Tiba-tiba terdengar suara orang berjalan di gang. Mia langsung tersentak dan membetulkan bajunya. Ia berjalan ke pintu dan mengintip keluar, rupanya hanya orang yang keluar dari kamar selesai membesuk. Mia tersenyum dan berkata
"Arthur, saya enggak berani melakukannya disini, takut supervisor saya lewat"
"Sebentar saja, enggak ketahuan kok asalkan kita tidak berisik" ujar saya.
"Hari Senin saja ya ditempat saya" kata Mia dengan wajah yang memelas.
"Sebentar saja sayang, 10 menit deh" ujar saya dengan nafsu yang sudah naik ke ubun-ubun.
Saya turun dari tempat tidur saya dan menghampiri Mia. Saya cium bibirnya dan Mia membuka baju, saya praktis telanjang bulat. Mia lalu membuka baju seragamnya dan menurunkan BHnya lalu mengangkat roknya dan celana dalamnya ditarik kebawah kakinya. Kami berciuman dengan penuh gairah. Saya menuntun Mia ke sofa, saya duduk disofa dan Mia duduk dipangkuanku menghadap saya. Saya mencium buah dadanya yang besar.
Mia mendesah dengan nikmat. Ia mengangkat pantatnya dan menuntun kontol saya kearah vaginanya. Vaginanya yang sudah basah membuat kontol saya masuk dengan mudah. Mia mendongak sambil memejamkan matanya menikmati kontol saya. Ia menggoyangkan pinggulnya naik turun dan memutar-mutarnya. Kontol saya terasa seperti ditarik dan diremas bersamaan. Nikmat sekali. Payudara Mia bergoyang-goyang dimuka saya dan langsung saya sambar putingnya dengan gigiku dan menggigitnya.
Dengan penuh gairah Mia memainkan kontolku dalam vaginanya. Bibirnya ia gigit agar tidak sampai berteriak. Saya sendiri berusaha menutup mulut saya dengan membenamkan kepala saya di buah dada Mia.
"Sshh.. Enak Arthur, enak sekali" ujar Mia mendesis.
Bagaikan kuda liar, Mia terus mengayun-ayunkan pantatnya. Keringat menetes dengan di kening dan dadanya. Wajahnya yang cantik terlihat semakin cantik meluapkan gairah didalam dirinya. Saya melirik ke bagian bawah perutnya, terlihat bulu kemaluannya yang agak lebat. Biasanya saya sedikit turn-off melihat wanita yang bulu kemaluannya lebat tapi kali ini gairah saya tidak padam malah semakin membara.
Tanpa mengeluarkan kontol saya atau mengubah posisi ML, saya mengangkat Mia. Mia memeluk saya dan kakinya melingkar di pinggang saya. Saya baringkan Mia di sofa, Mia menekuk kakinya lalu merapatkannya sehingga kontol saya terasa semakin rapat di vaginanya. Saya mulai menggenjot vagina Mia. Saya condongkan dada saya sehingga menyentuh dengkul Mia. Mata Mia tidak lepas dari mata saya. Tangan kanan saya meremas payudara Mia sedangkan tangan kiri saya meraih ke anus Mia dan memainkannya. Mia mendelik saat saya memasukkan jari tengah saya ke anusnya, perlahan tangan kanannya meraih jari saya danmenariknya keluar
"Jangan sayang, sakit" ujar Mia.
Saya terus menggenjot Mia dengan penuh gairah. Mia meremas-remas payudaranya sendiri sambil memejamkan matanya. Tak lama kemudian saya merasakan akan ejakulasi.
"Mau keluar Mia"
Mia langsung menurunkan kakinya sehingga kontol saya tercabut dari vaginanya, ia duduk lalu meraih kontol saya. Kontol saya langsung diremas dengan gemas dan dimasukkan ke mulutnya. Tangan kanannya meremas-remas biji sedangkan tangan kirinya memegang batang kontolku. Saya memegang kepala Mia dan menekan-nekan kepalanya sehingga kontol saya terasa masuk lebih dalam kedalam mulut Mia.
Kontol saya langsung memuntahkan peju kedalam mulut Mia yang mungil. Peju saya terlihat memenuhi mulut Mia sehingga ia terpaksa mengeluarkan kontol saya dari mulutnya dan menelan peju saya kemudian menjilat sisa peju yang turun di batang kontol. Kontol saya langsung bersih dijilat. Saya sebenarnya masih penasaran belum menjilat vagina Mia, tetapi Mia cepat-cepat memakai bajunya dan membereskan rambutnya. Keringat di dahinya ia lap dengan tissue. Kemudian ia mengambil bolpen dan menulis alamat dan nomor handphonenya.
"Saya off-duty hari Senin. Kamu pasti boleh pulang besok. Tapi nanti dokter akan minta kamu istirahat beberapa hari. Datang aja ya ke kost saya hari Senin" kata Mia. Saya cium bibir Mia dan Mia bergegas keluar.
Sabtu
Hari Sabtu saya akhirnya boleh pulang dan persis seperti yang dibilang Mia, saya diminta untuk istirahat dirumah sampai hari Rabu.
Senin
Jam 9 pagi saya sudah tiba di tempat kost Mia, sebelumnya saya sudah menelepon Mia untuk datang kesana. Mia telah menunggu diruang tamu tempat kostnya. Ia mengenakan celana pendek warna coklat dengan kaos lengan buntung yang ketat.
"Hai, akhirnya datang" seru Mia dengan senang. Mia langsung mengajak saya ke kamarnya.
"Kangen dengan Mia" kata saya sambil mencium bibirnya.
"Iya, saya kangen juga, masih penasaran dengan kontol kamu" jawab Mia sambil ciuman.
Saya membuka kaos dan celana pendek Mia. Tampak celana dalam model g-string berwarna hitam dikenakan Mia. Mia lalu gantian membuka baju dan celana panjang serta celana dalam. Kemudian Mia jongkok didepan saya lalu mulai menghisap kontolku. Selang beberapa menit menghisap kontol, saya meminta Mia berdiri lalu saya baringkan ditempat tidur. Saya cium payudaranya sambil tangan kanan saya mengelus vaginanya dari balik celana dalam. Mia memejamkan matanya menikmati kenikmatan yang saya berikan. Putingnya secara gantian saya hisap dan gigit lalu saya turun ke perut Mia. Mia menjerit geli saat saya gigit perutnya.
Dengan tak sabar saya mulai mencium vaginanya dari balik celana dalamnya, kemudian saya tarik celana dalamnya sampai ke dengkulnya. Wah ternyata Mia telah mencukur bulu kemaluannya sehingga terlihat tipis dan rapih, beda dengan malam sebelumnya yang bulu kemaluannya terlihat lebat. Saya jilat vaginanya yang berwarna merah, klitorisnya yang besar tidak luput dari gigitan saya. Mia menjerit-jerit kecil menerima gigitan-gigitan di klitorisnya. Saya membalikkan tubuh Mia lalu membuat posisi doggy style. Mia nungging didepan saya, pantatnya yang mungil saya remas dengan keras lalu saya minta Mia membungkuk lebih dalam sehingga anusnya terlihat. Saya jilat anusnya, Mia menggelinjang kegelian. Kemudian saya mulai mengarahkan kontol kedalam vagina Mia.
"Aahh, enak Arthur, enak sekali. Terus sayang. Lebih keras" pinta Mia.
Vagina Mia terasa hangat dan basah. Saya memegang pantatnya dan menggenjot vagina Mia dengan penuh nafsu. Mia mendesis-desis sambil memutar-mutar pantatnya. Setiap kali Mia memutar pantatnya, kontol saya terasa seperti ditarik lebih dalam divaginanya. Entah bagaimana caranya dia bisa melakukan itu. Saya memejamkan mata menikmati pijitan kontol saya dalam vagina Mia. Mia kemudian meluruskan kakinya sehingga tubuhnya rata dengan kasur, saya terpaksa harus menurunkan badan saya dan menindih tubuh Mia dari belakang. Tapi dengan gaya ini, kontol saya terasa semakin sempit memasuki vagina Mia karena dihimpit oleh paha Mia.
Tidak lama kemudian saya ejakulasi. Saya melenguh dengan keras dan tubuh Mia ikut mengejang pertanda ia juga orgasme. Saya lalu menindih tubuh Mia tanpa mengeluarkan kontol saya. Mia kemudian memutar tubuhnya lalu gantian menindih dada saya. Kami saling berciuman dan istirahat.
"Arthur, mau nggak kalau ada variasi?" tanya Mia.
"Variasi seperti apa?" tanya saya balik.
"Ada orang ketiga" sahut Mia.
"Siapa?"
"Namanya Desi, dia suster juga tapi kerjanya di lantai 2 dirumah sakit yang sama"
"Boleh aja, sekarang?"
"Bisa, tinggal telepon dan nanti dia datang dari kamar sebelah"
"Hah? Dia disebelah? Cantik nggak?" tanya saya bertubi-tubi. Kalau nanti yang datang suster yang mau mandiin saya waktu hari Jum'at pagi kan repot, pikir saya dalam hati.
"Cantik, jangan takut deh. Dia satu kost dengan saya" jawab Mia sambil meraih handphonenya.
Rupanya Mia telah bercerita kepada temannya mengenai persetubuhan kita di rumah sakit. Dan lebih mengejutkan lagi, Desi ini juga sering bersetubuh atau setidaknya oral sex dengan pasien. Hmm, nakal juga suster-suster ini, pikir saya dalam hati. Dalam waktu kurang dari semenit, Desi mengetuk kamar Mia dan dibukakan oleh Mia. Wajah Desi boleh juga walaupun tidak secantik Mia. Desi memakai daster bercorak bunga-bunga dengan warna mencolok khas dari Bali. Dari balik dasternya tampak buah dadanya yang tidak disangga BH. Saya masih berbaring di tempat tidur dengan telanjang dan mata Desi langsung tertuju ke kontol saya.
"Halo Desi" kata saya untuk menghilangkan kecanggungan.
"Halo Arthur" sahutnya dengan sedikit malu.
Mia berdiri dibelakang Desi lalu membuka daster Desi. Desi langsung telanjang bulat. Desi tersenyum malu lalu mendekat kepada saya. Saya meremas payudaranya yang tidak sebesar Mia tapi bulat dan kencang. Pantat Desi sedikit lebih besar dari Mia, bulu kemaluannya terlihat tercukur tipis dan rapih. Desi meraih kontol saya dan mengelusnya. Kemudian ia membungkukkaan tubuhnya dan mulai menghisap kontol saya, saya raih pantatnya dan menariknya kearah muka saya sehingga kita dalam posisi 69.
Mia tampak mengambil handycam dan mulai merekam adegan saya dan Desi. Dengan gemas saya jilat vagina Desi, tercium bau sabun yang wangi. Desi membalas dengan menghisap kontol saya sambil meremas bijiku. Puas ber-69, saya minta Desi tetap nungging lalu saya masukkan kontol saya ke vaginanya. Vaginanya tidak sesempit Mia tetapi begitu kontolku masuk langsung terasa vaginanya berdenyut-denyut di kepala kontolku. Desi saya genjot dengan penuh gairah. Mia merekam setiap adegan sambil tangan kirinya mengelus vaginanya sendiri. Desi mengikuti irama goyangan saya dengan menekan pinggulnya dengan keras kepinggul saya sehingga kontol saya masuk lebih dalam ke vaginanya.
Mia kemudian meletakkan handycamnya di meja dengan posisi lensa mengarah kami, kemudian ia berlutut dibelakang saya lalu memelukku. Tangan kanannya meremas-remas biji saya. Rangsangan yang diperoleh dari Mia membuat saya menggenjot Desi semakin keras.
"Oohh.. Terus Arthur, terus Arthur.. Saya mau keluar" jerit Desi dengan keras.
Tubuh Desi mengejang dan terasa vaginanya Desi menjadi sangat becek. Desi langsung tengkurap dengan lemas dikasur. Wah belum apa-apa udah lemas, saya berkata dalam hati.
Langsung saya tarik si Mia dan masukkan kontolku ke vaginanya. Mia membuka kedua kaki dengan lebar dan menerima kontol saya dalam vaginanya. Saya meremas-remas buah dadanya dengan nafsu sambil menggenjot kontolku yang belum tuntas tugasnya. Saya melirik ke Desi dan ia kelihatannya kembali bergairah. Ia jongkok diatas muka Mia dan Mia langsung melahap vagina Desi. Desi melenguh setiap kali lidah Mia menyapu vaginanya. Saya mencium bibir Desi dan kita saling berpagutan. Setelah menyetubuhi Mia selama 10 menit, peju saya terasa mau keluar. Langsung saya cabut kontol saya dan menyodorkannya ke mulut Desi. Desi menerima dengan senang dan menghisap dan menelan peju saya. Mia sendiri masih asyik menjilat vagina dan anus Desi.
Saya terkulai ditempat tidur, Desi rebahan disebelah kiri dan Mia disebelah kanan. Mia memutar video adegan seks tadi. Sepanjang hari, kami bertiga terus bersetubuh dengan posisi yang berbeda. Kadang-kadang gantian saya yang meng-handycam Desi dan Mia yang ber-69 dan berciuman. Three-some yang sangat eksotis. Tubuh saya langsung terasa sehat dan segar.
TAMAT
Showing posts with label arthur. Show all posts
Showing posts with label arthur. Show all posts
Monday, March 14, 2011
Arthur - Perawatan medis plus 1
Saya telah menerima banyak email dari pembaca yang penasaran menanyakan jati diri saya atau pun wanita yang saya telah saya tiduri. Perlu saya jelaskan bahwa Arthur hanyalah nama samaran saya. Tidak mungkin saya pakai nama asli karena akan dikenali orang-orang yang pernah tinggal di San Francisco dan otomatis orang-orang akan dengan mudah menebak nama-nama teman wanita yang ada di cerita-cerita saya. Semua nama-nama orang yang ada di cerita saya adalah nama samaran, akan tetapi semua kisah saya adalah nyata dan tidak saya tambah-tambahi. Apa adanya.
Teriring salam,
Arthur.
*****
Februari, Senin 2004
Saya terbangun dipagi hari dengan perasaan sakit yang luar biasa. Kepala saya terasa berat, badan saya panas sekali, dan badan tidak terasa bertenaga. Saya mencoba bangun dan sarapan. Setelah makan, saya malah terasa semakin lemas. Akhirnya saya SMS sekretaris saya untuk bilang tidak masuk kantor karena sakit. Jam 11 siang saya terbangun, kepala terasa semakin berat dan lemas sekali.
"Something is wrong" gumam saya.
Saya minta pembantu saya untuk panggil taksi. Setelah taksi tiba, saya berangkat dan minta diantar ke rumah sakit swasta yang besar di daerah kuningan, Jakarta. Saya langsung masuk ke unit gawat darurat dan tim medis langsung menangani saya. Darah saya diambil untuk dites dan sebuah infus dipasang dilengan kiri saya. Sejam kemudian, dokter memberitahukan hasil lab yang menyatakan trombosit darah saya jauh dibawah normal. Saya diminta untuk diopname.
Sambil mengisi registrasi rumah sakit, saya minta kamar VIP dan menelepon orang tua saya bahwa saya diopname dan minta dibawakan baju ganti dari rumah saya. Setelah urusan beres, saya langsung diantar ke kamar VIP. Selesai makan siang dan obat, saya langsung tidur dengan pulas. Sore hari, orang tua saya datang membawa baju ganti, dsb. Saya wanti-wanti mereka untuk tidak memberitahu kakak atau saudara saya karena tidak mau diganggu selama diopname.
Selasa
Jam 5:45 pintu kamar saya terbuka, seseorang membawa sarapan disusul oleh seorang pria yang membawa kotak putih, rupanya ia perlu mengambil darah saya untuk dibawa ke lab. Kepala saya masih sakit, badan masih panas dan masih tak bertenaga. Selesai sarapan kembali saya tertidur. Jam 6:30, seorang suster masuk.
"Selamat pagi Pak Arthur, saya mandikan ya supaya segar" kata suster.
Saya membuka mata sedikit dan mengangguk. Si suster dengan cekatan membuka baju dan celana tidur saya. Seluruh tubuh saya dioleskan dengan sabun cair lalu digosok setelah itu dilap dengan handuk basah. Selama dimandikan, saya menutup mata saya karena masih pusing. Sesekali saya membuka mata, saya perhatikan si suster bernama Mia (bukan nama asli). Tubuhnya langsing, rambutnya pendek, dadanya terlihat membusung dibalik baju seragam perawatnya.
"Pak, mau dibersihkan daerah selangkangan?" suster Mia bertanya.
"Ya boleh aja" jawab saya malas-malasan.
Celana dalam saya dibuka dan kembali suster Mia mengoleskan sabun cair dan membersihkan daerah selangkangan lalu dilap dengan handuk basah. Selama dibersihkan didaerah selangkangan, kontol saya terkulai dengan lemas. Ternyata urat mesum saya sedang tidak beraksi sama sekali, hahahaha. Setelah beres, suster Mia membantu saya memakai pakaian yang bersih dari tas saya lalu saya mengucapkan terima kasih. Jam 8, dokter datang untuk memeriksa kondisi saya kemudian saya melanjutkan tidur.
Rabu
Rutinitas pagi hari kembali terulang, sarapan diantar lalu datang si pria yang meminta darah saya (udah kayak drakula minta darah) dan kembali suster Mia datang untuk memandikan saya. Kepala saya masih sakit walaupun tidak separah kemarin dan badah masih hangat. Kali ini sambil dimandikan, mata saya terbuka lebar dan tertuju pada TV walaupun sekali-sekali melirik ke tubuh suster Mia. Wajahnya saya perhatikan, ternyata cantik juga dia. Jika dilihat sepintas mirip Wanda Hamidah. Kalau tersenyum, maka sebuah lesung pipit akan terlihat di pipi sebelah kanan. Kembali suster Mia menawarkan untuk membersihkan daerah selangkangan, saya perbolehkan. Kontol saya masih terkulai lemas. Rupanya badan lemas memang tidak akan mampu membuat kontol berdiri.
Saya melewati hari ini dengan lebih banyak tidur supaya cepat sehat. Sekali-sekali saya nonton TV tapi setelah itu kembali tidur.
Kamis
Pagi ini saya merasa cukup segar, kepala sudah tidak lagi sakit, temperatur badan sudah kembali normal dan tenaga tubuh terasa sudah membaik. Tidak sabar saya menunggu dimandikan suster Mia. Selesai sarapan dan pengambilan darah, suster Mia datang.
"Halo selamat pagi, kelihatannya sudah segar Pak Arthur" kata Mia dengan tersenyum.
"Panggil Arthur saja, enggak usah pakai Pak. Iya, sudah jauh lebih baik" kata saya dengan tersenyum.
"Wah kalau begitu enggak perlu ya dimandikan, bisa mandi sendiri" goda Mia.
"Kalau saya sehat, saya tidak ada disini, suster" jawab saya sambil tertawa.
"Hahaha, bisa saja Arthur" kata Mia.
Mia membuka baju dan celana tidur saya. Saat mengoles dada dan punggung saya dengan sabun cair, saya melirik kearah dadanya, wah besar juga! Mia menggosok dada, punggung dan lengan saya. Bibir Mia yang merah terasa dekat sekali saat itu membasuh dada saya dengan handuk basah. Ingin rasanya menciumnya. Lalu Mia melanjutkan membersihkan paha dan kaki saya. Tangannya yang lembut saat menyentuh paha saya tiba-tiba membangunkan urat mesum saya dan langsung kontol saya berdiri, hore! Mia tetap melanjutkan membasuh paha dan kaki walaupun sekali-sekali saya menangkap matanya melirik kearah kontol saya.
"Mau dibersihkan selangkangannya?" tanya Mia.
"Boleh, silakan" kata saya sok cuek.
Tangan Mia meraih celana dalam saya dan perlahan ia menariknya kebawah. Kontol saya langsung terayun kearahnya. Mia lalu membalur sabun cair di daerah selangkanganku. Tangannya terasa lembut sekali dan kontol saya terasa semakin mengeras.
"Maaf ya kalau ereksi" jawa saya sedikit malu.
"Tidak apa-apa kok, normal kok" jawab Mia sambil tersenyum.
Duh senyumannya membuat jantung saya berdegup dengan kencang. Mia kelihatannya hati-hati untuk tidak sampai menyenggol kontol saya. Selesai mandi, Mia membantu saya memakai baju lalu saya nonton TV sambil menunggu dokter datang.
Jum'at
Saya sudah merasa sehat sekali. Saya kembali membayangkan kenikmatan dimandikan oleh si cantik suster Mia. Sarapan dan tukang palak darah pun datang, dan sekarang saatnya mandi. Pintu kamar saya terbuka dan tiba-tiba yang muncul bukan Mia melainkan suster lain yang sama sekali tidak menarik.
"Aarggh, shit, who the hell are you?, I want Mia" jerit saya dalam hati.
Suster itu menawarkan untuk dimandiin. Serta merta saya menolak, saya bilang saya cukup kuat untuk mandi sendiri. Suster itu membantu saya ke kamar mandi setelah itu meninggalkan kamar saya. Selesai mandi, dokter datang dan membawa hasil lab terbaru. Trombosit darah saya sudah kembali normal. Nanti siang saya diijinkan untuk membuka infus dan kalau segala sesuatu baik maka hari Sabtu boleh pulang. Saya agak sedih tidak ketemu Mia, seharian saya melewatkan waktu dengan nonton TV dan menanyakan ke sekretaris keadaan di kantor.
Malam hari setelah makan malam, orang tua saya pamit untuk pulang. Saya masih nonton TV untuk menunggu suster shift malam datang. Biasanya suster itu hanya akan memantau kondisi sebelum saya tidur. Tangan kiri saya sudah kembali bebas setelah jarum infus dicabut. Jam 21:30, pintu terbuka dan suster Mia muncul.
"Selamat malam Arthur, sudah sehat?" Mia bertanya dengan tersenyum.
"Halo Mia, saya sudah merasa sehat. Kok sekarang datangnya malam?" tanya saya.
"Biasa, rotasi jam kerja" kata Mia.
"Senang melihat Mia lagi" kata saya sedikit merayu, tanpa saya sadari saya menyentuh lengan Mia. Mia tersenyum dan membiarkan tangan saya memegang lengannya.
"Gimana kabarnya? Masih lemas?" tanya Mia.
"Sudah sehat, kan tadi sudah saya jawab" kata saya sedikit bingung.
"Bukan kamu, tapi adik kamu" kata Mia dengan pandangan menggoda.
"Coba saja kamu tanya sendiri" kata saya sambil tersenyum.
Dengan mata yang tetap tertuju pada mata saya, Mia mengulurkan tangannya ke arah kontolku. Ia meremas kontol saya dari balik selimut.
"Besar ya, Arthur" kata Mia.
"Buka aja celananya" kata saya.
Mia membuka celana piyama dan celana dalamku. Kontol saya langsung digenggam. Mia membungkukkan dadanya kearah saya dan saya langsung mencium bibirnya, saya buka kancing baju seragamnya lalu saya tarik BHnya kebawah. Payudaramia cukup besar, berukuran 34B. Putingnya berwarna coklat muda dan payudaranya terlihat sedikit menurun. Dengan gemas, saya cium bibir Mia sambil meremas dan memelintir puting Mia. Mia membalas dengan meremas dan mengocok kontol saya. Setelah berciuman agak lama, Mia melepaskan dirinya dan menghisap kontol saya. Lidahnya menyapu seluruh kepala kontol lalu ke batang kontol dan biji. Hmm, nikmatnya.
Saya mengangkat rok putih Mia dan terlihat celana dalamnya berwarna putih. Saya remas pantatnya yang tidak terlalu besar lalu saya elus vaginanya dari belakang pantatnya. Mia menggelinjang kegelian. Saya menyelipkan jari saya kebalik celana dalamnya dan mengelus-elus vaginanya. Terasa bulu-bulu kemaluan Mia disekitar vaginanya. Vagina Mia sendiri terasa basah dan licin. Wah kelihatannya Mia sudah orgasme, mungkin saat kita ciuman dia mengalami orgasme. Jari saya sibuk mengelus vagina dan memainkan klitorisnya. Nafas Mia mendengus-dengus dan ia menghisap kontol saya semakin keras.
Bersambung...
Teriring salam,
Arthur.
*****
Februari, Senin 2004
Saya terbangun dipagi hari dengan perasaan sakit yang luar biasa. Kepala saya terasa berat, badan saya panas sekali, dan badan tidak terasa bertenaga. Saya mencoba bangun dan sarapan. Setelah makan, saya malah terasa semakin lemas. Akhirnya saya SMS sekretaris saya untuk bilang tidak masuk kantor karena sakit. Jam 11 siang saya terbangun, kepala terasa semakin berat dan lemas sekali.
"Something is wrong" gumam saya.
Saya minta pembantu saya untuk panggil taksi. Setelah taksi tiba, saya berangkat dan minta diantar ke rumah sakit swasta yang besar di daerah kuningan, Jakarta. Saya langsung masuk ke unit gawat darurat dan tim medis langsung menangani saya. Darah saya diambil untuk dites dan sebuah infus dipasang dilengan kiri saya. Sejam kemudian, dokter memberitahukan hasil lab yang menyatakan trombosit darah saya jauh dibawah normal. Saya diminta untuk diopname.
Sambil mengisi registrasi rumah sakit, saya minta kamar VIP dan menelepon orang tua saya bahwa saya diopname dan minta dibawakan baju ganti dari rumah saya. Setelah urusan beres, saya langsung diantar ke kamar VIP. Selesai makan siang dan obat, saya langsung tidur dengan pulas. Sore hari, orang tua saya datang membawa baju ganti, dsb. Saya wanti-wanti mereka untuk tidak memberitahu kakak atau saudara saya karena tidak mau diganggu selama diopname.
Selasa
Jam 5:45 pintu kamar saya terbuka, seseorang membawa sarapan disusul oleh seorang pria yang membawa kotak putih, rupanya ia perlu mengambil darah saya untuk dibawa ke lab. Kepala saya masih sakit, badan masih panas dan masih tak bertenaga. Selesai sarapan kembali saya tertidur. Jam 6:30, seorang suster masuk.
"Selamat pagi Pak Arthur, saya mandikan ya supaya segar" kata suster.
Saya membuka mata sedikit dan mengangguk. Si suster dengan cekatan membuka baju dan celana tidur saya. Seluruh tubuh saya dioleskan dengan sabun cair lalu digosok setelah itu dilap dengan handuk basah. Selama dimandikan, saya menutup mata saya karena masih pusing. Sesekali saya membuka mata, saya perhatikan si suster bernama Mia (bukan nama asli). Tubuhnya langsing, rambutnya pendek, dadanya terlihat membusung dibalik baju seragam perawatnya.
"Pak, mau dibersihkan daerah selangkangan?" suster Mia bertanya.
"Ya boleh aja" jawab saya malas-malasan.
Celana dalam saya dibuka dan kembali suster Mia mengoleskan sabun cair dan membersihkan daerah selangkangan lalu dilap dengan handuk basah. Selama dibersihkan didaerah selangkangan, kontol saya terkulai dengan lemas. Ternyata urat mesum saya sedang tidak beraksi sama sekali, hahahaha. Setelah beres, suster Mia membantu saya memakai pakaian yang bersih dari tas saya lalu saya mengucapkan terima kasih. Jam 8, dokter datang untuk memeriksa kondisi saya kemudian saya melanjutkan tidur.
Rabu
Rutinitas pagi hari kembali terulang, sarapan diantar lalu datang si pria yang meminta darah saya (udah kayak drakula minta darah) dan kembali suster Mia datang untuk memandikan saya. Kepala saya masih sakit walaupun tidak separah kemarin dan badah masih hangat. Kali ini sambil dimandikan, mata saya terbuka lebar dan tertuju pada TV walaupun sekali-sekali melirik ke tubuh suster Mia. Wajahnya saya perhatikan, ternyata cantik juga dia. Jika dilihat sepintas mirip Wanda Hamidah. Kalau tersenyum, maka sebuah lesung pipit akan terlihat di pipi sebelah kanan. Kembali suster Mia menawarkan untuk membersihkan daerah selangkangan, saya perbolehkan. Kontol saya masih terkulai lemas. Rupanya badan lemas memang tidak akan mampu membuat kontol berdiri.
Saya melewati hari ini dengan lebih banyak tidur supaya cepat sehat. Sekali-sekali saya nonton TV tapi setelah itu kembali tidur.
Kamis
Pagi ini saya merasa cukup segar, kepala sudah tidak lagi sakit, temperatur badan sudah kembali normal dan tenaga tubuh terasa sudah membaik. Tidak sabar saya menunggu dimandikan suster Mia. Selesai sarapan dan pengambilan darah, suster Mia datang.
"Halo selamat pagi, kelihatannya sudah segar Pak Arthur" kata Mia dengan tersenyum.
"Panggil Arthur saja, enggak usah pakai Pak. Iya, sudah jauh lebih baik" kata saya dengan tersenyum.
"Wah kalau begitu enggak perlu ya dimandikan, bisa mandi sendiri" goda Mia.
"Kalau saya sehat, saya tidak ada disini, suster" jawab saya sambil tertawa.
"Hahaha, bisa saja Arthur" kata Mia.
Mia membuka baju dan celana tidur saya. Saat mengoles dada dan punggung saya dengan sabun cair, saya melirik kearah dadanya, wah besar juga! Mia menggosok dada, punggung dan lengan saya. Bibir Mia yang merah terasa dekat sekali saat itu membasuh dada saya dengan handuk basah. Ingin rasanya menciumnya. Lalu Mia melanjutkan membersihkan paha dan kaki saya. Tangannya yang lembut saat menyentuh paha saya tiba-tiba membangunkan urat mesum saya dan langsung kontol saya berdiri, hore! Mia tetap melanjutkan membasuh paha dan kaki walaupun sekali-sekali saya menangkap matanya melirik kearah kontol saya.
"Mau dibersihkan selangkangannya?" tanya Mia.
"Boleh, silakan" kata saya sok cuek.
Tangan Mia meraih celana dalam saya dan perlahan ia menariknya kebawah. Kontol saya langsung terayun kearahnya. Mia lalu membalur sabun cair di daerah selangkanganku. Tangannya terasa lembut sekali dan kontol saya terasa semakin mengeras.
"Maaf ya kalau ereksi" jawa saya sedikit malu.
"Tidak apa-apa kok, normal kok" jawab Mia sambil tersenyum.
Duh senyumannya membuat jantung saya berdegup dengan kencang. Mia kelihatannya hati-hati untuk tidak sampai menyenggol kontol saya. Selesai mandi, Mia membantu saya memakai baju lalu saya nonton TV sambil menunggu dokter datang.
Jum'at
Saya sudah merasa sehat sekali. Saya kembali membayangkan kenikmatan dimandikan oleh si cantik suster Mia. Sarapan dan tukang palak darah pun datang, dan sekarang saatnya mandi. Pintu kamar saya terbuka dan tiba-tiba yang muncul bukan Mia melainkan suster lain yang sama sekali tidak menarik.
"Aarggh, shit, who the hell are you?, I want Mia" jerit saya dalam hati.
Suster itu menawarkan untuk dimandiin. Serta merta saya menolak, saya bilang saya cukup kuat untuk mandi sendiri. Suster itu membantu saya ke kamar mandi setelah itu meninggalkan kamar saya. Selesai mandi, dokter datang dan membawa hasil lab terbaru. Trombosit darah saya sudah kembali normal. Nanti siang saya diijinkan untuk membuka infus dan kalau segala sesuatu baik maka hari Sabtu boleh pulang. Saya agak sedih tidak ketemu Mia, seharian saya melewatkan waktu dengan nonton TV dan menanyakan ke sekretaris keadaan di kantor.
Malam hari setelah makan malam, orang tua saya pamit untuk pulang. Saya masih nonton TV untuk menunggu suster shift malam datang. Biasanya suster itu hanya akan memantau kondisi sebelum saya tidur. Tangan kiri saya sudah kembali bebas setelah jarum infus dicabut. Jam 21:30, pintu terbuka dan suster Mia muncul.
"Selamat malam Arthur, sudah sehat?" Mia bertanya dengan tersenyum.
"Halo Mia, saya sudah merasa sehat. Kok sekarang datangnya malam?" tanya saya.
"Biasa, rotasi jam kerja" kata Mia.
"Senang melihat Mia lagi" kata saya sedikit merayu, tanpa saya sadari saya menyentuh lengan Mia. Mia tersenyum dan membiarkan tangan saya memegang lengannya.
"Gimana kabarnya? Masih lemas?" tanya Mia.
"Sudah sehat, kan tadi sudah saya jawab" kata saya sedikit bingung.
"Bukan kamu, tapi adik kamu" kata Mia dengan pandangan menggoda.
"Coba saja kamu tanya sendiri" kata saya sambil tersenyum.
Dengan mata yang tetap tertuju pada mata saya, Mia mengulurkan tangannya ke arah kontolku. Ia meremas kontol saya dari balik selimut.
"Besar ya, Arthur" kata Mia.
"Buka aja celananya" kata saya.
Mia membuka celana piyama dan celana dalamku. Kontol saya langsung digenggam. Mia membungkukkan dadanya kearah saya dan saya langsung mencium bibirnya, saya buka kancing baju seragamnya lalu saya tarik BHnya kebawah. Payudaramia cukup besar, berukuran 34B. Putingnya berwarna coklat muda dan payudaranya terlihat sedikit menurun. Dengan gemas, saya cium bibir Mia sambil meremas dan memelintir puting Mia. Mia membalas dengan meremas dan mengocok kontol saya. Setelah berciuman agak lama, Mia melepaskan dirinya dan menghisap kontol saya. Lidahnya menyapu seluruh kepala kontol lalu ke batang kontol dan biji. Hmm, nikmatnya.
Saya mengangkat rok putih Mia dan terlihat celana dalamnya berwarna putih. Saya remas pantatnya yang tidak terlalu besar lalu saya elus vaginanya dari belakang pantatnya. Mia menggelinjang kegelian. Saya menyelipkan jari saya kebalik celana dalamnya dan mengelus-elus vaginanya. Terasa bulu-bulu kemaluan Mia disekitar vaginanya. Vagina Mia sendiri terasa basah dan licin. Wah kelihatannya Mia sudah orgasme, mungkin saat kita ciuman dia mengalami orgasme. Jari saya sibuk mengelus vagina dan memainkan klitorisnya. Nafas Mia mendengus-dengus dan ia menghisap kontol saya semakin keras.
Bersambung...
Arthur: Bali Bagus part 2
Rudi kemudian menarik punggung Dewi sehingga punggung Dewi tegak. Saya menjilat dan menghisap seluruh payudara Dewi. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar keseluruh tubuh Dewi. Akhirnya saya mengambil bir di mini bar lalu duduk dikursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Dewi melenguh pertanda ia mengalami orgasme tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun.
Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Dewi duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan ditempat tidur dengan lemas.
Tiba-tiba telepon berbunyi..
"Halo, ini Henri, sudah tidur kalian?" tanya Henri.
"Belum, kita lagi bersenang-senang. Ada Dewi disini" jawab saya.
"Wah, habis seks ya?" tanya Henri dengan semangat.
"Hehehe, begitulah. Kamu tidur ya? Atau jangan-jangan habis seks dengan Carol" tanya saya menduga-duga.
"Saya ditempat Carol. Saya ketempat kalian deh" kata Henri.
Waduh, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Carol. Saya menceritakan ke Dewi percakapan tadi. Dewi tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu bel kamar berbunyi dan saya bukakan. Tampak Henri mengenakan celana pendek dan kaos sedangkan Carol mengenakan kaos tidur yang panjang hingga ke dengkul. Dari balik bajunya terlihat ia tidak memakai BH.
"Wah, kalian abis pesta pora nih" kata Henri sambil tertawa melihat saya yang telanjang dan Rudi yang juga telanjang tapi tidak sadarkan diri.
"Kamu juga nih abis pesta dengan Carol" kata saya. Carol pun ikut tertawa. Mata Carol terus tertuju pada kontolku yang sudah berdiri.
"Mana Dewi?" tanya Henri.
"Di kamar mandi" jawabku.
Henri mengetuk pintu kamar mandi lalu masuk kedalam. Terdengar suara Dewi dan Henri tertawa-tawa kemudian hening.
"Kelihatannya mereka sudah mulai" kata saya kepada Carol.
Carol menghampiri diriku lalu mencium bibirku. Saya langsung membalasnya dan kita saling berpagutan. Tanganku mulai mengangkat kaos yang dipakai Carol dan membukanya. Kemudian saya melihat tubuh Carol yang telanjang bulat. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya.
Dengan gemas, saya menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Carol. Carol meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Carol dan ke vaginanya. Carol mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah saya menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Carol. Syukurlah Carol masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Saya membuka bibir vagina Carol dan menyedot vaginanya. Carol mengerang dengan penuh nikmat.
Puas melahap vaginanya, saya mengangkat tubuh Carol. Kaki Carol melingkar dipinggangku dan saya memasukkan kontolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, saya menyandarkan punggung Carol ke dinding lalu saya mulai menggenjot Carol. Payudara Carol yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya saya mencium bibirnya yang merah dan mungil. Benar-benar gemas aku dibuatnya.
Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Dewi yang melenguh. Carol pun ikut melenguh tiap kali kontol saya menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Carol sambil menyetubuhinya. Saya duduk di kursi dan Carol duduk dipangkuanku menghadap saya. Vagina Carol terasa mendenyut-denyut di ujung kepala kontolku.
Dengan enerjik, Carol menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Saya menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan saya memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Carol semakin liar. Carol terus menerus menghujamkan kontolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama saya pun ejakulasi. Carol duduk terkulai lemas dipangkuanku. Saya menggendong Carol ketempat tidur lalu kita berdua tertidur sambil berpelukan.
Sabtu
Telepon berbunyi jam 6:30. Saya memang meminta ke operator untuk dibangunkan jam 6:30 karena hari ini akan ada tur. Saya melihat Carol masih tidur telanjang bulat dalam pelukan saya. Dewi dan Henri tidur dikarpet beralaskan comforter tempat tidur. Mereka pun masih telanjang bulat. Rudi masih tidur dalam posisi sama. Saya membangunkan mereka semua untuk siap-siap pergi tur. Berhubung Dewi, Carol dan Henri belum pernah ke Bali, maka mereka dengan semangat langsung kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jam 8:00, kami berempat sudah di restaurant untuk sarapan. Rudi tidak ikut karena kepalanya masih sakit.
Tur menggunakan 2 buah bis. Tujuan pertama adalah ke Tanah Lot, lalu ke Ubud, Kintamani lalu menonton pertujukkan Kecak. Saat sedang menonton tari Kecak, saya menerima SMS dari Rudi
"Gue lagi di Kuta nih. Kenalan sama cewek bule. Cuantik banget. Sekarang lagi di kamar hotel si cewek di Kuta. Have fun ya di tur karena gue juga sedang having fun"
Saya tertawa melihatnya. Tur berjalan dengan menyenangkan. Saya memfoto banyak obyek yang menarik. Tak lupa saya memfoto Dewi dan Carol sebagai modelku. Jam 18:00, tur akhirnya tiba kembali di hotel. Semua peserta terlihat senang dan puas.
Di lobby hotel, Henri buru-buru naik taksi karena ia mau ke Legian untuk beli beberapa cinderamata yang tidak sempat dia beli. Dia menawarkan ke kita untuk ikut tapi kita semua capek. Akhirnya Henri pergi sendiri naik taksi ke Legian.
"Mau ngapain nih malam ini? Malam terakhir" tanya saya.
"Saya capek banget, pengen bubble bath" kata Carol.
"Saya juga, enak nih kalau berendam air hangat" kata Dewi.
"Kita bertiga berendam aja yuk" saya menawarkan dengan semangat. Dewi dan Carol tertawa lalu kita menuju ke kamar Carol.
Kamar Carol walaupun single bed tetapi kamarnya sedikit lebih besar karena terletak di ujung gang. Bath tub diisi air hangat oleh Carol dan dituang sabun bubble. Kita bertiga lalu membuka baju dan berendam ke bath tub. Ukuran bath tubnya terlalu pas untuk kita bertiga apalagi tubuh saya yang tinggi. Carol duduk dipangkuan saya sementara saya berselonjor di bath tub sedangkan Dewi duduk diujung bath tub.
Kontol saya yang berdiri sekali-sekali terlihat menyembul dari balik air. Payudara Carol pun terlihat setengah menyembul dari balik air. Dewi terlihat sedang menikmati air hangat. Ia mengikat rambutnya keatas. Kaki kanan saya menyelip ketengah kaki Dewi dan sekali-sekali saya menggelitik selangkangan Dewi dengan jempol kaki. Dewi kegelian lalu meremas biji saya. Carol tertawa-tawa melihat tingkah kita berdua.
Tangan kiri saya pun mulai meremas payudara Carol dengan gemas. Carol mulai memejamkan matanya menikmati remasan tanganku sementara tangan kanannya dengan perlahan mengocok kontolku. Gairah saya kembali bangkit, saya menarik Carol keatas dan medudukkannya diujung bath tub. Saya membuka kakinya dan mulai menjilat vaginanya. Saya dalam posisi nungging didepan Dewi.
Dewi kemudian menyelinapkan tangannya dari antara kakiku dan meremas kontolku. Wah nikmat sekali rasanya merasakan tangan Dewi yang mengocok kontolku sambil menjilat vagina Carol. Tiba-tiba kenikmatan saya semakin bertambah saat Dewi membuka lipatan pantatku danmenjilat anusku, gairahku terasa meningkat dengan pesat dan saya serasa seperti terbang di awang-awang. Masih dalam posisi menungging, saya terus menjilat vagina dan anus Carol, Carol menikmati itu semua sambil meremas payudaranya.
"Balik dong badannya" kata Dewi.
Saya membalikkan tubuhku sehingga saya kembali berselonjoran di bath tub, Dewi membungkukkan tubuhnya dan mulai menghisap kontolku. Carol mengangkang didepan mukaku dan menyodorkan vaginanya ke mulutku. Langsung kembali saya jilat vaginanya. Posisi ini berlangsung sekitar 5 menit. Dewi kemudian mengangkang dipinggulku lalu memasukkan kontolku ke vaginanya.
Air dan buih meluap keluar bath tub saat Dewi mulai mengocok kontolku dalam vaginanya. Carol pun memerosotkan tubuhnya sehingga ia duduk diatas perutku dan saya bisa mencium payudaranya. Tangan Dewi meraih ke punggung Carol lalu memijit punggung Carol. Carol tersenyum saat dipijit Dewi. Kemudian dengan nakalnya tangan Dewi menyusuri punggung dan pantat Carol lalu menyelinapkan tangannya ke vagina Carol. Carol buru-buru mengangkat pantatnya dan berkata
"Aduh maaf Dewi, tapi saya belum pernah bercinta dengan wanita" kata Carol.
"Just go with the flow, jangan dilawan" kata Dewi.
Saya mendudukkan kembali Carol di perutku lalu kembali mencium payudaranya. Mata Carol terpejam dengan erat saat tangan Dewi mulai masuk ke selangkangannya dan memainkan klitorisnya. Carol menggigit bibirnya tiap kali jari Dewi menyentuh vaginanya. Tak lama tangan Dewi tidak lagi berada di vagina Carol karena Dewi sendiri sudah semakin liar menggoyang pinggulnya. Carol rebahan di sampingku lalu memeluk tubuhku sambil menyaksikan Dewi yang bagaikan kuda liar beraksi diatas kontolku. Beberapa menit kemudian saya ejakulasi bersamaan dengan Dewi. Setelah seluruh peju saya keluar dalam vagina Dewi, Dewi keluar dari bath tub lalu membersihkan vaginanya kemudian kembali masuk ke bath tub.
Carol belum mendapat giliran. Saya meminta Carol keluar dari bath tub lalu nungging dengan bersandar pada wastafel. Payudara Carol yang besar terlihat menggelantung dengan indah. Saya berdiri dibelakang Carol lalu mulai menyetubuhinya. Carol mendesah-desah dengan penuh nikmat saat kontoku keluar masuk vaginanya. Dewi ikut keluar dari bath tub lalu jongkok dibawah Carol. Ia meraih payudara Carol dam mulai meremasnya. Mulut Carol terbuka lebar menikmati kocokan dari kontol dan remasan dari Dewi.
Tubuh kami bertiga yang basah dan penuh sabun membuat suasana menjadi tambah erotis. Dengan rakus, Dewi melahap kedua buah dada Carol dan kelihatannya Carol sudah mulai terbuka dengan Dewi. Ia membalas dengan membelai-belai kepala Dewi. Karena pegal dengan posisi ini, saya minta mengubah posisi. Saya menarik Carol dan Dewi keluar dari kamar mandi. Carol saya dudukkan ditepi tempat tidur. Kakinya saya buka lebar dan kembali kontolku menghunjam ke vaginanya. Dewi tak kalah asyik, ia berbaring di sebelah Carol dan perlahan mulai mencium bibir Carol. Carol tidak beraksi dan membiarkan Dewi mencium bibir sambil meremas payudaranya.
Beberapa menit berlalu dan Carol mulai membalas ciuman Dewi. Keduanya saling berpagutan dan french kiss. Dewi lalu berlutut diatas muka Carol dan menyodorkan vaginanya ke Carol. Carol meremas pantat Dewi dan mulai menjilat vagina Dewi. Nafas Dewi terdengar memburu menahan nafsu. Pemandangan indah ini membuat saya semakin bergairah sehingga saya ejakulasi. Carol rupanya telah orgasme berkali-kali saat disetubuhi di kamar mandi dan ketika sedang menjilat vagina Dewi.
*****
Malam itu, saya, Carol dan Dewi kembali bersetubuh. Kami sempat beristirahat sebentar dan kembali bersetubuh ketika Henri dan Rudi sudah kembali. Malam di Bali yang sungguh indah. Hari Minggu, kami semuanya terpaksa berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.
Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Dewi duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan ditempat tidur dengan lemas.
Tiba-tiba telepon berbunyi..
"Halo, ini Henri, sudah tidur kalian?" tanya Henri.
"Belum, kita lagi bersenang-senang. Ada Dewi disini" jawab saya.
"Wah, habis seks ya?" tanya Henri dengan semangat.
"Hehehe, begitulah. Kamu tidur ya? Atau jangan-jangan habis seks dengan Carol" tanya saya menduga-duga.
"Saya ditempat Carol. Saya ketempat kalian deh" kata Henri.
Waduh, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Carol. Saya menceritakan ke Dewi percakapan tadi. Dewi tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu bel kamar berbunyi dan saya bukakan. Tampak Henri mengenakan celana pendek dan kaos sedangkan Carol mengenakan kaos tidur yang panjang hingga ke dengkul. Dari balik bajunya terlihat ia tidak memakai BH.
"Wah, kalian abis pesta pora nih" kata Henri sambil tertawa melihat saya yang telanjang dan Rudi yang juga telanjang tapi tidak sadarkan diri.
"Kamu juga nih abis pesta dengan Carol" kata saya. Carol pun ikut tertawa. Mata Carol terus tertuju pada kontolku yang sudah berdiri.
"Mana Dewi?" tanya Henri.
"Di kamar mandi" jawabku.
Henri mengetuk pintu kamar mandi lalu masuk kedalam. Terdengar suara Dewi dan Henri tertawa-tawa kemudian hening.
"Kelihatannya mereka sudah mulai" kata saya kepada Carol.
Carol menghampiri diriku lalu mencium bibirku. Saya langsung membalasnya dan kita saling berpagutan. Tanganku mulai mengangkat kaos yang dipakai Carol dan membukanya. Kemudian saya melihat tubuh Carol yang telanjang bulat. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya.
Dengan gemas, saya menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Carol. Carol meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Carol dan ke vaginanya. Carol mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah saya menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Carol. Syukurlah Carol masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Saya membuka bibir vagina Carol dan menyedot vaginanya. Carol mengerang dengan penuh nikmat.
Puas melahap vaginanya, saya mengangkat tubuh Carol. Kaki Carol melingkar dipinggangku dan saya memasukkan kontolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, saya menyandarkan punggung Carol ke dinding lalu saya mulai menggenjot Carol. Payudara Carol yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya saya mencium bibirnya yang merah dan mungil. Benar-benar gemas aku dibuatnya.
Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Dewi yang melenguh. Carol pun ikut melenguh tiap kali kontol saya menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Carol sambil menyetubuhinya. Saya duduk di kursi dan Carol duduk dipangkuanku menghadap saya. Vagina Carol terasa mendenyut-denyut di ujung kepala kontolku.
Dengan enerjik, Carol menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Saya menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan saya memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Carol semakin liar. Carol terus menerus menghujamkan kontolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama saya pun ejakulasi. Carol duduk terkulai lemas dipangkuanku. Saya menggendong Carol ketempat tidur lalu kita berdua tertidur sambil berpelukan.
Sabtu
Telepon berbunyi jam 6:30. Saya memang meminta ke operator untuk dibangunkan jam 6:30 karena hari ini akan ada tur. Saya melihat Carol masih tidur telanjang bulat dalam pelukan saya. Dewi dan Henri tidur dikarpet beralaskan comforter tempat tidur. Mereka pun masih telanjang bulat. Rudi masih tidur dalam posisi sama. Saya membangunkan mereka semua untuk siap-siap pergi tur. Berhubung Dewi, Carol dan Henri belum pernah ke Bali, maka mereka dengan semangat langsung kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jam 8:00, kami berempat sudah di restaurant untuk sarapan. Rudi tidak ikut karena kepalanya masih sakit.
Tur menggunakan 2 buah bis. Tujuan pertama adalah ke Tanah Lot, lalu ke Ubud, Kintamani lalu menonton pertujukkan Kecak. Saat sedang menonton tari Kecak, saya menerima SMS dari Rudi
"Gue lagi di Kuta nih. Kenalan sama cewek bule. Cuantik banget. Sekarang lagi di kamar hotel si cewek di Kuta. Have fun ya di tur karena gue juga sedang having fun"
Saya tertawa melihatnya. Tur berjalan dengan menyenangkan. Saya memfoto banyak obyek yang menarik. Tak lupa saya memfoto Dewi dan Carol sebagai modelku. Jam 18:00, tur akhirnya tiba kembali di hotel. Semua peserta terlihat senang dan puas.
Di lobby hotel, Henri buru-buru naik taksi karena ia mau ke Legian untuk beli beberapa cinderamata yang tidak sempat dia beli. Dia menawarkan ke kita untuk ikut tapi kita semua capek. Akhirnya Henri pergi sendiri naik taksi ke Legian.
"Mau ngapain nih malam ini? Malam terakhir" tanya saya.
"Saya capek banget, pengen bubble bath" kata Carol.
"Saya juga, enak nih kalau berendam air hangat" kata Dewi.
"Kita bertiga berendam aja yuk" saya menawarkan dengan semangat. Dewi dan Carol tertawa lalu kita menuju ke kamar Carol.
Kamar Carol walaupun single bed tetapi kamarnya sedikit lebih besar karena terletak di ujung gang. Bath tub diisi air hangat oleh Carol dan dituang sabun bubble. Kita bertiga lalu membuka baju dan berendam ke bath tub. Ukuran bath tubnya terlalu pas untuk kita bertiga apalagi tubuh saya yang tinggi. Carol duduk dipangkuan saya sementara saya berselonjor di bath tub sedangkan Dewi duduk diujung bath tub.
Kontol saya yang berdiri sekali-sekali terlihat menyembul dari balik air. Payudara Carol pun terlihat setengah menyembul dari balik air. Dewi terlihat sedang menikmati air hangat. Ia mengikat rambutnya keatas. Kaki kanan saya menyelip ketengah kaki Dewi dan sekali-sekali saya menggelitik selangkangan Dewi dengan jempol kaki. Dewi kegelian lalu meremas biji saya. Carol tertawa-tawa melihat tingkah kita berdua.
Tangan kiri saya pun mulai meremas payudara Carol dengan gemas. Carol mulai memejamkan matanya menikmati remasan tanganku sementara tangan kanannya dengan perlahan mengocok kontolku. Gairah saya kembali bangkit, saya menarik Carol keatas dan medudukkannya diujung bath tub. Saya membuka kakinya dan mulai menjilat vaginanya. Saya dalam posisi nungging didepan Dewi.
Dewi kemudian menyelinapkan tangannya dari antara kakiku dan meremas kontolku. Wah nikmat sekali rasanya merasakan tangan Dewi yang mengocok kontolku sambil menjilat vagina Carol. Tiba-tiba kenikmatan saya semakin bertambah saat Dewi membuka lipatan pantatku danmenjilat anusku, gairahku terasa meningkat dengan pesat dan saya serasa seperti terbang di awang-awang. Masih dalam posisi menungging, saya terus menjilat vagina dan anus Carol, Carol menikmati itu semua sambil meremas payudaranya.
"Balik dong badannya" kata Dewi.
Saya membalikkan tubuhku sehingga saya kembali berselonjoran di bath tub, Dewi membungkukkan tubuhnya dan mulai menghisap kontolku. Carol mengangkang didepan mukaku dan menyodorkan vaginanya ke mulutku. Langsung kembali saya jilat vaginanya. Posisi ini berlangsung sekitar 5 menit. Dewi kemudian mengangkang dipinggulku lalu memasukkan kontolku ke vaginanya.
Air dan buih meluap keluar bath tub saat Dewi mulai mengocok kontolku dalam vaginanya. Carol pun memerosotkan tubuhnya sehingga ia duduk diatas perutku dan saya bisa mencium payudaranya. Tangan Dewi meraih ke punggung Carol lalu memijit punggung Carol. Carol tersenyum saat dipijit Dewi. Kemudian dengan nakalnya tangan Dewi menyusuri punggung dan pantat Carol lalu menyelinapkan tangannya ke vagina Carol. Carol buru-buru mengangkat pantatnya dan berkata
"Aduh maaf Dewi, tapi saya belum pernah bercinta dengan wanita" kata Carol.
"Just go with the flow, jangan dilawan" kata Dewi.
Saya mendudukkan kembali Carol di perutku lalu kembali mencium payudaranya. Mata Carol terpejam dengan erat saat tangan Dewi mulai masuk ke selangkangannya dan memainkan klitorisnya. Carol menggigit bibirnya tiap kali jari Dewi menyentuh vaginanya. Tak lama tangan Dewi tidak lagi berada di vagina Carol karena Dewi sendiri sudah semakin liar menggoyang pinggulnya. Carol rebahan di sampingku lalu memeluk tubuhku sambil menyaksikan Dewi yang bagaikan kuda liar beraksi diatas kontolku. Beberapa menit kemudian saya ejakulasi bersamaan dengan Dewi. Setelah seluruh peju saya keluar dalam vagina Dewi, Dewi keluar dari bath tub lalu membersihkan vaginanya kemudian kembali masuk ke bath tub.
Carol belum mendapat giliran. Saya meminta Carol keluar dari bath tub lalu nungging dengan bersandar pada wastafel. Payudara Carol yang besar terlihat menggelantung dengan indah. Saya berdiri dibelakang Carol lalu mulai menyetubuhinya. Carol mendesah-desah dengan penuh nikmat saat kontoku keluar masuk vaginanya. Dewi ikut keluar dari bath tub lalu jongkok dibawah Carol. Ia meraih payudara Carol dam mulai meremasnya. Mulut Carol terbuka lebar menikmati kocokan dari kontol dan remasan dari Dewi.
Tubuh kami bertiga yang basah dan penuh sabun membuat suasana menjadi tambah erotis. Dengan rakus, Dewi melahap kedua buah dada Carol dan kelihatannya Carol sudah mulai terbuka dengan Dewi. Ia membalas dengan membelai-belai kepala Dewi. Karena pegal dengan posisi ini, saya minta mengubah posisi. Saya menarik Carol dan Dewi keluar dari kamar mandi. Carol saya dudukkan ditepi tempat tidur. Kakinya saya buka lebar dan kembali kontolku menghunjam ke vaginanya. Dewi tak kalah asyik, ia berbaring di sebelah Carol dan perlahan mulai mencium bibir Carol. Carol tidak beraksi dan membiarkan Dewi mencium bibir sambil meremas payudaranya.
Beberapa menit berlalu dan Carol mulai membalas ciuman Dewi. Keduanya saling berpagutan dan french kiss. Dewi lalu berlutut diatas muka Carol dan menyodorkan vaginanya ke Carol. Carol meremas pantat Dewi dan mulai menjilat vagina Dewi. Nafas Dewi terdengar memburu menahan nafsu. Pemandangan indah ini membuat saya semakin bergairah sehingga saya ejakulasi. Carol rupanya telah orgasme berkali-kali saat disetubuhi di kamar mandi dan ketika sedang menjilat vagina Dewi.
*****
Malam itu, saya, Carol dan Dewi kembali bersetubuh. Kami sempat beristirahat sebentar dan kembali bersetubuh ketika Henri dan Rudi sudah kembali. Malam di Bali yang sungguh indah. Hari Minggu, kami semuanya terpaksa berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.
Arthur: Bali Bagus part 1
Di bulan Juli 2004, Saya dan Rudi berangkat ke Bali untuk menghadiri seminar investasi yang diadakan oleh sebuah perusahaan sekuritas ternama di Indonesia. Seminar diadakan di sebuah hotel megah di Nusa Dua. Seminar ini tak hanya mengundang peserta dalam negeri tetapi juga peserta dari luar negeri. Rudi adalah teman baik saya dari SMA, dan kebetulan sekarang kita bekerja di satu perusahaan. Bersama Rudi, dari SMA kita telah banyak mengeksplorasi tentang wanita dan seks. Rudi is the master in seducing women. Nama saya Arthur dan ini kisahku.
Selasa
Saya dan Rudi telah check in di hotel tempat seminar diadakan. Kami diberi satu kamar untuk berdua. Waktu menunjukkan pukul 13 siang, kami memutuskan untuk menyewa mobil dan pergi jalan-jalan ke Kuta. Saya banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto obyek yang menarik, sedangkan Rudi lebih senang keluar masuk toko mencari souvenir.
Rabu
Jam 8 pagi seminar telah dimulai. Pesertanya cukup banyak, saya taksir ada sekitar 80 orang. Untuk hari ini akan ada 4 session. Saya melihat makalah seminar cukup banyak dan menarik. Sambil mendengarkan seminar, tak lupa saya mencari-cari yang cantik. Mata saya tertuju pada seorang wanita Chinese yang cantik berambut panjang yang duduk 1 meter dari saya. Rambutnya di beri high light warna merah tua. Ia mengenakan blazer dan rok selutut berwarna biru tua. Sekali-sekali ia menguap lalu minum kopi. Selesai session pertama, ada istirahat 15 menit. Saya memakai kesempatan ini untuk kenalan dengan wanita itu.
"Bagus ya topiknya tadi" kata saya membuka pembicaraan.
"Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya"
"Nama saya Arthur" kata saya sambil memberikan kartu namaku
"Oh iya, saya Dewi" katanya sambil mengeluarkan kartu namanya.
Rupanya Dewi bekerja di perusahaan sekuritas saingan perusahaan tempat saya bekerja
"Kamu sendiri saja ke seminar ini?" tanya saya.
"Iya, tadinya teman saya mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda"
Tak lama Rudi menghampiri saya diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese.
"Arthur, kenalin nih teman saya dari Singapore. Dulu saya kuliah bareng dengannya" kata Rudi sambil menunjuk ke pria itu.
"Halo, saya Arthur"
"Saya Henry" kata si pria.
"Saya Carol" kata si wanita.
Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Henry dan Carol bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Carol manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Dewi, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Dewi agak-agak nakal sehingga saya sempat berpikir ia akan mudah saya ajak tidur.
Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir jam 12 siang. Saya, Rudi, Henry, Carol dan Dewi makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore.
"Arthur, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Saya sudah bosan dengan makanan hotel" tanya Henry.
"Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant" sahut saya. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam.
Kamis
Seminar pun kembali dimulai jam 8 pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, saya menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Dewi terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih. Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Carol pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Carol ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock Café lalu makan malam ke Warung Made.
Jum'at
Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir jam 4 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Carol, Henry, Dewi dan Rudi sibuk berbelanja. Dewi rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Carol terlihat kecil mungil karena saya dan Rudi tingginya 185 cm, Henry sekitar 180 cm dan Dewi sekitar 170 cm.
Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian.
Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, saya terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Rudi kelihatannya sudah mabuk berat, Dewi dan Carol mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Rudi yang mabuk.
Saya memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, saya membopong Rudi keluar, Carol bersandar pada Dewi dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Rudi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Dewi, Carol dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Rudi.
Setiba di hotel, saya menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali saya bopong Rudi. Carol berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Dewi kelihatannya biasa saja padahal saya tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan saya menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 3, Henri dan Carol keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Dewi berseru sambil membuka-buka tasnya
"Shit, kunci kartu gue mana ya?"
"Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club" kata saya.
"Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis" ujar Dewi.
"Telepon dari kamar saya saja" saya menawarkan.
Pintu lift terbuka di lantai 4, kembali saya membopong Rudi yang sudah tak sadarkan diri, Dewi membantu saya membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, saya langsung menjatuhkan Rudi di tempat tidur. Dewi membuka pintu balkon dan melihat keluar
"Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut"
"Lumayanlah, kecil-kecilan" kata saya sekenanya.
Saya berdiri di belakang Dewi lalu memegang kedua bahunya sedangkan Dewi tetap melihat kearah laut.
"Enak ya mendengar suara ombak" kata Dewi.
Dewi lalu merapatkan punggungnya ke dada saya dan saya merangkul Dewi dari belakang. Dengan perlahan, saya mencium kepala Dewi lalu turun ke kuping kiri. Dewi mendongakkan kepalanya sehingga saya bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Dewi menoleh ke saya lalu mencium bibirku.
"Ummhh Arthur, you are so sexy" kata Dewi.
Sambil tetap merangkul Dewi, tangan saya menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan saya mulai menjelajahi seluruh pantat Dewi yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal. Tak henti-hentinya Dewi melenguh. Tangan Dewi pun ikut meremas kontolku dari balik celana. Lalu saya menarik Dewi kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur.
Tangan Dewi dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan saya langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Dewi yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas saya meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Dewi memburu dengan cepat apalagi saat saya mulai beralih ke vaginanya. Dewi bagaikan kuda liar saat klitorisnya saya jilat. Tak henti-hentinya saya menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Saya membalikkan tubuh Dewi untuk bergaya 69.
Di pantat kiri Dewi ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, saya tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Dewi menggenggam kontolku dan mulai menghisapnya. Saya pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Dewi terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus saya tahan pantatnya dengan kedua tangan saya. Tiba-tiba Dewi melepaskan genggaman tangannya dari kontol saya dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.
Kemudian Dewi nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Rudi. Saya mengikuti kemauannya, saya merenggangkan kakinya dan mengarahkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah saya setubuhi Dewi yang seksi. Dewi rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Rudi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Rudi. Dewi mengeluarkan kontol Rudi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas kontol Rudi.
Saya memperhatikan Dewi yang mulai mengulum kontol Rudi yang masih lemas sedangkan Rudi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap kontolnya. Tak henti-hentinya payudara Dewi saya remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Dewi kembali mengalami orgasme. Saya mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Dewi saya rentangkan dan kembali kontolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali kontol saya keluar masuk vagina Dewi.
Tujuh menit menggenjot Dewi, saya merasakan akan ejakulasi. Saya percepat gerakanku dan tak lama kontolku memuntahkan peju didalam vagina Dewi. Dengan terengah-engah saya mengeluarkan kontolku lalu menindih Dewi dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan saya baru menyadari ternyata Rudi sudah berdiri disamping kami
"Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan" kata Rudi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan.
"Tenang Rudi, kamu dapat giliran kok" kata Dewi sambil tertawa lalu menghampiri Rudi.
Sambil berlutut di tempat tidur, Dewi meremas kontol Rudi yang perlahan mulai berdiri. Rudi memejamkan matanya menikmati Dewi yang mulai menghisap kontolnya. Setelah puas menghisap kontol, Dewi berdiri ditempat tidur kemudian mencium Rudi. Dengan kasar Rudi menggendong Dewi sambil menciumnya. Kemudian Dewi dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Dewi. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Rudi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Dewi, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Dewi sambil berkata
"Satisfy me, bitch, suck my dick"
Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Dewi sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Dewi kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Saya kemudian berlutut didepan Dewi lalu menyodorkan kontolku. Dewi menyambut kontolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan kontolnya dalam vagina Dewi dengan keras, kontol saya otomatis ikut tersodok ke mulut Dewi. Tapi beberapa kali kuluman Dewi terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya. Tapi karena Dewi tidak protes, maka saya biarkan saja.
Bersambung...
Selasa
Saya dan Rudi telah check in di hotel tempat seminar diadakan. Kami diberi satu kamar untuk berdua. Waktu menunjukkan pukul 13 siang, kami memutuskan untuk menyewa mobil dan pergi jalan-jalan ke Kuta. Saya banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto obyek yang menarik, sedangkan Rudi lebih senang keluar masuk toko mencari souvenir.
Rabu
Jam 8 pagi seminar telah dimulai. Pesertanya cukup banyak, saya taksir ada sekitar 80 orang. Untuk hari ini akan ada 4 session. Saya melihat makalah seminar cukup banyak dan menarik. Sambil mendengarkan seminar, tak lupa saya mencari-cari yang cantik. Mata saya tertuju pada seorang wanita Chinese yang cantik berambut panjang yang duduk 1 meter dari saya. Rambutnya di beri high light warna merah tua. Ia mengenakan blazer dan rok selutut berwarna biru tua. Sekali-sekali ia menguap lalu minum kopi. Selesai session pertama, ada istirahat 15 menit. Saya memakai kesempatan ini untuk kenalan dengan wanita itu.
"Bagus ya topiknya tadi" kata saya membuka pembicaraan.
"Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya"
"Nama saya Arthur" kata saya sambil memberikan kartu namaku
"Oh iya, saya Dewi" katanya sambil mengeluarkan kartu namanya.
Rupanya Dewi bekerja di perusahaan sekuritas saingan perusahaan tempat saya bekerja
"Kamu sendiri saja ke seminar ini?" tanya saya.
"Iya, tadinya teman saya mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda"
Tak lama Rudi menghampiri saya diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese.
"Arthur, kenalin nih teman saya dari Singapore. Dulu saya kuliah bareng dengannya" kata Rudi sambil menunjuk ke pria itu.
"Halo, saya Arthur"
"Saya Henry" kata si pria.
"Saya Carol" kata si wanita.
Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Henry dan Carol bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Carol manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Dewi, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Dewi agak-agak nakal sehingga saya sempat berpikir ia akan mudah saya ajak tidur.
Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir jam 12 siang. Saya, Rudi, Henry, Carol dan Dewi makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore.
"Arthur, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Saya sudah bosan dengan makanan hotel" tanya Henry.
"Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant" sahut saya. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam.
Kamis
Seminar pun kembali dimulai jam 8 pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, saya menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Dewi terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih. Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Carol pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Carol ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock Café lalu makan malam ke Warung Made.
Jum'at
Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir jam 4 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Carol, Henry, Dewi dan Rudi sibuk berbelanja. Dewi rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Carol terlihat kecil mungil karena saya dan Rudi tingginya 185 cm, Henry sekitar 180 cm dan Dewi sekitar 170 cm.
Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian.
Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, saya terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Rudi kelihatannya sudah mabuk berat, Dewi dan Carol mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Rudi yang mabuk.
Saya memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, saya membopong Rudi keluar, Carol bersandar pada Dewi dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Rudi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Dewi, Carol dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Rudi.
Setiba di hotel, saya menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali saya bopong Rudi. Carol berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Dewi kelihatannya biasa saja padahal saya tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan saya menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 3, Henri dan Carol keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Dewi berseru sambil membuka-buka tasnya
"Shit, kunci kartu gue mana ya?"
"Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club" kata saya.
"Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis" ujar Dewi.
"Telepon dari kamar saya saja" saya menawarkan.
Pintu lift terbuka di lantai 4, kembali saya membopong Rudi yang sudah tak sadarkan diri, Dewi membantu saya membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, saya langsung menjatuhkan Rudi di tempat tidur. Dewi membuka pintu balkon dan melihat keluar
"Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut"
"Lumayanlah, kecil-kecilan" kata saya sekenanya.
Saya berdiri di belakang Dewi lalu memegang kedua bahunya sedangkan Dewi tetap melihat kearah laut.
"Enak ya mendengar suara ombak" kata Dewi.
Dewi lalu merapatkan punggungnya ke dada saya dan saya merangkul Dewi dari belakang. Dengan perlahan, saya mencium kepala Dewi lalu turun ke kuping kiri. Dewi mendongakkan kepalanya sehingga saya bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Dewi menoleh ke saya lalu mencium bibirku.
"Ummhh Arthur, you are so sexy" kata Dewi.
Sambil tetap merangkul Dewi, tangan saya menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan saya mulai menjelajahi seluruh pantat Dewi yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal. Tak henti-hentinya Dewi melenguh. Tangan Dewi pun ikut meremas kontolku dari balik celana. Lalu saya menarik Dewi kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur.
Tangan Dewi dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan saya langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Dewi yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas saya meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Dewi memburu dengan cepat apalagi saat saya mulai beralih ke vaginanya. Dewi bagaikan kuda liar saat klitorisnya saya jilat. Tak henti-hentinya saya menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Saya membalikkan tubuh Dewi untuk bergaya 69.
Di pantat kiri Dewi ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, saya tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Dewi menggenggam kontolku dan mulai menghisapnya. Saya pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Dewi terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus saya tahan pantatnya dengan kedua tangan saya. Tiba-tiba Dewi melepaskan genggaman tangannya dari kontol saya dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.
Kemudian Dewi nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Rudi. Saya mengikuti kemauannya, saya merenggangkan kakinya dan mengarahkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah saya setubuhi Dewi yang seksi. Dewi rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Rudi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Rudi. Dewi mengeluarkan kontol Rudi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas kontol Rudi.
Saya memperhatikan Dewi yang mulai mengulum kontol Rudi yang masih lemas sedangkan Rudi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap kontolnya. Tak henti-hentinya payudara Dewi saya remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Dewi kembali mengalami orgasme. Saya mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Dewi saya rentangkan dan kembali kontolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali kontol saya keluar masuk vagina Dewi.
Tujuh menit menggenjot Dewi, saya merasakan akan ejakulasi. Saya percepat gerakanku dan tak lama kontolku memuntahkan peju didalam vagina Dewi. Dengan terengah-engah saya mengeluarkan kontolku lalu menindih Dewi dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan saya baru menyadari ternyata Rudi sudah berdiri disamping kami
"Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan" kata Rudi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan.
"Tenang Rudi, kamu dapat giliran kok" kata Dewi sambil tertawa lalu menghampiri Rudi.
Sambil berlutut di tempat tidur, Dewi meremas kontol Rudi yang perlahan mulai berdiri. Rudi memejamkan matanya menikmati Dewi yang mulai menghisap kontolnya. Setelah puas menghisap kontol, Dewi berdiri ditempat tidur kemudian mencium Rudi. Dengan kasar Rudi menggendong Dewi sambil menciumnya. Kemudian Dewi dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Dewi. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Rudi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Dewi, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Dewi sambil berkata
"Satisfy me, bitch, suck my dick"
Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Dewi sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Dewi kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Saya kemudian berlutut didepan Dewi lalu menyodorkan kontolku. Dewi menyambut kontolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan kontolnya dalam vagina Dewi dengan keras, kontol saya otomatis ikut tersodok ke mulut Dewi. Tapi beberapa kali kuluman Dewi terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya. Tapi karena Dewi tidak protes, maka saya biarkan saja.
Bersambung...
Arthur - fitness and sex makes you
Rabu Siang
Saya dan teman-teman kantor pergi ke Plaza Indonesia untuk makan siang di Spice Garden. Food court ini cukup penuh tapi beruntung kami dapat meja. Saya lalu pergi membeli makan sementara dua teman saya menunggu meja. Sambil antri untuk pesan sup buntut, saya memperhatikan banyak wanita-wanita cantik yang sedang makan siang. Sang pelayan menanyakan saya mau pesan apa, saya jawab, "Sup buntut tapi jangan banyak tulang ya".
Setelah mendapat pesanan saya, saya masih harus antri lagi untuk membayar. Di sebelah kiri saya ada seorang wanita yang ikut antri untuk membayar. Awalnya saya tidak memperhatikannya karena sedang sibuk membalas SMS. Tiba-tiba nampan piring saya tersenggol dengan keras dan wanita sebelah saya menoleh ke arah saya.
"Aduh maaf Pak tidak sengaja"
"Tidak apa-apa," jawab saya sambil tersenyum. Saya perhatikan wajahnya ternyata cantik juga.
"Pesan sup buntut juga?" kata saya untuk memancing pembicaraan.
"Iya, sudah bosan makan yang lain" sahutnya.
"Saya Arthur"
"Halo, nama saya Siska (bukan nama asli)" jawabnya.
Antrian membayar di kasir berjalan dengan pelan, saya memakai kesempatan ini untuk ngobrol dengan Siska. Orangnya ramah dan periang. Tingginya sekitar 165 cm, dadanya lumayan besar dan pantatnya terlihat bulat dan indah dibalik rok yang dikenakan. Saya memperhatikan lebih seksama, ternyata wajahnya mirip Tessa Kaunang. Setelah membayar makanan, kami bertukar kartu nama, lalu saya menghampiri teman-teman saya yang sudah menunggu dengan wajah bete.
"Pantesan saja lama, keasyikan kenalan dengan cewek," ujar teman saya dengan sewot.
Jum'at Sore
Hari Jum'at sore, saya agak santai di kantor. Semua tugas sudah selesai dan tinggal diserahkan ke boss. Sambil menunggu jam 5 sore, saya teringat kembali ke wanita yang kenalan di Plaza Indonesia dua hari yang lalu. Siapa ya namanya? Saya bertanya dalam hati. Saya cari kartu namanya di dalam dompetku, untung ada! Lalu saya telepon nomor kantornya, setelah menunggu sejenak akhirnya ada yang mengangkat.
"Selamat sore, dengan Siska"
"Halo Siska, ini Arhur. Masih ingat nggak?"
"Ingat dong, kirain kamu sudah lupa dengan saya, nggak nelepon sama sekali"
"Maaf, habisan ada project yang due hari ini, jadi sibuk sekali. Ngomong-ngomong, mengganggu nggak saya telepon sekarang?"
"Oh tidak sama sekali, lagi nyantai nih. Kan sudah mau weekend"
"Ada acara apa hari Sabtu besok? Mau nonton nggak?" saya menawarkan.
"Besok pagi sampai siang, saya ada acara kawinan saudara. Pengennya sih besok sore mau fitness dan berenang, sudah seminggu saya nggak olah raga. Olah raga aja yuk, mau nggak?" kata Siska.
"Boleh juga, dimana dan jam berapa?"
"Di aparteman saya aja di **** jam 4 sore ya"
"OK, besok sore saya kesana"
Kami lalu bertukar nomor handphone lalu mengakhiri pembicaran ditelepon.
Sabtu Sore
Jam 15:45 saya tiba di gerbang kompleks aparteman Siska. Apartemannya sangat mewah sehingga keamanan cukup ketat. Petugas satpam dengan ramah menanyakan saya mau kemana, saya jawab ke aparteman Siska unit *** di tower ***. Satpam mengkonfirmasi nama Siska dan saya diijinkan masuk.
Di lobby kembali saya ditanya satpam mau ke lantai berapa lalu saya diijinkan untuk masuk ke lift. Dalam hati saya terkagum-kagum dengan system keamanan yang ekstra ketat, saya bayangkan pasti banyak konglomerat atau ekspatriat yang tinggal di sini.
Akhirnya saya sampai depan unit Siska. Saya tekan bel dan menunggu lalu pintu terbuka. Siska tersenyum dengan lebar dan mempersilakan saya masuk.
"Halo, susah nggak kemari?"
"Oh tidak, saya sering kok ke daerah sini, makanya bisa langsung tahu aparteman kamu dimana"
Sore itu Siska mengenakan celana pendek selutut yang longgar dengan kaos longgar bertuliskan Bali. Rambutnya yang pendek nampak sedikit acak-acakan.
"Sorry ya, saya baru bangun 30 menit yang lalu. Abisan capek banget dari pulang kawinan saudara"
"Nggak apa-apa, kamu kelihatan cantik kok" sahut saya.
"Macak cih?" goda Siska sambil menuangkan air es kepada saya.
"Aparteman kamu besar sekali, ada berapa kamar?" tanya saya.
"Ada dua kamar. Dulu saya tinggal dengan Adik saya. Sekarang Adik saya kuliah di Australia, lalu kamarnya saya pakai untuk ruang kerja saya," jawab Siska sambil menunjuk ke kamar yang pintunya terbuka.
Saya mengintip ke dalam kamar itu dan terlihat meja dan peralatan untuk menggambar, komputer dan printer dan beberapa gambar hasil karya Siska yang ditempel di dinding. Di dinding digantung foto keluarga Siska; kedua orang tuanya, satu Adik perempuan dan Kakak laki-laki. Saya langsung mengenali Ayah Siska yaitu seorang direktur utama di sebuah bank swasta.
"Saya ganti baju dulu ya, silakan lihat-lihat," kata Siska.
"Oke"
Saya melihat-lihat gambar interior design yang dibuat oleh Siska. Setelah puas, saya keluar dari kamar kerja Siska dan kembali ke ruang tamu. Kamar kerja Siska bersebelahan dengan kamar tidur Siska. Saat melewati kamar Siska, pintu kamarnya terbuka sedikit dan saya bisa melihat si Siska sedang berdiri depan lemari sambil memakai bicycle pant warna hitam. Dadanya yang polos sedang ia lap dengan handuk kecil. Terlihat payudaranya yang putih dan besar dengan puting berwarna pink. Kontan saya langsung ereksi melihat pemandangan indah ini. Siska lalu meraih baju senamnya berwarna merah menyala dan mengenakannya. Saya langsung bergegas menjauh dari pintu supaya tidak ketahuan ngintip.
Lima menit kemudian Siska keluar dari kamar sambil menenteng tas olah raga. Siska mengenakan baju senam yang mirip dengan baju untuk berenang dan dibagian bawah ia memakai bicycle pant warna hitam. Samar-samar terlihat bayangan putingnya dibalik baju senamnya yang ketat.
"Kamu bawa celana berenang kan?" tanya Siska.
"Bawa dong, yuk kita pergi" jawab saya.
Kami turun ke basement dan berjalan keluar menyusuri taman yang luas. Kolam renangnya cukup besar, tampak beberapa orang dewasa sedang berenang dan anak-anak dengan suara riang sedang bermain di kolam renang yang kecil. Kami masuk ketempat fitness yang cukup modern dan lengkap, tidak kalah dengan tempat saya fitness.
10 menit kemudian kami mulai fitness, diawali dengan pemanasan di treadmill selama 30 menit. Sekali-sekali saya melirik ke arah dada Siska yang menggoyang-goyang mengikuti irama larinya. Saya berusaha untuk tidak berpikiran kotor agar tidak ereksi karena bisa terlihat jelas dibalik celana fitness saya yang longgar. Selesai treadmill, saya mulai dengan angkat beban. Siska memulai dengan leg-curl, diikuti sit-up, bench-press dan dumbell.
Setiap gerakan Siska terlihat sangat erotis. Nafasnya yang tersengal-sengal setiap kali mengangkat dumbel dan keringatnya yang menetes di dahi hingga membasahi dada sampai ke pantat. Baju senamnya yang lembab dan ketat membuat lekuk-lekuk tubuhnya terlihat semakin jelas. It's so beautiful. Saya tetap berusaha untuk menahan pikiran saya karena saya tahu pasti akan langsung ereksi. Selesai angkat beban, Siska mengajak saya berenang. Saya mengiyakan dan pergi ke locker untuk ganti baju.
Setelah ganti baju, saya keluar dari locker dan menunggu Siska dipinggir kolam renang. Pikiran saya tiba-tiba kembali ke saat melihat Siska ganti baju, tiba-tiba kontol saya langsung berdiri tegak dan terlihat menggelembung dibalik celana renang speedo saya yang ketat. Oh shit, untung sudah jam 17:45 sehingga suasana sudah agak remang-remang dan sudah tidak banyak orang yang berenang jadi tidak ada yang memperhatikan ada yang sedang ereksi, hehehe. Belum reda ereksi saya, Siska tiba-tiba mencolek dari belakang.
"Sorry, lama ya nunggu"
"Oh tidak kok," jawab saya.
Mata Siska langsung tertuju ke kontol saya yang masih ereksi dan saya melihat mukanya sedikit memerah tapi ia diam saja. Saya memperhatikan tubuh Siska yang sempurna terbalut baju renang yang ketat. Pantatnya yang bulat terlihat begitu indah ditambah dengan payudaranya yang saya yakin pasti berukuran 36B. Baju berenangnya yang sempit terlihat tidak bisa menahan payudara Siska yang besar itu. Kami lalu berjalan ke tepi kolam lalu mulai berenang. Kami berenang kira-kira 20 lap tanpa henti lalu istirahat dipinggir kolam.
"Kuat juga ya kamu" puji saya ke Siska.
"Biasa aja kok, mungkin karena saya rutin fitness dan berenang" jawab Siska.
Kami ngobrol-ngobrol sebentar dan kembali berenang 10 lap lalu kembali ke locker. Sebelum berjalan ke locker, Siska berpesan untuk mandi di kamar saja jangan ditempat fitness. Saya lalu hanya mengenakan kaos dan celana fitness untuk menutupi celana renang saya yang basah, sedangkan Siska masih mengenakan baju berenang mengenakan kaos putih dan menutupi kakinya dengan kain batik yang dililit dipinggangnya. Tiba di unit Siska, Siska masuk ke kamarnya, tak lama ia keluar hanya mengenakan baju berenang sambil menenteng handuk.
"Kamu mandi duluan ya, di kamar saya saja" kata Siska.
"Kamu aja duluan, kamu nggak kedinginan?" jawab saya.
"Buka dulu deh kaos dan celana kamu biar saya keringkan di drying machine. Kamu nggak bawa baju ganti kan?" kata Siska sambil menyodorkan handuk.
Saya meraih handuk dari Siska dan Siska menarik tangan saya untuk masuk ke kamar. Kamar Siska rapih dan bersih.
"Sini kaos dan celana kamu biar saya keringkan," kata Siska.
Saya membuka kaos dan celana fitness sambil melirik ke arah Siska, kontol saya tanpa dikomando langsung berdiri setegak-tegaknya dibalik celana renang speedo. Sialnya, ujung kepala kontol saya menyembul sedikit keluar. Pikiran saya antara tengsin dan cuek. Siska langsung tertegun dan mukanya kembali memerah. Saya perhatikan putingnya perlahan-lahan mengeras dan menyembul dibalik baju renangnya.
"Besar amat Arthur" kata Siska dengan suara sedikit berbisik.
Saya mendekati Siska dengan perlahan dan tanpa disadari Siska mengulurkan tangannya dan meraba kontolku. Untuk beberapa saat saya membiarkan ia mengelus kontol saya, lalu saya mengelus pipi Siska dan menciumnya dengan lembut. Siska membalas mencium bibir saya dan kita saling berpagutan. Tangan Siska semakin agresif meremas kontol saya dan saya mulai meremas pantat Siska, terasa kenyal dan padat. Siska lalu melepaskan ciumannya dan mulai mencium leher saya, turun ke dada dan menjilat dada saya yang bidang. Kedua putting saya dijilat dan dihisap lalu Siska turun ke perut saya.
"Saya horny banget melihat cowok yang punya otot perut dan dada yang bidang dan tentu saja kontol yang besar" kata Siska sambil melirik ke arah saya dengan senyum yang menawan.
Siska menjilat otot-otot perut saya sementara tangannya menurunkan celana berenang saya. Kontol saya yang sudah tegang langsung loncat keluar di depan muka Siska. Siska memandangnya sejenak dan mulai menjilat kepala kontol saya lalu menjilat kedua buah biji saya dan mulai mengulum kontol saya. Oh my goodness, it feels so damn good. Kelihatannya dia mahir dalam mempermainkan lidahnya saat mengulum kontol saya. Semakin keras saya mengerang kenikmatan, semakin keras Siska menyedot kontol saya. Tak lama kemudian peju saya langsung muncrat keluar di dalam mulut Siska. Siska menelan semua peju saya tanpa sisa.
"Gila, enak banget Siska. Terus terang baru sekali ini saya dihisap seenak itu" puji saya.
"Itu belum seberapa" goda Siska.
Dengan gemas, saya menggendong Siska lalu merebahkannya ditempat tidur. Saya kembali cium bibir Siska. Puas french-kiss, saya turun ke dada Siska dan menjilat puting Siska dari balik baju berenangnya. Nafas Siska terdengar memburu menahan nafsu. Saya raih ikatan baju berenang dan membukanya lalu menurunkannya sampai keperut. Buah dada Siska yang besar langsung saya terkam dan hisap putingnya.
"Ohh.. Yes Arthur, enak banget, terus sayang" desah Siska
Saya tarik kebawah baju berenang Siska sampai ke kaki. Terlihat vagina Siska dengan bulu kemaluan yang dicukur rapih dan disisakan sedikit di atas vaginanya. Saya mengelus-elus pangkal paha Siska dan daerah selangkangannya.
"Lick me Arthur, lick me!!" kata Siska dengan tidak sabar
Tanpa diperintah dua kali, saya langsung berlutut dipinggir tempat tidur dan langsung melahap vagina Siska, saya buka bibir vaginanya dan menghipap klitorisnya yang rasanya sedikit asin dan tercium sedikit sisa air kolam renang. Siska menjerit dengan nikmat setiap kali saya gigit klitorisnya dan menjilat seluruh dinding vaginanya. Tidak luput dari jilatan saya adalah daerah anusnya. Seluruh tubuh Siska memang putih bersih bahkan sampai daerah anusnya.
Saya sering melihat daerah vagina dan daerah anus wanita yang warna hitam atau coklat tua dan saya bisa langsung hilang nafsu saya. Tapi Siska terlihat putih bersih dan menggairahkan. Siska semakin menggelinjang saat saya jilat anusnya. Ia lalu melepaskan dirinya dari peganganku lalu berlutut ditempat tidur kemudian mencium bibir saya. Saya angkat Siska dan Siska langsung mengalungkan kedua kakinya dipinggangku sehingga kontolku bisa dengan mudah melesak masuk ke dalam vagina Siska.
"Aahh Arthur, enak sekali sayang, fuck me.. Fuck me now" seru Siska
Sambil berciuman, Siska mengayunkan pantatnya naik turun. Semakin keras Siska mengayun, semakin keras kontol saya masuk ke dalam vagina Siska. Gairah saya semakin naik dan dengan gemas saya cium bibir Siska. Tangan Siska tetap merangkul di pundak saya agar tidak terjatuh dan saya menahan tubuh Siska dengan merangkul pinggangnya. Siska is really wild! Saya lalu mendekati dinding dan menyandarkan Siska didinding tapi masih dalam posisi menggendong dirinya lalu giliran saya yang bisa menggenjot Siska. Saya ayunkan pantat saya dengan keras ke tubuh Siska sehingga kontol saya menghujam lebih dalam ke vaginanya.
"Aarggh.. Harder! harder!" seru Siska
Saya menggenjot lebih keras. Semakin keras saya masukkan kontol ke dalam vagina Siska, semakin keras Siska menjerit diiringi bunyi tubuh Siska yang beradu kedinding. Siska lalu turun dari gendonganku, tanpa melepaskan kontol saya dari vaginanya, ia memutar badannya dan bersandar pada sandaran kursi meja riasnya. Kembali saya genjot Siska dengan penuh nafsu sambi meremas-remas payudaranya. Saya melihat ekspresi wajah Siska dari kaca di meja rias yang kelihatannya sungguh menikmati ML ini.
10 menit dalam posisi ini, Siska mengeluarkan kontol saya dan mendorong saya ketempat tidur. Saya tidur terlentang dan Siska jongkok di atas pinggang saya dan perlahan-lahan ia masukkan kontol saya dan kembali bertempur. Dengan enerjik ia menaikkan turunkan pantatnya sambil memutar-mutarnya. Keringat turun di atas dahi, dada dan selangkangannya. Siska memegang tangan saya agar dia tidak jatuh.
Siska menghentikan sebentar gerakannya lalu ia menjatuhkan badannya kesamping dan meminta saya untuk mengentot dari belakangnya. Siska rebahan ditempat tidur dan saya mengambil bantal dan menyelipkannya di bawah pinggul Siska sehingga pantatnya menjadi tinggi. Saya berlutut dibelakang Siska dan menjilat anusnya. Lalu saya masukkan jari telunjuk saya ke dalam anus Siska dan saya menjilat vagina Siska. Siska meronta-ronta kegelian dan menggelinjang. Lalu saya arahkan kontol saya ke anus Siska, tetapi Siska cepat-cepat menutupi anusnya dengan tangannya dan berkata.
"Jangan sayang, saya nggak mau disodomi".
Saya tersenyum dan saya masukkan kembali kontolku ke dalam vaginanya. Saya raih pantat Siska dan saya tekan kontol saya dengan kuat ke vaginanya. Siska berseru-seru dengan nikmat, tangannya menggapai ke ukiran kayu diujung tempat tidur dan mencengkeramnya. Payudaranya yang besar terlihat bergoyang kiri kanan. Saya terus memompa vagina Siska dengan kuat dan Siska memperketat pahanya sehingga kontol saya terasa semakin keras digenggam di dalam vaginanya.
Siska tiba-tiba berhenti dan berkata, "Sayang, jarinya masukin lagi dong ke anus. Tapi saya tetap tidak mau disodomi".
Saya tersenyum dalam hati, this girl is very wild. Saya genjot vagina Siska dan memasukkan jari telunjuk saya ke anusnya. Siska menggeliat dengan keras sambil menjerit kenikmatan. Kontol saya rasanya seperti dipijit-pijit di dalam vagina Siska. Menambah sensasi yang sangat nikmat. Selama 20 menit saya genjot vagian Siska dan mengocok anusnya dengan jari saya dan saya mulai klimaks.
"Saya mau keluar sayang"
"Iya, saya juga"
Saya lalu melenguh dengan keras saat peju saya keluar dalam vagina Siska yang hangat. Tubuh Siska mengejang dan Siska juga turut melenguh dengan nikmat kemudian ia menjatuhkan dirinya. Saya mencabut kontolku dari vaginanya lalu rebahan disamping Siska. Siska naik ke dada saya dan menindih tubuhku. Kita berdua berpelukan dengan lemas. Keringat ditubuh kita bercampur jadi satu. Saya melirik ke jam, ternyata sudah 1.5 jam kita bersetubuh. Benar juga kata orang, apabila perempuan sering berenang maka daya seksnya juga kuat. Terbukti juga ucapan itu.
Setelah istirahat, kami berdua mandi dan kembali bersetubuh malam itu hingga 3 kali. Malam itu saya nginap dirumah Siska. Hari minggu kami kembali bersetubuh dan di sore hari saya baru pulang ke rumah.
TAMAT
Saya dan teman-teman kantor pergi ke Plaza Indonesia untuk makan siang di Spice Garden. Food court ini cukup penuh tapi beruntung kami dapat meja. Saya lalu pergi membeli makan sementara dua teman saya menunggu meja. Sambil antri untuk pesan sup buntut, saya memperhatikan banyak wanita-wanita cantik yang sedang makan siang. Sang pelayan menanyakan saya mau pesan apa, saya jawab, "Sup buntut tapi jangan banyak tulang ya".
Setelah mendapat pesanan saya, saya masih harus antri lagi untuk membayar. Di sebelah kiri saya ada seorang wanita yang ikut antri untuk membayar. Awalnya saya tidak memperhatikannya karena sedang sibuk membalas SMS. Tiba-tiba nampan piring saya tersenggol dengan keras dan wanita sebelah saya menoleh ke arah saya.
"Aduh maaf Pak tidak sengaja"
"Tidak apa-apa," jawab saya sambil tersenyum. Saya perhatikan wajahnya ternyata cantik juga.
"Pesan sup buntut juga?" kata saya untuk memancing pembicaraan.
"Iya, sudah bosan makan yang lain" sahutnya.
"Saya Arthur"
"Halo, nama saya Siska (bukan nama asli)" jawabnya.
Antrian membayar di kasir berjalan dengan pelan, saya memakai kesempatan ini untuk ngobrol dengan Siska. Orangnya ramah dan periang. Tingginya sekitar 165 cm, dadanya lumayan besar dan pantatnya terlihat bulat dan indah dibalik rok yang dikenakan. Saya memperhatikan lebih seksama, ternyata wajahnya mirip Tessa Kaunang. Setelah membayar makanan, kami bertukar kartu nama, lalu saya menghampiri teman-teman saya yang sudah menunggu dengan wajah bete.
"Pantesan saja lama, keasyikan kenalan dengan cewek," ujar teman saya dengan sewot.
Jum'at Sore
Hari Jum'at sore, saya agak santai di kantor. Semua tugas sudah selesai dan tinggal diserahkan ke boss. Sambil menunggu jam 5 sore, saya teringat kembali ke wanita yang kenalan di Plaza Indonesia dua hari yang lalu. Siapa ya namanya? Saya bertanya dalam hati. Saya cari kartu namanya di dalam dompetku, untung ada! Lalu saya telepon nomor kantornya, setelah menunggu sejenak akhirnya ada yang mengangkat.
"Selamat sore, dengan Siska"
"Halo Siska, ini Arhur. Masih ingat nggak?"
"Ingat dong, kirain kamu sudah lupa dengan saya, nggak nelepon sama sekali"
"Maaf, habisan ada project yang due hari ini, jadi sibuk sekali. Ngomong-ngomong, mengganggu nggak saya telepon sekarang?"
"Oh tidak sama sekali, lagi nyantai nih. Kan sudah mau weekend"
"Ada acara apa hari Sabtu besok? Mau nonton nggak?" saya menawarkan.
"Besok pagi sampai siang, saya ada acara kawinan saudara. Pengennya sih besok sore mau fitness dan berenang, sudah seminggu saya nggak olah raga. Olah raga aja yuk, mau nggak?" kata Siska.
"Boleh juga, dimana dan jam berapa?"
"Di aparteman saya aja di **** jam 4 sore ya"
"OK, besok sore saya kesana"
Kami lalu bertukar nomor handphone lalu mengakhiri pembicaran ditelepon.
Sabtu Sore
Jam 15:45 saya tiba di gerbang kompleks aparteman Siska. Apartemannya sangat mewah sehingga keamanan cukup ketat. Petugas satpam dengan ramah menanyakan saya mau kemana, saya jawab ke aparteman Siska unit *** di tower ***. Satpam mengkonfirmasi nama Siska dan saya diijinkan masuk.
Di lobby kembali saya ditanya satpam mau ke lantai berapa lalu saya diijinkan untuk masuk ke lift. Dalam hati saya terkagum-kagum dengan system keamanan yang ekstra ketat, saya bayangkan pasti banyak konglomerat atau ekspatriat yang tinggal di sini.
Akhirnya saya sampai depan unit Siska. Saya tekan bel dan menunggu lalu pintu terbuka. Siska tersenyum dengan lebar dan mempersilakan saya masuk.
"Halo, susah nggak kemari?"
"Oh tidak, saya sering kok ke daerah sini, makanya bisa langsung tahu aparteman kamu dimana"
Sore itu Siska mengenakan celana pendek selutut yang longgar dengan kaos longgar bertuliskan Bali. Rambutnya yang pendek nampak sedikit acak-acakan.
"Sorry ya, saya baru bangun 30 menit yang lalu. Abisan capek banget dari pulang kawinan saudara"
"Nggak apa-apa, kamu kelihatan cantik kok" sahut saya.
"Macak cih?" goda Siska sambil menuangkan air es kepada saya.
"Aparteman kamu besar sekali, ada berapa kamar?" tanya saya.
"Ada dua kamar. Dulu saya tinggal dengan Adik saya. Sekarang Adik saya kuliah di Australia, lalu kamarnya saya pakai untuk ruang kerja saya," jawab Siska sambil menunjuk ke kamar yang pintunya terbuka.
Saya mengintip ke dalam kamar itu dan terlihat meja dan peralatan untuk menggambar, komputer dan printer dan beberapa gambar hasil karya Siska yang ditempel di dinding. Di dinding digantung foto keluarga Siska; kedua orang tuanya, satu Adik perempuan dan Kakak laki-laki. Saya langsung mengenali Ayah Siska yaitu seorang direktur utama di sebuah bank swasta.
"Saya ganti baju dulu ya, silakan lihat-lihat," kata Siska.
"Oke"
Saya melihat-lihat gambar interior design yang dibuat oleh Siska. Setelah puas, saya keluar dari kamar kerja Siska dan kembali ke ruang tamu. Kamar kerja Siska bersebelahan dengan kamar tidur Siska. Saat melewati kamar Siska, pintu kamarnya terbuka sedikit dan saya bisa melihat si Siska sedang berdiri depan lemari sambil memakai bicycle pant warna hitam. Dadanya yang polos sedang ia lap dengan handuk kecil. Terlihat payudaranya yang putih dan besar dengan puting berwarna pink. Kontan saya langsung ereksi melihat pemandangan indah ini. Siska lalu meraih baju senamnya berwarna merah menyala dan mengenakannya. Saya langsung bergegas menjauh dari pintu supaya tidak ketahuan ngintip.
Lima menit kemudian Siska keluar dari kamar sambil menenteng tas olah raga. Siska mengenakan baju senam yang mirip dengan baju untuk berenang dan dibagian bawah ia memakai bicycle pant warna hitam. Samar-samar terlihat bayangan putingnya dibalik baju senamnya yang ketat.
"Kamu bawa celana berenang kan?" tanya Siska.
"Bawa dong, yuk kita pergi" jawab saya.
Kami turun ke basement dan berjalan keluar menyusuri taman yang luas. Kolam renangnya cukup besar, tampak beberapa orang dewasa sedang berenang dan anak-anak dengan suara riang sedang bermain di kolam renang yang kecil. Kami masuk ketempat fitness yang cukup modern dan lengkap, tidak kalah dengan tempat saya fitness.
10 menit kemudian kami mulai fitness, diawali dengan pemanasan di treadmill selama 30 menit. Sekali-sekali saya melirik ke arah dada Siska yang menggoyang-goyang mengikuti irama larinya. Saya berusaha untuk tidak berpikiran kotor agar tidak ereksi karena bisa terlihat jelas dibalik celana fitness saya yang longgar. Selesai treadmill, saya mulai dengan angkat beban. Siska memulai dengan leg-curl, diikuti sit-up, bench-press dan dumbell.
Setiap gerakan Siska terlihat sangat erotis. Nafasnya yang tersengal-sengal setiap kali mengangkat dumbel dan keringatnya yang menetes di dahi hingga membasahi dada sampai ke pantat. Baju senamnya yang lembab dan ketat membuat lekuk-lekuk tubuhnya terlihat semakin jelas. It's so beautiful. Saya tetap berusaha untuk menahan pikiran saya karena saya tahu pasti akan langsung ereksi. Selesai angkat beban, Siska mengajak saya berenang. Saya mengiyakan dan pergi ke locker untuk ganti baju.
Setelah ganti baju, saya keluar dari locker dan menunggu Siska dipinggir kolam renang. Pikiran saya tiba-tiba kembali ke saat melihat Siska ganti baju, tiba-tiba kontol saya langsung berdiri tegak dan terlihat menggelembung dibalik celana renang speedo saya yang ketat. Oh shit, untung sudah jam 17:45 sehingga suasana sudah agak remang-remang dan sudah tidak banyak orang yang berenang jadi tidak ada yang memperhatikan ada yang sedang ereksi, hehehe. Belum reda ereksi saya, Siska tiba-tiba mencolek dari belakang.
"Sorry, lama ya nunggu"
"Oh tidak kok," jawab saya.
Mata Siska langsung tertuju ke kontol saya yang masih ereksi dan saya melihat mukanya sedikit memerah tapi ia diam saja. Saya memperhatikan tubuh Siska yang sempurna terbalut baju renang yang ketat. Pantatnya yang bulat terlihat begitu indah ditambah dengan payudaranya yang saya yakin pasti berukuran 36B. Baju berenangnya yang sempit terlihat tidak bisa menahan payudara Siska yang besar itu. Kami lalu berjalan ke tepi kolam lalu mulai berenang. Kami berenang kira-kira 20 lap tanpa henti lalu istirahat dipinggir kolam.
"Kuat juga ya kamu" puji saya ke Siska.
"Biasa aja kok, mungkin karena saya rutin fitness dan berenang" jawab Siska.
Kami ngobrol-ngobrol sebentar dan kembali berenang 10 lap lalu kembali ke locker. Sebelum berjalan ke locker, Siska berpesan untuk mandi di kamar saja jangan ditempat fitness. Saya lalu hanya mengenakan kaos dan celana fitness untuk menutupi celana renang saya yang basah, sedangkan Siska masih mengenakan baju berenang mengenakan kaos putih dan menutupi kakinya dengan kain batik yang dililit dipinggangnya. Tiba di unit Siska, Siska masuk ke kamarnya, tak lama ia keluar hanya mengenakan baju berenang sambil menenteng handuk.
"Kamu mandi duluan ya, di kamar saya saja" kata Siska.
"Kamu aja duluan, kamu nggak kedinginan?" jawab saya.
"Buka dulu deh kaos dan celana kamu biar saya keringkan di drying machine. Kamu nggak bawa baju ganti kan?" kata Siska sambil menyodorkan handuk.
Saya meraih handuk dari Siska dan Siska menarik tangan saya untuk masuk ke kamar. Kamar Siska rapih dan bersih.
"Sini kaos dan celana kamu biar saya keringkan," kata Siska.
Saya membuka kaos dan celana fitness sambil melirik ke arah Siska, kontol saya tanpa dikomando langsung berdiri setegak-tegaknya dibalik celana renang speedo. Sialnya, ujung kepala kontol saya menyembul sedikit keluar. Pikiran saya antara tengsin dan cuek. Siska langsung tertegun dan mukanya kembali memerah. Saya perhatikan putingnya perlahan-lahan mengeras dan menyembul dibalik baju renangnya.
"Besar amat Arthur" kata Siska dengan suara sedikit berbisik.
Saya mendekati Siska dengan perlahan dan tanpa disadari Siska mengulurkan tangannya dan meraba kontolku. Untuk beberapa saat saya membiarkan ia mengelus kontol saya, lalu saya mengelus pipi Siska dan menciumnya dengan lembut. Siska membalas mencium bibir saya dan kita saling berpagutan. Tangan Siska semakin agresif meremas kontol saya dan saya mulai meremas pantat Siska, terasa kenyal dan padat. Siska lalu melepaskan ciumannya dan mulai mencium leher saya, turun ke dada dan menjilat dada saya yang bidang. Kedua putting saya dijilat dan dihisap lalu Siska turun ke perut saya.
"Saya horny banget melihat cowok yang punya otot perut dan dada yang bidang dan tentu saja kontol yang besar" kata Siska sambil melirik ke arah saya dengan senyum yang menawan.
Siska menjilat otot-otot perut saya sementara tangannya menurunkan celana berenang saya. Kontol saya yang sudah tegang langsung loncat keluar di depan muka Siska. Siska memandangnya sejenak dan mulai menjilat kepala kontol saya lalu menjilat kedua buah biji saya dan mulai mengulum kontol saya. Oh my goodness, it feels so damn good. Kelihatannya dia mahir dalam mempermainkan lidahnya saat mengulum kontol saya. Semakin keras saya mengerang kenikmatan, semakin keras Siska menyedot kontol saya. Tak lama kemudian peju saya langsung muncrat keluar di dalam mulut Siska. Siska menelan semua peju saya tanpa sisa.
"Gila, enak banget Siska. Terus terang baru sekali ini saya dihisap seenak itu" puji saya.
"Itu belum seberapa" goda Siska.
Dengan gemas, saya menggendong Siska lalu merebahkannya ditempat tidur. Saya kembali cium bibir Siska. Puas french-kiss, saya turun ke dada Siska dan menjilat puting Siska dari balik baju berenangnya. Nafas Siska terdengar memburu menahan nafsu. Saya raih ikatan baju berenang dan membukanya lalu menurunkannya sampai keperut. Buah dada Siska yang besar langsung saya terkam dan hisap putingnya.
"Ohh.. Yes Arthur, enak banget, terus sayang" desah Siska
Saya tarik kebawah baju berenang Siska sampai ke kaki. Terlihat vagina Siska dengan bulu kemaluan yang dicukur rapih dan disisakan sedikit di atas vaginanya. Saya mengelus-elus pangkal paha Siska dan daerah selangkangannya.
"Lick me Arthur, lick me!!" kata Siska dengan tidak sabar
Tanpa diperintah dua kali, saya langsung berlutut dipinggir tempat tidur dan langsung melahap vagina Siska, saya buka bibir vaginanya dan menghipap klitorisnya yang rasanya sedikit asin dan tercium sedikit sisa air kolam renang. Siska menjerit dengan nikmat setiap kali saya gigit klitorisnya dan menjilat seluruh dinding vaginanya. Tidak luput dari jilatan saya adalah daerah anusnya. Seluruh tubuh Siska memang putih bersih bahkan sampai daerah anusnya.
Saya sering melihat daerah vagina dan daerah anus wanita yang warna hitam atau coklat tua dan saya bisa langsung hilang nafsu saya. Tapi Siska terlihat putih bersih dan menggairahkan. Siska semakin menggelinjang saat saya jilat anusnya. Ia lalu melepaskan dirinya dari peganganku lalu berlutut ditempat tidur kemudian mencium bibir saya. Saya angkat Siska dan Siska langsung mengalungkan kedua kakinya dipinggangku sehingga kontolku bisa dengan mudah melesak masuk ke dalam vagina Siska.
"Aahh Arthur, enak sekali sayang, fuck me.. Fuck me now" seru Siska
Sambil berciuman, Siska mengayunkan pantatnya naik turun. Semakin keras Siska mengayun, semakin keras kontol saya masuk ke dalam vagina Siska. Gairah saya semakin naik dan dengan gemas saya cium bibir Siska. Tangan Siska tetap merangkul di pundak saya agar tidak terjatuh dan saya menahan tubuh Siska dengan merangkul pinggangnya. Siska is really wild! Saya lalu mendekati dinding dan menyandarkan Siska didinding tapi masih dalam posisi menggendong dirinya lalu giliran saya yang bisa menggenjot Siska. Saya ayunkan pantat saya dengan keras ke tubuh Siska sehingga kontol saya menghujam lebih dalam ke vaginanya.
"Aarggh.. Harder! harder!" seru Siska
Saya menggenjot lebih keras. Semakin keras saya masukkan kontol ke dalam vagina Siska, semakin keras Siska menjerit diiringi bunyi tubuh Siska yang beradu kedinding. Siska lalu turun dari gendonganku, tanpa melepaskan kontol saya dari vaginanya, ia memutar badannya dan bersandar pada sandaran kursi meja riasnya. Kembali saya genjot Siska dengan penuh nafsu sambi meremas-remas payudaranya. Saya melihat ekspresi wajah Siska dari kaca di meja rias yang kelihatannya sungguh menikmati ML ini.
10 menit dalam posisi ini, Siska mengeluarkan kontol saya dan mendorong saya ketempat tidur. Saya tidur terlentang dan Siska jongkok di atas pinggang saya dan perlahan-lahan ia masukkan kontol saya dan kembali bertempur. Dengan enerjik ia menaikkan turunkan pantatnya sambil memutar-mutarnya. Keringat turun di atas dahi, dada dan selangkangannya. Siska memegang tangan saya agar dia tidak jatuh.
Siska menghentikan sebentar gerakannya lalu ia menjatuhkan badannya kesamping dan meminta saya untuk mengentot dari belakangnya. Siska rebahan ditempat tidur dan saya mengambil bantal dan menyelipkannya di bawah pinggul Siska sehingga pantatnya menjadi tinggi. Saya berlutut dibelakang Siska dan menjilat anusnya. Lalu saya masukkan jari telunjuk saya ke dalam anus Siska dan saya menjilat vagina Siska. Siska meronta-ronta kegelian dan menggelinjang. Lalu saya arahkan kontol saya ke anus Siska, tetapi Siska cepat-cepat menutupi anusnya dengan tangannya dan berkata.
"Jangan sayang, saya nggak mau disodomi".
Saya tersenyum dan saya masukkan kembali kontolku ke dalam vaginanya. Saya raih pantat Siska dan saya tekan kontol saya dengan kuat ke vaginanya. Siska berseru-seru dengan nikmat, tangannya menggapai ke ukiran kayu diujung tempat tidur dan mencengkeramnya. Payudaranya yang besar terlihat bergoyang kiri kanan. Saya terus memompa vagina Siska dengan kuat dan Siska memperketat pahanya sehingga kontol saya terasa semakin keras digenggam di dalam vaginanya.
Siska tiba-tiba berhenti dan berkata, "Sayang, jarinya masukin lagi dong ke anus. Tapi saya tetap tidak mau disodomi".
Saya tersenyum dalam hati, this girl is very wild. Saya genjot vagina Siska dan memasukkan jari telunjuk saya ke anusnya. Siska menggeliat dengan keras sambil menjerit kenikmatan. Kontol saya rasanya seperti dipijit-pijit di dalam vagina Siska. Menambah sensasi yang sangat nikmat. Selama 20 menit saya genjot vagian Siska dan mengocok anusnya dengan jari saya dan saya mulai klimaks.
"Saya mau keluar sayang"
"Iya, saya juga"
Saya lalu melenguh dengan keras saat peju saya keluar dalam vagina Siska yang hangat. Tubuh Siska mengejang dan Siska juga turut melenguh dengan nikmat kemudian ia menjatuhkan dirinya. Saya mencabut kontolku dari vaginanya lalu rebahan disamping Siska. Siska naik ke dada saya dan menindih tubuhku. Kita berdua berpelukan dengan lemas. Keringat ditubuh kita bercampur jadi satu. Saya melirik ke jam, ternyata sudah 1.5 jam kita bersetubuh. Benar juga kata orang, apabila perempuan sering berenang maka daya seksnya juga kuat. Terbukti juga ucapan itu.
Setelah istirahat, kami berdua mandi dan kembali bersetubuh malam itu hingga 3 kali. Malam itu saya nginap dirumah Siska. Hari minggu kami kembali bersetubuh dan di sore hari saya baru pulang ke rumah.
TAMAT
Wednesday, June 17, 2009
Arthur : Ski, Snow, and Sex
Hobby favorite saya adalah main ski. Pertama kali saya tiba di Amerika, saya tidak sabar untuk belajar ski karena pada dasarnya saya suka sekali dengan tantangan. Nama saya Arthur, ini kisahku.
Pada bulan September 2006, teman baik saya bernama Antonio (dari Italia) mengirim saya email. Inti email adalah International Student Organization (ISO) kampus saya tahun ini akan mengadakan ski trip ke Aspen di negara bagian Colorado. Pada tahun-tahun sebelumnya, ski trip biasanya diadakan ke Bear Mountain di California, Mount Hood di Oregon atau ke Utah. Saya langsung menjawab dengan antusias kesediaan ikut. Saya minta si Vita untuk didaftarkan juga karena ia suka main ski.
Vita adalah seks partner saya. Kita adalah teman baik tapi kita tidak mau terikat hubungan ikatan. Cukup hubungan intim. Ski trip diadakan pada hari Thanksgiving di bulan November. Thanksgiving merupakan hari perayaan nasional orang Amerika dimana beratus tahun yang lalu nenek moyang orang Amerika beremigrasi dari Inggris. Setiba di benua Amerika, mereka tidak punya makanan sama sekali. Beruntung orang Indian berbaik hati dan memberi mereka makanan. Kebaikan hati dan sikap bersahabat orang Indian ini dijadikan sebagai perayaan Thanksgiving di Amerika. OK, kita lanjutkan ceritanya.
Thanksgiving Day 1998
Jum'at
Saya dan Vita sudah menunggu di airport untuk berangkat ke Aspen. Saya dan Vita telah membawa sendiri peralatan ski. Ada sekitar 30 orang yang ikut serta. Si Antonio dan pacarnya, Priscilla (orang Venezuela) tampak sibuk mengatur dan mendaftar orang-orang yang telah hadir. Sebagian besar yang ikut adalah anak-anak freshman. Ada 2 orang Indonesia yang ikut. Jam 6 pagi tepat, pesawat United Airline yang kami tumpangi berangkat menuju ke Aspen. Jam 9:30, pesawat mendarat di Denver. Lalu dengan mengendarai bis yang telah disewa, kami melanjutkan perjalanan ke Aspen yang memakan waktu 2 jam.
Setiba di Aspen, para panitia langsung check-in ke hotel dan menunjukkan kamar-kamar para peserta ski trip. Saya dan Vita mendapatkan tempat di lodge bersama dengan Antonio dan Priscilla, tetapi kamarnya dibuat terpisah yaitu Vita dan Priscilla sedangkan saya dengan Antonio. Setelah makan siang, rombongan dibawa ke tempat bermain ski. Bagi yang tidak punya peralatan ski, bisa sewa. Tempat bermain ski dikelilingi pegunungan yang sangat indah dan tertutup salju. Sejauh mata memandang, semuanya putih. Di lereng gunung, terlihat rumah-rumah dari kayu serta hotel-hotel ditengah-tengah pepohonan cemara.
Pemandangan yang sangat cantik. Saya sibuk memotret pemandangan ini dengan peralatan kameraku. Peserta yang belum bisa main ski disediakan guru, sedangkan yang sudah bisa main ski diperbolehkan untuk naik ski lift jalur kuning untuk dibawa ke atas gunung. Perjalanan naik ski lift keatas gunung memakan waktu 3 menit, tapi perjalanan turun kebawah bisa butuh waktu lebih lama karena track skinya dibuat mengitari gunung.
Saya, Vita, Antonio dan Priscilla langsung naik ski lift ke jalur merah. Jalur merah merupakan jalur yang paling curam dan tinggi. Hanya direkomendasikan bagi yang sudah ahli main ski. Ada beberapa teman dari Rusia, Jepang dan Inggris yang ikut dengan kita ke jalur merah. Setiba di puncak gunung, kita semua langsung balapan turun kebawah. Benar-benar menegangkan dan menyenangkan. Sambil meluncur turun, tidak henti-hentinya kita saling memotong depan teman sambil tertawa-tawa. Begitu sampai di ski station di lereng gunung, kembali kita naik ski lift dan berlomba adu cepat menuruni gunung dengan ski.
Pemandangan dari atas gunung benar-benar indah. Cuaca Â-20 derajat celcius tidak terasa begitu dingin karena badan kami sudah hangat dibungkus jaket ski yang tebal. Tidak terasa, kami sudah main ski selama 5 jam. Kami istirahat ke ski station untuk makan dan minum. Puas istirahat, Saya, Vita, Priscilla dan Antonio kembali melanjutkan main ski. Teman-teman yang lain memutuskan untuk kembali ke hotel untuk istirahat. Ternyata bermain ski di malam hari tidak kalah indah karena lampu-lampu disepanjang ski track membuat suasana lebih romantis dan indah. Jam 7 malam, kami berempat sudah lelah dan diputuskan untuk kembali ke cottage.
Karena Antonio adalah ketua panitia, maka ia bebas memilih sendiri cottage yang diinginkan. Didalam cottage kami ada Jacuzzi. Jacuzzinya terletak di teras lantai dua. Antonio menawarkan untuk berendam di air hangat Jacuzzi setelah makan malam, saya langsung setuju. Acara makan malam untuk peserta diadakan di restoran dekat hotel. Acara makan malam disusul dengan games dan penyalaan api unggun.
Selesai acara itu, kita berempat kembali ke cottage. Jacuzzi telah disiapkan Antonio. Saya dan Antonio langsung membuka membuka semua baju hangat dan nyemplung ke Jacuzzi dengan menggunakan celana pendek. Sedangkan Vita dan Priscilla menggunakan BH dan celana dalam. Saya belum bercerita tentang Priscilla. Priscilla sangat cantik, ia adalah bom seks di ISO. Wajahnya yang khas dari negara latin membuat dirinya sangat cantik dan erotis. Rambunya berwarna pirang, buah dadanya besar dan tubuhnya langsing dan berisi.
Sering sekali saya mendengar komentar dari teman-teman yang horny melihat Priscilla di kampus. Jujur saja, saya sering ereksi melihat cara Priscilla berpakaian di kampus dan sekarang malam ini Priscilla hanya menggunakan BH dan celana dalam di hadapan saya, oh yes! I'm in paradise. Antonio sendiri orangnya ganteng. Tingginya 185 cm, tubuhnya sangat atletis, wajahnya khas orang Italia dengan rambutnya yang selalu terlihat klimis. Sedangkan Vita, seks partner saya, bertubuh langsing padat dan buah dadanya besar. Rambutnya panjang dan kulitnya putih.
Sambil menikmati kehangatan Jacuzzi, saya memeluk Vita dan Antonio memeluk Priscilla. Kita berendam sambil minum wine dan saling bertukar cerita sambil tertawa-tawa. Vita kemudian minta ijin untuk ke toilet. Saya melihat mata Antonio langsung memperhatikan tubuh Vita yang dibalut BH dan celana dalam yang basah sehingga tampak puting dan bulu kemaluannya.
Tidak lama, si Priscilla ikut-ikutan ke toilet, sekarang giliran saya melihat tubuh Priscilla yang molek. Saya dan Antonio kembali ngobrol sambil minum. Vita dan Priscilla kembali ke Jacuzzi sambil tertawa-tawa. Vita menarik tangan saya untuk keluar dari Jacuzzi dan Priscilla juga menarik tangan Antonio. Dengan tanda tanya, kita berdua mengeringkan tubuh dengan handuk dan dibimbing ke ruang tengah. Perapian sudah dinyalakan sehingga ruangan telah hangat.
"Saya dan Vita sepakat, malam ini kita bertukar pasangan" kata Priscilla sambil tersenyum.
"Agree guys?" kata Vita.
"Terserah panitia yang punya acara" kata saya.
"Up to you ladies" kata Antonio sambil tertawa.
"Sekarang kalian berdua duduk disofa" kata Priscilla.
Saya dan Antonio duduk di sofa kemudian Vita membuka BH Priscilla dan menarik celana dalamnya, lalu gantian Priscilla membuka BH dan celana dalam Vita. Saya dan Antonio tak henti-hentinya menelan ludah melihat tubuh-tubuh telanjang itu.
Vita menghampiri Antonio dan mereka langsung berciuman. Priscilla juga menghampiri diriku dan kita berciuman. Tak henti-hentinya tangan saya menggerayangi tubuh Priscilla, saya remas buah dadanya dan mengusap vaginanya. Priscilla sangat agresif. Kontol saya diremas dan ditarik. Saya melirik ke Vita dan mereka sedang sibuk dalam posisi 69.
Priscilla kemudian jongkok dihadapanku, kontol saya langsung dihisap dengan penuh nafsu, sekali-sekali matanya melirik kesaya dengan pandangan menggoda. Kemudian Priscilla mencondongkan dadanya ke kontol saya lalu kontol saya dikepit diantara payudaranya yang besar. Langsung saya mendongakkan kepala merasakan kenikmatan ini. Payudara Priscilla dikepit dengan keras sambil digoyang naik turun sehingga kontol saya terasa seperti dikocok-kocok.
"Oh yes baby, do it again" pinta saya.
Saya lalu bertukar posisi, Priscilla duduk di sofa dan saya mulai menjilat vaginanya. Priscilla menjerit dengan nikmat sambil meremas kepala saya. Saya melihat Vita dalam posisi doggy style dan Antonio sedang menggenjot kontolnya dalam vagina Vita. Vita mendesah-desah sambil meremas payudaranya
"Yes Antonio, fuck me, fuck me like a bitch" seru Vita.
Melihat Vita terlihat tak berdaya disetubuhi Antonio, gairah saya bertambah dan saya langsung mengarahkan kontol saya ke vagina Priscilla. Ini benar-benar saat yang saya pernah mimpikan, menyetubuhi Priscilla. Wajah Priscilla yang sayu terlihat semakin menggairahkan. Priscilla mengangkat kakinya tinggi lalu menahannya dengan merangkul pangkal pahanya, sedangkan saya mencondongkan dada saya ke dada Priscilla sambil menggenjotnya.
Priscilla kelihatannya semakin keras digenjot semakin liar. Priscilla memutar tubuhnya sehingga posisi berganti menjadi doggy style. Payudara Priscilla yang besar tampak menggelantung langsung saya remas-remas. Priscilla dengan lihai memutar-mutar pantatnya sambil mengikuti irama genjotanku. Baru sekali ini saya merasakan goyangan seperti itu.
Tak lama saya mendengar si Antonio melenguh dengan keras, kontolnya ditarik keluar dari vagina Vita dan diarahkan ke mulut Vita. Vita menjilat dan menelan peju Antonio. Setelah bersih, kembali Antonio memasukkan kontolnya ke vagina Vita dalam posisi doggy style. Keringat disekujur tubuh Vita dan Antonio mengalir dengan deras. Saya sendiri terus menggenjot Priscilla, sekitar 2 atau 3 kali Priscilla memekik dengan keras dan tubuhnya sedikit mengejang tapi ia terus menggoyangkan pantatnya, rupanya ia sedang mengalami multiple orgasm. Saya menjadi kagum melihat stamina Priscilla yang kuat, tapi saya tidak ingin kalah kuat dengannya.
Saya mengubah posisi menjadi duduk lalu Priscilla duduk dipangkuan saya tetapi membelakangiku. Kembali ia menggoyang tubuhnya naik turun dengan penuh enerjik, sedangkan saya meremas payudaranya dari belakang. Akhirnya pertahanan saya runtuh, saya mulai klimaks. Saya berseru dengan nikmat saat peju saya keluar sedangkan Priscilla menghujamkan vaginanya dengan keras ke kontolku sambil berteriak penuh nikmat. Setelah peju saya keluar semua, saya dan Priscilla langsung terduduk dengan lemas. Priscilla duduk dipangkuanku dan kita kembali berciuman. Saya meremas dan menghisap putingnya sedangkan tangan kanan saya kembali mengelus vaginanya.
Vita sendiri tak kalah seru. Antonio dan Vita sedang ML dalam posisi berdiri. Vita berdiri menghadap ke dinding dengan kedua tangannya bertumpu pada dinding sedangkan Antonio dari arah belakang menggenjot kontolnya dalam vagina Vita. Tak henti-hentinya payudara Vita diremas-remas Antonio dan Vita berseru-seru dengan nikmat untuk digenjot lebih keras. Tak lama Antonio kembali ejakulasi, ditarik kontolnya dari vagina Vita lalu dikocok sehingga pejunya muncrat ke pantat Vita. Vita menengok kebelakang dan Antonio mencium bibirnya sambil meremas payudaranya.
Priscilla lalu mendorong tubuh saya sampai telentang di sofa. Kembali Priscilla jongkok dihadapanku lalu memasukkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah, ia kembali mengocok-kocok kontolku dalam vaginanya. Ia merebahkan dadanya kedadaku lalu berciuman. Payudaranya saya remas dengan lembut. Saya melirik ke Vita dan mereka sedang berpelukan sambil melihat kita bersetubuh.
Sambil menghisap puting Priscilla, tiba-tiba Vita berdiri mengangkang dimuka saya lalu mendekatkan vaginanya ke mulutku, langsung saya menjilat vaginanya yang basah. Vita yang posisinya jongkok diatas muka saya, tiba-tiba dengan pelan Priscilla mendorong punggung Vita ke depan sehingga Vita menjadi nungging diatas diriku, Priscilla kemudian sambil bersetubuh diatas diriku menjilat anus Vita. Vita mendesah-desah menikmati jilatan lidahku di vaginanya dan lidah Priscilla di anusnya. Saya kemudian melihat Antonio berdiri dibelakang Priscilla.
Wah mau ngapain dia? Saya bertanya dalam hati.
Ternyata Antonio mulai memasukkan kontolnya kedalam anus Priscilla. Priscilla mendongak saat kontol Antonio masuk kedalam anusnya, Priscilla menghentikan goyangannya dan membiarkan kontol Antonio masuk lebih dalam. Kemudian Priscilla pelan-pelan mengayunkan pantatnya dan secara bersamaan kontol saya keluar masuk vaginanya begitu pula kontol Antonio kedalam anus Priscilla. Saya sebenarnya tidak bisa melihat ini dengan jelas, tapi beruntung Vita telah memasang handycam disudut ruangan sebelum pertarungan ini dimulai sehingga kita berempat bisa menontonnya.
Di video itu, terlihat posisi kita berempat yang saling bertumpang tindih. Saya dibagian bawah ditindih oleh Priscilla dan Vita nungging dimuka saya menerima jilatan divagina dan jilatan di anus dari Priscilla. Sedangkan Priscilla vaginanya diisi oleh kontol saya dan Antonio berdiri dibelakang Priscilla menyetubuhi anus Priscilla. Akhirnya peju saya keluar didalam vagina Priscilla dan Antonio pun mengalami ejakulasi. Peju Antonio memenuhi anus Priscilla. Priscilla terkulai lemas dipelukan saya. Vita jongkok disamping saya lalu mencium bibir Priscilla dengan mesra sambil membelai rambutnya. Akhirnya kita berempat tertidur didepan perapian sambil berselimutan tanpa mengenakan baju.
Sabtu
Pagi hari, kami berempat bangun, sebenarnya kami agak malas bangun tapi berhubung Antonio dan Priscilla adalah panitia maka mereka harus segera mengatur acara untuk hari ini. Acara pagi ini adalah sarapan dilanjutkan dengan hiking di pedesaan di Aspen. Suasana hiking berjalan dengan seru. Di sebuah lapangan yang luas, para peserta beristirahat. Ada yang membuat snowman, ada yang timpuk-timpukan salju. Jam 12 siang, kami semua kembali ke hotel untuk makan siang. Peserta bebas memilih mau main ski atau shopping di Aspen. Banyak yang memilih kembali main ski.
Saya, Vita, Antonio dan Priscilla kembali bermain ski sampai makan malam. Makan malam kali ini diadakan di sebuah restoran di Aspen. Restoran terbuat dari kayu dengan hiasan-hiasan ala koboi. Selesai makan malam, peserta ada yang kembali ke hotel, ada yang belanja di Aspen, ada yang foto-foto. Kita berempat memilih untuk jalan-jalan didaerah pedesaan. Suasana sangat romantis. Saya berjalan sambil memeluk Vita dan Antonio memeluk Priscilla. Setelah lelah, kita kembali ke cottage.
Malam itu kembali kita berempat bersetubuh dengan berbagai gaya. Vita kebagian double penetration, saya memasuki kontolku kedalam anusnya sedangkan Antonio memasukkan kontolnya dalam vagina Vita dan Priscilla tak henti-hentinya berciuman dengan Vita. Priscilla mendapat bagian diikat tangan dan kakinya sehingga saya, Vita dan Antonio dengan bebas menikmati tubuhnya. Lalu ganti posisi dimana saya telentang dan Vita jongkok diatas pinggulku sambil mengocok kontol saya dalam vaginanya sedangkan Priscilla jongkok di atas mukaku sehingga saya bisa menjilat vaginanya. Vita dan Priscilla saling meremas payudara dan berciuman kemudian Antonio berdiri ditengah dan menyodorkan kontolnya ke mereka berdua. Secara gantian mereka menghisap kontol Antonio.
Kami berpesta seks sampai jam 4 pagi lalu tertidur. Jam 7 pagi kami terbangun dan langsung membereskan barang-barang karena bis akan segera berangkat mengantar kita semua ke Denver lalu kembali ke San Francisco.
Entah mana yang jauh lebih asyik, naik ke puncak gunung lalu meluncur dengan ski dengan kecepatan tinggi, atau bersetubuh dengan dua bidadari. Yang pasti, semuanya nikmat dan tak terlupakan.
Tamat
Pada bulan September 2006, teman baik saya bernama Antonio (dari Italia) mengirim saya email. Inti email adalah International Student Organization (ISO) kampus saya tahun ini akan mengadakan ski trip ke Aspen di negara bagian Colorado. Pada tahun-tahun sebelumnya, ski trip biasanya diadakan ke Bear Mountain di California, Mount Hood di Oregon atau ke Utah. Saya langsung menjawab dengan antusias kesediaan ikut. Saya minta si Vita untuk didaftarkan juga karena ia suka main ski.
Vita adalah seks partner saya. Kita adalah teman baik tapi kita tidak mau terikat hubungan ikatan. Cukup hubungan intim. Ski trip diadakan pada hari Thanksgiving di bulan November. Thanksgiving merupakan hari perayaan nasional orang Amerika dimana beratus tahun yang lalu nenek moyang orang Amerika beremigrasi dari Inggris. Setiba di benua Amerika, mereka tidak punya makanan sama sekali. Beruntung orang Indian berbaik hati dan memberi mereka makanan. Kebaikan hati dan sikap bersahabat orang Indian ini dijadikan sebagai perayaan Thanksgiving di Amerika. OK, kita lanjutkan ceritanya.
Thanksgiving Day 1998
Jum'at
Saya dan Vita sudah menunggu di airport untuk berangkat ke Aspen. Saya dan Vita telah membawa sendiri peralatan ski. Ada sekitar 30 orang yang ikut serta. Si Antonio dan pacarnya, Priscilla (orang Venezuela) tampak sibuk mengatur dan mendaftar orang-orang yang telah hadir. Sebagian besar yang ikut adalah anak-anak freshman. Ada 2 orang Indonesia yang ikut. Jam 6 pagi tepat, pesawat United Airline yang kami tumpangi berangkat menuju ke Aspen. Jam 9:30, pesawat mendarat di Denver. Lalu dengan mengendarai bis yang telah disewa, kami melanjutkan perjalanan ke Aspen yang memakan waktu 2 jam.
Setiba di Aspen, para panitia langsung check-in ke hotel dan menunjukkan kamar-kamar para peserta ski trip. Saya dan Vita mendapatkan tempat di lodge bersama dengan Antonio dan Priscilla, tetapi kamarnya dibuat terpisah yaitu Vita dan Priscilla sedangkan saya dengan Antonio. Setelah makan siang, rombongan dibawa ke tempat bermain ski. Bagi yang tidak punya peralatan ski, bisa sewa. Tempat bermain ski dikelilingi pegunungan yang sangat indah dan tertutup salju. Sejauh mata memandang, semuanya putih. Di lereng gunung, terlihat rumah-rumah dari kayu serta hotel-hotel ditengah-tengah pepohonan cemara.
Pemandangan yang sangat cantik. Saya sibuk memotret pemandangan ini dengan peralatan kameraku. Peserta yang belum bisa main ski disediakan guru, sedangkan yang sudah bisa main ski diperbolehkan untuk naik ski lift jalur kuning untuk dibawa ke atas gunung. Perjalanan naik ski lift keatas gunung memakan waktu 3 menit, tapi perjalanan turun kebawah bisa butuh waktu lebih lama karena track skinya dibuat mengitari gunung.
Saya, Vita, Antonio dan Priscilla langsung naik ski lift ke jalur merah. Jalur merah merupakan jalur yang paling curam dan tinggi. Hanya direkomendasikan bagi yang sudah ahli main ski. Ada beberapa teman dari Rusia, Jepang dan Inggris yang ikut dengan kita ke jalur merah. Setiba di puncak gunung, kita semua langsung balapan turun kebawah. Benar-benar menegangkan dan menyenangkan. Sambil meluncur turun, tidak henti-hentinya kita saling memotong depan teman sambil tertawa-tawa. Begitu sampai di ski station di lereng gunung, kembali kita naik ski lift dan berlomba adu cepat menuruni gunung dengan ski.
Pemandangan dari atas gunung benar-benar indah. Cuaca Â-20 derajat celcius tidak terasa begitu dingin karena badan kami sudah hangat dibungkus jaket ski yang tebal. Tidak terasa, kami sudah main ski selama 5 jam. Kami istirahat ke ski station untuk makan dan minum. Puas istirahat, Saya, Vita, Priscilla dan Antonio kembali melanjutkan main ski. Teman-teman yang lain memutuskan untuk kembali ke hotel untuk istirahat. Ternyata bermain ski di malam hari tidak kalah indah karena lampu-lampu disepanjang ski track membuat suasana lebih romantis dan indah. Jam 7 malam, kami berempat sudah lelah dan diputuskan untuk kembali ke cottage.
Karena Antonio adalah ketua panitia, maka ia bebas memilih sendiri cottage yang diinginkan. Didalam cottage kami ada Jacuzzi. Jacuzzinya terletak di teras lantai dua. Antonio menawarkan untuk berendam di air hangat Jacuzzi setelah makan malam, saya langsung setuju. Acara makan malam untuk peserta diadakan di restoran dekat hotel. Acara makan malam disusul dengan games dan penyalaan api unggun.
Selesai acara itu, kita berempat kembali ke cottage. Jacuzzi telah disiapkan Antonio. Saya dan Antonio langsung membuka membuka semua baju hangat dan nyemplung ke Jacuzzi dengan menggunakan celana pendek. Sedangkan Vita dan Priscilla menggunakan BH dan celana dalam. Saya belum bercerita tentang Priscilla. Priscilla sangat cantik, ia adalah bom seks di ISO. Wajahnya yang khas dari negara latin membuat dirinya sangat cantik dan erotis. Rambunya berwarna pirang, buah dadanya besar dan tubuhnya langsing dan berisi.
Sering sekali saya mendengar komentar dari teman-teman yang horny melihat Priscilla di kampus. Jujur saja, saya sering ereksi melihat cara Priscilla berpakaian di kampus dan sekarang malam ini Priscilla hanya menggunakan BH dan celana dalam di hadapan saya, oh yes! I'm in paradise. Antonio sendiri orangnya ganteng. Tingginya 185 cm, tubuhnya sangat atletis, wajahnya khas orang Italia dengan rambutnya yang selalu terlihat klimis. Sedangkan Vita, seks partner saya, bertubuh langsing padat dan buah dadanya besar. Rambutnya panjang dan kulitnya putih.
Sambil menikmati kehangatan Jacuzzi, saya memeluk Vita dan Antonio memeluk Priscilla. Kita berendam sambil minum wine dan saling bertukar cerita sambil tertawa-tawa. Vita kemudian minta ijin untuk ke toilet. Saya melihat mata Antonio langsung memperhatikan tubuh Vita yang dibalut BH dan celana dalam yang basah sehingga tampak puting dan bulu kemaluannya.
Tidak lama, si Priscilla ikut-ikutan ke toilet, sekarang giliran saya melihat tubuh Priscilla yang molek. Saya dan Antonio kembali ngobrol sambil minum. Vita dan Priscilla kembali ke Jacuzzi sambil tertawa-tawa. Vita menarik tangan saya untuk keluar dari Jacuzzi dan Priscilla juga menarik tangan Antonio. Dengan tanda tanya, kita berdua mengeringkan tubuh dengan handuk dan dibimbing ke ruang tengah. Perapian sudah dinyalakan sehingga ruangan telah hangat.
"Saya dan Vita sepakat, malam ini kita bertukar pasangan" kata Priscilla sambil tersenyum.
"Agree guys?" kata Vita.
"Terserah panitia yang punya acara" kata saya.
"Up to you ladies" kata Antonio sambil tertawa.
"Sekarang kalian berdua duduk disofa" kata Priscilla.
Saya dan Antonio duduk di sofa kemudian Vita membuka BH Priscilla dan menarik celana dalamnya, lalu gantian Priscilla membuka BH dan celana dalam Vita. Saya dan Antonio tak henti-hentinya menelan ludah melihat tubuh-tubuh telanjang itu.
Vita menghampiri Antonio dan mereka langsung berciuman. Priscilla juga menghampiri diriku dan kita berciuman. Tak henti-hentinya tangan saya menggerayangi tubuh Priscilla, saya remas buah dadanya dan mengusap vaginanya. Priscilla sangat agresif. Kontol saya diremas dan ditarik. Saya melirik ke Vita dan mereka sedang sibuk dalam posisi 69.
Priscilla kemudian jongkok dihadapanku, kontol saya langsung dihisap dengan penuh nafsu, sekali-sekali matanya melirik kesaya dengan pandangan menggoda. Kemudian Priscilla mencondongkan dadanya ke kontol saya lalu kontol saya dikepit diantara payudaranya yang besar. Langsung saya mendongakkan kepala merasakan kenikmatan ini. Payudara Priscilla dikepit dengan keras sambil digoyang naik turun sehingga kontol saya terasa seperti dikocok-kocok.
"Oh yes baby, do it again" pinta saya.
Saya lalu bertukar posisi, Priscilla duduk di sofa dan saya mulai menjilat vaginanya. Priscilla menjerit dengan nikmat sambil meremas kepala saya. Saya melihat Vita dalam posisi doggy style dan Antonio sedang menggenjot kontolnya dalam vagina Vita. Vita mendesah-desah sambil meremas payudaranya
"Yes Antonio, fuck me, fuck me like a bitch" seru Vita.
Melihat Vita terlihat tak berdaya disetubuhi Antonio, gairah saya bertambah dan saya langsung mengarahkan kontol saya ke vagina Priscilla. Ini benar-benar saat yang saya pernah mimpikan, menyetubuhi Priscilla. Wajah Priscilla yang sayu terlihat semakin menggairahkan. Priscilla mengangkat kakinya tinggi lalu menahannya dengan merangkul pangkal pahanya, sedangkan saya mencondongkan dada saya ke dada Priscilla sambil menggenjotnya.
Priscilla kelihatannya semakin keras digenjot semakin liar. Priscilla memutar tubuhnya sehingga posisi berganti menjadi doggy style. Payudara Priscilla yang besar tampak menggelantung langsung saya remas-remas. Priscilla dengan lihai memutar-mutar pantatnya sambil mengikuti irama genjotanku. Baru sekali ini saya merasakan goyangan seperti itu.
Tak lama saya mendengar si Antonio melenguh dengan keras, kontolnya ditarik keluar dari vagina Vita dan diarahkan ke mulut Vita. Vita menjilat dan menelan peju Antonio. Setelah bersih, kembali Antonio memasukkan kontolnya ke vagina Vita dalam posisi doggy style. Keringat disekujur tubuh Vita dan Antonio mengalir dengan deras. Saya sendiri terus menggenjot Priscilla, sekitar 2 atau 3 kali Priscilla memekik dengan keras dan tubuhnya sedikit mengejang tapi ia terus menggoyangkan pantatnya, rupanya ia sedang mengalami multiple orgasm. Saya menjadi kagum melihat stamina Priscilla yang kuat, tapi saya tidak ingin kalah kuat dengannya.
Saya mengubah posisi menjadi duduk lalu Priscilla duduk dipangkuan saya tetapi membelakangiku. Kembali ia menggoyang tubuhnya naik turun dengan penuh enerjik, sedangkan saya meremas payudaranya dari belakang. Akhirnya pertahanan saya runtuh, saya mulai klimaks. Saya berseru dengan nikmat saat peju saya keluar sedangkan Priscilla menghujamkan vaginanya dengan keras ke kontolku sambil berteriak penuh nikmat. Setelah peju saya keluar semua, saya dan Priscilla langsung terduduk dengan lemas. Priscilla duduk dipangkuanku dan kita kembali berciuman. Saya meremas dan menghisap putingnya sedangkan tangan kanan saya kembali mengelus vaginanya.
Vita sendiri tak kalah seru. Antonio dan Vita sedang ML dalam posisi berdiri. Vita berdiri menghadap ke dinding dengan kedua tangannya bertumpu pada dinding sedangkan Antonio dari arah belakang menggenjot kontolnya dalam vagina Vita. Tak henti-hentinya payudara Vita diremas-remas Antonio dan Vita berseru-seru dengan nikmat untuk digenjot lebih keras. Tak lama Antonio kembali ejakulasi, ditarik kontolnya dari vagina Vita lalu dikocok sehingga pejunya muncrat ke pantat Vita. Vita menengok kebelakang dan Antonio mencium bibirnya sambil meremas payudaranya.
Priscilla lalu mendorong tubuh saya sampai telentang di sofa. Kembali Priscilla jongkok dihadapanku lalu memasukkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah, ia kembali mengocok-kocok kontolku dalam vaginanya. Ia merebahkan dadanya kedadaku lalu berciuman. Payudaranya saya remas dengan lembut. Saya melirik ke Vita dan mereka sedang berpelukan sambil melihat kita bersetubuh.
Sambil menghisap puting Priscilla, tiba-tiba Vita berdiri mengangkang dimuka saya lalu mendekatkan vaginanya ke mulutku, langsung saya menjilat vaginanya yang basah. Vita yang posisinya jongkok diatas muka saya, tiba-tiba dengan pelan Priscilla mendorong punggung Vita ke depan sehingga Vita menjadi nungging diatas diriku, Priscilla kemudian sambil bersetubuh diatas diriku menjilat anus Vita. Vita mendesah-desah menikmati jilatan lidahku di vaginanya dan lidah Priscilla di anusnya. Saya kemudian melihat Antonio berdiri dibelakang Priscilla.
Wah mau ngapain dia? Saya bertanya dalam hati.
Ternyata Antonio mulai memasukkan kontolnya kedalam anus Priscilla. Priscilla mendongak saat kontol Antonio masuk kedalam anusnya, Priscilla menghentikan goyangannya dan membiarkan kontol Antonio masuk lebih dalam. Kemudian Priscilla pelan-pelan mengayunkan pantatnya dan secara bersamaan kontol saya keluar masuk vaginanya begitu pula kontol Antonio kedalam anus Priscilla. Saya sebenarnya tidak bisa melihat ini dengan jelas, tapi beruntung Vita telah memasang handycam disudut ruangan sebelum pertarungan ini dimulai sehingga kita berempat bisa menontonnya.
Di video itu, terlihat posisi kita berempat yang saling bertumpang tindih. Saya dibagian bawah ditindih oleh Priscilla dan Vita nungging dimuka saya menerima jilatan divagina dan jilatan di anus dari Priscilla. Sedangkan Priscilla vaginanya diisi oleh kontol saya dan Antonio berdiri dibelakang Priscilla menyetubuhi anus Priscilla. Akhirnya peju saya keluar didalam vagina Priscilla dan Antonio pun mengalami ejakulasi. Peju Antonio memenuhi anus Priscilla. Priscilla terkulai lemas dipelukan saya. Vita jongkok disamping saya lalu mencium bibir Priscilla dengan mesra sambil membelai rambutnya. Akhirnya kita berempat tertidur didepan perapian sambil berselimutan tanpa mengenakan baju.
Sabtu
Pagi hari, kami berempat bangun, sebenarnya kami agak malas bangun tapi berhubung Antonio dan Priscilla adalah panitia maka mereka harus segera mengatur acara untuk hari ini. Acara pagi ini adalah sarapan dilanjutkan dengan hiking di pedesaan di Aspen. Suasana hiking berjalan dengan seru. Di sebuah lapangan yang luas, para peserta beristirahat. Ada yang membuat snowman, ada yang timpuk-timpukan salju. Jam 12 siang, kami semua kembali ke hotel untuk makan siang. Peserta bebas memilih mau main ski atau shopping di Aspen. Banyak yang memilih kembali main ski.
Saya, Vita, Antonio dan Priscilla kembali bermain ski sampai makan malam. Makan malam kali ini diadakan di sebuah restoran di Aspen. Restoran terbuat dari kayu dengan hiasan-hiasan ala koboi. Selesai makan malam, peserta ada yang kembali ke hotel, ada yang belanja di Aspen, ada yang foto-foto. Kita berempat memilih untuk jalan-jalan didaerah pedesaan. Suasana sangat romantis. Saya berjalan sambil memeluk Vita dan Antonio memeluk Priscilla. Setelah lelah, kita kembali ke cottage.
Malam itu kembali kita berempat bersetubuh dengan berbagai gaya. Vita kebagian double penetration, saya memasuki kontolku kedalam anusnya sedangkan Antonio memasukkan kontolnya dalam vagina Vita dan Priscilla tak henti-hentinya berciuman dengan Vita. Priscilla mendapat bagian diikat tangan dan kakinya sehingga saya, Vita dan Antonio dengan bebas menikmati tubuhnya. Lalu ganti posisi dimana saya telentang dan Vita jongkok diatas pinggulku sambil mengocok kontol saya dalam vaginanya sedangkan Priscilla jongkok di atas mukaku sehingga saya bisa menjilat vaginanya. Vita dan Priscilla saling meremas payudara dan berciuman kemudian Antonio berdiri ditengah dan menyodorkan kontolnya ke mereka berdua. Secara gantian mereka menghisap kontol Antonio.
Kami berpesta seks sampai jam 4 pagi lalu tertidur. Jam 7 pagi kami terbangun dan langsung membereskan barang-barang karena bis akan segera berangkat mengantar kita semua ke Denver lalu kembali ke San Francisco.
Entah mana yang jauh lebih asyik, naik ke puncak gunung lalu meluncur dengan ski dengan kecepatan tinggi, atau bersetubuh dengan dua bidadari. Yang pasti, semuanya nikmat dan tak terlupakan.
Tamat
Thursday, January 1, 2009
Arthur In Love With A Princess
International Student Organization di kampus saya setiap tahun mengadakan acara dance cruise yaitu acara dansa yang diadakan diatas kapal pesiar. Acara ini dikhususkan untuk mahasiswa international di universitas saya tapi juga terbuka bagi mahasiswa warga negara Amerika juga. Tahun 1996 merupakan tahun terakhir saya kuliah sebelum saya selesai menempuh pendidikan S1. Sebelumnya saya tidak kepikiran untuk ikut acara seperti itu, tapi setelah dibujuk oleh teman saya, akhirnya saya berminat untuk ikut dance cruise.
“What the heck, perhaps it’ll be fun” saya berpikir dalam hati.
Sabtu Sore Di Pier 6
Bulan September di kota San Francisco belum terlalu dingin. Malam itu saya dan 4 teman Indonesia saya telah tiba di pelabuhan tempat naik kapal pesiar. Jangan bayangkan kapal pesiar yang besar dan mewah, karena sesungguhnya kapal pesiar yang dipakai dalam acara ini hanya berukuran medium dan terdiri dari 3 deck. Cukup banyak yang ikut dance cruise ini, saya perkirakan ada sekitar 100 orang yang telah berkumpul. Semua berpakaian rapih, yang pria mengenakan jas dan yang wanita mengenakan evening gown. Di tiket ditulis jam boarding ke kapal pukul 17:30.
Sambil menunggu, saya melihat teman baik saya, Natha Sankavadhana (orang Thailand) datang dengan serombongan besar orang Thailand. Ia melambaikan tangannya pada saya dan menyampiri saya. Saya dan Natha berteman baik karena kita sama-sama mulai dari freshman (tahun pertama), sophomore (tahun kedua) dan junior (tahun ketiga). Tapi ditahun senior (tahun keempat) saya jarang sekelas dengannya karena saya berkonsentrasi di finance sedangkan Natha di accounting. Kami langsung asyik ngobrol sambi tertawa-tawa. Mata saya tiba-tiba tertumbuk pada satu perempuan Thailand yang berdiri diantara orang-orang Thailand.
Penampilannya anggun dengan evening gown warna merah dan rambutnya ditata dengan rapih. Sambil memperhatikan dirinya, saya tetap ngobrol dengan Natha. Sekali dua kali mata saya dan perempuan Thailand itu saling beradu. Saya menganggukan kepala sambil senyum dan ia membalas senyum. Obrolan dengan Natha terpaksa terhenti karena terdengar bunyi sirene kapal pertanda pintu kapal telah dibuka dan orang-orang antri untuk pemeriksaan karcis.
Deck satu diperuntukkan untuk dance floor, dance dua untuk duduk-duduk dan bar sedangkan deck tiga sebagai tempat untuk melihat pemandangan. Jam 18:00 tepat kapal pun berangkat. Orang-orang langsung naik ke deck tiga untuk melihat matahari terbenam di teluk San Francisco. Saya dan teman-teman akrab saya, yaitu Hiroko dan Matsumi (Jepang), Nicholas (Russia) Hendri Wong (Hong Kong), Jafar (Malaysia) dan beberapa teman lainnya lebih memilih untuk hang out di bar untuk ngobrol-ngobrol. Alunan musik disko disusul reggae, musik pop dan slow dance silih berganti di deck satu. Tertawa hiruk pikuk orang-orang terdengar saat ada acara games dan pembagian hadiah. Tapi hal tersebut tidak membuat saya dan teman-teman tertarik dan kami tetap ngobrol dan becanda sambil minum bir.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22:00 dan kapal pun siap-siap untuk merapat ke pelabuhan. Oh damn it, saya langsung teringat ke perempuan Thailand yang saya perhatikan sebelum berangkat. Dimana dia? Saya cari ke deck satu, suasana agak remang-remang. Orang-orang masih asyik slow dance menikmati lagu “For ever young”. Saya ke deck tiga dan celingukan. Ternyata ia ada ditengah-tengah group Thailand dan sedang berfoto-foto. Akhirnya pintu kapal dibuka dan orang-orang pun turun dari kapal. Saya melihat kebelakang dan kelihatannya group Thailand itu belum turun dari deck tiga. Ya sudahlah, nanti saja hari senin saya tanya ke Natha.
Senin Pagi Di Kampus
“Hai Natha, what’s up?” saya menegur Natha yang sedang sarapan di kafetaria kampus.
“Hi Arthur, apa kabar? Saya lagi lihat-lihat foto dance cruise. Lihat deh” Natha menawarkan.
“Hi Arthur, apa kabar? Saya lagi lihat-lihat foto dance cruise. Lihat deh” Natha menawarkan.
Saya cepat-cepat membuka foto demi foto mencari perempuan yang saya incar, dan ada!
“Eh, yang ini cantik ya? Siapa sih namanya?” tanya saya to the point.
“Hahahaha.. Kamu mau kenal juga ya?” kata Natha sambil tertawa.
“Kenapa?”
“What a coincidence. Namanya Nadia. Waktu di dance cruise, dia tanya ke saya nama kamu, langsung aja saya tawarin mau kenalan nggak?” kata Natha
“Wah terus? Kok nggak jadi?” tanya saya kecewa.
“Yah abisan kamu lagi mabuk di bar dengan anak-anak” kata Natha.
“Enak aja! Saya nggak mabuk” jawab saya sengit.
“Just kidding! Anyway, nih saya kasih nomor telepon dia dan kamu hubungi sendiri ya?” kata Natha sambil menulis angka dikertas lalu memberikannya pada saya.
“Thanks a lot Natha, you’re so sweet” lalu saya cium pipinya.
“Hahahaha.. Kamu mau kenal juga ya?” kata Natha sambil tertawa.
“Kenapa?”
“What a coincidence. Namanya Nadia. Waktu di dance cruise, dia tanya ke saya nama kamu, langsung aja saya tawarin mau kenalan nggak?” kata Natha
“Wah terus? Kok nggak jadi?” tanya saya kecewa.
“Yah abisan kamu lagi mabuk di bar dengan anak-anak” kata Natha.
“Enak aja! Saya nggak mabuk” jawab saya sengit.
“Just kidding! Anyway, nih saya kasih nomor telepon dia dan kamu hubungi sendiri ya?” kata Natha sambil menulis angka dikertas lalu memberikannya pada saya.
“Thanks a lot Natha, you’re so sweet” lalu saya cium pipinya.
Malam itu saya telepon Nadia. Orangnya ramah sekali. Nama panjangnya Nadia Padvangkash. Gaya bicaranya tegas dan accent inggrisnya juga lancar, beda dengan orang Thailand lainnya yang accent inggrisnya masih tercampur dengan accent bahasa Thailand sehingga tidak enak didengar. Ternyata Nadia sedang mengambil program S-2, pantesan saya tidak pernah melihatnya di kampus karena jam kelasnya beda dengan mahasiswa S1. Usianya sendiri 3 tahun lebih tua dari saya.
“Mau makan siang nggak besok?” saya menawarkan.
“Besok saya agak sibuk. Bagaimana kalau Jum’at siang?”
“Boleh, kita ketemu di student lounge ya?”
“Sounds great” Lalu saya ucapkan selamat malam dan menutup telepon.
“Besok saya agak sibuk. Bagaimana kalau Jum’at siang?”
“Boleh, kita ketemu di student lounge ya?”
“Sounds great” Lalu saya ucapkan selamat malam dan menutup telepon.
Jum’at Siang Di Student Lounge
“Eh Arthur mau ngedate loh sama anak Thailand” goda si Ucok.
“Anaknya yang tinggi itu ya? Cantik loh” si Jenny nambah-nambahin.
“Ah rese loe semua, sana-sana pergi, bentar lagi orangnya datang” saya belagak marah.
“Anaknya yang tinggi itu ya? Cantik loh” si Jenny nambah-nambahin.
“Ah rese loe semua, sana-sana pergi, bentar lagi orangnya datang” saya belagak marah.
Teman-teman tertawa terbahak-bahak lalu meninggalkan saya. Tidak berapa lama, si Nadia datang. Saya tersenyum dan memanggilnya, Nadia melambaikan tangannya dan balas senyum. Nadia mengenakan celana jeans agak ketat dengan kemeja warna cerah. Rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai. Nadia memang mempunyai pesona tersendiri dan kelihatan cantik dan anggun. Kulitnya putih, hidungnya mancung dan matanya agak sipit.
“Hi, ready to go?” kata saya.
“OK, I’m starving” jawab Nadia
“OK, I’m starving” jawab Nadia
Saya mengemudikan mobil saya kearah Japan Town dan kami makan siang di sebuah restoran sushi yang cukup terkenal di San Francisco. The best sushi in town! Sambil makan siang, kami tak henti-hentinya ngobrol tentang berbagai macam topik. Selesai makan siang, saya menawarkan untuk nonton di bioskop disamping restoran sushi. Nadia setuju-setuju saja. Lalu kami nonton “The Saint” yang baru main. Selesai nonton, saya mengantar Nadia pulang ke apartemennya di daerah down town.
Gedung apartemennya cukup modern dan terawat. Nadia mempersilakan saya masuk ke apartemennya. Kami lalu kembali melanjutkan obrolannya sambil nonton TV. Jam 18:00, dengan menyesal saya terpaksa harus minta ijin karena mau latihan bola basket. Nadia terlihat agak kecewa.
“Saya jemput kamu lagi ya besok” kata saya.
“Bagaimana kalau saya masak untuk kamu besok malam? Setuju?” Nadia menawarkan.
“Boleh aja” jawab saya dengan tersenyum.
“Datang ya jam 17:00, saya tunggu” Lalu saya diantar keluar oleh Nadia dan saya langsung kembali ke kampus untuk latihan bola basket.
“Bagaimana kalau saya masak untuk kamu besok malam? Setuju?” Nadia menawarkan.
“Boleh aja” jawab saya dengan tersenyum.
“Datang ya jam 17:00, saya tunggu” Lalu saya diantar keluar oleh Nadia dan saya langsung kembali ke kampus untuk latihan bola basket.
Sabtu Sore Di Liquor Store
Saya mempelajari budaya orang bule, apabila diundang makan malam, jangan datang dengan tangan kosong dan perut keroncongan. Harus membawa sesuatu! Saya membeli sebotol white wine yang saya sudah tau pasti rasanya enak. Saya langsung memacu mobil saya ke apartemen Nadia supaya tidak terlambat. Jam 17:00 tepat saya sudah tiba di apartemennya. Nadia membukakan pintu dan tersenyum lebar
“Halo, silakan masuk. Wah kamu beli white wine ya?” kata Nadia.
“Iya, white wine goes well with Thai food” kata saya sok tahu.
“Hahaha, bisa aja kamu” kata Nadia.
“Iya, white wine goes well with Thai food” kata saya sok tahu.
“Hahaha, bisa aja kamu” kata Nadia.
Malam ini Nadia mengenakan rok selutut warna hitam dan baju lengan pendek. Pakaiannya sangat sopan. Rambutnya yang panjang ia ikat keatas.
“Wow, kamu masak ini semua?” tanya saya.
“Iya, dari kecil saya sudah terbiasa masak. Saya diajar ibu saya. Yang ini adalah udang goreng, yang itu sayur dan yang ini daging sapi” ujar Nadia memperkenalkan masakannya.
“Iya, dari kecil saya sudah terbiasa masak. Saya diajar ibu saya. Yang ini adalah udang goreng, yang itu sayur dan yang ini daging sapi” ujar Nadia memperkenalkan masakannya.
Meja makan sudah tertata rapih, piring, gelas, sendok dan garpu diatur dengan rapih dan ditengah meja ada tempat lilin dengan lilin yang sudah menyala. A perfect dinner. Saya membuka gabus penutup botol wine dan menuangkannya di gelas wine lalu memberikannya ke Nadia dan menuangkan satu gelas untuk saya. Setelah itu kita mulai makan malam.
“Suka nggak?” Tanya Nadia.
“Lezat sekali. Benar-benar enak” puji saya dengan jujur.
“Lezat sekali. Benar-benar enak” puji saya dengan jujur.
Selesai makan, Nadia bangkit untuk mengumpulkan piring dan gelas kotor tapi saya larang. Saya minta Nadia tetap duduk dan saya yang membersihkan meja. Piring, gelas, dan peralatan makan yang kotor saya bilas dengan air lalu dimasukkan ke dish washer (mesin untuk cuci piring, gelas, sendok, garpu dan keluarganya). Nadia memperhatikan kesibukan saya sambil minum wine. Setelah itu, Nadia mengajak saya nonton TV. Kami duduk di sofa sambil nonton TV tapi kami tidak terlalu memperhatikan acara TV karena asyik ngobrol berdua. Diatas coffee table, ada sebuah buku besar bertuliskan “Thailand”.
Saya mengambil buku itu lalu membukanya. Sambil memperhatikan gambar-gambar di buku itu, Nadia sibuk menceritakan tentang adat istiadat negaranya, menceritakan tentang Bangkok. Kira-kira dipertengahan buku, ada satu foto Raja Bhumibol (Raja Thailand) memakai pakaian kasual dan sedang tertawa-tawa dengan 2 remaja putri dan 3 remaja putra. Dibawah foto itu ada tulisan “Raja Bhumibol sedang menikmati masa liburannya dengan berkumpul bersama keluarga besarnya dan tampak sedang bergurau dengan keponakannya”. Saya perhatikan wajah remaja-remaja ini dan ternyata remaja putri itu adalah Nadia.
“Ini kamu ya?” tanya saya.
Nadia tersenyum dan mengiyakan
“Kamu keponakan Raja Bhumibol?”
“Iya, masih keponakan langsung. Dari kecil saya sudah diajar tata krama dilingkungan kerajaan, cara berbicara, cara berjalan, cara makan, belajar menari, dsb” Nadia menerangkan.
“Wah pantesan aja dari pertama kali saya melihat kamu kok rasanya beda sekali dengan anak-anak Thailand lainnya” kata saya dengan kagum.
“Are you a princess?” tanya saya.
“Yah semacam itulah” jawab Nadia tanpa nada sombong.
“Iya, masih keponakan langsung. Dari kecil saya sudah diajar tata krama dilingkungan kerajaan, cara berbicara, cara berjalan, cara makan, belajar menari, dsb” Nadia menerangkan.
“Wah pantesan aja dari pertama kali saya melihat kamu kok rasanya beda sekali dengan anak-anak Thailand lainnya” kata saya dengan kagum.
“Are you a princess?” tanya saya.
“Yah semacam itulah” jawab Nadia tanpa nada sombong.
Nadia menceritakan kisah-kisah lucu selama diajar di kerajaan. Saya mendengarnya dengan asyik. Selesai bercerita, Nadia memutar CD Jim Brickman lalu melanjutkan obrolannya. Ditengah obrolan, saya meletakkan gelas saya yang berisi wine lalu berdiri depan Nadia. Saya julurkan tangan kanan saya lalu membungkuk
“May I have the honor to dance with you, my lady?”
“Certainly, Sir” jawab Nadia sambil tersenyum dengan manis.
“Certainly, Sir” jawab Nadia sambil tersenyum dengan manis.
Tangan kiri saya terjulur kesamping kiri saya dan tangan kanan saya merangkul pinggang Nadia, sedangkan tangan kanan Nadia menggenggam tangan kiri saya dan tangan kirinya merangkul bahu kanan saya. Kami berdansa diiringi lantunan piano dari Jim Brickman. Sambil dansa, mata kami saling menatap. Dalam hati saya memuji kecantikan Nadia. Saya menjadi sungkan dengan Nadia begitu tahu dia adalah keluarga dekat Raja Bhumibol, hal ini membuat saya menjadi segan untuk mengajaknya ML, kecuali dia yang mengajak ya lain perkara.. hehehe.
Jarak kami menjadi semakin dekat sehingga kami praktis berpelukan. Saya melingkarkan kedua tangan saya dipinggangnya dan Nadia mengalungkan tangannya di leherku. Nadia mendekatkan bibirnya lalu mengecup bibir saya. Saya lalu membalas ciumannya dan Nadia pun membalas ciumanku dan kita berciuman sambil berdansa. Biasanya kalau sudah begini, tangan saya sudah sibuk bergerilya ke tubuh si wanita, tapi kali ini tangan saya tetap dipinggang dan tidak berani bergerak kemana-mana.
Anehnya, si Nadia justru yang meraih tangan saya dari pinggang dan memindahkannya ke pantatnya. Lampu hijau dari Nadia membuat saya mulai bereksplorasi. Saya raba-raba pantatnya dan pinggangnya. Tangan Nadia pun mulai meraba dada saya dan pantat saya. Wah ternyata dia agresif juga. Kami berciuman beberapa lama, lalu Nadia menarik mukanya dan tersenyum pada saya, tangan saya digenggam dan saya dibawa ke kamarnya. Nadia kembali mencium saya dipinggir tempat tidur. Perlahan saya beranikan diri meraba payudaranya. Nafas Nadia mendengus menahan nafsu.
Perlahan saya baringkan Nadia ditempat tidur, saya membuka semua kancing bajunya sehingga tampak BHnya warna merah maroon. Nadia meraih kebelakang roknya dan membuka kaitan roknya lalu saya menarik roknya kebawah dan terlihat celana dalam yang sewarna dengan BHnya. Nadia tersenyum malu lalu ia meraih kemeja saya dan membukanya lalu dilanjutkan dengan membuka celana panjang saya berikut celana dalamku.
Saya kembali mencium Nadia, meremas payudaranya dan memainkan jariku divaginanya. Nadia nafasnya memburu tak teratur, tangannya meraih kontolku dan mengocoknya dengan cepat. Saya membuka BHnya lalu menghisap putingnya. Payudaranya tidak terlalu besar berukuran 32 dan putingnya berwarna coklat muda. Nadia mendesah dengan kencang dan tangannya tak henti-hentinya mengocok kontolku. Nadia memutar tubuhnya sehingga kepalanya persis diatas kontolku sedangkan pinggulnya disamping kepala saya, saya menarik pinggulnya dan mengambil posisi 69.
Saya tarik celana dalamnya kebawah melewati kaki kanannya dan membiarkan celana dalamnya tergantung dipaha sebelah kirinya. Bulu kemaluan Nadia agak lebat tapi terawat dengan baik. Bulu-bulunya terlihat merunduk kebawah dengan rapih. Saya mulai jilat vaginanya dengan rakus sembari meremas pantatnya. Nadia merespon dengan mengulum kontolku.
“Oh Arthur, terus sayang, enak sekali” ujar Nadia.
Setelah ber-69 untuk beberapa lama, saya menggeser Nadia kesamping lalu saya berdiri keluar. Nadia memperhatikan dengan wajah bingung. Saya kembali ke kamar dengan membawa botol white wine. Saya telentangkan Nadia lalu saya tuang sedikit wine ke dadanya turun ke perut ke paha dan ke mata kaki. Lalu perlahan saya jilat wine itu dari dada Nadia. Nadia mendongakkan kepalanya merasakan gairah saat saya memainkan lidah diputingnya.
Kembali saya lanjutkan menjilat wine di perut Nadia, turun ke vaginanya. Saya buka bibir vaginanya lalu menuang sedikit wine ke dalamnya, setelah itu saya hirup wine itu dari vaginanya. Beberapa tetes wine keluar dari vagina dan turun ke pantat Nadia. Tak luput saya menjilat seluruh daerah pantatnya. Nadia menjerit dengan nikmat.
“Arthur, seksi sekali. Sangat erotis. Kamu memang jago membuat saya terangsang”
Saya jilat habis seluruh wine di vagina Nadia, lalu turun ke dengkul hingga mata kaki dan ujung jari kakinya. Semua dijilat habis. Nafas Nadia tersengal-sengal merasakan itu semua.
“Sekarang giliran saya” kata Nadia.
Saya baring terlentang lalu Nadia mengambil selimut yang tipis dan kedua tangan saya diikat dipinggir tempat tidur.
“This girl is getting kinky” kata saya dalam hati.
Nadia menuangkan wine dileher saya lalu ke dada, perut, seluruh kontol saya dituang wine, paha sampai ke jari kaki. Dengan kedua tangan saya terikat diujung tempat tidur, Nadia mulai menjilat wine di leher saya. Ciuman Nadia di leher saya sungguh merangsang. Lalu ia turun ke dada saya dan menjilat kedua puting saya dilanjutkan ke perut dan akhirnya ke kontol saya. Kontol saya dihisap dan dijilat sampai ke biji saya. Kedua belah paha saya diangkat dan Nadia menjilat sampai ke selangkangan saya.
“Oh my goodness Nadia, it feels so fuckin good, terus sayang” kata saya menikmati setiap rangsangan yang saya dapat dari jilatan Nadia.
Nadia menjilati seluruh wine di paha dan betis hingga ujung jari kaki. Puas membuat saya sampai tersengal-sengal menahan nafsu, Nadia memandang saya dengan tatapan yang erotis. Kontol saya kembali diremas, lalu ia jongkok dipinggul saya dan memasukkan kontolku kedalam vaginanya. Baru sekali ini saya ML dalam keadaan terikat, tapi ada sensasi tersendiri yang saya rasakan. Nadia mulai menggoyangkan tubuhnya keatas kebawah dan memutar pantatnya.
Ikatan rambut Nadia terlepas sehingga rambutnya terurai. Tapi Nadia dengan cepat menggulung rambutnya keatas kepalanya dan tangan kanannya menahan rambutnya diatas sedangkan tangan kirinya sibuk meremas payudaranya. Mata Nadia terpejam merasakan kontolku dalam vaginanya. Saya benar-benar terangsang habis-habisan melihat Nadia yang begitu erotis memompa vaginanya dalam kontolku. Ada saat dimana Nadia tidak bergerak tapi saya merasakan vaginanya seperti menghisap kontolku lebih dalam dan terasa seperti digenggam dengan keras.
“Aahh, yes, yes, your dick feels so good in my pussy” ujar sang princess.
Nadia lalu menyorongkan tubuhnya kearah dadaku dan ia mencium bibirku sementara pantatnya masih terus memompa kontolku dalam vaginanya. Nadia melengkungkan dadanya keatas sehingga saya bisa menjilat putingnya. Saya menjilat seluruh payudaranya. Nadia melenguh dengan keras sambil memegang rambutnya yang tergulung diatas kepalanya dengan kedua belah tangannya.
Akhirnya saya mencapai klimaks dan peju saya keluar dengan deras didalam vagina Nadia. Tubuh Nadia mengejang dan ia juga orgasme. Nadia terkulai lemas didadaku, ia melepaskan ikatan tangan saya dan langsung tertidur didadaku. Saya mengecup bibirnya yang mungil dan ikut tertidur dengannya.
Jam 22:00, kami terbangun. Saya ingat ada janji dengan teman untuk hadir dalam acara ulang tahunnya yang diadakan disebuah club di down town San Francisco. Saya mengajak Nadia untuk ikut tapi Nadia lebih memilih untuk tinggal dirumah. Saya pun berpakaian lalu mencium Nadia yang mengenakan jubah kamar.
“I had a wonderful evening with you, my lady” ujar saya.
“Saya juga. Anda membuat saya terbang ke langit ketujuh” jawab Nadia dengan tersenyum
“Saya juga. Anda membuat saya terbang ke langit ketujuh” jawab Nadia dengan tersenyum
Kami berciuman dan Nadia mengantar saya sampai ke pintu. Princess Nadia yang anggun dan cantik, siapa sangka dibalik sikapnya yang kalem ternyata ia memiliki hasrat seksual yang besar.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Musim Panas di Los Angeles - 3
Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sa...
-
Namaku Cynthia. Ini baru pertama kali aku coba buat ngirim cerita seksku. Sudah sejak 3 tahun lalu, aku selalu "haus seks". Entah ...
-
Sudah setengah jam ini suara dengusan nafas yang memburu dan lenguhan penuh birahi terdengar sayup-sayup dari sebuah kamar kos di bilangan ...
-
Vani Gadis KU Semasa kuliah terjadi sebuah pengalaman serta cerita sex aku bersama temanku. Gimana sih cerita dewasa dan cerita sek...