Friday, May 19, 2017

Oh Mitra Bisnisku

Saya baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan melilitkan sehelai handuk seperti biasanya. Karena kamar mandi berada di dalam kamar utama, saya tidak terlalu menghiraukan penampilan saya dari kamar mandi, bahkan biasanya keluar dari kamar mandi tanpa memakai apa-apa. Dan saya langsung menuju meja rias untuk berias karena pagi ini saya harus menghadiri rapat perusahaan untuk mengadakan kontrak kerja dengan mitra bisnis saya.

Saya sebagai salah satu direktur dari perusahaan suami, saya harus hadir dan seharusnya suami pun yang menjabat sebagai Direktur Utama harus hadir, tapi karena suami baru pulang dari dinas di luar negeri selama sebulan untuk mengadakan negosiasi dengan mitra bisinisnya yang di luar negeri dan masih terlalu capai katanya dan memang kontrak akan ditandatangani oleh saya saja.

Ternyata dia sudah bangun sementara saya sedang mandi tadi, dan sekarang masih di tempat tidur sambil memainkan remote control TV untuk melihat berita hari ini. Seperti biasanya, di depan meja rias saya mulai berias. Saya melepas handuk yang melilit di badan saya dan mulai memberi body lotion ke seluruh badan. Mulai dari kaki dan terus ke paha dan sampai selangkangan, terus ke atas.

Di bagian dada sedikit agak lama memberikan lotion-nya terutama di bagian payudara saya yang berukuran 36B ini. Sedikit saya tekan dengan kedua tangan saya. Saya sedikit merasa suatu kenikmatan dan memang terlihat dengan mulai mengerasnya puting saya. Mungkin memang sedang masa subur dan lagi sudah lama saya tidak berhubungan dengan suami karena di tinggal dinas. Dari kaca saya mengintip, sepertinya suami sedang memperhatikan saya berias. Suami memberi oleh-oleh untuk saya tadi malam begitu sampai. BH buatan salah satu product dari Inggris yang lucu dan seksi. BH yang hanya menyanggah payudara dari bawah ini hampir tidak memiliki cup atau lebih dikenal dengan sebutan quarter bra, sudah jelas puting saya tidak tertutup oleh BH-nya tapi tetap menjaga bentuk payudara. Saya mulai memakai stocking terlebih dahulu, yang hanya menutupi kaki saya sampai ke pangkal paha, dan terus dilanjutkan dengan melilitkan garter ke pinggang saya dan tidak lupa menjepit stocking saya ke tali garter. Karena suami sudah bangun saya memanggilnya, “Mas tolong dong ke sini ikatkan tali BH ini.” Suami yang tidur dengan mengenakan T-shirt dan celana dalamnya saja bangun dari tempat tidur dan menuju ke meja rias untuk membantu saya.”Mas bagus ini BH-nya, nikmat dipakai sepertinya, seksi lagi.” Sambil tersenyum dia membantu memasangkannya dari belakang. Sambil tetap menghadap kaca saya menanyakannya, “Pinter juga milihnya Mas, gimana pas tidak kelihatannya.”

Dari belakang saya, suami mengulurkan tangannya dan memegang bagian depan BH yang dia berikan itu. Sambil memeriksa bagian depan BH, dengan nakalnya tangannya menyentuh dan menekan payudara saya yang tidak tertutup oleh BH ini. Saya sedikit mendesah, “Ah, Mas nakal nih tangannya”, sambil tetap meremas kedua payudara saya dia menjawab, “Kenapa memangnya tangan saya?” dia mulai menjepit ke dua puting saya dengan jari telunjuk dan jari manisnya, sambil sedikit menariknya dengan perlahan.
“Enak ya rasanya, sudah lama kan tidak saya pijit.”
“Ah Mas menggoda saja orang mau kerja”. Kedua putingnya dengan cepat mengeras, terasa sakit bercampur nikmat.
“Ah… ah… nikmat sekali rasanya”, saya segera ingin berbalik menghadap dia rasanya, tapi dia menahannya, tangan kanan saya mulai melilitkan ke tengkuknya dari depan dan mengelus rambutnya yang berombak. Sementara itu tangannya tetap meremas payudara saya. Oh begitu nikmatnya, saya betul-betul terangsang. Sementara itu tangan kanannya mulai bergerak menuju bawah dengan perlahan dan sampai ke bawah puser. Saya belum mengenakan celana dalam. Dia mulai mengelus rambut bawah saya yang tidak banyak ini.”Aduh kamu sudah banjir sepertinya….” memang saya merasa bagian bawah saya sudah mulai lembab, dan dia terus mengelus dengan lembutnya.Mendadak saya merintih agak keras “Ah… ah…!” ketika dia memainkan bibir bawah saya, tidak kuat lagi saya berdiri tegak, dengan sedikit membungkuk, kedua tangan saya memegang pinggir meja rias untuk bertahan. Tangan kanannya bergerak lebih jauh lagi.

Saya merasakan cairan kental dan licin keluar membasahi bibir bawah. Seperti terpeleset, jari tengah tangan kanannya memasuki tubuh saya dan menggerak gerakannya di dalam vagina saya, “Ah… ah… aduh Mas… ah… saya tidak tahan… nikmat sekali…”, Saya sudah tidak sabar lagi, tangan kiri saya menuju belakang dan memegang pinggulnya dan menariknya supaya lebih mendekat dengan saya, dan segera menyelinap ke dalam celana dalamnya, saya mulai memegang penisnya yang sudah membesar dan keras itu, dan dengan berirama saya gerakkan. “Ah… ah…” dia mulai merintih kecil.

Sementara itu dia menambah jari telunjuknya untuk dimasukkan ke milik saya,
“Gimana…. nikmat… rasanya”, katanya.
“Ah… Mas nikmat sekali… terus gerakkan Mas… jangan berhenti… satu lagi Mas… ah…!” saya minta jari manisnya juga. Saya mulai menarik celana dalamnya ke bawah, dan dengan bantuan tangan kirinya celananya pun jatuh ke bawah. Saya membungkuk lebih dalam lagi dan dia mulai merapatkan pinggulnya ke pantat saya, dan saya merasakan penisnya yang hangat itu menempel di bibir bawah saya. Jari tangan kanannya yang sudah basah dia keluarkan dari dalam saya dan kembali meremas-remas payudara kanan saya sambil memainkan puting saya. Semetara itu tangan kirinya memegang pinggul saya untuk lebih mantap. Pinggulnya mulai dia gerakkan berirama. Saya hanya bisa lihat dia dari kaca saja. Sesekali ujung penisnya menyentuh mulut vagina saya, seakan mau memasukinya, dia sengaja tidak memasukkannya dulu. Membuat saya gregetan untuk bertahan, saya sudah terangsang sekali.
“Ayo Mas… saya sudah tidak tahan lagi… ah.. ah..!” saya memintanya.
“Mau apa kamu… bilang dong”, dengan nada menggoda.
Saya pegang ujung penisnya yang sedang menempel di mulut vagina, “Ini, mau ini cepat… ah.. ah.. jangan buat penasaran, ah..!” dan lebih membungkuk lagi saya, posisi saya sudah siap untuk dimasukinya.

Pelahan-lahan dia mulai memasukinya, dan saya merasakannya, sebuah benda yang hangat mulai masuk ke dalam saya, “Ah… ah… ayo terus Mas… saya mau semuanya.. ah.” Dia hanya memasukkan setengah saja, membuat saya tambah penasaran, pinggulnya mulai bergerak ke depan dan ke belakang dengan berirama. “Ah… terus.. terus Mas… saya mau semuanya… ah.. sampai mentok Mas.. ah.”
“Aah emm nikmat tidak, mau semuanya ya..” dia bertanya, belum sampai saya jawab dia mulai mendorong penisnya jauh lebih ke dalam lagi, dan saya pun merintih dan merasakan sesuatu yang nikmat sekali. Pinggulnya terus bergerak berirama, dan mulai menambah cepat iramanya, tentu saja membuat saya tenggelam kenikmatan.

Tiba-tiba dia melepaskan penisnya dari dalam saya, dan menegakkan saya sambil memutarkan tubuh saya sehingga berhadapan dengan dia. Pinggang saya dia pegang dengan kedua tangannya dan mengangkat badan saya dan dia dudukan di meja rias, kemudian dia membentangkan kedua kaki saya. Dia kemudian mulai merapat dan memasukkan kembali penisnya ke dalam saya, “Ah… ah…” saya pun merintih lebih keras karena nikmatnya. Dan dia mulai menggerakkan pinggulnya lagi. Kedua tangannya meremas-remas payudara saya dan juga memainkan puting saya dengan menjepit dengan jari telunjuk dan tengahnya.Dia mulai mencium saya, dan saya langsung menyambutnya dengan membuka mulut saya sedikit, dan lidah dia mulai memasuki mulut saya dan saya sambut dengan lidah saya. Kedua lidah saling bercengkrama dan membuat lebih nikmat. Irama gerakan pinggulnya semangkin cepat, dan saya tahu dia mulai mendekati klimas.
“Tunggu Mas, saya mau sama-sama Mas, ah..!” saya ingin mencapai klimaks bersama-sama, dan saya lebih konsentrasi lagi sambil menjepit penisnya.
“Ah… Mas ayo Mas.. saya sudah mau keluar Mas… ah.. sama-sama… Mas!” Dan seperti pistol meledak, dari penisnya keluar cairan panas yang terasa begitu panas dan kencang dalam tubuh saya, dan saya pun beberapa detik kemudian mencapai klimaks.

Irama gerakan pinggulnya mulai menurun perlahan-lahan, dan saya memeluk kepalanya dan saya ciumi kuping kirinya sambil berbisik “Ah… nikmat sekali Mas, sudah lama kita tidak begini”, dan pinggulnya sudah berhenti bergerak, tapi penisnya masih tetap di dalam saya, dan dia mengecup bibir saya dengan mesranya. “Aah…” dia merintih sedikit karena penisnya yang masih di dalam saya jepit. Dia mulai mengeluarkan penisnya dari dalam saya, dan saya masih dalam posisi duduk di meja rias, saya merasakan cairan kental putih keluar dari dalam saya membasahi meja rias.
“Mitra kita akan tertarik dengan kecantikan kamu nanti”, katanya dengan penuh arti.

Di luar mobil sudah menunggu saya, saya keluar dari rumah dan pamit.Saya memakai onepice merah panjang, potongan di dada sedikit rendah sehingga kelihatan sedikit belahan dada saya dan sedikit menonjol kedua puting saya dari balik gaun merah ini, BH saya hanya menyangga buah dada saya dan puting saya tidak tertutup oleh BH sehingga sepintas seperti tidak memakainya. Supir saya membukakan pintu belakang dan saya masuk, sebelum pintu ditutup saya menarik bagian rok saya yang masih sedikit menempel di bagian pintu karena kancing bagian rok saya yang ada di depan sengaja saya buka sampai pertengahan paha, supaya lebih mudah bergerak dan sedikit terlihat seksi dengan belahan di depan. Supir sepertinya sedikit melirik ke paha saya ketika itu, tapi seperti sudah biasa dia terus menutup pintu.”Jon tolong mampir ke Hotel Hyatt dulu untuk jemput tamu, dan baru kita ke kantor.”
Di lobby hotel tamu saya sudah menunggu, dia bersama wakilnya.
“Wah maaf Pak Robert agak telat sedikit, tadi jalanan sedikit macet.”
Saya berbohong, padahal jalan tidak macet, tentu saya tidak bisa bilang bahwa saya telat karena menikmati seks di pagi hari. Bapak Robert ini sepertinya masih muda dan tampan, badannya tegap dan tinggi. Masih muda sudah menjadi president suatu perusahaan yang lumayan besar.

Di mobil saya duduk di sebelah kanan, kemudian Pak Robert di tengah dan wakilnya di kanan. Sambil sedikit memiringkan badan masing-masing kami berbincang-bincang tentang kota Jakarta. Sambil berbincang-bincang, sesekali-kali dia mencuri pemandangan dengan melirik ke bagian dada saya yang belahan bajunya sedikit rendah ini. Saya tahu itu, tapi saya berpura-pura seperti tidak sadar dan juga saya tahu bahwa yang dia lihat adalah bagian yang menonjol dari balik baju saya di sekitar buah dada saya.”Pak Robert sudah umur berapa putranya?” saya sengaja menanyakanya untuk memastikan sudah berkeluarga atau belum. Dia tersenyum dan, “Saya belum berkeluarga bu”, sambil tersenyum. “Kalau begitu bisa lebih santai dulu dong di Jakarta setelah kerjaan selesai”, dengan nada memancing saya bertanya.

Tidak lama kemudian kami sudah sampai di kantor. Mobil berhenti dan supir membukakan pintu sebelah kiri. Wakil Pak Robert turun dahulu dan kemudian dia, sambil bergeser saya juga menunggu untuk keluar, dan ketika saya memutarkan badan untuk mengambil tas saya yang ada di belakang kursi, belahan rok saya terbuka sampai pangkal belahan, tapi saya tidak sempat membenarkannya dan langsung ke luar. Di depan pintu Pak Robert sudah menunggu saya untuk turun, dan dia pasti telah melihat pangkal paha saya dan bahkan mungkin telah lihat celana dalam saya yang hitam dan agak transparant itu. Pintu lift di loby terbuka dan saya persilakan Tamu saya masuk dahulu dan kemudian saya. Kantor saya ada di tingkat 30, di dalam lift tidak terlalu penuh, tapi di tingkat 3 banyak yang masuk sehingga kami mundur ke belakang. Karena penuhnya, saya terdorong sampai menyentuh pak Robert, “Maaf Pak Robert”, saya minta maaf kepadanya.

Dalam lift saya merasakan tangan Pak Robert yang menempel ke pantat saya, merasa tidak sopan, dia menggeser tangannya agar tidak menyentuh, tapi rupanya justru membuat posisinya semakin tidak enak. Bagian depannya langsung menempel ke bagian belakang saya. Saya merasa ada sesuatu yang keras menyentuh bagian belakang saya, penisnya mengeras rupanya. Belum sampai lebih jauh merasakannya lift terbuka dan kami harus keluar. Ruang rapat sudah siap dan saya persilakan masuk, dan beberapa menit kemudian rapat dimulai. Ada dua hal kontrak yang kami bicarakan dan pada awal rencana kami akan menanda tangani kedua kontrak kerja, tapi setelah satu jam rapat berjalan ada satu hal yang harus di konfirmasikan dan Pak Robert minta ditunda sehari, akhirnya kami menandatangani satu kontrak kerja saja.Untuk menjamu tamu, saya membuat appoitment untuk dinner malam ini di hotel Pak Robert jam 20 malam. Pak Robert dengan diantar oleh mobil saya kembali ke hotel.

Sore jam 16 saya bersiap-siap untuk pulang ke rumah karena nanti malam ada dinner dengan Pak Robert. Ketika sampai di rumah ternyata ada pesan dari suami bahwa dia harus keluar kota dan baru kembali besok pagi. Saya langsung menuju meja rias dan membuka baju untuk mandi. Setelah buka baju, saya duduk dahulu di kursi meja rias sambil membuka BH saya, dan sedikit istirahat dulu. Saya merasakan kelembaban di celana dalam saya, dan merabanya dari atas celana, ternyata basah, naluri seks saya sedang tinggi. Dari selangkangan kaki, celana dalam saya geser sehingga tangan saya dapat menyentuh bibir bawah yang sudah basah ini, dengan halus saya mengelus-ngelusnya sambil membayangkan tadi pagi, tapi tiba-tiba imajinasi saya berubah seakan-akan pak Robert yang muda dan ganteng itu sedang mencium dan menjilat vagina saya. Cairan yang hangat dan licin semangkin membasahi, dengan tidak sadar jari telunjuk saya sudah masuk ke dalam vagina dan terus saya gerakkan keluar masuk dari vagina saya, “Ah.. ah.. ah..” saya mulai merintih dengan nikmatnya. Seperti kurang puas dengan jari, saya membuka laci meja rias dan mengeluarkan mainan saya.

Mainan ini berbentuk penis ukuran orang Eropa dan bisa bergerak-gerak dengan memakai baterai. Mula-mula ujungnya saya tempel di ujung mulut vagina saya, “Ah.. ah!” denyut jantung mulai cepat dan saya mulai memasukkannya perlahan-lahan sambil berimajinasi yang masuk itu penis Pak Robert. Saya masukkan sampai habis, bukan main rasanya, seperti benar-benar melakukan seks, mainan ini bergerak terus di dalam badan saya. Saya mulai menggerakkan mainan perlahan dengan mengeluar-masukan ke vagina dengan berirama, seperti orang laki-laki sedang memasukan punyanya ke vagina wanita.
“Ah… ah… ah ah ah..” irama gerakkan mulai cepat dan cepat, saya pun mulai tidak sadarkan diri, sementara tangan kanan menggerakkan mainan, tangan kiri saya mulai meremas payudara kanan saya dan sambil memainkan puting yang sudah dari tadi mengeras.

Selama lima menit, terus saya mainkan mainan ini dan irama tangan pun semangkin cepat, dan saya sudah mendekati kelimax. “Ah.. ah… keluar.. ah.. ah”, tanpa saya atur pinggul saya bergerak menyentak dan mainan yang di dalam saya jepit. Cairan kental bening keluar banyak dari celah vagina yang masih dimasuki oleh mainan ini. Kepala dan tangan, saya rebahkan di meja rias, sementara mainan penis ini masih bergerak di dalam vagina saya. Kurang lebih tiga menit kemudian saya mulai menarik mainan yang masih bergerak dalam vagina saya, mainan sudah jelas basah dan licin oleh cairan saya. Mainan saya bersihkan dengan tissue dan saya simpan kembali di laci, dan saya baru melepas celana dalam yang sudah basah ini dan melepas gartar, kedua stocking saya, dan menuju kamar mandi.
Saya pilih gaun biru gelap untuk dinner malam ini. Setelah memakai minyak wangi ke seluruh badan, saya mulai mengenakan stocking hitam dari kaki kiri dan terus saya tarik sampai setengah paha dan diteruskan dengan yang kanan. Saya lebih senang stocking model seperti ini dari pada panty socking, lebih praktis apabila ingin ke kamar kecil. Gartar pun saya pilih yang hitam, dan saya jepit tali gartar ke ujung stocking yang ada di pertengahan paha. Saya pilih celana dalam hitam yang berbentuk sangat minim yang hanya pas-pasan menutupi bagian depannya, sedangkan bagian belakang hampir seperti tidak memakai celana dalam, hanya berupa garis yang menutupi belahan bagian belakang, sehingga dari luar baju tidak akan terlihat garis celana dalam. Gaun malam saya bagian bawahnya panjang sampai ke mata kaki dengan dua belahan di samping sampai dua puluh centimeter dari atas lutut. Bagian punggung terbuka, dan bagian depan gaun dari dada terus ke atas dan bersimpul di kuduk kepala, tentu tidak berlengan dan belahan dadanya sampai setinggi bawah payudara, gaun hanya pas menutupi bagian payudara saja.

Gaun seperti ini tidak bisa memakai BH yang umumnya, biasanya hanya berupa cup saja. Tapi saya kurang nikmat memakai BH yang hanya cup saja. Malam ini payudara saya langsung ditutup oleh gaun saja, tidak memakai BH. Setelah merapihkan gaun dengan melihat dari kaca setinggi badan kemudian saya memilih sepatu untuk malam ini. Saya pilih warna hitam bludru dan dengan hak yang tinggi. Supaya tidak kelihatan sepi bagian atasnya, saya pakai anting berbentuk bulat seperti gelang yang tipis dan bross bentuk daun di dada kiri. Lipstik saya pilih warna merah rose dan ditambah dengan lips gloss agar lebih kelihatan mengkilat dan tidak kering.

Jam sudah menunjukkan pukul 19:00, saya harus berangkat sekarang.Malam ini saya bawa mobil sendiri, supir sudah saya suruh pulang karena besok pagi dia harus jemput suami pulang. Mobil sudah disiapkan dari dalam garasi, mobil ini hadiah dari suami yang bisa di hitung oleh jari di Jakarta ini. Mobil sport warna merah buatan Italy, jarang saya pakai kalau siang karena mencolok. Jalanan tidak terlalu padat, dan sekitar setengah jam sudah sampai di hotel. Dari lobi hotel saya menelepon ke kamar Pak Robert, “Pak Robert saya tunggu di lobi ya.” Pak Robert minta waktu sebentar untuk turun, kira-kira sepuluh menit kemudian dia turun dan menemui saya. “Wah maaf bu menunggu agak lama”, sambil memandang saya dengan mata seorang laki-laki muda yang penuh arti. “Maaf Pak Robert, bapak tidak bisa hadir malam ini karena dia ada urusan penting ke luar kota, salam saja darinya semoga bisnis kita bisa jalan dengan lancar”.
“Oh tidak apa, tapi kasihan juga ya ibu sering di tinggal suami, apa tidak kesepian?”

Saya balas dengan senyuman. Kami pilih restoran Jepang Teppanyaki. Dengan kursi yang mengelilingi meja penggorengan yang lebar, kami duduk di bagian tengah, dan memang hanya kami berdua di situ karena sudah di-reserve. Tidak lama koki yang akan meladeni kita datang dan kami memilih menunya. Sementara kami menunggu makanan sampai jadi dan melihat atraksi si koki yang sangat khas ini, kami berbincang-bincang, dari cerita ringan sampai mulai cerita soal bisnis. Tidak lama kemudian masakan siap dan kita mulai makan sambil meneruskan perbincangan kami. “Wah saya kurang mahir memakai sumpit”, dan memang Pak Robert kelihatannya kurang mahir untuk mengambil makanannya. “Cara memegangnya begini pak, jadinya tidak jatuh dan tidak capai tangannya”, sambil membetulkan jarinya memegang sumpit. Sepertinya agak lumayan sekarang tapi dia senang rupanya sekarang, tapi di bagian akhir dia berusaha mau mengambil udang yang sudah matang itu, dan berkali-kali jatuh karena licin. Karena kasihan, saya bantu ambilkan dengan sumpit saya dan suapkan ke mulutnya, mukanya sedikit merah karena malu sepertinya, saya tersenyum.

Setelah selesai makan, Pak Robert saya ajak ke pub yang ada di hotel ini, “Bagaimana kalau kita pindah tempat ke pub di atas untuk berbincang-bincang.”
“Boleh bu”, dia menurut saja. Hari ini sepertinya agak ramai, dan banyak tamu orang barat, sehingga kami tidak dapat meja, terpaksa kami duduk di bar-nya.
“Ibu mau minum apa?” sambil menunjukkan menu ke saya. “Terserah Pak Robert deh, kan anda lebih tahu yang nikmat”, dan akhirnya dia pesan cocktail dengan campuran dasar gin. Agak keras, tapi nikmat rasanya. Sementara kami berbincang-bincang, suasana semangkin ramai, musik berirama cepat terus mengalir dan yang turun untuk berdansa di dance floor semakin ramai, begitu asyiknya berbincang-bincang saya tidak ingat sudah berapa gelas saya tambah minum, yang jelas lumayan banyak, soalnya mulai terasa alkohol naik ke kepala. Mendadak musik berhenti dan disusul dengan alunan musik yang slow, yang berdansa pun sedikit berkurang, pembicaraan kami pun terputus sejenak.”Pak Robert mau turun?” sebelum dia sempat menjawab, saya sudah tarik tangannya. Awalnya kami berdansa dengan sedikit mengambil jarak, tangan kanan saya memegang tangan kirinya, dan tangan kiri saya melilitkan ke pinggang dia, begitu juga dia. Sambil iringan musik yang slow terus mengumandang, kami meneruskan pembicaraan.

Ketika kami mulai berhenti berbicara, saya mencoba mendekatkan badan ke dia, dan rupanya dia menyesuaikan diri juga. Dengan perlahan tangan kanan saya lepaskan dari tangannya begitu juga tangan kiri saya lepas dari pinggangnya dan melingkarkan kedua tangan saya ke belakang pinggangnya, dan dia pun mengikutinya, tapi dia melingkarkan tangannya agak ke atas, sehingga terasa sentuhan tangannya yang hangat itu ke bagian punggung saya yang terbuka itu. Suasana semangkin romantis, dan kami makin merapat.Saya merasakan denyut jantungnya yang semakin cepat, saya pun sama, apalagi payudara saya yang tanpa BH itu menempel dengan rapatnya ke dadanya, puting saya terasa mengeras yang hanya ditutupi sehelai kain sutra yang tipis, dia pun pasti merasakannya. Dia pun bereaksi, terutama ketika saya menekankan bagian bawah saya ke dia, penisnya mengeras dan terasa agak besar miliknya. Kepala saya rebahkan ke dadanya, dan kini sementara tangan kanannya tetap diam pada posisi semula, di punggung bawah sekitar pinggang, tangan kirinya mulai naik perlahan-lahan ke atas dan berhenti di pertengahan punggung, terus bergeser ke kanan hingga ujung salah satu jarinya menyentuh bagian payudara saya yang sedikit tidak tertutup dari celah samping belakang gaun saya.

Saya sedikit mendesah sambil menutup mata, tapi sepertinya dia tidak dengar. Sampai beberapa saat terus kami dalam posisi begini, dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari kami. Musik berhenti, rupanya waktu istirahat untuk pemain band, dan kami pun kembali ke bar tempat semula kami duduk. Waktu telah menunjukkan pukul 23:30.
Saya kembali berbicara mengenai bisinis, “Saya rasa tidak ada yang kurang lagi dengan kontrak kerja kita yang kedua itu dan percayalah sama saya”, dengan nada meyakini nya.
“Coba kita lihat lagi sama-sama kontraknya, mungkin ada yang saya bisa bantu lebih jelas”, sekali lagi saya meyakinkannya.
“Kalau begitu saya ambil dulu surat kontraknya dan kita ketemu di loby”, ucapnya.
“Kalau Pak Robert tidak keberatan kita langsung saja ke kamar bapak dan kita bahas disana.”
“Boleh, kalau ibu mau silakan.”
Selama perjalanan kami tidak ada pembicaraan. Kamar dibuka dan kami masuk, di dalam keadaannya rapih dan luas dan memang ini sweet room.

Dia menuju tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur sambil mengambil tas kerjanya untuk mengambil dokumen, sementara itu saya mengikutinya dari belakang, dan menyalakan radio yang ada di dekat tempat tidurnya, alunan musik yang lembut memenuhi ruangan, dan saya kemudian duduk di sampingnya. Karena tempat tidur agak rendah posisinya, belahan samping baju saya terbuka lebar, tapi saya biarkan saja. Sambil membuka buka dokumen, sebentar-sebentar dia mencuri pemandangan paha saya yang kelihatan dari belahan gaun. Saya berusaha menerangkan satu persatu pasal-pasal yang dia anggap ragu, tapi sepertinya dia sudah tidak terlalu konsentrasi lagi. Tidak lama setelah saya menjelaskan semuanya tiba-tiba dia mengambil ballpoint dari tasnya dan,
“Saya tandatangan malam ini saja deh”, sambil tersenyum.
“Pokoknya saya percaya deh dengan perusahaan ibu”, dan dia pun menandatanganinya. Saya balas dengan berjabat tangan.
“Ibu mau minum apa? wah hanya ada beer dan wisky saja tapi…” dengan nada kecewa.
“Kalau begitu saya minta scotch saja deh.” Dia mengangguk dan menyiapkan dua gelas dan mengeluarkan es dari kulkas. Sementara itu saya minta izin mau ke kamar kecil. Di dalam kamar kecil yang jadi satu dengan kamar mandi dan dengan kaca yang besar saya merapihkan baju dan merapihkan rambut dan menambah lipstik lagi yang mulai pudar.

Ketika selesai saya merasa tidak enak di celana dalam saya, dan ketika saya mau membenarkan, bagian depannya saya pegang, ternyata basah. Mungkin tadi waktu kami dansa dan saya terangsang sampai basah. Saya bingung, bagaimana ya, dipakai terus tidak enak rasanya. Akhirnya saya putuskan untuk melepaskannya dan saya masukkan ke dalam tas kecil saya. Begitu saya keluar, Pak Robert baru selesai membuatkan scotch untuk berdua. Saya ambil gelas yang satu dari tangan dia dan terus berjalan menuju jendela sambil melihat pemandangan di luar, sudah pukul 0:30, jalanan sudah tidak banyak mobil, sementara itu dia duduk di ujung tempat tidur sambil memandang saya dari belakang. Saya baru sadar di depan saya ada lampu dinding yang agak terang, rupanya dia lihat bayangan badan saya yang samar-samar kelihatan dari balik gaun. Tapi saya diam saja tanpa reaksi terus memperhatikan jendela.

Tidak lama dia melepas jasnya dan berdiri menghampiri saya, tapi di tengah-tengah dia berhenti dan dengan suara agak ragu dia bertanya kepada saya,
“Maukah ibu dansa lagi dengan saya di sini?”
“Emm, nikmat juga ya mungkin, lagunya juga nikmat dan tenang lagi, ya boleh”, saya membalasnya sambil mendekatinya. Minuman saya letakkan dan langsung kami berdansa. Kali ini kami langsung merapat dan saling merangkul pinggang pasangan masing-masing. Semakin lama suasana semankin romantis, kepala saya sudah merebahkan ke dadanya, dan bagian bawah mulai saya tekan ke dia, reaksi sudah kelihatan, punyanya mengeras.

Puting saya sudah dahulu mengeras dan sangat kencang terasa. Seperti ingin lebih merasakannya, kedua tangannya mulai turun ke bawah dan memegang bagian pantat saya dan mendorongkannya ke badannya sehingga lebih terasa bentuk penisnya yang menekan bagian bawah saya. Tangannya mulai mengelus-ngelus pantat saya dari luar gaun saya sambil terkadang meremasnya, saya tidak menunjukkan reaksi apa-apa, berarti ada lampu hijau dari saya, dia terus melakukannya berkali-kali, dan saya tetap diam sambil merasakan kenikmatan. Tidak lama kemudian kedua tangannya bergeser ke bagian pangkal belahan gaun di pertengahan kedua paha saya, dan dengan cepatnya kedua tangannya menyelinap ke dalam belahan gaun dan mencoba memegang pantat saya dari dalam. Dia mulai meraba-raba pantat saya seakan mencari sesuatu. Sepertinya dia mencari celana dalam saya, padahal saya sudah tidak pakai lagi. Begitu dia sadar bahwa saya tidak memakai celana dalam, wajahnya sedikit kaget, tapi hanya sejenak, bahkan dia lebih berani lagi dengan menggerakkan tangan kanannya ke bagian depan saya, mengelus rambut bawah dan jari telunjuk dan tengahnya turun lebih bawah lagi tepat di bagian belahan depan. Dengan kedua jarinya dia membuaka bibir bawah dan menjepit kacang saya.

Dia tahu saya sudah banjir. Ketika dia sekali lagi memainkan bagian puting, mendadak kepala saya bangkit dari dadanya dan menghadap mukanya dengan jarak yang sangat dekat dan keluar suara rintihan saya sambil menutupkan mata, “aah…” Belum sempat saya menutup mulut, bibirnya langsung mendarat di bibir saya dan menciumnya. Saya sengaja membuka mulut saya agar dia lebih dalam mengecup saya. Lidahnya mulai memasuki bibir dan terus masuk ke mulut, Saya pun bereaksi dengan mengulurkan lidah saya, lidah saya dan lidahnya saling menyaut dan menghisap. Sampai beberapa saat kami saling bercumbu. Seakan sudah diberi lampu hijau dari saya, dia bertambah agresif. Tangan kananya kembali melingkar ke belakang saya dan bersama tangan kirinya kembali meremas-remas pantat saya sambil terkadang mendorongnya ke depan sehingga menekan bagian depannya, sementara kami tetap saling bercumbu. Tangan yang sejak tadi melingkar di pinggang Pak Robert mulai saya lepas dan tangan kiri saya gerakkan menuju depan celananya, dan meraba-raba seperti mencari sesuatu.

Sampai juga yang saya cari, ritsluiting celananya saya tarik ke bawah perlahan-lahan, kemudian tangan saya segera menyelinap ke dalam celananya, dan terus menuju ke dalam celana dalamnya. Penisnya sudah tegap dari tadi, ukurannya cukup besar, segera saya genggam dan tangan saya gerakan ke atas dan ke bawah perlahan-lahan secara berirama. Seperti ada reaksi dari tangan saya, dia sedikit menggigit bibir saya, dia mulai terangsang rupanya, sementara tangan kiri saya tetap bergerak berirama menggenggam penisnya. Tidak lama kemudian dari ujung penisnya membasah, terasa dari jari telunjuk saya yang mengusap ujung penisnya, terasa licin dan lengket. Bibirnya mulai bergeser dari bibir saya menuju pipi dan terus ke daun kuping saya. Seperti mengemut permen, daun kuping sekitar anting kanan saya dikulumnya dengan lembut dan suara nafasnya yang memuncak sangat jelas terdengar di kuping saya. Tidak lama kemudian bibirnya pindah mengecup leher sebelah samping di dekat kuduk saya dan terkadang mengecup sambil menyedotnya. “Aah.. ah..” saya berdesah lagi. Ketika asyik mengecup leher saya, dia melihat simpul baju yang persis di kuduk saya, segera kedua tangannya yang berada di pantat saya naik ke atas menuju simpul itu dan dia mulai membukanya, dengan mudah simpul terlepas dan gaun bagian depan dengan sendirinya lepas dan jatuh ke bawah. Buah dada yang sebelumnya tertutup gaun, sekarang terlihat jelas keduanya dan puting yang sudah mengeras dari tadi jelas terlihat.

Sedikit membungkuk, bibirnya menuju buah dada saya yang kanan dan mengecup putingnya. “Ah… ah…” saya benar-benar terangsang. Tangan kirinya kembali meremas pantat saya dan yang kanan menuju buah dada yang kiri dan meremas dengan lembutnya. Dia memainkan puting kiri dengan bibirnya, menghisap, mengecup, mengkulum dan terkadang menggigit dengan ringan. Saya tidak bisa menjelaskan nikmatnya dengan kata-kata. Lidahnya pun terkadang keluar untuk menjilat puting dan sekitarnya yang berwarna kemerah-mudaan. Jari telunjuk dan tengah tangan kanannya memainkan puting kiri saya dengan menjepitnya. Seperti tidak ingin dihalangi apa-apa, tangan kanannya yang berada di pantat saya segera menarik ke bawah gaun saya yang sudah setengah terbuka itu, langsung saja seluruhnya jatuh ke lantai. Tinggal gartar dan stocking yang melekat pada badan saya. Saya berlutut di depannya dan memberi kesempatan untuk membuka dasi dan kemejanya.

Sementara itu saya mulai membukakan celananya, dengan segeranya jatuh ke bawah, dan terus menurunkan celana dalamnya. Sekarang saya dapat melihat jelas penisnya. Saya mendekat dan dengan telapak kanan, kantong di bawah penis saya elus dengan halus, “Oh.. oh..” dia terangsang rupanya. Ujung penisnya saya kecup beberapa kali dan dengan ujung lidah saya jilat belahan yang ada pada ujung penisnya. Memang benar, cairannya mulai keluar sedikit dari ujung penis, terasa asin. Pinggulnya saya pegang dengan kedua tangannya agar lebih mantap melakukan oral. Kepala penisnya saya masukkan ke mulut dan berkali-kali saya kulum dan dihisap. Setiap kali saya hisap dia merintih. Sudah dari tadi dia melepaskan kemejanya, dan sudah tidak ada satu kain pun yang melekat di badannya.

Setelah puas memainkan kepala penisnya di dalam mulut, saya mulai lebih memasukkan penisnya ke dalam mulut saya perlahan-lahan sampai ke pangkal penis, masuk semua ke dalam mulut saya. Saya berhenti sejenak untuk menikmatinya dan sementara itu kedua tangannya membelai-belai rambut saya.Saya mulai menggerakan mulut saya dengan mengeluarkan dan memasukan penisnya dari mulut saya dan sekali-kali saya hisap ujungnya. Seakan sedang makan es mambo dengan nikmatnya, terus saya gerakkan berirama. “Aah… ah.. nikmat sekali, ah…” dia merintih. Sekali-kali saya melirik ke atas melihat wajahnya yang sudah hanyut kenikmatan, saya pun sudah terangsang dan benar-benar lupa segalanya. Sepertinya sudah lama dia tidak melakukan seks, tapi saya tahu dia pengalaman. Cukup lama saya melakukan oral, dan dia bertahan rupanya, tapi tidak lama kemudian kakinya mulai gemetar, tidak kuat berdiri lagi rupanya. Dia menarik saya untuk berdiri, dan setelah itu dia mendorong saya sedikit ke belakang dan mendudukkan saya di tepi tempat tidur.

Sekarang dia gantian berlutut, saya sudah tahu apa yang akan dia lakukan, tanpa diminta saya membuka kaki lebar-lebar sehingga selangkangan saya terlihat jelas. Kepalanya mulai mendekati selangkangan saya dan terus memendamkan kepalanya tepat di daerah bibir bawah, lidahnya berusaha membuka belahan saya dan terus menjilat kacang saya berkali-kali, “Ah.. ah.. ah!” saya merintih agak keras. Dengan bibirnya, dia mengecup dan mengulum kacang saya beberapa saat. Dari situ dia mula menjilat mulut vagina saya dan mengecupnya. Dia menghisap cairan yang sudah dari tadi membasahi vagina saya dan menelannya seakan meminum air, cairan dari dalam vagina semakin banyak keluar, tanda sudah siap untuk tahap selanjutnya. Lidahnya menjulur memasuki mulut vagina dan terus ke dalam, “Ah.. ah..” saya merintih tidak tahan dan meremas-remas kepalanya. Seakan ada suatu makhluk hidup yang masuk ke dalam vagina dan bergerak-gerak. Dia memang sedang memainkan lidahnya di dalam vagina saya. Saya tidak kuat lagi bertahan untuk duduk, akhirnya saya merebahkan diri, sementara itu dia masih terus memainkan vagina saya dengan lidahnya, saya merintih berkali-kali.

Akhirnya kepalanya menjauh dari selangkangan, berdiri dan naik ke tempat tidur untuk bergerak lebih jauh lagi. Kami sudah berada di atas tempat tidur, dia mulai menghampiri saya yang sudah telentang dari tadi. Dia mengambil posisi di atas saya dan dengan halusnya mengecup dan kami saling bercumbu, mengkulum lidah saya di dalam mulutnya, saling bertukar air liur seakan menikmati suatu masakan. Bibirnya bergerak ke leher dan terus mengecup, saya merintih tidak henti-hentinya dan dia menikmati rintihan saya. Bibirnya terus mengecup ke bawah sampai ke pangkal belahan buah dada saya, dan kedua tangannya terus meremas dan memainkan buah dada saya, sesekali menjilat puting. Sementara sedang menciumi kedua buah dada saya, salah satu tangannya menyelinap ke bawah bantal dan seperti mengambil sesuatu. Saya tidak begitu sadar saking nikmatnya suasana. Bibirnya kembali bergeser ke atas dan menciumi belakang daun kuping saya.

Sementara itu salah satu tangannya yang sedang menggenggam sesuatu dia turunkan ke bawah, tidak lama kemudian saya ada kesempatan melihat ke bawah badan saya. Dia sedang menyobek plastik kecil, dia sedang membuka kondom, dan sedang menyiapkan diri untuk dipakai. Tangannya yang memegang kondom saya tangkap dengan tangan saya. Bibir saya segera menuju daun kupingnya dan saya kecup beberapa kali dan kemudian sambil sedikit merintih berbisik kedia, “Tidak usah pakai itu, tidak apa-apa masukkan saja, ah.. ah..” Dia membatalkan untuk memakai kondom. Penisnya sudah berada di ujung vagina, dan mulai memasukkan kepala penisnya, dan saya merintih keras. Kepala penisnya digerak-gerakkan, membuat saya kehilangan kontrol.
“Masukan semua, ah”, saya meminta.
“Keluarkan di dalam saja”, sekali lagi saya meminta. Saya ingin dia menyelesaikan klimaksnya di dalam, ingin merasakan cairan panas kental itu masuk ke dalam tubuh. Seperti sudah mendapat izin, dia terus menekan penisnya mendorong ke dalam vagina. Saya merasakan penisnya yang besar itu terus masuk lebih dalam. Dia masukkan semua sepertinya, saya merasa ujung penisnya mencapai bagian paling dalam vagina saya. Tentu saya merintih-rintih tanpa henti dan memeluk badannya untuk bertahan. Dia mulai menggerakkan pingulnya dan terasa penisnya bergerak keluar masuk vagina saya. Suara seperti orang jalan di tempat becek, terdengar bunyi dari gesekan penisnya dengan ujung vagina yang banjir. Sambil bercumbu, gerakkannya semakin cepat. Pinggul saya pun ikut menyesuaikan gerakannya. Terus menerus saya merintih. Sesekali dia menjilat dan menghisap puting saya yang berdiri menantang dan keras itu.

Mendadak dia memeluk badan saya agak kuat, dan kami merubah posisi dengan memutar badan kami. Dia telentang dan saya berada di atasnya. Seperti menunggang kuda, saya duduk di atasnya dan penisnya tetap berada di dalam saya. Sekarang saya yang mulai menggerakkan pinggul, dia kelihatan menikmatinya, terlihat dari wajahnya. Sementara pinggul saya bergerak semakin cepat. Saya pun merintih karena nikmatnya. Saya paling senang posisi begini. Terasa penisnya masuk lebih dalam dan memang saya merasakan ujung penisnya berada di bagian paling dalam vagina. Sesekali saya jepit penisnya yang sedang berada di dalam. Beberapa menit kemudian dia merintih agak keras, “Aah.. saya tidak tahan, ah.”
Saya pun sudah mendekat klimaks,
“Keluarkan di dalam, ah cepat sekarang!”
Cairan panas terasa keluar di dalam saya, dan saya pun sampai puncaknya.Kami benar-benar menikmatinya sampai akhir. Saya mulai merebahkan diri ke badannya, detak jantung kami terasa masih kencang, dan penisnya masih di dalam saya. Dia mencium bibir saya yang masih bernafas dengan kencang, saya pun menjawabnya dengan mengecup bibirnya.

Pukul empat pagi saya terbangun, saya masih bersama Pak Robert di tempat tidur tanpa sehelai baju. Dia masih tidur dengan lelapnya, saya berdiri dan menuju kamar mandi dan mandi. Saya juga membersihkan bagian dalam saya, terasa air maninya sedikit masih tersisa di dalam.

TAMAT

Sunday, April 2, 2017

Pagi di Italy

Nama saya Vivian, umur 25 tahun, kulit putih bersih dan bentuk badan yang penuh lekuk (dada 36B, pinggang 28, pinggul 36,5 inch). Saya bekerja sendiri, mengelola pabrik garment keluarga dan orang tua saya sekarang tinggal di Singapore. Saya tinggal bebas sendirian di sebuah apartemen di daerah Jakarta Barat.

Saya selalu merasa agak berbeda sebagai wanita yang lahir di bumi timur ini karena saya sangat menikmati seks semenjak pengalaman pertama saya. Saya banyak membaca buku-buku erotis dan selalu terbuka untuk mencobanya. Bagi saya, seks adalah kesenangan yang ingin saya dapatkan setiap saat saya sedang mood. Seks juga bagi saya tidak mesti dengan suami atau hanya pacar saja. Kalau lagi kosong, saya suka ke café-café yang bertebaran di ibukota ini sambil mencari-cari. Siapa tahu ada lelaki ganteng yang bisa menolong saya memuaskan nafsu yang besar ini.

Saya baru kenal Erick sekitar 3 bulan di O'Reylis café dan baru saja tidur pertama kali dengannya awal bulan Juli ini. Pengalaman pertama dengannya sangat mengesankan karena ternyata Erick juga sangat liar di tempat tidur, saya seperti bertemu pasangan yang serasi untuk pertama kali, dan dia juga dapat bertahan cukup lama, malam itu saya tiga kali orgasme. Hmm..., lumayan. Dan bagi Erick, malam itu dia mendapat 'pengalaman yang tak terlupakan'. Saya tidak keberatan sama sekali dengan oral seks dan saya rasa telah melakukan tugas saya dengan baik. Erick seorang pengusaha, ia mengimpor sepatu dan tas dari Italy dan Spanyol. Kebetulan weekend kemarin Erick ada bisnis meeting di Italy, jadi saya di ajak juga olehnya ke sana.

Kami tiba di Italy jam 11.30 malam waktu setempat dan karena berjam-jam di atas pesawat plus perbedaan waktu jadi kami berdua langsung tergeletak di tempat tidur, kecapaian. Pagi itu saya bangun lebih dulu daripada Erick. Saya suka memandang wajahnya yang sedang tidur, begitu tenang tapi tetap macho. Erick punya badan yang kekar, kulit agak kecoklatan, tapi yang paling saya suka dari wajahnya yaitu rambut di sekitar rahangnya, hmm... Saya mulai mengelus rahangnya, terus ke leher dan dadanya (Oh ya, kami terbiasa tidur tanpa busana), sesudah itu tangan saya mulai turun ke daerah pangkal pahanya dan mengelus kemaluannya yang lembut terkulai. Puas dengan tubuhnya, saya bangun dan pergi ke kamar mandi. Saya sedang menggosok badan saya dengan busa bersabun ketika saya merasakan kehadiran Erick dibelakang tubuh saya.

"Oww..., Erick, apa yang kamu lakukan..." kata saya, sambil saya bisa merasakan kemaluannya menjadi keras pas di atas belahan pantat saya yang putih dan bulat. Mungkin karena pemandangan itu juga dia menjadi sangat terangsang. Erick sering bilang bahwa pantat sayalah bagian terindah dari tubuh saya, putih, bulat dan nungging menantang, katanya. Kemudian Erick mengambil busa dari tangan saya dan mulai menggosok badan saya. "Shh..., santai saja, saya mau mandiin kamu" katanya. Kemudian Erick mulai menyabuni saya, seluruh tubuh mulai dari leher, terus ke dada saya..., dengan gerakan memutar Erick menggosokkan busa itu ke kedua bukit saya perlahan. Puting saya langsung mengeras dan berwarna merah jambu kecoklatan tanda saya mulai terangsang, mata saya tertutup menikmatinya kemudian saya merasa bibir Erick sudah mengulum bibir saya dan kita saling berpagutan dengan hotnya. Saya ambil busa itu dari tangan Erick kemudian gantian saya yang menggosok seluruh tubuhnya. Karena saya sudah terangsang, liang kewanitaan saya terasa panas, cepat-cepat kita bilas tubuh kami berdua kemudian saya menjilati puting Erick. Lidah saya bergerak memutari putingnya dan setelah keras, saya gigit perlahan sehingga terdengar erangan Erick. Perlahan sambil dibawah pancuran saya berlutut di depan kemaluannya dan mulai menjilati kepalanya, saya gerakkan lidah saya mendorong lubang di kepala penisnya agak cepat sampai dia mengerang antara geli dan nikmat lalu saya masukkan semua penisnya di dalam mulut saya dan saya hisap dengan gerakan cepat.

Erick sangat suka kalau saya hisap penisnya dengan cepat dan kuat, "Oh, Viv..., kamu hebat, ayo..., goyang, cepat!" Erick sudah mengerang sedemikian dahsyat, perlahan saya kurangi gerakan lidah dan sedotanku. Saya jilati lagi kepala penisnya lalu saya kejutkan dengan sekali isapan yang dalam dan keras lalu saya berdiri. Saya angkat kaki sebelah saya ke atas pinggangnya lalu saya pegang penisnya dan saya arahkan ke dalam liang senggama saya yang sudah basah sejak tadi... Mulanya agak sulit masuk karena liang kewanitaan saya agak sempit tapi Erick terus menggoyangkan pinggulnya maju mundur sehingga basah kuyup liang kewanitaan saya lalu 'blesh...', masuklah semua kemaluan Erick ke dalam liang senggama saya sambil Erick mengangkat kedua kaki saya keatas pinggulnya. Aduh, enaak sekali rasanya bercinta dengan penisnya yang besar. "Oh Erick, nikmat sekali..., ah..., goyang terus sayang, yang dalam sayang, aduh besar deh, nikmat 'yang lagi, lagi" begitulah kita saling bergerak naik turun.

Saya tak mampu menguasai perasaan nikmat di dada sehingga erangan kenikmatan terus terdengar dari mulut saya. "Terus 'yang, terus hampir oh, hampir, lagi.. lagi.. oh, aku mau keluar, aku udah nggak kuat lagi... yeah, oh..., oh..., Ohh..." Satu jeritan dahsyat saya lontarkan karena orgasme yang begitu intens dari Erick. Sementara Erick tidak sedikit pun melambatkan goyangan pinggulnya tapi justru mempercepatnya, saya tahu badan Erick sudah mulai bergetar nikmat. Desah Erick, "Tunggu sebentar lagi sayang, oh, saya juga mau keluar. Oh, oh, kita keluarin barengan.. ohm..., ohm..., yes, yes,.. nikmat kan sayang? Tanya saya sambil terus menjilati daerah-daerah sensual Erick, sementara Erick agak menunduk mencari puncak bukit saya kemudian dihisap dan digigitnya dengan gemas. Lalu desahnya kemudian, "Oh, aku mau keluar sayang..", lalu saya merasa aliran hangat di dalam liang kewanitaan saya, Erick sudah selesai juga. Oh ya saya lupa bilang bahwa kami sangat berisik kalau bercinta. Apakah mungkin karena kita berdua cukup ahli dan sama buasnya? Kami lalu merampungkan kegiatan kami, membilas lalu saling mengelap badan dengan handuk. "Tok.. tok.. oh, sarapan datang, Erick memakai baju mandinya lalu keluar membukakan pintu, saya dengar dia bilang "Terima Kasih.." lalu pintu ditutup, saya keluar bugil dan langsung disambut dengan ciuman Erick yang hangat, kami berciuman lumayan lama. "Untuk permainan kita yang menyenangkan".

Saturday, April 1, 2017

Sari - Nova

Credit goes to Sari The Lust Hunter.
Thanks to Wiro The Legend.

---

Suasana kantor pada hari Jumat jam setengah empat
sore kali ini hampir tidak berbeda dengan biasanya.
Dari ruang pribadiku terdengar hiruk pikuk teman-teman
sekerja yang bersiap-siap pulang, canda ria yang
terdengar lepas, dan tulat tulit ponsel mereka yang
sudah mulai ditelpon dari rumah untuk rencana week
end. Seperti biasanya juga, aku pulang agak terakhir.
Bukan karena rajin, tapi karena aku malas mengemudikan
Katana hijauku dalam antrian panjang berkelok-kelok
yang memenuhi gedung parkir pada jam-jam segini. Aku
tetap duduk di kursi kerjaku, mengerjakan beberapa hal
untuk persiapan hari Senin nanti, agar hari Mingguku
bisa terasa lebih bebas. Setelah aku rasa cukup, aku
membuka-buka beberapa situs favoritku di internet,
seperti FriendFinder, nba.com, dan lain-lainnya.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

"Yak, masuk Nov!" Kataku singkat.
Pintu terbuka, dan masuklah Nova, seorang teman kerja
yang waktu itu baru diangkat menjadi asistenku.
Namanya pernah tertulis juga di serial Lust Hunter
terdahulu.
"Kok tahu kalau aku?" Tanyanya keheranan sambil
menutup pintu kembali.
"Yah...siapa lagi kalau bukan kamu?" Jawabku tanpa
memberitahunya kalau aku sudah hafal pola ketukannya
yang agak lebih keras dibandingkan teman-teman lain.

Wanita itu meletakkan tas kerjanya di sofa putih di
seberang ruangan lalu mendatangi meja kerjaku sambil
matanya sesekali melirik kesana-kemari untuk mencari
benda-benda aneh baru yang memang sering kupajang di
situ. Ketika matanya menemukan sebuah album foto di
meja samping, ia lalu membelokkan arahnya ke situ dan
mencomotnya. Dalam hati aku tertawa geli melihat
tingkahnya yang agak kekanak-kanakan meski usianya
hanya beberapa tahun lebih muda dariku. Kini ia
mengamati foto-foto itu dengan mimik serius, sementara
aku mengamati dia. Nova ialah seorang mantan atlet
yang bentuk tubuhnya terpelihara dengan baik meski
warna kulitnya agak kecoklatan karena dulu sering
diterpa matahari. Wajahnya cukup manis menurutku,
sementara pakaian-pakaian yang menempel di badannya
selalu mengikuti apa yang kupakai, ia juga selalu
mengikuti kemana aku pergi, dan melakukan apa yang aku
lakukan. Pendeknya, dimana ada Sari, disitu ada Nova,
entah dalam bisnis atau just for fun, singkatnya, dia
seorang sidekick sejati buatku. Ia adalah seorang
'petualang baru' yang memilih menjadi petualang karena
kebetulan ia sangat dekat denganku. Agak merasa
berdosa juga aku, jika mengingat saat pertama ia
datang ke kantor memenuhi iklan lowongan koran. Waktu
itu aku sendiri yang mewawancarainya, dan waktu itu ia
tampak masih lugu dengan kacamata berbingkai hitam
tebal dan rambut panjang sebahu serta pakaian
yang...well...konvensional.

Namun sekarang? Dari tempat dudukku aku bisa mengamati
posturnya yang semampai (sekitar 170-an lah) dan
berbahu bidang itu sedang berdiri di sisi ruangan
dengan terbungkus setelan pakaian kerja Escada merah
menyala yang elegan namun terkesan seksi. Kacamata
berbingkai tebal juga sudah digantikan dengan contact
lens coklat, sementara rambut ikalnya kini dipotong
persis seperti rambutku, pendek seleher dan simpel.
Untung saja rambutku lurus, hingga masih tetap ada
bedanya!

"Ini foto waktu kapan, mbak?" Tanyanya membuyarkan
lamunanku.
"Oh, pas SMA." Jawabku singkat, "Kenapa emang?"
"Mbak Sari yang mana?" Tanyanya balik dengan tetap
mengamati album foto itu dengan mimik serius.
"Yang mana, hayooo?" Godaku sambil mematikan MacIntosh
dan beranjak berdiri dari kursi kerjaku.
"Yang ini ya?" Tanyanya sambil menghadapkan album foto
itu padaku dan menunjuk sebuah foto.
"Iya, yang itu." Jawabku sambil membenahi tas kerjaku,
"Cantik, 'kan?"
Kata-kata terakhir itu tadi mendapatkan jawaban berupa
ekspresi mengejek dari wajahnya.
"Norak, ah!" Katanya sambil menutup album itu dan
melemparnya kembali ke meja, "Kaki kepanjangan gitu
masa pakai celana kependekan, apa nggak malah berkesan
kerempeng?" Lanjutnya lagi, yang kubalas dengan sebuah
tinju agak keras di lengannya.

Kami lalu tertawa-tawa sambil menanti jam bergeser ke
pukul setengah lima, supaya perjalanan mobilku lancar
di gedung parkir. Nova menceritakan padaku tentang
masa-masa hidupnya sebagai atlet, tentang
latihan-latihan fisik yang dilakukannya, dan hal lain
yang terkesan macho dan terlalu dibesar-besarkan.
Sementara aku dengan tak kalah membual juga
menceritakan tentang latihan yang kualami pada saat
aku tergabung dalam sebuah klub basket.

"Eh, gimana rencana malam ini?" Tanya Nova di tengah
pembicaraan.
"Aku belum ada rencana lebih jauh." Jawabku, "Kamu ada
rencana apa?"
"Yahhh..." Desah Nova panjang sambil merentangkan
kedua tangannya dan menggeliat malas, "Aku sih pengen
jalan-jalan."
"Jalan-jalan apa jalan-jalan?" Tanyaku dengan nada
menggoda.
"Hmm...", Nova terdiam agak lama, "Pengennya ya
jalan-jalan biasa, tapi kalau nanti ada hasilnya, yah,
nggak apa-apa kan?"
Pembicaraan terus berlanjut hingga akhirnya tiba pada
topik kesenangan wanita, yaitu membicarakan orang
lain. Kami membicarakan seorang kawan yang kebetulan
sering bekerja sama dengan perusahaan kami.
"Mbak Sari, kalau mbak Ida itu orangnya gimana?" Tanya
Nova sambil mengamati pemandangan dari jendela lantai
tujuh ini.
"Apanya yang gimana?" Tanyaku balik sambil mengenakan
blazerku kembali dan bersiap-siap pulang.
"Dia kan single," Jawab Nova, "Apa dia
juga...hm...seperti Mbak Sari?"
"Hihihi," Aku tertawa kecil mendengar 'tuduhan'-nya
itu, "Not really." Lanjutku sambil mematikan lampu dan
mencolek lengan Nova agar mengikuti aku keluar ruang
kerja.

Karena gedung parkir sudah lumayan kosong, Katana
hijauku dengan bebasnya meninggalkan gedung kantor
itu. Nova menumpang di mobilku, agar nanti bisa keluar
jalan-jalan bareng, katanya. Tapi however kami masih
belum punya tujuan yang jelas, hingga kami
berputar-putar saja di daerah itu. Sempat terpikir
untuk mampir ke kafe Jendela tempat beberapa kawan
sering nongkrong, tapi karena masih terlalu sore dan
sepi, akhirnya nggak jadi. Sempat juga ada ide untuk
mampir ke Colors pub, tapi sekali lagi karena masih
terlalu sore, kami mengurungkan niat itu.

"Nov, kamu tadi kok nanya tentang Mbak Ida kenapa?"
Tanyaku karena tidak ada topik yang dibicarakan.
"Nggak apa-apa sih." Jawabnya sembari menggosok lensa
sunglasses Gucci-nya dengan ujung baju, "Just
curious."
"Dengar-dengar...dia orangnya nggak normal, yah?"
Tanya Nova lagi.
"Maksudmu dia sinting?" Tanyaku balik, menghindari
membicarakan kejelekan orang dengan cara mengambil
ekstrimnya.
"Nggak gitu sih," Jawab Nova tetap dengan mimik
serius, "Kata orang, dia nggak suka sama cowok."

"Kalo emang iya, kenapa? Dan kalo enggak, apa kamu
nggak malu nggosipin orang?" Jawabku diplomatis.
Nova tertawa kecil mendengar sindiran itu, "Aku cuman
pengen tahu." Jawabnya tak kalah diplomatis tapi masih
amatiran.
"Kalo emang ternyata iya, apa kamu lantas mau nyoba
kencan sama dia?" Tanyaku to the point.
Wajah Nova tampak menunjukkan ekspresi aneh, perpaduan
antara jijik dan mendapat inspirasi.
"Gini deh, daripada kita ngomongin orang, gimana kalau
kita mampir ke rumah dia." Jawabku sambil menyalakan
lampu sign untuk belok kiri, karena Katana hijau kini
telah sampai di depan rumah orang yang kami bicarakan.
"Lho, lho, lho! Mbak! Jangan dooong!" Rengek Nova
ketika Katana hijau kuparkir di depan rumah besar
dengan design aneh itu.
Aku tidak mempedulikan rengekannya karena setengah
jengkel. Aku hanya membuka pintu dan keluar dari
mobil, meski sambil merengek dan menggerutu tidak
jelas, Nova ikut turun juga.

Sampai ketika aku memencet bel pintu, Nova masih juga
tampak tidak tenang. Ia berkacak pinggang sambil
melihat ke langit yang kini berwarna ungu bercampur
oranye. Rumah yang kami kunjungi itu terletak di tepi
sungai kecil dengan lingkungan tertutup yang dipenuhi
pohon-pohon besar (Dan para pembaca yang berasal dari
kota S akan berpikir-pikir, kira-kira dimana letaknya,
ya kan? Hihihi, LH) sehingga suasana jadi agak
remang-remang dramatis.
Seorang pembantu pria berwajah Maluku berbadan tegap
keluar dari balik pintu dalam dan kembali masuk
setelah aku menyebutkan nama orang yang aku cari.
Pintu kembali terbuka, tapi bukan si pembantu yang
keluar, melainkan seorang, eh seekor anjing St.Bernard
sebesar meja makan.

"Aduh, Mbak...ada anjingnya, pulang aja yuk!" Seru
Nova merasa mendapat alasan.
Aku hanya memandangi wajah Nova dan wajah anjing itu
bergantian, lalu menunjuk ke anjing yang kini menatap
wajah Nova sambil menjulurkan lidah dan
mengibas-ngibaskan ekor.
"Tuh lihat!" Kataku, "Dia menyukai kamu, jadi nggak
ada masalah."
"Hm...masa sih?" Tanya Nova sambil berlutut dan
mengamati wajah anjing yang berekspresi lugu agak
bodoh itu dari balik pagar.

Si pembantu muncul dan membukakan gerbang pagar yang
terbuat dari kayu berat berlubang-lubang di sana-sini
itu. Kami melangkah masuk. Aku melangkah dengan
tenang, sementara Nova melangkah agak gelisah sambil
sesekali melihat ke arah anjing besar yang kini
berjalan mengikutinya. Besar sekali memang, tingginya
saja hampir sepinggang kami. Si pembantu lalu
mempersilakan kami duduk di kursi beranda, tentu saja
dengan ditemani St.Bernard besar itu, yang kini duduk
bersimpuh di lantai memandangi Nova dengan ekspresi
yang seperti tadi, lugu setengah bodoh.

Nuansa rumah itu memang agak mendirikan bulu tengkuk
bagi orang yang belum pernah mengunjunginya. Pagarnya
terbuat dari kayu berwarna gelap yang terkesan berat
dan tertutup. Pekarangannya yang tidak terlalu luas
ditutup dengan paving block yang dicat cokelat gelap,
senada dengan tembok rumah yang juga berwarna maroon
gelap. Bangunannya sendiri mungkin cukup bagus,
bangunan tua dengan arsitektur kolonial, namun
sentuhan seni kontemporer di sana-sini membuatnya
tampak aneh. Bayangkan saja, lampu temaram yang
menempel di dindingnya berbentuk kepala wanita yang
melotot, asbak di meja beranda pun berbentuk kepala
seorang bayi (atau tuyul?) yang mulutnya menganga
lebar. Perpaduan yang agak aneh karena meja dan kursi
berandanya berwarna hijau tua dan berbentuk ukiran
Jepara klasik. Di sudut beranda juga terdapat beberapa
patung kayu ukiran Bali yang menggambarkan dua orang
wanita tanpa busana sedang saling mencekik.
"Angker ya, rumahnya?" Celetuk Nova yang rupanya juga
mengamati situasi.
"Yah, tapi dia satu-satunya designer yang setuju
dengan harga yang kamu tawarin!" Jawabku mengingatkan
Nova.
"Hm, iya ya. Mbak Ida partner kantor kita." Gumam
Nova, "Apa nggak sebaiknya nanti kita ngomongin
kerjaan aja?"
"Alaa, udahlah, sekarang Jumat malam." Jawabku
jengkel, "Lagian kan kamu pengen kenal lebih jauh sama
dia?"
"Siapa yang pengen kenalan sama aku?" Tanya suara
berat seorang wanita yang terdengar tiba-tiba dari
samping beranda.

Nova dan aku sempat agak terjingkat karena kaget oleh
suara Mbak Ida yang memang berat itu. Wanita berusia
30-an itu telah berdiri di samping beranda dan
mengelus-elus kepala anjingnya. Meski usianya agak
lebih tua dari aku, Mbak Ida memiliki postur tubuh
yang terjaga. Tidak seperti Nova dan aku yang meski
ramping tapi terkesan lebar dan bidang, postur tubuh
mbak Ida cenderung tidak nampak lebar. Tingginya
kurang lebih 160-an, dengan proporsi yang lebih
panjang di kaki. Kulitnya agak gelap dan bentuk
tubuhnya padat tapi khas wanita dengan dada yang agak
membusung. Sore itu ia mengenakan sejenis kimono
berwarna coklat gelap yang belahannya agak rendah
hingga kami dapat dengan jelas melihat cleavage
(belahan dada) nya. Rambutnya yang lurus dan panjang
sebahu dicat merah. Merah beneran, merah bendera,
bukan merah brunette. Wajahnya  cantik namun matanya
terkesan misterius di bawah alis yang hampir tidak ada
rambutnya.

"Ini, si Nova yang pengen kenalan sama Mbak Ida."
Jawabku seraya berdiri dari kursi beranda.
"Lho, kan udah kenal?" Jawab Mbak Ida sambil menjabat
tangan Nova yang malu-malu dan agak gemetar.
"Ayo masuk!" Seru Mbak Ida mempersilakan kami masuk.
"Bas, kamu jaga diluar ya!" Serunya, kali ini
ditujukan ke si anjing.
"Mbak, nama anjing kamu siapa sih?" Tanyaku ingin
tahu.
"Lubas Herera." Jawab Ida singkat sambil membukakan
pintu ke ruang tamu.
Aku hanya memandangi anjing dan pemiliknya bergantian,
setengah heran karena jarang ada anjing yang punya
nama belakang.

Suasana ruang tamu yang amat luas itu berbeda 180
derajat dengan beranda dan pekarangan yang gelap dan
misterius. Dinding ruang tamu berwarna putih cerah,
lantainya juga terbuat dari keramik putih. Sementara
perabotannya bergaya modern, terbuat dari pipa-pipa
besi berlapis chrome mengkilat dengan
bantalan-bantalan kursi biru cerah. Satu-satunya
hiasan dinding adalah jam yang tepinya terbuat dari
ban penyelamat kapal berwarna merah terang bergaris
putih, dan jarum jamnya juga berwarna merah terang,
kontras dengan nuansa ruangan yang biru-putih. Tidak
ada coffee table (meja tamu), yang ada hanya sebuah
meja makan di tengah ruangan yang kakinya terbuat dari
pipa-pipa mengkilat dan mejanya sendiri dari kaca
dengan bentuk yang tidak simetris, seperti sirip ikan
hiu. Di sudut ruangan terdapat tiga buah komputer
MacIntosh yang casing dan monitornya berwarna biru
transparan, semuanya masih menyala dan screen savernya
berbeda-beda, di monitor paling kiri ada huruf I yang
berputar-putar, di monitor tengah huruf D, dan di
monitor paling kanan huruf A, ketiganya membentuk
huruf nama pemiliknya, benar-benar nyentrik, pikirku.
Sementara dinding belakang dari ruang tamu ini bukan
tembok, melainkan kaca yang menghadap ke sebuah kolam
renang kecil berbentuk pisang. Yang paling aneh adalah
dinding dan dasar kolam renang itu tidak polos seperti
umumnya kolam renang, melainkan dipenuhi sebuah anime
(kartun jepang) besar yang menggambarkan wanita-wanita
yang dibelit gurita. (Setelah diamati lebih jauh,
ternyata bukan gurita, melainkan kejantanan pria yang
jumlahnya banyak dan panjang-panjang seperti ular
melilit badan wanita-wanita tanpa busana itu).

"Yah, ginilah rumahku." Kata Mbak Ida memecah
keheningan, "Gimana?"
"Hm...bagus, bagus sekali," Jawab Nova
mengangguk-angguk tanpa mampu menyembunyikan ekspresi
gugup setengah takut.
"Berbeda sekali dengan waktu aku kesini pertama dulu."
Jawabku sambil mengamati jam dinding aneh yang
kuceritakan tadi.
"Iya dong, Sar." Jawab Mbak Ida, "Kami kan tipe
pembosan, kayak kamu!" Lanjutnya penuh arti.

Kami duduk mengelilingi meja makan berbentuk sirip
hiu itu, menghadap ke beberapa gelas sirup yang
dihidangkan si pembantu yang tadi membukakan pintu.
Nova tak henti-henti memandangi rambut Mbak Ida yang
dicat merah menyala itu, sementara aku sendiri
berusaha untuk tidak menunjukkan ekpresi heran, takut
dia tersinggung.
"Nah, ada apa ini kok kemari? Ada order lagi yah?"
Tanya Mbak Ida mengawali pembicaraan setengah
bercanda.
"Ah, enggak, hanya nggak ada acara aja sore ini."
Jawabku sambil menyeruput minuman di gelas berbentuk
kepala Miki Tikus.
Agak kaget juga aku ketika minuman di gelas itu
menyembulkan sedikit aroma alkohol, aku hanya meneguk
sedikit saja karena aku memang tidak suka minuman yang
memabukkan. Aku melirik ke Mbak Ida sambil mengangkat
alis kiriku,
"Apa nih minumannya?" Tanyaku dengan mata menuduh
namun masih terkesan ramah.
"Oh, iya!" Jawab Mbak Ida dengan ekpresi datar, "Aku
lupa kamu nggak minum."
Mbak Ida lalu berjalan ke dispenser di sudut ruangan
dan menuangkan segelas air putih untuk aku. Ketika ia
berjalan meninggalkan meja makan, aku melirik ke arah
Nova.
"Nov, kalau nggak suka nggak usah diminum, lho."
Bisikku mencegahnya.
"Hmm?" Tanya Nova sambil melihat ke arahku dan
meletakkan gelasnya yang telah kosong ke meja. Ah, ya
sudahlah. Aku mengurungkan niatku mencegah Nova
meminum minuman aneh itu.

Kami lalu ngobrol kesana kemari diselingi joke-joke
khas wanita lajang. Suasana menjadi hangat dan akrab.
Tanpa terasa jam dinding menunjukkan pukul delapan
malam, namun Nova yang tadi takut-takut, kini malah
tampak betah. Memang Mbak Ida, terlepas dari bagaimana
bentuknya, adalah orang yang ramah dan menyenangkan.
Sekedar info, ia adalah seorang designer yang kerap
kali bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja.
Dan ia sering kami pakai karena kelebihannya itu, ia
memiliki 'people skill' yang tinggi. Tidak seperti
umumnya orang seprofesi dia, yang sulit untuk memahami
orang lain dan cenderung menganggap orang lain 'awam'.
Meski gayanya mendandani rumah cenderung aneh, dia
sama sekali bukan tipe orang yang nyentrik atau
'weird' dalam hubungan kerja. Ia amat profesional.
Pembicaraan berlanjut sampai kemudian Mbak Ida
mengantar Nova berkeliling rumahnya. Aku yang dulu
sudah pernah kesitu tidak ikut berkeliling, aku
mengambil sebuah buku dari rak di sudut ruangan dan
mulai membacanya. Sebuah buku paperback bagus, yang
berjudul Rich Dad Poor Dad, oleh Robert Kiyozaki.
Cukup lama aku membaca buku itu sampai kemudian Nova
datang kembali ke ruang tamu menjumpaiku.
"Mbak Sari, pulangnya nggak buru-buru kan?" Tanyanya
dengan mata kekanak-kanakan.
"Oh? Nggak kok." Jawabku sambil melirik arloji, "Emang
mau ngapain kamu?"
"Mbak Ida ngajak aku nyobain kolam renangnya, kata dia
airnya hangat." Jawab Nova lagi.
"Yah, terserahlah. Tapi apa kamu bawa baju renang?"
Tanyaku.
"Dia mau minjemin kita baju renang kok." Jawab Nova
sambil menunjukkan sebuah kantong plastik yang berisi
pakaian renang.
"Ganti bajunya di kamar mandi situ, Nov!" Kata Mbak
Ida yang tiba-tiba muncul.
Kali ini Mbak Ida muncul dengan kimononya sudah tidak
lagi diikat, dibiarkannya terbuka begitu saja, dari
balik kimono tampak bikini renang berwarna merah
seperti rambutnya. Hm...kontras dan indah juga
perpaduan warna itu, kulitnya yang kuning agak gelap
dan bikini serta rambut merah. Dalam hati aku sempat
iri dengan bentuk badan Mbak Ida yang padat dan
berbentuk, sementara badanku sendiri cenderung ceking
dan datar panjang-panjang.
"Kamu ikutan sekalian deh, Sar!" Ajak Mbak Ida lagi,
"I Promise I won't do anything." Lanjutnya penuh arti.
Aku hanya mengangkat bahu dan tidak punya pilihan
lain. Apalagi Nova menarik lenganku masuk ke kamar
mandi.

Kamar mandi rumah ini jadi terkesan aneh karena tidak
ada yang aneh di dalamnya. Kamar mandi klasik
berukuran besar dengan bak mandi di sudut, cermin
besar di dekatnya, sebuah kloset di sampingnya, dan
sebuah pintu menuju ke ruang lain. Begitu 'biasa' jika
dibandingkan dengan suasana dalam rumah. Di situ Nova
tanpa malu-malu mempreteli semua yang melekat di
badannya dan mengenakan bikini yang dipinjamkan Mbak
Ida.

"Kamu kok milih yang bikini sih?" Tanyaku sambil
memilih-milih pakaian renang dalam kantong plastik.
"Emang kenapa, Mbak?" Jawab Nova sambil
melenggak-lenggok di depan cermin menatap keindahan
bentuknya yang memang indah.
"Kan nggak ada cowok." Lanjutnya lagi.
Aku memilih pakaian renang biasa saja, Speedo berwarna
biru muda. Hm, terasa agak longgar di bagian dada dan
pinggang, menunjukkan dimana perbedaan antara bentuk
badanku dan badan Mbak Ida. Sempat menatap cermin,
dan...yah...aku memang sama sekali tidak jelek!
Pikirku sambil menatap garis tubuhku yang menurutku
paling indah di seluruh dunia.

Tiba di pinggiran kolam renang Mbak Ida, rasa-rasanya
aku malas untuk masuk ke air. Entah kenapa, tapi
rasa-rasanya gambar kartun di dasar dan dinding kolam
itu mengganggu pikiranku. Sementara Nova hanya
mengomentari bahwa gambar kartun itu lucu. Yah, memang
dia jarang memperhatikan sampai ke detail, hingga dia
lantas nyemplung begitu saja bersama dengan Mbak Ida
yang sudah lebih dulu masuk ke air. Dari tepi kolam
aku mengamati bahwa di dinding-dinding kolam renang
terdapat lampu-lampu besar, hingga dalam air dapat
terlihat dengan jelas. Aku melihat tubuh lencir Nova
berenang-renang dengan latar belakang gambar-gambar
wanita kartun yang ketakutan karena dililit oleh
'ular-ular' besar. Hm...pemandangan yang menarik
sebenarnya, namun aku memilih untuk duduk saja di tepi
kolam, membiarkan angin malam menyejukkan kulit
tubuhku yang hanya tertutup pakaian renang. Karena
merasa kelewat dingin, akhirnya aku membungkus badanku
dengan kimono Mbak Ida yang ditinggalkannya di tepi
kolam, dan berjalan mengelilingi halaman belakangnya
yang lumayan besar dan bersih, mencari si pembantu
tadi sekedar untuk teman ngobrol, tapi pemuda itu juga
tidak ada. Dalam hati aku merasa sedikit bersalah
karena mengerti siapa Mbak Ida sebenarnya. Wanita itu
tak lain adalah petualang juga, sama seperti aku
sendiri. Namun yang berbeda adalah bahwa buruannya
seringkali berasal dari teman sejenis, dan bukan lawan
jenis. Itu sebabnya pikiranku sekarang terasa seperti
membawa Nova ke mulut singa. Tapi, ah, whattahell! Aku
kan bukan babysitter untuk Nova. Meski keberadaannya
seringkali membuatku merasa memiliki seorang adik,
tapi jalan hidupnya kan bukan urusanku, itu pilihannya
sendiri.

Dari tempatku berdiri di sudut halaman belakang,
kolam renang Mbak Ida tidak terlihat karena tertutup
pagar tanaman setinggi satu meteran. Tapi setelah
lama, aku baru menyadari kalau aku tidak mendengar
suara deburan air seperti yang kudengar tadi. Aku
mulai merasa tidak enak, dan segera melangkahkan kaki
ke arah kolam renang. Seperti dugaanku, Nova dan Mbak
Ida sudah tidak berada di kolam renang, juga di
sekitarnya, mereka mungkin sudah masuk ke dalam rumah.
Aku berusaha melihat melalui dinding kaca, tidak ada
siapa-siapa di ruang tamu atau ruang tengah. Dimana
kedua orang itu, pikirku.

Kucoba membuka pintu kaca geser untuk masuk ke ruang
tengah, ternyata terkunci. Berarti aku terpaksa harus
memutar melalui pintu depan. Agak risih juga hanya
mengenakan pakaian renang terbalut kimono tipis dan
berjalan di antara pohon-pohon pisang di kegelapan.
Akhirnya aku sampai ke garasi tempat 318i Mbak Ida
teronggok congkak. Lalu membelok ke kiri, dan aku tiba
di beranda yang menakutkan tadi. Tampak si Lubas
Herera kini memandangi aku sambil mengibas-ngibaskan
ekor. Anjing tolol ini tentu tidak bisa ditanyai
keberadaan tuannya, pikirku. Lalu aku membuka pintu
depan yang untungnya tidak terkunci, dan kembali
berada di ruang tamu. Seperti yang kuduga, ruang tamu
itu kosong. Aku berjalan mondar-mandir disitu sambil
memikirkan kira-kira kemana kedua temanku tadi.

Akhirnya aku mencoba alternatif terburuk, yaitu kamar
tidur Mbak Ida. Konyolnya, aku tidak menjumpai pintu
lain selain ke kamar mandi dan ke kolam renang tadi.
Rumah ini memang terasa begitu besar karena tidak ada
sekat-sekat ruangannya. Berarti dimana letak kamar
tidurnya? Setelah berpikir beberapa menit, naluri
petualangku mengatakan bahwa kamar tidur seorang
'pemburu' umumnya tergabung dengan kamar mandi atau
setidaknya memiliki akses langsung ke kamar mandi. Aku
jadi teringat akan pintu di kamar mandi tadi.
Segeralah aku melangkah ke kamar mandi, oops! kimono
panjang ini mengganggu langkahku, jadi aku melepaskan
dan menaruhnya di meja makan.

Setibanya aku di kamar mandi, terlihat pintu yang
kumaksud terbuka sedikit. Lampu kamar mandi yang
terang membuat aku tidak dapat melihat apa-apa dari
celah pintu itu, tampak temaram di sana. Pelan-pelan
aku melangkahkan kaki ke sana. Setelah makin dekat,
terasa dinginnya hembusan hawa AC dari celah pintu
yang terbuka sedikit itu, terdengar pula alunan lembut
musik soundtrack Titanic dari Kenny G. Hm...Apakah
mereka berdua ada di situ? Kalaupun iya, apa yang
mereka lakukan? Bukankah Nova seorang straight? Apakah
Mbak Ida mencoba menjahili Nova? Atau apakah Nova
ingin mencoba petualangan baru? Berbagai pikiran jorok
berkembang dalam benakku, membuat aku tidak segera
memasuki ruangan di balik pintu itu. Hm...Apakah aku
harus langsung masuk? Atau mungkin menunggu di ruang
tamu sambil pura-pura tertidur? Atau harus mengintip
dulu? Uhh...bingung juga. Anyway, aku harus melakukan
sesuatu, bukan?

Setelah memantapkan diri aku memegang handel pintu
dan dan mendorongnya hingga terbuka. Nah, tampaklah
kamar tidur Mbak Ida yang ternyata tidak terlalu
besar, namun dindingnya berlapis kayu jati berwarna
gelap. Lampu yang kuning temaram membuat suasana
terasa gelap. Dinding kayu itu polos tidak tertempeli
hiasan apa-apa, karpet tebal di lantai juga polos
berwarna coklat tua, tepat di tengah-tengah ruangan
teronggok tempat tidur kayu besar. Nah, di atas
ranjang besar itulah Nova tertelungkup dengan
bikininya, sementara si pembantu pria yang tadi
kucari-cari kini sedang duduk di atas pantat Nova dan
memijiti punggung wanita itu. Keduanya tampak agak
terkejut melihat kehadiranku.
"Wah, Sari! Kamu juga mau ikutan ya?" Terdengar suara
Mbak Ida mengejutkanku.

Wanita itu duduk di sebuah sofa di pinggir kamar.
Rambutnya masih tampak basah dari kolam renang tadi,
bikini merahnya yang tipis dan agak basah tidak
berfungsi menyembunyikan apa-apa lagi.

"Pjitan si Beni enak nggak, Nov?" Cerocos Mbak Ida
lagi.
"Mmm...mmm...lumayan lah, mbak!" Jawab Nova yang masih
tertelungkup di ranjang, dipijit oleh si Beni yang
bertelanjang dada.
"Oh, well..." Aku seperti kehabisan kata-kata karena
dihadapkan pada suasana yang agak tidak wajar.

Aku lantas duduk di sofa di samping Mbak Ida,
mengamati wajah Nova yang kini tampak terpejam-pejam
karena otot kakinya sedang dipijat oleh si Beni. Dari
cara memijatnya, sepertinya Beni memang orang yang
ahli dalam hal tersebut, bukan hanya seorang yang asal
pencet. Setelah sesaat mencoba beradaptasi, aku
menengok ke Mbak Ida.

"Mbak Ida nggak dipijit juga?" Tanyaku.
"Aku sih udah selesai." Jawabnya singkat, "Kamu mau
nyoba? Enak lho, Sar."
"Iya coba aja Mbak Sari!" Sahut Nova yang rupanya
sudah selesai dipijit, ia kini menghampiri sofa tempat
kami duduk.
"Enak kok, jadi terasa lebih lentur seperti jelly!"
Candanya menambahkan.
"Eh, Ben! Jangan kembali dulu, nih Ibu Sari juga
pengen dipijit!" Seru Mbak Ida pada pemuda Maluku itu.

Aku beranjak menuju tempat tidur besar itu. Beni
tampak tersenyum manis dan mengangguk hormat padaku.
Hmm...Not bad, pikirku. Meski amat pendek dan hanya
setinggi dadaku, pemuda ini otot-ototnya lumayan
'jadi' juga. Beni yang kulit tubuhnya hitam legam itu
hanya mengenakan celana jeans pendek yang menunjukkan
adanya tonjolan khas pria, baguslah, pikirku. Ia
normal, pria mana yang tidak bereaksi seperti itu
kalau diijinkan menyentuh badan si Nova yang memang
atletis dan kesat. Nah, kita tunggu bagaimana reaksi
dia setelah memijiti badan si pemburu ini, hmm, pemuda
yang beruntung, pikirku nakal.

"Apa perlu saya buka pakaian?" Tanyaku pada Beni
dengan nada serius namun bertujuan menggoda.
Pemuda itu diam dan tampak bingung lalu melirik ke
arah majikannya.
"Hahahahahaha!" Mbak Ida tertawa gelak, "Nggak apa-apa
Ben! Ibu Sari itu badannya oke punya lhoo!"

Beni tampak ragu-ragu dan menelan liur, reaksi yang
aku sukai untuk digoda! Aku malah tanpa ragu-ragu
menurunkan lengan pakaian renang ini ke kiri kanan dan
menariknya ke bawah, hingga kini pemuda beruntung itu
dapat melihat segalanya di bawah sinar lampu yang
kuning temaram. Mulut Beni menganga menyaksikan
semuanya. Di hadapannya berdiri si pemburu, tanpa
selembar benangpun, dengan postur yang satu setengah
kali lebih tinggi darinya, berwarna kuning bersih dan
halus semampai. Aku menarik nafas dalam agar kedua
dadaku membusung ke depan, lalu menghembuskan nafas
lagi hingga kedua bukit yang tidak besar itu kembali
ke posisi semula, dan bola mata Beni mengikuti gerakan
kedua benda indah itu. Aku tersenyum sambil
menyipitkan mata menggodanya, dan memanjat naik ke
ranjang dan membaringkan badanku tertelungkup di kasur
pegas empuk itu.

"Hey, ayo, jangan bengong, Ben!" Seru Mbak Ida sambil
tertawa-tawa, "Tunjukkan pijitan terbaikmu!"
"Lho, emangnya yang diberikan ke aku tadi bukan
pijitan dia yang terbaik?" Tanya Nova yang kini duduk
di samping Mbak Ida.
"Lah, kalau buat Sari ya lain dong Nov!" Cerocos Mbak
Ida lagi, "Untuk Sari kan harus
yang...hm...menyentuh!"

Nova dan Mbak Ida lalu tertawa tawa sementara kini
kurasakan tangan-tangan Ben mengoleskan baby oil ke
betisku dan mulai memijit. "Waaaa!" Aku menjerit keras
ketika kurasakan pijitan jari-jari Ben begitu keras
dan menyakitkan. Kontan saja Beni menghentikan
pijitannya dan memasang ekspresi penuh rasa bersalah.
"Pelan-pelan aja, Mas Beni!" Kataku mencoba
menghiburnya, "Mulai dari punggung aja nggak apa-apa
kok."

Lantas Beni mulai mengolesi punggungku dengan baby
oil, dan mulai memijit pelan-pelan. Hmm...harus kuakui
rasanya memang mantap dan membuat rileks. Biasanya,
pria yang tahu memijit wanita adalah pria yang hebat
di ranjang, tapi aku segera membuang pikiran konyol
itu dan memejamkan mata menikmati pijitan-pijitannya
yang melemaskan otot. Hm, menyenangkan sekali dipijit
oleh pemijit ahli, di ruangan ber AC yang temaram,
diiringi musik instrumental Kenny G.

Saat asyik-asyiknya memejamkan mata menikmati
suasana, aku sayup-sayup mendengar erangan wanita di
tengah alunan lembut saxophone itu. Apakah memang di
kaset Kenny G terdapat sound effect seperti itu? Ah,
aku rasa tidak. Aku membuka mata sedikit, dan menatap
lurus ke arah sofa di pinggir kamar. Dan aku segera
mendapat jawaban darimana rintihan itu berasal.
Di atas sofa itu, Mbak Ida juga tampak sedang memijit
badan Nova dari belakang. Tepatnya, Mbak Ida sedang
mengusap-usap pinggang Nova yang terbuka, sambil
menciumi leher kawanku itu. Novanya tidak menunjukkan
perlawanan sedikitpun, malah tangan kirinya memeluk
kepala Mbak Ida yang kini mencium dan menjilati leher
kirinya. Pelan-pelan jemari lentik Mbak Ida merambati
pinggang Nova ke atas, lalu menyusup ke balik bikini
basah yang dikenakan Nova. Membuat payudara Nova
seperti tersentak-sentak karena nafasnya menjadi sulit
diatur. Wajah Nova yang terpejam itu kini tampak
begitu terangsang oleh gerakan-gerakan Mbak Ida.
Dengan gerakan cepat, Mbak Ida melepaskan bikini
bagian atas itu, hingga kini kedua payudara Nova yang
memang menurutku amat indah, padat, putih bersih
dengan puting kecoklatan itu terpampang jelas.
"Hey, kamu kok membuka mata, Sar?" Kata Mbak Ida yang
kini menatap tajam ke arahku.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kulihat wajah Nova,
wajah itu kini tampak sayu dan matanya menatap ke
arahku dengan tatapan dingin dan datar, seolah tidak
ingin aku mengganggunya. Ya ampun, pikirku. Apa yang
aku kuatirkan telah terjadi. Pijitan-pijitan Ben kini
tidak lagi terasa. Aku mengangkat kepalaku dari
ranjang dan bermaksud meminta Mbak Ida berhenti
mempermainkan badan Nova. Namun Nova malah mengelus
paha Mbak Ida yang kini menghimpit pinggangnya di
kiri-kanan.
"Tenang aja lah Sar, Nggak apa-apa kan,
sekali-sekali!" Seru Mbak Ida, "Ben, kamu ikuti apa
yang aku kerjakan ya?"

Mengakhiri kalimatnya itu, Mbak Ida lalu meremas-remas
payudara Nova dengan mantap namun lembut sambil
menjilati rahang dan lehernya. Nova tampak memiringkan
kepalanya, terpejam-pejam sambil mendesah-desah
menggumamkan nama Mbak Ida. Tiba-tiba aku merasakan
apa yang kini dirasakan oleh Nova. Tangan-tangan Beni
menyusup di antara payudaraku dan kasur ini, lalu
meremas-remas dan memilin-milin puting susuku. Aku
terhenyak dan memejamkan mata karena serbuan yang
tiba-tiba itu, segera aku mengosongkan pikiran dan
membuang semua logika, membiarkan diri larut dalam
petualangan baru.

Pelan-pelan aku merasa tubuhku diangkat dan
didudukkan di ranjang, sementara Beni duduk di
belakangku dan mengusap serta meremas-remas kedua
payudaraku lembut. Sejenak kemudian puting-puting
susuku terasa menegang terangsang, sementara payudara
ini terasa kaku dan memadat. Aku membuka mata dan
melihat bagaimana Mbak Ida menghimpit pinggang Nova
dari belakang dengan kedua kakinya, ibujari kaki kanan
Mbak Ida kini menyusup ke balik celana bikini Nova dan
bergerak-gerak disitu, sementara tangannya terus
menjentik-jentik puting susu Nova. Mbak Ida sendiri
tampak amat terangsang, dagunya terkait di pundak kiri
Nova sambil wajahnya terpejam-pejam, mungkin karena
gesekan dadanya dengan punggung Nova. Sementara Nova
tak kalah terangsang, kedua alisnya menyatu di tengah
kening dan giginya terkatup meski bibirnya setengah
terbuka, dan mendesah-desah norak,
"Aduuhhhh...aduuuhhhh....enaknya Mbak
Idaaahhhh...aduuhhhhssshh. Birahi dalam tubuhku
tergugah ketika melihat Nova diperlakukan seperti itu,
terbayang rasanya jika badanku diperlakukan demikian.

Tampaknya Beni menyadari hal itu, namun tidak
menirukan gerakan Mbak Ida. Ia menyusupkan kepalanya
di bawah ketiak kiriku dan mengulum-ngulum puting
susuku dari situ, Uhhh...rasanya geli dan merangsang
bukan main. Sementara jari-jari tangan kanannya
menguakkan bibir kewanitaanku hingga terbuka dan jari
tangan kirinya memijit-mijit di dalam situ,
Aduuuhhhh...nafasku sampai tersengal-sengal dan
rasanya sulit menjaga kedua mataku agar tidak
menyipit-nyipit. Aku hanya menggeretakkan gigiku
rapat-rapat menahan rangsangan ini. Ingin memejamkan
mata, namun aku tidak ingin melewatkan pemandangan di
hadapanku, dimana Nova sedang dikerjai habis-habisan
oleh tangan-tangan Mbak Ida yang begitu berpengalaman.
Ohh, sungguh pemandangan yang membuat kewanitaanku
berdesir melembab.

Titik-titik keringat mulai tampak di tubuh Nova meski
AC sangat dingin. Tubuh lencir atletis itu kini tampak
lunglai seperti selembar handuk, dan pasrah saja
ketika Mbak Ida menelentangkannya di karpet dan
menjilat-jilat paha bagian dalamnya. Saat diperlakukan
seperti itu, Nova menggeliat-geliat seperti kesetanan
sambil mengaduh-aduh keras dan kedua tangannya
berpegangan pada kepala Mbak Ida di selangkangannya.
Melihat kondisi itu, otot-otot kewanitaanku tiba-tiba
mengejang menangkap jari tengah Beni yang sedang
berada di dalamnya. Merasakan jarinya dijepit begitu,
Beni malah menggerakkannya keluar masuk kewanitaanku
dengan cepat sambil mengait-ngait di dalam, tentu saja
tubuhku jadi terjingkat-jingkat kegelian dan
punggungku melengkung seperti busur panah. Kudekap
kepala Beni yang menempel pada puting susu kiriku agar
ia tak menghentikan hisapan dan jilatannya pada puting
yang telah mengeras ini. Rintih dan eranganku ikut
terdengar memenuhi ruangan, menutupi lembutnya alunan
saxophone Kenny G.

Aku benar-benar telah terangsang hebat. Aku tidak
lagi mempedulikan Nova dan Mbak Ida yang kini tengah
berpelukan erat sambil paha-paha mereka saling
menggesek kewanitaan mereka. Aku bangkit dari duduk
dan menunggingkan badanku, mempersilakan Beni
menikamkan kejantanannya. Sejenak Beni melepaskan
tubuhku, terdengar suara kain berjatuhan saat Beni
membuka Jeans-nya, lalu tubuhku segera terasa penuh
terjejali benda hangat yang keras dan tegang, yang
membuatku langsung terpejam dan menengadahkan kepala
menahan rasa nikmat tak terkira ini. Aku setengah
membuka mata sambil meringis-ringis keenakan. Kedua
alisku kini menyatu di keningku, mengikuti ekspresi
penuh birahi dari Nova dan Mbak Ida di karpet. Terasa
pinggul Beni menabrak-nabrak pantatku ketika ia
menggerakkan tubuhnya maju mundur. Gesekan
kejantanannya terasa membuat dinding-dinding
kewanitaanku menjadi panas dan berdenyut. Otot-otot di
dalam sana berusaha mencengkeram kejantanan yang
bertekstur kasar itu...Aduuuhhhh...rasanya nikmat
sekali disetubuhi dari belakang sambil menatap tubuh
kawan sekantorku dinikmati habis-habisan oleh seorang
wanita petualang berpengalaman.

Bermenit-menit lamanya posisi tidak berubah, namun
kenikmatan serta sensasi yang kurasakan terasa kian
memenuhi batinku. Badanku terasa begitu nikmat
digempur oleh kejantanan Ben, apalagi kedua telapak
tangannya kini berada pada payudara-payudaraku dan
memencet-mencet puting susuku. Uhhh...enak sekali
rasanya...Dari atas ranjang besar ini, aku melihat
tubuh-tubuh indah Mbak Ida dan nova kini saling
berdekapan makin erat dan kaki-kaki mereka semakin
cepat bergerak pada selangkangan mereka...lalu kedua
tubuh semampai itu tiba-tiba mengejang dan wajah-wajah
mereka menunjukkan eksresi kosong yang setengah
memejamkan mata dan mulut menganga. Lalu keduanya
lunglai di atas karpet sambil terengah-engah dan tetap
berpelukan. Aku membayangkan nikmat dan hangatnya
puncak yang telah mereka capai dan
menggoyang-goyangkan pinggulku untuk berjuang mencapai
puncakku sendiri. Beni tampaknya juga dapat bekerja
sama, ia mengikuti gerakan-gerakanku. Namun tidak
semuanya sesuai harapan, tiba-tiba Beni mencabut
kejantanannya dan melepaskan kedua payudaraku. Aku
masih tetap menungging pada kedua lututku di ranjang
ketika cairan panas terasa menyemprot ke punggungku.
Ahhh, sial benar nasibku. Beni telah mencapai
puncaknya, dan kini duduk di tepi ranjang sambil
terengah-engah pucat.

"M-Maafkan saya, Bu..." Kata Beni terbata-bata.
"Hmmhhh...." Aku menarik nafas panjang sambil menatap
kedua matanya penuh rasa marah.
"Nggak apa-apa kok Ben, kamu hebat sekali." Jawabku
setelah menguasai emosi, "Dah, tidur di kamarmu sana!"

Beni lalu berjalan tertatih-tatih keluar kamar. Aku
menatapnya dengan rasa benci, dasar pria tidak
bertanggung jawab! Mending kalau dia suamiku, tapi dia
hanya pembantu kawanku, sebal sekali rasanya.
Kutelentangkan diri di ranjang besar itu menatap ke
langit-langit yang berhiaskan cermin di sana-sini.
Menatap bayangan tubuhku sendiri yang gelisah di atas
sprei putih yang kusut, menatap bayangan tubuh Nova
dan Mbak Ida yang masih saling berpelukan di karpet
sambil terpejam dengan ekspresi puas. Sungguh tidak
adil, pikirku. Karena birahiku sulit kutahan, akhirnya
aku melakukan apa yang selama ini pantang kulakukan,
yaitu memuaskan diri sendiri.

Kupejamkan kedua mataku, aku berkonsentrasi penuh
membayangkan postur tubuh laki-laki idamanku, The Big
D! Kubasahi ujung jariku dengan lidah, lalu
kupilin-pilin kedua putingku, membayangkan ia sedang
mengulum-ngulumnya...hmmm...tidak terasa seperti
dikulum beneran, tapi siapa peduli itu di tengah
kondisi seperti sekarang. Kutekan-tekan sendiri
klitoris dan liang kewanitaanku yang terasa becek dan
hangat. Uhhh...cukup lama juga aku menggeliat-geliat
sendiri di atas ranjang besar itu sambil kedua
tanganku menjamah tubuhku sendiri. Sampai tiba-tiba
aku merasakan kasur bergerak-gerak karena ada orang
lain yang naik ke ranjang. Ah, pasti Mbak Ida ingin
memanfaatkan situasi, pikirku. Tadinya aku ingin
menolak, tapi kuurungkan niatku karena ingin mencapai
puncak yang sejak tadi tidak kesampaian. Kubiarkan
saja ia menjamah tubuhku sambil aku tetap dengan setia
membayangkan bahwa The Big D lah yang melakukannya
padaku.

Terasa jilatan-jilatan dari lidah dan bibir yang
halus dan hangat menyapu kedua putingku bergantian,
pelukan hangat terasa seperti menyelimuti tubuh
rampingku, dan sebuah paha halus menyelip di antara
kedua tungkaiku, menggosok-gosok di situ. Sebuah jari
lentik menyusul masuk ke dalam liang
kewanitaanku...disusul satu jari lagi hingga kini dua
jari berdesakan di dalam liang kewanitaanku.
Uhhh...semuanya membuatku seperti melayang-layang di
udara. Ahh, aku tidak tahu apa lagi yang terjadi, yang
jelas seluruh tubuhku seperti diselimuti kehangatan
yang amat nyaman. Sentuhan jemari-jemari lentik dan
bibir lembut bergantian menyapu ke sekujur badan ini,
memercikkan bunga-bunga api birahi yang makin lama
makin terasa hangat dan nikmat. Kedua jari dalam liang
kewanitaanku pun menari-nari dengan gemulai seolah
sudah mengenal betul tempat-tempat yang harus
dihinggapinya. Ahhh...nikmattt sekali, meski aku
memejamkan mata, aku seperti dapat melihat tubuhku
sendiri sedang menggelinjang-gelinjang dan
mengerang-ngerang dijilati oleh lidah-lidah api birahi
ini.

Tidak seperti biasanya, puncak kenikmatan kali ini
terasa datang perlahan-lahan dan lembut. Kehangatan
tiba-tiba menyelimuti tubuhku ketika aku merasakan
tubuhku dipeluk dengan hangat dan erat serta leherku
dihujani ciuman, menambah kenikmatan di puncak yang
kini baru saja kurasakan. Hm...terbayang wajah dan
tubuh The Big D memelukku dengan penuh kasih sayang.
Sulit juga membayangkan otot-otot padatnya, karena
yang kurasakan menempel di dadaku sekarang adalah
payudara wanita lain, dan bukannya dada The Big D yang
bidang dan ditumbuhi rambut-rambut halus itu. Tapi
rasa nikmat terus mengguyur sekujur tubuhku, hingga
sempat aku tak ingat apa-apa untuk beberapa detik.

Pelan-pelan gelombang kenikmatan itu meninggalkan
diriku, membiarkan kesadaranku kembali mengambil alih.
Masih terasa dekapan hangat pada tubuhku. Terpikir
juga olehku untuk mengucapkan terimakasih nanti pada
Mbak Ida, sekaligus mengucapkan selamat karena ia
berhasil menjamah tubuhku kali ini. Hmm...hampir aku
membuka mata, namun kuurungkan niatku karena masih
ingin menikmati kehangatan pelukan yang somehow terasa
penuh kasih sayang ini. Aku mempererat pelukanku pada
tubuh semampai yang menindihku itu, sampai aku
menyadari bahwa bahu tempat daguku bersandar terasa
lebar dan berotot kencang seperti bahuku sendiri. Ah?
Aku hampir tidak percaya. Pelan-pelan aku membuka
mata, dan menatap tajam ke arah cermin di
langit-langit yang kini menunjukkan dengan jelas siapa
yang bercinta denganku barusan.
"Nova?!!" Aku menjerit agak membentak sambil
melepaskan pelukan hangat itu.
Kulihat Nova agak terkejut. Tubuh telanjangnya kini
teronggok di sampingku dengan tangannya masih memegang
bahuku. Wajahnya tampak sayu meski dipenuhi ketakutan.
Sorot matanya tampak menyesal dan menatap sendu ke
arah mataku.
"Whattahell have you done?" Tanyaku setengah membentak
tanpa mengharapkan jawaban. Dan memang Nova tidak
menjawab. Ia hanya menatapku dengan wajah manisnya
yang kini tampak sedih. Bibirnya bergerak-gerak pelan
meski terkatup rapat, dan matanya yang biasanya tajam
itu kini digenangi setetes air yang kemudian bergulir
jatuh melewati pipinya.

Aku tidak mempedulikannya dan segera bangkit berdiri
dari ranjang. Dengan tanpa berusaha menutupi
ketelanjanganku, aku melangkah cepat ke arah pintu,
dan bergegas kembali ke kamar mandi dan mengguyur
kepalaku dengan air dingin. Tanpa menunggu badanku
kering, aku melanjutkan langkah kembali ke ruang tamu,
mendapati pakaian kerjaku tergeletak kusut di meja
makan, dan segera mengenakannya kembali pada tubuhku
yang masih basah. Aku terduduk di kursi sambil kedua
sikuku bertelekan di meja dan telapak tanganku
mencengkeram kepalaku sendiri, menyesali yang terjadi
barusan. Bukan diriku sendiri yang kusesali, melainkan
Nova. Anak muda yang manis itu, yang dulunya lugu
namun cerdas, yang secara tak sengaja terseret dalam
pola hidupku, yang kini terseret makin jauh. Ah,
gila...kenapa aku merasa demikian bersalah? Mungkin
karena selama ini aku memproyeksikan Nova untuk bisa
menggantikan posisiku di perusahaan, mungkin karena
aku juga bercita-cita untuk merubah hidupnya yang dulu
kurang bahagia, mungkin juga karena aku sudah begitu
mencintai dan menganggapnya seperti adikku sendiri,
dan jelas-jelas telah membawanya pada kehidupan
yang...seperti ini. Apakah aku sudah menyeretnya
terlalu jauh di luar kemauan kami sendiri?
"Sari." Suara berat Mbak Ida tiba-tiba mengejutkanku.
Aku melepaskan cengkeramanku pada kepalaku sendiri,
mengusap mataku yang tadi agak berkaca-kaca, dan
menatap tajam ke arah wanita itu dengan sorot mata
sangat menyalahkan.
"Kamu mau nyalahin aku lagi?" Tanyanya dengan nada
datar sambil terus menatap mataku dari seberang meja
makan.

Ia masih mengenakan kimono hitam tipisnya yang tadi
sempat kukenakan. Tali kimono dibiarkannya tidak
terikat hingga separuh tubuhnya terlihat jelas. Rambut
merahnya pun masih belum benar-benar kering, hingga
penampilannya secara keseluruhan terlihat agak
menakutkan.
"Ini memang yang kamu mau 'kan, Mbak?" Tanyaku kembali
dengan nada tajam.
Mbak Ida menggelengkan kepala sambil memejamkan mata,
"Nggak." Jawabnya singkat.
"Kamu terlalu memaksakan dia untuk menjadi seperti
kamu." Lanjut Mbak Ida sambil berdiri dari kursinya
dan melangkah ke arah rak buku di sudut ruang tamu.
Aku diam saja, sambil terus mengikuti kemana jalannya
tubuh semampai itu.
"Apakah itu salah?" Tanyaku padanya, seperti tidak
mengharap jawaban.
"Nggak." Jawab Mbak Ida tetap membelakangiku, "Sama
sekali nggak salah."
Aku tetap terdiam sambil menatapnya mengambil sebuah
buku dan membalik-balik beberapa halaman, menyelipkan
sebuah pembatas halaman pada halaman yang
dikehendakinya, lalu kembali menghampiri meja sambil
menatap wajahku. Diletakkannya telapak tangan kirinya
di bahuku sambil memijit-mijit kecil, aku
membiarkannya berbuat begitu sambil menunggu
kata-katanya lagi.
"Orang seperti kamu, yang kepala batu dan berambisi
tinggi..." Katanya seperti setengah berbisik, "...yang
merasa serba bisa, dan merasa paling kuat..." Ia
berhenti sejenak sambil mengangkat tangannya dari
bahuku, "...pengen mencoba merubah kehidupan seorang
yang lugu seperti Nova? Agar dia bisa jadi seperti
kamu? Agar dia bisa 'hidup bahagia dan bebas' seperti
kamu? Agar dia bisa memilih kemana akan hinggap dan
tidak harus menunggu dihinggapi?"  Cerocosnya dengan
nada menyalahkan, ia menyebutkan kembali semua kalimat
yang pernah kukatakan padanya tentang filosofi
hidupku, tentang ambisi pengejaran cita-cita dan pola
pikir struggle for excellence yang selama ini aku
anut. Entah kenapa, tapi kata-kata Mbak Ida seperti
membuatku jadi merasa makin tidak enak dan merasa
bersalah.

"Cobalah sekali-sekali ngaca, Sar!" Serunya lagi
sambil meletakkan buku yang baru diambilnya di
hadapanku, "Coba pikir siapa sebenarnya kamu...apa
yang sebenarnya kamu kejar...apa kamu yakin kalau
orang lain juga bisa mengikuti pola pikir kamu?"
Dagunya bergerak ke atas sedikit, memberiku komando
agar melihat ke arah buku yang diletakkannya tadi.
 Tanganku bergerak meraih buku hard cover bersampul
cokelat gelap itu, "Becoming a Person of Influence"
Judulnya.

Pelan-pelan aku membuka halaman yang oleh Mbak Ida
telah diberi pembatas. Di situ tertulis sebuah salinan
dari sebuah batu nisan di Inggris, yang bunyi
terjemahannya kurang lebih begini,
"Semasa mudaku, aku bercita-cita mengubah sikap dunia.
Namun ternyata tidak mudah. Setelah aku beranjak
dewasa, aku bercita-cita mengubah sikap negaraku.
Namun ternyata tidak mudah juga. Setelah aku beranjak
tua, aku bercita-cita mengubah sikap keluarga dan
sahabat-sahabatku. Namun ternyata sudah terlambat.
Kini, di akhir hayatku aku terpikir, seandainya sejak
awal aku mengubah sikapku sendiri, mungkin keluarga
dan sahabat-sahabatku akan ikut berubah sikap, dan
mereka bisa membawa perubahan pada negaraku. Dan jika
negaraku berubah lebih baik, pengaruhnya akan mengubah
sikap dunia menjadi lebih baik."
Sejenak aku merenungi tulisan yang baru kubaca.
Tulisan itu seperti menyadarkan diriku tentang apa
yang seharusnya lebih kupikirkan tentang diriku,
tentang masa depanku, dan tentang kehidupan orang lain
di sekitarku.

Lama setelah itu, Nova muncul dari kamar mandi dengan
mengenakan kimono handuk berwarna merah muda. Tanpa
berkata apa-apa dan tanpa melihat ke arahku, ia
mengambil pakaian kerjanya di meja makan, lalu
membawanya kembali ke kamar mandi, untuk beberapa
detik kemudian ia keluar lagi dengan sudah mengenakan
pakaian kerja yang tadi dipakainya kemari.
"Aku rasa sudah waktunya kalian untuk pulang." Ujar
Mbak Ida dengan nada datar sambil tidak melihat ke
arah kami.

Tanpa banyak basa-basi, aku dan Nova melangkah keluar
ruangan. Di beranda, Lubas Herera memandangi kami dan
berjalan mengikuti kami sampai ke gerbang yang tidak
terkunci. Aku melangkah masuk ke Katana hijauku, dan
Nova menyusul setelah menutup gerbang dan mengunci
gemboknya, meninggalkan Lubas Herera yang kini berdiri
dengan dua kaki belakangnya hingga kepalanya seperti
melongok keluar dari lubang di gerbang kayu itu.
Tatapan bodohnya mengiringi kepergian kami.

Di dalam mobil, Nova meminta maaf padaku dan
mengatakan bahwa ia melakukannya padaku tadi karena
menyayangiku. Aku menarik tubuhnya dan membiarkannya
bersandar pada bahu kiriku sementara aku mengemudi.
Kubiarkan ia menangis sejadi-jadinya di bahuku.
Meratapi kesepiannya sekarang, meratapi kesendiriannya
di kota S, kota yang semula dijadikan tumpuan
harapannya untuk masa depan yang baik. Sambil
mengemudi, tanpa terasa pipiku sendiri juga dialiri
air dari mataku. Aku menenangkan Nova dan menyatakan
pengertianku padanya. Kami berjanji untuk tetap tidak
mengulangi kesalahan yang seperti tadi, sekaligus
menyatakan diri untuk saling menganggap adik-kakak,
agar hubungan kami lebih dari sekedar teman sekerja.
Aku pun berjanji pada diriku sendiri untuk lebih
memberikan pengertian pada Nova, bahwa perburuan yang
selama ini terjadi bukannya didasari oleh pemuasan
kebutuhan, melainkan untuk mencari yang terbaik. OK,
kadang-kadang memang ada dorongan yang tak terelakkan
untuk lebih mementingkan kebutuhan diri. Namun pikiran
logis dan akal sehat tetap harus menduduki prioritas
pertama. Aku mengantar Nova kembali ke pondokannya,
lalu memacu Katana Hijau sekencang-kencangnya kembali
ke "The Huntress's Lair" nama yang diberikan oleh The
Big D untuk tempat tinggalku di apartemen P di ujung
barat kota.

Nah, ceritanya sudah selesai. Sekedar info, teman saya
Nova itu kini sudah menikah dengan seorang banker
sukses, dan memiliki seorang anak laki-laki yang manis
seperti ibunya. Sebenarnya banyak petualangan yang
saya lewatkan bersamanya. Namun kini ia tidak lagi
mengembara, tidak juga menggantikan posisi lama saya
di kantor. Ia lebih memilih hidup bahagia bersama
keluarganya dan mengelola usahanya sendiri. Mbak Ida
kini juga sudah pensiun dari avonturirnya. Ia hijrah
ke Aussie untuk menetap bersama kekasihnya, seorang
wanita pengusaha yang juga sukses di bidang real
estate. Sementara saya sendiri? Well, goals saya
adalah mencapai posisi tertinggi di kantor dalam
beberapa bulan ke depan, menikah, lalu mengundurkan
diri dari jabatan bergengsi itu untuk mengelola bisnis
sendiri bersama pasangan saya. Semoga apa yang saya
pelajari dari kehidupan ini bisa berguna untuk masa
depan saya, dan masa depan generasi berikutnya. Semoga
juga saya mampu memperbaiki diri saya sendiri dulu,
seperti di kutipan buku yang ditunjukkan Mbak Ida pada
saya tadi. Bagaimana dengan Anda?