukup besar hingga dia tak yakin apakah yang biasa ia lakukan kali ini cukup. Prita pun merasakan bagaimana waktu berlalu dengan terasa amat lambat.

***

15.21 WIB
H minus 68:39:00

Ternyata proses pembukaan kode itu berlangsung sedikit lebih cepat dari waktu satu jam. Bagi Alex, ini pun sudah termasuk lama. Apalagi ia harus menunggu sejenak sampai semua data selesai dianalisa.

“Oke, aku berhasil mendapatkan koordinat terakhir kali dari FST ini,” kata Sam dari radio, “tapi ada masalah,”

“Ada apa?” tanya Alex.

“Tadi malam terjadi badai, kan? Tampaknya FST ini sudah terapung dan terombang-ambing kemana-mana sehingga susah untuk dipastikan dari mana pertama kali FST ini terlepas,” kata Sam, “aku sudah berhasil mengunci koordinat terakhir dari FST… tapi, ada kemungkinan kapal KRI Antasena, kita asumsikan saja tidak bergerak dari tempatnya, berada pada bisa berada pada radius 10 mil laut dari titik koordinat akhir,”

“Sepuluh mil?” tanya Alex, “itu berarti wilayah pencarian kita membentang hingga 400 mil persegi?”

“Asumsinya kapal Antasena tidak bergerak,” kata Sam.

“Untuk kecepatan pencarian, KRI Ternate bisa bergerak hingga 20 knot,” kata Kapten Kadek, “pukul rata 52 menit untuk tiap 20 mil, berarti sekitar 10 jam, minimal,”

“Sepuluh jam?” tanya Alex, “…apa kita punya waktu selama itu?”

Semua yang ada di sana terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Alex. Sekali lagi, waktu menjadi musuh utama dalam pencarian dengan kapal selam.

“Sam, berapa kira-kira waktu maksimal yang dimiliki oleh semua orang di KRI Antasena?” tanya Najwa.

“Perkiraan kasar saja… mengasumsikan sistem atmosfer masih menyala, 96 jam dari awal mula perkiraan FST dilepaskan,” kata Sam, “tapi kalau sistem atmosfer rusak, maka hanya ada sisa udara untuk 24 jam saja… Ada kemungkinan semua di KRI Antasena sudah mati saat kita berbicara,”

Alex pun terdiam lesu, dan ia terduduk gontai. Di dalam pikirannya, entah apa dia bisa menerima kalau Lucia memang sudah meninggal.

“Kita sudah melewati pagu 24 jam,” kata Najwa, “kita asumsikan saja sistem atmosfer masih menyala, berarti sekitar 70 jam?”

“Kasarannya seperti itu,” kata Sam, “tapi khusus untuk ini, kita tidak bisa memakai perkiraan kasar, harus tepat,”

“Oke, sudah, Pak Sam, lebih baik Anda segera berikan koordinat itu, jadi bisa segera kita cari,” kata Kapten Kadek.

“Baik, aku kirimkan koordinatnya langsung kepada Anda sekalian dengan perkiraan posisi yang lainnya secara time series,” kata Sam.

Layar komputer di KRI Ternate pun menunjukkan data-data yang diberikan oleh Sam.Seorang awak dengan sigap segera mencetaknya dan memberikannya kepada Kapten Kadek. Kapten Kadek membacanya sambil mengernyitkan dahi.

“Apa data ini betul-betul atau Anda cuma main-main dengan saya, Pak Sam?” tanya Kapten Kadek.

“Ada apa, Kapten?” tanya Sam tak mengerti.

“Koordinat-koordinat ini…” kata Kapten Kadek, “kita dan KRI Harimau sudah melewatinya semenjak beberapa jam lalu, dan kita mencari juga dengan panduan sonar aktif, tapi tak menemukan apa-apa,”

“Apa mungkin KRI Antasena dihanyutkan arus lebih jauh daripada perkiraan?” tanya Prita.

“Atau… yang saya takutkan…” kata Sam lesu.

“Ada apa?” tanya Najwa.

“Begini, KRI Antasena dilengkapi dengan sistem countermeasure canggih, dan salah satunya adalah peralatan untuk membelokkan sonar aktif,” kata Sam, “dengan kata lain, KRI Antasena bisa tak terlacak, bahkan lewat sonar aktif sekalipun,”

“Astaga… apa itu mungkin?” tanya Kapten Kadek, “tapi mana ada alat semacam itu?”

“Kita baru saja membuatnya,” kata Sam, “belum diuji coba, tapi pastinya berhasil, dan sistem itu bekerja seperti saraf refleks dalam tubuh manusia, tidak bisa dilepas tanpa mematikan keseluruhan sistem kapal,”

“Ya ampun…” kata Kapten Kadek sambil memegangi kepalanya, “apa berarti kita kudu menyusuri satu persatu inchi demi inchi?”

“Ini bidang sebesar 200 mil laut persegi, ditambah kedalaman hingga 240 meter,” kata Alex, “pastinya bidang pencarian yang luar biasa luas,”

***

17.44 WIB
H minus 66:16:00

KRI Ternate akhirnya memutuskan mencari secara menyusur, inchi demi inchi. Sonar aktif, yang biasanya ampuh digunakan untuk mencari kapal selam, kini mandul di hadapan sistem pertahanan KRI Antasena. Semua awak kapal pun lesu, karena pencarian ini bisa saja berubah menjadi pencarian yang sia-sia. Bahkan KRI Harimau, yang selama ini setia mendampingi pun tertular kelesuan itu.

Prita berjalan-jalan di dek, sekedar menikmati suasana matahari terbenam. Di laut, jam segini tampak masih cukup terang, meskipun cahaya lembayung sudah mulai meredup. Angin pun berhembus kencang dan amat dingin sehingga Prita harus mengencangkan jaketnya. Angin yang basah pun membuat rambutnya terasa agak kumal. Tidak banyak yang bisa dilakukan memang, kecuali hanya melihat-lihat kapal saja.

Satu hal yang membuat Prita agak heran dengan kapal ini adalah penempatan meriam utama di tengah-tengah badan kapal, karena berarti sudut tembaknya pun terbatas. Terlepas dari bahwa turret 5-inchi memang berukuran lebih kecil, penempatan meriam jenis ini terakhir ditemukan pada battleship Jepang dari kelas Fuso atau kelas Ise, pada era Perang Dunia II. Hanya saja, pada kedua kelas battleship tadi, yang dipasang adalah kanon berukuran 14-inchi yang lebih besar. Tidak pernah ada penjelasan mengapa KRI dari kelas KAU mendapat pengaturan seperti ini, padahal dari kelas KAK, turret kedua diletakkan di buritan, seperti lazimnya peletakan secara umum.

Sayup-sayup, Prita pun mendengar seperti suara besi yang dipukul-pukulkan menurut nada tertentu. Prita, yang tertarik dengan bunyi itu, segera mencari sumbernya, dan segera menemukan Alex tengah duduk bersila sambil berpegangan pada rel pengaman dekat buritan. Prita semakin mendekat, dan ternyata Alex tengah memegang sebuah besi dan memukulkannya di badan kapal dengan ketukan tertentu.

“Lagi ngapain?” tanya Prita.

“Nggak ngapa-ngapain,” kata Alex seolah sudah mengetahui kedatangan Prita, “cuman lagi kirim pesan,”

“Pake mukul-mukul gitu?” tanya Prita.

“Siapa tahu Luz denger,” kata Alex.

Prita hanya mendengus saja, tak terdengar di tengah suara angin yang menderu. Alex pun meneruskan kegiatannya memukul-mukul badan kapal. Suara pukulan itu terdengar sayup-sayup saja di tengah deru angin.

“Kita pasti nemuin dia,” kata Prita sambil menepuk pundak Alex, “aku yakin Luz masih hidup,”

“Aku juga yakin,” kata Alex.

Prita pun lalu ikut duduk di samping Alex, dan secara otomatis, Alex pun menyandarkan kepalanya ke pundak Prita. Prita sendiri hanya tersenyum sambil mengusap-usap rambut Alex. Bersama merekapun menyaksikan terbenamnya matahari.

***

Bina Graha
17.59 WIB
H minus 66:01:00

Najwa pun terduduk dengan murung. Tidak ada yang berani mengusiknya. Sebagai orang yang memiliki pandangan paling jelas atas semua yang tengah terjadi, jelas berat sekali hal yang tengah Najwa pikirkan. Pertama adalah berita dari KRI Antasena, dan kedua, dia masih harus memikirkan bagaimana langkah selanjutnya dari Australia, yang datanya saat ini tengah ia tunggu.

Dengan takut-takut, seorang ajudan mendekati Najwa. Najwa hanya melihatnya dengan tersenyum kecil, lalu memintanya mendekat. “Ada apa?” tanyanya.

“Hasil pengintaian dari Black Falcon,” kata ajudan.

Ajudan itu lalu menyerahkan sebuah berkas pada Najwa. Dengan segera, Najwa pun melihat berkas itu, dan saat itulah ia tercengang. Tangannya hampir saja gemetaran memegang berkas itu. Apa yang ia takutkan pun terjadi. Kontan saja ia segera meraih teleponnya dan menghubungi Presiden Chaidir.

“Pak Presiden!” kata Najwa.

“Ada apa, Nona Najwa?” tanya Presiden.

“Ketakutan kita selama ini terjadi,” kata Najwa, “sebanyak satu fleet tempur Australia sudah meninggalkan Pangkalan Angkatan Laut di Sidney,”

“Astaga…” kata Presiden.

“Pak Presiden, kita di ambang perang!” kata Najwa.


BERSAMBUNG

Sunday, April 20, 2014

Vani - Sexopoly

Game Monopoly Sex yang Bikin Ketagihan
Cuaca Jakarta sedang lucu-lucunya. Pagi cerah dan panasnya sudah kaya siang bolong, eh tiba-tiba jam 1 siang hujan deras kaya langit bocor. Jadwal hujan yang ga bisa ditebak gini yang bikin banyak warga Jakarta yang salah jadwal dan persiapan ngadepinnya.
Nasib yang sama menimpa Vani, jagoan indehoi kita yang sexy dan mesum habis ini. Suatu pagi di bulan Januari, setelah 2 minggu UAS yang menegangkan dan melelahkan semua sel otot dan otak para mahasiswa kampus S, Vani teringat dia masih menyimpan beberapa novel yang dipinjamnya dari Sasha. Ga ada kuliah dan ga ada paper yang perlu disubmit lagi, ni cewek mikir ga ada salahnya nyambangin Sasha di kosnya yang berjarak cuma sekali ngangkot dan ngojek jarak menengah.
Dengan pakaian casual, t-shirt putih semi body fit, celana pendek jeans selutut yang agak belel dan sneakers converse, berangkatlah Vani di pagi yang cerah itu ke kos Sasha sambil menenteng tas plastik berisi 3 novel pinjemannya. Cuaca bersahabat, bikin mood Vani juga cerah. Bahkan kelakuan iseng kondektur metromini yang belagak bantu naek si sexy ke bis dengan mendorong pantatnya, tapi sebenarnya cari kesempatan grepe-grepe, tidak merusak mood Vani.
Tapi 45 menit kemudian (ngetem metromininya 15 menit sendiri), ketika Vani hampir sampai di depan jalan utama kos Sasha, cuaca Jakarta tiba-tiba galau. Mendadak gelap, awan mendung sudah berarak dengan semaraknya di langit Jakarta. Benar saja, 100 meter sebelum turun hujan turun dengan derasnya. “Aseemmm… Kok mendadak ujan sih? Mana gue ga bawa payung” runtuk Vani dalam hati. Vani lebih kesel lagi ketika turun ga ada satupun ojek motor ataupun ojek payung yang mangkal di ujung jalan itu. Pada kabur kali para ojek motornya karena hujan.
Berlari-lari kecil menembus hujan, Vani masuk ke jalan Jambu Air (nama jalan disamarkan demi privacy si tukang ojek). Sekitar 50 meteran dari jalan raya baru deh ketemu sama 2 tukang ojek yang neduh di pos satpam. Sambil tetap menggunakan novel Sasha yang dalam kantong plastik sebagai pelindung kepala, Vani nyamperin pos satpam itu dan memanggil si tukang ojek “Bang, anterin ke dua belas dong” pinta Vani. Tapi, Vani heran, karena kedua tukang ojek itu ga langsung bereaksi atau sekadar menjawab. Malah agak melongo memandangi Vani.
Tiba-tiba Vani seperti tersadar. Karena kehujanan, t-shirt Vani menjeplak lengket dengan tubuhnya. Terutama di bagian dada yang memang dasarnya membusung mancung. Siluet bundar payudara dan bra yang melingkupinya tampak jelas akibat t-shirt-nya basah kuyup. Reflek Vani langsung menutupi dadanya dengan kantong plastik novelnya. “Eh Bang, mau ngojek ato bengong ajaaa?!” tanya Vani agak menjerit. “Eh..oh.. eh iya neng. Mau dianter kemana?” gelagepan si abang ojek yang giginya tonggos menjawab sambil menghampiri dan mulai menstarter motor bebeknya. Sedang abang yang setengah botak pura-pura ngelapin helm, nutupin malu ke-gap ngliatin dada si Vani.
Dengan terrpaksa memake helm bau keringat punya si tukang ojek agar kepada tidak lebih basah lagi, mahkluk sexy ini menghenyakkan pantat sekalnya di jok motor abang ojek, dan merekapun meluncur membelah hujan menuju jl. Jambu Air XII. Tukang ojek sudah setengah berharap orang yang dicari penumpangnya tidak ada di kos-nya, agar dia punya kesempatan ngantar balik si cewek ini. Tapi memang nasib tidak berpihak kepada si tukang ojek karena Sasha sudah nungguin Vani di pintu gedung kos-kosan tersebut. Belum lagi si Vani cuma bayar 2000. “Lho biasanya goceng neng” melas tukang ojek. “Eh, 3rebunya biaya lo melototin toked gw dan ngerem-ngerem melulu pas di jalan” saut Vani judes, ditingkahi cekikikan Sasha. Abang tukang ojek hampir tidak tahan untuk tanya “Kalo ngeliatin 3rebu, megang-megang berapa Neng”. Tapi ditahannya karena agak jiper sama kejudesan Vani. Dia cuma bilang “Kalo butuh jemputan, SMS aja abang ya neng. Neng Sasha tau kok nomor HP abang” sambil tersenyum semanis mungkin. “Iyee bang” sahut Vani dan Sasha serempak sambil menutup pintu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~
“Genit amat tu tukang ojek” gerutu Vani sambil mendekap tubuhnya, menggigil kedinginan mengiringi langkah Sasha menuju kamarnya di lantai 3. “Udeh, ga usah bawel dah lo. Ayo cepet ke kamar gue, biar bisa ganti baju lo” sahut Sasha sabar sambil menarik tangan Vani agar bergerak lebih cepat. Kos Sasha adalah gedung persegi empat berwarna beige dengan aksen terakota di jendela-jendela yang menghadap keluar, memanjang kebelakang setinggi 4 tingkat yang khusus dibangun untuk jadi kos-kosan 3 tahun yang lalu. Terdapat hampir 80 kamar dan lebih dari 90% selalu terisi, karena memang lokasinya dekat dengan beberapa kampus dan komplek perkantoran. Layout dalamnya khas kos-kosan: dua deret kamar yang berhadapan, dibelah oleh taman selebar 1 meter yang memanjang di lantai dasar dan void sampai kelangit-langit gedung. Tapi void-nya tidak begitu lebar, karena pemilik gedung lebih memilih untuk membuat jalan di depan kamar cukup lega. Satu hal yang dirutuki Vani dan Sasha dari kos ini adalah tidak adanya lift. Cukup gempor juga naik ke lantai tiga. Maka itu, makin ke atas tarif bulanannya makin murah.
Sesampainya di kamar Sasha, Vani buru-buru masuk ke kamar mandinya karena sudah kebelet pipis. Kamar Sasha berukuran 4x5 meter. Kamar mandi dipojok kanan, berisi shower dan toilet duduk. Tempat tidur springbed ukuran 120cm x 200 cm mepet ke dinding kanan. Isi kamarnya standar anak koslah: lemari pakaian 2 pintu, TV, rak buku dan peralatan makan dan satu meja kecil. Sasha mengetok kamar mandi untuk mengasikan 2 potong t-shirt, celana pendek dan bra ke Vani. “Pilih aja mana yang lo suka hottie” kata Sasha kepada Vani yang melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. “Gw minta shampo ama sabun lo ya Sha” kata Vani sambil menerima pakaian tersebut. “Pake aja. Tapi jangan abisin” sahut Sasha. “Gue minum kale shampo lu” balas Vani sambil menutup pintu.
Rasa sebel Vani karena kehujanan barusan sudah hampir luruh semuanya diguyur air dari shower. Rasanya nyaman sekali ketika mengeringkan tubuh dengan handuk kering yang tebal milih Sasha. Karena celana dalamnya tidak basah, Vani memutuskan memakainya kembali. Tapi dia agak kebingungan ketika memilih bra punya Sasha. Bukan karena modelnya yang kinky atau warnanya ga cocok. Sasha lupa kalo toked Vani satu cup lebih besar dari miliknya. Jelas saja susu Vani ter”penyet” ketika memaksa memakai bra Sasha yang ber-cup B. Merasa sesak nafas, Vani memutuskan tidak memakai bra saja, dan langsung memakai t-shirt gombrang berwarna maroon dengan tulisan “Talk Nerdy to Me”. Selesai memakai celana pendek berbahan kaos milik Sasha, Vani mematut sebentar di cermin. T-shirt gombrangnya hampir menutupi celana pendek yang memang… pendek, menunjukkan sebagian besar paha putih Vani.
Ketika akan membuka pintu kamar mandi, Vani baru sadar bahwa di luar Sasha sedang mengobrol dengan orang lain karena sedari tadi suara-suara di luar tidak terdengar, tertutup suara hujan yang menggemuruh. Vani sempat berpikir untuk tidak keluar dulu sampai tamu2 Sasha itu pergi karena tau kan.. dia ga pake bra. Rasanya gimana gitu. Tapi, akhirnya “Sebodo ah.. ga kliatan ini” pikir Vani sambil membuka pintu kamar mandi. Obrolan Sasha dan tamunya kontan terhenti ketika sesosok cewek berambut bob berwarna brunette muncul dari balik pintu kamar mandi. “Eh, lo ada tamu Sha?” tanya cowok berambut jabrik sambil tersenyum lebar melihat ada mahkluk bening lagi di kamar tersebut. “Eh, kenalin ni temen satu kampus gue, Vani” ujar Sasha sambil menarik Vani untuk mendekat. Si rambut jabrik bertubuh tinggi langsing dengan wajah agak tirus ternyata bernama Randy, dan temannya satu lagi yang berambut cepak dan berbadan agak gempal (ga gemuk ya, gempal) minta dipanggil Momo. “Weh pas banget nih sekarang kita berempat. Sudah bisa langsung dimulai” kata si Randy agak keliwat ceria. “Eh, maen apaan nih?” tanya Vani pengen tau. “Hihihihi.. lucu deh Van game-nya. Gue baru diceritain dikit barusan ama Randy. Tapi kliatannya seru banget. Lo pasti demen deh” sahut Sasha sambil cekikikan mencurigakan. Vani jadi penasaran.
“Eh bentar. Masih kurang satu orangnya. Butuh bankir-nya neh kita” kata Randy tiba-tiba sambil beranjak keluar kamar. Ga sampe semenit Randy sudah balik sambil menarik masuk cowok imut berkaca mata. “Elu yang jadi bankir-nya Dan?” tanya Sasha begitu melihat anak cowok yang baru masuk. “Wah, bankir apaa nih mbak? Saya juga ga ngerti. Tiba-tiba ditarik mas Randy” jawab polos anak cowok yang dipanggil Dan itu sambil melirik-lirik ke arah Vani dengan pandangan ingin tau. “Udah, lo dengerin dulu aja. Pasti lo demen nantinya” tukas Randy penuh misteri. Vani semakin penasaran dengan game ini.
Setelah mereka duduk melingkar berempat, dan cowok imut berkacamata yang ternyata bernama Danan duduk di luar lingkaran, Randy pun mulai menjelaskan apa sebenarnya game yang hendak mereka mainkan. Tapi pertama-tama, Randy membuka sebuah kotak karton persegi panjang berukuran sekitar 50x25cm dan mengeluarkan karton tebal terlipat 2 yang seperti papan. “Alaa.. ternyata cuma mo maen monopoli” sahut Vani agak sebel. “Eitt… tunggu dulu Van. Ini bukan sekedar monopoli. Ini monopoli khusus dewasa. Namanya sexopoly” jawab Randy tangkas sambil tetap menyengir mencurigakan. “Hah? Sexopoly?” Vani membeo. “Yoiii.. sexopoly. Sex Monopoly” cengiran Randy semakin lebar, dibarengi oleh cengiran mesum Momo dan Sasha. Duduk Danan jadi agak gelisah begitu mendengar kata “sex”. Vani langsung merasakan firasat buruk.
“Jadi pada dasarnya aturan maennya hampir sama sama monopoli biasa. Kita giliran jalan pake dadu 2 biji. Kalo udah sekali muter, mulai boleh beli properti. Dapet modalnya seorang ceban yak” jelas Randy panjang lebar. “Lah, apa bedanya sama monopoli biasa” bawel Vani. “Sabar napa Van. Biarin si Randy slese jelasin” tukas Sasha ga sabar. Vani langsung cemberut sambil agak memonyongkan bibirnya. Bikin Momo jadi gemes dan pengen ngelumat tu bibir yang penuh dan sensual itu. “Ok, bedanya disini nih. Pertama, setiap sekali muter, ga dapat uang dari bankir” Danan agak mengernyit mendengan “jabatannya” disebut. “Lalu, kalo lo masuk kotak Chance dan Community (kalo di versi indo “Kesempatan” dan “Dana Umum”), lo juga sama ngambil satu kartu Chance ato Community. Nah, bedanya tu diisi kartu-kartu ini” pungkas Randy puas. “Isi kartunya tuh perintah-perintah yang kudu dilakuin si pengambil kartu. Kalo isinya lo disuruh joget 5 menit, ya lo wajib joget 5 menit. Kalo isinya lo disuruh french kiss, ya lo wajib juga french kiss hehe” tambah Randy, diiringi cekikikan Sasha dan Momo.
“Aahhh… kaco neh maenan lo pada” rajuk Vani agak panik. “Tenang Van, perintah-perintahnya cocok kok buat kita-kita yang udah “de.wa.sa” kata Momo sambil menekankan pada kata “dewasa”. “Lo-lo pasti demen” kata Randy sambil mengedipkan mata. “Iihhh… jangan samain gue sama lo-lo pada ya” balas Vani agak sebel sekaligus tersipu, sambil berusaha mencubit paha Randy yang duduk di sebelahnya. Randy tidak berusaha menghindar cubitan main-main Vani, malah langsung menambahkan “Kalo jadi maen, lo semua wajib nyetorin HP ama dompet lo pada ke bankir. Kalo ada yang coba-coba melanggar alias tidak mematuhi perintah di game, bankir berhak menyita permanen harta benda lo itu” tambah Randy. Danan langsung jumawa begitu mendengar aturan tersebut sambil tangannya disorongkan ke Sasha dan Vani menagih HP dan dompet mereka.
“Eh, entar dulu. Gue mo liat isi kartunya” kata Vani sambil nyingkirin tangan Danan dari hadapannya. Sambil mengambil 3 kartu dari tumpukan Chance dan Community Vani menambahkan “Jangan-jangan ada kartu buatan lo yang isinya “Berhak dan bebas melakukan apapun juga kepada peserta lain”. Gawat dong. Enak di elu, ga enak di gue” tambah Vani galak sambil mulai membaca ketiga kartu tersebut. Ketiga peserta lainnya hanya cengar-cengir mendengar keberatan Vani. “Sumpah Van, ga ada kartu isinya kaya gitu” jawab Momo. “Kalo bener ada, ga berlaku deh” tambah Randy berusaha meyakinkan Vani. Tapi Vani tetap membaca kartu pertama. Kartu pertama isinya “Nuzzle and kiss your partner neck. Nibble his/her ear lobes and whisper "Let’s fuck". Gue artiin ya “Ciumin leher partnermu. Lalu gigit-gigit kecil kupingnya dan bisikkan “Ngentot yuk”. (Okay terjemahan gue memang agak vulgar. Tapi buat kebahagiaan kita bersama, mulai sekarang semua kartu yang aslinya bahasa inggris itu, gue langsung terjemahin ke dalam bahasa mesum Ethan. Gue harap semua semproters setuju .). Pipi Vani agak bersemu merah, malu-malu birahi, tapi tetap melanjutkan membaca kartu yang kedua. Isinya “Ajak partner lo untuk ngentot dengan kata-kata paling mesum yang lo punya. Minimal 2 kalimat”. Kartu yang ketiga berbunyi “Tatap mata partner lo penuh perasaan, sambil lo membelai-belai dan meremas-remas tubuhmu dan mendesah-desah selama 2 menit”. Vani tidak sadar menahan senyum sambil menggigit bibir bawahnya dan meletakkan ketiga kartu di tumpukannya kembali.
“Terus, gimana caranya nentuin sapa partnernya? Kan kita berempat” Vani mengemukakan persetujuannya untuk join game Sexopoly dengan pertanyaan tersebut. “Gampang dong, partner lo ya yang duduk pas disebelah lo. Gantian sama sisi satunya setiap kali ngambil kartu lagi” jelas Randy puas karena cewek bahenol ini akhirnya setuju ikut maen. “Pantes aja tadi ngatur duduknya selang-seling cowo cewe” batin Vani agak sebel begitu sadar mereka sudah bersiap-siap untuk hal tersebut. “Kalo lo setuju, serahin HP dan dompet lo ke Danan” tambah Randy. “Untung aja yang diambil pas yang aman2 kartunya” kata Randy & Momo dalam hati lega. “Ya udah, gue ikutan. Kasian Sasha sendirian” balas Vani masih pura-pura jual mahal sambil nyerahin BB dan dompetnya ke Danan.
“Tugas gue cuma nyimpenin HP dan dompet doang nih” tanya Danan sambil memasukkan keempat HP dan dompet para peserta ke kantong plastik. “Ga lah. Lo juga yang bantu mastiin kalo ada peserta yang ga bersedia ngelakuin tugasnya” jawab Randy. “Plus, lo yang nentuin bayaran kalo ada yang masuk properti orang laen” tambah Momo. “Ambil kartunya sesuai warna areanya ya. Kalo area properti biru, ya lo ambil dari yang kartu biru” lanjut Momo. Danan manggut-manggut sambil membuka-buka beberapa kartu yang terdiri atas 4 kelompok warna tersebut. Biru, Kuning, Hijau dan Merah. “Eh, bayarannya bukannya pake duit monopoli-nya” tanya Sasha. “Ga lah. Kan di sexopoly lo ga dapat uang dari bank setiap kali muter” jelas Randy. “Uang cuma buat beli property” kata Randy lagi. “Lah terus kaya apaan bayarannya” selidik Vani mulai was was lagi. “Amanlah. Hampir selevel sama kartu chance dan community” jawab Randy berusaha menenangkan. Tapi, demi melihat wajah Danan yang bersemu merah ketika membaca beberapa kartu “RENT”, Vani dan Sasha tidak begitu yakin. Namun, mau bagaimana lagi. HP dan dompet mereka sudah ditangan Danan. Momo menutup penjelasan “rule of the game” dengan mengatakan “Tapi kalo gue masuk ke properti Randy ato Vani masuk ke properti Sasha, tidak perlu bayar sewa”. Sasha dan Vani baru saja hendak mengungkapkan pertanyaan dan keberatan, tapi buru-buru Momo mengangkat tangannya sambil berkata “Lo bedua bakal ngerti juga nantinya”. Dan begitulah, mereka menerima begitu saja peraturan yang agak GeJe tersebut.
“Permainan dimulaiiii” kata sang bankir sambil melempar kedua dadu ke papan sexopoly. “Gue duluaann” jerit Sasha cepat merebut dadu dan melemparkannya lagi ke tengah papan. “4 – 1, 5 langkah. Tu, wa, ga, pat, ma.. Hore, gue beli PLN-nya” kata Sasha girang. “Woe.. enak aja lo. Muter sekali baru boleh beli abis itu” tukas Vani sewot. “He-he.. sorry. Terlalu semangat” jawab Sasha tersipu-sipu. Searah jarum jam, setelah Sasha adalah giliran Randy. Diikuti oleh Vani, dan kemudian tentu saja Momo. Kelihatan banget kalo kedua cowok tersebut berusaha bisa masuk kotak Chance atau Community. Tapi ternyata Sasha yang malah pertama kali berkesempatan mengambil kartu Community. Deg-degan Sasha mengambil kartu pertamanya. Begitu membacanya, rona wajah Sasha yang putih agak merona. “Uhh.. bingung nih caranya” rajuk Sasha sambil meminta bantuan Vani. “Apaan sih yang lo dapat” tanya Vani penasaran. “Oooo… lo dapat yang rayuan mesum ini hihihi” kata Vani ketika membaca kartu Sasha. Itu kartu yang Vani buka di awal permainan yang isinya “Ajak partner lo untuk ngentot dengan kata-kata paling mesum yang lo punya. Minimal 2 kalimat”. “Ayo Sha.. lo rayu si Randy hahaha” timpal Momo penuh semangat. “Bilang apaan dong” Sasha malah tambah panik. “Udahh.. pake aja kata-kata lo pas horny ngajak si Revo ML” tambah Vani lagi sambil nyengir puas. “Aaaa.. Vaniii.. Lo jangan ikut-ikutan gangguin dong” rajuk Sasha manja, yang bikin Randy makin tambah gelisah bahagia. “Ok..ok.. diem dulu lo semua” kata Sasha akhirnya sambil mengangkat kedua tangannya, mencegah olok-olok Vani dan Momo semakin brutal. “Gue mulai ya” lanjut Sasha. “Rand..” kata Sasha. “Eh.. liatin Randy-nya dong. Masa ngajak ML nunduk gitu” sepet Vani cepat. “Iya. Iya.. Bawel amat sih” jawab Sasha sambil memonyongkan bibirnya. Serempak tawa keempat orang lainnya terdengar. Setelah mereka tenang, Sasha baru mau melakukan “tugas”nya itu.
“Rand..” kata Sasha lirih sambil menatap Randy sendu. Ruangan kamar Sasha langsung hening. Momo, Randy dan Danan tegang mengantisipasi kata-kata yang akan keluar dari bibir Sasha. “Udah seminggu gue ga disentuh cowo. Gue ga tahan lagi. Fuck me please..” desah Sasha. Selama sepersekian detik Randy terpana menatap nanar cewe cantik yang menatapnya dengan pandangan mengundang. Sampe-sampe Randy terpaksa menelan ludahnya. “Wakakakakakak…” tawa Sasha tiba-tiba meledak. “Denger gitu doang udah mupeng lo yaa…” goda Sasha nakal. Vani juga terkikik-kikik melihat Randy yang agak salah tingkah karena sempat kebawa omongan Sasha. “Agh.. Nggak kok, gue nggak kepengaruh sama omongan Sasha” Randy masih berusaha ngeles walo tidak meyakinkan. “Udah ah, giliran gue sekarang” kata Randy cepat-cepat sambil ngelempar dadu ke papan permainan agar anak-anak berenti cekikikan dan menggodanya. Permainan pun berlanjut.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Vani dan Sasha tidak begitu perhatian bahwa Randy dan Momo mati-matian berusaha membeli semua blok properti di area merah, alias area yang terletak di jalur terakhir sebelum masuk kotak start lagi. Padahal area merah adalah area dengan harga paling mahal. Kedua cewek ini malah sudah mulai beli-beli properti di kotak-kotak awal setelah putaran pertama (area biru) karena harganya paling murah (maklum cewe. Ga bisa liat barang murah atau diskonan).
“Yak bayarr..” teriak Vani happy, ketika langkah terakhir bidak Momo jatuh di properti Vani di area biru. “Ayo bankir, tarik kartunya” perinta Sasha yang juga ikutan semangat. Agak gugup si bankir Danan mengambil tumpukan kartu “RENT” warna biru dan mengambil kartu dari posisi paling atas. “Puji dan rayulah pemilik properti segombal mungkin dengan minimal 10 kalimat” Danan membaca tulisan yang tertera di kartu tersebut. “Yahh… gitu doang?” kata Vani. Momo hanya cengar-cengir saja. Rayuan Momo bahkan tidak layak untuk ditulis disini karena parah banget jayusnya. Giliran berikutnya adalah Sasha yang dengan semangat melempar dadu. 9 langkah. Dan dengan sukses Sasha mendarat di kotak Chance. Agak deg-degan Sasha menarik satu kartu dari tumpukan kartu chance dan mulai membacanya.
“Ahhh… kok gue sih yang kena” rengek Sasha sambil melempar kartu tersebut ke tengah-tengah papan game. Dengan cepat Momo memungut dan membacanya. “Frech kiss yang hot dengan partnermu selama 30 detik” baca Momo keras-keras. Cengiran lebar menghiasi wajahnya. Tiba-tiba Danan yang biasanya ga banyak omong berkata dengan agak bergetar “Kalo bankir menganggap kurang hot, hukuman wajib diulang”. “Ahh.. lo kok mihak Momo, Dan” runtuk Sasha sambil mendelik ke Danan. Danan langsung bersembunyi di punggung Vani sambil berkata gugup “Em.. emang gitu aturannya mbak”. Momo yang sudah tidak sabar langsung menarik tangan Sasha mendekatinya “Ayo buruan Sha. Harus komit lo” kata Momo penuh aura mesum. “Iya.. iya.. ga usah narek-narek napa” Sasha belagak galak. “Eh, hands off!” teriak Danan tiba-tiba sambil memunculkan kepalanya dari balik punggung Vani ketika melihat tangan Momo berusaha memegang leher Sasha. “Ih, berisik amat lo bankir” si Momo yang sekarang sebel, tapi tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari bibir Sasha yang berkilau ranum.
Momo langsung menyergap bibir Sasha yang baru saja memajukan sedikit kepalanya ke arah Momo. Agak gelagepan karena serangan mendadak ini, Sasha buru-buru balas melumat bibir bawah Momo. Lidah mereka berdua bertaut dan saling berpilin dalam lumatan ciuman yang basah. “mmmm.. mhhhh…ssmmmhhh…” desahan mereka berdua diiringi oleh kecipak basah ludah yang saling bertukaran terdengar jelas karena ketiga pasang mata lainnya hening memandang adegan ciuman tersebut tanpa berkedip. “Ahh.. jago juga ni anak cipokannya” batin Sasha tanpa sadar memuji ciuman ganas Momo. “Aduh.. basah deh.. Sebeelll..” jerit hati Sasha lagi.
“STOP!” teriakan Danan yang tiba-tiba mengagetkan insan-insan muda ini dari aktivitas dan fantasi mesumnya masing-masing. “Udah pas 30 detik nih” kata Danan pelan berusaha mohon maaf atas pandangan tidak terima dari Randy dan Momo, termasuk Sasha dan Vani juga. Sasha masih agak gelisah dan tertunduk dengan pipinya agak bersemu merah ketika Randy (yang sangat tidak terima karena Momo yang dapat aktivitas mengaksyikkan lebih dahulu) memulai putarannya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~
Sampai beberapa putaran kemudian, kartu-kartu yang muncul meliputi: Vani yang harus menari erotis selama 30 detik (menyebabkan Momo melongo dan Danan air liurnya menetes tanpa sadar), Momo yang harus melepas kaosnya (diiringi protes tidak niat dari Vani dan Sasha yang merasa tertipu karena ga ada omongan bahwa ada kartu-kartu yang hukumannya lepas baju. Randy berkelit dengan berkata bahwa dia juga tidak hapal keseluruhan isi kartu. Tapi Randy tidak mengatakan kepada kedua cewek tersebut bahwa masih ada 4 kartu lainnya yang senada), lalu keberuntungan dewa mesum yang kembali berpihak ke Randy karena mendapat “hukuman” untuk menciumi leher dan telinga Vani (yang dinikmati Vani tapi mati-matian tidak diakuinya. Padahal semua orang jelas-jelas melihat Vani memejamkan mata dan mendesah pelan walo sekejap ketika lidah Randy menjilatinya kupingnya). Momo mau membayar berapa saja untuk bertukar posisi dengan Randy untuk “menjilati” leher Vani, karena jujur aja, sejak Vani keluar dari kamar mandi tadi, Momo udah nafsu habis sama ni cewek.
Akan tetapi, dewa mesum menjawab juga doa Momo ketika bidak Vani mendarat di properti Momo di area Merah. Dan karena inilah, Vani dan Sasha baru sadar mengapa area merah harganya paling mahal. “Ayo cepat ambil kartunya” desak Momo tidak sabar kepada Danan. Buru-buru Danan mengambil kartu “RENT” merah dan membacanya “Pemilik properti berhak memegang, membelai dan meremas dada ATAU pantat penyewa properti selama 1 menit”. Tangan Danan sampai agak gemetaran demi membaca hal tersebut. Dia tidak percaya keberuntungan Momo. Protes Vani langsung meledak “Ahhhh… apaan tuh bayarannya” protes si Vani sambil merebut kartu dari Danan dan membacanya sendiri. Pipi Vani langsung bersemu merah. Vani membuang kartu tersebut dan melindungi dadanya dengan kedua tangannya “Ga mau ah gue” ujar Vani sambil cemberut memandang Momo yang senyum mesumnya melebar. “Ayo Van, kan elo udah setuju sama aturan maennya” rayu Momo sambil berusaha lembut menyingkirkan tangan Vani dari dadanya. Vani tetap bersikukuh melindungi dadanya sampai Danan berkata “Kalo gitu BB dan uang Mbak Vani, Danan sita”. “Yahh.. kok elu gitu Dan” melas Vani. Sasha ikut menimpali “Yee tadi aja lo dukung Randy nyipokin gue. Giliran elu, ga mau” balas si Sasha nakal. “Ran, Dan, pegangin aja tangan si Vani” tambah Sasha yang langsung disanggupin oleh Randy dan Danan penuh semangat.
“Udah.. udah.. ga usah dipegangin. Kaya gue maling aja” kata Vani akhirnya menyerah. “Buka kaos lo kalo gitu dong Van” perintah Momo penuh kemenangan. “Eh, ga ada perintahnya untuk buka baju wek” balas Vani sambil memeletkan lidahnya. “Mbak Vani bener Mas Mo” bela Danan yang dibalas dengan lirikan mematikan Momo. “Ya uda, busungin dada lo kalo gitu Van” ujar Momo penuh pengertian. “Napa lo ga milih pantat aja Mo” Vani masih mencoba menawar. “Ga. Gue maunya toket lo. Titik!” tegas Momo berwibawa. Akhirnya, Vani pun pasrah pada nasibnya dan sedikit membusungkan dadanya ke arah Momo. Detik itu juga Momo melihat satu keanehan dari dada Vani. “Eh, kok kayaknya ada yang salah sama toked ni cewek” batin Momo bertanya-tanya sambil menjulurkan kedua tangannya menggapai dada Vani. Jantung Vani berdetak dua kali lebih cepat demi menghadapi sentuhan cowok asing di salah bagian tubuhnya yang sangat privat. Rasanya tidak karuan menunggu detik-detik kedua tangan Momo merengkuh kedua bongkah susunya. “Aduhh.. gue kan ga pake BeHa. Pasti Momo langsung sadar kalo gue ga pake begitu toket gue dipegang” batin Vani panik, dadanya berdebar kencang mengantisipasi kedatangan jemari Momo. Dan benar saja, begitu telapak tangan Momo menyentuh gunungan dada Vani, Momo langsung menyadari apa yang tadi menarik perhatiannya.
“Eh, lo ga pake BeHa Van?” kata Momo berbinar-binar sambil mulai meremas-remas gundukan daging kenyal tersebut. “Uh-uh..” cuma itu suara yang keluar dari bibir sensual Vani. “Yang bener Mom?” tanya Randy tercekat tidak percaya. “Nih” kata Momo sambil kedua pasang jemari tangannya membentuk hurup C besar memegang toket Vani di pangkalnya dan menarik kain kaos mengencang. Sehingga toket Vani menjeplak jelas di kaosnya menunjukkan kedua putingnya yang tanpa pelindung. Mata Randy dan Danan nyaris meloncat keluar melihat siliuet keindahan toket bulat besar dengan puting menjeplak jelas. “Ahhh… apaan sih.. Buruan deh” rengek Vani tengsin ketahuan tidak pake beha. Momo tentu saja tidak menyia-nyiakan sedetik pun lagi untuk menikmati kelembutan dan kekenyalan toket cewek bahenol ini karena waktu terus berputar. Momo juga baru sadar kalo toket Vani sangat besar, karena dari tadi terkubur dibalik tshirt gombrangnya. “Buset Van, besar amat toket lo. Bener-bener toge neh” puji Momo sambil menelan ludah berkali-kali. Jemari Momo dengan buasnya berputar-putar dan meremas-remas penuh nafsu gundukan daging Vani tersebut. Diselingi dengan pijitan dan pilinan di kedua putingnya. “Auuh… jangan keras-keras Mo” kata Vani pelan setengah mengerang. Tapi suara erangan Vani malah semakin memicu nafsu birahi Momo dan akibatnya serangan jemari Momo semakin brutal. Vani sampai harus menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.
Vani menggigit bibirnya agar erangan dan desahannya tidak sampai keluar. Remasan kasar di sekujur toked dan putingnya memberikan rangsangan yang menyenangkan bagi tubuhnya. Tapi sesekali erangan dan desahan tanpa terkendali keluar dari sela-sela bibirnya yang penuh. “Aduhh.. sialan banget nih toket. Kok jadi keenakan gue diremas-remas gini” rutuk batin Vani yang berperang antara gengsi dan kenikmatan birahi. Vani semakin blingsatan menahan konaknya karena jemari Momo tidak hanya meremas-remas bongkahan susunya, tapi juga dengan ahlinya memilin-milin puting susunya. “Sshhh… Mom… kan cuma remes-remes aturannya… ohh..” desis Vani tidak berdaya.
Kontol Randy dan Danan makin ngaceng melihat adegan tersebut. Sampai Vani tiba-tiba berkata “Ehhh.. udah berapa menit nih Dan”. Kaget, buru-buru Danan melihat stopwatch di HP-nya. “Eh, oh.. udah.. udah abis waktunya” kata danan panik. Vani buru-buru mendorong Momo menjauh. “Udahan tau.. Kesenengan lo ya” maki Vani sambil memonyongkan bibirnya. “Pasti lebihnya banyak tuh” selidik Vani tajam ke Danan. “Ng… nggak kok… cuma beberapa detik” gagap Danan sambil cepat-cepat mereset waktu di stopwatch-nya yang sebelumnya menunjukkan 1 menit 43 detik.
Aura birahi di kamar Sasha menjadi semakin kental setelah adegan Momo vs Vani barusan. Ditambah lagi Sasha dengan erotisnya membelai paha Vani sambil berkata “Lo pasti sekarang horny kan Hottie”. “Enak aja!” tukas Vani pendek berusaha keliatan tidak terpengaruh oleh remasan-remasan Momo. Tapi semua bisa melihat bahwa Vani bohong, karena sekarang dengan jelas putingnya terlihat mengacung dari balik kaosnya. Sasha hanya tersenyum nakal melihat toket Vani yang lebih jujur menunjukkan apa yang sedang terjadi di dalam tubuh Vani. “Ayo ah, lanjut lagi” Vani berusaha mengalihkan perhatian mereka dari dirinya. Setelah gerakan-gerakan gelisah Randy, Momo dan Danan untuk diam-diam memperbaiki posisi penis masing-masing yang menggeliat membesar butuh ruang yang lebih lapang, permainan berlanjut lagi.
Setiap dadu dilempar, keempat pesertanya menahan nafas dan deg-degan. Randy dan Momo deg-degan karena mereka sadar tumpukan kartu semakin tipis dan mereka sudah menguasai hampir semua properti di area merah dan hijau, yang menandakan hukuman-hukuman yang lebih “menyenangkan” semakin besar kemungkinan keluarnya. Terutama mereka berharap agar kedua cewek tersebut masuk ke properti mereka karena “bayarannya” yang lebih menggiurkan. Sedangkan Vani dan Sasha harap-harap cemas “hukuman” macam apa yang akan keluar lagi. Cemas kalau seintim acara remas-meremas lagi, bisa-bisa jebol pertahanan mereka dan malah minta nambah. Gengsi dong. Apalagi Vani, karena sejak toket-nya mendapat serangan “brutal” dari Momo, bibir bawahnya mulai berkedut-kedut gatal minta disentuh juga. Kedua cewek tersebut setengah berharap bahwa seiring lamanya permainan, level horny mereka bisa turun. Tapi, harapan tinggal harapan, karena begitu tiba giliran Sasha, bidaknya dengan sukses masuk ke kotak Chance!
“Aaaaa… kok gue kena chance lagi..” rengek Sasha. Walaupun begitu Sasha tetap mengambil satu kartu Chance dan membacanya. “Tuuhh kan.. kena lagi gue” rengekan Sasha berlanjut sambil menunjukkan kartunya ke Vani. “Lepaskan bajumu. Tapi, bila sebelumnya sudah lepas baju, maka lepaskan bawahanmu” baca Vani. Langsung sorak-sorak team cowok untuk menyemangati Sasha terdengar “Buka bajunya.. Buka bajunya.. Buka baju..”. “Ya.. ya.. gue buka.. gue buka” potong Sasha merajuk. “Hu-uh, ga sabar amat sih” omel Sasha sambil mulai mengangkat t-shirt-nya melewati kepalanya. Gerakan Sasha membuka baju betul-betul erotis. Apalagi setelah kaosnya terbuka semua. Tubuh bagian atas Sasha hanya ditutupi bra hitamnya yang kontras dengan kulit putihnya. Setengah gundukan toket putih 34B Sasha terlihat mengundang untuk dijamah.
Jengah oleh pandangan mesum Randy dan Momo (Danan pura-pura sibuk menata kartu. Mukanya merah banget), Sasha reflek menutupi dadanya. “Apaan sih ngliatinnya sampe kaya gitu” Sasha berlagak sebel. “Hehehe.. malah lo harusnya bangga Sha. Itu artinya body lo bagus, sampe-sampe kita terkagum-kagum” kata Randy mesum sambil masih berusaha mengintip ke dada Sasha yang berusaha dilindungi oleh kedua tangannya. “Ayolah Sha, ngapain ditutup-tutupi segala. Itung-itung amal” tambah Momo. “Iihh.. maunya kalian” cibir Sasha. “Ayo ah, lanjutin” tambah Sasha. Sambil masih terkekeh-kekeh dan melirik-lirik mesum Randy memulai putarannya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Setelah itu “hukuman” dan “bayaran” semakin sadis saja. Momo tinggal make celana boxer doang, sehingga kontolnya yang ngaceng berat terlihat jelas mengacung seperti tiang bendera. Randy memang masih celana pendeknya, tapi sudah dapat kesempatan mencium dan menjilati lengan Vani sampai ke lehernya. Dan sempet-sempetnya mencoba meremas toket Vani, tapi dengan sukses dicegah oleh Danan. Randy bete abis atas sikap bankirnya yang memegang teguh job descpnya, sedangkan raut muka Vani bete tapi tidak jelas karena Randy coba-coba ngambil kesempatan grepe-grepe atau karena usaha Randy tersebut dicegah oleh Danan. Vani pun sekarang tinggal make t-shirt dan celana dalam saja (mini underwear garis-garis putih dan merah) karena kena hukuman lepas celana. Tapi yang paling parah adalah Sasha. Memang tidak kena hukuman yang harus kontak fisik dengan Randy ataupun Momo lagi, tapi sekarang dia cuma ditutupi selembar celana dalam hitam saja. Sehingga tangannya kebingungan mau menutupi bagian tubuh yang mana.
“Seepp.. bayar Vann..” teriak Randy bahagia begitu bidak Vani mendarat di propertinya. Danan dengan cepat mengambil kartu “RENT” dari tumpukan warna merah. Begitu membaca kartu tersebut, mata Danan membeliak dan mulutnya menganga. Anak-anak yang lain jadi ga sabar karena Danan gagap baca kartu tersebut. Karena ga sabar, Randy merebut kartu dari tangan Danan dan membacanya. Seringai mesum langsung muncul di wajahnya. Tanpa berkata-kata Randy memberikan kartu tersebut ke Vani. “Waaaa… gila looo…” pekik Vani sambil melempar kartu tersebut. Isi kartu tersebut adalah “Bila pemilik properti adalah cewek, maka penyewa memberikan oral selama 2 menit. Bila pemilik properti adalah cowok, maka penyewa memberikan tits-job selama 2 menit”. Terkekeh senang, Randy mulai melepas celana pendeknya. Sedangkan Vani langsung beringsut mundur sampe menempel ke dinding.
“Van, lo ga fair amat sih. Giliran gue aja, lo manas-manasin si Randy dan Momo” omel si Sasha tapi sambil cengar-cengir. “Lo bukannya nolongin malah bela Randy” Vani manyun diserang oleh Sasha. Dengan semangat membela kemesuman, Momo dan Danan mendekati Vani dari kedua sisi dan menarik Vani mendekati area permainan. Mendekati Randy yang sudah duduk di tepi ranjang Sasha dan sudah memelorotkan celana dalamnya sehingga kontolnya yang tegak mengacung mengangguk-ngangguk seolah memanggil-manggil Vani. “Aaa.. Aaa… Aaa… Ga mau ahh.. Apaan sih kalian” Vani merengek-rengek ketika ditarik oleh Momo dan Danan berlagak ga mau memenuhi “kewajibannya”. Akan tetapi, sebenarnya tidak susah-susah amat menarik Vani untuk mendekati Randy.
Akhirnya Vani bersimpuh di hadapan kontol eh Randy. Tapi masih memalingkan mukanya yang memerah dari Randy. “Ayo Van, cepat dimulai” kata Randy sambil membungkuk dan menjulurkan tangannya untuk mengangkat t-shirt Vani. “Ehh.. kan ga ada tertulis di kartu gue harus buka baju segala” sergah Vani cepat sambil menahan t-shirt-nya agar tidak terangkat. “Gimana caranya lo mo ngasih tits fuck kalo kaos lo ngalangin” balas Randy agak geli. “Udahlah Van. Cuma 2 menit ini. Lagian lo juga demen hihi” Sasha ikut nimbrung. “Aah.. apaan sih lu Sha” rajuk Vani, tapi melonggarkan pegangan pada ujung t-shirtnya. Akibatnya dengan mudahnya Randy mengangkat t-shirt Vani dan mengungkap gunungan daging putih di baliknya. Randy, Momo dan Danan langsung terkesiap dan menahan nafas selama beberapa saat demi melihat pemandangan indah yang sejak tadi sudah mereka nanti-nantikan: toket massive Vani.
Tanpa sadar tangan Randy bergerak berusaha menjamah toket Vani. PLAK! Dengan sukses digampar oleh Vani kedua tangan jahil tersebut. “Ga usah pegang-pegang!” kata Vani galak sembil melotot ke Randy. “Udah lo duduk manis aja, yang penting lo dapat boobs job dari gue” tambah Vani. “Danan, mulai stopwatch-nya” kata Vani lagi tanpa menoleh ke Danan. Danan membuka pahanya dan sedikit bersandar ke belakang di tahan oleh kedua tangannya, membuat dirinya senyaman mungkin sebelum 2 menit kenikmatan yang menjelang. Dibiarkannya Vani menempatkan tubuhnya di tengah-tengah pahanya, dan menikmati setiap detik mulai bagaimana kedua tangan Vani memegang kedua bongkah susunya, lalu menjepit kontol Randy yang tegak berdiri. “Ohh. Ssshhhhhh..” desis Randy tidak tertahankan begitu merasakan himpitan hangat toket Vani pada kontolnya. Vani pun mulai menggerakkan kedua toketnya naik turun mengocok kontol Randy. Gerakan kocokannya bervariasi: mulai kocokan di sepanjang batang kontol, kadang diselingi gerakan menggiling pal-kon selama beberapa detik yang membuat Randy menggelinjang dan mengangkat-ngangkat pantatnya saking nikmatnya. “Hohh.. Hmmpphhh.. Gilaaa.. Enak banget toket lo Vann..” desah Randy keenakan.
Birahi Randy semakin menggila, apalagi melihat pemandangan toket besar yang diremas-remas pemiliknya agar bisa menghimpit dan mengocok kontol Randy dengan maksimal. Randy tidak sadar bahwa Vani mulai menikmati perannya. “Mmmppff.. panas banget ni kontol di toket gue.. bikin tambah horny aja” batin si lonte mulai berperang. Akhirnya, Randy tidak tahan lagi untuk berperilaku anak baik. Kedua tangan Randy tiba-tiba meraup bongkahan melon putih Vani, lalu meremas dan menghimpitkannya lebih rapat lagi ke kontolnya. “Aehh…” pekik Vani kaget. “Ngapain sih lo Raaagghhhh…” kata-kata Vani terpotong erangannya ketika jemari Randy dengan ahlinya menarik dan memilin putingnya yang sensitif. Tanpa memperdulikan protes Vani, Randy semakin semangat meremas-remas toket Vani sambil berusaha mengocokkan kontolnya. Terdorong oleh bobot Randy, badan Vani jadi terlentang di karpet dan Randy mengangkang di atas Vani.
“Ahh.. Randy nakal” rengek Vani tanpa bisa berbuat apa-apa. Dengan buasnya Randy memaju-mundurkan pantatnya, mengocokkan kontolnya di sela-sela toket Vani yang dicengkram kuat oleh kelima jarinya. “Ajrit.. hohh..hoooh.. enak banget Van… tangan gue ga cukup.. ga cukup megang toket lo.. haahh.. hahh..” nafas Randy ngos-ngosan akibat desakan birahinya yang makin menggelora.
SLEP SLEP SLEP.. suara gesekan kontol Randy dan toket Vani ditingkahi ceracau kenikmatan Randy, menutupi suara desah dan erang tertahan Vani yang sesekali keluar dari sela-sela bibir sensualnya. Remasan dan rangsangan brutal di kedua toketnya yang untuk kedua kalinya ini ternyata mulai menjebol pertahanan Vani. “Ah.. ahh.. kok gue malah makin horny siihh… Aduhh.. mana memek ga mau diajak kerja sama, malah jadi makin gatel.. Huhuhu gue pengen dientot” runtuk Vani dalam hati. Maka, adegan yang tampaknya seperti Randy yang “memperkosa” toket Vani, sebenarnya kedua insan ini sama-sama menikmatinya.
Ketika Randy semakin mempercepat kocokannya karena rasa gatal yang menggelitik dan menggila semakin terasa di palkonnya. Rasa gatal yang menuntut untuk digesek terus menerus, Vani juga merasakan rasa gatal yang sama menggila di setiap centi bibir-bibir memeknya yang mulai basah, membuat CD-nya agak menjeplak. Andai saja Randy dapat bertahan semenit lagi saja, maka akan terjadi double orgasm di ruangan tersebut (bayangin lo punya cewe yang dirangsang toketnya saja bisa keluar). Tapi, apa daya.. Kontol Randy tidak bisa lagi menahan dorongan kuat dari pelirnya yang mendesakkan aliran tekanan kenikmatan yang tak tertahanka. Dan akhirnya.. CROTT.. CROTT.. CROTTT… “Hoouuhhhhhh…. Haaaahhhhhh… “ Randy melenguh, badannya mengejang dan kesepuluh jarinya mencengkeram kuat-kuat kedua melon putih Vani ketika dia mencapai orgasmenya.. “Aihhh..” pekik Vani kaget nyaris berbarengan dengan Randy, ketika semprotan cairan kental sperma Randy mencapai wajahnya.
“Hoh.. hoh.. hmmmm… Enak banget..” kata Randy di sela-sela nafas memburunya setelah pacuan orgasme yang baru saja lewat. Pelan-pelan Randy bangkit dari atas tubuh Vani dan duduk bersandar di tempat tidur sambil memejamkan matanya, menenangkan nafasnya yang agak tersengal-sengal, Vani juga bangkit dari karpet. Lelehan peju Randy memenuhi toketnya, dan ada sedikit di pipinya. “Iihh… Randy sebel deh” kata Vani merungut-rungut “Jadi belepotan deh”. Tanpa berusaha menurunkan t-shirtnya kembali, Vani menoleh ke Sasha dan berkata “Shaa.. gue minta tissue. Dan pinjem kamar mandi lo”. “Eh Van… gue dulu yang make” kata Sasha tiba-tiba sambil berlari masuk ke kamar mandi. “Udah kebelet pipis nihhh.. Lo di kamar Danan aja sana gihhh” jerit Sasha dari dalam kamar mandi. “Yaa.. bokis lo Sha” kata Vani sebel. “Danan, pinjem kamar mandi lo” perintah Vani. “Eh.. oh.. iya.. iya mbak. Saya bukain kuncinya dulu” kata Danan gelagepan sambil melirik-lirik toket Vani. Tapi pemandangan itu segera hilang, karena sambil berjalan keluar menyusul Danan, Vani menurunkan t-shirtnya.
“Anjeng.. bangsatt…” tereak Momo sambil menabok kepala Randy yang masih setengah merem bersandar di tempat tidur Sasha, sepeninggal Vani dan Danan. “Adow.. napa babi? Nabok-nabok sembarangan” misuh-misuh si Randy. “Enak bener lo bisa ngentotin toket-nya Vani” balas Momo masih galak sambil nonjok-nonjokin bahu Randy. “Tadi gue liat stopwatch-nya Danan udah sampe 4 menit tuh. Tapi tu anak malah melongo sampe ilernya kemana-mana, ga juga dimati-matiin” cerocos Momo. “Maho kali lo ya Mo, kalo udah dapet kesempatan kaya tadi disia-siain.. Mana mungkinlah..” kata Randy membela diri. “Was.. wess.. woss. Terserahlah. Sekarang gue mau tao, masih ada kartu buat boobs job ga?” tanya Momo. “Eh, seingat gue cuma atu Mo” jawab Randy pelan. “Wadd..!!?? Ga asyik ah! Pasti tadi lo udah ngatur biar bisa lo yang dapet tuh kartu” tuduh Momo kejam. Rentetan omelan Momo sudah akan meluncur lagi ketika Sasha keluar dari kamar mandi sambil satu tangannya tetap melindungi toketnya. “Lah, mana Vani ama Danan” tanya Sasha polos. “Lah? Pan lo yang nyuruh si Vani pake kamar mandinya Danan?” jawab Momo. “Oh iya ya” kata Sasha bego. “Ayo, maen lage” kata Momo. “Kelamaan nunggu Vani balik. Kan nanti pas dia balik pas gilirannya”. “Iya.. iya.. Tapi Ran, lo pake celana dulu napa? Ga asoy banget ngeliatin kontie yang nyusut gitu” samber Sasha. Dengan agak males-malesan Randy memakai celananya, melewatkan CDnya yang tergeletak agak jauh di ujung ranjang.
Giliran Momo dengan cepat berlalu tanpa ada kejadian mesum apapun. Diiringi desah kecewa, Momo menyerahkan dadu ke Sasha. Momo setengah berdoa agar Sasha cuma dapat angka 4 atau 5 sehingga jatuh di wilayahnya. Tapi malang tak dapat ditolak, angka double 6 yang keluar, sehingga bidak Sasha bablas sampai ke titik start. “Giliran gue ya.. bwuhh!” Randy menyembur dadunya sebelum melemparkannya. “Atu, dua, tiga, empat, lima, enam!” Randy menghitung langkah bidaknya. Dengan sukses mendarat di property Sasha. “Hahahaha.. skarang lo yang harus bayar ke gue” tereak Sasha happy. “Mm.. apa nih bacaannya” komat-kamit Sasha sambil membalik kartu RENT warna kuning yang baru diambilnya. “Penyewa harus memberikan kepuasan kepada pemilik property dengan dildo atau vagina-toy selama 3 menit”. “Loh? Ini hukumannya buat gue apa elu sih? Kaco neh” omel Sasha. “Lah, kan elu yang dapat puasnya Sha. Berarti emang gue harus bayarnya dengan muasin elu” seringai mesum Randy muncul lagi. Sasha hanya melongo. “Hoee.. apa-apaan neh. Kok lage-lage elo yang dapat enaknya?” protes Momo sewot. Tidak memperdulikan Momo, Randy sibuk ngubek-ngubek tas yang selama ini ngejogrok tidak menarik perhatian di pojok kamar.
“Nah ini dia” kata Randy senang sambil mengangkat keluar sebatang dildo warna pink berukuran sedang dari dalam tas. “Kyaa.. lo serius Rand?” teriak Sasha sedikit agak keras karena kaget melihat persiapan Randy. “Ayo.. buka paha lo neng” kata Randy mesum sambil merangkak mendekati Sasha. Dildo sepanjang 15 cm dan diameter 3,5 cm terlihat agak mengancam sehingga reflek Sasha merapatkan pahanya, sambil tetap menutupi toketnya yang polos. “Mo, bukain paha Sasha dong” pinta Randy sambili menoleh ke Momo. Tidak perlu diminta dua kali, dengan semangat Momo beringsut mendekati Sasha. “eh.. eh.. ga usah.. ga usah. Ga perlu Momo ikut-ikutan” Sasha akhirnya bekerja sama juga. “Tapi ga perlu buka CD bisa juga kan?” Sasha tetap menawar agak memelas. “Ya boleh aja” kata Randy sok tidak butuh, “Tapi gue eksekusinya dari belakang elu ya” tambah Randy. “Hah? Gimana? Ga ngarti gue” sahut Sasha agak bingung. “Udah, lo ngikut aja” jawab Randy sambil bergerak dan duduk di belakang Sasha.
“Buka paha lo Sha” bisik Randy di telinga Sasha, membuat Sasha sedikit menggelinjang karena hembusan nafas hangat Randy membelai lehernya. Karena Sasha masih sungkan-sungkan membuka pahanya, tangan Reno dari balik punggung Sasha bergerak membuka paha Sasha. Akibatnya Sasha terpaksa menyandarkan punggungnya di dada Randy dan membuka pahanya. Detak jantung Sasha mulai berpacu lebih cepat. Takut, malu dan sekaligus mengharap membuat rona merah di pipi Sasha semakin terlihat.
Randy mulai menggesek-gesekkan ujung dildo ke belahan memek Sasha yang masih tertutup underwear mini warna hitamnya. Tubuh Sasha menegang begitu bibir memeknya menerima tekanan dan gesekan dari benda tumpul tersebut. Setelah beberapa saat adegan pemanasan yang menegangkan tersebut, Sasha tiba-tiba teringat sesuatu. “Mo, cek stopwatch-nya dong” kata Sasha berusaha mengeluarkan suara yang tenang, tapi malah suaranya agak tercekat dan serak. “Lo mulai horny kan Sha.. Udah nikmatin aja” bisik Randy lagi sambil menggigit-gigit kecil kuping Sasha. “Shhhh… emmhhh.. ga boleh gigit-gigit Rand…” desah Sasha pelan masih berusaha terlihat kuat tidak tergoda, tapi pinggulnya mulai bergerak-gerak seirama gesekan dildo.
Tanpa disadari Sasha yang birahinya mulai naik, jemari tangan kiri Randy mulai menyibakkan kain CD Sasha kesamping, sehingga memek Sasha yang mulus karena jembinya diwax tampil ke permukaan. Momo sudah memposisikan duduk tepat di seberang Sasha, menelan ludah berkali-kali ketika melihat pemandangan indah gundukan memek dari sebaris tipis belahan merah kecoklatan di tengahnya. Pelan-pelan Randy menekankan ujung dildo membelah memek Sasha yang sudah agak mengkilap basah. “SLEEPP…” suara pelan benda tumpul yang membelah himpitan rapat dinding-dinding basah memek Sasha terdengar, disusul oleh lenguhan Sasha yang kaget karena disusupi benda asing. “Ouhhhh…” lenguh Sasha yang matanya langsung terbuka lebar. “Uhh.. bilang-bilang dong kalo mo masukin..hmmmppff..” rengek Sasha sambil memukul paha Randy pelan.
Rengekan Sasha tidak berlanjut lebih lama lagi, karena Randy mulai mengocokkan dildo tersebut. Ditariknya perlahan-lahan dildo keluar dari memek Sasha, lalu menekannya lagi amblas ke dalam sampai cuma sisa 2 cm untuk dipegang saja. Sasha menggeliat gelisah, karena nikmat birahi semakin menggelora di sekitar selangkangannya. Tangannya kini tanpa sadar tidak melindungi toketnya lagi. Sibuk meremas paha Randy. Sehingga toketnya yang bundar mancung berukuran 34B terlihat jelas, tegak menantang. Aerolanya yang pink kecoklatan melebar dan putingnya yang ereksi penuh menandakan Sasha sudah horny habis. “Uhh.uhh.. uhh.. ssshhhh…” desah Sasha seirama kocokan dildo di memeknya yang basah kuyup. Birahi Sasha semakin tidak tertahankan karena kini tangan kiri Randy meremas-remas toketnya dengan brutalnya. Ditekan dengan telapak tangan, lalu diremas kuat-kuat dan akhirnya diperas-peras seperti hendak mengeluarkan susunya. “Ouuhhh.. anjeenggg… Gue ga tahan lagi.. Gatel bange memek gueeee.. Bodo ah, yang penting gue puasin dulu ni memek” kata Sasha dalam hati yang akhirnya menyerah oleh godaan birahi dan dildo yang menyesaki liang kawinnya. “Nggaahhhh.. lo.. lo aphain toket gue Rannn… Kan ga bol.. Hoohhh..” ceracau Sasha diselingi desahan erotisnya malah membuat Randy semakin buas.
Suara berkecipakan basah dari dildo yang keluar-masuk dengan cepat di memek Sasha menjadi soundtrack yang melengkapi pemandangan bokep live show di depan Momo. Sasha yang duduk mengangkang, dikocok dildo yang menjadi mengkilap basah oleh cairan memek, dan geliat sexy tubuh Sasha mendapat ransangan dari dildo di memeknya dan remasan-remasan tanpa ampun pada toketnya, membuat konak Randy dan Momo semakin tidak tertahankan. Bahkan Momo sudah mendesah-desah sendiri sambil mulai mengocok kontolnya perlahan, betul-betul melupakan tanggung jawabnya untuk menghitung waktu.
“Enak nggak Sha dildonya” bisik Randy disela-sela gigitan-gigitan kecil di leher dan telinga Sasha. “Hmmmppfff… ssshhhhh..oohh.. Yahh.. ennhhakk Ran…ennakk… ahhh..” erang Sasha yang sedang berada di langit ketujuh. “Cep.. cepetin ngocoknya Ran.. gue ampir nihh… hhhhhhmmmm…”.
Tidak perlu diminta dua kali, Randy mempercepat RPM kocokan di memek Sasha, membuat gelinjang tubuh Sasha semakin liar. “Gillaa.. gilla… memek gue makin gatel aja.. Aduhh gue ga kuat lagi..” batin Sasha ikut-ikutan meceracau liar. 30 detik kemudian….
“Ngggaahhhhhhh…… Ouuhhhhhhh…. Gilllaaaaaaa… “ lenguh panjang Sasha yang erotis dan tubuhnya yang mengejang-ngejang sampai punggungnya agak melengkung menjadi tanda betapa dahsyatnya ledakan orgasme yang terjadi. “Houhhh.. ouhhhh…. Hmmppffff.. sshhh…” desah nafas Sasha melepaskan setiap titik nafsunya.
Sesudah badai orgasme yang berlangsung selama sekian detik yang menghanyutkan, tubuh Sasha bersandar lemas di dada Randy. Matanya terpejam, deru nafas memburu masih terdengar dari sela-sela bibir Sasha. Randy membiarkan saja dildonya di dalam memek Sasha. Tapi, kecupan-kecupan di sekujur pundak Sasha, dibarengi belaian-belaian dan remasan-remasan lembut pada gundukan daging berwarna putih di dada Sasha tetap berlanjut. Sasha menikmati setiap detik perlakuan Randy tersebut, sehingga tidak sadar bagaimana mini CD-nya mulai dilucuti oleh Momo.
Momo menelan ludahnya kembali begitu melihat selangkangan Sasha yang polos tidak lagi terlindungi oleh CD-nya. Memek putih dengan hanya sepetak jembi di bagian atasnya, terlihat menggunung dan mesum karena sebatang dildo mencuat di tengah-tengahnya. Tanpa meminta ijin Sasha, Momo mencabut keluar dildo tersebut dalam sekali tarik.
“Aihhhhh..!” pekik Sasha kaget sampai matanya terbeliak karena rasa mengganjal di memeknya tiba-tiba hilang diiringi gesekan di sekujur dinding memeknya. “Mau ngapain lo?” pekik Sasha lagi karena kini doi melihat Momo sudah bugil di depannya dengan kontol hitam berurat yang mengacung tegak siap tempur. “Hehehe.. Sekarang giliran gue bayar Rent Sha. Gue bayar kontan!” kata Momo terkekeh mesum, seraya bergerak membuka paha Sasha lebar-lebar dan menempatkan tubuhnya di tengah-tangahnya.
“Ahh.. Momo.. Gue ga mau…” rengek Sasha sambil berusaha bangun untuk mendorong pergi tubuh Momo. Namun dengan sigap Randy menahan tubuh Sasha agar tetap setengah terbaring, bersandar di dadanya. “Sudahlah Sha, ga mungkin lo udah puas sama dildo kecil kaya gitu” kata Momo dengan nafas yang memburu sambil kedua jempolnya merekahkan bibir tembem memek Sasha untuk memberi jalan bagi kontolnya. “Biar gue tunjukin enaknya kontol sejati” tambah Momo sambil melesakkan kontol hitamnya ke himpitan lubang merah muda Sasha.
“Houuuuuhhh.. “ lenguh Sasha tidak tertahankan ketika dinding-dinding memeknya tiba-tiba disesaki benda asing yang lebih tebal daripada yang sebelumnya. Mata Sasha membeliak nanar menatap tidak fokus pada cowok di depannya sambil mengigigit bibir bawahnya. Raut mukanya sedikit banyak menunjukkan apa yang sedang berkecamuk di otaknya, dan di memeknya tentu saja. “Anjrittt.. tebel amat kontol si Momo. Penuh banget rasanya memek gue” maki Sasha dalam hati. Menimbang pilihan-pilihan yang tersedia saat itu, akhirnya detik berikutnya Sasha mengambil keputusan yang paling masuk akal. Sasha membuka pahanya lebih lebar lagi, dan bersiap menikmati pertempuran sex yang menjelang. Bring it on, boys!
Pinggul Momo mulai bergerak maju mundur secara sistematis, menghantam selangkangan Sasha berkali-kali dengan penuh dedikasi. Setiap bagian dinding memek Sasha menjerit bahagia menerima gesekan kontol hitam berurat, sehingga cairan cinta pelumasnya membanjir menimbulkan bunyi berkecipakan becek. “Oooohhh… ohhh… Iya behnerr gitu Mo.. teruss Mo.. aaahhhh…” desah Sasha yang tubuhnya menggelinjang binal, hanya tertahankan oleh dekapan Randy yang tetap sibuk menggarap kedua toket 34B-nya.
Tidak sampai 5 menit sejak gempuran kontol Momo, Sasha mulai merasakan lagi sensasi gatal yang semakin menggila mengumpul di bibir-bibir memeknya. Tapi, ketika rasa birahi itu sudah hampir sampai di puncaknya…. “Mo, stop dulu. Pindah ke ranjang aja, gue juga pengen ngentotin Sasha” kata Randy tiba-tiba. “Eh.. oh.. sel.. selesein dulu dong..” rajuk Sasha. Tapi, Momo sudah mencabut kontolnya, dan mereka berdua membopong Sasha ke atas ranjang.
“Mo, giliran gue make memeknya ya” pinta Randy yang langsung di-acc oleh Momo. “Nungging Sha” perintah Momo yang menempatkan dirinya di depan Sasha. Sasha betul-betul nervous karena ini adalah pengalaman pertamanya three-some. Well, like once a wiseman said, there will always a first time for everything. Sasha tidak bisa ragu-ragu lebih lama lagi, karena Momo sudah mendorong kontolnya untuk masuk ke mulut mungil Sasha. “Ohumm..” Sasha agak gelagepan ketika mencoba mengulum kontol Momo yang tebal. Tapi itu hanya untuk sesaat. Dengan lihainya Sasha melumat-lumat palkon Momo, lidahnya dengan binal menjilati lubang kontol dan diselingi sedotan agak kencang yang membuat Momo melenguh keenakan. Momo menjambak rambut Sasha dan mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, ngentotin mulut Sasha dengan buasnya.
Sedang asyik-asyiknya menyepong kontol Momo, tiba-tiba Sasha dikagetkan lagi oleh penetrasi kontol Randy dari belakang. “Ngouhh..” lenguh Sasha tidak jelas karena mulutnya penuh oleh kontol Momo. “Ssshhh… mantep banget emang memek lo Sha. Masih rapet aja” puji Randy sambil memulai gerakan menyodok-nyodok yang mantap. Sasha jadi susah berkosentrasi untuk menservis kontol Momo, karena kocokan kontol Randy membuat gatal di memeknya menggila lagi. Kini Sasha hanya membiarkan mulutnya terbuka dan dikentot oleh Momo karena pikirannya tercurah pada betapa nikmatnya gesekan kontol Randy pada dinding-dinding memeknya. Pacuan nafsu ketiga insan muda ini memasuki babak yang panas membara. Sementara itu, bagaimana kabar Vani? Kenapa dia belum balik juga ke kamar Sasha? Mari kita cari tau. Yuukk.
Mari mundur beberapa menit yang lalu ketika Vani keluar dari kamar Sasha, membuntuti Danan menuju kamarnya untuk pinjam kamar mandi.
Di luar kamar Sasha, suasana kos-kosan lenggang, karena memang hujan masih tercurah dengan derasnya. Suaranya menderu-deru lebih keras di luar sini. Adem kaya gini, emang lebih enak buat ngelungker tidur, atau ngentot hehehe. Makanya Vani cuek aja hanya memakai t-shirt gombrang tanpa celana pendeknya lagi, lari-lari kecil ke kamar Danan yang letaknya tepat di sebelah kamar Sasha. Toh, tshirtnya menutupi seperempat pahanya.

Danan dengan gugup mencoba membuka kunci kamarnya, namun tidak berhasil-berhasil membuat Vani semakin jadi tidak sabar. Rasa lengket-lengket di dadanya ingin cepat-cepat dibasuhnya. Apalagi kini peju Randy menciptakan pulau-pulau di tshirtnya. Karena tidak sabar, Vani mencoba membantu Danan membuka kunci pintunya. Vani tidak sadar bahwa upayanya itu malah membuat toketnya menempel pada punggung Danan. Nyaris tersedak bahagia, Danan menjatuhkan kuncinya. “Ahhh… rempong amat sehh” kata Vani sebel sambil mengambil kunci di lantai tanpa rasa bersalah. Dengan mudah Vani membuka kunci pintu kamar Danan dan membuka pintunya.

Tanpa babibu lagi Vani langsung masuk ke kamar mandi Danan yang letaknya dipojok kiri kamar. Di dalam kamar mandi, Vani langsung membuka t-shirtnya dan langsung menyiram tubuhnya dengan air dari shower. Dibersihkannya sisa-sisa peju dari toketnya. “Ah.. segar.. “ kata Vani dalam hati sambil masih mengusap-ngusap gundukan mancung toket 36C-nya. Tanpa sadar usapan-usapan itu berubah menjadi remasan-remasan yang erotis. “Ssshh… kok horny gue belum ilang ya. Kupret juga si Randy.. hmmmppffff..” batin Vani, yang kini jemarinya memilin-milin putingnya yang makin tegak dan keras. Birahi Vani muncul kembali karena nafsu birahi tersebut sudah menumpuk sejak dimulainya game sexopoly, dan semakin menumpuk seiring “hukuman-hukuman” erotis yang diterima dan dilihatnya. Seolah-olah game Sexopoly tersebut berlaku seperti foreplay selama 1 jam (bayangkan rasanya sodara-sodara!). Hal yang sama terjadi pada setiap peserta game itu tadi. Kini nafsu tersebut semakin membesar dan menuntut pemuasannya. 

“Ah.. basah deh CD gue” tiba-tiba Vani tersadar dia lupa melepas CD-nya. Vani pun membungkukkan tubuhnya sambil mengangkat satu kaki untuk meloloska CD-nya. Ada satu hal lagi yang Vani lupakan. Dan lupa yang satu ini lebih besar implikasinya.

Vani lupa mengunci pintu kamar mandi! Sepasang mata yang membeliak penuh nafsu telah mengamati setiap gerakan remas-meremas Vani. Ketakutannya terlalu besar untuk mengambil langkah apa yang lelaki sejati eh mesum harus lakukan ketika melihat cewek ngremes-ngremes toketnya sendiri. Tapi, cowok polos pun ada batasnya. Batasnya adalah gerakan membungkuk Vani untuk melepas CD-nya. Dalam sekali gerakan yang luar biasa, Danan melepas semua pakaiannya, berdiri bugil, lalu membuka pintu kamar mandi lebar-lebar dan melangkah penuh nafsu menggelora menghampiri tubuh polos Vani di bawah shower.

“Aiiihhhh….” Vani terpekik kaget ketika 2 tangan tiba-tiba mendekapnya dari belakang dan langsung meremas-remas bongkahan pepaya bangkoknya. Vani langsung tahu itu adalah Danan. “Danan! Ngapain sih lo!” teriak Vani lagi. Danan yang sudah kesetanan malah semakin erat memeluk Vani dan semakin gencar meremas-remas toket Vani. “Mbak.. mbak.. lo sexy banget.. Gue pengen ngentotin lo mbak Van..” suara Danan yang penuh nafsu parau menjawab pertanyaan Vani. Bahkan kini Danan mencoba menyodok-nyodokkan kontolnya ke pantat Vani.

“Ahh.. ahh… Danan.. Dan…. Jangan disitu… jangan disitu” teriak Vani panik sambil kedua tangannya bersandar pada dinding kamar mandi karena desakan tubuh Danan. Danan yang penuh nafsu buta tidak sadar palkonnya berkali-kali mencoba mendesak masuk ke lubang anus Vani. Maka itu si cewek bahenol ini blingsatan panik. Tapi tak urung lenguhan-lenguhan tak tertahankan tanpa sadar keluar dari mulut Vani ketika ujung kontol Danan mendesak-desak lubang anus Vani, karena lubang anus adalah salah satu titik sensitif Vani.

“Rouuhh.. ngahh.. bukan.. bukan di situ Dan.. jangannn… houuhhh..” pekik mesum Vani semakin tidak jelas dan Vani sudah hampir menyerah. Tapi ketika kontol Danan betul-betul masuk ke lubang pantat semok Vani hampir 1cm, Vani memekik keras “AAAAHHHHH… DANNNANNNN…!” Dan pekikan ini menyadarkan Danan.

“Eh.. sorry.. sorry mbak.. Danan kebawa nafsu” “Hah..hah.. hiya.. iya.. gapapa..” jawab Vani tersengal-sengal. “Tolong pelan-pelan cabut kontol lo. Ngentotnya selow aja ya” pinta Vani memelas. “Iya.. iya mbak” kata Danan sambil menarik mundur pantatnya. PLOP! “Aiiihhhh…” pekik Vani kaget ketika sesakan kontol melepaskan diri dari ujung lubang anusnya.

“Nah.. lo masukinnya ke memek gue yah..” kata Vani pelan seraya menyandarkan tangannya di dinding lebih nyaman lagi, membungkukkan tubuhnya, membuka pahanya lebar-lebar dan menunggingkan pantatnya sehingga belahan memek tembemnya terpampang jelas. Danan nyaris pingsan tidak percaya melihat cewe sesexy bintang bokep menungging di depannya siap untuk doggie style.

“Jangan cuma diliating doang dong.. “ rajuk Vani yang agak tengsin karena posisi mesumnya dianggurin oleh Danan yang masih bengong terpana. “Eh iya mbak” kata Danan tersentak dari keterpanaannya, bergerak menjamah pantat Vani. Mengagumi pantat nonggeng Vani, Danan meremas-remas kedua belahan pantat semok tersebut. Vani hanya mendesis-desis perlahan, menikmati sensasi ransangan tersebut.

Tiba-tiba Danan malah jongkok di antara paha Vani. Vani yang sebenarnya sudah bersiap-siap menyambut penetrasi kontol Danan jadi terheran-heran dan sedikit sebel. Vani menjulurkan lehernya ke bawah dan melongok ke belakang melalui sela-sela pahanya dan melihat Danan memandangi memeknya. “Danan, lo mau ngentot atauuuuuu.. uuhhhhhh…sshhhhh” pertanyaan Vani terpotong ditengah jalan dan digantikan oleh desisan kenikmatannya. Karena pada detik itu juga, mulut Danan mencaplok bulat-bulat gundukan memeknya.

Sudah lama Danan ingin melakukan ini, melakukan oral ke memek cewek. Dilumatnya bibir memek Vani, dihisap-hisap dengan suara seruputan yang mesum banget sambil kedua tangannya sibuk meremas-remas pantat Vani. Si cewek lonte ini jadi menggelinjang keenakan karena servis oral Danan yang brutal. Apalagi ketika lidah Danan mulai membelah masuk dan menggeliat-geliat didalam memek Vani. Rasanya? Luar biasaaa… “Ohh.. fuccckkkk…. Enak banget sihhhh…” maki Vani dalam hati. “HHHoohhhh… yahhh… yahhhh… ngahhhhh… ya kaya gitu Dan.. kaya gitu…shhhh…” ceracau liar Vani membahana di dalam kamar mandi.

Kenikmatan liar hewani menyeruak dari setiap sisi memek Vani yang dilumat oleh Danan. Sensasi gatal yang semakin digaruk semakin menggila rasanya, berkumpul, mendesak, menuntut jalan keluar untuk meledak memenuhi tuntutan birahi. Vani sangat akrab dengan sensasi menuju orgasme yang sangat disukainya ini. Vani tau hanya beberapa lumatan atau beberapa gelinjang lagi dibutuhkan untuk mencapai puncah kenikmatan itu. Tapi, dewa mesum mempunyai maksud yang lain, karena pada detik-detik krusial tersebut, Danan malah menghentikan oral seks-nya.

“Lhhoooo.. kok brenti?” pekik Vani parau tidak terima digantung seperti itu. Tapi, bukan maksud Danan berhenti membahagiakan Vani. Hanya saja, Danan kecil sudah teriak-teriak protes menuntut gilirannya. Kontol Danan yang 16cm panjangnya, namun berdiameter hampir 4cm sudah ngaceng sempurna. Dananpun mencoba membobol memek Vani. Namun, setelah beberapa kali tusukan yang seringnya nyasar ke lubang anus Vani, akhirnya Vanipun tidak sabar lagi.

“Sini kontol lo Dan” kata Vani sambil menjulurkan tangannya ke bawah ke sela-sela pahanya menggapai kontol Danan. Dengan pasrah Danan membiarkan jemari lentik Vani menggenggam ujung kontolnya dan mengarahkannya ke lubang memek Vani. “Ajrit! Gede juga kontol ni anak. Moga-moga ga melar memek gue abis ini” batin Vani setengah takjub setengah jiper menyambut penetrasi kontol gede si Danan. Yang bikin si lonte ini agak jiper adalah palkon Danan yang bulat besar seperti helm tentara. Betul-betul seperti jamur kontol si Danan ini.

Jemari Vani dengan lihainya menempatkan palkon Danan tepat di bibir memeknya yang sudah mereka basah siap dikawinin. “Sekarang tekan pelan-pelan Dan” perintah Vani dengan suara agak bergetar, dag dig dug menyambut datangnya batang kebahagiaan. Mematuhi Vani, perlahan Danan memajukan pinggulnya, mendesak palkonnya masuk ke sela-sela gundukan daging basah tersebut. “Ukkhh…” Danan agak menggerung pelan karena palkonnya kesusahan memasuki memek Vani. “Pelan-pelan aja Dan.. pelan-pelan aja” bisik Vani setengah berharap. Tapi Danan sudah tidak sabar lagi. Sambil mencengkeram pinggul Vani kuat-kuat, Danan menarik pantat Vani kearahnya dan sekaligus mendorong kontolnya kuat-kuat ke dalam memek Vani. BLESH! “GOUUHhHHHH…..” lenguh Vani keras, kaget karena tiba-tiba memeknya terasa begitu penuh sesak oleh benda asing.

Baru saja Vani hendak teriak protes ke Danan, Vani merasakan kontol Danan mulai bergerak cepat maju mundur menggesek liang memeknya. Alih-alih memaki Danan, erangan dan lenguhan erotis Vani yang terdengar. Dan dalam sekejap, sensasi menuju puncak birahi muncul lagi. Bahkan lebih menggila dari sebelumnya. “Nggahhhh… ngaahhh…. Ouuhhhh Dannannn… enakkkhh bangettt… ngaahhhh..” lenguh Vani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heboh. Tidak sampai 2 menit dikocok… “Wooahhhhhh….. ooooohhhhhh….. gue nyampeeee….aahhhhh…” erangan orgasme Vani pun terdengar, dibarengi oleh pinggul dan pantatnya yang berkejut-kejut, sebagai reaksi heboh memeknya menyemburkan peju orgasme Vani membasahi kontol Danan di dalam memeknya.

Kaget karena baru pertama kali melihat cewek orgasme, Danan menghentikan kocokannya dan mengikuti arah gerak tubuh Vani yang pijakan kakinya melemas sehingga bersimpuh menungging di lantai kamar mandi. “Hah.. hah.. hah.. enak gila” Vani ngos-ngossan menikmati sisa-sisa kenikmatan puncak birahi pertamanya. Tapi Vani tidak bisa bersantai lama-lama, karena kontol Danan yang masih ngaceng keras di dalam memeknya, mulai bergerak memompa lagi.

“Dan.. dan.. time out bentar ya.. “ pinta Vani tanpa harapan. Tidak memperdulikan permohonan Vani, Danan malah semakin mempercepat genjotannya. Dan seperti biasa, birahi si Vani naik lagi dengan cepat. Vani pasrah membiarkan memeknya dihajar oleh kocokan buas kontol Danan dari belakang. Hanya suara-suara lenguhan Vani yang menandakan betapa Vani menikmati persenggamaan ini.

Tidak sampai 5 menit sejak orgasme pertamanya, orgasme kedua Vani meledak. “Hooahhhhh… kkok.. kokk.. gue lagiiiiiii… Ngaahhhhhhhh…”. Kali ini Vani betul-betul lemas sampai tengkurap di lantai kamar mandi. “Ooohhh.. hah.. hah.. hah” Vani mencoba menenangkan nafasnya yang masih memburu. “Danann… istirahat bentar yahh..” mohon Vani. ‘iya.. iya mbak” kali ini Danan memenuhi permintaan Vani. “Pindah ke ranjang aja ya Mbak” ajak Danan sambil mengangkat Vani. Sambil berpelukan ke Danan, Vani pun melangkah keluar dari kamar mandi dan langsung rebah terlentang di ranjang Danan.

Beralaskan empuknya ranjang Danan, Vani memejamkan matanya sejenak sambil mengatur nafasnya pelan-pelan. “huhh.. huhhh… hufff” deru nafas Vani terdengar perlahan. Danan hanya berdiri tegak di samping ranjang memandangi tubuh polos Vani. Cewek manis berambu bob warna brunette dengan tampang mesum. Bibir yang penuh mengundang untuk dicium. Toketnya yang terlihat besar mengacung padahal si empunya sedang dalam posisi tidur telentang. Perut rata, pinggang mengecil, kemudian membesar lagi dipinggulnya bak gitar spanyol. Gundukan tembem memek mulus tanpa sehali jembi pun melengkapi pemandangan erotis tubuh bugil Vani.

Tanpa bisa ditahan lagi, konto Danan kembali mengacung tegak. “Hei, lo cuma mau liatin gue kaya gitu terus ato mo ngentotin gue” tiba-tiba Vani menegur Danan sambil tersenyum mengundang. Ternyata nafsu birahi Vani belum terpuaskan oleh 2 orgasme. Dan memeknya sudah teriak minta dikontolin lagi. Basah, becek siap dipenetrasi.

Menyambut Danan, Vani membuka dan mengangkat pahanya, melipat ke arah tubuhnya sehingga Danan bisa menggenjotnya dari atas. Dengan penuh nafsu Danan melesakkan kembali kontolnya ke memek basah Vani, yang lagi-lagi diiringi oleh lenguhan kaget Vani. Dengan penuh semangat Danan menggenjot memek Vani, membuat ranjangnya berkeriut-keriut heboh. Toket Vani pun tidak lepas dari sasaran kebuasan Danan. Diremas-remasnya toket massive tersebut, diperas-peras layaknya sapi perah dikeluarkan susunya. Mulut Danan mencaplok dan mengemut-ngemut kasar puting Vani yang besar, membuat Vani melolong-lolong kesakitan sekaligus keenakan. Berpadu menjadi satu menciptakan sensasi birahi yang menggebu-gebu.

Vani menjambak rambut Danan dan meceracau ribut. “Yahhh.. yahhhh.. kentot gue.. kentot gue.. Ouuhhhhh… hohhh… hoooh… Cepetin Dannnnn..” raung Vani yang nyaris meledak tidak mampu menahan gelora birahi yang menghantamnya berkali-kali menuntut untuk dipuaskan. Danan menyambut gembira tantangan Vani dan mempercepat pompaannya. Sambil mencengkeram kuat-kuat kedua toket Vani, genjotan Danan semakin jadi tidak beraturan. “Ini mbak.. ini mbak.. rasain kontol gueeee… Hooohhhhh” lenguh Danan binal.

Danan mulai tidak mampu menahan ledakan orgasmenya. Terasa ada aliran yang menggelora di sepanjang batal kontolnya, menggedor-gedor ujung palkonnya siap menyembur. “Mbak.. mbak.. Gue mo nyampe nihhh…” erang Danan diujung pertahanannya. “Ga boleh.. ga boleh keluar.. gue duluan Danan.. Ahhhh… Lo harus tahan. Awass..aahhhh” ancam Vani yang juga sudah di ujung tanduk.

Sedetik lagi Vani mencapai orgasmenya, Danan akhirnya menyerah. Dia mencabut kontolnya cepat-cepat, dan menumpahkannya di perut Vani. “HOOooaaaaahhhh…. Hhahhhh.. hhahhh…” gerung Danan sambil mengocok kontol sampai tetes terakhir pejunya keluar membasahi perut putih Vani.

Vani yang sudah hampir sampe juga, reflek menggunakan jemarinya mengocok-ngocok memeknya untuk menuntaskan nafsu birahinya. CLEPP CLEPP SLEPPPP SLEPPP SLEEPPPPP… Dan…. “Ngggggaahhhhhhh…… sssshhhhhh… ouuhhhhhhh…. Hahhhhh.. hhhaaahhh…enaknyaa…” lenguh pamungkas Vani pun terdengar.

Di kamar sebelahpun, koor lenguhan orgasme Randy dan Momo berkumandang. Sasha menikmati setiap detik kepuasan orgasmenya tanpa bisa bersuara banyak, karena mulutnya disesaki oleh kontol Momo yang memuntahkan pejunya sampai berleleran di sisi bibir Sasha. Hanya cengkeraman keras jemari Sasha di pantat Momo yang menunjukkan betapa nikmatnya orgasme memek Sasha setelah digenjot habis-habisan oleh Randy. Randy juga tersenyum puas berhasil keluar di dalam memek Sasha yang berkedut-kedut karena orgasmenya.

Vani, Sasha, Randy, Momo dan Danan tertidur lemas dan puas setelah nafsu yang tertumpuk sedikit demi sedikit dari awal permainan mendapatkan pemuasannya masing-masing. Sambil mendekap Danan yang sudah jatuh tertidur, Vani pun berjanji dalam hati, kalo diajak maen lagi Vani akan memastikan Danan adalah peserta, bukan bankir lagi. Deru hujan menjadi lulabi tidur nyenyak para insan muda ini.