Sunday, October 24, 2010

Kisah Valerie 6

Malam Yang Tak Kan Terlupakan (1)
---------------------------------------------
Valerie tidak akan pernah bisa melupakan malam percumbuan yang satu ini!
Segala variasi seksual yang dialaminya bersama Arya, David, maupun Kent seakan-akan seekor semut dibandingkan dengan gajah. Malam liar yang dialaminya kali ini benar-benar menakjubkan, dan mewujudkan fantasi seksualnya yang tergila! Benar-benar tak pernah sebelumnya ia bisa menduga bahwa akhirnya ia akan merasakan kenikmatan badani yang seperti ini.
Awalnya adalah sebuah pesta perpisahan dengan salah seorang konsultan di kantor yang ia pimpin. Namanya Rajesh, seorang keturunan India yang lahir dan besar di AS, lalu menjadi seorang ahli hukum dan perdagangan internasional lulusan Yale. Valerie menyewanya untuk membantu perusahaan mengembangkan sayap ke wilayah Australia dan Pasifik. Val tidak salah pilih, karena Rajesh sangat cerdas. Dalam masa 6 bulan kontraknya, kantor Valerie benar-benar telah mendapatkan bimbingan yang maksimal, dan kini siap me-launch proyek-proyek baru bernilai milyaran dollar.
Tidak seperti kebanyakan konsultan hukum, Rajesh tidak berperilaku formal, dan bahkan lebih menyerupai seniman katimbang ahli international law. Selama membimbing para direktur, Rajesh bersikap ramah dan pandai menarik perhatian. Seringkali ia datang dengan jeans dan baju lengan pendek, selalu riang setiap pagi, menyapa semua orang mulai dari direktur utama sampai tukang sapu. Namanya segera populer di seantero kantor.
Ia juga ganteng, selayaknya bintang-bintang film India dengan hidung mancung dan alis mata tegas. Tubuhnya tegap dan bicaranya selalu jelas. Bibirnya sangat menarik perhatian Val, dan diam-diam wanita ini sering memperhatikan bibir itu di rapat-rapat kantor. Diam-diam pula ia menduga, Rajesh menaruh perhatian yang sama terhadapnya. Tetapi, karena suasana kantor yang sibuk, dan karena Valerie tidak ingin urusan bisnis dibawa ke tempat tidur, mereka berdua saling menjaga jarak.
Sesekali, jarak itu seperti memendek. Misalnya, kalau mereka kebetulan satu lift, tak sengaja tubuh mereka saling bergesekan. Biasanya, Valerie maupun Rajesh cepat-cepat membuka ruang pemisah. Namun, kadang-kadang mereka membiarkan kedua tubuh mereka agak merapat beberapa saat. Membiarkan percik-percik romantik bertebaran di tubuh mereka, sebelum akhirnya mereka padamkan sambil keluar dari lift. Pernah juga Val menawarkan mengantar Rajesh pulang -tetapi secepat ia menawarkan, secepat itu pula ia meralat.
Begitulah. Keduanya seperti saling mengincar, mencari peluang yang tepat. Seperti dua gladiator di gelanggang, saling melingkari mencari kesempatan. Seperti dua singa yang sama-sama enggan melakukan serangan pendahuluan, saling mengintai dari jauh maupun dari dekat.
Tetapi, ketika akhirnya kontrak Rajesh habis, maka terbuka lah peluang untuk menyerang bersama-sama. Pesta perpisahan akan diadakan di apartemen Valerie. Sebagai boss ia berhak membelanjakan uang kantor untuk menjamu konsultan. Apalagi konsultan yang satu ini terbukti canggih. Apalagi pula, secara pribadi Val pun menyukainya. Ia segera mengantisipasi peluang ini dengan berdandan "habis-habisan". Semua keseksian tubuhnya ia tonjolkan. Minyak wangi termahal ia balurkan ke seluruh tubuh. Tekadnya bulat: malam ini, atau dua malam ini .... (atau tiga malam!)... ia akan "mengurung" Rajesh di kamar tidurnya, sebelum pria gagah itu kembali ke New York.
Hanya saja, Val kali ini terlalu yakin bahwa segalanya akan berjalan sesuai rencananya. Ia lupa, Rajesh juga punya rencana. Ketika malam pesta tiba, Val hampir saja membatalkan semuanya!
******
Segala persiapan pesta telah sempurna. Apartemen Valerie yang luas telah ditata secara profesional. Makanan dan minuman terbaik dari restoran terbaik di Jakarta telah tersedia. Seorang DJ (disk jockey) kenamaan telah pula disewa untuk memeriahkan suasana. Pokoknya, Valerie bertekad menjadikan perpisahan ini the best ever party in town!
Tamu-tamu mulai berdatangan sejak pukul 7 malam. Val tampil sempurna dan anggun dengan gaun merah tua yang menegaskan keputihan tubuhnya. Gaun itu panjang menyentuh matakaki, tetapi terbelah di pinggir sampai jauh ke pangkal paha. Kalau Valerie berjalan (dengan gayanya yang mengalahkan peragawati di cat walk itu) maka para tamu bisa menikmati pemandangan kaki yang indah-mulus tak tercela. Selain itu, belahan di dadanya cukup rendah untuk menampakkan hampir seluruh payudara Val yang ranum menantang itu. Decak kagum segera memenuhi ruangan setiap kali Val berkeliling menyapa para tamunya.
Lalu, pada pukul 7.45, Rajesh muncul. Gagah sekali dengan jas pesta biru tua, jeans Levis, dan kaos T-shirt berwarna kuning cerah. Val tak sabar, menyambutnya di beranda apartemen. Siap memberikan ciuman selamat datang, yang rencananya akan ia berikan secara lebih istimewa.
Tetapi Val segera tertegun. Rajesh datang menggandeng seorang dara cantik gemulai dengan rambut terurai sebahu! Setelah rasa kaget, di dalam diri Val muncul perasaan kecewa yang amat sangat, lalu disusul rasa kesal yang menggumpal. Kurang ajar, umpatnya dalam hati. Pria ini pura-pura tidak tahu bahwa aku sedang menyiapkan pesta untuknya sendirian. Val tahu persis, Rajesh belum menikah dan belum punya pasangan tetap. Kenapa dia bawa perempuan itu ke sini? Sungguh tidak sopan!
Tetapi berhubung ini adalah pesta kantor, Val tidak ingin merusak suasana. Cepat-cepat ia menguasai diri dan menyambut hangat pasangan yang sebetulnya ingin ia usir itu. Hanya saja, sambutan itu jauh lebih dingin dari rencananya semula. Val cuma menempelkan pipinya ke pipi Rajesh; sebuah salam biasa-biasa saja. Tidak istimewa sama sekali. Ia bahkan melakukannya dalam hitungan 2 detik. Sekilas sekali.
Lalu, Val segera mengumpulkan tamunya di halaman belakang yang sudah bertenda. Acara dimulai dengan setengah formal, setelah mengucapkan selamat datang dan menjelaskan maksud pesta, Val mempersilakan Rajesh mengucapkan kata perpisahan. Pria itu segera menyita perhatian orang banyak karena pidatonya yang jenaka. Para tamu tertawa berderai-derai, dan Val pun sejenak lupa pada kesal yang menggumpal di dadanya. Ia bahkan berdiri dekat Annisa, gadis indo-jepang yang datang bersama Rajesh.
Sambil menikmati lelucon Rajesh, diam-diam Val melirik gadis di sebelahnya. Hmmm.., sungguh cantik walau agak sedikit "mungil" untuk ukuran Rajesh. Di balik kaos terusan yang ketat melingkari tubuhnya, Val bisa membayangkan tubuh gadis ini pasti mulus belaka. Sial, umpatnya dalam hati, ... gadis ini bisa jadi saingan yang terlalu tangguh!
Setelah acara pidato, Val memimpin tamunya menuju ruang makan. Ia mempersilakan mereka mengambil makanan dan membawanya kembali ke taman di belakang. Lalu, mereka yang ingin minum bisa datang ke bar di ruang tengah. Setelah itu, silakan berdisko di sebuah arena khusus dekat kolam renang.
Dengan segera, pesta berubah meriah-cerita. Musik berdentam riang. Orang-orang berceloteh ramai. Tawa berderai-derai, ditingkahi jeritan manja pada wanita di sana-sini. Val merasa sangat puas, karena segalanya berjalan sempurna.
Sayang sekali, malam ini Rajesh tidak akan pernah bisa menyentuh tubuhku, gumam Val dalam hati. Salah dia sendiri!
******
Berkali-kali ada kesempatan untuk Rajesh dan Val memisahkan diri dari kerumunan, tetapi berkali-kali pula Val menghindar. Ia ingin memberi pelajaran dan ingin mempertahankan kewibawaannya. Kalau pria itu memang tidak mau, yaa.. sudah. Aku tak rugi apa-apa! sergahnya dalam hati. Dia bukan pria paling istimewa, walaupun memang menarik. Cuma Val agak heran, mengapa Rajesh masih tetap berusaha dekat dengannya. Apakah cuma karena sopan-santun sebagai tamu? Atau ia ingin "menyiksa" ku dengan memamerkan pasangannya? gerutu Val dalam hati.
Pada suatu saat, ketika pesta tengah ramai-ramainya dengan orang yang berdisko, Val tidak bisa menghindari pertemuan dengan Rajesh. Ia baru kembali dari toilet, dan bertemu pria itu di gang menuju ruang tengah. Agak kikuk, Val mencoba memberi jalan, merapat ke tembok. Tetapi Rajesh juga ikut minggir, memblokir langkahnya. Val tak bisa menghindar.
"You look marvelous tonight ..," ucap Rajesh dengan senyumnya yang "mematikan". Sorot matanya tajam bagai elang. Val mencibir dan berkata dalam hati, aku tak tertarik.
"Kenapa kamu seperti menghindar?" tanya pria itu, salah satu tangannya sudah menyentuh lembut pundak Val.
"You know why," jawab Val ketus sambil menyingkirkan tangan pria yang sebenarnya ia ingin remas dengan gemas itu.
"Aku punya penjelasan, kalau kamu mau mendengar," ucap Rajesh, semakin merapatkan tubuhnya. Val terpepet di tembok. Harum minyak wangi pria itu memenuhi rongga hidungnya.
Val mengangkat mukanya, "Okay. Tulislah penjelasan itu, masukkan sebagai laporan tambahan di laporan akhirmu." jawabnya dengan dingin.
Rajesh tertawa kecil, "Kamu makin cantik kalau sedang marah," katanya sambil menyentuh lagi bahu Val, dan Val kembali menghindar walau dengan kesulitan.
"Aku tidak marah. Biarkan aku lewat, tamu-tamu lain pasti juga ingin bicara denganku," ucap Val seformal mungkin. Hanya saja, ia sendiri tidak yakin apakah ucapan itu cukup kuat menampakkan kekesalannya. Ia sebenarnya ingin sekali tetap dipepet di tembok seperti ini oleh tubuh tegap yang harum semerbak itu.
"Kalau memang tidak marah, biarkan aku menciummu," ucap Rajesh.
Val terperangah. Apa-apaan ini? pikirnya dalam hati, apakah ia pikir aku mau dicium begitu saja. Apakah ....
Pikiran Val tak bisa berlanjut. Tiba-tiba saja bibir Rajesh sudah mengulum bibirnya. Val tersentak, mencoba menghindar dan mendorong tubuh pria itu. Tetapi tentu saja Rajesh terlalu kokoh untuk Val, dan tembok di belakangnya sama sekali tidak memberi peluang untuk menghindar. Rajesh dengan leluasa bisa melumat bibir Val yang selalu tampak basah itu.
Sebuah siraman kenikmatan bagai diguyurkan keseluruh tubuh Val. Ciuman pria yang bergairah itu dengan cepat meluluhkan pertahanan Val. Walaupun hatinya kesal dan pikirannya berontak, tetapi tubuhnya terkulai lemas. Bahkan kedua tangannya tidak lagi mendorong dada Rajesh, melainkan malah melingkari pundak pria itu. Secepat datangnya rasa kesal, secepat itu pula birahinya terpicu. Val benar-benar sial malam ini. Maksud hati ingin berwibawa, apa daya tubuhnya merindukan pria itu. Benar-benar sial!
Lebih sial lagi ketika Val mendengar langkah-langkah kaki di belakang tubuh Rajesh. Cepat-cepat ia membuka matanya, dan ...... Annisa berdiri terpaku memandang keduanya. Tetapi gadis itu cuma terpaku sejenak, lalu tersenyum manis kepada Val yang memandangnya dengan kedua mata terbelalak, dan segera melanjutkan langkah menuju toilet. Rajesh tentu saja tidak melihat kedatangan gadis itu, dan agaknya juga tak peduli siapa yang datang, karena pria itu terus melumat bibir Val dengan penuh nafsu.
Dengan sekuat tenaga Val mendorong tubuh Rajesh. "Stop it..,please" sergahnya. Rajesh pun mengendorkan pelukannya, membiarkan Val melepaskan diri dari pagutannya. Nafas wanita ini tersengal-sengal, selain karena kehabisan nafas juga karena perasaan galau: antara birahi, rasa kesal, dan terkejut. Bercampur baur.
Rajesh tersenyum memandangnya dengan wajah sangat dekat. Oh, Val betul-betul terpikat oleh pria ini. Ia jadi bingung sendiri. Kenapa Rajesh begitu bergairah menciumnya, dan seperti tak peduli kalau-kalau Annisa memergokinya? Bahkan, gadis itu benar-benar sudah memergoki mereka. Rajesh tampak tidak peduli.
Begitu ada peluang, Val segera cepat-cepat melangkah menuju ruang tengah, meninggalkan Rajesh yang masih berdiri di gang, memandangnya sambil tetap tersenyum tipis. Val tidak begitu suka senyum itu: menyembunyikan sesuatu yang penuh kejutan. Apakah gerangan yang ada di benak pria itu?
******
Tamu mulai pulang menjelang tengah malam. Valerie merasa puas karena tamu-tamunya tampak menyukai pesta yang diselenggarakannya. Beberapa tamu terpaksa dibujuk untuk pulang, karena Val hanya memperoleh ijin pesta sampai pukul 1 pagi dari pihak keamanan apartemen. Sampai menjelang usai, masih ada beberapa tamu yang tinggal. Lalu tepat pukul 1, musik disko dihentikan dan semua tamu pulang. Kecuali dua!
Val tidak tahu harus berkata apa. Sepanjang pesta, berkali-kali Rajesh datang kepadanya, mengajaknya mengobrol intim terlepas dari tamu-tamu lain. Entah kenapa, sulit sekali bagi Val untuk menolak ajakannya. Bahkan suatu saat, ketika Val perlu mengambil sesuatu dari kamar tidur, Rajesh menawarkan diri untuk mengantarnya.
"Don't be silly... masak aku perlu diantar ke kamarku sendiri," ucap Val sambil melepaskan tangannya dari gandengan Rajesh. Tetapi Rajesh tidak menyerah begitu saja. Dia bilang, tidak bolehkah ia melihat kamar tidurnya sejenak saja. Matanya yang indah dan tajam menembus kalbu Val, membuat wanita ini tak berdaya. Apalagi, bukan kah pada awalnya ia memang hendak mengajak pria ganteng ini tidur bersama?
Akhirnya Rajesh ikut ke kamar tidur. Baru saja lewat dari pintu, pria ini sudah merengkuhnya, mendesak Val ke tembok dan menciuminya. Val hanya bisa terperangah sebentar, lalu malah balik melayani cumbuan Rajesh. Cepat sekali ia terangsang oleh pria yang sangat bergairah ini. Ia biarkan Rajesh mengulum-melumat bibirnya. Ia biarkan tangan pria itu merayap ke bawah, menyingkap belahan rok yang memang sangat tinggi itu. Ia biarkan kedua bukit di bagian belakang tubuhnya diremas-remas.
Dalam sekejap, Val kehilangan kendali atas dirinya. Rajesh semakin berani, menciumi leher dan tengkuk wanita ini sambil meremas kedua payudaranya. Untung saja gaun Val terbuat dari bahan kualitas tinggi yang tidak mudah lecek. Untung pula bagi Rajesh, gaun itu berleher sangat rendah di muka. Salah satu tangan pria ini dengan mudah masuk menelusup, menemukan bola kenyal yang tak ber-beha. Val mengerang perlahan merasakan putingnya diraba-raba oleh jari Rajesh yang bagai mengandung setrum.
Sejenak Val hampir lupa tujuannya datang ke kamar, yaitu mengambil uang untuk membayar seorang petugas catering yang harus segera pulang. Ia cepat sekali terhanyut oleh alunan birahi yang dibangkitkan dengan sempurna oleh Rajesh. Tubuhnya menggeliat-geliat tak terkendali. Matanya terpejam nikmat. Seluruh ujung-ujung syaraf di badannya menimbulkan rasa geli yang melenakan.
Ketika tengah melayang-layang di alunan birahi itu lah tiba-tiba Val mendengar langkah kaki lagi. Cepat-cepat ia memperbaiki letak berdirinya, mendorong Rajesh agar menjauh. Tetapi pria itu sangat kuat, dan sangat bernafsu mencium serta menggerayanginya. Val juga tak sepenuh hati ingin melepaskan diri, karena tubuhnya terus minta digerayangi, minta diremas. Tenaganya sama sekali tak ada. Ia hanya bisa mengerang dan mengeluh dengan suara keras.
Ternyata yang datang adalah Annisa lagi. Gadis itu sudah ada di depan pintu yang hanya tertutup setengah. Di wajahnya tak ada rasa kaget ketika ia melihat Rajesh dan Val sedang berciuman di kamar. Rajesh membelakanginya, sehingga tidak tahu sama sekali Annisa telah masuk. Val terbelalak melihat gadis itu masuk tenang-tenang saja. Gadis itu sangat pendiam, pikir Val sambil berusaha lebih kuat untuk lepas dari pelukan Rajesh. Gadis itu juga sangat misterius, karena matanya bersinar erotis setiap kali memergoki Rajesh mencumbunya.
Rajesh akhirnya sadar bahwa ada orang lain di kamar. Ia melepaskan pelukannya dan berbalik. Val bersiap-siap memberi penjelasan. Tetapi ia jadi terpana sendiri, ketika Rajesh justru cuma berkata, "Hai.. sudah lama berdiri di sana?"
Annisa bersender di bingkai pintu, memainkan kancing bajunya, memandang dengan senyum kecil tersungging di bibirnya yang merah-basah. Pandangannya sama sekali tak mengesankan kaget atau marah melihat pasangan pestanya bercumbu dengan wanita lain.
Saat itulah, setelah beberapa detik berpikir dengan cepat, Val menyadari siapa sebenarnya gadis molek yang seksi itu. Oh-my oh-my, sergahnya dalam hati, gadis ini rupanya bukan kekasih Rajesh dan tampaknya ia datang dengan harapan yang sama: untuk bermain cinta. Persoalannya: dengan siapa gadis ini ingin bercinta? Kalau dengan aku, pikir Val, .... no way!
Rajesh berdiri di tengah, di antara kedua wanita. Senyumnya masih mengembang lebar, matanya masih bersinar bergairah. Ia dengan tenang berucap kepada Val, tetapi dengan muka memandang Annisa, "Val ,... isn't she beautiful ?"
Lalu ketika Val tidak menjawab, Rajesh melanjutkan, "Ia menyukaiku, dan aku menyukainya. Kami pasangan serasi, bukan?"
"Aku tidak bisa mengatakan lain, selain setuju..," jawab Val agak ketus sambil melangkah menuju laci dan mengambil dompetnya. Permainan teka-teki apa ini? pikir Val sambil meraih lima lembar uang sepuluh ribuan.
"And we both like you...," tiba-tiba terdengar Annisa berucap dengan suaranya yang manja. Walau ucapan itu perlahan saja, Val bagai tersentak listrik 1.000 volt.
Rajesh tertawa melihat Val berdiri tegak dan memandang ke arah mereka dengan mulut ternganga.
"Oh, please Val..., don't worry. Kalau kamu tidak suka, kami akan segera pulang. Aku cuma ingin mengatakan padamu terus terang, ... aku ingin tidur dengan mu malam ini," katanya. Segera disambung dengan, "...Kalau kamu bersedia."
Val tentu saja tidak bisa menjawab. Selain ia kini teringat harus segera kembali ke ruang depan untuk membayar petugas catering, ia juga masih terkesima oleh tingkah kedua tamunya itu. Bergegas ia tinggalkan kamar, tidak menoleh lagi kepada kedua tamunya, dan tidak tahu bahwa keduanya kemudian berciuman dan saling meremas dengan bergairah. Val juga tidak tahu bahwa Annisa tidak bercelana dalam, dan jari-jari Rajesh terus menerus menelusup-mengelus di bawah sana, menyebabkan gadis itu menggeliat ke kiri ke kanan seperti seorang penari erotik.
******
Sepanjang sisa pesta, pikiran Val penuh galau. Sebagai seorang yang lahir dan besar di Inggris, ia tidak heran pada tingkah seksual Rajesh dan Annisa. Tetapi biar bagaimana pun, Val bukanlah pecinta yang terlalu bebas. Ia tentu saja tak asing dengan fantasi seksual yang melibatkan lebih dari sepasang kekasih, tetapi ia belum pernah melakukannya. Ia bahkan belum pernah mempunyai kesempatan langsung untuk melakukannya. Seluruh petualangan seksualnya berlangsung straight.
Yang jelas, Val tak merasa dirinya berkategori lesbian. Ia tidak pernah berfantasi bercinta dengan sesama wanita, walau banyak sekali temannya yang lesbian ketika masih kuliah. Tidak hanya lesbian, tetapi juga biseksual. Beberapa kali Val pernah diajak bercumbu, misalnya oleh Lindsay sahabatnya. Tetapi Val selalu menolak dengan halus, karena sampai kini pun ia merasa bahwa bercumbu dengan sesama mu memerlukan jiwa dan perasaan yang berbeda. Ia tidak memiliki jiwa dan perasaan itu.
Tetapi bagaimana jika Rajesh ingin bercinta dengannya DAN dengan Annisa? Bagaimana jika Rajesh menawarkan petualangan baru itu? Val merasa darahnya berdesir lebih cepat ketika mempertimbangkan ide ini. Ah...., bercumbu dengan pria itu saja sebetulnya sudah cukup. Kalau ditambah dengan bercumbu sambil melihatnya bercumbu?
"Pesta yang menakjubkan, Val! " sebuah suara membuyarkan lamunan Val, "Sayang aku harus segera pulang. Aku sudah terlalu tua untuk pesta ini." . Direktur Pemasaran telah berdiri di sampingnya, mengulurkan tangan untuk bersalaman. Val menyambut uluran tangannya, berbasa-basi mengajak pria gaek ini untuk tetap tinggal. Tetapi tentu saja itu cuma basa-basi. Val tidak mencegah ketika akhirnya pria tersebut melambaikan tangan.
Lalu tamu-tamu pun berpulangan. Sehingga akhirnya tinggal Rajesh dan Annisa yang belum pulang. Val berdiri di depan beranda, mengantar setiap tamunya pulang. Ketika ia harus kembali masuk ke kamar tamu, jantung Val berdegup kencang.!

Kisah Valerie 4

Makan Malam Yang Tertunda
-------------------------------
Val menyukai spontanitas dalam hubungan seksual. Baginya, spontanitas di ranjang adalah kontras dari kehidupan kantornya yang serba formal-terencana. Sebagai seorang eksekutif yang bertanggungjawab terhadap operasi-operasi global, Val selalu bertindak berdasarkan nalar dan logika yang didukung data akurat. Serba terencana, memandang jauh ke depan, dan memakai taktik jangka menengah mapun pendek yang tepat sasaran. Jika kantor sudah ditinggalkannya, maka Val selalu mendambakan spontanitas. Dan inilah yang Val sukai pada diri David, lelaki yang selalu spontan jika berurusan dengan seks. Seperti kejadian malam itu.
Val mengundang David makan malam di apartemennya Sabtu itu. Val juga bilang di telepon, dengan suara manjanya, bahwa David bukan hanya diundang makan malam. Ia juga dipersilakan menginap dan tidur bersamanya. David terbahak mendengar ucapan Val yang terus terang itu.
Ketika David tiba, Val sedang menyiapkan salad di dapur. Wanita itu menawarkan minuman, dan David memilih bir. Sambil mengobrol kiri-kanan, Val meminta maaf kepada tamunya, karena ia harus kembali ke dapur menyiapkan makanan. David bilang, "no problem" lalu ikut ke dapur di sisi timur apartemen yang modern itu.
David berdiri di pintu dapur dengan sekaleng bir dingin di tangannya, melihat Val sibuk mencampur sayuran di pinggan keramik bermotif burung-burung nuri. Dapur Val sangat bersih, dan di tengah-tengah ada sebuah meja, tempat Val saat ini menyiapkan salad itu. Tubuhnya membelakangi David, hanya dibungkus span pendek dari kain tipis dan kaos tanpa tangan. Sambil berbicara kesana-kemari, David diam-diam memandangi tubuh itu. Jelas sekali, wanita yang menggairahkan itu tidak memakai sepotong pakaian dalam pun. Tidak ada celana dalam, tidak ada beha. Kain tipis yang dipakai sebagai rok itu, tak mampu melindungi cahaya menerawang, memperlihatkan bayangan dua paha yang mulus. Kaosnya juga terlalu sempit, tidak bisa menyembunyikan payudara yang padat membusung itu.
Pemandangan seperti itu adalah magnit yang amat kuat, menarik David untuk segera mendekat. Diam-diam ia meletakkan kaleng bir, lalu berjalan tanpa suara. Sekejap ia sudah sampai di belakang Val, dekat sekali sehingga seluruh harum tubuhnya tercium dengan jelas. Lalu David mencium tengkuknya.
"Hei!" Val menjerit kaget, "You'll ruin my salad!"
David tidak peduli. Ia terus menciumi tengkuk yang dipenuhi rambut-rambut pirang halus itu. Harum sekali tengkuk itu. Val menggeliat, mencoba menghindar. Tetapi wanita ini tidak sungguh-sungguh menghindar. Cuma bergerak-gerak sedikit saja. Apalagi David kini mendesak ke depan, menyebabkan Val terjepit di antara tubuh lelaki itu dan meja dapurnya. Tangan David mengusap-usap bukit indah di belakang Val, sesekali meremasnya. Tangan yang lain telah merayap ke depan, menjamah sebuah payudara Val yang bergoyang-goyang seksi setiap kali wanita ini menggelinjang.
"Oh, David... not now....," Val mendesah, menggerak-gerakan bahunya mencoba menhindari ciuman David di sepanjang pangkal lehernya. Tetapi dalam hatinya berkata lain, dan berharap David tidak segera berhenti.
David memang tidak berhenti. Tangannya merayap ke bawah, menyingkap rok yang dikenakan Val. Memang betul, wanita ini tak bercelana dalam, dan pemandangan indah segera terpampang. Val memiliki bagian belakang yang mempesona, kenyal-padat dan menonjol mengundang selera. Dengan gemas David meremas-remas, membuat Val menjerit kecil sambil menahan geli. Kedua tangan Val kini tak bisa meneruskan pembuatan saladnya, dan berpegangan di bibir meja, antara bertahan dan menyerah. Dengan jari tengahnya, David menelusuri celah sempit di antara dua bukit kenyal di bokong yang seksi itu. Val menggelinjang merasakan kenikmatan mulai terbangun di bawah sana. Apalagi lalu jari itu semakin lama semakin ke bawah, lalu agak ke depan, menyelinap ke gerbang kewanitaannya dari belakang. Wow! Val merenggangkan kedua pahanya, tak tahan mendapat perlakuan seperti itu.
Sementara tangan yang lain kini masuk menelusup ke kaos Val, menjalar menuju bukit payudaranya yang membusung. Oh, hangat sekali telapak tangan David merayapi perutnya, naik ke bagian bawah dadanya, lalu menyelinap di antara kedua payudaranya, sebelum akhirnya naik ke salah satu puncaknya. Val menggeliat dan mengerang pelan ketika telapak tangan itu berputar-putar ringan di atas puting susunya. Oh, geli sekali rasanya puncak-puncak payudara Val, membuat tubuhnya bergetar pelan. Kepala Val berputar-putar seperti seorang olahragawan sedang warming up, karena bibir David menjalari lehernya, mengendus-endus tengkuknya lagi, membuat Val kegelian.
Tiba-tiba David membalikkan tubuh Val, membuat wanita ini menjerit kaget. Kuat sekali pria ini, sanggup memutar tubuhnya dengan cepat. Tidak itu saja, David bahkan sudah mengangkat Val dan mendudukkan wanita ini di meja dapur yang di sana-sini dipenuhi sayuran dan mayones. Lalu, pria itu berjongkok, dan Val tahu apa yang akan dilakukannya. Dengan gerak cepat, David menyingkap rok wanita itu, membuat kewanitaannya terpampang bebas dalam terang lampu dapur yang bagai siang hari. Jelas sekali terlihat kewanitaan Val yang tetap halus-licin karena baru dicukur, harum karena baru dibasuh sabun wangi. Bentuknya menyerupai buah ranum dengan belahan di tengah, menggiurkan sekali. Belahan itu lah yang segera diciumi oleh David, ditelusuri dengan lidahnya, membuat Val merintih nikmat dan memperlebar kangkangannya. David pun membantu dengan tangannya, mendorong kedua paha Val agar lebih jauh terbuka. Kewanitaan Val seperti direntang, kedua bibir-bibirnya yang tebal itu terkuak, menampakkan lembah merah-muda yang halus seperti sutra dan licin seperti diminyaki. David menjilati bagian yang terkuak itu, mendesak-desakkan lidahnya yang panjang ke dinding-dinding kewanitaan Val, menimbulkan perasaan yang tak terperi dalam diri pemiliknya.
"Ohhhh......, ahhhhhh......., ngggggg.....," cuma itu yang bisa keluar dari mulut Val. Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan kenikmatan yang sedang dirasakannya.Val tak kuasa menahan tubuhnya rebah di meja dapur. Untunglah meja itu cukup lebar menampung seluruh badannya, walau kedua kakinya tetap bergelantungan, disangga oleh bahu David. Rasa geli dan nikmat menjalar ke seluruh tubuh Val, meletup-letup seperti air mendidih. Apalagi ketika lidah David bermain-main di daging kecil yang menonjol dalam lempitan bagian atas kewanitaannya. David menggunakan jari-jarinya untuk menguak persembunyian "Si Kecil Merah" itu, menarik ke atas kulit tebal yang menyembunyikannya, sehingga tonjolan kecil yang berdenyut-denyut lemah itu kini bebas terbuka. Dengan ujung jarinya, David menjilati si kecil, mengirimkan sejuta kenikmatan yang menjalar cepat ke seluruh tubuh Val, membuat wanita itu merintih-rintih dan mengerang keras. Salah satu tangan Val tak sengaja menyentuh botol saus tomat, menyebabkan isinya tumpah di atas meja. Terkejut, Val bangkit dan meminta David berhenti sebentar. Bukan saja ia ingin menghentikan tumpahan saos tomat, tetapi ia juga punya ide cemerlang!
David menghentikan ciumannya, sambil tetap menyenderkan kepalanya di paha Val yang putih mulus itu. Lalu didengarnya Val berkata, "Care for some tomato sauce, David?"
Belum lagi David menjawab, Val telah menuangkan saos tomat ke kewanitaannya. Tersentak, David mengangkat wajahnya dan memandang takjub, melihat saos tomat berleleran keluar dari botol dan memenuhi celah kewanitaan Val. Ah,... sebuah permainan baru!
"Help yourself...," desah Val nyaris tak terdengar. Botol tomat telah diletakkan kembali.
Tanpa banyak bicara, David langsung menjilati saos tomat itu. Val mendesah, memandangi kewanitaannya dilahap oleh pria itu. Oh, menggiurkan sekali pemandangan itu. Nikmat sekali rasanya "dimakan" seperti itu, dibumbui saos tomat. Val mengerang, merasakan orgasme pertamanya akan segera tiba. Ia merebahkan kembali tubuhnya ketika David tidak lagi hanya menjilat, tetapi juga mengulum-ngulum "Si Merah Kecil" yang dipenuhi saos tomat, menyedot-nyedotnya seperti hendak membuatnya licin bersih. Seketika, Val merasakan klimaks yang bergelora menyergap seluruh tubuhnya, dimulai dari selangkangannya dan menyebar cepat ke atas, membuatnya menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air. David terus menyedot, mengulum, mengunyah-ngunyah. Val berteriak-teriak kecil, tak tahan menerima kenikmatan yang bertubi-tubi itu.
Lalu permainan mereka semakin menggila. Semakin spontan. David menemukan sebuah sosis matang tergeletak di dekatnya. Diambilnya sosis sebesar ibu jari itu, dan sebelum Val tahu apa yang terjadi, sosis itu telah melesak ke dalam kewanitaannya. Tadinya, Val mengira itu salah satu jari David, dan ia mengerang merasakan kenikmatan diterobos daging licin. Tetapi dengan takjub ia kemudian sadar bahwa "jari" itu perlahan-lahan dimakan, ditarik keluar sedikit-demi-sedikit. Val bangkit lagi, memandangi David dengan lahap memakan sosis yang agak basah berlumuran cairan cintanya. Ah, menggairahkan sekali pemandangan itu. Dengan segara Val mengambil lagi sebuah sosis. Ketika sosis pertama selesai dimakan David, dengan segera Val memasukkan sosis yang baru. Dengan cepat ini dimakan pula. Lalu yang ketika. Keempat. .... Val meregang merasakan kenikmatan yang unik menyerbu tubuhnya. Orgasme datang lagi bertubi-tubi, sementara David merasa nafsunya meningkat setelah menikmati sosis yang fresh from the oven itu!
David bangkit, mengeluarkan kejantanan dari celananya. Besar dan tegang sekali kejantanan itu. Val melirik ke bawah dari posisi berbaringnya ..... Oh, pemandangan kejantanan David saja sudah cukup memberinya semangat baru. Val sangat menyukai milik David yang satu itu, sangat kenyal dan kuat, mampu bertahan dalam percumbuan yang panjang menggairahkan. Sambil mengerang, Val membuka kedua pahanya lebih lebar lagi, meletakkan tumit-tumitnya di pinggir meja. Dengan posisi seperti ini, Val bagai hewan kurban yang siap disembelih, di atas altar kenikmatan yang dipenuhi sayur!
Pelan-pelan David menuntun kejantanannya memasuki gerbang kewanitaan Val. Kenyal sekali liang yang basah oleh aneka cairan itu, termasuk saos tomat dan kuah sosis. David mula-mula menggosok-gosokan bagian kepala dari kejantanannya yang telah membesar itu. Oh, Val merasakan kegelian yang amat-sangat, membuatnya bergidik-bergeletar. Lalu, perlahan-lahan David mendorong kejantanannya masuk.
Perlahan sekali, mili demi mili batang-otot yang panas-berdenyut itu melesak ke dalam. "Ah .... ahhhh .... ahhhhh... ahhhhhhhhh..." Val mengerang setiap kali kejantanan David menerobos masuk. Setiap mili gerakannya menimbulkan percikan nikmat, sehingga ketika akhirnya seluruh kejantanan itu tenggelam di dalam kewanitaannya, Val langsung mencapai orgasme ketiganya. Cepat sekali puncak birahi itu datang bergantian. Padahal David belum lagi bergerak maju-mundur.
David lalu menaburkan sayuran yang tadinya dipersiapkan untuk salad di atas dada Val yang sedang berguncang-guncang. Warna hijau, kuning dan merah segera menghiasi tubuh putih mulus itu. Val kegelian merasakan daun-daun yang basah dan dingin melekat di tubuhnya yang panas terbakar birahi. Rasa yang amat kontras ini -panas dan dingin- menambah rangsang baru di diri Val. Betul-betul unik permainan cintanya kali ini. Betul-betul spontan dan tanpa tedeng aling-aling. Inilah yang selama ini diimpikan Val jika bercinta. Beruntung sekali ia mendapatkan pasangan bercinta seperti David.
Sambil mulai menggerak-gerakan pinggulnya, menghujam-hujamkan kejantanannya, David pun menunduk mulai memakani sayur-sayuran. Val telah pula manaburkan mayones di atasnya, sehingga benar-benar menjadi salad. Sedap sekali dan segar sekali rasanya makan salad di atas tubuh wanita yang menggairahkan ini. Sambil menikmati pula cengkraman otot kenyal di bawah sana yang mengurut-urut kejantanannya. Wow! David bagai berada di langit ke tujuh. Fantasi seksualnya tersulut dengan cepat, membakar badannya, menyediakan energi berlipat ganda untuk terus bercumbu dan bercumbu lagi.
Val merintih-mengerang merasakan bagian-bagian dari tubuhnya ikut tergigit ketika David menyantap "salad" di atas dirinya. Hal ini menambah nikmat permainan cinta mereka, dan sekali lagi, tanpa dapat dicegah, orgasme keempat datang menderu memenuhi tubuh Val yang memang sudah sangat sensitif ini. Sedikit saja gerakan David mampu menimbulkan kobaran birahi yang membahana. Sedikit saja David memaju-mundurkan kelaki-lakiannya, Val sudah menjerit-jerit kecil merasakan kenikmatan yang berlipat ganda. Pada saat Val mencapai klimaks, David menggigit seiris tomat di puting Val, dan secara tak sengaja menggigit pula puting itu. Val menjerit karena ada rasa perih, tetapi jeritannya segera berubah menjadi erangan karena David pun segera menyadari "kecelakaan" itu, dan mengubah gigitannya menjadi kuluman. Rasa perih segera bercampur dengan geli, cepat sekali membuat Val menggeliat kuat dan menyerah pada gelombang-gelombang besar puncak birahinya.
Ketika semua sayuran telah habis, David tidak lagi memiliki kegiatan lain selain menggenjot menghujam-hujamkan kejantanannya. Setelah sekian lama menahan diri dan memberikan empat orgasme kepada Val, kini David membiarkan klimaksnya sendiri datang menyerbu. Dia mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya, tidak mempedulikan Val yang sebenarnya belum lagi selesai dengan klimaks terakhirnya.
Val masih menggelepar-gelepar merasakan akhir dari klimaks itu, tetapi David telah pula memberikannya kenikmatan baru. Tubuh Val berguncang, menggeliat, meluncur hampir terjatuh dari meja yang kini penuh keringat bercampur air bekas sayuran, saos tomat, dan sebagainya. David cepat-cepat menahan tubuh itu, mencengkram bahunya dengan kuat. Val cepat-cepat pula berpegangan pada pinggir meja.
Dengan erangan yang menyerupai banteng terluka, David akhirnya melepaskan salvo-salvo birahinya, menumpahkan banyak sekali lahar putih pekat yang muncrat sangat kuat dari ujung kejantanannya. Val entah sedang berada di langit yang keberapa, tidak bisa merasakan semprotan-semprotan hangat di dalam kewanitaannya, karena ia sendiri sedang meregang menikmati klimaks kelimanya yang datang menyambung akhir klimaks sebelumnya. Kedua kakinya erat menjepit pinggang David. Matanya terpejam. Mulutnya menganga dengan suara-suara tertahan seperti orang tercekik. Payudaranya berguncang-guncang hebat.
Sebuah "Oh!" yang panjang akhirnya keluar dari mulut Val, setelah segalanya mereda. David terkulai menindih tubuh Val. Meja dapur berantakan. Botol saos tomat akhirnya terguling tanpa dapat dicegah. Untung botol itu kuat sehingga tidak jatuh berkeping. Tetapi isinya bermuncratan ke mana-mana, bercampur potongan-potongan sayur, dan beberapa apel yang bergelindingan. Kacau sekali!
"Oh, David... untung kamu bisa membantu saya membersihkan dapur!" begitu kata Val setelah mereka mampu berbicara lagi. Berdua mereka tertawa terbahak-bahak mengenang kegilaan-keedanan yang barusan mereka lalui.
Makan malam kali ini terpaksa ditunda. Setelah membersihkan dapur, Val dan David kehilangan nafsu makan. Sebaliknya, setengah jam kemudian mereka telah terlihat bergumul di kamar tidur. Percumbuan dilanjutkan, tetapi dengan tempo yang jauh lebih lambat, dan dalam rentang waktu yang jauh lebih lama.
Tak usahlah mereka khawatir, ..... di seberang apartemen Val ada restoran yang buka 24 jam. 

Kisah Valerie 3

David Yang Menggairahkan (2 - selesai)
---------------------------------------
David memaksa Val mampir di apartemennya, tidak langsung pulang. Val sebetulnya hendak membantah, karena besok pagi ia harus kembali ke kantor.
"Apakah ada agenda penting besok?" tanya David sambil menancap gas meninggalkan pelataran parkir, masuk ke jalan Thamrin yang sudah padat oleh kendaraan.
"No ... hanya ada satu pertemuan sehabis makan siang. Itu pun tidak terlalu penting, just a routine discussion," jawab Val.
"So, c'mon ... kamu bisa mampir ke tempatku. Ada pizza istimewa di lemari es, dan kita bisa makan malam ala Italia. Di dekat apartemenku ada restoran Italia," desak David. Val akhirnya menyerah. Sambil mencubit pipi David dengan gemas, ia akhirnya setuju mampir ke apartemennya.
**********
Apartemen David lebih luas dari apartemen Val, terletak agak ke luar Jakarta ke arah Bogor. Ruang tamunya didominasi warna coklat tua dan ornamen merah maroon serta warna-warna emas. Sebuah jendela besar menghadap ke selatan, menampakkan hamparan ladang golf yang luas. Indah sekali.
Val menghenyakkan tubuhnya di sofa. David datang membawa dua botol minuman kaleng yang dingin. Sejenak mereka mengobrol tak tentu arah, sebelum akhirnya Val bangkit dan merasa tubuhnya perlu kesegaran.
"Aku mau mandi," ucapnya, "Kamu punya piyama ekstra, kan?"
"Mungkin terlalu besar untuk kamu," jawab David, "Tetapi,... apa betul kamu perlu piyama?" godanya sambil mengedipkan sebelah mata.
"Nakal!" sergah Val.
David menuntun Val ke kamarnya, menyuruhnya memilih sendiri piyama yang akan dipakainya. Val memilih yang berwarna biru tua, dari handuk dan berukuran besar. Lalu, di depan David yang berdiri kagum, ia melepaskan pakaian kantornya, meletakkan dengan rapi di atas ranjang David. Molek dan mulus sekali tubuh itu, membuat David menelan ludah berkali-kali. Val memang seperti patung marmer buatan Itali yang hidup!
"Kamu juga perlu mandi, kan?" ucap Val sambil memandang David dengan matanya yang biru penuh godaan. Bagaimana David bisa menolak ajakan seperti itu?
Tergesa-gesa David membuka seluruh pakaiannya, lalu menyusul Val yang sudah berlari ke kamar mandi.
**********
Di kamar mandi, Val bertanya di mana pisau cukur David. Dengan agak heran, David balik bertanya, "Untuk apa?"
Val hanya tersenyum, dan David menyerahkan sebuah pisau cukur non-elektronik sambil tetap keheranan. Tetapi keheranannya segera berubah menjadi ketakjuban, ketika tahu apa yang hendak dikerjakan oleh bidadari mulus itu. Val hendak mencukur bulu-bulu di sekitar kewanitaannya! Oh, it's gonna be fun! pikirnya gembira.
Val duduk di pinggir bak mandi jacuzzi, dan dengan cekatan melakukan pencukuran. Tampak jelas bahwa ia sudah terbiasa melakukannya. David terdiam memandang wanita molek ini mengangkangkan kakinya dengan santai, seakan-akan tidak ada orang lain di depannya. Dengan takjub dilihatnya kewanitaan Val semakin lama semakin bersih, dan akhirnya licin tak berbulu sama sekali!
Kemudian Val bangkit, dan tanpa banyak bicara menuju ruang shower yang dipagari kaca buram. Piyama mandi ditanggalkannya sambil berjalan, dilempar seenaknya ke penggantungan baju yang terbuat dari nikel, di pojok kamar mandi. David kembali tergesa-gesa mengikuti tingkah Val dan menyusul masuk ke ruang shower.
Di dalam, Val sudah membasahi tubuhnya dengan air. Wow! David tak berhenti mengagumi tubuh mulus itu. Dengan air di sekujur badannya, tubuh itu tampak lebih menggairahkan lagi. Teringat David akan patung-patung bidadari telanjang di pinggir kolam di Roma. Seperti itulah tubuh Val, cuma tentu saja lebih indah lagi karena 'patung' itu hidup!
"Jangan cuma berdiri di sana, David, nanti kamu masuk angin," goda Val sambil menyerahkan sebotol sabun cair, "Bantu aku menyabuni tubuhku, alright?"
"Dengan senang hati!" sahut David sambil tersenyum manis. Dituangkannya sabun banyak-banyak ke telapak tangan, lalu diusapkannya ke tubuh Val. Wow! Kembali David terkagum merasakan tubuh yang tidak saja tampak halus, tetapi memang halus. Bersemangat sekali David menyabuni Val yang tertawa-tawa kecil seperti seorang anak dimandikan bapaknya. Tak berapa lama kemudian, tawa-tawa kecil itu berhenti, diganti dengan gumam. Lalu diganti lagi dengan desahan. Val mematikan air shower, memejamkan mata menikmati pelayanan khusus pria menawan di hadapannya.
David pun menyabuni tubuh Val makin seksama. Tangannya cekatan mengusapkan busa lembut dan wangi ke seluruh tubuh Val. Ketika menyabuni payudaranya, David berlama-lama mengusap-usap kedua puting susu Val, membuat wanita Irlandia yang molek ini bergelinjang-gelinjang kegelian. Kedua tangannya terangkat, mencekal erat tangkai shower, seakan bergantungan di situ. Posisi ini menyebabkan dua bukit kenyal yang membusung itu bertambah tampil menggairahkan. Gemas sekali David meremas-remasnya, bermain-main dengan busa sabun yang berleleran. Seakan-akan ia adalah seorang peternak yang sedang memerah susu-susu sapinya. Kadang-kadang ditarik-tariknya kedua ujung payudara yang semakin menggembung itu, seakan-akan benar ingin mengeluarkan susu.
"Don't be too long there, darling...," bisik Val tak sabar, "Touch me down there, honey...," desahnya.
David tersenyum dan segera menurunkan salah satu tangannya, menyabuni perut Val yang rata dan tambah licin oleh busa sabun. Dengan cepat, tangan itu tiba di selangkangan Val yang sudah pula terbuka karena ia berdiri dengan dua kaki agak terpisah. David mengusap-usapkan sabun ke seluruh kewanitaan Val yang telah bersih licin tak berbulu. Val menggeliat dan memejamkan mata, mendesah. David semakin giat menyabuni bagian yang putih bersih itu, mengusap-usap dengan telapak tangannya. Sementara tangan yang satu turun ke bawah, ke bagian belakang. David meremas pantat Val yang padat berisi itu, membuat wanita itu menjerit kecil, antara senang dan terkejut.
Kini seluruh kegiatan David terkonsentrasi di bagian bawah. Tangan kirinya menggerayangi bagian depan kewanitaan Val, sementara tangan kanan bermain-main di belakang. Dengan jari-tengah tangan kirinya, David perlahan-lahan menelusuri bibir kewanitaan Val . Kedua bibir itu seakan-akan merekah terpisah menerima jari David yang meluncur lancar ke bawah, lalu perlahan naik lagi ke atas. Ke bawah, ke atas, dengan perlahan tapi penuh kepastian. "Oooow....," Val mengerang dan menyorongkan pinggulnya ke depan, merapatkan kedua pahanya menjepit tangan David. Terasa sekali kenikmatan menjalari pangkal pahanya, membuat Val ingin segera ditelusupi oleh jari yang nakal itu.
Tangan kanan David bergiat di belakang, juga dengan jari tengah yang nakal menelusuri celah di antara dua bukit belakang Val yang seksi. Busa sabun membuat aktivitas David semakin lancar, dan kini ujung jari tengahnya menyentuh bagian luar lubang belakang Val. Pelan-pelan, David memutar-mutar ujung jarinya di sana, dan Val merasakan geli yang nikmat seperti geli yang terasa di liang kewanitaannya. Ah, kini ada dua kegelian di bawah sana, di depan dan di belakang. Val menggeliat-geliat seakan-akan kebingungan, apakah akan menyorongkan pinggungnya agar kewanitaannya bertambah geli, atau mendorong ke belakang agar belakangnya yang dirangsang. Akhirnya ia melakukan keduanya: menyorong ke depan dan mendorong ke belakang. "Oooow, that's nice honey..., do it some more," desahnya.
David menurunkan tubuhnya, berlutut di depan Val. Ia lalu mulai menciumi bagian depan kewanitaan Val yang licin dan kini penuh keharuman sabun wangi itu. Val segera mengucurkan sedikit air untuk mengusir busa di sana, sehingga kini kewanitaannya yang mulus itu terpampang jelas di mata David. Oh, indah sekali tampaknya bagian yang sangat sensitif itu. Putih bersih, tidak berbulu, seperti seorang gadis yang belum lagi remaja. Kedua bibir kewanitaan itu tampak menebal, merekah memperlihatkan daerah yang memerah dan basah oleh air maupun oleh lendir bening. Agak ke atas, dan agak tersembunyi, terlihat tonjolan kecil berwarna kemerahan yang agak berdenyut-denyut. Tonjolan itulah yang pertama dituju oleh David, diciuminya dengan lembut, lalu dijilatnya dengan ujung lidah. "Geez....,"
Val terlonjak seperti disengat setrum, dan otomatis pula kakinya membuka lebih lebar, dan pinggulnya tersorong ke depan.
Pada saat Val mengangkangkan kakinya, tangan David beraksi lagi. Jari telunjuknya masuk dengan leluasa ke dalam kewanitaan Val, disusul jari tengahnya. Dua jari nakal itu bermain-main di dalam sana, berputar dan menggosok-gosok dinding yang licin dan berdenyut dan memerah itu. Val semakin gelisah menggeliat-geliatkan badannya. Apalagi kemudian David juga menggelitiki bagian belakangnya. Val bagi terperangkap dalam dua sumber kenikmatan birahi yang membuatnya bergetar sekujur tubuh. Liang kewanitaannya terasa semakin menguak, dan David kini memasukkan satu jari lagi, sehingga tiga jari ada di dalam sana, keluar-masuk, berputar-putar, mengurut-menggosok. "Oh, God ...... I can't stand it anymore....," erang Val sambil memegangi bahu David dan melebarkan kangkangannya sehingga ia nyaris terjongkok.
David lalu duduk di lantai shower, dan membiarkan Val mengangkangi kepalanya. Dengan posisi ini, ia bisa leluasa menjilati kewanitaan Val dan bermain-main dengan lubang belakangnya. Ia kini memasukkan lidahnya ke dalam liang kewanitaan Val yang sudah dibanjiri cairan cintanya. Kini tiga jari dan satu lidah ada di dalam sana, membuat Val merasa kedua lutunya hilang, lemas sekali. Apalagi David kemudian menyedot dan seakan-akan mengunyah-ngunyah seluruh kewanitaan Val, membuat wanita itu tak tertahankan lagi, melorot ke bawah, jatuh di pangkuan David sambil mendesah-desah dengan mata terpejam.
Dengan sedikit gerakan, Val berhasil menangkap kejantanan David yang sudah pula menegang di antara jepitan dua bibir kewanitaannya. Lalu Val mendorong ke bawah, dan liang kewanitaannya seperti sebuah mulut kecil yang kelaparan hendak menelan kejantanan David yang kenyal dan besar dan panjang dan hangat itu. Tetapi, walaupun Val sudah mengangkang selebar-lebarnya, tetap saja diperlukan upaya ekstra untuk memasukkan seluruh kejantanan David. Dan Val pun merasakan nikmat luar biasa ketika dinding-dinding kewanitaannya perlahan-lahan menguak dan menerima daging kenyal yang padat dan hangat itu, menggosok keras dan mantap, mengirimkan berjuta-juta kenikmatan ke seluruh tubuhnya.
Baru saja seluruh kejantanan itu melesak, Val sudah merasakan orgasmenya datang menyerbu. Ia terduduk dengan seluruh kejantanan David berada di dalam dirinya, begitu besar dan panjang sehingga seakan-akan ujungnya sampai ke leher Val!
"Oh, besar sekali kamu, David.....," Val mengerang dan merasakan orgasmenya menggemuruh di bawah sana. Ia lalu memutar-mutar pinggulnya, menambah intensitas kenikmatan, sehingga akhirnya ia tak kuasa lagi menahan jerit kecil keluar dari kerongkongannya. Kaki dan pahanya mengejang, menggelepar dan terkapar di lantai shower. David mencekal erat pinggang Val, menjaga agar wanita yang sedang kasmaran ini tidak terjerembab di lantai.
Setelah Val agak mereda, David meraih keran shower dengan tangan kirinya, sehingga sejenak kemudian mereka berdua dihujani air segar dari atas. Val tertawa senang, mengangkat mukanya sehingga air membasahi seluruh rambutnya yang keemasan. Bagai bercinta di bawah hujan, pikir Val, sambil mulai menggerak-gerakkan pinggulnya lagi. Mula-mula, ia bergerak maju-mundur, sehingga kejantanan David yang masih terbenam di dalam tubuh Val kini membentur-bentur dinding depan dan belakang kewanitaanya. David merasakan kejantanannya seperti sedang diurut-urut oleh segumpal daging kenyal yang lembut, basah dan hangat. Kontras sekali dengan tubuhnya yang diguyur air dingin. Apalagi kemudian Val memutar-mutar pinggulnya sambil terus menekan ke bawah, membuat David merasa sedang diperas-peras, dipilin-pilin.
Val kini menaik turunkan tubuhnya sambil bertelektekan di bahu David. Matanya kembali terpejam, dan wajahnya tetap mendongak menerima curahan air shower. Bibirnya terkadang merekah, mendesahkan nafas panas yang mulai memburu lagi. Sungguh cantik wajah Val dalam keadaan basah dan penuh birahi seperti ini. David bernafsu sekali menciumi lehernya yang jenjang dan halus dan licin oleh air itu. Sementara kedua tangannya kini kembali meremas-remas payudara Val yang berguncang-guncang seirama gerakan tubuhnya. Permainan cinta mereka kini memasuki tahap final, ketika keduanya mulai merasakan gemuruh birahi meminta jalan untuk menerobos keluar.
Dengan bersemangat, Val terus menaik-turunkan tubuhnya. Ia adalah seorang penunggang wanita, di atas kuda jantan putih perkasa. Nafasnya mendesah-desah seperti seorang joki sedang memacu kudanya menuju garis finis. Nafas David tak kalah memburunya, juga seperti kuda yang sedang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menang di pacuan. Berdua mereka berderap menuju puncak birahi, ditingkahi suara air yang mengucur deras dan kecipak bertemunya kejantanan dengan kewanitaan di bawah sana. Ramai sekali, seru sekali, bergelora sekali.
Akhirnya Val tiba di puncak birahi terlebih dahulu. Ia menjerit keras, mengerang panjang, dan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang basah oleh air bercampur sedikit keringat. Gerakan turun-naiknya telah berubah menjadi gerakan serampangan; terkadang kekiri-kekanan, terkadang maju-mundur, terkadang turun-naik, terkadang semua gerakan itu sekaligus dilakukannya. Val tak lagi memiliki kendali atas tubuhnya yang sedang dilanda kenikmatan puncak. Betapa kuatnya birahi menguasai tubuh manusia!
David segera menyusul, ikut mengerang panjang ketika merasakan air bah di dalam tubuhnya menghambur ke luar, membuat kejantanannya bagai membesar lima kali lipat, sebelum memancarkan cairan kental panas ke dalam tubuh Val. Seluruh tubuh David yang kekar itu berguncang-guncang, membuat Val ikut terlonjak-lonjak, sementara kejantanannya seperti mengamuk di bawah sana, seperti melompat-lompat menerjang dinding-dinding kewanitaan Val yang sedang meregang.
Mereka baru berhenti setelah sekitar 10 menit menggelepar-gelepar seperti itu. Val terkulai letih memeluk tubuh David yang sudah tersandar ke dinding ruang shower dengan nafas terengah-engah. Tubuh mereka masih terus dibasahi oleh curah air shower yang sejuk. Val mencium David, mengucapkan terimakasihnya. Kini ia harus berpikir keras, bagaimana caranya bangun tanpa terpeleset!

Kisah Valerie 1

Valerie -atau di sini dipanggil Val- adalah seorang manajer sebuah perusahaan Inggris di Indonesia. Berusia 27 tahun dan masih lajang, Val adalah seorang yang cantik memukau, selayaknya wanita-wanita Irish, dengan hidungnya yang mancung tetapi tidak terlalu panjang. Mulutnya seksi, dengan bibir yang selalu seperti merekah-basah. Val juga bertubuh sangat indah, walau ia tidak terlalu tinggi untuk ukuran orang Barat. Kedua payudaranya adalah bagian paling menarik di tubuhnya, karena agak besar dan padat, membusung seperti menantang. Perutnya datar terjaga oleh aktifitas aerobik, yang juga membuat pantatnya keras berisi. Kisah erotik yang akan Anda temui di sini menggambarkan percumbuan-percumbuan Val dengan tiga pria. Harap diingat, Val datang dari masyarakat yang mengijinkan seks bebas, dan halaman-halaman di sini tidak bermaksud mengajak Anda berdebat tentang baik-buruknya kebudayaan itu. Sekalig lagi, nama dan tempat dalam cerita ini -tentu saja- adalah hayal belaka. Tetapi jika ada kesamaan dengan apa yang Anda temui dalam hidup nyata, penulis hanya bisa mengatakan bahwa itu adalah sebuah kebetulan. Sambil mengucap terimakasih, karena kisah ini bisa mengungkap kenyataan. Selebihnya, inilah kisah erotik yang melulu menguraikan kenikmatan, sehingga tak sempat mengingatkan bahwa dunia ini tidak hanya berisi hal itu. Dan mengejar kenikmatan semata, bukanlah hal yang ingin ditegaskan.
Selamat membaca!

Mencumbu Arya

Dalam kehidupan Val ada beberapa pria, tetapi hanya tiga yang membuatnya berkesan. Di antara yang tiga ini, adalah Arya, seorang pria Indonesia dengan sedikit darah Belanda di tubuhnya (ayahnya Ambon-Belanda, dan ibunya seorang Jawa). Mereka bertemu ketika masih sama-sama kuliah di Bedford, Inggris. Pada awalnya mereka cuma berteman, dan Val menyukai Arya yang jauh lebih easy going dibanding teman-teman Asia lainnya. Selain itu, Arya bisa bermain piano, sesuatu yang selalu menjadi kekaguman Val.
Selama kuliah, hubungan mereka tidak pernah lebih dari teman. Baru setelah keduanya lulus, hubungan itu agak berubah. Kebetulan Val mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan Inggris yang memiliki kantor cabang di Indonesia, dan Arya pernah pula bekerja paruh waktu di kantor yang sama. Mereka sering bepergian berdua, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama dalam satu apartemen. Sejak itulah, hubungan seksual menjadi bagian dari persahabatan mereka. Hanya saja, persahabatan itu tak pernah berkembang lebih jauh. Keduanya tidak pernah saling mengucap cinta, dan keduanya tahu bahwa masing-masing punya orang-orang lain yang dicintai.
Arya adalah pria Asia satu-satunya yang bercinta dengan Val, dan bagi Val ia adalah sesuatu yang istimewa. Tetapi Val juga tahu, perbedaan budaya keluarga mereka berdua sangatlah besar untuk dijembatani dengan sesuatu yang lebih jauh dari persahabatan. Maka jadilah hubungan keduanya sebagai hubungan persahabatan dan seksual belaka. Beberapa kali mereka pernah mencoba melihat peluang untuk meningkatkan hubungan, teapi sekian kali pula mereka merasa tidak menemukan persamaan.
Tidak berapa lama setelah Val mendapat kedudukan manajer dan dikirim ke Indonesia untuk mewakili perusahaannya, Arya mendapat pekerjaan di Amerika Serikat. Perasaan duka menyelimuti keduanya ketika kenyataan itu tiba. Setelah hampir dua tahun hidup bersama, sulit juga rasanya berpisah. Walaupun tidak menangis, Val merasa sebuah kekosongan terjadi dalam hidupnya ketika mereka berpisah di Heathrow Airport di London. Mereka berjanji akan terus berhubungan, karena toh Arya masih memiliki orang tua di Jakarta dan sesekali akan datang menjenguk Val.
Ketika pesawat British Airways yang membawanya ke Indonesia sudah berada 10.000 kaki di atas permukaan bumi, Val menghela nafas panjang, dan tiba-tiba menyadari bahwa kedua matanya ternyata agak basah oleh air mata.
**********
Begitulah akhirnya Val dan Arya dipisahkan oleh Lautan Pasifik. Kantor Arya ada di Boston, dan Val di Jakarta. Tetapi untunglah ada e-mail yang bisa menjadi media bertukar berita di antara mereka. Dan setelah dua bulan, keduanya menjadi sama-sama sibuk dan perlahan-lahan semakin jarang bertukar berita. Pada bulan keenam di Indonesia, Val sudah hampir tak pernah mengirim dan menerima e-mail dari Arya, dan kesibukan membuatnya tidak terlalu merasa kehilangan.
Sampai suatu hari, di bulan September, sembilan bulan setelah mereka berpisah, Val mendapat sepotong berita pendek dari Arya ... will visit my old folks in this Thursday, see you there ...
Val terpana memandang layar PC-nya, seperti tak percaya bahwa ternyata ia akan segera bertemu Arya lagi. Dari tak percaya, perasaannya segera berubah gembira, dan ia mengangkat kedua tangan sambil berteriak, "Yess!!!", membuat sekretarisnya terkejut.
"I'm okay, Evi...," ucap Val sambil tertawa kecil melihat sekretarisnya melongo, "I'm more than okay, actually..."
"Shall I write it down?" jawab Evi menggoda, karena ia memang sedang bersiap menerima dikte dari bos wanitanya ini. Val pun tambah keras terbahak.
**********
Arya tiba malam hari dan langsung menuju rumah orang tuanya. Dari sana ia menelpon Val, dan membuat janji untuk bertemu Sabtu siang ini. Dengan kaos t-shirt merah tua yang ketat dan rok jean Levi's, Val datang ke rumah orang tua Arya untuk menjemputnya. Kedua orang tua Arya telah mengenal Val dengan baik, dan keduanya memaksa Val untuk makan siang, yang tentunya tak bisa ditolak.
Sebetulnya, makan siang itu enak sekali: ayam panggang bumbu rujak, gado-gado, dan udang goreng kering. Tetapi Val dan Arya merasa tidak lapar. Sejak bertemu, yang ada di dalam diri mereka cuma gejolak rindu bercampur birahi. Bagi Val, inilah pertama kali di Indonesia ia merasakan gejolak seperti itu. Ia begitu ingin segera memeluk Arya yang kini tampak lebih putih dengan rambut dicukur rapi. Ia ingin segera bercumbu dengan pria yang ia tahu sangat hangat di ranjang ini. Tetapi, di depan kedua orang tuanya dan dua adik perempuannya, Val menjaga diri sekuat hati. Untunglah Arya membantunya dengan juga bersikap menahan diri.Kalau tidak ada keluarga Arya, mereka pasti sudah bergumul dan bercumbu saat itu juga.
Setelah tiga jam yang sangat menyiksa Val dan Arya, setelah minum kopi yang disediakan ibu, barulah mereka berdua bisa keluar rumah. Mereka bilang ingin jalan-jalan berdua, dan kedua orang tua Arya mengangguk mahfum, tanpa banyak tanya lagi. Maka setelah berbasa-basi mengucapkan permisi, keduanya pun melesat menuju apartemen Val di bilangan Kebayoran Baru. Arya yang memegang setir, dan Val duduk rapat-rapat. Sepanjang jalan, Val meremas-remas paha Arya, menggeser-geserkan payudaranya yang sintal ke lengan Arya, membuat Arya was-was takut menabrak mobil di depannya. Val sudah sangat bergairah ingin bercumbu, dan badannya terasa hangat seperti bara yang siap berkobar menjadi api. Untunglah jalan-jalan tidak terlalu ramai di Sabtu sore ini, sehingga akhirnya mereka tiba di apartemen Val sebelum matahari terbuka. Cepat-cepat mereka keluar dari mobil dan bagai dua remaja berlarian menuju lobby.
Sesampai di kamar apartemennya, Val terburu-buru ke kamar mandi. Cepat-cepat diloloskannya celana dalam yang sudah agak basah di bagian bawahnya. Lalu ia masuk ke bath-tub dan mengambil sabun wangi. Diusapnya seluruh kewanitaanya dengan busa-busa sabun, lalu dibasuhnya dengan air hangat. Ia ingin agar kewanitaannya harum menggairahkan malam ini, karena ia tahu Arya akan memberikan sesuatu yang selama ini menjadi favorit Val: lidahnya yang panas dan cekatan!
Keluar dari kamar mandi, Val melihat Arya sudah ada di kamar tidur, membuka kaos dan jeans-nya, sehingga hanya bercelana dalam. Dengan mata bergairah, dipandangnya tubuh yang kokoh dan atletis itu. Val sangat mengagumi tubuh Arya yang coklat kehitaman, tidak seperti tubuhnya yang baginya terlalu putih. Sebuah denyut birahi terasa di kewanitaannya setiap kali Val memandang tubuh lelaki itu. Cepat-cepat dibukanya t-shirt , beha dan roknya, lalu ia segera menyusul Arya ke kamar tidur.
Sejak dari rumah Arya tadi, Val sudah dilanda birahi. Ia ingin segera bermain cinta dengan lelaki menggairahkan ini. Terakhir kalinya ia bertemu Arya hampir setahun lalu, itu pun dalam sebuah permainan cinta yang terburu-buru, karena mereka sedang sama-sama sibuk. Kejadiannya juga di sebuah motel kecil di Bedford, sesaat sebelum Val berangkat ke Indonesia dan Arya bertugas ke Amerika Serikat.
Tanpa basa-basi, Arya mendorong tubuh Val ke kasur, menyebabkan gadis pirang yang seksi ini terjerembab di kasur empuk. Keduanya sudah seperti diburu-buru oleh nafsu yang bergejolak tak tertahankan. Arya menerkam tubuh putih mulus yang sintal dan padat itu dengan penuh gairah. Val menjerit manja menyambutnya. Mereka berguling-gulingan saling berciuman, saling meremas, saling menindih. Seprai dan bantal segera berantakan dibuatnya.
Arya segera mengambil inisiatif kala tubuh mereka sudah terasa panas bergejolak. Didorongnya Val dengan lembut agar tidur menelentang. Setengah dari badannya terletak di luar ranjang, sehingga kedua kakinya yang indah menggantung di pinggir ranjang. Lalu Arya berjongkok di antara kedua kaki Val, dan Val dengan tegang menunggu layanan istimewa kekasihnya. Inilah permainan pembukaan yang selalu dinantinya dengan penuh antisipasi. Belum apa-apa, Val sudah bergidik menahan geli yang akan segera datang. Arya pun menciumi paha yang mulus ditumbuhi bulu-bulu halus itu, membuat Val mengerang pelan. Apalagi kemudian Arya mulai menjilati pahanya, menelusuri bagian bawah lututnya. Val menggelinjang kegelian.
Val merasa pahanya bergetar lembut ketika lidah Arya mulai menjalar mendekati selangkangnya. Panas dan basah rasanya lidah itu, meninggalkan jejak sensasi sepanjang perjalanannya. Val menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah itu sampai di pinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Arya menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah basah segalanya yang memang telah basah itu. Terengah-engah, Val mencengkeram rambut Arya dengan satu tangan, perlahan menekan -memaksa- pria itu segera menjilatnya di daerah yang paling sensitif. Dengan satu tangan lainnya, Val menguak lebar bibir-bibir basah di bawah itu, memperlihatkan liang kemerahan yang berdenyut-denyut, dan sebuah tonjolan kecil di bagian atas yang telah mengeras. Lidah Arya menuju ke sana, perlahan sekali. Val mengerang, "Come on .... come on..," bisiknya gelisah. Rasanya lama sekali, membuat Val bagai layang-layang yang sedang diulur pada
saat seharusnya ditarik. Val mati angin. Tak berdaya, tetapi sekaligus menikmati ketak-berdayaan itu.
Arya akhirnya menjilat bagian kecil yang menonjol itu, menekan-nekan dengan ujung lidahnya, memutar-mutar sambil menggelincirkannya. Val menjerit tertahan, kedua tangannya melayang lalu jatuh mencengkram seprai. Geli sekali rasanya, ia sampai menggeliat mengangkat pantatnya, menyorongkan lebih banyak lagi kewanitaannya ke mulut Arya. Serasa seluruh tubuhnya berubah menjadi cair, menggelegak bagai lahar panas. Arya kini menghisap-hisap tonjolan yang seperti sedang lari bersembunyi di balik bungkus kulit kenyal yang membasah itu. Tubuh Val berguncang di setiap hisapan, sementara mulutnya tak berhenti mengerang. Terlebih-lebih ketika satu jari Arya menerobos liang kewanitaannya, lalu mengurut-urut dinding atasnya, mengirimkan jutaan rasa geli bercampur nikmat ke seluruh tubuh Val. Kedua kakinya yang indah terbuka lebar, terkuak sejauh-jauh mungkin, karena Val ingin Arya menjelajahi semua bagian kewanitaannya. Semuanya!
Maka Arya pun melakukannya. Ia tidak hanya menjilat dan menghisap, tapi juga menggigit pelan, memutar-mutarkan lidahnya di dalam liang yang panas membara itu, mendenguskan nafas hangat ke dalamnya, membuat Val berguncang-guncang merasakan nikmat yang sangat. Dua jari Arya kini bermain-main di sana, keluar-masuk dengan bergairah, menggelitik dan menggosok-gosok, menekan-nekan dan mengurut. Cairan-cairan hangat memenuhi seluruh kewanitaan Val, mulai membasahi bibir dan dagu Arya. Jari-jari yang keluar-masuk itu pun telah basah, menimbulkan suara berkecipak yang seksi. Val menggelinjang tak tahan lagi, merasakan puncak birahi melanda dirinya. Matanya terpejam menikmati sensasi yang meletup-letup di sela-sela pahanya, di pinggulnya, di perutnya, di dadanya, di kepalanya, di mana-mana!
Arya merasakan kewanitaan Val berdenyut liar, bagai memiliki kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah-basah, kontras sekali dengan rambu-rambut pirang di sekitarnya, dan dengan tubuhnya yang putih seperti pualam. Dari jarak yang sangat dekat, Arya dapat melihat betapa liang kewanitaan Val membuka-menutup dan dinding-dindingnya berdegup-berdenyut, sepertinya jantung Val telah pindah ke bawah. Arya juga bisa melihat betapa otot-otot di pangkal paha Val menegang seperti sedang menahan sakit. Kedua kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak tak terkendali. Arya terpaksa harus memakai seluruh bahu bagian atasnya untuk menekan tubuh Val agar tak tergelincir jatuh. Begitu hebat puncak birahi melanda Val, sampai dua menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda ayan. Ia menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya terengah-engah.
Arya bangkit setelah Val terlihat agak tenang. Berdiri, ia melepas celana dalamnya. Kelaki-lakiannya segera terlihat tegak bergerak-gerak seirama jantunya yang berdegup keras. Val masih menggeliat-geliat dengan mata terpejam, menampakkan pemandangan sangat seksi di atas hamparan seprai satin mewah berwarna biru muda. Tangan Val mencengkram seprai bagai menahan sakit, kedua pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya mendongak menampakkan leher yang mulus menggairahkan, rambut pirangnya terurai bagai membingkai wajahnya yang sedang berkonsentrasi menikmati puncak birahi. Arya menempatkan dirinya di antara kaki Val, lalu mengangkat kedua paha Val, membuat kewanitaannya semakin terbuka. Val tersadar dari buaian orgasmenya, dengan segera menuntun kejantanan Arya memasuki gerbang kewanitaannya. Tak sabar, ia menjepit pinggang Arya dengan kedua kakinya, membuat pria itu terhuyung ke depan, dan dengan cepat kelaki-lakiannya yang tegang segera melesak ke dalam tubuh Val. Bagi Arya, rasanya seperti memasuki cengkraman licin yang panas berdenyut. Bagi Val, rasanya seperti diterjang batang membara yang membawa geli-gatal ke seluruh dinding ke wanitaannya. Belum apa-apa, Val sudah terlanda gelombang puncak birahinya yang kedua. Begitu cepat!
Arya pun segera melakukan tugasnya dengan baik, mendorong-menarik kejantanannya dengan cepat. Gerakannya ganas, seperti hendak meluluh-lantakkan tubuh putih Val yang sedang menggeliat-geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, kejantanan Arya menerjang-nerjang, menerobos dalam sekali sampai ke dinding belakang yang sedang berkontraksi menyambut orgasme. Val menjerit-jerit nikmat, menyuruh Arya lebih keras lagi bergerak, mengangkat seluruh tubuh bagian bawahnya, sehingga hanya bahu dan kepalanya yang ada di atas kasur. Arya mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenuhi permintaan Val. Otot-otot bahu dan lengannya kelihatan menegang dan berkilat-kilat karena keringat. Pinggangnya bergerak cepat dan kuat bagai piston mesin-mesin di pabrik. Suara berkecipak terdengar setiap kali tubuhnya membentur tubuh Val, ramai sekali di sela-sela derit ranjang yang bergoyang sangat keras.
Val tak lagi sadar sedang berada di mana. Ia berteriak bagai kesetanan merasakan kenikmatan yang ganas dan liar. Seluruh tubuhnya terasa dilanda kegelian-kegatalan yang membuat otot-otot menegang-meregang. Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat-geliat, mendatangkan kenikmatan yang tak terlukiskan. Setiap kali kejantangan Arya menerobos masuk, ia merasa bagai tersiram berliter-liter air hangat yang memijati seluruh tubuhnya. Setiap kali Arya menariknya keluar, Val merasa bagai terhisap pusaran air yang membawanya ke sebuah alam penuh kenikmatan belaka. Dengan mata terus terpejam, Val menjeritkan penyerahan sekaligus pengesahan atas datangnya puncak birahi yang tak terperi.
Arya merasakan kejantanannya bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya. Ia pun tak tertahankan lagi, memuncratkan seluruh penantian panjangnya, memuntahkan seluruh rasa terpendamnya, bercipratan membanjiri seluruh rongga kewanitaan Val yang sedang megap-megap dilanda orgasme. Val mengerang merasakan siraman birahi panas yang seperti hendak menerobos setiap pori-pori di tubuhnya. Val mengerang dan mengerang lagi, sebelum akhirnya terjerembab dengan tubuh bagai lumat di atas kasur. Arya menyusul rubuh menimpa tubuh putih yang licin oleh keringat itu. Nafas mereka berdua tersengal-sengal bagai perenang yang baru saja menyelesaikan pertandingan di kolam renang.
"Oh, kamu ganas sekali, Arya. Betul-betul ganas...," kata Val akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu. Arya cuma menggumam, menenggelamkan kepalanya di antara dua payudara Val yang besar dan lembut itu.
Setelah beberapa saat, Val bertanya, "Berapa lama kamu di sini, Arya?"
"Aku harus berangkat kembali Senin pagi," jawab Arya diwarnai keengganan. Val terdiam. Singkat sekali pertemuan ini, pikirnya. Sambil memeluk Arya, ia menggumam, "Kalau begitu kamu harus menginap di sini."
"Bagaimana kalau aku tidak mau...," jawab Arya menggoda.
"Kalau begitu, aku yang menginap di rumah orang tuamu ..," sahut Val cepat-cepat. Arya tertawa.
"Kalau begitu, sebaiknya aku menginap di sini!"
Dengan gemas Val berguling menindih tubuh Arya, menggigit bahunya cukup keras sehingga Arya tersentak dan membalasnya dengan menggulingkan kembali tubuh Val. Mereka berdua tertawa-tawa seperti anak-anak bermain gulat. Cairan-cairan cinta mereka berjatuhan menimpa seprai, melekat di tubuh mereka berdua: sebuah perpaduan tubuh putih mulus dan tubuh coklat.
Malam itu mereka bercumbu tak henti-hentinya sampai pagi. Bagi Val, inilah percumbuan terpanjangnya dengan Arya, dan justru terjadi saat mereka tak lagi tinggal bersama!
bersambung..... 

Kisah Valerie 2

David Yang Menggairahkan (1)

Ada satu pria lain dalam kehidupan Val, selain Arya. Nama pria lain itu adalah David, seorang lajang dari Amerika yang bekerja di sebuah perusahaan minyak asing di Jakarta. Mereka bertemu di sebuah klab malam, ketika Val sedang sendirian menghambiskan malam minggunya. Waktu itu David datang bersama seorang temannya, seorang expatriate juga, bernama Wayne. Sebetulnya, Wayne lah yang aktif menggoda Val malam itu. Tetapi, Val lebih tertarik pada David yang tampak lebih kalem dan lebih dewasa. Ketika Wayne mengajak berdansa, Val tidak menolaknya. Tetapi, begitu musik berganti, Val melepaskan diri darinya, dan mengajak David untuk berdansa. Tindakan ini menjadi semacam sinyal bagi Wayne, yang akhirnya mengalah.
Sepanjang sisa malam itu, Val berdansa hanya dengan David, dan mereka pun semakin merasa dekat satu sama lainnya. Wayne akhirnya menghilang entah kemana, dan baru bergabung lagi ketika klab sudah akan tutup pukul 2 pagi. David menawarkan diri mengantar Val pulang, dan Val tentu setuju, sementara Wayne bersungut-sungut karena harus pulang sendirian.
Mereka berdua pulang dengan taksi, dan sepanjang perjalanan mengobrol ke sana ke mari. Bagi Val, David adalah seorang pria yang pandai bicara walaupun tidak pernah berpanjang-panjang. Komentar-komentarnya selalu cerdas dan jenaka, atau witty kata orang Inggris. Senang sekali rasanya Val mendapat teman bicara seperti David, setelah dua minggu ini bekerja keras dan berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak terlalu lancar berbahasa Inggris.
David juga sangat tampan, dengan mata biru yang romantis, dan dagu kokoh yang terbelah dengan indahnya. Rambutnya pirang dan dibiarkan agak panjang, bergerai sedikit di bawah kupingnya. Mulutnya seksi, pikir Val setiap kali ia memandang David berbicara. Bibirnya menampakkan ketegasan sekaligus kelembutan, dan nafasnya tercium harum karena ia tidak merokok. Ia juga tidak berjanggut dan berkumis, klimis dan bersih, sehingga menggoda Val untuk menciuminya.Setibanya di apartemen Val, hari sudah menjelang pagi, dan Val memutuskan untuk segera tidur, walaupun sebenarnya ia ingin memberi kesempatan David untuk mendekatinya lebih jauh. David pun tampak tidak ingin terburu-buru, dan segera mencium kedua pipi Val sambil mengucapkan selamat malam.
******
Lalu, Val dan David sering berjumpa, entah untuk makan siang di hari Minggu atau pun untuk bersama-sama ke klab malam di hari Sabtu. Biasanya, perjumpaan mereka hanya untuk mengobrol dan saling bertukar lelucon. David pun belum pernah terlihat berusaha mencubu Val, dan Val masih merasa perlu membuka diri lebih jauh. Walaupun begitu, jika sedang berdansa, Val merasa David semakin hangat kepadanya. Badannya semakin erat ditempelkan ke badan Val, dan Val pun dengan senang hati membiarkan tubuhnya didekap mesra. Saat itulah Val merasa bahwa David selama ini hanya berusaha sopan, walaupun ia menginginkan dirinya
Setelah beberapa lama, hubungan mereka semakin erat. Percumbuan pertama mereka justru terjadi ketika pada suatu hari David mampir ke gedung tempat kantor Val berada. Ia sebetulnya berkunjung ke kantor lain yang terletak dua lantai di atas kantor Val. Seusai urusannya, David melihat jam tangan dan menyadari bahwa ia bisa langsung pulang ke rumah karena hari sudah pukul 5 sore. Iseng-iseng, ditelponnya kantor Val, dan ternyata Val juga belum pulang. Maka ia pun mampir, dan menemui Val yang di kantornya tinggal berdua saja dengan sekretarisnya. Pegawai-pegawai lain sedang berhamburan ke luar ketika David masuk.
Berbeda sekali penampilan David, pikir Val ketika melihat teman prianya masuk. David memang tampak semakin ganteng dengan jas hitam dan dasi biru menyala. Sepatunya mengkilap dan terkesan mahal. Minyak wanginya lebih semarak dan mewah dibandingkan jika ia ke klab malam. "Hello, gorgeous ...," sapa Val ketika David muncul di pintu kantor pribadinya. David mencium pipi Val, membuat Val merasa terselimuti oleh keharuman pria gagah ini.
"Wow ... you've got yourself a nice room, Val," kata David sambil memandang ke sekeliling kamar Val yang memang luas dan mewah itu. Meja kerjanya besar dan dilengkapi berbagai perlengkapan modern, membelakangi sebuah jendela besar yang menghadap jalan raya. Gordennya berwarna hijau kebiruan, berkesan sejuk. Lantainya berkarpet biru tua, tidak berbunyi ketika diinjak. Di sebelah kiri ada lemari besar berisi aneka minuman. Agak di tengah, ada meja besar dengan beberapa kursi, tempat Val mengadakan rapat dengan stafnya. Juga ada sebuah papan tulis modern dilengkapi proyektor.
Val menawarkan minuman, dan David memilih bir dingin. Val sendiri menghirup iced coffee yang masih tersisa. Mereka duduk berhadapan di depan meja rapat, dan bertukar berita sehari-hari. Sesaat kemudian, Evi -sekretaris Val- masuk untuk pamitan pulang. Val mengucapkan selamat sore dan meminta Evi menutup pintu kantor. Kini hanya Val dan David yang tinggal. Sejenak mereka terdiam, dan hanya suara AC terdengar mendengung.
Lalu, entah dari mana, Val punya ide sensual. Bagaimana kalau hari ini aku menggodanya untuk bercumbu, di sini, di kantorku?, Val membatin sambil menumpangkan kakinya yang mulus.
Dan entah apa pula sebabnya, David pun berpikiran sama. Sambil menghirup birnya, David memandang wanita di hadapannya, dan menyadari betapa cantiknya Val dengan pakaian kantornya. Ia memakai baju krem tipis, menampakkan sebagian dadanya samar-samar. Rok hitamnya tampak ketat membungkus pinggul, dan terangkat agak tinggi ketika Val menumpangkan satu kakinya di atas kaki yang lain. God, she's so sexy, pikir David. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang.
Mereka tiba-tiba saling memandang, dan mata Val bersinar nakal. Dengan gaya sensual, Val menjilat bibirnya sendiri, menampakkan lidah mungil yang basah. David menelan birnya dengan susah payah, dan membalas memandang nakal. "You are not leaving soon, are you...," ucap Val setengah berbisik. David menggeleng, senyumnya mengambang perlahan.
Val lalu bangkit menuju pintu, dan .... ckrek! ... pintu dikuncinya dari dalam. Ia lalu membalik memandang David yang kini juga bangkit dari kursinya dan meletakkan bir di meja. Val melepas sepatunya, menyepaknya seenaknya, lalu berjalan mendekat. Mereka kini berhadapan sangat dekat. David memegang pundak Val dengan lembut, menariknya lebih dekat lagi, lalu menunduk untuk menciumnya. Val memejamkan mata, menghela nafas David yang segar beraroma bir dingin, bercampur harum parfum. Ketika kedua bibir mereka bertemu, Val merasa darahnya berdesir cepat, membuatnya seakan melayang.
David melumat bibir merah yang memang sudah lama dirindukannya ini. Dihisapnya bibir bawah Val yang lebih tebal sedikit dari bibir atas. Ada rasa manis dan aroma kopi tertinggal di sana, membuat David seperti sedang mengulum permen kopi. Val menggumam, membiarkan David bermain-main dengan bibirnya. Ia membuka mulutnya, mengundang lidah David untuk bermain-main di dalam. Dan David tidak menolak undangan itu. Ia segera memasukkan lidahnya, mempertemukannya dengan lidah Val yang terasa lembut dan hangat. Val menangkap lidah David dengan kedua bibirnya, menyedot dan mengulumnya dengan bernafsu. Ini membuat gairah keduanya meningkat dengan cepat. Ciuman mereka berubah dari lembut ke bergelora. Nafas mereka yang tadinya masih teratur, kini mulai terengah-engah. Val memeluk David dan menopangkan seluruh tubuhnya ke pria itu, dan David pun perlahan-lahan mendorong Val ke belakang, ke arah meja.
Setelah beberapa langkah, Val tidak bisa mundur lebih jauh lagi. Pantatnya yang seksi terhenyak di meja jati yang biasa dipakai untuk rapat itu. David terus menciuminya, mengulum bibirnya yang menggairahkan itu. Val terengah-engah, tak kuasa menahan gejolak birahi yang kini telah menyerbu seluruh tubuhnya. Kedua tangan David menggerayangi bagian depan baju Val, melepas kancingnya satu persatu dengan tergesa. Ketika kancing terakhir tidak bisa dibuka dengan mudah, David menyentak baju Val sehingga kancing itu pun putus, jatuh bergelinding di lantai berkarpet. Val tidak bisa memprotes, mulutnya sedang sibuk melayani pagutan David yang semakin liar. Ia juga hanya bisa menggelinjang nikmat, ketika behanya dibuka dan kedua payudaranya yang sintal dicengkram dan diremas dengan gemas oleh David.
Payudara Val termasuk besar, tetapi sangat padat. Apalagi pada saat birahi seperti ini, dadanya semakin sintal dan turun naik dengan cepat seirama nafas Val yang terengah. David menggerayangi bukit-bukit indah itu dengan gairah, terutama meremas kedua putingnya yang kenyal dan terasa hangat. Val mengerang dan mendorong tubuhnya semakin rapat. David melepas ciumannya, lalu menunduk untuk mengulum salah satu puting Val yang sudah mengeras itu. Val mengerang lebih keras lagi, merasakan mulut David yang panas mengelilingi puncak payudaranya yang terasa geli sekali.
Dengan dua tangannya yang masih bebas, Val membuka resleting celana David. Lalu ia merogoh dan menemukan apa yang dicarinya. Besar dan tegang sekali kejantanan David. Segera Val meloloskannya, bagai sedang melepaskan ular liar yang kini menyentak-nyentak minta dipuaskan. Dengan gemas diremasnya kejantanan itu. Dielusnya pula dengan sayang setelah itu. Diurut-urut, sehingga semakin membesar dan mengeras. Semakin panas dan berdenyut pula. Menggairahkan sekali. David mengerang merasakan dirinya semakin lama semakin terhanyut kenikmatan.
Lalu Val mendudukkan dirinya di meja, mengangkat kedua pahanya, menyebabkan roknya tersingkap, menampakkan celana dalam tipis berwarna coklat. Dengan satu tangan, Val menuntun kejantanan David untuk digosok-gosokkan di depan bibir kewanitaannya yang masih tertutup kain. Oh, geli sekali rasanya bagi Val, dan segera terasa cairan hangat mulai merayapi liang kewanitaannya. Apalagi kemudian Val menggesek-gesekan ujung kejantanan David di tonjolan kecil di bagian atas. Val mendesah merasakan nikmat mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
David pun tak kuasa menahan nafsu mendapat perlakuan seperti itu. Cepat-cepat disingkapnya rok Val lebih jauh. Lalu ditariknya celana dalam yang tipis itu dengan cepat, sehingga akhrnya kewanitaan Val bebas dari segala hambatan. Memerah-muda sudah warnanya. Sedikit basah pula di bagian bawahnya. Tanpa basa-basi, David memasukkan kejantanannya dengan sekali dorong. Val bagai orang tersedak, tersentak mendapat serbuan kenikmatan yang tiba-tiba itu. Tanpa basa-basi pula, David segera mendorong-dorongkan pantatnya, membuat Val terlonjak-lonjak di atas meja kokoh itu. Liar sekali permainan cinta ini.
Di kejauhan terdengar suara bel lift berbunyi. Untuk sejenak, Val merasa kuatir jika ada orang yang memergoki mereka berdua. Tetapi pikiran itu segera sirna, karena ia yakin ruang kerjanya kedap suara, dan pintunya sudah terkunci. Lagipula, dengung suara AC cukup kuat, menutupi suara apa pun yang masih bisa lolos dari ruang ini.
David memaju-mundurkan tubuhya dengan cepat. Val mengerang ketika tiba-tiba merasakan orgasmenya datang memburu. Permainan yang liar dan cepat seperti ini selalu dengan mudah membuat Val mencapai puncak birahi. Apalagi David memiliki kejantanan yang begitu besar, panjang, liat, dan kuat. Seluruh liang kewanitaannya dipenuhi oleh kejantanan itu, sehingga setiap gesekan terasa lebih nikmat. Hanya dalam waktu singkat, Val sudah berayun-ayun dalam ombak orgasmenya yang datang bertubi-tubi. Ia memeluk tubuh David yang masih memakai jas, sementara kedua kakinya melingkari pinggangnya, menjepit bagai kepiting raksasa menjepit mangsa.
Dengan nafas terengah-engah, David terus menggenjot dan menghenyakkan kejantanannya. Ia tahu Val sedang dilanda orgasme, karena kejantanannya kini terasa diremas-remas dan disedot-sedot oleh kewanitaan Val. Untuk menambah kenikmatan, kadang-kadang David berhenti mendorong, membiarkan seluruh kejantanannya tenggelam sampai ke pangkalnya, lalu memutar-mutar pinggulnya. Val mengerang-erang nikmat, merasakan dinding-dinding kewanitaannya diaduk-aduk oleh sebuah batang kenyal yang panas. Selain itu, gerakan David menyebabkan tonjolan kecil di bagian atas kewanitaannya bagai sedang dipilin-pilin. Tak terperi rasanya, dua kenikmatan berpadu, membuat Val tersengal-sengal dengan mata terpejam, sambil mendesis, "Yess.., yess... ".
Kadang-kadang David menarik kejantanannya hingga hampir keluar dari cengkraman kewanitaan Val. Lalu, dengan hanya bagian ujung yang berada di dalam, David memutar-mutarkan kejantanannya dengan tangan. Bagi David, ujung kejantanannya yang sensitif itu bagai sedang diperas-peras, nikmat sekali. Bagi Val, gerbang kewanitaannya bagai sedang dikelitiki oleh jutaan jari-jari hangat. "Oh,... yes ... do it again .... yes...!" desahnya sambil mencengkram punggung David, membuat jas pria itu semakin lecek. Dengan suka hati, David memenuhi permohonannya, terus memutar-mutar sambil sesekali mendorong masuk seluruh kejantanannya. Dengan ibu jari tangan lainnya, David menekan dan memutar –mutar pula tombol kenikmatan di bagian atas kewanitaan Val, sehingga perempuan molek ini menggeliat-geliat kegelian.
Tetapi keduanya tidak bisa terus bertahan dengan gerakan-gerakan kecil yang menunda puncak orgasme itu. Setelah sepuluh menit bermain-main begitu, David tidak bisa menahan nafsunya. Ia kembali memasukkan seluruh kejantanannya, sedalam-dalamnya sehingga membentur dinding belakang kewanitaan Val, membuat Val kembali seperti tersedak oleh rasa nikmat. Lalu David mulai bergerak dengan cepat kembali, penuh keliaran kembali, menyerbu dan membenturkan dirinya ke tubuh Val. Akibatnya, Val terpaksa merebahkan seluruh tubuhnya di meja. Ada beberapa dokumen dan surat yang tertindih, tetapi Val tak peduli. Baju kantornya sudah terbuka sepenuhnya di bagian depan. Behanya pun tak lagi menahan kedua payudaranya yang berguncang-guncang seirama gerakan David.
Kini lah saatnya mencapai puncak bersama. David merasakan gemuruh orgasmenya telah tiba, sehingga ia mempercepat gerakan pinggulnya. Val pun menyerah, membiarkan dirinya diterjang-terjang oleh kejantanan David yang terasa semakin membesar dan semakin panjang. Tubuh Val menggeliat dan meregang bagai busur panah. Punggungnya terangkat, tetapi pantat dan bahu serta kepalanya tetap di atas meja. Dua bukit di dadanya menjulang sangat seksi, sehingga David terundang untuk meremasnya dengan kedua tangan. Val menjerit, karena remasan itu begitu keras, menimbulkan sedikit rasa sakit, tetapi juga bagai memicu ledakan akhir dari orgasmenya.
David pun tak tertahankan lagi. Ia menghujamkan kejantanannya dalam-dalam, merasakan cairan hangat kental mengalir dengan cepat dari dalam dirinya, sepanjang kejantanannya, lalu muncrat keluar dengan sangat kuat. Berkali-kali David meregang-regang merasakan muncratan demi muncratan berhamburan memenuhi liang kewanitaan Val. Matanya terpejam karena rasa geli dan nikmat yang tak tertahankan. Sementara Val sudah pula menggelepar-gelepar, menyebabkan beberapa lembar surat terlempar ke lantai. Tubuhnya terasa meledak-ledak dan setiap ledakan menimbulkan kenikmatan luar biasa.
Kira-kira tujuh menit lamanya kedua pasangan ini meregang dan menggeliat menikmati puncak birahi bersama. Seandainya saat itu ada gempa bumi pun, pastilah keduanya tak akan menyadarinya. Dan sesungguhnya, ketika mereka sedang menuju puncak, telpon di kantor Val berdering-dering. Tetapi siapa yang peduli, ini kan di luar jam kerja...
*****
Berdua mereka akhirnya meninggalkan kantor ketika matahari telah seluruhnya tenggelam. Sambil tertawa-tawa mereka berjalan cepat menuju tempat parkir. David memaksa Val ikut mobilnya untuk pulang ke apartemen. Val setuju setelah menitipkan kunci mobilnya ke seorang petugas keamanan.
Bersambung .... 

Monday, July 5, 2010

Val: Percumbuan Terpanjang

Dalam kehidupan Val ada beberapa pria, tetapi hanya tiga yang membuatnya berkesan. Di antara yang tiga ini, adalah Arya, seorang pria Indonesia dengan sedikit darah Belanda di tubuhnya (ayahnya Ambon-Belanda, dan ibunya seorang Jawa). Mereka bertemu ketika masih sama-sama kuliah di Bedford, Inggris. Pada awalnya mereka cuma berteman, dan Val menyukai Arya yang jauh lebih easy going dibanding teman-teman Asia lainnya. Selain itu, Arya bisa bermain piano, sesuatu yang selalu menjadi kekaguman Val.

Selama kuliah, hubungan mereka tidak pernah lebih dari teman. Baru setelah keduanya lulus, hubungan itu agak berubah. Kebetulan Val mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan Inggris yang memiliki kantor cabang di Indonesia, dan Arya pernah pula bekerja paruh waktu di kantor yang sama. Mereka sering bepergian berdua, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama dalam satu apartemen. Sejak itulah, hubungan seksual menjadi bagian dari persahabatan mereka. Hanya saja, persahabatan itu tak pernah berkembang lebih jauh. Keduanya tidak pernah saling mengucap cinta, dan keduanya tahu bahwa masing-masing punya orang-orang lain yang dicintai.

Arya adalah pria Asia satu-satunya yang bercinta dengan Val, dan bagi Val ia adalah sesuatu yang istimewa. Tetapi Val juga tahu, perbedaan budaya keluarga mereka berdua sangatlah besar untuk dijembatani dengan sesuatu yang lebih jauh dari persahabatan. Maka jadilah hubungan keduanya sebagai hubungan persahabatan dan seksual belaka. Beberapa kali mereka pernah mencoba melihat peluang untuk meningkatkan hubungan, tetapi sekian kali pula mereka merasa tidak menemukan persamaan.
 
Tidak berapa lama setelah Val mendapat kedudukan manajer dan dikirim ke Indonesia untuk mewakili perusahaannya, Arya mendapat pekerjaan di Amerika Serikat. Perasaan duka menyelimuti keduanya ketika kenyataan itu tiba. Setelah hampir dua tahun hidup bersama, sulit juga rasanya berpisah. Walaupun tidak menangis, Val merasa sebuah kekosongan terjadi dalam hidupnya ketika mereka berpisah di Heathrow Airport di London. Mereka berjanji akan terus berhubungan, karena toh Arya masih memiliki orang tua di Jakarta dan sesekali akan datang menjenguk Val.

Ketika pesawat British Airways yang membawanya ke Indonesia sudah berada 10.000 kaki di atas permukaan bumi, Val menghela nafas panjang, dan tiba-tiba menyadari bahwa kedua matanya ternyata agak basah oleh air mata.

Begitulah akhirnya Val dan Arya dipisahkan oleh Lautan Pasifik. Kantor Arya ada di Boston, dan Val di Jakarta. Tetapi untunglah ada e-mail yang bisa menjadi media bertukar berita di antara mereka. Dan setelah dua bulan, keduanya menjadi sama-sama sibuk dan perlahan-lahan semakin jarang bertukar berita. Pada bulan keenam di Indonesia, Val sudah hampir tak pernah mengirim dan menerima e-mail dari Arya, dan kesibukan membuatnya tidak terlalu merasa kehilangan.

Sampai suatu hari, di bulan September, sembilan bulan setelah mereka berpisah, Val mendapat sepotong berita pendek dari Arya ...will visit my old folks in this Thursday, see you there... Val terpana memandang layar PC-nya, seperti tak percaya bahwa ternyata ia akan segera bertemu Arya lagi. Dari tak percaya, perasaannya segera berubah gembira, dan ia mengangkat kedua tangan sambil berteriak, "
Yess!", membuat sekretarisnya terkejut.
 
"I'm okay, Evi..." ucap Val sambil tertawa kecil melihat sekretarisnya melongo, "I'm more than okay, actually..."Shall I write it down?" jawab Evi menggoda, karena ia memang sedang bersiap menerima dikte dari boss wanitanya ini. Val pun tambah keras terbahak.
 
Arya tiba malam hari dan langsung menuju rumah orang tuanya. Dari sana ia menelpon Val, dan membuat janji untuk bertemu Sabtu siang ini. Dengan kaos t-shirt merah tua yang ketat dan rok jean Levi's, Val datang ke rumah orang tua Arya untuk menjemputnya. Kedua orang tua Arya telah mengenal Val dengan baik, dan keduanya memaksa Val untuk makan siang, yang tentunya tak bisa ditolak.

Sebetulnya, makan siang itu enak sekali: ayam panggang bumbu rujak, gado-gado dan udang goreng kering. Tetapi Val dan Arya merasa tidak lapar. Sejak bertemu, yang ada di dalam diri mereka cuma gejolak rindu bercampur birahi. Bagi Val, inilah pertama kali di Indonesia ia merasakan gejolak seperti itu. Ia begitu ingin segera memeluk Arya yang kini tampak lebih putih dengan rambut dicukur rapi. Ia ingin segera bercumbu dengan pria yang ia tahu sangat hangat di ranjang ini. Tetapi, di depan kedua orang tuanya dan dua adik perempuannya, Val menjaga diri sekuat hati. Untunglah Arya membantunya dengan juga bersikap menahan diri. Kalau tidak ada keluarga Arya, mereka pasti sudah bergumul dan bercumbu saat itu juga.
 
Setelah tiga jam yang sangat menyiksa Val dan Arya, setelah minum kopi yang disediakan ibu, barulah mereka berdua bisa keluar rumah. Mereka bilang ingin jalan-jalan berdua, dan kedua orang tua Arya mengangguk mahfum, tanpa banyak tanya lagi. Maka setelah berbasa-basi mengucapkan permisi, keduanya pun melesat menuju apartemen Val di bilangan Kebayoran Baru. Arya yang memegang setir, dan Val duduk rapat-rapat.

Sepanjang jalan, Val meremas-remas paha Arya, menggeser-geserkan payudaranya yang sintal ke lengan Arya, membuat Arya was-was takut menabrak mobil di depannya. Val sudah sangat bergairah ingin bercumbu, dan badannya terasa hangat seperti bara yang siap berkobar menjadi api. Untunglah jalan-jalan tidak terlalu ramai di Sabtu sore ini, sehingga akhirnya mereka tiba di apartemen Val sebelum matahari terbuka. Cepat-cepat mereka keluar dari mobil dan bagai dua remaja berlarian menuju lobby.

Sesampai di kamar apartemennya, Val terburu-buru ke kamar mandi. Cepat-cepat diloloskannya celana dalam yang sudah agak basah di bagian bawahnya. Lalu ia masuk ke bath-tub dan mengambil sabun wangi. Diusapnya seluruh kewanitaanya dengan busa-busa sabun, lalu dibasuhnya dengan air hangat. Ia ingin agar kewanitaannya harum menggairahkan malam ini, karena ia tahu Arya akan memberikan sesuatu yang selama ini menjadi favorit Val: lidahnya yang panas dan cekatan!

Keluar dari kamar mandi, Val melihat Arya sudah ada di kamar tidur, membuka kaos dan jeans-nya, sehingga hanya bercelana dalam. Dengan mata bergairah, dipandangnya tubuh yang kokoh dan atletis itu. Val sangat mengagumi tubuh Arya yang coklat kehitaman, tidak seperti tubuhnya yang baginya terlalu putih. Sebuah denyut birahi terasa di kewanitaannya setiap kali Val memandang tubuh lelaki itu. Cepat-cepat dibukanya t-shirt, beha dan roknya, lalu ia segera menyusul Arya ke kamar tidur.
 
Sejak dari rumah Arya tadi, Val sudah dilanda birahi. Ia ingin segera bermain cinta dengan lelaki menggairahkan ini. Terakhir kalinya ia bertemu Arya hampir setahun lalu, itu pun dalam sebuah permainan cinta yang terburu-buru, karena mereka sedang sama-sama sibuk. Kejadiannya juga di sebuah motel kecil di Bedford, sesaat sebelum Val berangkat ke Indonesia dan Arya bertugas ke Amerika Serikat.
 
Tanpa basa-basi, Arya mendorong tubuh Val ke kasur, menyebabkan gadis pirang yang seksi ini terjerembab di kasur empuk. Keduanya sudah seperti diburu-buru oleh nafsu yang bergejolak tak tertahankan. Arya menerkam tubuh putih mulus yang sintal dan padat itu dengan penuh gairah. Val menjerit manja menyambutnya. Mereka berguling-gulingan saling berciuman, saling meremas, saling menindih. Sprei dan bantal segera berantakan dibuatnnya.
 
Arya segera mengambil inisiatif kala tubuh mereka sudah terasa panas bergejolak. Didorongnya Val dengan lembut agar tidur menelentang. Setengah dari badannya terletak di luar ranjang, sehingga kedua kakinya yang indah menggantung di pinggir ranjang. Lalu Arya berjongkok di antara kedua kaki Val, dan Val dengan tegang menunggu layanan istimewa kekasihnya. Inilah permainan pembukaan yang selalu dinantinya dengan penuh antisipasi. Belum apa-apa, Val sudah bergidik menahan geli yang akan segera datang. Arya pun menciumi paha yang mulus ditumbuhi bulu-bulu halus itu, membuat Val mengerang pelan. Apalagi kemudian Arya mulai menjilati pahanya, menelusuri bagian bawah lututnya. Val menggelinjang kegelian.
 
Val merasa pahanya bergetar lembut ketika lidah Arya mulai menjalar mendekati selangkangnya. Panas dan basah rasanya lidah itu, meninggalkan jejak sensasi sepanjang perjalanannya. Val menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah itu sampai di pinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Arya menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah basah segalanya yang memang telah basah itu. Terengah-engah, Val mencengkeram rambut Arya dengan satu tangan, perlahan menekan, memaksa pria itu segera menjilatnya di daerah yang paling sensitif.
 
Dengan satu tangan lainnya, Val menguak lebar bibir-bibir basah di bawah itu, memperlihatkan liang kemerahan yang berdenyut-denyut, dan sebuah tonjolan kecil di bagian atas yang telah mengeras. Lidah Arya menuju ke sana, perlahan sekali. Val mengerang, "Come on.... come on..", bisiknya gelisah. Rasanya lama sekali, membuat Val bagai layang-layang yang sedang diulur pada saat seharusnya ditarik. Val mati angin. Tak berdaya, tetapi sekaligus menikmati ketidakberdayaan itu.

Arya akhirnya menjilat bagian kecil yang menonjol itu, menekan-nekan dengan ujung lidahnya, memutar-mutar sambil menggelincirkannya. Val menjerit tertahan, kedua tangannya melayang lalu jatuh mencengkram sprei. Geli sekali rasanya, ia sampai menggeliat mengangkat pantatnya,
menyorongkan lebih banyak lagi kewanitaannya ke mulut Arya. Serasa seluruh tubuhnya berubah menjadi cair, menggelegak bagai lahar panas.
 
Arya kini menghisap-hisap tonjolan yang seperti sedang lari bersembunyi di balik bungkus kulit kenyal yang membasah itu. Tubuh Val berguncang di setiap hisapan, sementara mulutnya tak berhenti mengerang. Terlebih-lebih ketika satu jari Arya menerobos liang kewanitaannya, lalu mengurut-urut dinding atasnya, mengirimkan jutaan rasa geli bercampur nikmat ke seluruh tubuh Val. Kedua kakinya yang indah terbuka lebar, terkuak sejauh-jauh mungkin, karena Val ingin Arya menjelajahi semua bagian kewanitaannya. Semuanya!

Maka Arya pun melakukannya. Ia tidak hanya menjilat dan menghisap, tapi juga menggigit pelan, memutar-mutarkan lidahnya di dalam liang yang panas membara itu, mendenguskan nafas hangat ke dalamnya, membuat Val berguncang-guncang merasakan nikmat yang sangat. Dua jari Arya kini bermain-main di sana, keluar-masuk dengan bergairah, menggelitik dan menggosok-gosok, menekan-nekan dan mengurut. Cairan-cairan hangat memenuhi seluruh kewanitaan Val, mulai membasahi bibir dan dagu Arya. Jari-jari yang keluar-masuk itu pun telah basah, menimbulkan suara berkecipak yang seksi. Val menggelinjang tak tahan lagi, merasakan puncak birahi melanda dirinya. Matanya terpejam menikmati sensasi yang meletup-letup di sela-sela pahanya, di pinggulnya, di perutnya, di dadanya, di kepalanya, di mana-mana!
 
Arya merasakan kewanitaan Val berdenyut liar, bagai memiliki kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah basah, kontras sekali dengan rambut-rambut pirang di sekitarnya, dan dengan tubuhnya yang putih seperti pualam. Dari jarak yang sangat dekat, Arya dapat melihat betapa liang kewanitaan Val membuka-menutup dan dinding-dindingnya berdenyut-denyut, sepertinya jantung Val telah pindah ke bawah. Arya juga bisa melihat betapa otot-otot di pangkal paha Val menegang seperti sedang menahan sakit. Kedua kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak tak terkendali. Arya terpaksa harus memakai seluruh bahu bagian atasnya untuk menekan tubuh Val agar tak tergelincir jatuh. Begitu hebat puncak birahi melanda Val, sampai dua menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda ayan. Ia menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya terengah-engah.
 
Arya bangkit setelah Val terlihat agak tenang. Berdiri, ia melepas celana dalamnya. Kelaki-lakiannya segera terlihat tegak bergerak-gerak seirama jantungnya yang berdegup keras. Val masih menggeliat-
geliat dengan mata terpejam, menampakkan pemandangan sangat seksi di atas hamparan sprei satin mewah berwarna biru muda. Tangan Val mencengkram sprei bagai menahan sakit, kedua pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya mendongak menampakkan leher yang mulus menggairahkan, rambut pirangnya terurai bagai membingkai wajahnya yang sedang berkonsentrasi menikmati puncak birahi. Arya menempatkan dirinya di antara kaki Val, lalu mengangkat kedua paha Val, membuat kewanitaannya semakin terbuka.

Val tersadar dari buaian orgasmenya, dengan segera menuntun kejantanan Arya memasuki gerbang kewanitaannya. Tak sabar, ia menjepit pinggang Arya dengan kedua kakinya, membuat pria itu terhuyung ke depan, dan dengan cepat kelaki-lakiannya yang tegang segera melesak ke dalam tubuh Val. Bagi Arya, rasanya seperti memasuki cengkraman licin yang panas berdenyut. Bagi Val, rasanya seperti diterjang batang membara yang membawa geli-gatal ke seluruh dinding kewanitaannya. Belum apa-apa, Val sudah terlanda gelombang puncak birahinya yang kedua. Begitu cepat!
 
Arya pun segera melakukan tugasnya dengan baik, mendorong, menarik kejantanannya dengan cepat. Gerakannya ganas, seperti hendak meluluh-lantakkan tubuh putih Val yang sedang menggeliat-
geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, kejantanan Arya menerjang-nerjang, menerobos dalam sekali sampai ke dinding belakang yang sedang berkontraksi menyambut orgasme. Val menjerit-jerit nikmat, menyuruh Arya lebih keras lagi bergerak, mengangkat seluruh tubuh bagian bawahnya, sehingga hanya bahu dan kepalanya yang ada di atas kasur.
 
Arya mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenuhi permintaan Val. Otot-otot bahu dan lengannya kelihatan menegang dan berkilat-kilat karena keringat. Pinggangnya bergerak cepat dan kuat bagai piston mesin-mesin di pabrik. Suara berkecipak terdengar setiap kali tubuhnya membentur tubuh Val, ramai sekali di sela-sela derit ranjang yang bergoyang sangat keras.

Val tak lagi sadar sedang berada di mana. Ia berteriak bagai kesetanan merasakan kenikmatan yang ganas dan liar. Seluruh tubuhnya terasa dilanda kegelian, kegatalan yang membuat otot-otot menegang. Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat-
geliat, mendatangkan kenikmatan yang tak terlukiskan. Setiap kali kejantangan Arya menerobos masuk, ia merasa bagai tersiram berliter-liter air hangat yang memijati seluruh tubuhnya. Setiap kali Arya menariknya keluar, Val merasa bagai terhisap pusaran air yang membawanya ke sebuah alam penuh kenikmatan belaka. Dengan mata terus terpejam, Val menjeritkan penyerahan sekaligus pengesahan atas datangnya puncak birahi yang tak terperi. Arya merasakan kejantanannya bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya.

Ia pun tak tertahankan lagi, memuncratkan seluruh penantian panjangnya, memuntahkan seluruh rasa terpendamnya, bercipratan membanjiri seluruh rongga kewanitaan Val yang sedang megap-megap dilanda orgasme. Val mengerang merasakan siraman birahi panas yang seperti hendak menerobos setiap pori-pori di tubuhnya. Val mengerang dan mengerang lagi, sebelum akhirnya terjerembab dengan tubuh bagai lumat di atas kasur. Arya menyusul roboh menimpa tubuh putih yang licin oleh keringat itu. Nafas mereka berdua tersengal-sengal bagai perenang yang baru saja menyelesaikan pertandingan di kolam renang.
 
"Oh, kamu ganas sekali, Arya. Betul-betul ganas..." kata Val akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu. Arya cuma menggumam, menenggelamkan kepalanya di antara dua payudara Val yang besar dan lembut itu.

Setelah beberapa saat, Val bertanya, "Berapa lama kamu di sini, Arya?"

"Aku harus berangkat kembali Senin pagi", jawab Arya diwarnai keengganan. Val terdiam.

Singkat sekali pertemuan ini, pikirnya. Sambil memeluk Arya, ia menggumam, "Kalau begitu kamu harus menginap di sini."

"Bagaimana kalau aku tidak mau..." jawab Arya menggoda.

"Kalau begitu, aku yang menginap di rumah orang tuamu.." sahut Val cepat-cepat.

Arya tertawa, "Kalau begitu, sebaiknya aku menginap di sini!"
 
Dengan gemas Val berguling menindih tubuh Arya, menggigit bahunya cukup keras sehingga Arya tersentak dan membalasnya dengan menggulingkan kembali tubuh Val. Mereka berdua tertawa-tawa seperti anak-anak bermain gulat. Cairan-cairan cinta mereka berjatuhan menimpa sprei, melekat di tubuh mereka berdua, sebuah perpaduan tubuh putih mulus dan tubuh coklat.
 
Malam itu mereka bercumbu tak henti-hentinya sampai pagi. Bagi Val, inilah percumbuan terpanjangnya dengan Arya, dan justru terjadi saat mereka tak lagi tinggal bersama!

Musim Panas di Los Angeles - 3

  Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sa...