Tiba-tiba terdengar suara orang berjalan di gang. Mia langsung tersentak dan membetulkan bajunya. Ia berjalan ke pintu dan mengintip keluar, rupanya hanya orang yang keluar dari kamar selesai membesuk. Mia tersenyum dan berkata
"Arthur, saya enggak berani melakukannya disini, takut supervisor saya lewat"
"Sebentar saja, enggak ketahuan kok asalkan kita tidak berisik" ujar saya.
"Hari Senin saja ya ditempat saya" kata Mia dengan wajah yang memelas.
"Sebentar saja sayang, 10 menit deh" ujar saya dengan nafsu yang sudah naik ke ubun-ubun.
Saya turun dari tempat tidur saya dan menghampiri Mia. Saya cium bibirnya dan Mia membuka baju, saya praktis telanjang bulat. Mia lalu membuka baju seragamnya dan menurunkan BHnya lalu mengangkat roknya dan celana dalamnya ditarik kebawah kakinya. Kami berciuman dengan penuh gairah. Saya menuntun Mia ke sofa, saya duduk disofa dan Mia duduk dipangkuanku menghadap saya. Saya mencium buah dadanya yang besar.
Mia mendesah dengan nikmat. Ia mengangkat pantatnya dan menuntun kontol saya kearah vaginanya. Vaginanya yang sudah basah membuat kontol saya masuk dengan mudah. Mia mendongak sambil memejamkan matanya menikmati kontol saya. Ia menggoyangkan pinggulnya naik turun dan memutar-mutarnya. Kontol saya terasa seperti ditarik dan diremas bersamaan. Nikmat sekali. Payudara Mia bergoyang-goyang dimuka saya dan langsung saya sambar putingnya dengan gigiku dan menggigitnya.
Dengan penuh gairah Mia memainkan kontolku dalam vaginanya. Bibirnya ia gigit agar tidak sampai berteriak. Saya sendiri berusaha menutup mulut saya dengan membenamkan kepala saya di buah dada Mia.
"Sshh.. Enak Arthur, enak sekali" ujar Mia mendesis.
Bagaikan kuda liar, Mia terus mengayun-ayunkan pantatnya. Keringat menetes dengan di kening dan dadanya. Wajahnya yang cantik terlihat semakin cantik meluapkan gairah didalam dirinya. Saya melirik ke bagian bawah perutnya, terlihat bulu kemaluannya yang agak lebat. Biasanya saya sedikit turn-off melihat wanita yang bulu kemaluannya lebat tapi kali ini gairah saya tidak padam malah semakin membara.
Tanpa mengeluarkan kontol saya atau mengubah posisi ML, saya mengangkat Mia. Mia memeluk saya dan kakinya melingkar di pinggang saya. Saya baringkan Mia di sofa, Mia menekuk kakinya lalu merapatkannya sehingga kontol saya terasa semakin rapat di vaginanya. Saya mulai menggenjot vagina Mia. Saya condongkan dada saya sehingga menyentuh dengkul Mia. Mata Mia tidak lepas dari mata saya. Tangan kanan saya meremas payudara Mia sedangkan tangan kiri saya meraih ke anus Mia dan memainkannya. Mia mendelik saat saya memasukkan jari tengah saya ke anusnya, perlahan tangan kanannya meraih jari saya danmenariknya keluar
"Jangan sayang, sakit" ujar Mia.
Saya terus menggenjot Mia dengan penuh gairah. Mia meremas-remas payudaranya sendiri sambil memejamkan matanya. Tak lama kemudian saya merasakan akan ejakulasi.
"Mau keluar Mia"
Mia langsung menurunkan kakinya sehingga kontol saya tercabut dari vaginanya, ia duduk lalu meraih kontol saya. Kontol saya langsung diremas dengan gemas dan dimasukkan ke mulutnya. Tangan kanannya meremas-remas biji sedangkan tangan kirinya memegang batang kontolku. Saya memegang kepala Mia dan menekan-nekan kepalanya sehingga kontol saya terasa masuk lebih dalam kedalam mulut Mia.
Kontol saya langsung memuntahkan peju kedalam mulut Mia yang mungil. Peju saya terlihat memenuhi mulut Mia sehingga ia terpaksa mengeluarkan kontol saya dari mulutnya dan menelan peju saya kemudian menjilat sisa peju yang turun di batang kontol. Kontol saya langsung bersih dijilat. Saya sebenarnya masih penasaran belum menjilat vagina Mia, tetapi Mia cepat-cepat memakai bajunya dan membereskan rambutnya. Keringat di dahinya ia lap dengan tissue. Kemudian ia mengambil bolpen dan menulis alamat dan nomor handphonenya.
"Saya off-duty hari Senin. Kamu pasti boleh pulang besok. Tapi nanti dokter akan minta kamu istirahat beberapa hari. Datang aja ya ke kost saya hari Senin" kata Mia. Saya cium bibir Mia dan Mia bergegas keluar.
Sabtu
Hari Sabtu saya akhirnya boleh pulang dan persis seperti yang dibilang Mia, saya diminta untuk istirahat dirumah sampai hari Rabu.
Senin
Jam 9 pagi saya sudah tiba di tempat kost Mia, sebelumnya saya sudah menelepon Mia untuk datang kesana. Mia telah menunggu diruang tamu tempat kostnya. Ia mengenakan celana pendek warna coklat dengan kaos lengan buntung yang ketat.
"Hai, akhirnya datang" seru Mia dengan senang. Mia langsung mengajak saya ke kamarnya.
"Kangen dengan Mia" kata saya sambil mencium bibirnya.
"Iya, saya kangen juga, masih penasaran dengan kontol kamu" jawab Mia sambil ciuman.
Saya membuka kaos dan celana pendek Mia. Tampak celana dalam model g-string berwarna hitam dikenakan Mia. Mia lalu gantian membuka baju dan celana panjang serta celana dalam. Kemudian Mia jongkok didepan saya lalu mulai menghisap kontolku. Selang beberapa menit menghisap kontol, saya meminta Mia berdiri lalu saya baringkan ditempat tidur. Saya cium payudaranya sambil tangan kanan saya mengelus vaginanya dari balik celana dalam. Mia memejamkan matanya menikmati kenikmatan yang saya berikan. Putingnya secara gantian saya hisap dan gigit lalu saya turun ke perut Mia. Mia menjerit geli saat saya gigit perutnya.
Dengan tak sabar saya mulai mencium vaginanya dari balik celana dalamnya, kemudian saya tarik celana dalamnya sampai ke dengkulnya. Wah ternyata Mia telah mencukur bulu kemaluannya sehingga terlihat tipis dan rapih, beda dengan malam sebelumnya yang bulu kemaluannya terlihat lebat. Saya jilat vaginanya yang berwarna merah, klitorisnya yang besar tidak luput dari gigitan saya. Mia menjerit-jerit kecil menerima gigitan-gigitan di klitorisnya. Saya membalikkan tubuh Mia lalu membuat posisi doggy style. Mia nungging didepan saya, pantatnya yang mungil saya remas dengan keras lalu saya minta Mia membungkuk lebih dalam sehingga anusnya terlihat. Saya jilat anusnya, Mia menggelinjang kegelian. Kemudian saya mulai mengarahkan kontol kedalam vagina Mia.
"Aahh, enak Arthur, enak sekali. Terus sayang. Lebih keras" pinta Mia.
Vagina Mia terasa hangat dan basah. Saya memegang pantatnya dan menggenjot vagina Mia dengan penuh nafsu. Mia mendesis-desis sambil memutar-mutar pantatnya. Setiap kali Mia memutar pantatnya, kontol saya terasa seperti ditarik lebih dalam divaginanya. Entah bagaimana caranya dia bisa melakukan itu. Saya memejamkan mata menikmati pijitan kontol saya dalam vagina Mia. Mia kemudian meluruskan kakinya sehingga tubuhnya rata dengan kasur, saya terpaksa harus menurunkan badan saya dan menindih tubuh Mia dari belakang. Tapi dengan gaya ini, kontol saya terasa semakin sempit memasuki vagina Mia karena dihimpit oleh paha Mia.
Tidak lama kemudian saya ejakulasi. Saya melenguh dengan keras dan tubuh Mia ikut mengejang pertanda ia juga orgasme. Saya lalu menindih tubuh Mia tanpa mengeluarkan kontol saya. Mia kemudian memutar tubuhnya lalu gantian menindih dada saya. Kami saling berciuman dan istirahat.
"Arthur, mau nggak kalau ada variasi?" tanya Mia.
"Variasi seperti apa?" tanya saya balik.
"Ada orang ketiga" sahut Mia.
"Siapa?"
"Namanya Desi, dia suster juga tapi kerjanya di lantai 2 dirumah sakit yang sama"
"Boleh aja, sekarang?"
"Bisa, tinggal telepon dan nanti dia datang dari kamar sebelah"
"Hah? Dia disebelah? Cantik nggak?" tanya saya bertubi-tubi. Kalau nanti yang datang suster yang mau mandiin saya waktu hari Jum'at pagi kan repot, pikir saya dalam hati.
"Cantik, jangan takut deh. Dia satu kost dengan saya" jawab Mia sambil meraih handphonenya.
Rupanya Mia telah bercerita kepada temannya mengenai persetubuhan kita di rumah sakit. Dan lebih mengejutkan lagi, Desi ini juga sering bersetubuh atau setidaknya oral sex dengan pasien. Hmm, nakal juga suster-suster ini, pikir saya dalam hati. Dalam waktu kurang dari semenit, Desi mengetuk kamar Mia dan dibukakan oleh Mia. Wajah Desi boleh juga walaupun tidak secantik Mia. Desi memakai daster bercorak bunga-bunga dengan warna mencolok khas dari Bali. Dari balik dasternya tampak buah dadanya yang tidak disangga BH. Saya masih berbaring di tempat tidur dengan telanjang dan mata Desi langsung tertuju ke kontol saya.
"Halo Desi" kata saya untuk menghilangkan kecanggungan.
"Halo Arthur" sahutnya dengan sedikit malu.
Mia berdiri dibelakang Desi lalu membuka daster Desi. Desi langsung telanjang bulat. Desi tersenyum malu lalu mendekat kepada saya. Saya meremas payudaranya yang tidak sebesar Mia tapi bulat dan kencang. Pantat Desi sedikit lebih besar dari Mia, bulu kemaluannya terlihat tercukur tipis dan rapih. Desi meraih kontol saya dan mengelusnya. Kemudian ia membungkukkaan tubuhnya dan mulai menghisap kontol saya, saya raih pantatnya dan menariknya kearah muka saya sehingga kita dalam posisi 69.
Mia tampak mengambil handycam dan mulai merekam adegan saya dan Desi. Dengan gemas saya jilat vagina Desi, tercium bau sabun yang wangi. Desi membalas dengan menghisap kontol saya sambil meremas bijiku. Puas ber-69, saya minta Desi tetap nungging lalu saya masukkan kontol saya ke vaginanya. Vaginanya tidak sesempit Mia tetapi begitu kontolku masuk langsung terasa vaginanya berdenyut-denyut di kepala kontolku. Desi saya genjot dengan penuh gairah. Mia merekam setiap adegan sambil tangan kirinya mengelus vaginanya sendiri. Desi mengikuti irama goyangan saya dengan menekan pinggulnya dengan keras kepinggul saya sehingga kontol saya masuk lebih dalam ke vaginanya.
Mia kemudian meletakkan handycamnya di meja dengan posisi lensa mengarah kami, kemudian ia berlutut dibelakang saya lalu memelukku. Tangan kanannya meremas-remas biji saya. Rangsangan yang diperoleh dari Mia membuat saya menggenjot Desi semakin keras.
"Oohh.. Terus Arthur, terus Arthur.. Saya mau keluar" jerit Desi dengan keras.
Tubuh Desi mengejang dan terasa vaginanya Desi menjadi sangat becek. Desi langsung tengkurap dengan lemas dikasur. Wah belum apa-apa udah lemas, saya berkata dalam hati.
Langsung saya tarik si Mia dan masukkan kontolku ke vaginanya. Mia membuka kedua kaki dengan lebar dan menerima kontol saya dalam vaginanya. Saya meremas-remas buah dadanya dengan nafsu sambil menggenjot kontolku yang belum tuntas tugasnya. Saya melirik ke Desi dan ia kelihatannya kembali bergairah. Ia jongkok diatas muka Mia dan Mia langsung melahap vagina Desi. Desi melenguh setiap kali lidah Mia menyapu vaginanya. Saya mencium bibir Desi dan kita saling berpagutan. Setelah menyetubuhi Mia selama 10 menit, peju saya terasa mau keluar. Langsung saya cabut kontol saya dan menyodorkannya ke mulut Desi. Desi menerima dengan senang dan menghisap dan menelan peju saya. Mia sendiri masih asyik menjilat vagina dan anus Desi.
Saya terkulai ditempat tidur, Desi rebahan disebelah kiri dan Mia disebelah kanan. Mia memutar video adegan seks tadi. Sepanjang hari, kami bertiga terus bersetubuh dengan posisi yang berbeda. Kadang-kadang gantian saya yang meng-handycam Desi dan Mia yang ber-69 dan berciuman. Three-some yang sangat eksotis. Tubuh saya langsung terasa sehat dan segar.
TAMAT
Monday, March 14, 2011
Arthur - Perawatan medis plus 1
Saya telah menerima banyak email dari pembaca yang penasaran menanyakan jati diri saya atau pun wanita yang saya telah saya tiduri. Perlu saya jelaskan bahwa Arthur hanyalah nama samaran saya. Tidak mungkin saya pakai nama asli karena akan dikenali orang-orang yang pernah tinggal di San Francisco dan otomatis orang-orang akan dengan mudah menebak nama-nama teman wanita yang ada di cerita-cerita saya. Semua nama-nama orang yang ada di cerita saya adalah nama samaran, akan tetapi semua kisah saya adalah nyata dan tidak saya tambah-tambahi. Apa adanya.
Teriring salam,
Arthur.
*****
Februari, Senin 2004
Saya terbangun dipagi hari dengan perasaan sakit yang luar biasa. Kepala saya terasa berat, badan saya panas sekali, dan badan tidak terasa bertenaga. Saya mencoba bangun dan sarapan. Setelah makan, saya malah terasa semakin lemas. Akhirnya saya SMS sekretaris saya untuk bilang tidak masuk kantor karena sakit. Jam 11 siang saya terbangun, kepala terasa semakin berat dan lemas sekali.
"Something is wrong" gumam saya.
Saya minta pembantu saya untuk panggil taksi. Setelah taksi tiba, saya berangkat dan minta diantar ke rumah sakit swasta yang besar di daerah kuningan, Jakarta. Saya langsung masuk ke unit gawat darurat dan tim medis langsung menangani saya. Darah saya diambil untuk dites dan sebuah infus dipasang dilengan kiri saya. Sejam kemudian, dokter memberitahukan hasil lab yang menyatakan trombosit darah saya jauh dibawah normal. Saya diminta untuk diopname.
Sambil mengisi registrasi rumah sakit, saya minta kamar VIP dan menelepon orang tua saya bahwa saya diopname dan minta dibawakan baju ganti dari rumah saya. Setelah urusan beres, saya langsung diantar ke kamar VIP. Selesai makan siang dan obat, saya langsung tidur dengan pulas. Sore hari, orang tua saya datang membawa baju ganti, dsb. Saya wanti-wanti mereka untuk tidak memberitahu kakak atau saudara saya karena tidak mau diganggu selama diopname.
Selasa
Jam 5:45 pintu kamar saya terbuka, seseorang membawa sarapan disusul oleh seorang pria yang membawa kotak putih, rupanya ia perlu mengambil darah saya untuk dibawa ke lab. Kepala saya masih sakit, badan masih panas dan masih tak bertenaga. Selesai sarapan kembali saya tertidur. Jam 6:30, seorang suster masuk.
"Selamat pagi Pak Arthur, saya mandikan ya supaya segar" kata suster.
Saya membuka mata sedikit dan mengangguk. Si suster dengan cekatan membuka baju dan celana tidur saya. Seluruh tubuh saya dioleskan dengan sabun cair lalu digosok setelah itu dilap dengan handuk basah. Selama dimandikan, saya menutup mata saya karena masih pusing. Sesekali saya membuka mata, saya perhatikan si suster bernama Mia (bukan nama asli). Tubuhnya langsing, rambutnya pendek, dadanya terlihat membusung dibalik baju seragam perawatnya.
"Pak, mau dibersihkan daerah selangkangan?" suster Mia bertanya.
"Ya boleh aja" jawab saya malas-malasan.
Celana dalam saya dibuka dan kembali suster Mia mengoleskan sabun cair dan membersihkan daerah selangkangan lalu dilap dengan handuk basah. Selama dibersihkan didaerah selangkangan, kontol saya terkulai dengan lemas. Ternyata urat mesum saya sedang tidak beraksi sama sekali, hahahaha. Setelah beres, suster Mia membantu saya memakai pakaian yang bersih dari tas saya lalu saya mengucapkan terima kasih. Jam 8, dokter datang untuk memeriksa kondisi saya kemudian saya melanjutkan tidur.
Rabu
Rutinitas pagi hari kembali terulang, sarapan diantar lalu datang si pria yang meminta darah saya (udah kayak drakula minta darah) dan kembali suster Mia datang untuk memandikan saya. Kepala saya masih sakit walaupun tidak separah kemarin dan badah masih hangat. Kali ini sambil dimandikan, mata saya terbuka lebar dan tertuju pada TV walaupun sekali-sekali melirik ke tubuh suster Mia. Wajahnya saya perhatikan, ternyata cantik juga dia. Jika dilihat sepintas mirip Wanda Hamidah. Kalau tersenyum, maka sebuah lesung pipit akan terlihat di pipi sebelah kanan. Kembali suster Mia menawarkan untuk membersihkan daerah selangkangan, saya perbolehkan. Kontol saya masih terkulai lemas. Rupanya badan lemas memang tidak akan mampu membuat kontol berdiri.
Saya melewati hari ini dengan lebih banyak tidur supaya cepat sehat. Sekali-sekali saya nonton TV tapi setelah itu kembali tidur.
Kamis
Pagi ini saya merasa cukup segar, kepala sudah tidak lagi sakit, temperatur badan sudah kembali normal dan tenaga tubuh terasa sudah membaik. Tidak sabar saya menunggu dimandikan suster Mia. Selesai sarapan dan pengambilan darah, suster Mia datang.
"Halo selamat pagi, kelihatannya sudah segar Pak Arthur" kata Mia dengan tersenyum.
"Panggil Arthur saja, enggak usah pakai Pak. Iya, sudah jauh lebih baik" kata saya dengan tersenyum.
"Wah kalau begitu enggak perlu ya dimandikan, bisa mandi sendiri" goda Mia.
"Kalau saya sehat, saya tidak ada disini, suster" jawab saya sambil tertawa.
"Hahaha, bisa saja Arthur" kata Mia.
Mia membuka baju dan celana tidur saya. Saat mengoles dada dan punggung saya dengan sabun cair, saya melirik kearah dadanya, wah besar juga! Mia menggosok dada, punggung dan lengan saya. Bibir Mia yang merah terasa dekat sekali saat itu membasuh dada saya dengan handuk basah. Ingin rasanya menciumnya. Lalu Mia melanjutkan membersihkan paha dan kaki saya. Tangannya yang lembut saat menyentuh paha saya tiba-tiba membangunkan urat mesum saya dan langsung kontol saya berdiri, hore! Mia tetap melanjutkan membasuh paha dan kaki walaupun sekali-sekali saya menangkap matanya melirik kearah kontol saya.
"Mau dibersihkan selangkangannya?" tanya Mia.
"Boleh, silakan" kata saya sok cuek.
Tangan Mia meraih celana dalam saya dan perlahan ia menariknya kebawah. Kontol saya langsung terayun kearahnya. Mia lalu membalur sabun cair di daerah selangkanganku. Tangannya terasa lembut sekali dan kontol saya terasa semakin mengeras.
"Maaf ya kalau ereksi" jawa saya sedikit malu.
"Tidak apa-apa kok, normal kok" jawab Mia sambil tersenyum.
Duh senyumannya membuat jantung saya berdegup dengan kencang. Mia kelihatannya hati-hati untuk tidak sampai menyenggol kontol saya. Selesai mandi, Mia membantu saya memakai baju lalu saya nonton TV sambil menunggu dokter datang.
Jum'at
Saya sudah merasa sehat sekali. Saya kembali membayangkan kenikmatan dimandikan oleh si cantik suster Mia. Sarapan dan tukang palak darah pun datang, dan sekarang saatnya mandi. Pintu kamar saya terbuka dan tiba-tiba yang muncul bukan Mia melainkan suster lain yang sama sekali tidak menarik.
"Aarggh, shit, who the hell are you?, I want Mia" jerit saya dalam hati.
Suster itu menawarkan untuk dimandiin. Serta merta saya menolak, saya bilang saya cukup kuat untuk mandi sendiri. Suster itu membantu saya ke kamar mandi setelah itu meninggalkan kamar saya. Selesai mandi, dokter datang dan membawa hasil lab terbaru. Trombosit darah saya sudah kembali normal. Nanti siang saya diijinkan untuk membuka infus dan kalau segala sesuatu baik maka hari Sabtu boleh pulang. Saya agak sedih tidak ketemu Mia, seharian saya melewatkan waktu dengan nonton TV dan menanyakan ke sekretaris keadaan di kantor.
Malam hari setelah makan malam, orang tua saya pamit untuk pulang. Saya masih nonton TV untuk menunggu suster shift malam datang. Biasanya suster itu hanya akan memantau kondisi sebelum saya tidur. Tangan kiri saya sudah kembali bebas setelah jarum infus dicabut. Jam 21:30, pintu terbuka dan suster Mia muncul.
"Selamat malam Arthur, sudah sehat?" Mia bertanya dengan tersenyum.
"Halo Mia, saya sudah merasa sehat. Kok sekarang datangnya malam?" tanya saya.
"Biasa, rotasi jam kerja" kata Mia.
"Senang melihat Mia lagi" kata saya sedikit merayu, tanpa saya sadari saya menyentuh lengan Mia. Mia tersenyum dan membiarkan tangan saya memegang lengannya.
"Gimana kabarnya? Masih lemas?" tanya Mia.
"Sudah sehat, kan tadi sudah saya jawab" kata saya sedikit bingung.
"Bukan kamu, tapi adik kamu" kata Mia dengan pandangan menggoda.
"Coba saja kamu tanya sendiri" kata saya sambil tersenyum.
Dengan mata yang tetap tertuju pada mata saya, Mia mengulurkan tangannya ke arah kontolku. Ia meremas kontol saya dari balik selimut.
"Besar ya, Arthur" kata Mia.
"Buka aja celananya" kata saya.
Mia membuka celana piyama dan celana dalamku. Kontol saya langsung digenggam. Mia membungkukkan dadanya kearah saya dan saya langsung mencium bibirnya, saya buka kancing baju seragamnya lalu saya tarik BHnya kebawah. Payudaramia cukup besar, berukuran 34B. Putingnya berwarna coklat muda dan payudaranya terlihat sedikit menurun. Dengan gemas, saya cium bibir Mia sambil meremas dan memelintir puting Mia. Mia membalas dengan meremas dan mengocok kontol saya. Setelah berciuman agak lama, Mia melepaskan dirinya dan menghisap kontol saya. Lidahnya menyapu seluruh kepala kontol lalu ke batang kontol dan biji. Hmm, nikmatnya.
Saya mengangkat rok putih Mia dan terlihat celana dalamnya berwarna putih. Saya remas pantatnya yang tidak terlalu besar lalu saya elus vaginanya dari belakang pantatnya. Mia menggelinjang kegelian. Saya menyelipkan jari saya kebalik celana dalamnya dan mengelus-elus vaginanya. Terasa bulu-bulu kemaluan Mia disekitar vaginanya. Vagina Mia sendiri terasa basah dan licin. Wah kelihatannya Mia sudah orgasme, mungkin saat kita ciuman dia mengalami orgasme. Jari saya sibuk mengelus vagina dan memainkan klitorisnya. Nafas Mia mendengus-dengus dan ia menghisap kontol saya semakin keras.
Bersambung...
Teriring salam,
Arthur.
*****
Februari, Senin 2004
Saya terbangun dipagi hari dengan perasaan sakit yang luar biasa. Kepala saya terasa berat, badan saya panas sekali, dan badan tidak terasa bertenaga. Saya mencoba bangun dan sarapan. Setelah makan, saya malah terasa semakin lemas. Akhirnya saya SMS sekretaris saya untuk bilang tidak masuk kantor karena sakit. Jam 11 siang saya terbangun, kepala terasa semakin berat dan lemas sekali.
"Something is wrong" gumam saya.
Saya minta pembantu saya untuk panggil taksi. Setelah taksi tiba, saya berangkat dan minta diantar ke rumah sakit swasta yang besar di daerah kuningan, Jakarta. Saya langsung masuk ke unit gawat darurat dan tim medis langsung menangani saya. Darah saya diambil untuk dites dan sebuah infus dipasang dilengan kiri saya. Sejam kemudian, dokter memberitahukan hasil lab yang menyatakan trombosit darah saya jauh dibawah normal. Saya diminta untuk diopname.
Sambil mengisi registrasi rumah sakit, saya minta kamar VIP dan menelepon orang tua saya bahwa saya diopname dan minta dibawakan baju ganti dari rumah saya. Setelah urusan beres, saya langsung diantar ke kamar VIP. Selesai makan siang dan obat, saya langsung tidur dengan pulas. Sore hari, orang tua saya datang membawa baju ganti, dsb. Saya wanti-wanti mereka untuk tidak memberitahu kakak atau saudara saya karena tidak mau diganggu selama diopname.
Selasa
Jam 5:45 pintu kamar saya terbuka, seseorang membawa sarapan disusul oleh seorang pria yang membawa kotak putih, rupanya ia perlu mengambil darah saya untuk dibawa ke lab. Kepala saya masih sakit, badan masih panas dan masih tak bertenaga. Selesai sarapan kembali saya tertidur. Jam 6:30, seorang suster masuk.
"Selamat pagi Pak Arthur, saya mandikan ya supaya segar" kata suster.
Saya membuka mata sedikit dan mengangguk. Si suster dengan cekatan membuka baju dan celana tidur saya. Seluruh tubuh saya dioleskan dengan sabun cair lalu digosok setelah itu dilap dengan handuk basah. Selama dimandikan, saya menutup mata saya karena masih pusing. Sesekali saya membuka mata, saya perhatikan si suster bernama Mia (bukan nama asli). Tubuhnya langsing, rambutnya pendek, dadanya terlihat membusung dibalik baju seragam perawatnya.
"Pak, mau dibersihkan daerah selangkangan?" suster Mia bertanya.
"Ya boleh aja" jawab saya malas-malasan.
Celana dalam saya dibuka dan kembali suster Mia mengoleskan sabun cair dan membersihkan daerah selangkangan lalu dilap dengan handuk basah. Selama dibersihkan didaerah selangkangan, kontol saya terkulai dengan lemas. Ternyata urat mesum saya sedang tidak beraksi sama sekali, hahahaha. Setelah beres, suster Mia membantu saya memakai pakaian yang bersih dari tas saya lalu saya mengucapkan terima kasih. Jam 8, dokter datang untuk memeriksa kondisi saya kemudian saya melanjutkan tidur.
Rabu
Rutinitas pagi hari kembali terulang, sarapan diantar lalu datang si pria yang meminta darah saya (udah kayak drakula minta darah) dan kembali suster Mia datang untuk memandikan saya. Kepala saya masih sakit walaupun tidak separah kemarin dan badah masih hangat. Kali ini sambil dimandikan, mata saya terbuka lebar dan tertuju pada TV walaupun sekali-sekali melirik ke tubuh suster Mia. Wajahnya saya perhatikan, ternyata cantik juga dia. Jika dilihat sepintas mirip Wanda Hamidah. Kalau tersenyum, maka sebuah lesung pipit akan terlihat di pipi sebelah kanan. Kembali suster Mia menawarkan untuk membersihkan daerah selangkangan, saya perbolehkan. Kontol saya masih terkulai lemas. Rupanya badan lemas memang tidak akan mampu membuat kontol berdiri.
Saya melewati hari ini dengan lebih banyak tidur supaya cepat sehat. Sekali-sekali saya nonton TV tapi setelah itu kembali tidur.
Kamis
Pagi ini saya merasa cukup segar, kepala sudah tidak lagi sakit, temperatur badan sudah kembali normal dan tenaga tubuh terasa sudah membaik. Tidak sabar saya menunggu dimandikan suster Mia. Selesai sarapan dan pengambilan darah, suster Mia datang.
"Halo selamat pagi, kelihatannya sudah segar Pak Arthur" kata Mia dengan tersenyum.
"Panggil Arthur saja, enggak usah pakai Pak. Iya, sudah jauh lebih baik" kata saya dengan tersenyum.
"Wah kalau begitu enggak perlu ya dimandikan, bisa mandi sendiri" goda Mia.
"Kalau saya sehat, saya tidak ada disini, suster" jawab saya sambil tertawa.
"Hahaha, bisa saja Arthur" kata Mia.
Mia membuka baju dan celana tidur saya. Saat mengoles dada dan punggung saya dengan sabun cair, saya melirik kearah dadanya, wah besar juga! Mia menggosok dada, punggung dan lengan saya. Bibir Mia yang merah terasa dekat sekali saat itu membasuh dada saya dengan handuk basah. Ingin rasanya menciumnya. Lalu Mia melanjutkan membersihkan paha dan kaki saya. Tangannya yang lembut saat menyentuh paha saya tiba-tiba membangunkan urat mesum saya dan langsung kontol saya berdiri, hore! Mia tetap melanjutkan membasuh paha dan kaki walaupun sekali-sekali saya menangkap matanya melirik kearah kontol saya.
"Mau dibersihkan selangkangannya?" tanya Mia.
"Boleh, silakan" kata saya sok cuek.
Tangan Mia meraih celana dalam saya dan perlahan ia menariknya kebawah. Kontol saya langsung terayun kearahnya. Mia lalu membalur sabun cair di daerah selangkanganku. Tangannya terasa lembut sekali dan kontol saya terasa semakin mengeras.
"Maaf ya kalau ereksi" jawa saya sedikit malu.
"Tidak apa-apa kok, normal kok" jawab Mia sambil tersenyum.
Duh senyumannya membuat jantung saya berdegup dengan kencang. Mia kelihatannya hati-hati untuk tidak sampai menyenggol kontol saya. Selesai mandi, Mia membantu saya memakai baju lalu saya nonton TV sambil menunggu dokter datang.
Jum'at
Saya sudah merasa sehat sekali. Saya kembali membayangkan kenikmatan dimandikan oleh si cantik suster Mia. Sarapan dan tukang palak darah pun datang, dan sekarang saatnya mandi. Pintu kamar saya terbuka dan tiba-tiba yang muncul bukan Mia melainkan suster lain yang sama sekali tidak menarik.
"Aarggh, shit, who the hell are you?, I want Mia" jerit saya dalam hati.
Suster itu menawarkan untuk dimandiin. Serta merta saya menolak, saya bilang saya cukup kuat untuk mandi sendiri. Suster itu membantu saya ke kamar mandi setelah itu meninggalkan kamar saya. Selesai mandi, dokter datang dan membawa hasil lab terbaru. Trombosit darah saya sudah kembali normal. Nanti siang saya diijinkan untuk membuka infus dan kalau segala sesuatu baik maka hari Sabtu boleh pulang. Saya agak sedih tidak ketemu Mia, seharian saya melewatkan waktu dengan nonton TV dan menanyakan ke sekretaris keadaan di kantor.
Malam hari setelah makan malam, orang tua saya pamit untuk pulang. Saya masih nonton TV untuk menunggu suster shift malam datang. Biasanya suster itu hanya akan memantau kondisi sebelum saya tidur. Tangan kiri saya sudah kembali bebas setelah jarum infus dicabut. Jam 21:30, pintu terbuka dan suster Mia muncul.
"Selamat malam Arthur, sudah sehat?" Mia bertanya dengan tersenyum.
"Halo Mia, saya sudah merasa sehat. Kok sekarang datangnya malam?" tanya saya.
"Biasa, rotasi jam kerja" kata Mia.
"Senang melihat Mia lagi" kata saya sedikit merayu, tanpa saya sadari saya menyentuh lengan Mia. Mia tersenyum dan membiarkan tangan saya memegang lengannya.
"Gimana kabarnya? Masih lemas?" tanya Mia.
"Sudah sehat, kan tadi sudah saya jawab" kata saya sedikit bingung.
"Bukan kamu, tapi adik kamu" kata Mia dengan pandangan menggoda.
"Coba saja kamu tanya sendiri" kata saya sambil tersenyum.
Dengan mata yang tetap tertuju pada mata saya, Mia mengulurkan tangannya ke arah kontolku. Ia meremas kontol saya dari balik selimut.
"Besar ya, Arthur" kata Mia.
"Buka aja celananya" kata saya.
Mia membuka celana piyama dan celana dalamku. Kontol saya langsung digenggam. Mia membungkukkan dadanya kearah saya dan saya langsung mencium bibirnya, saya buka kancing baju seragamnya lalu saya tarik BHnya kebawah. Payudaramia cukup besar, berukuran 34B. Putingnya berwarna coklat muda dan payudaranya terlihat sedikit menurun. Dengan gemas, saya cium bibir Mia sambil meremas dan memelintir puting Mia. Mia membalas dengan meremas dan mengocok kontol saya. Setelah berciuman agak lama, Mia melepaskan dirinya dan menghisap kontol saya. Lidahnya menyapu seluruh kepala kontol lalu ke batang kontol dan biji. Hmm, nikmatnya.
Saya mengangkat rok putih Mia dan terlihat celana dalamnya berwarna putih. Saya remas pantatnya yang tidak terlalu besar lalu saya elus vaginanya dari belakang pantatnya. Mia menggelinjang kegelian. Saya menyelipkan jari saya kebalik celana dalamnya dan mengelus-elus vaginanya. Terasa bulu-bulu kemaluan Mia disekitar vaginanya. Vagina Mia sendiri terasa basah dan licin. Wah kelihatannya Mia sudah orgasme, mungkin saat kita ciuman dia mengalami orgasme. Jari saya sibuk mengelus vagina dan memainkan klitorisnya. Nafas Mia mendengus-dengus dan ia menghisap kontol saya semakin keras.
Bersambung...
Arthur: Bali Bagus part 2
Rudi kemudian menarik punggung Dewi sehingga punggung Dewi tegak. Saya menjilat dan menghisap seluruh payudara Dewi. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar keseluruh tubuh Dewi. Akhirnya saya mengambil bir di mini bar lalu duduk dikursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Dewi melenguh pertanda ia mengalami orgasme tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun.
Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Dewi duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan ditempat tidur dengan lemas.
Tiba-tiba telepon berbunyi..
"Halo, ini Henri, sudah tidur kalian?" tanya Henri.
"Belum, kita lagi bersenang-senang. Ada Dewi disini" jawab saya.
"Wah, habis seks ya?" tanya Henri dengan semangat.
"Hehehe, begitulah. Kamu tidur ya? Atau jangan-jangan habis seks dengan Carol" tanya saya menduga-duga.
"Saya ditempat Carol. Saya ketempat kalian deh" kata Henri.
Waduh, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Carol. Saya menceritakan ke Dewi percakapan tadi. Dewi tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu bel kamar berbunyi dan saya bukakan. Tampak Henri mengenakan celana pendek dan kaos sedangkan Carol mengenakan kaos tidur yang panjang hingga ke dengkul. Dari balik bajunya terlihat ia tidak memakai BH.
"Wah, kalian abis pesta pora nih" kata Henri sambil tertawa melihat saya yang telanjang dan Rudi yang juga telanjang tapi tidak sadarkan diri.
"Kamu juga nih abis pesta dengan Carol" kata saya. Carol pun ikut tertawa. Mata Carol terus tertuju pada kontolku yang sudah berdiri.
"Mana Dewi?" tanya Henri.
"Di kamar mandi" jawabku.
Henri mengetuk pintu kamar mandi lalu masuk kedalam. Terdengar suara Dewi dan Henri tertawa-tawa kemudian hening.
"Kelihatannya mereka sudah mulai" kata saya kepada Carol.
Carol menghampiri diriku lalu mencium bibirku. Saya langsung membalasnya dan kita saling berpagutan. Tanganku mulai mengangkat kaos yang dipakai Carol dan membukanya. Kemudian saya melihat tubuh Carol yang telanjang bulat. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya.
Dengan gemas, saya menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Carol. Carol meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Carol dan ke vaginanya. Carol mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah saya menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Carol. Syukurlah Carol masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Saya membuka bibir vagina Carol dan menyedot vaginanya. Carol mengerang dengan penuh nikmat.
Puas melahap vaginanya, saya mengangkat tubuh Carol. Kaki Carol melingkar dipinggangku dan saya memasukkan kontolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, saya menyandarkan punggung Carol ke dinding lalu saya mulai menggenjot Carol. Payudara Carol yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya saya mencium bibirnya yang merah dan mungil. Benar-benar gemas aku dibuatnya.
Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Dewi yang melenguh. Carol pun ikut melenguh tiap kali kontol saya menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Carol sambil menyetubuhinya. Saya duduk di kursi dan Carol duduk dipangkuanku menghadap saya. Vagina Carol terasa mendenyut-denyut di ujung kepala kontolku.
Dengan enerjik, Carol menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Saya menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan saya memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Carol semakin liar. Carol terus menerus menghujamkan kontolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama saya pun ejakulasi. Carol duduk terkulai lemas dipangkuanku. Saya menggendong Carol ketempat tidur lalu kita berdua tertidur sambil berpelukan.
Sabtu
Telepon berbunyi jam 6:30. Saya memang meminta ke operator untuk dibangunkan jam 6:30 karena hari ini akan ada tur. Saya melihat Carol masih tidur telanjang bulat dalam pelukan saya. Dewi dan Henri tidur dikarpet beralaskan comforter tempat tidur. Mereka pun masih telanjang bulat. Rudi masih tidur dalam posisi sama. Saya membangunkan mereka semua untuk siap-siap pergi tur. Berhubung Dewi, Carol dan Henri belum pernah ke Bali, maka mereka dengan semangat langsung kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jam 8:00, kami berempat sudah di restaurant untuk sarapan. Rudi tidak ikut karena kepalanya masih sakit.
Tur menggunakan 2 buah bis. Tujuan pertama adalah ke Tanah Lot, lalu ke Ubud, Kintamani lalu menonton pertujukkan Kecak. Saat sedang menonton tari Kecak, saya menerima SMS dari Rudi
"Gue lagi di Kuta nih. Kenalan sama cewek bule. Cuantik banget. Sekarang lagi di kamar hotel si cewek di Kuta. Have fun ya di tur karena gue juga sedang having fun"
Saya tertawa melihatnya. Tur berjalan dengan menyenangkan. Saya memfoto banyak obyek yang menarik. Tak lupa saya memfoto Dewi dan Carol sebagai modelku. Jam 18:00, tur akhirnya tiba kembali di hotel. Semua peserta terlihat senang dan puas.
Di lobby hotel, Henri buru-buru naik taksi karena ia mau ke Legian untuk beli beberapa cinderamata yang tidak sempat dia beli. Dia menawarkan ke kita untuk ikut tapi kita semua capek. Akhirnya Henri pergi sendiri naik taksi ke Legian.
"Mau ngapain nih malam ini? Malam terakhir" tanya saya.
"Saya capek banget, pengen bubble bath" kata Carol.
"Saya juga, enak nih kalau berendam air hangat" kata Dewi.
"Kita bertiga berendam aja yuk" saya menawarkan dengan semangat. Dewi dan Carol tertawa lalu kita menuju ke kamar Carol.
Kamar Carol walaupun single bed tetapi kamarnya sedikit lebih besar karena terletak di ujung gang. Bath tub diisi air hangat oleh Carol dan dituang sabun bubble. Kita bertiga lalu membuka baju dan berendam ke bath tub. Ukuran bath tubnya terlalu pas untuk kita bertiga apalagi tubuh saya yang tinggi. Carol duduk dipangkuan saya sementara saya berselonjor di bath tub sedangkan Dewi duduk diujung bath tub.
Kontol saya yang berdiri sekali-sekali terlihat menyembul dari balik air. Payudara Carol pun terlihat setengah menyembul dari balik air. Dewi terlihat sedang menikmati air hangat. Ia mengikat rambutnya keatas. Kaki kanan saya menyelip ketengah kaki Dewi dan sekali-sekali saya menggelitik selangkangan Dewi dengan jempol kaki. Dewi kegelian lalu meremas biji saya. Carol tertawa-tawa melihat tingkah kita berdua.
Tangan kiri saya pun mulai meremas payudara Carol dengan gemas. Carol mulai memejamkan matanya menikmati remasan tanganku sementara tangan kanannya dengan perlahan mengocok kontolku. Gairah saya kembali bangkit, saya menarik Carol keatas dan medudukkannya diujung bath tub. Saya membuka kakinya dan mulai menjilat vaginanya. Saya dalam posisi nungging didepan Dewi.
Dewi kemudian menyelinapkan tangannya dari antara kakiku dan meremas kontolku. Wah nikmat sekali rasanya merasakan tangan Dewi yang mengocok kontolku sambil menjilat vagina Carol. Tiba-tiba kenikmatan saya semakin bertambah saat Dewi membuka lipatan pantatku danmenjilat anusku, gairahku terasa meningkat dengan pesat dan saya serasa seperti terbang di awang-awang. Masih dalam posisi menungging, saya terus menjilat vagina dan anus Carol, Carol menikmati itu semua sambil meremas payudaranya.
"Balik dong badannya" kata Dewi.
Saya membalikkan tubuhku sehingga saya kembali berselonjoran di bath tub, Dewi membungkukkan tubuhnya dan mulai menghisap kontolku. Carol mengangkang didepan mukaku dan menyodorkan vaginanya ke mulutku. Langsung kembali saya jilat vaginanya. Posisi ini berlangsung sekitar 5 menit. Dewi kemudian mengangkang dipinggulku lalu memasukkan kontolku ke vaginanya.
Air dan buih meluap keluar bath tub saat Dewi mulai mengocok kontolku dalam vaginanya. Carol pun memerosotkan tubuhnya sehingga ia duduk diatas perutku dan saya bisa mencium payudaranya. Tangan Dewi meraih ke punggung Carol lalu memijit punggung Carol. Carol tersenyum saat dipijit Dewi. Kemudian dengan nakalnya tangan Dewi menyusuri punggung dan pantat Carol lalu menyelinapkan tangannya ke vagina Carol. Carol buru-buru mengangkat pantatnya dan berkata
"Aduh maaf Dewi, tapi saya belum pernah bercinta dengan wanita" kata Carol.
"Just go with the flow, jangan dilawan" kata Dewi.
Saya mendudukkan kembali Carol di perutku lalu kembali mencium payudaranya. Mata Carol terpejam dengan erat saat tangan Dewi mulai masuk ke selangkangannya dan memainkan klitorisnya. Carol menggigit bibirnya tiap kali jari Dewi menyentuh vaginanya. Tak lama tangan Dewi tidak lagi berada di vagina Carol karena Dewi sendiri sudah semakin liar menggoyang pinggulnya. Carol rebahan di sampingku lalu memeluk tubuhku sambil menyaksikan Dewi yang bagaikan kuda liar beraksi diatas kontolku. Beberapa menit kemudian saya ejakulasi bersamaan dengan Dewi. Setelah seluruh peju saya keluar dalam vagina Dewi, Dewi keluar dari bath tub lalu membersihkan vaginanya kemudian kembali masuk ke bath tub.
Carol belum mendapat giliran. Saya meminta Carol keluar dari bath tub lalu nungging dengan bersandar pada wastafel. Payudara Carol yang besar terlihat menggelantung dengan indah. Saya berdiri dibelakang Carol lalu mulai menyetubuhinya. Carol mendesah-desah dengan penuh nikmat saat kontoku keluar masuk vaginanya. Dewi ikut keluar dari bath tub lalu jongkok dibawah Carol. Ia meraih payudara Carol dam mulai meremasnya. Mulut Carol terbuka lebar menikmati kocokan dari kontol dan remasan dari Dewi.
Tubuh kami bertiga yang basah dan penuh sabun membuat suasana menjadi tambah erotis. Dengan rakus, Dewi melahap kedua buah dada Carol dan kelihatannya Carol sudah mulai terbuka dengan Dewi. Ia membalas dengan membelai-belai kepala Dewi. Karena pegal dengan posisi ini, saya minta mengubah posisi. Saya menarik Carol dan Dewi keluar dari kamar mandi. Carol saya dudukkan ditepi tempat tidur. Kakinya saya buka lebar dan kembali kontolku menghunjam ke vaginanya. Dewi tak kalah asyik, ia berbaring di sebelah Carol dan perlahan mulai mencium bibir Carol. Carol tidak beraksi dan membiarkan Dewi mencium bibir sambil meremas payudaranya.
Beberapa menit berlalu dan Carol mulai membalas ciuman Dewi. Keduanya saling berpagutan dan french kiss. Dewi lalu berlutut diatas muka Carol dan menyodorkan vaginanya ke Carol. Carol meremas pantat Dewi dan mulai menjilat vagina Dewi. Nafas Dewi terdengar memburu menahan nafsu. Pemandangan indah ini membuat saya semakin bergairah sehingga saya ejakulasi. Carol rupanya telah orgasme berkali-kali saat disetubuhi di kamar mandi dan ketika sedang menjilat vagina Dewi.
*****
Malam itu, saya, Carol dan Dewi kembali bersetubuh. Kami sempat beristirahat sebentar dan kembali bersetubuh ketika Henri dan Rudi sudah kembali. Malam di Bali yang sungguh indah. Hari Minggu, kami semuanya terpaksa berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.
Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Dewi duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan ditempat tidur dengan lemas.
Tiba-tiba telepon berbunyi..
"Halo, ini Henri, sudah tidur kalian?" tanya Henri.
"Belum, kita lagi bersenang-senang. Ada Dewi disini" jawab saya.
"Wah, habis seks ya?" tanya Henri dengan semangat.
"Hehehe, begitulah. Kamu tidur ya? Atau jangan-jangan habis seks dengan Carol" tanya saya menduga-duga.
"Saya ditempat Carol. Saya ketempat kalian deh" kata Henri.
Waduh, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Carol. Saya menceritakan ke Dewi percakapan tadi. Dewi tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu bel kamar berbunyi dan saya bukakan. Tampak Henri mengenakan celana pendek dan kaos sedangkan Carol mengenakan kaos tidur yang panjang hingga ke dengkul. Dari balik bajunya terlihat ia tidak memakai BH.
"Wah, kalian abis pesta pora nih" kata Henri sambil tertawa melihat saya yang telanjang dan Rudi yang juga telanjang tapi tidak sadarkan diri.
"Kamu juga nih abis pesta dengan Carol" kata saya. Carol pun ikut tertawa. Mata Carol terus tertuju pada kontolku yang sudah berdiri.
"Mana Dewi?" tanya Henri.
"Di kamar mandi" jawabku.
Henri mengetuk pintu kamar mandi lalu masuk kedalam. Terdengar suara Dewi dan Henri tertawa-tawa kemudian hening.
"Kelihatannya mereka sudah mulai" kata saya kepada Carol.
Carol menghampiri diriku lalu mencium bibirku. Saya langsung membalasnya dan kita saling berpagutan. Tanganku mulai mengangkat kaos yang dipakai Carol dan membukanya. Kemudian saya melihat tubuh Carol yang telanjang bulat. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya.
Dengan gemas, saya menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Carol. Carol meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Carol dan ke vaginanya. Carol mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah saya menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Carol. Syukurlah Carol masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Saya membuka bibir vagina Carol dan menyedot vaginanya. Carol mengerang dengan penuh nikmat.
Puas melahap vaginanya, saya mengangkat tubuh Carol. Kaki Carol melingkar dipinggangku dan saya memasukkan kontolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, saya menyandarkan punggung Carol ke dinding lalu saya mulai menggenjot Carol. Payudara Carol yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya saya mencium bibirnya yang merah dan mungil. Benar-benar gemas aku dibuatnya.
Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Dewi yang melenguh. Carol pun ikut melenguh tiap kali kontol saya menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Carol sambil menyetubuhinya. Saya duduk di kursi dan Carol duduk dipangkuanku menghadap saya. Vagina Carol terasa mendenyut-denyut di ujung kepala kontolku.
Dengan enerjik, Carol menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Saya menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan saya memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Carol semakin liar. Carol terus menerus menghujamkan kontolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama saya pun ejakulasi. Carol duduk terkulai lemas dipangkuanku. Saya menggendong Carol ketempat tidur lalu kita berdua tertidur sambil berpelukan.
Sabtu
Telepon berbunyi jam 6:30. Saya memang meminta ke operator untuk dibangunkan jam 6:30 karena hari ini akan ada tur. Saya melihat Carol masih tidur telanjang bulat dalam pelukan saya. Dewi dan Henri tidur dikarpet beralaskan comforter tempat tidur. Mereka pun masih telanjang bulat. Rudi masih tidur dalam posisi sama. Saya membangunkan mereka semua untuk siap-siap pergi tur. Berhubung Dewi, Carol dan Henri belum pernah ke Bali, maka mereka dengan semangat langsung kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jam 8:00, kami berempat sudah di restaurant untuk sarapan. Rudi tidak ikut karena kepalanya masih sakit.
Tur menggunakan 2 buah bis. Tujuan pertama adalah ke Tanah Lot, lalu ke Ubud, Kintamani lalu menonton pertujukkan Kecak. Saat sedang menonton tari Kecak, saya menerima SMS dari Rudi
"Gue lagi di Kuta nih. Kenalan sama cewek bule. Cuantik banget. Sekarang lagi di kamar hotel si cewek di Kuta. Have fun ya di tur karena gue juga sedang having fun"
Saya tertawa melihatnya. Tur berjalan dengan menyenangkan. Saya memfoto banyak obyek yang menarik. Tak lupa saya memfoto Dewi dan Carol sebagai modelku. Jam 18:00, tur akhirnya tiba kembali di hotel. Semua peserta terlihat senang dan puas.
Di lobby hotel, Henri buru-buru naik taksi karena ia mau ke Legian untuk beli beberapa cinderamata yang tidak sempat dia beli. Dia menawarkan ke kita untuk ikut tapi kita semua capek. Akhirnya Henri pergi sendiri naik taksi ke Legian.
"Mau ngapain nih malam ini? Malam terakhir" tanya saya.
"Saya capek banget, pengen bubble bath" kata Carol.
"Saya juga, enak nih kalau berendam air hangat" kata Dewi.
"Kita bertiga berendam aja yuk" saya menawarkan dengan semangat. Dewi dan Carol tertawa lalu kita menuju ke kamar Carol.
Kamar Carol walaupun single bed tetapi kamarnya sedikit lebih besar karena terletak di ujung gang. Bath tub diisi air hangat oleh Carol dan dituang sabun bubble. Kita bertiga lalu membuka baju dan berendam ke bath tub. Ukuran bath tubnya terlalu pas untuk kita bertiga apalagi tubuh saya yang tinggi. Carol duduk dipangkuan saya sementara saya berselonjor di bath tub sedangkan Dewi duduk diujung bath tub.
Kontol saya yang berdiri sekali-sekali terlihat menyembul dari balik air. Payudara Carol pun terlihat setengah menyembul dari balik air. Dewi terlihat sedang menikmati air hangat. Ia mengikat rambutnya keatas. Kaki kanan saya menyelip ketengah kaki Dewi dan sekali-sekali saya menggelitik selangkangan Dewi dengan jempol kaki. Dewi kegelian lalu meremas biji saya. Carol tertawa-tawa melihat tingkah kita berdua.
Tangan kiri saya pun mulai meremas payudara Carol dengan gemas. Carol mulai memejamkan matanya menikmati remasan tanganku sementara tangan kanannya dengan perlahan mengocok kontolku. Gairah saya kembali bangkit, saya menarik Carol keatas dan medudukkannya diujung bath tub. Saya membuka kakinya dan mulai menjilat vaginanya. Saya dalam posisi nungging didepan Dewi.
Dewi kemudian menyelinapkan tangannya dari antara kakiku dan meremas kontolku. Wah nikmat sekali rasanya merasakan tangan Dewi yang mengocok kontolku sambil menjilat vagina Carol. Tiba-tiba kenikmatan saya semakin bertambah saat Dewi membuka lipatan pantatku danmenjilat anusku, gairahku terasa meningkat dengan pesat dan saya serasa seperti terbang di awang-awang. Masih dalam posisi menungging, saya terus menjilat vagina dan anus Carol, Carol menikmati itu semua sambil meremas payudaranya.
"Balik dong badannya" kata Dewi.
Saya membalikkan tubuhku sehingga saya kembali berselonjoran di bath tub, Dewi membungkukkan tubuhnya dan mulai menghisap kontolku. Carol mengangkang didepan mukaku dan menyodorkan vaginanya ke mulutku. Langsung kembali saya jilat vaginanya. Posisi ini berlangsung sekitar 5 menit. Dewi kemudian mengangkang dipinggulku lalu memasukkan kontolku ke vaginanya.
Air dan buih meluap keluar bath tub saat Dewi mulai mengocok kontolku dalam vaginanya. Carol pun memerosotkan tubuhnya sehingga ia duduk diatas perutku dan saya bisa mencium payudaranya. Tangan Dewi meraih ke punggung Carol lalu memijit punggung Carol. Carol tersenyum saat dipijit Dewi. Kemudian dengan nakalnya tangan Dewi menyusuri punggung dan pantat Carol lalu menyelinapkan tangannya ke vagina Carol. Carol buru-buru mengangkat pantatnya dan berkata
"Aduh maaf Dewi, tapi saya belum pernah bercinta dengan wanita" kata Carol.
"Just go with the flow, jangan dilawan" kata Dewi.
Saya mendudukkan kembali Carol di perutku lalu kembali mencium payudaranya. Mata Carol terpejam dengan erat saat tangan Dewi mulai masuk ke selangkangannya dan memainkan klitorisnya. Carol menggigit bibirnya tiap kali jari Dewi menyentuh vaginanya. Tak lama tangan Dewi tidak lagi berada di vagina Carol karena Dewi sendiri sudah semakin liar menggoyang pinggulnya. Carol rebahan di sampingku lalu memeluk tubuhku sambil menyaksikan Dewi yang bagaikan kuda liar beraksi diatas kontolku. Beberapa menit kemudian saya ejakulasi bersamaan dengan Dewi. Setelah seluruh peju saya keluar dalam vagina Dewi, Dewi keluar dari bath tub lalu membersihkan vaginanya kemudian kembali masuk ke bath tub.
Carol belum mendapat giliran. Saya meminta Carol keluar dari bath tub lalu nungging dengan bersandar pada wastafel. Payudara Carol yang besar terlihat menggelantung dengan indah. Saya berdiri dibelakang Carol lalu mulai menyetubuhinya. Carol mendesah-desah dengan penuh nikmat saat kontoku keluar masuk vaginanya. Dewi ikut keluar dari bath tub lalu jongkok dibawah Carol. Ia meraih payudara Carol dam mulai meremasnya. Mulut Carol terbuka lebar menikmati kocokan dari kontol dan remasan dari Dewi.
Tubuh kami bertiga yang basah dan penuh sabun membuat suasana menjadi tambah erotis. Dengan rakus, Dewi melahap kedua buah dada Carol dan kelihatannya Carol sudah mulai terbuka dengan Dewi. Ia membalas dengan membelai-belai kepala Dewi. Karena pegal dengan posisi ini, saya minta mengubah posisi. Saya menarik Carol dan Dewi keluar dari kamar mandi. Carol saya dudukkan ditepi tempat tidur. Kakinya saya buka lebar dan kembali kontolku menghunjam ke vaginanya. Dewi tak kalah asyik, ia berbaring di sebelah Carol dan perlahan mulai mencium bibir Carol. Carol tidak beraksi dan membiarkan Dewi mencium bibir sambil meremas payudaranya.
Beberapa menit berlalu dan Carol mulai membalas ciuman Dewi. Keduanya saling berpagutan dan french kiss. Dewi lalu berlutut diatas muka Carol dan menyodorkan vaginanya ke Carol. Carol meremas pantat Dewi dan mulai menjilat vagina Dewi. Nafas Dewi terdengar memburu menahan nafsu. Pemandangan indah ini membuat saya semakin bergairah sehingga saya ejakulasi. Carol rupanya telah orgasme berkali-kali saat disetubuhi di kamar mandi dan ketika sedang menjilat vagina Dewi.
*****
Malam itu, saya, Carol dan Dewi kembali bersetubuh. Kami sempat beristirahat sebentar dan kembali bersetubuh ketika Henri dan Rudi sudah kembali. Malam di Bali yang sungguh indah. Hari Minggu, kami semuanya terpaksa berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.
Arthur: Bali Bagus part 1
Di bulan Juli 2004, Saya dan Rudi berangkat ke Bali untuk menghadiri seminar investasi yang diadakan oleh sebuah perusahaan sekuritas ternama di Indonesia. Seminar diadakan di sebuah hotel megah di Nusa Dua. Seminar ini tak hanya mengundang peserta dalam negeri tetapi juga peserta dari luar negeri. Rudi adalah teman baik saya dari SMA, dan kebetulan sekarang kita bekerja di satu perusahaan. Bersama Rudi, dari SMA kita telah banyak mengeksplorasi tentang wanita dan seks. Rudi is the master in seducing women. Nama saya Arthur dan ini kisahku.
Selasa
Saya dan Rudi telah check in di hotel tempat seminar diadakan. Kami diberi satu kamar untuk berdua. Waktu menunjukkan pukul 13 siang, kami memutuskan untuk menyewa mobil dan pergi jalan-jalan ke Kuta. Saya banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto obyek yang menarik, sedangkan Rudi lebih senang keluar masuk toko mencari souvenir.
Rabu
Jam 8 pagi seminar telah dimulai. Pesertanya cukup banyak, saya taksir ada sekitar 80 orang. Untuk hari ini akan ada 4 session. Saya melihat makalah seminar cukup banyak dan menarik. Sambil mendengarkan seminar, tak lupa saya mencari-cari yang cantik. Mata saya tertuju pada seorang wanita Chinese yang cantik berambut panjang yang duduk 1 meter dari saya. Rambutnya di beri high light warna merah tua. Ia mengenakan blazer dan rok selutut berwarna biru tua. Sekali-sekali ia menguap lalu minum kopi. Selesai session pertama, ada istirahat 15 menit. Saya memakai kesempatan ini untuk kenalan dengan wanita itu.
"Bagus ya topiknya tadi" kata saya membuka pembicaraan.
"Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya"
"Nama saya Arthur" kata saya sambil memberikan kartu namaku
"Oh iya, saya Dewi" katanya sambil mengeluarkan kartu namanya.
Rupanya Dewi bekerja di perusahaan sekuritas saingan perusahaan tempat saya bekerja
"Kamu sendiri saja ke seminar ini?" tanya saya.
"Iya, tadinya teman saya mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda"
Tak lama Rudi menghampiri saya diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese.
"Arthur, kenalin nih teman saya dari Singapore. Dulu saya kuliah bareng dengannya" kata Rudi sambil menunjuk ke pria itu.
"Halo, saya Arthur"
"Saya Henry" kata si pria.
"Saya Carol" kata si wanita.
Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Henry dan Carol bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Carol manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Dewi, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Dewi agak-agak nakal sehingga saya sempat berpikir ia akan mudah saya ajak tidur.
Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir jam 12 siang. Saya, Rudi, Henry, Carol dan Dewi makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore.
"Arthur, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Saya sudah bosan dengan makanan hotel" tanya Henry.
"Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant" sahut saya. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam.
Kamis
Seminar pun kembali dimulai jam 8 pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, saya menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Dewi terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih. Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Carol pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Carol ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock Café lalu makan malam ke Warung Made.
Jum'at
Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir jam 4 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Carol, Henry, Dewi dan Rudi sibuk berbelanja. Dewi rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Carol terlihat kecil mungil karena saya dan Rudi tingginya 185 cm, Henry sekitar 180 cm dan Dewi sekitar 170 cm.
Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian.
Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, saya terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Rudi kelihatannya sudah mabuk berat, Dewi dan Carol mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Rudi yang mabuk.
Saya memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, saya membopong Rudi keluar, Carol bersandar pada Dewi dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Rudi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Dewi, Carol dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Rudi.
Setiba di hotel, saya menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali saya bopong Rudi. Carol berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Dewi kelihatannya biasa saja padahal saya tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan saya menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 3, Henri dan Carol keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Dewi berseru sambil membuka-buka tasnya
"Shit, kunci kartu gue mana ya?"
"Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club" kata saya.
"Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis" ujar Dewi.
"Telepon dari kamar saya saja" saya menawarkan.
Pintu lift terbuka di lantai 4, kembali saya membopong Rudi yang sudah tak sadarkan diri, Dewi membantu saya membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, saya langsung menjatuhkan Rudi di tempat tidur. Dewi membuka pintu balkon dan melihat keluar
"Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut"
"Lumayanlah, kecil-kecilan" kata saya sekenanya.
Saya berdiri di belakang Dewi lalu memegang kedua bahunya sedangkan Dewi tetap melihat kearah laut.
"Enak ya mendengar suara ombak" kata Dewi.
Dewi lalu merapatkan punggungnya ke dada saya dan saya merangkul Dewi dari belakang. Dengan perlahan, saya mencium kepala Dewi lalu turun ke kuping kiri. Dewi mendongakkan kepalanya sehingga saya bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Dewi menoleh ke saya lalu mencium bibirku.
"Ummhh Arthur, you are so sexy" kata Dewi.
Sambil tetap merangkul Dewi, tangan saya menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan saya mulai menjelajahi seluruh pantat Dewi yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal. Tak henti-hentinya Dewi melenguh. Tangan Dewi pun ikut meremas kontolku dari balik celana. Lalu saya menarik Dewi kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur.
Tangan Dewi dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan saya langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Dewi yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas saya meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Dewi memburu dengan cepat apalagi saat saya mulai beralih ke vaginanya. Dewi bagaikan kuda liar saat klitorisnya saya jilat. Tak henti-hentinya saya menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Saya membalikkan tubuh Dewi untuk bergaya 69.
Di pantat kiri Dewi ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, saya tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Dewi menggenggam kontolku dan mulai menghisapnya. Saya pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Dewi terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus saya tahan pantatnya dengan kedua tangan saya. Tiba-tiba Dewi melepaskan genggaman tangannya dari kontol saya dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.
Kemudian Dewi nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Rudi. Saya mengikuti kemauannya, saya merenggangkan kakinya dan mengarahkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah saya setubuhi Dewi yang seksi. Dewi rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Rudi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Rudi. Dewi mengeluarkan kontol Rudi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas kontol Rudi.
Saya memperhatikan Dewi yang mulai mengulum kontol Rudi yang masih lemas sedangkan Rudi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap kontolnya. Tak henti-hentinya payudara Dewi saya remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Dewi kembali mengalami orgasme. Saya mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Dewi saya rentangkan dan kembali kontolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali kontol saya keluar masuk vagina Dewi.
Tujuh menit menggenjot Dewi, saya merasakan akan ejakulasi. Saya percepat gerakanku dan tak lama kontolku memuntahkan peju didalam vagina Dewi. Dengan terengah-engah saya mengeluarkan kontolku lalu menindih Dewi dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan saya baru menyadari ternyata Rudi sudah berdiri disamping kami
"Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan" kata Rudi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan.
"Tenang Rudi, kamu dapat giliran kok" kata Dewi sambil tertawa lalu menghampiri Rudi.
Sambil berlutut di tempat tidur, Dewi meremas kontol Rudi yang perlahan mulai berdiri. Rudi memejamkan matanya menikmati Dewi yang mulai menghisap kontolnya. Setelah puas menghisap kontol, Dewi berdiri ditempat tidur kemudian mencium Rudi. Dengan kasar Rudi menggendong Dewi sambil menciumnya. Kemudian Dewi dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Dewi. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Rudi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Dewi, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Dewi sambil berkata
"Satisfy me, bitch, suck my dick"
Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Dewi sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Dewi kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Saya kemudian berlutut didepan Dewi lalu menyodorkan kontolku. Dewi menyambut kontolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan kontolnya dalam vagina Dewi dengan keras, kontol saya otomatis ikut tersodok ke mulut Dewi. Tapi beberapa kali kuluman Dewi terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya. Tapi karena Dewi tidak protes, maka saya biarkan saja.
Bersambung...
Selasa
Saya dan Rudi telah check in di hotel tempat seminar diadakan. Kami diberi satu kamar untuk berdua. Waktu menunjukkan pukul 13 siang, kami memutuskan untuk menyewa mobil dan pergi jalan-jalan ke Kuta. Saya banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto obyek yang menarik, sedangkan Rudi lebih senang keluar masuk toko mencari souvenir.
Rabu
Jam 8 pagi seminar telah dimulai. Pesertanya cukup banyak, saya taksir ada sekitar 80 orang. Untuk hari ini akan ada 4 session. Saya melihat makalah seminar cukup banyak dan menarik. Sambil mendengarkan seminar, tak lupa saya mencari-cari yang cantik. Mata saya tertuju pada seorang wanita Chinese yang cantik berambut panjang yang duduk 1 meter dari saya. Rambutnya di beri high light warna merah tua. Ia mengenakan blazer dan rok selutut berwarna biru tua. Sekali-sekali ia menguap lalu minum kopi. Selesai session pertama, ada istirahat 15 menit. Saya memakai kesempatan ini untuk kenalan dengan wanita itu.
"Bagus ya topiknya tadi" kata saya membuka pembicaraan.
"Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya"
"Nama saya Arthur" kata saya sambil memberikan kartu namaku
"Oh iya, saya Dewi" katanya sambil mengeluarkan kartu namanya.
Rupanya Dewi bekerja di perusahaan sekuritas saingan perusahaan tempat saya bekerja
"Kamu sendiri saja ke seminar ini?" tanya saya.
"Iya, tadinya teman saya mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda"
Tak lama Rudi menghampiri saya diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese.
"Arthur, kenalin nih teman saya dari Singapore. Dulu saya kuliah bareng dengannya" kata Rudi sambil menunjuk ke pria itu.
"Halo, saya Arthur"
"Saya Henry" kata si pria.
"Saya Carol" kata si wanita.
Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Henry dan Carol bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Carol manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Dewi, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Dewi agak-agak nakal sehingga saya sempat berpikir ia akan mudah saya ajak tidur.
Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir jam 12 siang. Saya, Rudi, Henry, Carol dan Dewi makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore.
"Arthur, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Saya sudah bosan dengan makanan hotel" tanya Henry.
"Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant" sahut saya. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam.
Kamis
Seminar pun kembali dimulai jam 8 pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, saya menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Dewi terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih. Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Carol pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Carol ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock Café lalu makan malam ke Warung Made.
Jum'at
Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir jam 4 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Carol, Henry, Dewi dan Rudi sibuk berbelanja. Dewi rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Carol terlihat kecil mungil karena saya dan Rudi tingginya 185 cm, Henry sekitar 180 cm dan Dewi sekitar 170 cm.
Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian.
Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, saya terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Rudi kelihatannya sudah mabuk berat, Dewi dan Carol mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Rudi yang mabuk.
Saya memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, saya membopong Rudi keluar, Carol bersandar pada Dewi dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Rudi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Dewi, Carol dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Rudi.
Setiba di hotel, saya menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali saya bopong Rudi. Carol berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Dewi kelihatannya biasa saja padahal saya tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan saya menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 3, Henri dan Carol keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Dewi berseru sambil membuka-buka tasnya
"Shit, kunci kartu gue mana ya?"
"Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club" kata saya.
"Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis" ujar Dewi.
"Telepon dari kamar saya saja" saya menawarkan.
Pintu lift terbuka di lantai 4, kembali saya membopong Rudi yang sudah tak sadarkan diri, Dewi membantu saya membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, saya langsung menjatuhkan Rudi di tempat tidur. Dewi membuka pintu balkon dan melihat keluar
"Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut"
"Lumayanlah, kecil-kecilan" kata saya sekenanya.
Saya berdiri di belakang Dewi lalu memegang kedua bahunya sedangkan Dewi tetap melihat kearah laut.
"Enak ya mendengar suara ombak" kata Dewi.
Dewi lalu merapatkan punggungnya ke dada saya dan saya merangkul Dewi dari belakang. Dengan perlahan, saya mencium kepala Dewi lalu turun ke kuping kiri. Dewi mendongakkan kepalanya sehingga saya bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Dewi menoleh ke saya lalu mencium bibirku.
"Ummhh Arthur, you are so sexy" kata Dewi.
Sambil tetap merangkul Dewi, tangan saya menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan saya mulai menjelajahi seluruh pantat Dewi yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal. Tak henti-hentinya Dewi melenguh. Tangan Dewi pun ikut meremas kontolku dari balik celana. Lalu saya menarik Dewi kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur.
Tangan Dewi dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan saya langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Dewi yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas saya meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Dewi memburu dengan cepat apalagi saat saya mulai beralih ke vaginanya. Dewi bagaikan kuda liar saat klitorisnya saya jilat. Tak henti-hentinya saya menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Saya membalikkan tubuh Dewi untuk bergaya 69.
Di pantat kiri Dewi ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, saya tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Dewi menggenggam kontolku dan mulai menghisapnya. Saya pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Dewi terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus saya tahan pantatnya dengan kedua tangan saya. Tiba-tiba Dewi melepaskan genggaman tangannya dari kontol saya dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.
Kemudian Dewi nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Rudi. Saya mengikuti kemauannya, saya merenggangkan kakinya dan mengarahkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah saya setubuhi Dewi yang seksi. Dewi rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Rudi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Rudi. Dewi mengeluarkan kontol Rudi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas kontol Rudi.
Saya memperhatikan Dewi yang mulai mengulum kontol Rudi yang masih lemas sedangkan Rudi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap kontolnya. Tak henti-hentinya payudara Dewi saya remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Dewi kembali mengalami orgasme. Saya mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Dewi saya rentangkan dan kembali kontolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali kontol saya keluar masuk vagina Dewi.
Tujuh menit menggenjot Dewi, saya merasakan akan ejakulasi. Saya percepat gerakanku dan tak lama kontolku memuntahkan peju didalam vagina Dewi. Dengan terengah-engah saya mengeluarkan kontolku lalu menindih Dewi dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan saya baru menyadari ternyata Rudi sudah berdiri disamping kami
"Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan" kata Rudi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan.
"Tenang Rudi, kamu dapat giliran kok" kata Dewi sambil tertawa lalu menghampiri Rudi.
Sambil berlutut di tempat tidur, Dewi meremas kontol Rudi yang perlahan mulai berdiri. Rudi memejamkan matanya menikmati Dewi yang mulai menghisap kontolnya. Setelah puas menghisap kontol, Dewi berdiri ditempat tidur kemudian mencium Rudi. Dengan kasar Rudi menggendong Dewi sambil menciumnya. Kemudian Dewi dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Dewi. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Rudi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Dewi, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Dewi sambil berkata
"Satisfy me, bitch, suck my dick"
Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Dewi sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Dewi kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Saya kemudian berlutut didepan Dewi lalu menyodorkan kontolku. Dewi menyambut kontolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan kontolnya dalam vagina Dewi dengan keras, kontol saya otomatis ikut tersodok ke mulut Dewi. Tapi beberapa kali kuluman Dewi terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya. Tapi karena Dewi tidak protes, maka saya biarkan saja.
Bersambung...
Arthur - fitness and sex makes you
Rabu Siang
Saya dan teman-teman kantor pergi ke Plaza Indonesia untuk makan siang di Spice Garden. Food court ini cukup penuh tapi beruntung kami dapat meja. Saya lalu pergi membeli makan sementara dua teman saya menunggu meja. Sambil antri untuk pesan sup buntut, saya memperhatikan banyak wanita-wanita cantik yang sedang makan siang. Sang pelayan menanyakan saya mau pesan apa, saya jawab, "Sup buntut tapi jangan banyak tulang ya".
Setelah mendapat pesanan saya, saya masih harus antri lagi untuk membayar. Di sebelah kiri saya ada seorang wanita yang ikut antri untuk membayar. Awalnya saya tidak memperhatikannya karena sedang sibuk membalas SMS. Tiba-tiba nampan piring saya tersenggol dengan keras dan wanita sebelah saya menoleh ke arah saya.
"Aduh maaf Pak tidak sengaja"
"Tidak apa-apa," jawab saya sambil tersenyum. Saya perhatikan wajahnya ternyata cantik juga.
"Pesan sup buntut juga?" kata saya untuk memancing pembicaraan.
"Iya, sudah bosan makan yang lain" sahutnya.
"Saya Arthur"
"Halo, nama saya Siska (bukan nama asli)" jawabnya.
Antrian membayar di kasir berjalan dengan pelan, saya memakai kesempatan ini untuk ngobrol dengan Siska. Orangnya ramah dan periang. Tingginya sekitar 165 cm, dadanya lumayan besar dan pantatnya terlihat bulat dan indah dibalik rok yang dikenakan. Saya memperhatikan lebih seksama, ternyata wajahnya mirip Tessa Kaunang. Setelah membayar makanan, kami bertukar kartu nama, lalu saya menghampiri teman-teman saya yang sudah menunggu dengan wajah bete.
"Pantesan saja lama, keasyikan kenalan dengan cewek," ujar teman saya dengan sewot.
Jum'at Sore
Hari Jum'at sore, saya agak santai di kantor. Semua tugas sudah selesai dan tinggal diserahkan ke boss. Sambil menunggu jam 5 sore, saya teringat kembali ke wanita yang kenalan di Plaza Indonesia dua hari yang lalu. Siapa ya namanya? Saya bertanya dalam hati. Saya cari kartu namanya di dalam dompetku, untung ada! Lalu saya telepon nomor kantornya, setelah menunggu sejenak akhirnya ada yang mengangkat.
"Selamat sore, dengan Siska"
"Halo Siska, ini Arhur. Masih ingat nggak?"
"Ingat dong, kirain kamu sudah lupa dengan saya, nggak nelepon sama sekali"
"Maaf, habisan ada project yang due hari ini, jadi sibuk sekali. Ngomong-ngomong, mengganggu nggak saya telepon sekarang?"
"Oh tidak sama sekali, lagi nyantai nih. Kan sudah mau weekend"
"Ada acara apa hari Sabtu besok? Mau nonton nggak?" saya menawarkan.
"Besok pagi sampai siang, saya ada acara kawinan saudara. Pengennya sih besok sore mau fitness dan berenang, sudah seminggu saya nggak olah raga. Olah raga aja yuk, mau nggak?" kata Siska.
"Boleh juga, dimana dan jam berapa?"
"Di aparteman saya aja di **** jam 4 sore ya"
"OK, besok sore saya kesana"
Kami lalu bertukar nomor handphone lalu mengakhiri pembicaran ditelepon.
Sabtu Sore
Jam 15:45 saya tiba di gerbang kompleks aparteman Siska. Apartemannya sangat mewah sehingga keamanan cukup ketat. Petugas satpam dengan ramah menanyakan saya mau kemana, saya jawab ke aparteman Siska unit *** di tower ***. Satpam mengkonfirmasi nama Siska dan saya diijinkan masuk.
Di lobby kembali saya ditanya satpam mau ke lantai berapa lalu saya diijinkan untuk masuk ke lift. Dalam hati saya terkagum-kagum dengan system keamanan yang ekstra ketat, saya bayangkan pasti banyak konglomerat atau ekspatriat yang tinggal di sini.
Akhirnya saya sampai depan unit Siska. Saya tekan bel dan menunggu lalu pintu terbuka. Siska tersenyum dengan lebar dan mempersilakan saya masuk.
"Halo, susah nggak kemari?"
"Oh tidak, saya sering kok ke daerah sini, makanya bisa langsung tahu aparteman kamu dimana"
Sore itu Siska mengenakan celana pendek selutut yang longgar dengan kaos longgar bertuliskan Bali. Rambutnya yang pendek nampak sedikit acak-acakan.
"Sorry ya, saya baru bangun 30 menit yang lalu. Abisan capek banget dari pulang kawinan saudara"
"Nggak apa-apa, kamu kelihatan cantik kok" sahut saya.
"Macak cih?" goda Siska sambil menuangkan air es kepada saya.
"Aparteman kamu besar sekali, ada berapa kamar?" tanya saya.
"Ada dua kamar. Dulu saya tinggal dengan Adik saya. Sekarang Adik saya kuliah di Australia, lalu kamarnya saya pakai untuk ruang kerja saya," jawab Siska sambil menunjuk ke kamar yang pintunya terbuka.
Saya mengintip ke dalam kamar itu dan terlihat meja dan peralatan untuk menggambar, komputer dan printer dan beberapa gambar hasil karya Siska yang ditempel di dinding. Di dinding digantung foto keluarga Siska; kedua orang tuanya, satu Adik perempuan dan Kakak laki-laki. Saya langsung mengenali Ayah Siska yaitu seorang direktur utama di sebuah bank swasta.
"Saya ganti baju dulu ya, silakan lihat-lihat," kata Siska.
"Oke"
Saya melihat-lihat gambar interior design yang dibuat oleh Siska. Setelah puas, saya keluar dari kamar kerja Siska dan kembali ke ruang tamu. Kamar kerja Siska bersebelahan dengan kamar tidur Siska. Saat melewati kamar Siska, pintu kamarnya terbuka sedikit dan saya bisa melihat si Siska sedang berdiri depan lemari sambil memakai bicycle pant warna hitam. Dadanya yang polos sedang ia lap dengan handuk kecil. Terlihat payudaranya yang putih dan besar dengan puting berwarna pink. Kontan saya langsung ereksi melihat pemandangan indah ini. Siska lalu meraih baju senamnya berwarna merah menyala dan mengenakannya. Saya langsung bergegas menjauh dari pintu supaya tidak ketahuan ngintip.
Lima menit kemudian Siska keluar dari kamar sambil menenteng tas olah raga. Siska mengenakan baju senam yang mirip dengan baju untuk berenang dan dibagian bawah ia memakai bicycle pant warna hitam. Samar-samar terlihat bayangan putingnya dibalik baju senamnya yang ketat.
"Kamu bawa celana berenang kan?" tanya Siska.
"Bawa dong, yuk kita pergi" jawab saya.
Kami turun ke basement dan berjalan keluar menyusuri taman yang luas. Kolam renangnya cukup besar, tampak beberapa orang dewasa sedang berenang dan anak-anak dengan suara riang sedang bermain di kolam renang yang kecil. Kami masuk ketempat fitness yang cukup modern dan lengkap, tidak kalah dengan tempat saya fitness.
10 menit kemudian kami mulai fitness, diawali dengan pemanasan di treadmill selama 30 menit. Sekali-sekali saya melirik ke arah dada Siska yang menggoyang-goyang mengikuti irama larinya. Saya berusaha untuk tidak berpikiran kotor agar tidak ereksi karena bisa terlihat jelas dibalik celana fitness saya yang longgar. Selesai treadmill, saya mulai dengan angkat beban. Siska memulai dengan leg-curl, diikuti sit-up, bench-press dan dumbell.
Setiap gerakan Siska terlihat sangat erotis. Nafasnya yang tersengal-sengal setiap kali mengangkat dumbel dan keringatnya yang menetes di dahi hingga membasahi dada sampai ke pantat. Baju senamnya yang lembab dan ketat membuat lekuk-lekuk tubuhnya terlihat semakin jelas. It's so beautiful. Saya tetap berusaha untuk menahan pikiran saya karena saya tahu pasti akan langsung ereksi. Selesai angkat beban, Siska mengajak saya berenang. Saya mengiyakan dan pergi ke locker untuk ganti baju.
Setelah ganti baju, saya keluar dari locker dan menunggu Siska dipinggir kolam renang. Pikiran saya tiba-tiba kembali ke saat melihat Siska ganti baju, tiba-tiba kontol saya langsung berdiri tegak dan terlihat menggelembung dibalik celana renang speedo saya yang ketat. Oh shit, untung sudah jam 17:45 sehingga suasana sudah agak remang-remang dan sudah tidak banyak orang yang berenang jadi tidak ada yang memperhatikan ada yang sedang ereksi, hehehe. Belum reda ereksi saya, Siska tiba-tiba mencolek dari belakang.
"Sorry, lama ya nunggu"
"Oh tidak kok," jawab saya.
Mata Siska langsung tertuju ke kontol saya yang masih ereksi dan saya melihat mukanya sedikit memerah tapi ia diam saja. Saya memperhatikan tubuh Siska yang sempurna terbalut baju renang yang ketat. Pantatnya yang bulat terlihat begitu indah ditambah dengan payudaranya yang saya yakin pasti berukuran 36B. Baju berenangnya yang sempit terlihat tidak bisa menahan payudara Siska yang besar itu. Kami lalu berjalan ke tepi kolam lalu mulai berenang. Kami berenang kira-kira 20 lap tanpa henti lalu istirahat dipinggir kolam.
"Kuat juga ya kamu" puji saya ke Siska.
"Biasa aja kok, mungkin karena saya rutin fitness dan berenang" jawab Siska.
Kami ngobrol-ngobrol sebentar dan kembali berenang 10 lap lalu kembali ke locker. Sebelum berjalan ke locker, Siska berpesan untuk mandi di kamar saja jangan ditempat fitness. Saya lalu hanya mengenakan kaos dan celana fitness untuk menutupi celana renang saya yang basah, sedangkan Siska masih mengenakan baju berenang mengenakan kaos putih dan menutupi kakinya dengan kain batik yang dililit dipinggangnya. Tiba di unit Siska, Siska masuk ke kamarnya, tak lama ia keluar hanya mengenakan baju berenang sambil menenteng handuk.
"Kamu mandi duluan ya, di kamar saya saja" kata Siska.
"Kamu aja duluan, kamu nggak kedinginan?" jawab saya.
"Buka dulu deh kaos dan celana kamu biar saya keringkan di drying machine. Kamu nggak bawa baju ganti kan?" kata Siska sambil menyodorkan handuk.
Saya meraih handuk dari Siska dan Siska menarik tangan saya untuk masuk ke kamar. Kamar Siska rapih dan bersih.
"Sini kaos dan celana kamu biar saya keringkan," kata Siska.
Saya membuka kaos dan celana fitness sambil melirik ke arah Siska, kontol saya tanpa dikomando langsung berdiri setegak-tegaknya dibalik celana renang speedo. Sialnya, ujung kepala kontol saya menyembul sedikit keluar. Pikiran saya antara tengsin dan cuek. Siska langsung tertegun dan mukanya kembali memerah. Saya perhatikan putingnya perlahan-lahan mengeras dan menyembul dibalik baju renangnya.
"Besar amat Arthur" kata Siska dengan suara sedikit berbisik.
Saya mendekati Siska dengan perlahan dan tanpa disadari Siska mengulurkan tangannya dan meraba kontolku. Untuk beberapa saat saya membiarkan ia mengelus kontol saya, lalu saya mengelus pipi Siska dan menciumnya dengan lembut. Siska membalas mencium bibir saya dan kita saling berpagutan. Tangan Siska semakin agresif meremas kontol saya dan saya mulai meremas pantat Siska, terasa kenyal dan padat. Siska lalu melepaskan ciumannya dan mulai mencium leher saya, turun ke dada dan menjilat dada saya yang bidang. Kedua putting saya dijilat dan dihisap lalu Siska turun ke perut saya.
"Saya horny banget melihat cowok yang punya otot perut dan dada yang bidang dan tentu saja kontol yang besar" kata Siska sambil melirik ke arah saya dengan senyum yang menawan.
Siska menjilat otot-otot perut saya sementara tangannya menurunkan celana berenang saya. Kontol saya yang sudah tegang langsung loncat keluar di depan muka Siska. Siska memandangnya sejenak dan mulai menjilat kepala kontol saya lalu menjilat kedua buah biji saya dan mulai mengulum kontol saya. Oh my goodness, it feels so damn good. Kelihatannya dia mahir dalam mempermainkan lidahnya saat mengulum kontol saya. Semakin keras saya mengerang kenikmatan, semakin keras Siska menyedot kontol saya. Tak lama kemudian peju saya langsung muncrat keluar di dalam mulut Siska. Siska menelan semua peju saya tanpa sisa.
"Gila, enak banget Siska. Terus terang baru sekali ini saya dihisap seenak itu" puji saya.
"Itu belum seberapa" goda Siska.
Dengan gemas, saya menggendong Siska lalu merebahkannya ditempat tidur. Saya kembali cium bibir Siska. Puas french-kiss, saya turun ke dada Siska dan menjilat puting Siska dari balik baju berenangnya. Nafas Siska terdengar memburu menahan nafsu. Saya raih ikatan baju berenang dan membukanya lalu menurunkannya sampai keperut. Buah dada Siska yang besar langsung saya terkam dan hisap putingnya.
"Ohh.. Yes Arthur, enak banget, terus sayang" desah Siska
Saya tarik kebawah baju berenang Siska sampai ke kaki. Terlihat vagina Siska dengan bulu kemaluan yang dicukur rapih dan disisakan sedikit di atas vaginanya. Saya mengelus-elus pangkal paha Siska dan daerah selangkangannya.
"Lick me Arthur, lick me!!" kata Siska dengan tidak sabar
Tanpa diperintah dua kali, saya langsung berlutut dipinggir tempat tidur dan langsung melahap vagina Siska, saya buka bibir vaginanya dan menghipap klitorisnya yang rasanya sedikit asin dan tercium sedikit sisa air kolam renang. Siska menjerit dengan nikmat setiap kali saya gigit klitorisnya dan menjilat seluruh dinding vaginanya. Tidak luput dari jilatan saya adalah daerah anusnya. Seluruh tubuh Siska memang putih bersih bahkan sampai daerah anusnya.
Saya sering melihat daerah vagina dan daerah anus wanita yang warna hitam atau coklat tua dan saya bisa langsung hilang nafsu saya. Tapi Siska terlihat putih bersih dan menggairahkan. Siska semakin menggelinjang saat saya jilat anusnya. Ia lalu melepaskan dirinya dari peganganku lalu berlutut ditempat tidur kemudian mencium bibir saya. Saya angkat Siska dan Siska langsung mengalungkan kedua kakinya dipinggangku sehingga kontolku bisa dengan mudah melesak masuk ke dalam vagina Siska.
"Aahh Arthur, enak sekali sayang, fuck me.. Fuck me now" seru Siska
Sambil berciuman, Siska mengayunkan pantatnya naik turun. Semakin keras Siska mengayun, semakin keras kontol saya masuk ke dalam vagina Siska. Gairah saya semakin naik dan dengan gemas saya cium bibir Siska. Tangan Siska tetap merangkul di pundak saya agar tidak terjatuh dan saya menahan tubuh Siska dengan merangkul pinggangnya. Siska is really wild! Saya lalu mendekati dinding dan menyandarkan Siska didinding tapi masih dalam posisi menggendong dirinya lalu giliran saya yang bisa menggenjot Siska. Saya ayunkan pantat saya dengan keras ke tubuh Siska sehingga kontol saya menghujam lebih dalam ke vaginanya.
"Aarggh.. Harder! harder!" seru Siska
Saya menggenjot lebih keras. Semakin keras saya masukkan kontol ke dalam vagina Siska, semakin keras Siska menjerit diiringi bunyi tubuh Siska yang beradu kedinding. Siska lalu turun dari gendonganku, tanpa melepaskan kontol saya dari vaginanya, ia memutar badannya dan bersandar pada sandaran kursi meja riasnya. Kembali saya genjot Siska dengan penuh nafsu sambi meremas-remas payudaranya. Saya melihat ekspresi wajah Siska dari kaca di meja rias yang kelihatannya sungguh menikmati ML ini.
10 menit dalam posisi ini, Siska mengeluarkan kontol saya dan mendorong saya ketempat tidur. Saya tidur terlentang dan Siska jongkok di atas pinggang saya dan perlahan-lahan ia masukkan kontol saya dan kembali bertempur. Dengan enerjik ia menaikkan turunkan pantatnya sambil memutar-mutarnya. Keringat turun di atas dahi, dada dan selangkangannya. Siska memegang tangan saya agar dia tidak jatuh.
Siska menghentikan sebentar gerakannya lalu ia menjatuhkan badannya kesamping dan meminta saya untuk mengentot dari belakangnya. Siska rebahan ditempat tidur dan saya mengambil bantal dan menyelipkannya di bawah pinggul Siska sehingga pantatnya menjadi tinggi. Saya berlutut dibelakang Siska dan menjilat anusnya. Lalu saya masukkan jari telunjuk saya ke dalam anus Siska dan saya menjilat vagina Siska. Siska meronta-ronta kegelian dan menggelinjang. Lalu saya arahkan kontol saya ke anus Siska, tetapi Siska cepat-cepat menutupi anusnya dengan tangannya dan berkata.
"Jangan sayang, saya nggak mau disodomi".
Saya tersenyum dan saya masukkan kembali kontolku ke dalam vaginanya. Saya raih pantat Siska dan saya tekan kontol saya dengan kuat ke vaginanya. Siska berseru-seru dengan nikmat, tangannya menggapai ke ukiran kayu diujung tempat tidur dan mencengkeramnya. Payudaranya yang besar terlihat bergoyang kiri kanan. Saya terus memompa vagina Siska dengan kuat dan Siska memperketat pahanya sehingga kontol saya terasa semakin keras digenggam di dalam vaginanya.
Siska tiba-tiba berhenti dan berkata, "Sayang, jarinya masukin lagi dong ke anus. Tapi saya tetap tidak mau disodomi".
Saya tersenyum dalam hati, this girl is very wild. Saya genjot vagina Siska dan memasukkan jari telunjuk saya ke anusnya. Siska menggeliat dengan keras sambil menjerit kenikmatan. Kontol saya rasanya seperti dipijit-pijit di dalam vagina Siska. Menambah sensasi yang sangat nikmat. Selama 20 menit saya genjot vagian Siska dan mengocok anusnya dengan jari saya dan saya mulai klimaks.
"Saya mau keluar sayang"
"Iya, saya juga"
Saya lalu melenguh dengan keras saat peju saya keluar dalam vagina Siska yang hangat. Tubuh Siska mengejang dan Siska juga turut melenguh dengan nikmat kemudian ia menjatuhkan dirinya. Saya mencabut kontolku dari vaginanya lalu rebahan disamping Siska. Siska naik ke dada saya dan menindih tubuhku. Kita berdua berpelukan dengan lemas. Keringat ditubuh kita bercampur jadi satu. Saya melirik ke jam, ternyata sudah 1.5 jam kita bersetubuh. Benar juga kata orang, apabila perempuan sering berenang maka daya seksnya juga kuat. Terbukti juga ucapan itu.
Setelah istirahat, kami berdua mandi dan kembali bersetubuh malam itu hingga 3 kali. Malam itu saya nginap dirumah Siska. Hari minggu kami kembali bersetubuh dan di sore hari saya baru pulang ke rumah.
TAMAT
Saya dan teman-teman kantor pergi ke Plaza Indonesia untuk makan siang di Spice Garden. Food court ini cukup penuh tapi beruntung kami dapat meja. Saya lalu pergi membeli makan sementara dua teman saya menunggu meja. Sambil antri untuk pesan sup buntut, saya memperhatikan banyak wanita-wanita cantik yang sedang makan siang. Sang pelayan menanyakan saya mau pesan apa, saya jawab, "Sup buntut tapi jangan banyak tulang ya".
Setelah mendapat pesanan saya, saya masih harus antri lagi untuk membayar. Di sebelah kiri saya ada seorang wanita yang ikut antri untuk membayar. Awalnya saya tidak memperhatikannya karena sedang sibuk membalas SMS. Tiba-tiba nampan piring saya tersenggol dengan keras dan wanita sebelah saya menoleh ke arah saya.
"Aduh maaf Pak tidak sengaja"
"Tidak apa-apa," jawab saya sambil tersenyum. Saya perhatikan wajahnya ternyata cantik juga.
"Pesan sup buntut juga?" kata saya untuk memancing pembicaraan.
"Iya, sudah bosan makan yang lain" sahutnya.
"Saya Arthur"
"Halo, nama saya Siska (bukan nama asli)" jawabnya.
Antrian membayar di kasir berjalan dengan pelan, saya memakai kesempatan ini untuk ngobrol dengan Siska. Orangnya ramah dan periang. Tingginya sekitar 165 cm, dadanya lumayan besar dan pantatnya terlihat bulat dan indah dibalik rok yang dikenakan. Saya memperhatikan lebih seksama, ternyata wajahnya mirip Tessa Kaunang. Setelah membayar makanan, kami bertukar kartu nama, lalu saya menghampiri teman-teman saya yang sudah menunggu dengan wajah bete.
"Pantesan saja lama, keasyikan kenalan dengan cewek," ujar teman saya dengan sewot.
Jum'at Sore
Hari Jum'at sore, saya agak santai di kantor. Semua tugas sudah selesai dan tinggal diserahkan ke boss. Sambil menunggu jam 5 sore, saya teringat kembali ke wanita yang kenalan di Plaza Indonesia dua hari yang lalu. Siapa ya namanya? Saya bertanya dalam hati. Saya cari kartu namanya di dalam dompetku, untung ada! Lalu saya telepon nomor kantornya, setelah menunggu sejenak akhirnya ada yang mengangkat.
"Selamat sore, dengan Siska"
"Halo Siska, ini Arhur. Masih ingat nggak?"
"Ingat dong, kirain kamu sudah lupa dengan saya, nggak nelepon sama sekali"
"Maaf, habisan ada project yang due hari ini, jadi sibuk sekali. Ngomong-ngomong, mengganggu nggak saya telepon sekarang?"
"Oh tidak sama sekali, lagi nyantai nih. Kan sudah mau weekend"
"Ada acara apa hari Sabtu besok? Mau nonton nggak?" saya menawarkan.
"Besok pagi sampai siang, saya ada acara kawinan saudara. Pengennya sih besok sore mau fitness dan berenang, sudah seminggu saya nggak olah raga. Olah raga aja yuk, mau nggak?" kata Siska.
"Boleh juga, dimana dan jam berapa?"
"Di aparteman saya aja di **** jam 4 sore ya"
"OK, besok sore saya kesana"
Kami lalu bertukar nomor handphone lalu mengakhiri pembicaran ditelepon.
Sabtu Sore
Jam 15:45 saya tiba di gerbang kompleks aparteman Siska. Apartemannya sangat mewah sehingga keamanan cukup ketat. Petugas satpam dengan ramah menanyakan saya mau kemana, saya jawab ke aparteman Siska unit *** di tower ***. Satpam mengkonfirmasi nama Siska dan saya diijinkan masuk.
Di lobby kembali saya ditanya satpam mau ke lantai berapa lalu saya diijinkan untuk masuk ke lift. Dalam hati saya terkagum-kagum dengan system keamanan yang ekstra ketat, saya bayangkan pasti banyak konglomerat atau ekspatriat yang tinggal di sini.
Akhirnya saya sampai depan unit Siska. Saya tekan bel dan menunggu lalu pintu terbuka. Siska tersenyum dengan lebar dan mempersilakan saya masuk.
"Halo, susah nggak kemari?"
"Oh tidak, saya sering kok ke daerah sini, makanya bisa langsung tahu aparteman kamu dimana"
Sore itu Siska mengenakan celana pendek selutut yang longgar dengan kaos longgar bertuliskan Bali. Rambutnya yang pendek nampak sedikit acak-acakan.
"Sorry ya, saya baru bangun 30 menit yang lalu. Abisan capek banget dari pulang kawinan saudara"
"Nggak apa-apa, kamu kelihatan cantik kok" sahut saya.
"Macak cih?" goda Siska sambil menuangkan air es kepada saya.
"Aparteman kamu besar sekali, ada berapa kamar?" tanya saya.
"Ada dua kamar. Dulu saya tinggal dengan Adik saya. Sekarang Adik saya kuliah di Australia, lalu kamarnya saya pakai untuk ruang kerja saya," jawab Siska sambil menunjuk ke kamar yang pintunya terbuka.
Saya mengintip ke dalam kamar itu dan terlihat meja dan peralatan untuk menggambar, komputer dan printer dan beberapa gambar hasil karya Siska yang ditempel di dinding. Di dinding digantung foto keluarga Siska; kedua orang tuanya, satu Adik perempuan dan Kakak laki-laki. Saya langsung mengenali Ayah Siska yaitu seorang direktur utama di sebuah bank swasta.
"Saya ganti baju dulu ya, silakan lihat-lihat," kata Siska.
"Oke"
Saya melihat-lihat gambar interior design yang dibuat oleh Siska. Setelah puas, saya keluar dari kamar kerja Siska dan kembali ke ruang tamu. Kamar kerja Siska bersebelahan dengan kamar tidur Siska. Saat melewati kamar Siska, pintu kamarnya terbuka sedikit dan saya bisa melihat si Siska sedang berdiri depan lemari sambil memakai bicycle pant warna hitam. Dadanya yang polos sedang ia lap dengan handuk kecil. Terlihat payudaranya yang putih dan besar dengan puting berwarna pink. Kontan saya langsung ereksi melihat pemandangan indah ini. Siska lalu meraih baju senamnya berwarna merah menyala dan mengenakannya. Saya langsung bergegas menjauh dari pintu supaya tidak ketahuan ngintip.
Lima menit kemudian Siska keluar dari kamar sambil menenteng tas olah raga. Siska mengenakan baju senam yang mirip dengan baju untuk berenang dan dibagian bawah ia memakai bicycle pant warna hitam. Samar-samar terlihat bayangan putingnya dibalik baju senamnya yang ketat.
"Kamu bawa celana berenang kan?" tanya Siska.
"Bawa dong, yuk kita pergi" jawab saya.
Kami turun ke basement dan berjalan keluar menyusuri taman yang luas. Kolam renangnya cukup besar, tampak beberapa orang dewasa sedang berenang dan anak-anak dengan suara riang sedang bermain di kolam renang yang kecil. Kami masuk ketempat fitness yang cukup modern dan lengkap, tidak kalah dengan tempat saya fitness.
10 menit kemudian kami mulai fitness, diawali dengan pemanasan di treadmill selama 30 menit. Sekali-sekali saya melirik ke arah dada Siska yang menggoyang-goyang mengikuti irama larinya. Saya berusaha untuk tidak berpikiran kotor agar tidak ereksi karena bisa terlihat jelas dibalik celana fitness saya yang longgar. Selesai treadmill, saya mulai dengan angkat beban. Siska memulai dengan leg-curl, diikuti sit-up, bench-press dan dumbell.
Setiap gerakan Siska terlihat sangat erotis. Nafasnya yang tersengal-sengal setiap kali mengangkat dumbel dan keringatnya yang menetes di dahi hingga membasahi dada sampai ke pantat. Baju senamnya yang lembab dan ketat membuat lekuk-lekuk tubuhnya terlihat semakin jelas. It's so beautiful. Saya tetap berusaha untuk menahan pikiran saya karena saya tahu pasti akan langsung ereksi. Selesai angkat beban, Siska mengajak saya berenang. Saya mengiyakan dan pergi ke locker untuk ganti baju.
Setelah ganti baju, saya keluar dari locker dan menunggu Siska dipinggir kolam renang. Pikiran saya tiba-tiba kembali ke saat melihat Siska ganti baju, tiba-tiba kontol saya langsung berdiri tegak dan terlihat menggelembung dibalik celana renang speedo saya yang ketat. Oh shit, untung sudah jam 17:45 sehingga suasana sudah agak remang-remang dan sudah tidak banyak orang yang berenang jadi tidak ada yang memperhatikan ada yang sedang ereksi, hehehe. Belum reda ereksi saya, Siska tiba-tiba mencolek dari belakang.
"Sorry, lama ya nunggu"
"Oh tidak kok," jawab saya.
Mata Siska langsung tertuju ke kontol saya yang masih ereksi dan saya melihat mukanya sedikit memerah tapi ia diam saja. Saya memperhatikan tubuh Siska yang sempurna terbalut baju renang yang ketat. Pantatnya yang bulat terlihat begitu indah ditambah dengan payudaranya yang saya yakin pasti berukuran 36B. Baju berenangnya yang sempit terlihat tidak bisa menahan payudara Siska yang besar itu. Kami lalu berjalan ke tepi kolam lalu mulai berenang. Kami berenang kira-kira 20 lap tanpa henti lalu istirahat dipinggir kolam.
"Kuat juga ya kamu" puji saya ke Siska.
"Biasa aja kok, mungkin karena saya rutin fitness dan berenang" jawab Siska.
Kami ngobrol-ngobrol sebentar dan kembali berenang 10 lap lalu kembali ke locker. Sebelum berjalan ke locker, Siska berpesan untuk mandi di kamar saja jangan ditempat fitness. Saya lalu hanya mengenakan kaos dan celana fitness untuk menutupi celana renang saya yang basah, sedangkan Siska masih mengenakan baju berenang mengenakan kaos putih dan menutupi kakinya dengan kain batik yang dililit dipinggangnya. Tiba di unit Siska, Siska masuk ke kamarnya, tak lama ia keluar hanya mengenakan baju berenang sambil menenteng handuk.
"Kamu mandi duluan ya, di kamar saya saja" kata Siska.
"Kamu aja duluan, kamu nggak kedinginan?" jawab saya.
"Buka dulu deh kaos dan celana kamu biar saya keringkan di drying machine. Kamu nggak bawa baju ganti kan?" kata Siska sambil menyodorkan handuk.
Saya meraih handuk dari Siska dan Siska menarik tangan saya untuk masuk ke kamar. Kamar Siska rapih dan bersih.
"Sini kaos dan celana kamu biar saya keringkan," kata Siska.
Saya membuka kaos dan celana fitness sambil melirik ke arah Siska, kontol saya tanpa dikomando langsung berdiri setegak-tegaknya dibalik celana renang speedo. Sialnya, ujung kepala kontol saya menyembul sedikit keluar. Pikiran saya antara tengsin dan cuek. Siska langsung tertegun dan mukanya kembali memerah. Saya perhatikan putingnya perlahan-lahan mengeras dan menyembul dibalik baju renangnya.
"Besar amat Arthur" kata Siska dengan suara sedikit berbisik.
Saya mendekati Siska dengan perlahan dan tanpa disadari Siska mengulurkan tangannya dan meraba kontolku. Untuk beberapa saat saya membiarkan ia mengelus kontol saya, lalu saya mengelus pipi Siska dan menciumnya dengan lembut. Siska membalas mencium bibir saya dan kita saling berpagutan. Tangan Siska semakin agresif meremas kontol saya dan saya mulai meremas pantat Siska, terasa kenyal dan padat. Siska lalu melepaskan ciumannya dan mulai mencium leher saya, turun ke dada dan menjilat dada saya yang bidang. Kedua putting saya dijilat dan dihisap lalu Siska turun ke perut saya.
"Saya horny banget melihat cowok yang punya otot perut dan dada yang bidang dan tentu saja kontol yang besar" kata Siska sambil melirik ke arah saya dengan senyum yang menawan.
Siska menjilat otot-otot perut saya sementara tangannya menurunkan celana berenang saya. Kontol saya yang sudah tegang langsung loncat keluar di depan muka Siska. Siska memandangnya sejenak dan mulai menjilat kepala kontol saya lalu menjilat kedua buah biji saya dan mulai mengulum kontol saya. Oh my goodness, it feels so damn good. Kelihatannya dia mahir dalam mempermainkan lidahnya saat mengulum kontol saya. Semakin keras saya mengerang kenikmatan, semakin keras Siska menyedot kontol saya. Tak lama kemudian peju saya langsung muncrat keluar di dalam mulut Siska. Siska menelan semua peju saya tanpa sisa.
"Gila, enak banget Siska. Terus terang baru sekali ini saya dihisap seenak itu" puji saya.
"Itu belum seberapa" goda Siska.
Dengan gemas, saya menggendong Siska lalu merebahkannya ditempat tidur. Saya kembali cium bibir Siska. Puas french-kiss, saya turun ke dada Siska dan menjilat puting Siska dari balik baju berenangnya. Nafas Siska terdengar memburu menahan nafsu. Saya raih ikatan baju berenang dan membukanya lalu menurunkannya sampai keperut. Buah dada Siska yang besar langsung saya terkam dan hisap putingnya.
"Ohh.. Yes Arthur, enak banget, terus sayang" desah Siska
Saya tarik kebawah baju berenang Siska sampai ke kaki. Terlihat vagina Siska dengan bulu kemaluan yang dicukur rapih dan disisakan sedikit di atas vaginanya. Saya mengelus-elus pangkal paha Siska dan daerah selangkangannya.
"Lick me Arthur, lick me!!" kata Siska dengan tidak sabar
Tanpa diperintah dua kali, saya langsung berlutut dipinggir tempat tidur dan langsung melahap vagina Siska, saya buka bibir vaginanya dan menghipap klitorisnya yang rasanya sedikit asin dan tercium sedikit sisa air kolam renang. Siska menjerit dengan nikmat setiap kali saya gigit klitorisnya dan menjilat seluruh dinding vaginanya. Tidak luput dari jilatan saya adalah daerah anusnya. Seluruh tubuh Siska memang putih bersih bahkan sampai daerah anusnya.
Saya sering melihat daerah vagina dan daerah anus wanita yang warna hitam atau coklat tua dan saya bisa langsung hilang nafsu saya. Tapi Siska terlihat putih bersih dan menggairahkan. Siska semakin menggelinjang saat saya jilat anusnya. Ia lalu melepaskan dirinya dari peganganku lalu berlutut ditempat tidur kemudian mencium bibir saya. Saya angkat Siska dan Siska langsung mengalungkan kedua kakinya dipinggangku sehingga kontolku bisa dengan mudah melesak masuk ke dalam vagina Siska.
"Aahh Arthur, enak sekali sayang, fuck me.. Fuck me now" seru Siska
Sambil berciuman, Siska mengayunkan pantatnya naik turun. Semakin keras Siska mengayun, semakin keras kontol saya masuk ke dalam vagina Siska. Gairah saya semakin naik dan dengan gemas saya cium bibir Siska. Tangan Siska tetap merangkul di pundak saya agar tidak terjatuh dan saya menahan tubuh Siska dengan merangkul pinggangnya. Siska is really wild! Saya lalu mendekati dinding dan menyandarkan Siska didinding tapi masih dalam posisi menggendong dirinya lalu giliran saya yang bisa menggenjot Siska. Saya ayunkan pantat saya dengan keras ke tubuh Siska sehingga kontol saya menghujam lebih dalam ke vaginanya.
"Aarggh.. Harder! harder!" seru Siska
Saya menggenjot lebih keras. Semakin keras saya masukkan kontol ke dalam vagina Siska, semakin keras Siska menjerit diiringi bunyi tubuh Siska yang beradu kedinding. Siska lalu turun dari gendonganku, tanpa melepaskan kontol saya dari vaginanya, ia memutar badannya dan bersandar pada sandaran kursi meja riasnya. Kembali saya genjot Siska dengan penuh nafsu sambi meremas-remas payudaranya. Saya melihat ekspresi wajah Siska dari kaca di meja rias yang kelihatannya sungguh menikmati ML ini.
10 menit dalam posisi ini, Siska mengeluarkan kontol saya dan mendorong saya ketempat tidur. Saya tidur terlentang dan Siska jongkok di atas pinggang saya dan perlahan-lahan ia masukkan kontol saya dan kembali bertempur. Dengan enerjik ia menaikkan turunkan pantatnya sambil memutar-mutarnya. Keringat turun di atas dahi, dada dan selangkangannya. Siska memegang tangan saya agar dia tidak jatuh.
Siska menghentikan sebentar gerakannya lalu ia menjatuhkan badannya kesamping dan meminta saya untuk mengentot dari belakangnya. Siska rebahan ditempat tidur dan saya mengambil bantal dan menyelipkannya di bawah pinggul Siska sehingga pantatnya menjadi tinggi. Saya berlutut dibelakang Siska dan menjilat anusnya. Lalu saya masukkan jari telunjuk saya ke dalam anus Siska dan saya menjilat vagina Siska. Siska meronta-ronta kegelian dan menggelinjang. Lalu saya arahkan kontol saya ke anus Siska, tetapi Siska cepat-cepat menutupi anusnya dengan tangannya dan berkata.
"Jangan sayang, saya nggak mau disodomi".
Saya tersenyum dan saya masukkan kembali kontolku ke dalam vaginanya. Saya raih pantat Siska dan saya tekan kontol saya dengan kuat ke vaginanya. Siska berseru-seru dengan nikmat, tangannya menggapai ke ukiran kayu diujung tempat tidur dan mencengkeramnya. Payudaranya yang besar terlihat bergoyang kiri kanan. Saya terus memompa vagina Siska dengan kuat dan Siska memperketat pahanya sehingga kontol saya terasa semakin keras digenggam di dalam vaginanya.
Siska tiba-tiba berhenti dan berkata, "Sayang, jarinya masukin lagi dong ke anus. Tapi saya tetap tidak mau disodomi".
Saya tersenyum dalam hati, this girl is very wild. Saya genjot vagina Siska dan memasukkan jari telunjuk saya ke anusnya. Siska menggeliat dengan keras sambil menjerit kenikmatan. Kontol saya rasanya seperti dipijit-pijit di dalam vagina Siska. Menambah sensasi yang sangat nikmat. Selama 20 menit saya genjot vagian Siska dan mengocok anusnya dengan jari saya dan saya mulai klimaks.
"Saya mau keluar sayang"
"Iya, saya juga"
Saya lalu melenguh dengan keras saat peju saya keluar dalam vagina Siska yang hangat. Tubuh Siska mengejang dan Siska juga turut melenguh dengan nikmat kemudian ia menjatuhkan dirinya. Saya mencabut kontolku dari vaginanya lalu rebahan disamping Siska. Siska naik ke dada saya dan menindih tubuhku. Kita berdua berpelukan dengan lemas. Keringat ditubuh kita bercampur jadi satu. Saya melirik ke jam, ternyata sudah 1.5 jam kita bersetubuh. Benar juga kata orang, apabila perempuan sering berenang maka daya seksnya juga kuat. Terbukti juga ucapan itu.
Setelah istirahat, kami berdua mandi dan kembali bersetubuh malam itu hingga 3 kali. Malam itu saya nginap dirumah Siska. Hari minggu kami kembali bersetubuh dan di sore hari saya baru pulang ke rumah.
TAMAT
Sunday, January 30, 2011
Teman, tak mengira akan begini jadinya
Sebelumnya mo minta izin, kali ini mungkin akan panjang FR-ya, atau mgkn malah bs dijadiin cerita seru![]()
Buat yang mau baca, thx 2 u, kalo yg mau skip jg gpp koq. Ane emang lg bener2 butuh curhatane ga mungkin cerita bginian sama org, cumn di DS ini yg memungkinkan, paling ga, smoga bikin ane plong.
---
Satu hari sekitar bbrp minggu yg lalu, sebuah SMS masuk :
"Jxxxx, bokapnya si Axxxx meninggal, mo ngelayat ga?"
ternyt sms dr seorang tmn lama, Sxxxxx, kita singkat jd S aja.
Ane : "Oya? kpn? koq si A ga bilg2, mo ksana kpn? bareng aja, ntar aku kabarin yg laen."
S : "No si A ganti, dia ga apal nomer km, sore aja deh ksananya pulg kntr, aku besok mo balik ke bdg soalnya."
Ane : "OK, mo brgkt bareng yg laen apa gmn?"
S : "aku pk taxi aja deh, ketemu disana."
Jam 7-an ane nyampe dilokasi, rame bener org2 ngelayat, clingak clinguk gada yg kenal. Nelp S katanya ada di barisan depan, ane lgsg nyelinep diantara kerumunan org. Akhirnya ketemu jg wajah yg familiar, aga surprising, pangling. S msh pake stelan baju kerja, rok hitam selutut, kemeja bunga2 dgn tambahan selendang warna hitam. Kulitnya masih seperti dulu, putih dan halus, wajahnya bersih dengan make-up tipis, rambut diiket sembarang ke belakang, mengingatkan gaya artis2 drama korea yg cantik2 itu.
Sekedar flashback, S ini tmn kuliah ane di Bandung, sama2 org bandung tp sama2 kerja di Jakarta tp beda kantor tentunya, jauhan pula lokasinya. Lebih dari 2 taun ga prnh ketemu, terakhir ktemu wktu di pesta kawinan salah seorang tmn kita. Masih single, sukses, mungkin penganut wanita mandiri yg sangat mengejar karir, skrg S adalah seorang manajer di sebuah kantor yang memproduksi minuman suplemen kesehatan. Wktu kuliah, kita prnh deket, pacaran sih nggak, tp ane sering maen k rmhnya sampe malem dan seringkali berakhir dengan deep kissing bahkan bbrp kali sempet petting sampe doi mengaku basah krn orgasme, walo ga sampe ML. Prnh satu kali doi nyobain BJ, dan 2 kali ane dpt HJ (ane msh inget dan ga akan lupa kayaknya). Tp ga prnh sekalipun ane dikasi izin nyentuh boobsnya apalg V-nya, sekalipun dr luar baju, ga pernh. Doi bilang itu terlarang, doi seorang yg religius sbnrnya, di mobilnya ga prnh ada lagu lain selain gospel, dan sangat rajin pergi berdoa. Ane sendiri suka bingung, ga habis pikir, bahkan sampe skrg.
Setelah ketemu dgn keluarga yg berkabung, ikut doa, ngobrol2 bntr dgn tmn kita si A, sktr jam 9 mlm kita memutuskan pulang karena ternyata teman2 yg lain ga bs dateng hari ini. S minta dianterin karena jauh, ya iyalah, tanpa doi minta jg ane sudah bersiap mo nganterDijalan, ane inget kalo doi mau pulg ke Bdg, apa ane jg balik ke bdg aja ya? biar bareng
dan ternyata disambut baik
Setelah mampir ke apartemen doi (nice place by-the-way) buat ganti baju dan ngambil bbrp barang doi, akhirnya sekitar jam 10 mlm kita berangkat ke bdg. S skrg pake clana pendek warna gelap, t-shirt putih agak tipis, bra itemnya sedikit menerawang, rambut sama, diiket sembarang ke belakang menyisakan beberapa helai rambut nakal tergerai di sekitar telinga dan jidatnya, tau aja doi kalo ane suka cewek yg rambutnya bgini. Wajahnya lebih fresh karena doi nyempetin mandi dulu.
Menuju bdg kita banyak ngobrolin kejadian2 jaman kuliah termasuk kejadian2 ttg kita berdua, kadang doi aga tersipu kalo ngebahas itu. Dulu selepas kuliah, kita sempet lost kontak, bisa dibilang putus secara ga jelas (pdhl pacaran aja ngga dan waktu itu doi setauku masih virgin). Mgkn selain perbedaan prinsip (hihi kayak yg dibilang para artis di inpotainmen), juga mgkn krn doi smpt ngelanjutin S2 di luar.
Di sela2 obrolan doi cerita kalo skrg lagi ngjalin hubungan serius dgn cowok yg ane ga kenal dan doi ga mau cerita byk ttg cowoknya. Sempet ane tanya smbl becanda, "Skrg msh virgin ga?" jawabannya cuman senyum terus cemberut sambil ngelempar bungkus rokok ke wajah ane. Jd jwbnnya apa coba? bikin pikiran ane penasaran, tp cukup sampe situ ga dilanjutin.
Jam 12-an nyampe bdg dan doi bersikeras maksa buat nyetir, gantian katanya, soalnya sekalian nyari dulu tempat makan karena lapar. Akhirnya makan di warung makan nuansa Aceh di dago, selain kita suka makanan melayu juga tmptnya tenang ga bgitu rame pengunjung. Kali ini kita ga byk ngomong, paling cumn ngomentarin rasa makanannya yg pedes, smbil mkn lebih byk diam terhanyut dlm pikiran masing2. Ane sendiri kepikiran kalo bntr lagi ane hrs nganterin dia pulang dan berpisah, pdhl hati ane ngerasa kalo ane msh pengen bareng, hiks...
Ga terasa makanan habis sudah, bayar, lalu beranjak menuju parkiran yg sepi. S duduk dibelakang stir, memasukan kunci tp ga buru2 nyalain mobil. Ane noleh ke arahnya, pandangan kita bertemu. Reflex, ga tau gmn mulainya, bibir S yg merah sudah bersentuhan dengan bibir ane, perasaan campur aduk, diluar dingin, bibir pedes, nafsu bergolak, hati kecil sedikit bingung seolah menolak, tapi bibir berkata lain, ga tau dtg drmn, ane berbisik : "Kangen bgt gw, ga usah pulang dulu yuk"
Permainan bibir berlanjut, lidah ikut2an ga mau kalah. Ga inget brp lama kegiatan ini berlangsung, sampe akhirnya berenti, lalu terdiam sesaat. S terdiam, ane ikutan diem, deg-degan kalo2 ternyata doi marah. Lalu dgn hampir ga kedengeran, S bilang "Terus, kita mau kemana skrg?". "Kmn keq, kita nongkrong dulu sampe pagi" aku reflex menjawab, tp kemudian agak menyesal dengan jawaban asal yg keluar tiba-tiba, jgn2 doi mikir yg ngga-ngga sama ane. Cumn ane bingung mo ngomong apalagi, sampe akhirnya doi noleh lalu berbisik, "yang deket2 aja ya?" sambil nyalain mobil dan beranjak dari parkiran. Ane cumn bs ngangguk, dlm hati ane, wtf?! mksdnya apa coba? pikiran ane gelap, ga biasanya otak jd blank gini pas lagi sama cewek lain, otak dan hati kecil bergejolak entah mikir ato ngerasa apa ane sendiri ga tau.
Sesaat kemudian kaget dan tersadar, dmn ini? ini kan.. iya deket sama tmpt kita makan td, deket bgt, tp ini kan uda ada di... parkiran hotel H! Aku menoleh ke arah S, doi cumn sedikit tersenyum, "The room.. on me, I insist" katanya. Sambil dianter petugas hotel, kita lbh byk diam, cumn mata yg berkomunikasi, entah komunikasi apa, sesekali doi tersenyum penuh arti, entah apa artinya. Tangan kanan ane digandeng, tangan kiri menjinjing tas travel kecil punya doi. Jantung ini berdebar kencang sekali.
Begitu berduaan ditinggal petugas di room, kejadian di parkiran terulang lg, bedanya sekarang tubuh kita berpelukan, mulai dari berdiri sampai bergulingan di kasur, mulai dari msh pake baju lengkap sampai sama sekali polos tanpa penutup. Dan kali ini ane bs menyentuh, mencium dan meremas sepasang bukit kembarnya yg indah, yg cumn jd khayalan wktu kuliah, dan doi membiarkan saja ketika tangan ane mulai memainkan sesuatu yg indah berbulu halus diantara selangkangannya, bahkan doi terlihat menikmatinya, apalagi ane.
Gak pasti brp lama ini berlangsung, yg jelas sangat membuat junior ga tahan, sampe ketika junior menggesek2 bibir labium mis V, sesaat ane melirik matanya, doi balik menatap sendu sambil sedikit mendorong pinggulnya ke arah ane membuat posisi junior sedikit terjepit tanpa perlawanan. Ane menganggap kalo ini adalah izin, kalo bahasa kasarnya mungkin "Let's fuck me!" Perlahan ane tekan kepala junior memasuki pintu gua, uda ga virgin lg ternyata (sukurlah), tp msh kerasa bgt sempitnya meskipun V doi uda basah. Junior baru masuk setengah, dengan posisi MOT, ane kemudian memeluk dan mencium bibir doi, sengaja membiarkan junior biar masuk semua dengan sendirinya. Begitu amblas, mentok, doi memeluk erat bgt, kakinya melingkar menjepit kaki ane, pinggulnya didorong sambil menggigit bibir ane. Damn.. sakit.. doi mengejang, V nya terasa menggigit dan basah, doi dapet O. Baru jg masuk, udah O, kalo inget dulu2 sih kayaknya doi emang gampang O, dulu wktu petting doi jg ngakunya dpt O bahkan kadang ciuman doang doi bisa dapet.
Jujur, ane jg ga bs maen lama kali ini, baru beberapa gerakan maju mundur, pelan cepat, ga lama ane jg ga bs nahan, klimaks dgn cepat dan terkulai lemas sambil berpelukan. Hening bbrp saat, quo vadis. Damn.. tiba2 ane sadar, seta merta memaksa bangun dan melepas junior dari sarang yang basah, baru inget, ternyata junior terjun bebas dan keluar di dalem pula! Ane melihat ke arah S, rupanya doi ngeuh, doi malah merentangkan kedua tangannya minta dipeluk, "I just finished my period, and I'm clean for sure" katanya, fuih... ane kembali memeluknya, "maaf ya.." doi cumn tersenyum. Kemudian tanpa sadar kitapun tertidur.
Ketika terbangun, rupanya matahari sudah tinggi. Malas sekali beranjak dr kasur. Kegiatan 'kangen-kangenan' itu ternyata menjadi ritual kita hari itu, ga ada kegiatan di luar kamar. Sehabis sarapan ritual di kamar mandi, lalu di sofa, di depan tv, di kasur, udah kayak orang honeymoon aja pikir-pikir. Eh tapi sempet deng, ane keluar sendirian buat nyari caps, karena ga mau ambil resiko, ritual2 lanjutan selain kejadian pertama, terjadi dengan caps. Sampe akhirnya tanpa sadar haripun udah berganti. Sunday morning, dengan berat hati ane beres2 dan kitapun check-out.
Ane anter doi sampe depan pintu rmhnya di daerah setiabudi, sebuah ciuman lembut memisahkan kita. Msh kangen sih ane, tp apa daya, tapi tenang lah, toh nanti pas mo balik lg ke Jkt kita ketemu lagi.
Minggu sore ane telp doi ga diangkat, ane SMS :
"S, mo balik ke jkt kpn? mlm ini apa besok pagi? aku sih terserah km jam brp, ntar aku jmpt ke rumah" tp ga dibales.
Lg istrirahat kali pikir ane, baru malem dapet sms balesan :
"Sorry baru ngasi kabar, aku uda berangkat sama keluarga, ini lagi di pasteur. Thx 4 everything, bye.."
What?! Bengong, ga bs mikir, campur aduk ga jelas. Coba telp ga diangkat, berkali2 coba sama aja, sms ga dibales. Apa salahku?
Sampe sekarang doi ngilang ga bs di kontak, ane ga habis pikir sama kejadian ini, terjadi begitu saja dengan serta merta, berakhir juga tanpa kejelasan apa yg terjadi.
Karena mau ga mau, ternyata it's ruining my life, sangat mengganggu. Bahkan buat berbuat cabul pun terganggu. Setelah kejadian ini ane smpt ketemu bbrp WP, sayangnya gada yg bs di FR, junior ngambek ga bs bangun. Kilasan2 kejadian indah sama S selalu kebayang, damn.. what should I do?
Adakah kiranya yg berkenan ngasi ane saran?
S oh S..
Face : my type bgt, ngingetin sama artis2 korea (lebay... tp iya sih, setidaknya menurut ane)
Body : kulit putih bening, langsing proporsional
Boobs : ga toge, sktr 34B tp msh firm
HJ : -
BJ : ga semahir BJ-nya WP profesional sih
FJ : the best I ever had, mgkn krn it's not just sex for me
DC : pertamax 150K, tol 50K, makan-minum kurang dr 100K, Hotel ga tau brp doi yg bayar
Maaf kalo picnya ane edit habis2an, lagian hasil fotonya jg ga bgitu bgs sih, tp in-case ada yg sepertinya kenal, apakah itu sodara, tmn dll, mungkin bisa benar sama dgn org yg ane maksud, atau bs jd bukan dan beda orang, tp lepas dr itu semua mudah2n wacana ini off-the-record cukup di forum aja.
Kalo pun S sampe tau, liat dan baca ini (walaupun kemungkinannya sangat kecil sekali), sebelumnya maaf bukan niat mengekspos privacy seseorang, cumn sekedar pengen cerita yg selama ini jd beban buat ane, paling ga, mudah2n bs plong dan ane bs normal menjalani my own life. Atau anggaplah ini sebuah bentuk kekaguman ane sama kamu, S. Thx 4 everything.
Buat DSers, sori jd ajang ane curhat, panjang lagih. Makasih kalo uda mo baca, ngga pun gpp. Just keep the faith!
-Thx All-
Sunday, December 5, 2010
Tiga Pemain Asing
SINOPSIS
Drani, seorang manajer klub sepakbola, mesti menghadapi keluhan dari tiga pemain asingnya yang menuntut gaji mereka segera dibayar padahal klubnya sedang krisis keuangan. Jadi dia tawarkan bonus istimewa…
Story codes
MMMF, anal, cons, interracial, DP
DISCLAIMER
Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda? Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com. Selamat membaca.
Tiga Pemain Asing
-Ninja Gaijin-
********************************************
Andraningrum, manajer klub sepakbola PSKBB, sedang pusing. Sedang ada masalah dengan keuangan klub PSKBB. Uang sponsor dan bantuan dari pemerintah daerah sudah tinggal sedikit, padahal kompetisi baru sampai setengah jalan. Gaji para pemain sudah 3 bulan tidak dibayar. Dan dia sudah bolak-balik meminta bantuan ketua klub PSKBB yang merangkap wakil kepala daerah tempat PSKBB bermarkas, tapi yang didapat cuma janji demi janji. Sudah begitu, si ketua klub malah melempar balik tuntutannya, dengan bilang seharusnya manajer yang cari duit untuk klub. Padahal dia sudah nyaris kehabisan akal mencari kesana-kemari. Memang tidak umum seorang perempuan menjabat manajer klub sepakbola. Drani, begitu panggilan Andraningrum, adalah anak seorang tokoh masyarakat setempat yang dulu ikut mendirikan PSKBB dan stadion di daerahnya. Sepeninggal bapaknya, Drani kebagian mengurus PSKBB sementara saudara-saudara kandungnya meneruskan usaha keluarga. Kehidupan pribadi Drani sendiri kurang memuaskan, pada umurnya yang ke-30 ini dia sudah pisah ranjang dengan suaminya karena beberapa masalah. Untuk menghibur diri, Drani yang memang gila bola dan sayang kepada klub yang didirikan bapaknya terjun ke dunia persepakbolaan secara serius, sebagai manajer PSKBB dan juga membina sekolah sepakbola. PSKBB sedang cukup berprestasi di Liga, sedang berada di peringkat ke-2 dan terus mengancam kedudukan klub bermaskot singa yang menjadi pemimpin klasemen. Kalau semua lancar, bukan mustahil PSKBB menyalip “Singa” dan menjuarai Liga. Keberhasilan PSKBB musim ini terutama disebabkan tiga pemain asing baru asal Afrika, yang terbukti mumpuni di lapangan dan sulit dibendung lawan. Tapi harus diakui ketiganya juga cukup menguras kemampuan keuangan PSKBB karena gaji mereka lumayan tinggi. Ketika pemasukan seret dan gaji tak lancar, ketiga pemain Afrika itu mulai protes dan terakhir mereka mengancam akan pindah ke klub lain dan melaporkan klub ke badan sepakbola dunia. Setelah berpikir-pikir, Drani mendapat satu cara agar setidaknya bisa mempertahankan ketiga pemain Afrika itu, sampai dia mampu mencari tambahan pemasukan dari sponsor atau pemerintah.
*****
Sore hari, waktunya latihan. Para pemain sedang mempersiapkan diri untuk laga kandang melawan klub tetangga yang suporternya dikenal tak bermodal tapi sering membuat kerusuhan. Drani sibuk berkoordinasi dengan aparat untuk persiapan penjagaan keamanan; suporter tim tamu pasti akan datang ramai-ramai dan mungkin bikin ribut, jadi pengamanan harus seketat dan sekeras mungkin. Sesudahnya, Drani langsung menuju stadion. Sesampai di stadion, Drani menemui pelatih PSKBB, seorang mantan bek tim nasional, dan memintanya menyuruh ketiga pemain asing menghadapnya di ruangannya. Si pelatih menyanggupinya lalu masuk ke lapangan untuk memanggil mereka. Tapi sebelum bergerak, si pelatih sempat berkomentar kepada Drani.
“Cakep amat Bu, hari ini?” katanya sambil nyengir.
“Bisa aja kamu. Mau ada perlu nih,” jawab Drani.
*****
Tiga orang pemain asing PSKBB asal Afrika sudah berkumpul di ruang manajer. Yang pertama, Adama Badou asal Pantai Gading. Dilihat dari perawakannya, Adama tidak istimewa, karena tubuhnya sama besar dengan rata-rata pemain lokal. Kelebihan Adama adalah pada akselerasi dan kecepatan larinya, yang membuat dia sangat berbahaya sebagai pemain sayap yang menyerang sepanjang pinggir lapangan. Adama berwajah lumayan ganteng dengan rambut cepak. Pemain asing PSKBB yang kedua adalah Francis Njona asal Kamerun. Francis adalah pemain bertubuh paling besar di PSKBB, perawakannya lebih cocok jadi pegulat daripada pemain sepakbola. Posisinya sebagai bek tengah tak tergantikan, dan dia dikenal tanpa kompromi dalam menjegal dan menghadang penyerang lawan. Selain bertubuh besar dan gempal, Francis juga botak dengan mata besar seperti selalu melotot; wajahnya yang seram itu saja sudah membuat pemain lawan yang berhadapan dengannya gentar. Yang ketiga adalah Ethan Rabiu asal Nigeria, striker jangkung dengan tinggi tubuh hampir 2 meter, pencetak gol terbanyak bagi PSKBB. Ethan tak terkalahkan dalam perebutan bola di udara dan sundulan mautnya sudah berkali-kali memberikan kemenangan kepada PSKBB. Rambut Ethan ditata dreadlock dan dicat merah. Suporter PSKBB selalu menunggu selebrasi Ethan, yaitu menggendong sesama pemain di punggung, yang dilakukannya sesudah menjebol gawang lawan. Tiga pemain berkulit hitam itu duduk-duduk dengan resah di dalam kantor manajer, masih mengenakan seragam PSKBB yakni kaos putih dan celana hitam. Meskipun kontribusi mereka besar kepada keberhasilan PSKBB, tapi imbalan yang mereka terima sedang seret. Gaji seluruh pemain dan ofisial KBB memang sudah tiga bulan tak dibayar. Ketiga pemain asal Afrika itu digaji paling besar, sehingga mereka pula yang protes paling keras. Mereka sudah menyatakan berbagai ancaman kepada manajemen klub. Suporter juga mendukung tuntutan mereka, karena ketiganya termasuk pemain favorit. Dan Drani sendiri masih menginginkan mereka bertiga tetap di PSKBB.
Pintu terbuka dan Drani masuk. Adama, yang paling tua di antara mereka bertiga, bertindak mewakili teman-temannya dan langsung membuka pembicaraan.
“Ibu Drani. Apa hari ini Ibu suda ada keputusan tentang salary kami? I hope you bring good news,” kata Adama dengan bahasa gado-gado, campuran Indonesia dan Inggris yang terdengar lucu karena berlogat Afrika.
Sebetulnya Drani belum mendapat kemajuan dalam pencarian dana. Tapi dia merencanakan sesuatu yang lain. Seperti tadi diperhatikan si pelatih, hari itu Drani memang sengaja tampil lebih cantik. Kalau biasanya dia tampil dengan blazer dan celana panjang seperti biasanya wanita karier, hari ini Drani mengenakan gaun biru tanpa lengan yang memperlihatkan kulit pundak dan lengannya yang putih mulus. Drani memang berkulit terang karena dia berdarah campuran, ayahnya pribumi sementara ibunya keturunan Tionghoa. Pinggangnya yang masih ramping dibelit sabuk putih lebar, sedangkan dadanya terlihat membusung di balik gaun biru yang dikenakannya. Kalau biasanya Drani hanya mengenakan make-up tipis, kali ini dia bersolek lebih tebal, dengan eyeshadow coklat tua dan lipstik pink. Dan ketiga pemain Afrika itu memperhatikan perbedaan penampilan manajer mereka, mata mereka tak lepas-lepas dari Drani sejak Drani memasuki ruangan.
“Hmm… Saya masih berusaha,” Drani menyampaikan berita mengecewakan. “But don’t worry, bulan depan pasti gaji kalian akan turun.”
Francis langsung mencibir, “Huuu!”, Ethan mendengus, dan wajah Adama berubah kesal. “Ibu Drani,” kata Adama, “Come on, we not social workers here? Kita main bola mau dapat uang. I must send money to my family. Mereka di sana tunggu-tunggu saya kirim uang.” Francis dan Ethan mengangguk menyetujui.
“Iya, ngerti,” kata Drani, “maaf ya. Sorry. Mohon bersabar…”
“Sorry? Sorry don’t feed my family, boss,” Adama terus berkomentar. Di antara ketiganya, dia yang paling banyak diincar klub lain untuk ditransfer. “Kalau begini saya pindah ke klub lain, maybe they pay me more.”
“Tapi saya punya tawaran lain,” kata Drani, sambil mendekati Adama. Adama memandangi Drani, yang sedikit lebih pendek daripada dirinya. Drani dekat sekali dengan Adama sehingga pemain sayap itu bisa mencium wangi parfum yang dipakai si manajer.
Ketika memandangi wajah Drani, Adama tidak bisa tidak melirik juga ke belahan dada Drani yang mengintip dari balik gaun birunya.
“What kinda offer?” kata Adama.
Drani menjawab, “Seperti saya bilang. Kalian akan dibayar bulan depan. Saya tambah bonus lain, yang bisa dinikmati sekarang. Bagaimana?” Drani berkata seperti itu sambil merapat ke tubuh Adama, sambil tangannya merangkul pinggang Adama yang kencang. Adama langsung tahu apa maksud manajernya itu.
“Is it worth it?” tanya Adama.
“Kita mulai bicarakan saja,” kata Drani, kemudian si manajer berpindah merangkul leher Adama.
Detik berikutnya Adama merasakan bibir lembut Drani menyentuh bibirnya dalam sebuah ciuman. Adama tak menolak dan dia membalas ciuman hangat Drani, sementara tangannya merangkul tubuh Drani. Sepertinya Adama tidak perlu diberitahu apa niat Drani, karena dia langsung memanfaatkan keadaan dengan meraba pantat manajernya itu.
“Ibu Drani? What the hell is this?” Ethan tidak langsung paham apa maksud perbuatan manajernya. Tapi Francis menyuruh Ethan diam dulu.
Drani melepas bibir Adama, lalu berbisik kepada Adama, “I’m sure you will like it,” sementara tangan Drani mulai nakal menjelajah ke celana pendek Adama, menyentuh bagian depan selangkangan si pemain sayap.
Adama tersenyum. “Saya coba dulu,” katanya.
Drani beberapa kali meremas lembut benda yang mulai membesar di balik celana Adama. Drani pun tak buang-buang waktu, dia langsung menarik turun celana dan celana dalam Adama. Karena sudah berencana berbuat seperti ini, tadi Drani sudah bersiap-siap dengan mengunci pintu. Ruang manajer juga tak berjendela sehingga tidak ada yang bisa mengintip apa yang terjadi di dalam, hanya empat orang manusia itu saja yang tahu.
Kejantanan Adama yang sudah setengah keras pun terlihat. Drani pun jadi tahu, bahwa yang bilang batang orang Afrika paling panjang itu tidak sepenuhnya benar. Kemaluan Adama dilihatnya sama saja ukurannya dengan barang mantan suaminya, hanya saja yang ini kelihatan lebih gemuk. Tak apa. Sambil tersenyum, Drani mulai mengelus-elus batang hitam itu agar makin keras dan besar.
“Buka baju. Biar tambah keras,” suruh Adama, yang sudah paham apa maunya Drani.
Drani memerosotkan bagian bajunya yang menggantung di bahu, sehingga sepasang payudaranya yang berukuran 34C terbebas dari kungkungan dan melambung menantang si pemain asal Afrika.
“Whooo…” Francis yang sedari tadi diam saja mulai bergerak, mendekat. “Nice,” komentarnya. Tangannya yang besar dan hitam terangkat, seperti mau menjamah payudara Drani, tapi Francis kemudian ragu dan mengurungkan niatnya. Drani menengok ke arah Francis dan tersenyum. “Mau? Boleh kok…” Drani mengizinkan.
Diberi kesempatan, Francis tidak menyia-nyiakan. Bek asal Kamerun yang bertumbuh kekar itu langsung menjulurkan tangan lagi, memegang payudara si manajer. Tangan Francis yang besar mencengkeram dan memijat-mijat daging dada putih Drani dan mencubiti kedua puting Drani sampai menegang akibat terangsang. Francis terus mengucel-ucel payudara Drani sementara Adama menonton. Dan akibatnya, kejantanan Adama bangkit sampai mencapai panjang maksimalnya. Drani pun berlutut di depan Adama dan mendekatkan mukanya ke batang hitam yang baru menggeliat bangun itu. Drani menjilat sekujur batang dan kepala penis Adama. Meskipun dia sudah berpengalaman dengan laki-laki, baru kali ini dia melihat “senjata”-nya orang Afrika. Ukurannya ternyata tak jauh beda dengan milik pribumi. Rambut kemaluan Adama juga keriting seperti rambut di kepalanya.
Drani menengok ke samping dan melihat gundukan di balik celana Francis, dan dilihatnya juga Ethan si jangkung mulai memegang-megang batangnya sendiri. Drani lalu meneruskan membasahi sekujur batang Adama. Lalu, sambil mengelus-elus biji pelir Adama, Drani mulai memasukkan penis Adama ke dalam mulutnya, pelan-pelan.
Rasa dan bau kontol orang Afrika beda, pikir Drani. Dari mereka bertiga, Adama yang badannya paling kecil. Gimana yang lain? Hiii…
Akhirnya Drani sampai juga ke batas, mengulum seluruh penis Adama sementara hidungnya sampai menyentuh jembut Adama. Dikulumnya penis panjang itu beberapa lama, lalu dia mundur pelan-pelan sambil mengambil nafas. Drani terus mundur sampai akhirnya batang Adama keluar lagi.
“Do it again,” perintah Adama. Dan Drani memang mau melanjutkan. Dia kembali mengisap penis hitam itu, lidahnya menari-nari seputar batang yang tegang. Dijilatnya cairan yang mulai meleleh keluar dari lubang. Drani berusaha lagi menelan seluruh penis Adama, sambil menyedot, berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan. Adama tidak bisa tahan terlalu lama karena keahlian Drani, dan dia menggerung, memberi tanda akan ejakulasi. Semburan benih panasnya muncrat di dalam mulut si manajer. Drani menelan semuanya dan menjilati sisa-sisanya sebelum akhirnya melepas penis Adama yang melemas dari mulutnya. Adama mengeluarkan suara-suara tanda keenakan dan memuji kemampuan manajernya menyepong. Drani merasakan sperma yang rasa dan baunya berbeda itu, kurang enak menurutnya. Fia berusaha menahan reaksi mual agar tidak terkesan tak suka. Ethan yang sedari tadi menonton dan Francis yang sudah kebagian memegang-megang kini mendekati Drani. Tanpa disuruh, keduanya memelorotkan celana masing-masing dan memamerkan barang mereka di depan Drani. Drani menatap kagum. Francis seukuran dengan Adama, walaupun karena tubuhnya besar, milik Francis jadi berkesan lebih kecil; sementara kejantanan Ethan pas dengan postur tubuhnya yang jangkung, panjang, lebih panjang beberapa senti daripada teman-temannya. Drani seumur hidup belum pernah melihat penis sepanjang itu. Bisa tidak dia menelan yang ini?
Drani mengangkat kedua tangannya dan memegangi kedua kontol Afrika itu, membanding-bandingkan. Tangannya yang putih kontras dengan batang-batang yang coklat tua itu. Ia menaikkan penis Francis dan melihat kantung pelirnya yang besar dan berambut, menggantung di bawah. Drani lalu memiringkan kepala dan menjilati sekujur biji Francis, sehingga Francis menggerung keenakan. Kemudian ia beralih ke Ethan. Drani menjilati satu sisi batang Ethan yang panjang itu dari pangkal sampai ujung, lalu di sisi satunya dari ujung sampai pangkal. Drani kemudian membuka mulut lebar-lebar dan mengulum kepala burung Francis. Sungguh pemandangan yang erotis, wajah putih Drani ditancapi penis hitam Francis, seorang perempuan cantik berkulit terang berlutut di depan seorang laki-laki berkulit hitam dan berwajah seram. Francis meraih kepala Drani dan menariknya ke depan sehingga penisnya makin jauh menerobos rongga mulut si manajer. Sementara itu, tangan Drani menggosok-gosok kejantanan Ethan. Saking panjangnya, perlu dua tangan untuk dapat menggenggam seluruh batang si striker jangkung. Waktu penis Francis sudah masuk sejauh mungkin, Drani berhenti sebentar untuk bernafas. Hidung Drani nyaris menempel ke jembut dan perut Francis, dan Drani mencium aroma tubuh orang Afrika yang beda. Pelan-pelan Drani menggerakkan kepalanya maju-mundur, mulutnya menyetubuhi batang hitam Francis. Drani lalu melepaskan sebentar penis Francis dari mulutnya, lalu dia meludah ke telapak tangan sendiri. Telapak tangannya yang basah itu kembali melanjutkan tugas merangsang barang milik Ethan. Setelah melumuri seluruh batang yang panjang itu, Drani berganti menawarkan kelembutan bagian dalam mulutnya ke Ethan, sedangkan tangannya untuk Francis. Sambil membelai-belai biji pelir Francis, Drani mulai mencoba mengulum sekujur penis Ethan. Tidak bisa, rupanya. Terlalu panjang.
“Yeah… That’s fuckin’ great…” Ethan keenakan disepong oleh Drani. “Can you suck all of it, bitch?” Ethan mendorong pinggulnya ke depan, memaksa batangnya yang panjang itu masuk lebih jauh, sambil mencengkeram kepala Drani dan mendesaknya mendekat.
Tetap saja ada beberapa senti bagian pangkalnya yang tak masuk, sementara Drani mulai tersedak dan matanya berkaca-kaca. Drani terbatuk ketika ujung burung Ethan menyodok pangkal tenggorokannya. Mulut Drani terus naik-turun menyepong Ethan. Gede dan panjang banget! pikirnya. Mulutnya mulai pegal selagi dia berusaha mengulum seluruh batang itu. Sekali-sekali dia tersedak. Ethan terus melenguh keenakan.
“Hey, isep punya saya juga,” Francis merasa diabaikan, lalu memaksa Drani melepas penis Ethan.
“I wanna fuck your mouth. Open.” Ganti Francis yang mencengkeram kepala Drani, lalu memaksanya mendekat.
Selama beberapa menit kemudian, mulut Drani disetubuhi Francis. Tiap dorongan pinggul Francis membuat kantong pelir si bek yang besar menggantung itu menampar dagu Drani. Dan setelah beberapa lama, baik Francis maupun Ethan yang kebagian permainan tangan Drani belum juga menunjukkan tanda-tanda akan keluar. Tubuh Francis dan Ethan yang sama-sama besar membuat Drani terlihat kecil sekali; mata kedua pemain Afrika itu tak lepas dari tubuh seksi Drani, terutama kedua payudaranya yang sudah tak tertutupi. Kulit putih yang mulus, rambut hitam yang jatuh terurai di bahu. Drani memperhatikan tatapan mereka dan membuka kancing di punggung gaunnya, sehingga gaun itu pun merosot ke lantai memperlihatkan seluruh figurnya. Si manajer kini tinggal mengenakan kalung berlian yang berkilau, anting, dan celana dalam. Adama yang sedang tidak dilayani pun jadi tegang kembali kejantanannya. Si pemain sayap itu duduk di meja, mengocok barangnya sendiri, sambil tersenyum memperlihatkan sebaris gigi putih.
Sekarang di depan Drani ada dua kejantanan, milik Francis di dalam mulutnya dan milik Ethan yang menunggu giliran. Ethan menyuruh Drani menyervis dua-duanya sekaligus. Drani mengeluarkan kontol Francis dari mulutnya dan menengok ke atas, menceletuk “Mana bisa?” tapi toh dia menggenggam kedua batang itu dan mencoba menelan keduanya sekaligus. Agak susah. Jadi dia jilat kepala dua zakar itu kemudian dia coba lagi, buka mulut lebar-lebar. Lalu pelan-pelan dicobanya menelan dua penis hitam sekaligus. Cuma muat sampai kepalanya. Francis bertepuk tangan dan nyengir. Akhirnya Drani terpaksa mengeluarkan milik Ethan dan melayani Francis saja. Tak lama kemudian Francis juga mengeluarkan benihnya di dalam mulut Drani. Drani merasakan mulutnya penuh, tidak hanya dengan batang besar Francis, tapi juga cairan hangat yang keluar dari sana. Sebagian sampai berleleran keluar dari mulut. Francis baru mengeluarkan anunya dari mulut Drani setelah puas. Giliran Ethan. Tapi Ethan juga sudah cukup lama menahan burungnya muncrat; baru saja Drani mulai menyervisnya lagi dengan menjilat dari bawah ke atas, si striker jangkung sudah berejakulasi. Berhubung posisinya masih ada di luar, jadilah mani yang keluar itu tumpah ke rambut dan dahi Drani. Drani sendiri mulai resah gara-gara membayangkan hal-hal lain.
Gede banget… hitam, besar, berurat… Di mulut aja susah muatnya… apalagi di bawah sana?
“Ahh… Nggak muat?” gumam Drani, terhanyut dalam khayalan.
“Ibu Drani,” kata Adama, “Cuma ini tawarannya?”
Drani melihat Adama tersenyum sinis.
“You want more?” tanya Drani.
“Of course,” jawab Adama dengan yakin. Kedua temannya juga mengangguk.
“Siapa mau duluan?” tanya Drani lagi sambil tersenyum genit.
Tanpa berunding dulu, Adama maju. Drani menyuruhnya berbaring di lantai. Adama duduk di lantai, membuka kaos, lalu berbaring seperti disuruh Drani. Kejantanannya sudah tegang lagi. Drani melepas celana dalamnya lalu mengangkangi badan Adama, menempatkan vaginanya di atas penis Adama. Batang yang keras itu rebah di atas perut Adama yang berotot, dan Drani menggesek-gesekkan rekahan memeknya di sekujur batang itu.
Drani menaikkan badan sedikit dan menggenggam zakar Adama. Ditempatkannya kepala burung hitam itu di lubang puki-nya, dan pelan-pelan diturunkanlah badannya. Kedua pemain lain, Francis dan Ethan, menyaksikan kemaluan teman mereka menerobos kewanitaan manajer tim PSKBB.
“OH! Ohh… aa enakh… Adama… gede banget!” Drani menceracau mesum ketika vaginanya dimasuki Adama. Padahal belum semuanya masuk.
Drani mengangkat sedikit pinggulnya, lalu menurunkan lebih jauh lagi. Vaginanya terdesak makin dalam oleh penetrasi si pemain sayap. Cairan kewanitaannya membanjir.
“AH! Aaa… ah, hah… aduh… dapet… ehh…” Drani tiba-tiba mendapat klimaks, gara-gara dia keburu membayangkan dientot oleh orang-orang Afrika itu sejak tadi.
Cairan vaginanya membanjir membasahi penis Adama. Tapi dia terus menunggangi kejantanan Adama dalam posisi woman on top. Adama pelan-pelan mulai mengimbangi kebinalan manajernya, menyodok-nyodok lubang kenikmatan manajernya yang becek. Francis berdiri dan berjalan ke belakang Drani sambil melepas kaos. Tubuhnya yang hitam gempal terlihat menyeramkan, namun bagi Drani yang mulai terhanyut birahi, itu hanya membuatnya membayangkan hal-hal lain. Francis meludahi tangannya sendiri lalu mengocok kemaluannya sampai tegang, lalu berjongkok di belakang Drani yang sedang menggoyang rekan satu timnya. Drani menjerit sejenak ketika merasakan jari Francis bermain di lubang anusnya.
Di situ? Francis? Dengan ukuran seperti tadi? Aduh mak! Tapi Drani malah sengaja menggoyangkan bokongnya, mengundang Francis untuk berbuat hal-hal lain. Dan terjadilah. Francis menyiapkan senjatanya di depan pintu belakang Drani, siap menerobos masuk.
Pelan-pelan Francis memasukkan kontolnya ke dubur Drani.
“UUAAGHH!” Drani mengerang selagi Francis berusaha menjolokkan seluruh batangnya ke dalam.
Drani basah kuyup berkeringat akibat ulah kedua pejantan Afrika yang menyetubuhinya. Adama menggenggam erat pinggangnya dan menyodok keras-keras ke atas. Drani menjerit selagi sodokan tadi berhasil memasukkan seluruh batang Adama ke dalam vaginanya, sampai ke pangkal.
“AAA! FUCK ME!!” jerit Drani kepada kedua orang Afrika itu. Ethan, yang belum kebagian, bergerak ke depan Drani dan menyodorkan kemaluannya yang sampai berdenyut karena tak tahan.
Drani menelannya tanpa ragu-ragu, sedalam mungkin sampai kepala burung Ethan menyodok pangkal tenggorokannya. Satu batang zakar hitam menggempur kewanitaan Drani dari bawah, dan satu lagi yang sama hitamnya meluncur keluar-masuk lubang pantatnya. Dan satu lagi, yang lebih panjang dibanding yang lain, disodokkan ke dalam mulutnya. Penuhlah ketiga lubang Drani dengan daging lelaki. Keluhan “MMMFFF!!” keluar dari mulut Drani yang disumpal penis. Dia sedang mendesak ke bawah menggencet Adama sementara kejantanan Francis sedang masuk sedalam-dalamnya dari belakang. Ethan terus mengentot mulut Drani. Drani tiba-tiba mulai dirayapi rasa gemetar selagi klimaks mulai melanda.
“AAAFFFMMMM!!” jerit Drani dengan mulut masih tersumbat. Teriakan yang terdengar seksi itu membuat Ethan tak tahan dan ikut mengalami orgasme, ejakulasinya yang panas dan lengket mulai membasahi rongga mulut Drani. Dengan kasar Ethan menjambak rambut Drani dan mencengkeram kepala Drani, memaksa si manajer menelan semua buangannya. Drani hanya bisa pasrah karena tak mampu melepaskan kepalanya, padahal dia mulai kehabisan nafas dan tersedak karena terlalu panjangnya zakar Ethan. Tapi Ethan tak juga melepasnya walaupun Drani mulai tersengal-sengal sambil tangannya menepuk-nepuk paha Ethan, minta dilepas.
Si striker jangkung itu malah tersenyum jahat, berkomentar,
“Suck it, bitch!” sambil terus menembakkan peluru-peluru cairnya di dalam mulut.
Drani merasa mulutnya pegal, muak dengan rasa peju Ethan, tapi dia tak bisa lepas; matanya sampai berkaca-kaca ketika dia mendelik ke atas seolah minta dikasihani Ethan. Tapi Ethan malah kelihatan kesenangan melihat Drani seperti tersiksa itu. Dia baru melepas Drani ketika penisnya sudah melemas.
Setelah dilepas, Drani terbatuk-batuk sambil menutup mulut dengan tangan, sebagian mani Ethan terdorong keluar. Sambil terengah-engah, Drani melihat cairan kental putih kekuningan berbau tak enak yang tertadah di tangannya. Ingin dia memuntahkan semua yang barusan dia telan, tapi pikirannya keburu diserbu sensasi dari bawah dan belakang. Adama dan Francis belum selesai. Tubuh Drani terguncang-guncang akibat kuatnya gerakan kedua pemain berkulit hitam yang perkasa itu, yang makin lama makin cepat. Keduanya sudah mulai tak tahan. Adama menyodokkan penisnya sejauh mungkin ke dalam vagina Drani, dan menyemburkan peju hangat di dalam rahim Drani.
“Uuuooohhh!” Francis menggerung keras selagi dia ikut menyemprotkan benihnya di dalam pantat Drani.
Seperti Ethan sebelumnya, ejakulasi kedua pria itu lama sekali dan banyak, memenuhi tubuh Drani dengan benih asing, sementara Drani kembali kejang-kejang dilanda orgasme. Akhirnya Drani roboh kelelahan ke dada Adama. Adama dan Francis mencabut senjata masing-masing dari tubuh manajer mereka. Sperma mengalir dari lubang pantat Drani yang masih sedikit menganga, dari rekahan kewanitaannya yang meregang, dan dari sela-sela bibirnya. Si manajer cantik itu terkapar, terengah-engah, di atas tubuh Adama, menikmati sensasi disetubuhi tiga laki-laki dari benua hitam sambil berusaha mengendalikan lagi pikirannya. Dia merasakan tangan Adama menyentuh wajahnya.
“Bole juga tawarannya, Ibu Drani,” kata Adama sambil terengah-engah. “Kami bisa dapat ini kapan saja?”
“Bagaimana… hhmm… kalau setiap kali menang?” Drani menawarkan. Adama balik menawar, “Hmm… Bagaimana kalau sesudah tiap kali main? Any result?”
Drani berpikir sebentar, membayangkan kenikmatan yang dia sendiri dapatkan barusan, lalu otak profesionalnya kembali berjalan dan dia pun tidak mengalah.
“Kalian dibayar supaya PSKBB juara, jadi bonus hanya dikasih kalau ada kontribusi. Hanya kalau menang. Take it or leave it. Setuju?” Wajah Adama yang ganteng itu terlihat berpikir, lalu tersenyum.
“Deal,” katanya.
*****
Dua hari kemudian, dalam pertandingan liga, PSKBB menang 3-1 atas tim tamu dari kota sebelah. Ketiga gol dicetak lewat sundulan Ethan Rabiu setelah menyelesaikan operan akurat Adama Badou dari sayap kanan, sementara satu-satunya gol balasan tim tamu datang dari penalti pada menit-menit akhir pertandingan akibat pelanggaran sangat keras terhadap striker mereka oleh Francis Njona, palang pintu PSKBB. Njona memang dikartu merah karena pelanggaran itu, tapi sampai dia dikeluarkan, striker lawan sudah babak belur karena tidak mampu melewati penjagaan ketat si bek asal Kamerun. Pendukung PSKBB bersorak-sorai mengelu-elukan ketiga pemain asing tim mereka; berkat kemenangan ini, posisi PSKBB di klasemen naik menggeser tim “Singa” dari puncak. Suporter tim lawan yang tak bermodal tapi suka merusuh berusaha membuat keributan dengan mengajak tawuran, tapi pengamanan yang cukup ketat menggagalkan usaha mereka. Seusai pertandingan, Manajer Andraningrum memberikan bonus kemenangan yang sudah dia janjikan kepada ketiga pemain asing itu. Selama satu jam di ruang manajer ketiganya dapat menikmati kembali tubuh sang manajer. Drani kembali terengah, merintih, menggeliat, mengerang seksi ketika menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati tiga laki-laki yang sudah berjasa bagi tim sepakbolanya. Hanya saja…
Ketika Drani keluar bersama-sama ketiga pemain asing itu dari ruang manajer, ternyata di luar ruang manajer semua pemain PSKBB yang lain (semuanya pemain lokal) dan pelatih sudah menunggu. Sutiono, kapten PSKBB dan penjaga gawang, membuka pembicaraan.
“Bu Drani. Saya rasa kita semua perlu kejelasan soal gaji. Tadi kami sudah main sebaik-baiknya, jadi bisa menang. Rasanya nggak fair kan kalau kami capek-capek usaha tapi gaji ditunda-tunda terus. Nah, kemarin saya habis ngobrol sama Adama, tentang bonus yang Bu Drani tawarin…”
Drani tercengang mendengar perkataan itu, mulutnya melongo tak sanggup mengeluarkan kata-kata membayangkan apa yang bakal terjadi.
TAMAT
Drani, seorang manajer klub sepakbola, mesti menghadapi keluhan dari tiga pemain asingnya yang menuntut gaji mereka segera dibayar padahal klubnya sedang krisis keuangan. Jadi dia tawarkan bonus istimewa…
Story codes
MMMF, anal, cons, interracial, DP
DISCLAIMER
- Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
- Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
- Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
- Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu. Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan.
- Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.
Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda? Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com. Selamat membaca.
Tiga Pemain Asing
-Ninja Gaijin-
********************************************
Drani
*****
Sore hari, waktunya latihan. Para pemain sedang mempersiapkan diri untuk laga kandang melawan klub tetangga yang suporternya dikenal tak bermodal tapi sering membuat kerusuhan. Drani sibuk berkoordinasi dengan aparat untuk persiapan penjagaan keamanan; suporter tim tamu pasti akan datang ramai-ramai dan mungkin bikin ribut, jadi pengamanan harus seketat dan sekeras mungkin. Sesudahnya, Drani langsung menuju stadion. Sesampai di stadion, Drani menemui pelatih PSKBB, seorang mantan bek tim nasional, dan memintanya menyuruh ketiga pemain asing menghadapnya di ruangannya. Si pelatih menyanggupinya lalu masuk ke lapangan untuk memanggil mereka. Tapi sebelum bergerak, si pelatih sempat berkomentar kepada Drani.
“Cakep amat Bu, hari ini?” katanya sambil nyengir.
“Bisa aja kamu. Mau ada perlu nih,” jawab Drani.
*****
Adama & Francis
Ethan
“Ibu Drani. Apa hari ini Ibu suda ada keputusan tentang salary kami? I hope you bring good news,” kata Adama dengan bahasa gado-gado, campuran Indonesia dan Inggris yang terdengar lucu karena berlogat Afrika.
Sebetulnya Drani belum mendapat kemajuan dalam pencarian dana. Tapi dia merencanakan sesuatu yang lain. Seperti tadi diperhatikan si pelatih, hari itu Drani memang sengaja tampil lebih cantik. Kalau biasanya dia tampil dengan blazer dan celana panjang seperti biasanya wanita karier, hari ini Drani mengenakan gaun biru tanpa lengan yang memperlihatkan kulit pundak dan lengannya yang putih mulus. Drani memang berkulit terang karena dia berdarah campuran, ayahnya pribumi sementara ibunya keturunan Tionghoa. Pinggangnya yang masih ramping dibelit sabuk putih lebar, sedangkan dadanya terlihat membusung di balik gaun biru yang dikenakannya. Kalau biasanya Drani hanya mengenakan make-up tipis, kali ini dia bersolek lebih tebal, dengan eyeshadow coklat tua dan lipstik pink. Dan ketiga pemain Afrika itu memperhatikan perbedaan penampilan manajer mereka, mata mereka tak lepas-lepas dari Drani sejak Drani memasuki ruangan.
“Hmm… Saya masih berusaha,” Drani menyampaikan berita mengecewakan. “But don’t worry, bulan depan pasti gaji kalian akan turun.”
Francis langsung mencibir, “Huuu!”, Ethan mendengus, dan wajah Adama berubah kesal. “Ibu Drani,” kata Adama, “Come on, we not social workers here? Kita main bola mau dapat uang. I must send money to my family. Mereka di sana tunggu-tunggu saya kirim uang.” Francis dan Ethan mengangguk menyetujui.
“Iya, ngerti,” kata Drani, “maaf ya. Sorry. Mohon bersabar…”
“Sorry? Sorry don’t feed my family, boss,” Adama terus berkomentar. Di antara ketiganya, dia yang paling banyak diincar klub lain untuk ditransfer. “Kalau begini saya pindah ke klub lain, maybe they pay me more.”
“Tapi saya punya tawaran lain,” kata Drani, sambil mendekati Adama. Adama memandangi Drani, yang sedikit lebih pendek daripada dirinya. Drani dekat sekali dengan Adama sehingga pemain sayap itu bisa mencium wangi parfum yang dipakai si manajer.
Ketika memandangi wajah Drani, Adama tidak bisa tidak melirik juga ke belahan dada Drani yang mengintip dari balik gaun birunya.
“What kinda offer?” kata Adama.
Drani menjawab, “Seperti saya bilang. Kalian akan dibayar bulan depan. Saya tambah bonus lain, yang bisa dinikmati sekarang. Bagaimana?” Drani berkata seperti itu sambil merapat ke tubuh Adama, sambil tangannya merangkul pinggang Adama yang kencang. Adama langsung tahu apa maksud manajernya itu.
“Is it worth it?” tanya Adama.
“Kita mulai bicarakan saja,” kata Drani, kemudian si manajer berpindah merangkul leher Adama.
Detik berikutnya Adama merasakan bibir lembut Drani menyentuh bibirnya dalam sebuah ciuman. Adama tak menolak dan dia membalas ciuman hangat Drani, sementara tangannya merangkul tubuh Drani. Sepertinya Adama tidak perlu diberitahu apa niat Drani, karena dia langsung memanfaatkan keadaan dengan meraba pantat manajernya itu.
“Ibu Drani? What the hell is this?” Ethan tidak langsung paham apa maksud perbuatan manajernya. Tapi Francis menyuruh Ethan diam dulu.
Drani melepas bibir Adama, lalu berbisik kepada Adama, “I’m sure you will like it,” sementara tangan Drani mulai nakal menjelajah ke celana pendek Adama, menyentuh bagian depan selangkangan si pemain sayap.
Adama tersenyum. “Saya coba dulu,” katanya.
Drani beberapa kali meremas lembut benda yang mulai membesar di balik celana Adama. Drani pun tak buang-buang waktu, dia langsung menarik turun celana dan celana dalam Adama. Karena sudah berencana berbuat seperti ini, tadi Drani sudah bersiap-siap dengan mengunci pintu. Ruang manajer juga tak berjendela sehingga tidak ada yang bisa mengintip apa yang terjadi di dalam, hanya empat orang manusia itu saja yang tahu.
Kejantanan Adama yang sudah setengah keras pun terlihat. Drani pun jadi tahu, bahwa yang bilang batang orang Afrika paling panjang itu tidak sepenuhnya benar. Kemaluan Adama dilihatnya sama saja ukurannya dengan barang mantan suaminya, hanya saja yang ini kelihatan lebih gemuk. Tak apa. Sambil tersenyum, Drani mulai mengelus-elus batang hitam itu agar makin keras dan besar.
“Buka baju. Biar tambah keras,” suruh Adama, yang sudah paham apa maunya Drani.
Drani memerosotkan bagian bajunya yang menggantung di bahu, sehingga sepasang payudaranya yang berukuran 34C terbebas dari kungkungan dan melambung menantang si pemain asal Afrika.
“Whooo…” Francis yang sedari tadi diam saja mulai bergerak, mendekat. “Nice,” komentarnya. Tangannya yang besar dan hitam terangkat, seperti mau menjamah payudara Drani, tapi Francis kemudian ragu dan mengurungkan niatnya. Drani menengok ke arah Francis dan tersenyum. “Mau? Boleh kok…” Drani mengizinkan.
Diberi kesempatan, Francis tidak menyia-nyiakan. Bek asal Kamerun yang bertumbuh kekar itu langsung menjulurkan tangan lagi, memegang payudara si manajer. Tangan Francis yang besar mencengkeram dan memijat-mijat daging dada putih Drani dan mencubiti kedua puting Drani sampai menegang akibat terangsang. Francis terus mengucel-ucel payudara Drani sementara Adama menonton. Dan akibatnya, kejantanan Adama bangkit sampai mencapai panjang maksimalnya. Drani pun berlutut di depan Adama dan mendekatkan mukanya ke batang hitam yang baru menggeliat bangun itu. Drani menjilat sekujur batang dan kepala penis Adama. Meskipun dia sudah berpengalaman dengan laki-laki, baru kali ini dia melihat “senjata”-nya orang Afrika. Ukurannya ternyata tak jauh beda dengan milik pribumi. Rambut kemaluan Adama juga keriting seperti rambut di kepalanya.
Drani menengok ke samping dan melihat gundukan di balik celana Francis, dan dilihatnya juga Ethan si jangkung mulai memegang-megang batangnya sendiri. Drani lalu meneruskan membasahi sekujur batang Adama. Lalu, sambil mengelus-elus biji pelir Adama, Drani mulai memasukkan penis Adama ke dalam mulutnya, pelan-pelan.
Rasa dan bau kontol orang Afrika beda, pikir Drani. Dari mereka bertiga, Adama yang badannya paling kecil. Gimana yang lain? Hiii…
Akhirnya Drani sampai juga ke batas, mengulum seluruh penis Adama sementara hidungnya sampai menyentuh jembut Adama. Dikulumnya penis panjang itu beberapa lama, lalu dia mundur pelan-pelan sambil mengambil nafas. Drani terus mundur sampai akhirnya batang Adama keluar lagi.
“Do it again,” perintah Adama. Dan Drani memang mau melanjutkan. Dia kembali mengisap penis hitam itu, lidahnya menari-nari seputar batang yang tegang. Dijilatnya cairan yang mulai meleleh keluar dari lubang. Drani berusaha lagi menelan seluruh penis Adama, sambil menyedot, berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan. Adama tidak bisa tahan terlalu lama karena keahlian Drani, dan dia menggerung, memberi tanda akan ejakulasi. Semburan benih panasnya muncrat di dalam mulut si manajer. Drani menelan semuanya dan menjilati sisa-sisanya sebelum akhirnya melepas penis Adama yang melemas dari mulutnya. Adama mengeluarkan suara-suara tanda keenakan dan memuji kemampuan manajernya menyepong. Drani merasakan sperma yang rasa dan baunya berbeda itu, kurang enak menurutnya. Fia berusaha menahan reaksi mual agar tidak terkesan tak suka. Ethan yang sedari tadi menonton dan Francis yang sudah kebagian memegang-megang kini mendekati Drani. Tanpa disuruh, keduanya memelorotkan celana masing-masing dan memamerkan barang mereka di depan Drani. Drani menatap kagum. Francis seukuran dengan Adama, walaupun karena tubuhnya besar, milik Francis jadi berkesan lebih kecil; sementara kejantanan Ethan pas dengan postur tubuhnya yang jangkung, panjang, lebih panjang beberapa senti daripada teman-temannya. Drani seumur hidup belum pernah melihat penis sepanjang itu. Bisa tidak dia menelan yang ini?
Drani mengangkat kedua tangannya dan memegangi kedua kontol Afrika itu, membanding-bandingkan. Tangannya yang putih kontras dengan batang-batang yang coklat tua itu. Ia menaikkan penis Francis dan melihat kantung pelirnya yang besar dan berambut, menggantung di bawah. Drani lalu memiringkan kepala dan menjilati sekujur biji Francis, sehingga Francis menggerung keenakan. Kemudian ia beralih ke Ethan. Drani menjilati satu sisi batang Ethan yang panjang itu dari pangkal sampai ujung, lalu di sisi satunya dari ujung sampai pangkal. Drani kemudian membuka mulut lebar-lebar dan mengulum kepala burung Francis. Sungguh pemandangan yang erotis, wajah putih Drani ditancapi penis hitam Francis, seorang perempuan cantik berkulit terang berlutut di depan seorang laki-laki berkulit hitam dan berwajah seram. Francis meraih kepala Drani dan menariknya ke depan sehingga penisnya makin jauh menerobos rongga mulut si manajer. Sementara itu, tangan Drani menggosok-gosok kejantanan Ethan. Saking panjangnya, perlu dua tangan untuk dapat menggenggam seluruh batang si striker jangkung. Waktu penis Francis sudah masuk sejauh mungkin, Drani berhenti sebentar untuk bernafas. Hidung Drani nyaris menempel ke jembut dan perut Francis, dan Drani mencium aroma tubuh orang Afrika yang beda. Pelan-pelan Drani menggerakkan kepalanya maju-mundur, mulutnya menyetubuhi batang hitam Francis. Drani lalu melepaskan sebentar penis Francis dari mulutnya, lalu dia meludah ke telapak tangan sendiri. Telapak tangannya yang basah itu kembali melanjutkan tugas merangsang barang milik Ethan. Setelah melumuri seluruh batang yang panjang itu, Drani berganti menawarkan kelembutan bagian dalam mulutnya ke Ethan, sedangkan tangannya untuk Francis. Sambil membelai-belai biji pelir Francis, Drani mulai mencoba mengulum sekujur penis Ethan. Tidak bisa, rupanya. Terlalu panjang.
“Yeah… That’s fuckin’ great…” Ethan keenakan disepong oleh Drani. “Can you suck all of it, bitch?” Ethan mendorong pinggulnya ke depan, memaksa batangnya yang panjang itu masuk lebih jauh, sambil mencengkeram kepala Drani dan mendesaknya mendekat.
Tetap saja ada beberapa senti bagian pangkalnya yang tak masuk, sementara Drani mulai tersedak dan matanya berkaca-kaca. Drani terbatuk ketika ujung burung Ethan menyodok pangkal tenggorokannya. Mulut Drani terus naik-turun menyepong Ethan. Gede dan panjang banget! pikirnya. Mulutnya mulai pegal selagi dia berusaha mengulum seluruh batang itu. Sekali-sekali dia tersedak. Ethan terus melenguh keenakan.
“Hey, isep punya saya juga,” Francis merasa diabaikan, lalu memaksa Drani melepas penis Ethan.
“I wanna fuck your mouth. Open.” Ganti Francis yang mencengkeram kepala Drani, lalu memaksanya mendekat.
Selama beberapa menit kemudian, mulut Drani disetubuhi Francis. Tiap dorongan pinggul Francis membuat kantong pelir si bek yang besar menggantung itu menampar dagu Drani. Dan setelah beberapa lama, baik Francis maupun Ethan yang kebagian permainan tangan Drani belum juga menunjukkan tanda-tanda akan keluar. Tubuh Francis dan Ethan yang sama-sama besar membuat Drani terlihat kecil sekali; mata kedua pemain Afrika itu tak lepas dari tubuh seksi Drani, terutama kedua payudaranya yang sudah tak tertutupi. Kulit putih yang mulus, rambut hitam yang jatuh terurai di bahu. Drani memperhatikan tatapan mereka dan membuka kancing di punggung gaunnya, sehingga gaun itu pun merosot ke lantai memperlihatkan seluruh figurnya. Si manajer kini tinggal mengenakan kalung berlian yang berkilau, anting, dan celana dalam. Adama yang sedang tidak dilayani pun jadi tegang kembali kejantanannya. Si pemain sayap itu duduk di meja, mengocok barangnya sendiri, sambil tersenyum memperlihatkan sebaris gigi putih.
Sekarang di depan Drani ada dua kejantanan, milik Francis di dalam mulutnya dan milik Ethan yang menunggu giliran. Ethan menyuruh Drani menyervis dua-duanya sekaligus. Drani mengeluarkan kontol Francis dari mulutnya dan menengok ke atas, menceletuk “Mana bisa?” tapi toh dia menggenggam kedua batang itu dan mencoba menelan keduanya sekaligus. Agak susah. Jadi dia jilat kepala dua zakar itu kemudian dia coba lagi, buka mulut lebar-lebar. Lalu pelan-pelan dicobanya menelan dua penis hitam sekaligus. Cuma muat sampai kepalanya. Francis bertepuk tangan dan nyengir. Akhirnya Drani terpaksa mengeluarkan milik Ethan dan melayani Francis saja. Tak lama kemudian Francis juga mengeluarkan benihnya di dalam mulut Drani. Drani merasakan mulutnya penuh, tidak hanya dengan batang besar Francis, tapi juga cairan hangat yang keluar dari sana. Sebagian sampai berleleran keluar dari mulut. Francis baru mengeluarkan anunya dari mulut Drani setelah puas. Giliran Ethan. Tapi Ethan juga sudah cukup lama menahan burungnya muncrat; baru saja Drani mulai menyervisnya lagi dengan menjilat dari bawah ke atas, si striker jangkung sudah berejakulasi. Berhubung posisinya masih ada di luar, jadilah mani yang keluar itu tumpah ke rambut dan dahi Drani. Drani sendiri mulai resah gara-gara membayangkan hal-hal lain.
Gede banget… hitam, besar, berurat… Di mulut aja susah muatnya… apalagi di bawah sana?
“Ahh… Nggak muat?” gumam Drani, terhanyut dalam khayalan.
“Ibu Drani,” kata Adama, “Cuma ini tawarannya?”
Drani melihat Adama tersenyum sinis.
“You want more?” tanya Drani.
“Of course,” jawab Adama dengan yakin. Kedua temannya juga mengangguk.
“Siapa mau duluan?” tanya Drani lagi sambil tersenyum genit.
Tanpa berunding dulu, Adama maju. Drani menyuruhnya berbaring di lantai. Adama duduk di lantai, membuka kaos, lalu berbaring seperti disuruh Drani. Kejantanannya sudah tegang lagi. Drani melepas celana dalamnya lalu mengangkangi badan Adama, menempatkan vaginanya di atas penis Adama. Batang yang keras itu rebah di atas perut Adama yang berotot, dan Drani menggesek-gesekkan rekahan memeknya di sekujur batang itu.
Drani menaikkan badan sedikit dan menggenggam zakar Adama. Ditempatkannya kepala burung hitam itu di lubang puki-nya, dan pelan-pelan diturunkanlah badannya. Kedua pemain lain, Francis dan Ethan, menyaksikan kemaluan teman mereka menerobos kewanitaan manajer tim PSKBB.
“OH! Ohh… aa enakh… Adama… gede banget!” Drani menceracau mesum ketika vaginanya dimasuki Adama. Padahal belum semuanya masuk.
Drani mengangkat sedikit pinggulnya, lalu menurunkan lebih jauh lagi. Vaginanya terdesak makin dalam oleh penetrasi si pemain sayap. Cairan kewanitaannya membanjir.
“AH! Aaa… ah, hah… aduh… dapet… ehh…” Drani tiba-tiba mendapat klimaks, gara-gara dia keburu membayangkan dientot oleh orang-orang Afrika itu sejak tadi.
Cairan vaginanya membanjir membasahi penis Adama. Tapi dia terus menunggangi kejantanan Adama dalam posisi woman on top. Adama pelan-pelan mulai mengimbangi kebinalan manajernya, menyodok-nyodok lubang kenikmatan manajernya yang becek. Francis berdiri dan berjalan ke belakang Drani sambil melepas kaos. Tubuhnya yang hitam gempal terlihat menyeramkan, namun bagi Drani yang mulai terhanyut birahi, itu hanya membuatnya membayangkan hal-hal lain. Francis meludahi tangannya sendiri lalu mengocok kemaluannya sampai tegang, lalu berjongkok di belakang Drani yang sedang menggoyang rekan satu timnya. Drani menjerit sejenak ketika merasakan jari Francis bermain di lubang anusnya.
Di situ? Francis? Dengan ukuran seperti tadi? Aduh mak! Tapi Drani malah sengaja menggoyangkan bokongnya, mengundang Francis untuk berbuat hal-hal lain. Dan terjadilah. Francis menyiapkan senjatanya di depan pintu belakang Drani, siap menerobos masuk.
Pelan-pelan Francis memasukkan kontolnya ke dubur Drani.
“UUAAGHH!” Drani mengerang selagi Francis berusaha menjolokkan seluruh batangnya ke dalam.
Drani basah kuyup berkeringat akibat ulah kedua pejantan Afrika yang menyetubuhinya. Adama menggenggam erat pinggangnya dan menyodok keras-keras ke atas. Drani menjerit selagi sodokan tadi berhasil memasukkan seluruh batang Adama ke dalam vaginanya, sampai ke pangkal.
“AAA! FUCK ME!!” jerit Drani kepada kedua orang Afrika itu. Ethan, yang belum kebagian, bergerak ke depan Drani dan menyodorkan kemaluannya yang sampai berdenyut karena tak tahan.
Drani menelannya tanpa ragu-ragu, sedalam mungkin sampai kepala burung Ethan menyodok pangkal tenggorokannya. Satu batang zakar hitam menggempur kewanitaan Drani dari bawah, dan satu lagi yang sama hitamnya meluncur keluar-masuk lubang pantatnya. Dan satu lagi, yang lebih panjang dibanding yang lain, disodokkan ke dalam mulutnya. Penuhlah ketiga lubang Drani dengan daging lelaki. Keluhan “MMMFFF!!” keluar dari mulut Drani yang disumpal penis. Dia sedang mendesak ke bawah menggencet Adama sementara kejantanan Francis sedang masuk sedalam-dalamnya dari belakang. Ethan terus mengentot mulut Drani. Drani tiba-tiba mulai dirayapi rasa gemetar selagi klimaks mulai melanda.
“AAAFFFMMMM!!” jerit Drani dengan mulut masih tersumbat. Teriakan yang terdengar seksi itu membuat Ethan tak tahan dan ikut mengalami orgasme, ejakulasinya yang panas dan lengket mulai membasahi rongga mulut Drani. Dengan kasar Ethan menjambak rambut Drani dan mencengkeram kepala Drani, memaksa si manajer menelan semua buangannya. Drani hanya bisa pasrah karena tak mampu melepaskan kepalanya, padahal dia mulai kehabisan nafas dan tersedak karena terlalu panjangnya zakar Ethan. Tapi Ethan tak juga melepasnya walaupun Drani mulai tersengal-sengal sambil tangannya menepuk-nepuk paha Ethan, minta dilepas.
Si striker jangkung itu malah tersenyum jahat, berkomentar,
“Suck it, bitch!” sambil terus menembakkan peluru-peluru cairnya di dalam mulut.
Drani merasa mulutnya pegal, muak dengan rasa peju Ethan, tapi dia tak bisa lepas; matanya sampai berkaca-kaca ketika dia mendelik ke atas seolah minta dikasihani Ethan. Tapi Ethan malah kelihatan kesenangan melihat Drani seperti tersiksa itu. Dia baru melepas Drani ketika penisnya sudah melemas.
Setelah dilepas, Drani terbatuk-batuk sambil menutup mulut dengan tangan, sebagian mani Ethan terdorong keluar. Sambil terengah-engah, Drani melihat cairan kental putih kekuningan berbau tak enak yang tertadah di tangannya. Ingin dia memuntahkan semua yang barusan dia telan, tapi pikirannya keburu diserbu sensasi dari bawah dan belakang. Adama dan Francis belum selesai. Tubuh Drani terguncang-guncang akibat kuatnya gerakan kedua pemain berkulit hitam yang perkasa itu, yang makin lama makin cepat. Keduanya sudah mulai tak tahan. Adama menyodokkan penisnya sejauh mungkin ke dalam vagina Drani, dan menyemburkan peju hangat di dalam rahim Drani.
“Uuuooohhh!” Francis menggerung keras selagi dia ikut menyemprotkan benihnya di dalam pantat Drani.
Seperti Ethan sebelumnya, ejakulasi kedua pria itu lama sekali dan banyak, memenuhi tubuh Drani dengan benih asing, sementara Drani kembali kejang-kejang dilanda orgasme. Akhirnya Drani roboh kelelahan ke dada Adama. Adama dan Francis mencabut senjata masing-masing dari tubuh manajer mereka. Sperma mengalir dari lubang pantat Drani yang masih sedikit menganga, dari rekahan kewanitaannya yang meregang, dan dari sela-sela bibirnya. Si manajer cantik itu terkapar, terengah-engah, di atas tubuh Adama, menikmati sensasi disetubuhi tiga laki-laki dari benua hitam sambil berusaha mengendalikan lagi pikirannya. Dia merasakan tangan Adama menyentuh wajahnya.
“Bole juga tawarannya, Ibu Drani,” kata Adama sambil terengah-engah. “Kami bisa dapat ini kapan saja?”
“Bagaimana… hhmm… kalau setiap kali menang?” Drani menawarkan. Adama balik menawar, “Hmm… Bagaimana kalau sesudah tiap kali main? Any result?”
Drani berpikir sebentar, membayangkan kenikmatan yang dia sendiri dapatkan barusan, lalu otak profesionalnya kembali berjalan dan dia pun tidak mengalah.
“Kalian dibayar supaya PSKBB juara, jadi bonus hanya dikasih kalau ada kontribusi. Hanya kalau menang. Take it or leave it. Setuju?” Wajah Adama yang ganteng itu terlihat berpikir, lalu tersenyum.
“Deal,” katanya.
*****
Dua hari kemudian, dalam pertandingan liga, PSKBB menang 3-1 atas tim tamu dari kota sebelah. Ketiga gol dicetak lewat sundulan Ethan Rabiu setelah menyelesaikan operan akurat Adama Badou dari sayap kanan, sementara satu-satunya gol balasan tim tamu datang dari penalti pada menit-menit akhir pertandingan akibat pelanggaran sangat keras terhadap striker mereka oleh Francis Njona, palang pintu PSKBB. Njona memang dikartu merah karena pelanggaran itu, tapi sampai dia dikeluarkan, striker lawan sudah babak belur karena tidak mampu melewati penjagaan ketat si bek asal Kamerun. Pendukung PSKBB bersorak-sorai mengelu-elukan ketiga pemain asing tim mereka; berkat kemenangan ini, posisi PSKBB di klasemen naik menggeser tim “Singa” dari puncak. Suporter tim lawan yang tak bermodal tapi suka merusuh berusaha membuat keributan dengan mengajak tawuran, tapi pengamanan yang cukup ketat menggagalkan usaha mereka. Seusai pertandingan, Manajer Andraningrum memberikan bonus kemenangan yang sudah dia janjikan kepada ketiga pemain asing itu. Selama satu jam di ruang manajer ketiganya dapat menikmati kembali tubuh sang manajer. Drani kembali terengah, merintih, menggeliat, mengerang seksi ketika menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati tiga laki-laki yang sudah berjasa bagi tim sepakbolanya. Hanya saja…
Ketika Drani keluar bersama-sama ketiga pemain asing itu dari ruang manajer, ternyata di luar ruang manajer semua pemain PSKBB yang lain (semuanya pemain lokal) dan pelatih sudah menunggu. Sutiono, kapten PSKBB dan penjaga gawang, membuka pembicaraan.
“Bu Drani. Saya rasa kita semua perlu kejelasan soal gaji. Tadi kami sudah main sebaik-baiknya, jadi bisa menang. Rasanya nggak fair kan kalau kami capek-capek usaha tapi gaji ditunda-tunda terus. Nah, kemarin saya habis ngobrol sama Adama, tentang bonus yang Bu Drani tawarin…”
Drani tercengang mendengar perkataan itu, mulutnya melongo tak sanggup mengeluarkan kata-kata membayangkan apa yang bakal terjadi.
TAMAT
Subscribe to:
Posts (Atom)
Musim Panas di Los Angeles - 3
Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sa...
-
Namaku Cynthia. Ini baru pertama kali aku coba buat ngirim cerita seksku. Sudah sejak 3 tahun lalu, aku selalu "haus seks". Entah ...
-
Sudah setengah jam ini suara dengusan nafas yang memburu dan lenguhan penuh birahi terdengar sayup-sayup dari sebuah kamar kos di bilangan ...
-
Vani Gadis KU Semasa kuliah terjadi sebuah pengalaman serta cerita sex aku bersama temanku. Gimana sih cerita dewasa dan cerita sek...
