Friday, October 3, 2014

Anniversary

Aniversary (2005)
Kembali sebuah pengalaman yang kuceritakan untuk semua

Hampir selama dua minggu kami cukup sibuk menyiapkan pesta peringatan hari ulang tahun perkawinan kami yang ke..belas, sejak jam tujuh para undangan yang terdiri dari keluarga, kerabat dan teman teman dekat mulai berdatangan di bungalow tepi pantai yang kami sewa, dan pesta berjalan semarak,, makan, minum, gurauan, dan semua acara yang dipersiapkan berjalan penuh keriangan hingga menjelang tengah malam saat para tamu mulai meninggalkan tempat acara berlangsung.

Tengah malam hanya tinggal kami berenam, aku dan istriku, Anton dan Hanne istrinya serta Joko dan Roy, semua adalah relasi bisnis yang sudah saling mengenal akrab, namun bukan ’teman’ dalam artian yang berhubungan dengan masalah sex, hanya sekedar teman baik dan mereka sama sekali tidak pernah mengetahui keterlibatan kami dalam lifestyle yang selama ini dijalani.

Anton adalah seorang bisnis eksekutif berusia hampir 50 tahun masih cukup atletis pada usianya dan Hanne yang kuperkirakan sekitar 10 tahun lebih muda, masih cukup cantik berkulit putih dan memiliki payudara yang tidak terlalu besar, kalah dengan Anita, tapi dandanannya yang cukup sexy memberikan pemandangan yang cukup menyegarkan sementara Joko bertubuh tinggi besar, cenderung agak gemuk adalah seorang akuntan yang selama ini cukup berhasil mengelola sebuah akuntan publik yang ia miliki pada usianya yang relatif muda belum 40- tahun, dan Roy Sales manager sebuah perusahaan yang cukup dikenal di negeri ini, berkulit hitam, sesuai dengan asalnya di bagian timur Indonesia.

Berenam kami masih ngobrol ngalor ngidul dan gelas berisi minuman keras semakin cepat kosong untuk langsung terisi lagi, sebenarnya aku agak ‘kuatir’ juga karena aku tahu persis, salah satu reaksi minum yang terlalu banyak bagi istriku adalah libidonya yang akan segera ‘naik’, ya itu kuketahui dengan jelas.

Benar saja, saat aku sedang ke belakang , Anita menyusulku dan berbisik “Pah.., mereka mau pulang atau mau ‘dibikinin’ acara..?”, dan aku agak bingung untuk menjawab. Masalahnya mereka bukan orang yang selama ini kami tempatkan dalam pergaulan yang seirama dengan ‘lifestyle’ kami, disisi lain kalau saja kami ‘salah’ melangkah, resiko cerita yang bisa tersebar akan berakibat cukup buruk, namun saat itu ingatan tentang betapa mengasyikan dan merangsangnya suatu ‘permainan’ terbayang di kepalaku dan menimbulkan gelombang yang membuatku juga jadi ingin melakukannya, apalagi ini sudah berjalan lebih dari 4 bulan sejak ‘occasion’ kami yang terakhir, apalagi disana ada Hanne dan Anton, suami istri yang sudah sekian puluh tahun berkeluarga dan aku tak tahu pandangan mereka tentang perilaku sex yang ‘tidak biasa’.

Otakku berpikir keras mencari suatu ide untuk mengukur keadaan, mengetahui seberapa jauh kami bisa melangkah dan menyaring siapa saja yang pantas untuk tetap bertahan dan siapa yang harus dipulangkan.

Aku memberi tanda pada Anita dan saat kami di belakang menyiapkan tambahan minuman kubisikan rencanaku yang dengan wajah sumringah ia menyambutnya.

Membawa nampan berisi minuman Anita melangkah kedepan dan saat melewati Hanne ia seakan terpeleset dan tumpahan minuman membasahi hampir seantero pakaian wanita itu.

“Aduh..maaf, sorry ya, nggak sengaja.., terpeleset sih...saya...” katanya sambil secara refleks membantu Hanne mengelap pakaiannya, namun pakaiannya terlalu basah untuk bisa dilap begitu saja.
“Yuk..., katanya menarik tangan dan mengajak Hanne kekamar dan menawarkan pakaian ganti sementara, sambil menunggu pakaian wanita itu kering.

“Waw...” kataku ketika melihat mereka keluar dari kamar, karena Hanne kini menggunakan sebuah bathrobe yang selama ini tersedia di kamar mandi, dan aku tahu kalau ia pasti tidak mengenakan bra, sementara Anita tetap dengan penampilannya.

“Ton..istrimu cantik banget lho..” kataku pada Anton, “Iya dong...kalau nggak cantik bukan istriku.., tapi Anita juga sexy banget loh, “ jawabnya menimpali sementara kedua laki laki yang lain juga mengiakan.

Anita memang pandai, ia pasti sudah menyembunyikan tali bathrobe itu entah dimana sebelumnya, karena bathrobe yang seharusnya menggunakan tali itu terlihat polos dan tampak betapa sibuknya Hanne menjaga agar tidak terbuka saat mengubah posisi duduk.

Kejadian tadi ternyata tidak mengurangi kegembiraan kami, dan terkadang Hanne lupa memegang pakaian yang dikenakannya dan tepat seperti dugaanku, ia tidak menggunakan bra yang pasti tadi basah, sehingga sesekali saat terbuka kami sempat melihat gundukan payudaranya, yang membuat aku dan kedua laki laki lainnya terpukau.

Hanne yang duduk di sebelah suaminya tidak menyadari kalau sebagian bathrobe yang panjang itu terduduki oleh Anton, sehingga suatu saat ketika ia berdiri untuk pergi kebelakang, bathrobe itu terlepas......

Kami semua terhenyak.., karena kejadian ini sedikitpun tidak kami duga.., dan disitu Hanne berdiri, terkejut, terpana dengan tubuh polos hanya menggunakan celana dalam hitam , dan ketika ia sadar agak terpekik ditariknya bathrobenya dan ia berlari ke kamar disusul Anita istriku.

“Maaf..” kata Anton.., “wah..dia pasti ngamuk deh..pulang nanti” katanya lagi., 
Aku menahannya ketika ia mau menyusul istrinya, “biar Anita yang menyelesaikan, pasti lebih manjur, kalau kamu yang kesana ntar perang dunia, bisa nggak tidur kita” kataku lagi meyakinkan, dan syukurlah Anton menurut.
“Emm. Is It allright Ton..? ” tanyaku, dan aku melanjutkan..”kita nih yang mesti bilang sorry.., tapi thank you juga bisa mendapatkan pemandangan indah dari istrimu.., it is allright for you?, jangan sampai gara gara aku mengundang kalian jadi masalah dikeluarga” kataku melanjutkan.

“Aku sih nggak apa”, lagian kalian kan temen deket, “lagian kan istriku nggak memalukan kok..iya..kan ?” katanya lagi dengan jenaka, “ya iya.., kita kagum kok, at her age your wife is really pretty..”, tiba tiba Roy menjawab, dan kami semua tertawa mengingat kejadian tadi.

Aku menghela nafas, minimal Anton bukan seseorang yang berpandangan kuno.

Tak lama kemudian Hanne dan istriku melangkah keluar kamar, dan yang membuat kami tercengang Anita juga memakai bathrobe, “biar fair” katanya.., “solidaritas antar wanita..” katanya lagi., dan secara penuh arti Anita memandangku, entah apa yang di perbincangkan kedua wanita itu?”

Semua kembali ke suasana semula, dan walau aku tahu disengaja, namun dengan gaya yang jauh lebih cuek istriku sama sekali tidak menjaga bathrobe yang dikenakannya sehingga sering payudaranya terpampang jelas dihadapan kami semua, dan suatu saat ia membisikan pada Hanne yang lalu berbisik pada suaminya.

Anton nampak berkerut kening sedikit namun rupanya Hanne berhasil meyakinkan suaminya yang lalu mengambil sebuah gelas dan sendok kecil lalu mendentingkannya seperti gaya di film film kalau mau meminta perhatian.

“Guys,..rupanya tadi Anita dan my wife ini sudah berunding, mereka mau balas dendam karena kalian melotot saat bajunya terbuka” dan sebelum mendapat jawaban dari yang lain Anton melanjutkan “mereka mengajak bertaruh..”

“Taruhan..?”hampir bersamaan Roy dan Joko menyahut

“Iya.., kita bikin game, nah detailnya siapa yang mau jelaskan ..?, kamu atau Anita ..?” lanjut Roy.

“Anita” Hanne menjawab, namun dari suaranya aku tahu kalau ia agak nervous

Dengan senyum dan sikap yang santai Anita lalu menjelaskan “Gini, kita bagi dua kelompok, kelompok pria, kalian berempat dan kelompok wanita, aku dan Hanne”, lalu ia melanjutkan saat tahu kalau semua mendengarkan dengan penuh perhatian, “Seperti kalian tahu, kita berdua kan cuma pakai jubah begini, nah permainannya adalah ....ayo bantu dulu bersihin meja ” istriku menghentikan ucapannya, lalu mengangkat dan merapihkan meja dengan memindahkan semua barang, gelas, asbak, botol dan lain nya dari atas meja, semua ikut membantu walau belum mengerti tujuannya hingga meja itu kini bersih, dan semua itu dilakukan dengan santai seakan tidak sadar kalau payudaranya terpampang membuat yang lain kadang terkesima.
Setelah meja rapih, diambilnya sebatang rokok, lalu didirikannya tepat ditengah meja.

“Oke.., sekarang semua mundur”, lalu diambilnya sebuah coin uang logam dari tasnya, dimintanya kami semua mundur dengan jarak sekitar hampir dua setengah meter, lalu dibuatnya sebuah pembatas.

“Nah yang mau ikutan boleh tinggal, yang nggak mau harus pulang, karena tadi kalian sudah melihat hampir seluruh tubuh Hanne, jadi supaya fair kita bikin permainan ini, sekalian supaya ramai, group laki laki harus bergiliran melempar coin ini kearah rokok itu, kalau kena dia menang dan berhak mengajak salah satu Hanne atau aku berdansa, disini kan ada music player,”katanya yang lalu dilanjutkan dengan “yang tidak kena harus melepaskan satu lembar pakaiannya , begitu berulang ulang, ok?”

Aku tersenyum, cerdik benar istriku ini, sangat sulit mengenai sebatang rokok ditengah meja dari jarak sejauh itu, namun iming-iming boleh berdansa dengan salah satu wanita cantik hanya memakai bathrobe sungguh merangsang.

“Jadi..? ayo siapa yang ikutan kesini”, katanya menunjuk posisi dibelakang pembatas, dan ternyata walau dengan pandangan agak bingung Roy dan Joko melangkah kesana, lagi pula..............siapa yang mau pulang dalam suasana begini ?.

Sebelum dimulai Anita memberiku tanda untuk memutar musik dan suara musik lembut mengalun diruangan itu, membuat suasana tegang menjadi agak santai.

“Ok.., siapa duluan..?” tanyanya dan aku tahu kalau tidak dimulai tidak akan jalan maka aku mengajukan diri, lagi pula dulu aku juara melempar gelang ke botol jaman masih sekolah.

Dengan uang logam Rp. 500,- berwarna kuning aku mengambil jarak, ancang – ancang dan melemparnya, ....luput............., maka istriku lalu menghampiriku dan memintaku melepaskan sweater yang kukenakan.

Berikutnya giliran Anton, Joko dan Roy dan semua luput, karena Roy tidak menggunakan jas maka kemeja nya lepas dan kini hanya berkaus singlet.

Giliranku berikutnya aku benar benar berkonsentrasi dan ..berhasil., maka aku mengajak Anita berdansa (sebenarnya sih pingin mengajak Hanne, tapi kuatir membuat suasana kurang nyaman aku mengajak istriku dulu, sekalian memberi contoh), kami berdansa sesuai lagu, tanganku berada ‘didalam’ bathrobe yang dikenakannya memeluk tubuh telanjang dibalik jubah itu istriku erat erat, dan semua pasti bisa melihat bagaimana kami berdansa berpelukan dan bagaimana tanganku ‘bermain’ dibalik jubah itu.

Lima menit kemudian permainan dimulai lagi, dan belum ada yang berhasil, Anton kini hanya mengenakan celana panjang, kemeja dan kaus kainya sudah lepas, Joko juga sama, dan Roy paling parah, dia hanya bercelana pendek, rupanya dibalik celana panjangnya masih ada celana pendek.

Pada putaran berikut akhirnya Roy berhasil dan yang dipilihnya Anita untuk berdansa, mungkin karena dilihatnya istriku lebih berani memampangkan tubuhnya, dan ia berdansa persis sama sepertiku, tangannya juga didalam bathrobe istriku, dan entah apa yang dilakukannya dibalik itu ?, Anton menatapku sekilas dan ketika melihat aku tetap ceria dan tidak terpengaruh, bahkan bertepuk tangan memberi semangat ia juga menjadi santai.

Giliran selanjutnya Joko berhasil, dan otomatis ia mengajak Hanne berdansa, walau agak ragu namun dorongan hatinya, seruan dari kami semua membuatnya berani berdansa sdengan cara yang sama, walau mulanya agak kaku karena Hanne terlihat agak tegang namun lama kelamaan menjadi relax dan mereka berdansa atau tepatnya berpelukan ditengah ruangan dan tangannya juga ada didalam bathrobe yang dikenakan Hanne.

Suasana semakin santai, relax dan perlahan lahan atmosfer ruangan mulai berubah, atmosfer yang relax namun mengandung suasana erotis, aroma sex mulai terasa dan semakin lama semakin kental.

Lemparan demi lemparan kembali dilakukan dan kini Anton, Roy, dan Joko hanya tinggal bercelana dalam, aku agak beruntung karena jumlah yang kukenakan masih satu buah lebih banyak karena awalnya aku pakai sweater, membuatku masih mengenakan celana panjangku.

Kedua wanita itu juga semakin bersemangat, kadang mereka berbisik dan cekikikan saat salah satu dari kami harus melepaskan pakaian yang dikenakan.

“Nah...”, kataku memecah ketegangan, karena satu lemparan yang gagal akan membuat salah satu dari laki laki yang ada akan telanjang bulat, “kalau ada yang gagal, kan habis dong modalnya, lalu terusannya gimana..?”. tanyaku melanjutkan.

“Yang udah habis boleh ikut terus kalau menang satu potong dikembalikan, dansa jalan terus, kalau nggak mau terus boleh ambil pakaiannya, tapi harus pulang, ..ya kan..? kali ini Hanne yang menjawab walau dengan wajah memerah sambil meminta pendapat istriku, kulihat matanya agak sayu, aku tahu kalau ia sudah terpengaruh.

“Ton,.. it is okay for you ?, “ tanyaku pada Anton, namun ia sedang terkesima memandang payudara istriku yang menyembul keluar, dan dengan agak kaget dan sedikit tergagap ia menjawab “i..iya.., terus dong..”

Setelah semua setuju kami meneruskan dan ketiga laki laki yang tinggal bercelana dalam itu mengundi giliran, Joko yang pertama,

Kami semua menahan nafas saat ia melempar dan ‘Klontang’ suara uang logam jatuh dimeja terdengar sangat nyaring dan ...gagal....., dengan wajah merah ia menatap kami dan istriku menghampirinya “Ayo..., c’mon... “ katanya dan dengan sangat kaku ia melepaskan celana dalamnya dan kini ia berdiri telanjang bulat, kemaluannya jelas menegang, dan kedua wanita itu menatap benda yang bergoyang goyang itu dengan menahan nafas.

Giliran berikutnya adalah Anton dan nasibnya bagus.., ia berhasil, tanpa disuruh ditariknya tangan istriku dan mereka berdansa atau lebih tepatnya berpelukan, tangannya juga ada didalam bathrobe yang dikenakan istriku, tangan Anita memeluknya dan mereka bergerak perlahan dengan rapatnya.

Hanne tampak memperhatikan sebentar namun perhatiannya lebih tertuju ke Joko yang tampak agak salah tingkah, dengan kemaluannya yang tegang membelah angkasa.

“Aw..” suara terkejut itu datang dari Hanne, saat celana Roy terlepas dan kemaluannya terlepas dari ‘kungkungan’, dan aku serta Anton juga terperangah melihatnya. Aku yakin kalau panjang benda itu mungkin bisa mencapai 23 Cm, dengan lingkar yang besar sekali dan urat urat yang tampak menonjol, kepalanya nampak sangat besar dan mengkilat terkena cahaya lampu, dan jelas nampak kalau kedua wanita itu terkesima melihat benda yang luar biasa itu..

Kini kami semua yang laki laki sudah tidak mengenakan sehelai benangpun, tinggal mencari peluang ‘membalas’ kekalahan.

Ketika giliran Roy yang menang, ia menarik tangan istriku, seperti yang lain mereka berdansa namun kini Roy telanjang bulat dengan benda besar menempel diperut istriku, dan tangannya juga ada dibalik jubah itu, “Hey.., biar adil..buka dong bathrobe nya” kataku yang disetujui serentak oleh yang lain dan tanpa harus disuruh untuk kedua kalinya jubah itu dalam hitungan detik sudah terlempar.

Kini mereka berpelukan ditengah ruangan dengan eratnya, Roy telanjang bulat dan istriku hanya menggunakan celana dalamnya, aku yang sudah bosan dengan acara lempar coin menghampiri mereka lalu dari belakang kuturunkan celana dalam istriku yang sama sekali tidak protes dan mereka meneruskan gerakannya, namun kini tangan Anita sudah menggenggam kemaluan Roy yang tegang itu, walau jari tangannya tidak cukup untuk melingkari sepenuhnya.

Anita berbalik dan kini Roy memeluknya dari belakang, tangan laki laki itu meremas dan memainkan payudara istriku dan memilin putingnya, sementar istriku menggesekan kemaluan yang sangat besar itu di belahan pantatnya.

Kembali istriku berbalik dan dengan kepala mendongak, bibirnya sudah saling melumat dengan bibir Roy, setelah beberapa saat ia melepaskan diri, menghampiriku memeluk dan menciumku “Happy Aniversary, I love you” bisiknya, “I love you too” jawabku dan kami berciuman lama

Hanne yang masih terpaku melihat itu dihampiri oleh Anita yang membisikan sesuatu, dan membantunya melepaskan bathrobenya dan sekaligus celana dalamnya, lalu ditariknya Joko yang sedang bengong dan dipasangkannya dengan Hanne dan bergeraklah mereka, berdansa dan saling memeluk dengan tubuh telanjang bulat, sementara ia sendiri menarik Anton dan kini kedua pasang manusia itu berdansa telanjang ditengah ruangan. saling berciuman, saling meremas dan memeluk.

Tiba tiba Anita melakukan gerakan yang lain, ia meliukan tubuhnya, semakin rendah dan akhirnya berlutut dilantai dan kemaluan Anton yang sudah tegang itu sudah berada dimulutnya,.

Anton hanya bisa memegang kepala istriku, matanya melihatku seakan bertanya dan ketika dilihatnya aku tersenyum dan mengangguk, ia lebih santai dan mulai menikmati permainan mulut istriku yang memang sangat pandai dengan lidah dan bibirnya, hisapan dan jilatannya yang sulit dilupakan laki laki manapun.

Joko yang tadi hanya berpelukan dengan Hanne, ketika melihat adegan itu menjadi berani dan mulai menciumi dan menghisap payudaranya, sambil tetap memeluknya erat erat dan Hannepun menerimanya sambil tangannya juga sudah memainkan kemaluan Joko yang walau tidak sebesar Roy tapi juga tidak kecil.


Anton rupanya tidak kuat menerima perlakuan istriku yang menjilati bijinya, menjilati batang kemaluannya, menghisapnya dan dengan tangan memegang kepala istriku pinggulnya diayun maju mundur dan kemaluannya sudah keluar masuk dimulut istriku, dan dengan satu teriakan tertahan ia menyemburkan air maninya, yang seperti biasa pasti tidak disia siakan oleh Anita.

Joko yang rupanya sudah bernafsu mengajak Hanne ke sofa dan dengan posisi doggy style ia mengarahkan kemaluannya ke vagina istri Anton, yang membantu dengan tangannya meletakan kepalan kemaluan itu dimulut vaginanya dan sentakan saat kemaluan itu menrobos masuk membuatnya mengerang, aku tidak menyia nyiakan peluang yang ada, kuposisikan diriku didepan mulutnya yang lalu menerima kemaluanku dalam mulutnya.

Anton yang nampak lemas, terkulai diosofa mnenonton istrinya menerima kemaluan Joko di vaginanya dan kemaluanku dimulutnya, sementara istriku sudah menarik Roy didorong duduk disofa dan berjongkok dihadapannya dengan wajahnya berjarak kurang dari 10 Cm dari kemaluan besar milik laki laki itu.

Seperti seorang ahli diamatinya kemaluan yang sangat besar itu, lalu lidahnya mulai menyentuh kepala kemaluan yang agak basah karena cairan bening yang keluar, dan selanjutnya dengan penuh perasaan ia menjilat, mencoba menghisap dengan memasukan kepala kemaluan itu dalam mulutnya namun hanya topi bajanya saja yang bisa masuk, dan kembali lidahnya menjilati bijinya, batangnya, sementara kedua tangannya mengelus dan meremas serta memainkan batang kemaluan laki laki itu.

Joko mempercepat gerakannya dan dengan satu erangan ia membenamkan kemaluannya dalam dalam dan menyemburkan air maninya dalam vagina Hanne, sementara aku masih belum, tapi setelah joko melepaskan batang kemaluannya kurubah posisi dengan Hanne dibawah, kemaluanku menerobos masuk vagina yang masih penuh air mani Joko itu, ‘uhh...’agak mengerang aku merasakan hangatnya vagina yang masih penuh itu.

Kami bersetubuh beberapa lama dan ternyata Hanne adalah type yang ‘ramai’, mulutnya nyerocos terus ‘iya...yah...terus...uh..., dorong....dorong..., yang dalam...ahhhh...” dan seterusnya dan semakin ramai ketika ia mendekati klimax, dan akhirnya hampir bersamaan kami tiba “uh......enak.....****** enak..., ah......iya yang dalam...jangan berhenti...ya....aaaaahhhhhhhhhhhhh..keluaaaaaaarrrrrrrrrrrrrr” pekiknya, dan akupun menambah jumlah air mani dalam vagina Hanne disaksikan suaminya.

Kami tergolek lemas, dan kini semua kami memperhatikan istriku, Roy telentang dilantai, istriku jongkok diatasnya dan mengarahkan kemaluan raksasa itu kedalam vaginanya, sempat kupikir..’apa muat..?’, dengan tegang kami semua menonton, namun ternyata dengan perlahan kepala kemaluan itu mulai terbenam..., kulihat expresi anita agak meringis, namun exciting dan sedikit demi sedikit batangnya semakin dalam memasuki vagina istriku, Anita yang jarang mengerang keras kini melenguh dan mulai menggoyang pinggulnya, buah dadanya bergoyang goyang berguncang, dan Roy menangkapnya dengan tangannya dan meremas remasnya.
Posisi itu tidak lama, karena rupanya Anita minta dirubah kini Roy diatas dan ia mulai mengayunkan pinggulnya dan batang kemaluan nya itu keluar masuk seperti piston dalam vagina istriku.

“Ah....., ...ah.... dan kulihat tangan istriku menjambak rambut Roy, mulutnya mencari bibir laki laki itu dan aku yang mengenal istriku tahu kalau ia akan segera mencapai klimaxnya yang pertama.

Benar saja, dengan desahan keras ia melenguh, “hhh..ah.....< tubuhnya menegang, pinggulnya terangkat tinggi...dan dengan satu helaan nafas yang keras ia mendesah..”ah............aku keluaaarrr”

Setelah itu ia tidak banyak bereaksi, membiarkan Roy mengayunkan pinggulnya terus, dan ketika gerakannya semakin cepat dan semakin cepat, ia imbangi lagi namun pada satu titik dimana laki laki itu hampir klimax tiba tiba disuruhnya Roy mencabut kemaluannya lalu ditariknya kemaluan besar itu dan dibawa kemulutnya, dan srrt... semua bisa melihat dengan jelas bagaimana cairan putih kental keluar dari lubang kecil dikepala kemaluan itu, memasuki mulut istriku yang terbuka, memenuhi lidah Anita lalu terlihat bagaimana leher jenjang nya bergerak menelan, namun air mani yang keluar sungguh sangat banyak, akhirnya kepala kemaluan itu memasuki mulut Anita , dari sela sela bibirnya cairan mani yang mengalir jelas terlihat, dan lidah istriku masih terus bergerak ‘membersihkan’ semua cairan dan lendir yang ada dibatang kemaluan Roy.
Terakhir dengan jari tangannya dibersihkannya sisa cairan dibibirnya dan disapukan kelidahnya.

Kami semua benar benar terpana dengan pemandangan yang bahkan blue film sekalipun tidak se-erotis itu.

Setelah beristirahat sejenak kedua wanita itu dengan melenggang dan bertelanjang bulat menuju kamar mandi dan setelah itu giliran kami membersihkan diri, 

“Anita benar benar luar biasa ya” kata Anton kepadaku, “Hm...Hanne juga nggak kalah Ton, veggynya legit sekali, biar habis diisi Joko tapi dindingnya masih terasa banget,..bener...istrimu nikmat sekali ” jawabku 

Kami ngobrol dan minum, lalu sesi kedua dimulai, saat aku sedang dalam posisi 69 dengan istriku, Anton yang rupanya ingin merasakan vagina istriku mengambil posisi dopggy style memasukan kemaluannya dari belakang, tidak sampai 5 Cm dari wajahku, sehingga jelas kulihat bagaimana kemaluan itu menembus masuk, dijepit oleh sepasang bibir vagina yang kemerahan dan setiap kali ditarik batangnya klitoris Anita seperti mengerut dan memanjang saat dibenamkan, akupun santai saja menikmati mulut istriku di kemaluanku dan lidahku membantu dengan memainkan klitorisnya.

Anton tidak lama bertahan, gerakan nya semakin cepat dan srrrt..., ia menyemburkan air maninya dalam vagina istriku, hanya dalam jarak kurang dari 5 Cm dari wajahku,
Saat kemaluannya terlepas kupikir istriku akan merubah posisi namun tiba tiba ia merendahkan vaginanya dan ...vagina yang masih penuh lendir itu ditempelkan paksa di mulutku, ...apalagi yang bisa kuperbuat selain menjulurkan lidah..?

Setelah beberapa lama baru aku ‘dibebaskan’ oleh istriku lalu dengan senyum nakal ia mulai menjilati wajahku yang jadi basah tadi.

Aku masih sempat melirik melihat Hanne dalam posisi di bawah di ‘hantam’ oleh Roy, sementara Joko mengocok kemaluannya persis diatas wajah Hanne.

Sekejab kemudian terdengar Hanne berteriak penuh kenimatan dan lenguhan Joko yang menyodorkan kemaluannya yang sedang berejakulasi kemulut Hanne dan disambut tanpa ragu.

Masih beberapa saat Roy menyetubuhi Hanne untuk kemudian juga melepaskan air maninya dalam vagina Hanne.

Sisa malam itu kami habiskan dengan satu putaran permainan lagi dan menjelang subuh semua berpamitan meninggalakan kami, yang langsung tertidur kelelahan.

Tinggal menunggu cerita mereka , saat bertemu kelak tentang kesan malam ini, khususnya Anton, ingin kudengar pendapatnya.

No comments:

Post a Comment

Musim Panas di Los Angeles - 3

  Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sa...