Monday, March 14, 2011

Arthur: Bali Bagus part 1

Di bulan Juli 2004, Saya dan Rudi berangkat ke Bali untuk menghadiri seminar investasi yang diadakan oleh sebuah perusahaan sekuritas ternama di Indonesia. Seminar diadakan di sebuah hotel megah di Nusa Dua. Seminar ini tak hanya mengundang peserta dalam negeri tetapi juga peserta dari luar negeri. Rudi adalah teman baik saya dari SMA, dan kebetulan sekarang kita bekerja di satu perusahaan. Bersama Rudi, dari SMA kita telah banyak mengeksplorasi tentang wanita dan seks. Rudi is the master in seducing women. Nama saya Arthur dan ini kisahku.

Selasa

Saya dan Rudi telah check in di hotel tempat seminar diadakan. Kami diberi satu kamar untuk berdua. Waktu menunjukkan pukul 13 siang, kami memutuskan untuk menyewa mobil dan pergi jalan-jalan ke Kuta. Saya banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto obyek yang menarik, sedangkan Rudi lebih senang keluar masuk toko mencari souvenir.


Rabu

Jam 8 pagi seminar telah dimulai. Pesertanya cukup banyak, saya taksir ada sekitar 80 orang. Untuk hari ini akan ada 4 session. Saya melihat makalah seminar cukup banyak dan menarik. Sambil mendengarkan seminar, tak lupa saya mencari-cari yang cantik. Mata saya tertuju pada seorang wanita Chinese yang cantik berambut panjang yang duduk 1 meter dari saya. Rambutnya di beri high light warna merah tua. Ia mengenakan blazer dan rok selutut berwarna biru tua. Sekali-sekali ia menguap lalu minum kopi. Selesai session pertama, ada istirahat 15 menit. Saya memakai kesempatan ini untuk kenalan dengan wanita itu.

"Bagus ya topiknya tadi" kata saya membuka pembicaraan.
"Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya"
"Nama saya Arthur" kata saya sambil memberikan kartu namaku
"Oh iya, saya Dewi" katanya sambil mengeluarkan kartu namanya.

Rupanya Dewi bekerja di perusahaan sekuritas saingan perusahaan tempat saya bekerja

"Kamu sendiri saja ke seminar ini?" tanya saya.
"Iya, tadinya teman saya mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda"

Tak lama Rudi menghampiri saya diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese.

"Arthur, kenalin nih teman saya dari Singapore. Dulu saya kuliah bareng dengannya" kata Rudi sambil menunjuk ke pria itu.
"Halo, saya Arthur"
"Saya Henry" kata si pria.
"Saya Carol" kata si wanita.

Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Henry dan Carol bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Carol manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Dewi, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Dewi agak-agak nakal sehingga saya sempat berpikir ia akan mudah saya ajak tidur.

Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir jam 12 siang. Saya, Rudi, Henry, Carol dan Dewi makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore.

"Arthur, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Saya sudah bosan dengan makanan hotel" tanya Henry.
"Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant" sahut saya. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam.


Kamis

Seminar pun kembali dimulai jam 8 pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, saya menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Dewi terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih. Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Carol pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Carol ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock Café lalu makan malam ke Warung Made.


Jum'at

Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir jam 4 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Carol, Henry, Dewi dan Rudi sibuk berbelanja. Dewi rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Carol terlihat kecil mungil karena saya dan Rudi tingginya 185 cm, Henry sekitar 180 cm dan Dewi sekitar 170 cm.

Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian.

Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, saya terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Rudi kelihatannya sudah mabuk berat, Dewi dan Carol mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Rudi yang mabuk.

Saya memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, saya membopong Rudi keluar, Carol bersandar pada Dewi dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Rudi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Dewi, Carol dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Rudi.

Setiba di hotel, saya menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali saya bopong Rudi. Carol berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Dewi kelihatannya biasa saja padahal saya tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan saya menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 3, Henri dan Carol keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Dewi berseru sambil membuka-buka tasnya

"Shit, kunci kartu gue mana ya?"
"Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club" kata saya.
"Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis" ujar Dewi.
"Telepon dari kamar saya saja" saya menawarkan.

Pintu lift terbuka di lantai 4, kembali saya membopong Rudi yang sudah tak sadarkan diri, Dewi membantu saya membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, saya langsung menjatuhkan Rudi di tempat tidur. Dewi membuka pintu balkon dan melihat keluar

"Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut"
"Lumayanlah, kecil-kecilan" kata saya sekenanya.

Saya berdiri di belakang Dewi lalu memegang kedua bahunya sedangkan Dewi tetap melihat kearah laut.

"Enak ya mendengar suara ombak" kata Dewi.

Dewi lalu merapatkan punggungnya ke dada saya dan saya merangkul Dewi dari belakang. Dengan perlahan, saya mencium kepala Dewi lalu turun ke kuping kiri. Dewi mendongakkan kepalanya sehingga saya bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Dewi menoleh ke saya lalu mencium bibirku.

"Ummhh Arthur, you are so sexy" kata Dewi.

Sambil tetap merangkul Dewi, tangan saya menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan saya mulai menjelajahi seluruh pantat Dewi yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal. Tak henti-hentinya Dewi melenguh. Tangan Dewi pun ikut meremas kontolku dari balik celana. Lalu saya menarik Dewi kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur.

Tangan Dewi dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan saya langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Dewi yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas saya meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Dewi memburu dengan cepat apalagi saat saya mulai beralih ke vaginanya. Dewi bagaikan kuda liar saat klitorisnya saya jilat. Tak henti-hentinya saya menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Saya membalikkan tubuh Dewi untuk bergaya 69.

Di pantat kiri Dewi ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, saya tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Dewi menggenggam kontolku dan mulai menghisapnya. Saya pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Dewi terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus saya tahan pantatnya dengan kedua tangan saya. Tiba-tiba Dewi melepaskan genggaman tangannya dari kontol saya dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.

Kemudian Dewi nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Rudi. Saya mengikuti kemauannya, saya merenggangkan kakinya dan mengarahkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah saya setubuhi Dewi yang seksi. Dewi rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Rudi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Rudi. Dewi mengeluarkan kontol Rudi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas kontol Rudi.

Saya memperhatikan Dewi yang mulai mengulum kontol Rudi yang masih lemas sedangkan Rudi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap kontolnya. Tak henti-hentinya payudara Dewi saya remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Dewi kembali mengalami orgasme. Saya mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Dewi saya rentangkan dan kembali kontolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali kontol saya keluar masuk vagina Dewi.

Tujuh menit menggenjot Dewi, saya merasakan akan ejakulasi. Saya percepat gerakanku dan tak lama kontolku memuntahkan peju didalam vagina Dewi. Dengan terengah-engah saya mengeluarkan kontolku lalu menindih Dewi dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan saya baru menyadari ternyata Rudi sudah berdiri disamping kami

"Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan" kata Rudi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan.
"Tenang Rudi, kamu dapat giliran kok" kata Dewi sambil tertawa lalu menghampiri Rudi.

Sambil berlutut di tempat tidur, Dewi meremas kontol Rudi yang perlahan mulai berdiri. Rudi memejamkan matanya menikmati Dewi yang mulai menghisap kontolnya. Setelah puas menghisap kontol, Dewi berdiri ditempat tidur kemudian mencium Rudi. Dengan kasar Rudi menggendong Dewi sambil menciumnya. Kemudian Dewi dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Dewi. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Rudi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Dewi, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Dewi sambil berkata

"Satisfy me, bitch, suck my dick"

Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Dewi sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Dewi kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Saya kemudian berlutut didepan Dewi lalu menyodorkan kontolku. Dewi menyambut kontolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan kontolnya dalam vagina Dewi dengan keras, kontol saya otomatis ikut tersodok ke mulut Dewi. Tapi beberapa kali kuluman Dewi terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya. Tapi karena Dewi tidak protes, maka saya biarkan saja.

Bersambung...

No comments:

Post a Comment

Musim Panas di Los Angeles - 3

  Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sa...