Friday, October 3, 2014

Teman Lama

Beberapa waktu telah berlalu semenjak ‘permainan’ kami yang terakhir, dan pekerjaan yang bertumpuk serta beragam masalah di kantor sungguh-sungguh membuatku terbenam dalam irama pekerjaan, sementara Anita sendiri juga kembali pada rutinitas dengan segala pernak pernik rumah tangga dan anak anak yang semakin membutuhkan perhatian 

Malam itu aku pulang agak cepat, rasa lelah dan jenuh dengan pekerjaan membuatku ingin cepat pulang dan menghabiskan waktuku untuk bersantai diruamh, kuingat aku masih mempunyai beberapa DVD yang belum kutonton.

Segarnya tubuh setelah mandi dan nyamannya bersantai dirumah membuatku agak terkantuk – kantuk sambil menyaksikan film yang sedang kuputar, sementara Anita juga sedang santai berleha – leha dengan novel kesukaannya, sementara anak anak juga asyik dikamarnya masing masing.

Namun belum sampai lima belas menit menikmati suasana yang demikian tenang, tiba tiba HP ku berbunyi, kulihat display dan tidak kukenal nomor yang menghubungiku malam – malam begini, dan ketika kujawab ”Hallo....”
“Hey............,masih ingat aku nggak....?” suara di HP ku menjawab sapaanku dengan ceria
“siapa ya...., samar samar teringat logat dan suara itu, namun belum teringat siapa.
“Uh.......sombongnya, ini aku Dimas...” jawab nya
“”Hey.......,dimana kamu...., kok tumben menelpon,” aku menjawab dengan senang, 

Dimas adalah temanku semasa kuliah dulu, seingatku ia jadi pegawai perminyakan dan bertugas di P. Sumatera,sudah sangat lama kami tak pernah bertemu, istriku juga kenal, dulu pernah kami jumpa ketika ia ditugaskan ke ibu kota dan sempat kuundang makan malam.

“Aku lagi di Jakarta, kebetulan ada tugas kantor, tapi cuma beberapa hari, besok sore aku kembali”, sebetulnya kemarin mau kutelpon kamu, tapi sibuk banget,baru sekarang beres, ketemu yuk,kalian datang ya, aku di hotel GM, di selatan” jelas nya panjang lebar.

“Aku sih ok, tapi kutanya Anita dulu ya, keberatan ngga kalau ia kutinggal sebentar” jawabku lagi
“Diajak aja.........., hayolah...mumpung aku di Jakarta nih.. entah kapan lagi aku dapat tugas kemari lagi” Dimas mendesakku.

Menatap istriku yang sedang menyimak pembicaaraanku, entah kilatan dari mana...tiba tiba saja aku terpikir...’ah...udah lama sekali sejak kita tidak refreshing’ kenapa nggak kuajak saja Dimas ‘bersantai’ bersama pikirku

“Baiklah........,tunggu ya.......” jawabku dan akupun mematikan Hpku
“Ma.......itu si Dimas, ingat kan ?........., kita pernah nagajak makan malam 2-3 tahun yang lalu, sekarang lagi di Jakarta, ngundang ketemu di hotelnya, ikut yuk.? Jelasku pada Anita yang ternyata dengan senang mau menemaniku,

“Pakai yang sexy ya bajunya.......” bisikku...sambil mengerling nakal padanya, dan sambil membelalakan matanya yang indah istriku cuma tersenyum.

Malam semakin larut, hampir pukul sepuluh ketika kami tiuba di Hotel bintang lima, dimana Dimas menginap, dan ketika kami tiba di lobby, Dimas sudah menanti,”Hai....apa kabar.......”ia lalu menyalamiku dan memeluk bahuku, lalu menatap istriku yang malam ini berpakaian baju terusan, pendek diatas paha, dengan potongan dada yang rendah sehingga sebagian buah dadanya menyembul, sangat sexy, “ Nit....kamu makin cantik.....”lalu menyalami nya dan mencium pipinya dengan akrab, “ Istrimu makin cantik saja.....” katanya kepadaku lalu ia mengajak kami langsung ke atas “Dikamarku saja ya, kebetulan aku dapat suite room, lumayan jadi ada ruang tamunya, sekalian kukenal;kan pada beberapa kolegaku” ia menjelaskan,dan tanpa menunggu persetujuan kami Dimas melangkah mendahului kami menuju lift, sinar mata Anita terlihat agak kecewa, mendengar ada beberapa koleganya, begitu juga aku, namun kami tidak memperlihatkan kesan apapun dan mengikuti Dimas, yang masih tampak lebih muda dari usia sesungguhnya, walau sekarang lebih gemuk namun masih tampak juga ketampanannya hanya lebih matang.

Kami diperkenalkan dengan 2 orang teman Dimas, mereka masih muda – muda, mungkin sekutar 28 – 30 tahun, semua tampak terpelajar, dan Dimas menjelaskan kalau mereka adalah tenaga ahli dari sebuah konsultan yang membantunya dalam melakukan negosiasi, “Hendrik dan Husni ini, lulusan dari Amerika...dan walau muda...namun skilll...mereka...wah......kita yang tua kalah deh..” Dimas menjelaskan sedikit latar belakang koleganya.

Kami berlima duduk di ruang tamu,dan sofa yang kelewat empuk itu, sungguh menyulitkan istriku mengatur posisi duduknya,karena pendeknya baju bawah yang dikenakannya, beberapa kali celana dalam hitam yang dikenakannya terlhat, kalau ia mengubah posisi

Susana semakin akrab, karena ternyata kedua kolega Dimas juga pandai bergurau, dan kulihat jelas bagaimana mata mereka bagai hendak menelan istriku, yang malam ini tampak sangat cantik dan ‘mengundang’, sementara Anita juga dengan mudah menyesuaikan diri termasuk melayani pembicaraan mereka dalam segala hal.

Suatu saat aku dan istriku beradu pandang,dan aku memberi kode dengan mataku, ia mengangguk, intinya,ia menjawab pertanyaanku bahwa ia tidak keberatan kalau ketiga laki laki itu ‘bermain’ dengannya.

Karena tidak leluasa untuk bicara dengan istriku, maka sementara ia sedang asyik bicara aku mengeluarkan HP ku dan mengirim SMS pada istriku walau jarak antara kami Cuma beberapa meter saja, agar ia yang harus membuat strategi, dan aku menyarankan beberapa alternatif untuk ‘memancing;’ suasana.

Tidak sampai 1 menit HP istriku berbunyi dan ia membaca SMS yang kukirimkan, menganggukkan kepalanya dan menyimpan kembali HPnya, ”Dari anak anak, mereka nitip oleh-oleh” kata istriku dengan santainya, wah.....hebat betul kemampuannya bersandiwara pikirku. 

Tiba-tiba saat mengambil minuman.....entah bagaimana gelasnya terlepas dan isinya langsung tumpah membasahi pakaiannya....”Aduh...maaf....”katanya lalu ia berkata pada Dimas “ Boleh kekamar mandi sebentar ?” tanya istriku. ”Oh...itu disana ..” katanya sambil bangkit dan melangkah menunjukan kamar mandi yang diikuti oleh istriku, aku juga ikut berdiri dan melangkah mengantarkan istriku yang kubimbing tangannya.

Belum lagi sempat aku duduk istriku memanggilku dan di pintu kamar mandi istriku membisikan sesuatu, aku menganggukan kepala lalu menemui Dimas, ”Mas...sorry, baju Anita basah sekali....malah kayaknya sampai kedalam....dikamar mandi ada kimono...boleh dipinjam dulu...supaya bajunya bisa digantung agar kering?” tanyaku.
“Ya boleh..............atau mau pakai yang lain, aku ada kaos baru yang baru beli....ukurannya besar...”Dimas menjawab dan menawarkan bantuannya

” Ah.nggak usah ......dia pinjam kimono aja katanya.......”jawabku sambil melangkah kembali kekamar mandi, mengetuk pintunya dan ketika pintu terbuka aku melangkah masuk, kulihat istriku usudah menggunakan kimono putih yang selalu tersedia di hotel-hotel berbintang, juga kulihat Baju,BH dan CD nya tergantung di atas bathtub dengan tali elastis yang memang juga selalu tersedia dikamar mandi seperti itu, kini siapapun yang masuk akan tahu bahwa dibalik kimono yang dikenakannya, istriku tidak mengenakan apa apa lagi, aku melangkah keluar kamar mandi dan segera Anita menyusul bergabung kembali diruang tamu

Benar saja, satu persatu dimulai dari Dimas, lalu Husni dan Hendrik,mereka permisi pura –pura ke belakang dan ketika kembali mata mereka nampak berupaya menembus kimono yang dikenakan istriku.

Pembicaraan kembali mengalir dan minuman beralkohol yang dipesan Dimas mulai menunjukan khasiatnya, terbukti dengan suasana semakin ceria, canda dan tawapun semakin ramai terdengar sementara kimono yang hanya diikat tali dipinggang membuat terkadang terbuka ,entah di bagian bawah sehingga terlihat atas pahanya atau bagian dada yang terbuka dan payudara istriku terkadang sempat terlihat jelas, dan kalau semula ia rajin merapikan nya maka lama-lama entah sengaja atau tidak, istriku tidak lagi terlalu memperdulikannya, membuat ketiga laki laki itu terkadang menatapnya dengan jakun naik dan turun.

Suasana semakin ceria dan istriku yang nampak semakin sexy itu membuatku mengambil langkah dengan mengajak bermain taruhan, “Dari pada iseng...ayo kita main taruhan....”ajakku 
“Taruhan bagaimana ...?” tanya Dimas antusias, memang sejak muda dia senang bertaruh, aku tahu itu.
“Biar gampang begini........,kita kan berlima, main kartu kelebihan orang juga kartunya nggak ada, , yang lain juga sulit, jadi gini aja”,aku menerangkan dengan mengambil sebuah botol yang sudah kosong, lalu kuputar diatas meja, dan aku melanjutkan “ kalau botol ini berhenti berputar menunjuk seseorang, maka ia adalah pemenangnya , nah tinggal apa nih taruhannya” kataku menjelaskan sambil bertanya.

“Ya apa........? apa juga boleh deh ,siapa takut” jawab Dimas cepat 
“Yang penting jangan uang nanti jadi nggak enak, kita kan bermain –main saja”, jelasku lagi.
“Apa ya.........”Hendrik bertanya dan tampak semua berpkir keras, dan ketika ku lirik istriku ia tersenyum manis, menyetujui langkahku.

“Gini aja deh............,si pemenang berhak menyuruh yang lain melakukan sesuatu........., dan yang disuruh nggak boleh nolak.okay.?” aku memberikan solusi.

Semua terdiam, lalu Dimas mengangkat tangan “setuju” katanya..........,diikuti Anita dan ketika melihat istriku setuju, serentak Hendrik dan Husni setuju juga.

Putaran pertama,kebetulan botol menunjuk kearah Dimas, walau matanya melirik Anita nampaknya ia masih sungkan menyuruh Anita melakukan sesuatu, dan aku juga memakluminya, maka disuruhnya Hendrik bernyanyi yang lalu bernyanyi dengan suara fals sebait lagu yang sedang populer, demikianlah ganti berganti dan suasana semakin santai juga semua menjadi semakin berani dalam menyuruh melakukan sesuatu.

Ketika suatu saat botol berhenti menunjuk diriku,maka aku berkata :”Okay,sekarang aku yang menang, Dimas ayo kamu duduk disebelah Anita dan pijat kakinya”kataku.

Walau kaget,namun Dimas tampak senang dan dengan sigap berpindah tempat duduk,namun bukan disebelah Anita melainkan didepannya dengan jarak rapat, dan istriku dengan santai menjulurkan kakinya, lupa dengan kimono yang dikenakannya hanya terikat dipinggangnya, sehingga aku yakin kalau Dimas dapat dengan sesekali mengintip kemaluan istriku yang dicukur rapih.

Acara pijat kaki jadi agak lama, dan aku pura pura permisi kekamar mandi sebentar, yang sengaja kulakukan agak lama karena ingin melihat apa yang terjadi, dan ketika kembali kulihat tangan Dimas sedang memijat pangkal paha istriku sementara kimono yang dikenakannya telah tersingkap lebih lebar,sementara kedua laki laki yang lain tampak memandang penuh iri hati. 

Melihatku kembali Dimas berhenti dan seakan akan tak tahu apa yang terjadi karena 
Istriku juga langsung merapihkan kimononya kami melanjutkan permainan namun aku tahu, bahwa atmosfer ruangan telah berubah, penuh dengan suasana yang bernuansa sex.

Kali ini aku menang kembali, ketiga laki laki itu semua melihatku dengan penuh harap kalau aku menyuruh mereka melakukan sesuatu lagi pada istriku yang juga menatapku, dan dari tatapannya yang agak sayu aku tahu kalau nafsunya sudah mulai naik,

“okay, tadi yang kusuruh satu orang, sekarang tiga tiganya deh, Husni mijat pundak dan yang lain mijat kaki dan yang satu tangan, ayooo.....cepat” kataku pura pura memerintah.

Istriku berpindah ke kursi kecil tanpa sandaran, sehingga Husni mudah memijat pundaknya tanpa terhalang, sementara Dimas dan Hendrik menarik kursi lalu mulai memijat kaki kanan dan kiri Anita yang sudah menjulurkan kakinya dan ditumpangkan diatas paha kedua laki laki itu.

Kulihat mereka dengan semangat ‘memijat’ istriku yang sesungguhnya cuma meremas remas saja, namun gerak tangan mereka terus keatas hanya masih ragu ragu karena kehadiranku sementara Husni yang memijat pundak juga tidak mau ‘rugi’ ia memijat atau tepatnya mengusap dari tengkuk, sehingga ketika tangannya turun ke peundak otomatis kimono yang dikenakan istriku juga agak melorot kebawah, dan bukan turun ke arah punggung namun bergerak kedepan, aku mengerti karena sesungguhnya ia sangat ingin meremas payudara istriku yang menggunung itu.

“Kalian santai dulu ya..... aku harus menelpon... kataku yang bergerak menjauh sambil mengeluarkan HP ku dan berpura pura sibuk menelpon.

Ketika aku melirik kulihat kimono yang dikenakan istriku sudah semakin tersingkap hingga kemaluannya kadang terpampang jelas, yang membuat mereka semakin salah tingkah namun jelas semakin bernafsu

Sekitar lima menit kubiarkan keadaan itu berlangsung dan kuminta untuk meneruskan permainan, kali ini istriku yang menang, dan permintaannya jelas jelas membuat ketiga laki laki itu terkejut, “Apa ya......katanya , lalu istriku memanggilku dan membisikan sesuatu ditelingaku, aku mengangguk dan kini ia berkata kepada tiga laki laki didepannya, “kalian sudah mengintip dan melihat semua punyaku sekarang semua harus melepaskan pakaian yang dipakai, ayo.... cepat....harus gentleman, ...” sambungnya lagi, .

“Lho..kok jadi bengong ..?...jangan curang dong...ayo...buka dong pakaian kalian...” setengah merajuk, setengah protes Anita mengatakan hal itu sambil melangkah kearah Dimas dan tangannya dengan cekatan mulai membuka kancing kemeja yang dipakai temanku itu.

Ketiga laki laki itu menatap kearahku dan aku hanya tersenyum sambil menganggukan kepala “Malam ini dia yang jadi Boss...., kayaknya kita mesti mengikuti semua perintahnya”, kataku sambil berdiri dan mulai membuka kemeja yang kukenakan.

Sekejab kemudian semua sudah tidak ada lagi yang mengenakan sehelai benangpun, Nampak Dimas yang duduk dengan bantal kursi digunakan menutupi kemaluannya yang nampak tegang, Husni berusaha menghilangkan kegugupannya dengan berjalan ke kulkas dan mengambil segelas air, kemaluannya juga nampak tegang, sementara Hendrik, sungguh tak diduga......miliknya sungguh besar.., paling besar diantara kami semua, mungkin mencapai 20 Cm dengan lingkar yang juga besar.

Permainan kembali berputar dan sesungguhnya semua sudah tak peduli saiap yang akan menang, namun toh botol itu menunjuk Hendrik yang dengan suara parau berkata “mm..mBak Anita yang sekarang harus melepas kimononya” katanya, namun matanya melirik kearahku seakan minta persetujuan.

Tanpa menjawab Anita, berdiri, menarik tali kimono di pinggangnya membiarkan kimono itu melorot turun ndan akhirnya lepas dari badannya dan kini ia berdiri dihadapanku dan 3 laki lain lain tanpa sehelai benangpun di tubuhnya, 

Suasana menjadi hening, dengan mata tak berkedip ketiga laki – laki itu memandang nanar pada istriku yang berdiri telanjang bulat, tubuhnya yang masih ramping dengan buah dada yang masih tampak kencang, kaki yang terawat serta perut yang masih rata, bulu kemaluan yang dicukur rapih menambah keindahan sosok wanita yang telah 15 tahun lebih menjadi istriku itu

Kini benar benar istriku mengontrol suasana; Dihampirinya Dimas yang sedang duduk dan tanpa diduga oleh siapapun, Anita duduk dilantai dihadapannya, tangannya memegang kemaluan laki laki itu yang sudah keras dan tegang dan detik berikutnya...kemaluan laki laki itu sudah berada dalam mulut mungilnya yang hangat, dengan lembut kemaluan itu dihisap, dijilat dari pangkal hingga kepala nya dan kembali dihisapnya, sementara tangannya yang satu mengusap dan memainkan buah zakarnya.

Kami semua terpana menyaksikan , suara yang keluar dari kemaluan yang dihisap, diimbangi dengan erangan dan desahan Dimas menambah erotisnya suasana, dan tiba tiba dengan desahan yang sangat keras Dimas tampak mengejang dan Anita semakin mempercepat hisapannya dan “Keluaaaar.......ohhh.....aku keluarrrrrrrrr...” Dimas mengerang dan melenguh, sementara leher jenjang Anita tampak bergerak, terlihat kalau ia berusaha menelan semua yang diberikan dan tak lama kemudian Dimas melemas...., istriku masih tetap belum melepaskan kemaluannya dari mulutnya..., dan baru dilepaskan setelah menyusut lemas.., istriku bangkit, menghampiri dan mencium Dimas yang nampak sangat puas itu.

Sambil mengerling kearahku dengan tersenyum manis, Anita menggandeng Husni dan Hendrik dan menariknya menuju ranjang.

Bertiga mereka bergerak bergumul Hendrik dan Anita berciuman dengan liarnya dan kemudian laki laki itu tampak asyik menjilati payudara istriku, menghjisap putingnya dan kepala Husni sudah berada di pangkal paha istriku yang dengan rakusnya menjilat kemaluan yang masih ranum itu.

Beberapa menit kemudian mereka bergerak mengubah posisi, kini Hendrik berbaring di ranjang dan Anita tampak berjongkok diatasnya berusaha memasukan kemaluan yang sangat besar itu, sedikit demi sedikit pantatnya diturunkan dan sedikit demi sedikit juga kemaluan itu mulai menembus kemaluan Anita yang memang sudah basah itu dan akhirnya.................dengan satu helaan nafas yang keras kemaluan itu masuk hingga kepangkalnya diiringi dengan jeritan penuh nikmat dari istriku.......”Aahhhhhhhhhh.........”

Setelah beberapa kali menggoyangkan pinggulnya, istriku memberi tanda pada Husni yang segera menyodorkan kemaluannya kemulut istriku dan kini sambil bergerak dengan kemaluan Hendrik didalam vaginanya, Husni yang memposisikan dirinya sedemikian rupa, memegang kepalanya dan menggerakan pinggulnya maju mundur sehingga kemaluannya keluar masuk mulut mungil istriku yang dengan penuh semangat menerimanya, sungguh .....................suara kecipak ......kecipak yang timbul dari kemaluan istriku dan kemaluan Hendrik didalamnya serta desahan napas yang semakin memburu dari Husni dan erangan Hendrik yang tengah menimati jepitan kemaluan istriku membuat suasana sangat erotis.

Husni tidak bertahan lama, ia menggerakan pinggulnya maju mundur semakin cepat dan denagn satu sentakan ia menahan gerakannya, tangannya menahan kepala istriku dan tampak ia mengejang keras,...................Anita tampak berusaha keras menelan semua cairan yang disemprotkan Husni dalam mulutnya dan ketika Husni melemas serta melepaskan kemaluan yang mulai menyusut dari mulut Anita, tampak sedikit cairan putih yang mengalir disela sela bibir manis istriku.

Kini Hendrik yang masih berbaring telentang mengambil inisiatif, mereka membalik posisi dan dengan Anita dibawah, nampak hendrik tak peduli dengan sisa sperma Husni...mereka berciuman, lidah mereka saling bertautan....... sementara kemaluannya yang besar nampak bergerak keluar masuk dengan cepat dalam vagina Anita.

Cukup lama mereka bersetubuh, dan dengan kaki yang diangkat semakin tinggi, melingkari pinggang Hendrik Anita tampak sanagt menikmati persetubuhan sementara kami bertiga menonton dengan antusias, dan akhirnya .......” Ahhh.......cepat............cepat................................ceppppattttt....................”, Anita mengejang dan mencapai puncak kenikmatan yang amat sangat dengan oragasme yang sangat panjang, yang kemudian disusul dengan teriakan Hendrik...”Uuuuuhhhhhhh.........................aaaahhh......, aku.keluarrrrrrrrrrrrrrrrr....”dan gerakannya semakin cepat...semkain cepat lalu dengan satu hentakan ia menghunjamkan kemaluannya sedalam mungkin dan mengeluarkan spermanya sedalam mungkin dalam rahim istriku.......

Mereka masih berpelukan cukup lama sebelum akhirnya melepaskan pelukan dan berbaring telentang 

Belum sejam beristirahat dan membersihkan sperma yang memenuhi vaginanya Anita sudah ‘in action’ lagi, Kali ini Dimas yang kali mengambil posisi doggy style dengan Hendrik telentang dan kemaluannya dalam mulut istriku, tanpa melepaskan kemaluan Dimas yang asyik keluar masuk disuruhnya Hendrik mengangkat kakinya setinggi mungkin dan dengan pinggul laki laki itu diganjal bantal, lidah Anita mulai menjelajahi keseluruh batang kemaluan laki laki itu bahkan hingga anus Hendrik, terkadang lidahnya ditekan masuk yang membuat laki laki itu berteriak penuh kenikmatan...dan hampir pada saat yang bersamaan keduanya menyemburkan air manina, satu dimulut Anita dan yang lain di dalam vaginanya, lalu begitu terlepas, Husni tanpa menunggu waktu memasukan dan membenamkan kemaluannya dalam vagina Anita yang masih penuh dengan sperma Dimas.

Aku menikmati giliran terakhir dan mendapatkan tontonan yang sedemikian dahsyat membuatku benar benar tak mampu bertahan lama, tidak sampai lima menit aku menumpahkan air maniku dalam kemaluan yang malam ini sudah berkali kali ‘diisi’ oleh ketiga laiki laki itu.

Permainan malam itu kami tutup dengan kami berempat menggumuli Anita secara serentak dan menyiramkan air mani kami kembali entah siapa dimulut dan siapa di kemaluannya sudah tak terpikirkan lagi.

Saat berpisah Dimas berbisik padaku....”Kamu beruntung...., istrimu sungguh luar biasa...thank’s ....” dan itu merupakaan pujian yang tulus dari temanku


No comments:

Post a Comment

Musim Panas di Los Angeles - 3

  Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sa...