Saturday, April 1, 2017

Sari - Reuni SMA

Credit goes to Sari The Lust Hunter.
Thanks to Wiro The Legend.
---

KRRRRR…. KRRRR…. KRRRR…… Getaran ponsel ini terasa membuatku geli, apalagi aku selalu meletakkannya di pangkuan pada saat mengemudi seperti ini. Dengan penuh kerepotan akhirnya aku berhasil memasang earpiece dari peralatan handsfree ini tanpa harus mengurangi kecepatan Katana hijauku. (Mengherankan, bukankah mereka merancang ‘handsfree’ untuk mengurangi kerepotan, tapi kenapa kabelnya selalu kelewat panjang hingga malah bikin repot?)

“Halo!” sapaku dengan nada datar karena aku tidak sempat melihat caller id pada display.
“Sari?” tanya suara seorang pria di ujung sana.
“Yup! Saya sendiri.” jawabku sambil melenggokkan setir menghindari sebuah truk sampah yang kelewat pelan.
“Masih inget aku nggak?” tanya suara itu lagi.
“Hm…siapa ya?”
“Bret!” jawabnya singkat. (info: Huruf e pada ‘bret’ itu dilafalkan seperti pada EmbEr, bukan pada kEntang!)
“Hm… Bret… Bret… siapa sih?”
“Walah, masa lupa sih? Kamu dulu suka nyontek ke aku pas sumatif bahasa Inggris!”
“Aaayayayaaa! Bret! Iya, iya aku inget!” jawabku antusias ketika aku mengingatnya, “Tumben nelpon! Apa kabar?”
“Baik! Kamu sendiri gimana?”

(Percakapan selanjutnya nggak saya tuliskan, karena hanya berkisar pada percakapan dua orang teman SMA yang sudah hampir 10 tahun tidak ketemu).

Nama Bret itu sebenarnya bukan nama asli pria itu. Itu adalah panggilannya semasa SMA dulu karena celana abu-abunya pernah robek terkait paku di tembok pinggir kelas dan mengeluarkan suara “bretttt!”. Dia salah seorang teman dekatku di SMA, kami menjadi begitu dekat karena saling membutuhkan dalam ulangan atau ujian. (Bagi yang pernah SMA, tentu mengerti maksud ’saling membutuhkan’ itu! Nggak usah sok pinter!)

Ia memberikan informasi padaku tentang reuni SMA kami dulu, yang rencananya akan digelar besar-besaran dan melibatkan 50 angkatan, sejak lulusan tahun 1950 sampai 2000. Beberapa hari kemudian, mantan-mantan teman SMA-ku juga lantas menginformasikan hal yang sama, begitu juga di beberapa website, maklum SMA tempatku bersekolah dulu termasuk salah satu SMA negeri yang disukai di kota S sini ini. Meski awalnya aku kurang tertarik untuk hadir, setelah beberapa teman mendesak akhirnya aku ingin hadir juga. Lumayanlah untuk ketemu teman-teman lama, pikirku. Dan tentunya aku juga punya tujuan sampingan, yaitu mendapatkan petualangan baru! hehehe. Tapi pertanyaannya adalah dengan siapa aku akan kesana? Tentu tidak mudah untuk mencari gerombolan teman-teman lama di tengah lautan orang dari 50 angkatan, pikirku. Kalau dulu waktu SMA sih… dengan reputasi seperti aku, tentu banyak lebah-lebah yang mencoba hinggap untuk menawarkan jemputan, tapi sekarang? Setelah hampir 10 tahun, apakah lebah-lebah itu juga masih belum menemukan ‘bunga terakhir’-nya?

Namun ternyata keadaan tidak seperti yang kubayangkan. Mungkin ini yang dalam psikologi disebut sebagai ‘pemanggilan kembali memori lama yang dipicu oleh kondisi lingkungan yang serupa dengan kondisi masa lalu’. Beberapa teman SMA pria yang kebetulan masih single (atau mengaku masih single) menawarkan untuk menjemputku. Untuk menghindari konflik dengan ibu-ibu rumah tangga, maka aku terpaksa mencari data yang benar tentang para calon penjemputku itu lewat teman-teman tempat kerja mereka sampai akhirnya aku memutuskan untuk berangkat bersama si Bret yang pertama kali menelponku tentang acara reuni ini.

Singkat kata, malam ini aku sudah duduk manis di lobby apartemenku, menanti jemputan si Bret. (Sekedar info, aku pindah rumah dari apartemen P ke apartemen M, tempat yang dekat dengan salah satu gerai Mc Donald’s di kota S). Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya si Bret itu muncul juga diantar oleh sepasang satpam. Mungkin karena tongkrongannya tidak banyak berubah sejak SMA, masih bertampang agak kriminil, maka kepala satpam memutuskan agar dia diantar dua orang untuk masuk ke lobi apartemen.

“Hey! Kamu tambah keren deh!” sapaku dengan basa-basi setengah flirt.

Bret diam saja. Ia malah berkacak pinggang dan mengamatiku dari ujung kaki ke ujung rambut, tapi tidak berhenti sebentar di daerah paha dan dada seperti lazimnya pria hidung belang yang menatapku.

“Hmmm… kamu banyak berubah ya, Sar?” gumamnya.
“Oh? Masa? Kamu juga kok. Kamu lebih pinter milih baju sekarang!” godaku lagi.
“Ya, ya, ya… kamu juga sudah mulai belajar kalau baju dengan garis horisontal akan mengurangi kesan kerempeng!” balasnya.

Kami lalu tertawa-tawa dan masih melanjutkan saling ejek sampai kami masuk ke mobilnya. Malam itu aku memang mengenakan pakaian setengah casual. Sebuah kamisol garis-garis hitam putih yang dilapisi blazer hitam dan celana favoritku, Armani ketat warna hitam. Sementara Bret tampil dengan kemeja hitam yang merk-nya tidak jelas dan celana yang warnanya sulit dibedakan apakah biru atau abu-abu. Si Bret ini sebenarnya lumayan good-looking dengan tampangnya yang campuran Ambon-Manado, tapi rambutnya yang dipotong model Ivan Drago itu memang membuat wajah kerennya terlihat agak jahat dan pantas dicurigai sebagai pembuat onar, didukung dengan posturnya yang tinggi tegap namun agak sangkuk.

Akhirnya kami tiba di tempat reuni itu dilaksanakan, yaitu di gedung SMA kami dulu, di kompleks SMA negeri favorit di perempatan yang cukup beken di kota S. Suasana di luar gedung sudah penuh dengan manusia dari berbagai usia dan berbagai dandanan, yang menunjukkan dari generasi tahun berapa mereka dilahirkan. Teman-teman seangkatanku cukup banyak juga yang hadir. Rata-rata dari mereka sekarang bekerja atau punya usaha sendiri, dengan posisi ekonomi yang mulai mapan meski belum sukses-sukses amat. Beberapa temanku dari klub Jangkung (klub basket) juga hadir di situ. Rata-rata dari mereka masih single karena sulit menemukan pria segenerasi yang lebih tinggi. (Yah, anggap saja alasannya begitu!) Beberapa teman malah datang bersama dengan mantan pacarnya waktu SMA dulu, bukan dengan suami atau istrinya yang sekarang. Cukup lucu, meski menyerempet resiko cukup tinggi yang nanti akan kuceritakan lebih detail.

Acara dimulai, kami masuk ke tengah lapangan luas yang dikelilingi gedung sekolah. Gedung sekolah sudah banyak berubah, dibangun di sana-sini, maklumlah banyak anak pejabat yang bersekolah disini sejak dulu. Bahkan beberapa pejabat, seperti mantan wapres juga alumni di sini dulunya. Ada juga beberapa artis terkenal yang rupanya alumni sekolah ini.

Konyolnya, secara tidak sengaja aku sering bertemu pandang dengan banyak pria yang pernah mengisi malam-malam seru dalam petualanganku. Umumnya mereka tidak menyapa dengan kata-kata, hanya menyunggingkan senyum yang lebih mirip seringai dingin, mungkin mereka teringat kembali akan adegan-adengan yang pernah mereka lakukan bersamaku. Gila, rupanya mereka juga banyak yang sekolah disini dulunya. Banyak juga rekan bisnis dari perusahaanku yang hadir sebagai alumni angkatan yang berbeda, golongan yang ini umumnya menyapaku dengan, “Selamat malam Bu Sari, rupanya alumni juga toh!” Tapi lantas berubah jadi ledekan karena melihat name-tag angkatan yang kukenakan menunjukkan tahun yang jauh lebih muda dari mereka. Kalau sudah begitu umumnya mereka bilang, “Walah! Ternyata Bu Sari ini masih kecil toh!” Gitu.

Acara demi acara berlangsung di panggung tanpa banyak diperhatikan penonton karena mereka lebih sibuk bernostalgia dengan gerombolan seangkatannya. Begitu pula rekan-rekan seangkatanku. Kami juga saling bersalaman sambil menjerit “Aaaaaaa! Kamu kok tambah gendut.” atau tambah kurus, atau tambah jelek, atau yang lain-lain, yang kemudian disusul dengan “Eh, denger-denger si anu udah cerai dengan si anu.” Atau “Kamu denger nggak kalau si anu sekarang jadi anu di perusahaan anu”, atau bahkan “Si anu masuk bui, lho!” Sampai yang paling seram, “Tahu nggak, si anu bunuh diri!”

Beberapa pria dari klub basket yang dulu pernah… engg… ‘menjadi sparing partnerku dalam latihan berpetualang semasa SMA’ kini mengitariku sambil berbasa-basi. Tidak ada dari mereka yang berani membicarakan tentang apa yang pernah kami lakukan di aula kosong, di ruang ganti, atau di sudut kelas kosong 10 tahun silam. Bukan apa-apa, mungkin karena mereka merasa nggak enak dengan teman-teman pria yang lain yang rupanya juga pernah mengalami hal yang sama. Agak risih juga kalau sudah dalam posisi ini. Untuk menghindari suasana rikuh, aku memutuskan mengikuti ajakan Bret untuk bernostalgia memasuki ruangan kelas tempat kami dulu belajar bersama di kelas satu.

“Kamu inget apa yang pernah terjadi di kelas itu dulu?” tanyanya ketika kami berjalan di koridor menuju kelas tersebut.
“Yang mana tepatnya?” tanyaku berusaha diplomatis.
“Itu, yang pernah dilakukan sama si anu dan si anu.” jawabnya sambil tetap melangkahkan kaki.
“Hm… yah… inget sih… apa itu bukan cuman gosip?” jawabku, lagi-lagi berusaha diplomatis.
“Hihihi.” Bret tertawa kecil, “Yang aku ingat sih… cuman gosip tentang kamu waktu itu!”

(Yah…kalau rekan-rekan pembaca rajin mengikuti serial Lust Hunter, mungkin pernah membaca kisah kuno itu!)

Setibanya kami di pintu kelas yang legendaris (menurutku) itu, kami agak kaget karena mendapati pintunya seperempat terbuka. Aku menghentikan langkah dan memasang telunjuk di bibir, memberi isyarat Bret untuk tidak bersuara. Meski sebenarnya itu tidak berguna, karena suara hingar bingar band di lapangan tetap saja kencang. Aku ingat benar situasi seperti ini pernah terjadi 11 tahun yang lalu. Waktu itu sore hari, sehabis olah raga, aku dan beberapa teman wanita memergoki sepasang teman kami sedang bermain cinta secara terburu-buru di sudut kelas.

“Kenapa Sar?” bisik Bret. Aku hanya menunjuk-nunjuk lubang angin yang cukup besar di atas pintu, memberi isyarat untuk mengintip dari situ.
“Ah, ngapain pakai ngintip, kalau pengen lihat ya buka aja pintunya.” bisik Bret lagi.
“Emangnya ada apa?”
“Kamu ingat si Bibir dan si Evil?” bisikku pada Bret.

Ia menganggukkan kepala sambil memasang pandangan girang. Si Bibir adalah teman pria yang dijuluki begitu karena kebetulan bibirnya agak oversized, dan si Evil adalah teman wanita yang dulu dianggap paling manis di kelas, namun lidahnya agak tajam, hingga dijuluki begitu. Mereka itulah yang pernah kepergok bermain cinta di kelas pada saat ruangan kosong ketika anak-anak lain sedang berganti pakaian atau minum sehabis olah raga.

“Mereka punya cara sendiri untuk reuni!” bisik Bret sambil menahan tawa gelinya.

Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan apa yang pernah kulakukan 11 tahun lalu, berdiri di atas pot besar di dekat pintu, dan melongok ke dalam lewat lubang angin besar di atas pintu kelas. Dan… well… tebakan kami benar… si Bibir dan si Evil sedang berpelukan sambil mengumbar ciuman satu sama lain. Keduanya masih mengenakan pakaian lengkap, tapi memandangi mereka melakukan adegan begini harus kuakui cukup mendirikan rambut di tengkuk.

Sedang asyik-asyiknya mengintip, tiba-tiba Bret turun dari pot dan menarik lenganku untuk pergi dari situ.

“Sar, ayo kembali ke lapangan.”
“Kenapa emang?”
“Nggak enaklah ngintip begitu.” jawabnya dengan wajah rikuh,
“Udah sama-sama tuanya. Lagian aku sekantor sama calon istrinya si Bibir. Nggak enak ntar kalau ketemu di tempat kerja.”

Aku memahami alasannya dan mengikutinya kembali ke lapangan, tempat dimana hingar bingar band memainkan lagu-lagu tahun enam puluhan.

Beberapa teman berpamitan pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan band baru sampai di tahun enam puluhan. Kata mereka, bakalan sampai pagi kalau nunggu bandnya memainkan lagu tahun sembilan puluhan, jadi mereka memutuskan pulang lebih awal. Aku sendiri tidak ingin pulang. Aku berdiri diantara teman-temanku, mendengarkan musik sambil sesekali mengobrol ringan. Sampai tiba-tiba bahuku dicolek dari belakang.

“Tukang ngintip, ngga berubah juga rupanya, eh?” sapa si pencolek tadi, yang ternyata adalah si Evil.
“Yah… kamu juga ngga banyak berubah tuh kayaknya.” jawabku sambil menyunggingkan senyum simpul dan mengangkat alis kanan.
Kami lalu mundur beberapa langkah dari kerumunan orang yang perhatiannya tertuju ke panggung.

“Well, well, well… Si Pemburu… apa kabar?” tanyanya sinis sambil menepuk-nepuk bahuku.
“Baik.” jawabku sambil menatap matanya dalam-dalam,
“Baik sekali, Evil.” sambungku dengan nada sinis juga.
“Ya terang aja baik. Tiap malam pindah ranjang sih, gimana mau ngga bahagia terus?” sindirnya.

Aku sempat ingin menamparnya karena kata-katanya diucapkan dengan volume kelewat keras, tapi aku masih menahan diri.

“Aku dengar kamu udah jadi boss sekarang yah?” sindirnya lagi,
“Mendaki corporate ladder lewat ranjang?”

Kali ini aku benar-benar tidak mampu menahan diri dan hampir menampar mulut genitnya kalau saja si Bibir tidak keburu muncul di samping Evil.

“Sar, maapin dia lah.” kata si Bibir dengan nada sok bijak,
“Kamu dengar cerita tentang dia kan?”

Aku lantas mengurungkan niatku untuk menampar karena teringat cerita bahwa si Evil ini baru saja kehilangan suami dan karirnya karena dia mencoba ‘mendaki corporate ladder lewat ranjang’, seperti yang dituduhkannya padaku. Memang tolol juga dia, mencoba cara itu di perusahaan BUMN tentu sulit dan beresiko karena dinding-dinding disana punya mata dan telinga.

Untuk melemaskan syaraf yang tegang aku menjauhi kedua orang itu, juga kerumunan orang di seputar panggung yang asyik mendengar musik. Aku melangkahkan kaki keliling bangunan sekolah itu. Suasana masih tidak sepi karena masih banyak orang, tapi umumnya mereka berkerumun di sekitar panggung di tengah lapangan, hingga sudut-sudut sekolah tua ini kosong. Sempat aku mengenang beberapa sudut tempat seorang teman pria menyatakan cintanya padaku, dan di sudut yang sama pula kami mengakhiri masa pacaran yang cuma dua minggu hanya gara-gara dia mendengar cerita kalau aku tidak punya latar belakang keluarga yang jelas. Ck, memori-memori menyedihkan itu terus bermunculan sampai akhirnya aku capek dan duduk di sebuah bangku panjang di tempat yang semasa sekolahku dulu adalah kantin, namun sekarang berubah jadi koridor. Koridor yang sepi dan gelap, yang luput dari perhatian banyak orang di acara reuni besar itu.

“Lagi ngapain, non?” kata sebuah suara pria yang sudah tak asing lagi.

Agak kaget, aku membalikkan badan dan bertatapan dengan dia… seseorang yang akan menikahiku tahun depan… The Big D!!!

“Kamu… kamu juga alumni sini?” tanyaku setengah kaget sambil menatap kedua mata elangnya.
“Yup!” jawabnya singkat sambil menunjuk name-tag di dadanya, yang menunjukkan kalau ia lulusan dua tahun di bawahku.
“Haha, kaget ya, kalau ternyata aku lebih muda?” tanyanya sambil merengkuh pinggangku dan mengecup keningku.
“Ya, ya… kaget sekali.” jawabku,
“Tapi di paspor kamu… umurmu sama dengan aku?”
“Well, aku sempat ikutan program AFS dulu. Jadi aku ketinggalan setahun, dan aku masuk SD umur tujuh.” jawabnya singkat.

Kami terdiam beberapa saat sambil tetap tangannya merengkuh pinggangku dan wajah kami bertatapan begitu dekat. Karena mengingat bahwa kami sedang berada di tempat umum, aku melepaskan diri dan membelakanginya, melihat jauh ke arah lapangan yang kini mulai ditinggalkan para pengunjung meski band masih memainkan lagu.

Kurasakan lagi kedua tangan D memeluk tubuhku dari belakang. Hm… nyaman sekali rasanya, aku meletakkan telapak tanganku di atas punggung tangannya di perutku. Bibir hangatnya kini menyentuh-nyentuh dan mengendus di leher kiriku, membuatku memiringkan kepala ke kanan dan agak terpejam karena tersengat-sengat rasa geli.

“Mmmh… hey… uhh… Boss, kita lagi ada di… ngggh… tempat umum nihhhh!” rintihku pelan berusaha mengingatkannya.
“So what?” bisiknya di dekat telingaku, yang disambungnya dengan mengulum daun telinga kiriku, membuatku terpejam dan mulutku menganga menahan rasa geli yang begitu nikmat ini.
“Uhhh… D-Dittt… uhhh… jangan d-d-dissini donggg… uhhh… n-not now!”
“Ehggg!!!” aku memekik tertahan dan tubuhku terjingkat ketika tiba-tiba kedua telapak tangan D menyusup ke balik blazer dan meremas kedua payudaraku.
“Sass…” bisiknya lembut di telingaku.
“Mmmhh… iyahhh?” jawabku lirih.
“Agak geser ke kiri dikit biar nggak kelihatan orang.”

Sebenarnya aku rikuh karena kuatir ketahuan, tapi jemari D yang teliti itu berhasil menangkap kedua puting susuku dari balik kamisol yang kukenakan, membuat seluruh tenagaku seperti tiba-tiba hilang dan tubuhku serasa begitu lemas, hingga aku merasa tak punya pilihan selain bergeser ke kiri, dan posisi kami tertutup oleh dinding yang kini berada di depan mataku.

Di balik dinding itu juga, D membuatku menyandar di dada bidangnya sambil membiarkan kedua tangan D menyelinap ke balik kamisol dan melepaskan kaitan bra sportku yang ada di bagian depan… sampai akhirnya kehangatan kedua telapak tangan besarnya menyelimuti seluruh permukaan kedua payudaraku yang mungil ini sambil memijat-mijat pelan. Telapak tangannya yang kasar itu kini bergesekan dengan kedua puting susuku… memberiku rasa rileks dan lemas serta geli yang luar biasa. Harus kuakui, saat itu aku benar-benar terangsang hebat sampai kewanitaanku terasa melembab. Kupejamkan mata menikmati belaian-belaian lembutnya yang menerpa kedua titik paling sensitif itu… terasa semakin lemas badanku… kubuka sedikit mataku… semakin lincah pula gerakan jemari D di situ… sejenak dilepaskannya, memberiku waktu menarik nafas, namun tidak terlalu lama, karena ia segera membalikkan badanku mengadap ke arahnya, dan mencium serta menjilati leherku yang panjang ini… uuh… terasa hangat dan mesra sekali gerakan lidah yang lembut, licin, dan lembab itu menyapu-nyapu leherku.

Telapak-telapak tangan besar itu kini bergeser di pinggangku… menjamah punggungku dan menyangganya agar aku tidak terjengkang ke belakang. Lidah dan bibir yang hangat dan lembab itu kini seperti berputar-putar pada kain tipis kamisol yang kukenakan… berputar-putar di atas puting susu kananku… aduhhh… tiap gesekan kain basah yang terdorong-dorong oleh lidah lembut itu memberiku sensasi yang sulit kulukiskan. Meski mencoba membuka mata, tetap saja alisku tak kuasa berada dalam posisi santai, mereka terus mengerenyit ke tengah menahan rangsangan birahi yang semakin menggelegak. Pandanganku yang tadinya jelas kini mengabur karena mataku menyipit hingga bulu mataku menghalangi pandangan… sementara mulutku seperti tak sempat mendesah karena untuk menarik nafas agak panjang saja selalu tersendat setiap kali sapuan lidahnya menggeser pada puting-puting susuku.

Kakiku tak lagi mampu menahan tubuhku. Keduanya terasa gemetar dan tidak menjejak tanah. D menyandarkan aku ke dinding dan menghimpitkan tubuh besarnya ke tubuhku. Puting-putingku yang telah mengacung tinggi seperti tertekan oleh otot-otot dadanya yang tersembunyi di balik kemeja itu, bibir-bibir kami yang telah basah ini kembali beradu. Kedua lenganku mendekap lehernya erat-erat, aku tak ingin melepaskannya kali ini, benar-benar tidak ingin. Kami berciuman dengan amat buas dan liar, diiringi dengan pagutan dan hisapan keras, dan kedua pasang mata kami terbuka, saling menatap. Tajamnya sorot mata yang kini tak lagi terlindung kacamata itu makin membuat birahi dalam dadaku terasa menyesakkan… mata itu… mata itu seperti menusuk dan mengaduk-aduk perasaanku yang sudah terlanjur dipenuhi nafsu. Jemarinya bergerak lagi, cepat sekali, kali ini di bawah pusarku…dan kurang dari tiga detik, jeans Armani yang kukenakan telah turun hingga ke lutut.

Meski kedua kakiku terkatup rapat, tidak sulit bagi jemarinya untuk menerobos ke balik celana dalam St.Michael yang kukenakan, mengelus-elus sejenak rambut-rambut halus yang tumbuh di bawah perutku… lalu melesak ke tengah, lebih ke dalam, jepitan kedua pangkal pahaku tak mampu menghalangi jari tengahnya menyentuh pangkal bibir kewanitaanku.

“Ehgggg….” aku menjerit tertahan ketika tubuhku tersentak oleh rasa nikmat yang tiba-tiba menyambar kewanitaanku.

Jari itu tidak tinggal diam disitu, ia berputar dan bergerak-gerak… cairan pelumas yang sudah sejak tadi mengalir di situ seolah-olah hendak dioleskannya rata ke permukaan bibir kewanitaanku yang kini menguncup karena jepitan pahaku.

“Ohhh…. D-D-Diitttt…. j-j-jangan disiniiiihhhhh… hhhhhh…” pintaku memelas.

“Sass, relax. I dont wanna make luv wiz ya rite here, lady! I just wanna give ya sumthin’ to rememba! Just enjoy!” cerocosnya sambil menjilati telinga kiriku.

Dengan agak susah payah, aku berhasil merenggangkan sedikit kedua pahaku meski celana Armani ketat itu masih memborgol kedua lutut ini. Kurasakan jari tengah dan jari telunjuk pria itu menekan kuat pada ujung atas bibir kewanitaanku, dan didorongnya ke bawah… ughhh… kedua jari besar itu bergerak-gerak di pangkal terowongan kewanitaan yang kini makin lembab dan tergenang lendir pelumas hingga terdengar suara kecipak… aduhhh… rasanya tak tertahankan, geli, nikmat, dan penasaran berkecamuk di kepalaku, makin erat kutarik lehernya hingga bibir kami makin rapat bertautan. Dijejalkannya lidahnya ke dalam rongga mulutku, dan dijilatinya langit-langit di situ, aku kegelian dan berusaha untuk berontak, namun tidak semudah itu, karena pada saat itu juga kedua jarinya yang besar dan kasar itu menerobos masuk!

“Unggghghhhhhh….” aku mengerang lirih ketika kedua jari itu terbenam ke dalam tubuhku.

Dilepaskannya kuluman pada bibirku, ditatapnya mataku tajam-tajam dengan tanpa ekpresi. Aku berusaha membalas tatapan tajamnya itu, namun sulit sekali karena mataku menyipit-nyipit menahan rasa nikmat pada kewanitaanku. Apalagi ketika kedua jarinya itu berpencar di dalam, dan bergerak-gerak sendiri-sendiri…

“Oohhhhh….” aku tak mampu lagi membuka mata dan mempertahankan ekspresi datar.

Kedua mataku tertutup rapat dan kedua alis mataku seperti dipaksa untuk berkumpul di keningku, gigiku terkatup rapat sementara bibirku setengah terbuka. Aku mendesah-desah menghayati permainannya yang membuat badanku seperti kehilangan tulang belulangnya, lemas.

Sambil tetap memainkan jemarinya dalam kewanitaanku, ia membungkuk dan mulutnya menangkap puting susu kiriku yang tersembunyi di balik kamisol yang kukenakan. Aku menggeliat dan menggelinjang sekuatku untuk menahan rasa geli dan birahi yang dikirimkannya secara intens ini. Kedua jarinya seperti mengaduk-ngaduk isi kewanitaanku, kedua bibirnya menjepit dan menarik-narik puting susuku dengan tak kalah cepatnya. Semuanya membuatku seperti lupa daratan, lupa bahwa aku sedang berada di gedung sekolah tempatku belajar di SMA dulu, lupa bahwa tiap saat bisa saja ada seseorang yang muncul dan melihat kami berdua melakukan itu, lupa segala-galanya. Yang terpikir hanya bagaimana agar kehangatan tubuhnya tetap menempel pada tubuhku selamanya.

Ia terus saja mengocok-ngocok cairan di dalam kewanitaanku dengan kedua jarinya yang lincah, sementara kini aku tersandar di dinding hanya berpegangan pada bahunya yang keras itu. Kubiarkan saja ketika gigi-giginya menggigit kerah blazerku yang kanan dan melorotkannya ke bawah. Bahuku terasa dingin diterpa angin malam, namun segera diselimuti kehangatan ketika ia mengoles-ngoleskan lidahnya di situ, merambati leher dan pundakku, menggigit tali kamisolku dan melorotkannya juga, hingga aku merasa begitu seksi berada di hadapannya dalam kondisi seperti ini. Tangan kirinya yang sedari tadi menyangga berdiriku terlepas dari punggungku, dan berpindah pada puting kananku, dipilinnya, dijentik-jentikkannya, dan dicubit-cubitnya puting yang telah membengkak ini. Aku berpegangan erat pada bahunya agar tidak jatuh karena kehilangan keseimbangan.

“Ohhh… D-d-ditttt…. aduhhhh….” aku mengerang sambil menyebut-nyebutkan nama kekasihku itu. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan dalam hubungan intim dengan pria manapun kecuali dia.

“Hold on, lady.” bisiknya lembut, “You look so great tonite… I luv ya.” bisiknya lagi.

Karena berkali-kali kedua jemarinya itu menyentuh titik yang tepat, dan karena birahiku sudah tak tertahankan sejak tadi, akhirnya aku terlanda gelombang orgasme juga. Tidak terlalu dahsyat memang, karena aku tidak se-rileks jika berada di tempat yang lebih terjaga privacy-nya, namun yang namanya orgasme tetap saja orgasme. Dimanapun kita mengalaminya, tetap saja akan ada detik-detik yang terasa ‘kosong’ saat kesadaran meninggalkan raga kita meski sebentar. Aku sempat mengerang panjang, sebelum terkulai lemah di dinding batako itu. D mencabut kedua jarinya dari tubuhku, memasukkannya ke dalam mulutnya, dan terdengar suara menghisap. Dikeringkannya kedua jari itu dengan celananya sendiri, dan dipeluknya tubuhku erat-erat. Kutempelkan kepalaku pada dada bidangnya, dan mataku terpejam sejenak, merasakan perasaan hangat dan aman yang selama hidup ini baru dapat diberikan oleh dia.

Agak lama kami berpelukan erat begitu, sampai aku merasa seluruh energi dan kesadaranku pulih kembali. Kubereskan lagi letak celanaku. D membantuku mengancingkan kaitan bra sportku, jari-jarinya menyisir sejenak rambutku yang agak acak-acakan karena ulah kami barusan.

“Kok nggak keliatan warna birunya?” tanyanya mengomentari rambutku.
“Gelap sih. Kalau siang kan kelihatan sedikit.” jawabku singkat, seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
“Nggak balik ke gerombolan angkatanmu?” tanyanya lagi.
“Nanti sajalah.” jawabku cuek, tapi sambil menyandarkan kepala ke bahunya.
“Mm.. sebaiknya kamu segera balik ke sana.” kata D lagi.
“Kenapa emang, Boss?” tanyaku sambil berusaha mempertahankan posisi kepalaku di bahunya.
“Si Bret tampak mencari-cari kamu. Mungkin mau diajak pulang, udah malam.” jawab D lagi.
“Mana sih?” tanyaku sambil menatap jauh ke kerumunan orang di sekitar panggung di tengah lapangan. Tampak kabur karena aku tidak mengenakan kacamata minusku yang memang jarang kupakai di luar jam kerja.
“Aku pulang sama kamu aja.” jawabku singkat.
“Weits! Nggak bisa dong, Bret kan kasihan. Dia sebagai cowok kan bertanggung jawab ngantar kamu sampai di rumah lagi. Kan dia yang jemput.” jawab D, “Nanti aku susul ke apartemen lah, jam satuan.” sambungnya.

Aku tersenyum dan mengecup bibirnya singkat, lalu kembali melangkahkan kaki ke arah kerumunan orang.

Di dalam Kijang EFI silver milik si Bret aku menurunkan sandaran bangku agar posisiku lebih rileks. Kedua telapak tangan kuletakkan di belakang kepala sambil menatap jalanan, membayangkan kejadian bersama D tadi. Bret menghidupkan radio dan terdengar suara Mr.Big melantunkan ‘To Be With You’.

“Nah, finally…” ujar Bret, “Lagu tahun sembilan puluhan awal!”
“Hihihi, emangnya tadi band-nya sampai tahun berapa?” tanyaku.
“Mereka nggak urut mainnya.” jawab Bret, “Mulanya mereka mainin lagu-lagu baru, lantas lagu enam puluhan, tapi pas kamu nggak ada tadi, band-nya mainin New York, New York.”
“Ooo…” jawabku singkat.

Lalu kami terdiam sampai lagu Mr.Big tadi habis.

“Sari…” kata Bret memecah kesunyian.
“Kenapa?” jawabku sambil tetap dengan posisi duduk yang tadi, hanya kini mataku melirik ke arahnya.
“Apa yang diceritakan beberapa orang tentang kamu itu betul?” tanyanya dengan nada diplomatis.
“Tergantung dari apa yang kamu dengar dari mereka.” jawabku tak kalah diplomatis.
“Hm… aku rasa kamu lebih tahu sih.” jawabnya lagi, “Mereka mungkin masih terbawa performance kamu pas di sekolah dulu, sering ganti teman jalan.”
“Emangnya apa yang salah dari berganti-ganti teman jalan?” tanyaku mencoba membelokkan arah percakapan.
“Nggak ada sih.” jawabnya, “Nggak ada sama sekali.”

Suasana sepi lagi, meski dari radio kini terdengar “You’re All I Need” nya White Lion.

“Kamu udah ketemu D tadi ya?” tanyanya di tengah-tengah lagu.
“Kok kamu tahu?” tanyaku balik.
“Nggak apa-apa.” jawabnya, “Dia yang nyuruh aku nelpon kamu tentang acara ini. Dia juga bilang agar aku jemput kamu ke acara ini.”
“Oh? Gitu?” tanyaku agak heran.
“Yup! Dia memang sengaja ngasih kamu kejutan, katanya.” jawab Bret datar,
“Sudah dikasihin belum kejutannya?”
“Hihihi…well…udah kok!” jawabku dengan tawa kecil penuh arti.

Bret tidak menjawab, hanya tersenyum kecil, seolah mengerti apa yang dimaksud.

“He’s a great guy, Sar.” kata Bret dengan nada datar lagi, “Terlepas dari semua gosip tentang petualangannya, dia orang yang baik.”
“Yah… well… begitulah.” jawabku singkat, “Kayaknya kamu tahu banyak tentang kami.” sambungku.
“Kurang lebih begitulah.” jawabnya, “Beberapa waktu lalu, pas kalian pertama kali ketemu, dia banyak tanya ke aku tentang kamu, karena dia tahu kalau aku teman dekatmu dulu.”
“Hahaha! Dasar cowok!” jawabku tertawa geli, “Selalu konspirasi di sana sini!”

Kijang silver itu mulai memasuki halaman apartemenku di daerah timur agak ke selatan kota S.

“Tuh, dia udah di lobby!” kata Bret sambil menunjuk ke arah lobby dimana disitu terlihat sosok “The Big D” sedang berdiri tegak menatap ke arah mobil kami. Di sampingnya tampak seorang satpam yang ukurannya nyaris setengah kali ukuran si D.

Setelah berpamitan dengan Bret dan mengucapkan terimakasih atas tumpangannya, aku mengajak D melihat ke kamar apartemenku yang baru ini, yang belum tertata, dan D berjanji untuk membantu menatanya sebelum dia pulang ke Jakarta minggu depan. Kami mandi bersama lalu pergi tidur. Di atas ranjang kami tidak melakukan apa-apa selain berpelukan sambil ngobrol. Menceritakan teman-teman SMA di masa lalu dimana ternyata banyak dari teman-teman SMA-ku adalah teman SMP si D. Ngobrol tentang bagaimana peran Bret dalam membantu D mendapatkan aku (hehehe, GR nih!). Konyolnya, D juga menceritakan bahwa alasan Bret membantunya adalah karena D pernah membantu Bret mendapatkan calon istrinya yang sekarang (Dasar pria!). Setelah lama ngobrol, akhirnya kami lelah dan sama-sama tertidur. D masih menginap di apartemenku selama seminggu, dan tentu banyak cerita tentang apa yang kulakukan bersamanya di sudut-sudut kamar apartemenku yang baru itu.

No comments:

Post a Comment

Musim Panas di Los Angeles - 3

  Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sa...