Friday, January 2, 2009

Sabtu Yang Melelahkan: The Consequence

Cerita ini adalah sambungan dari "Sabtu Yang Melelahkan" yang telah kukirimkan beberapa hari yang lalu. Banyak sekali email yang saya dapatkan dari netters 17Tahuh.com. Banyak yang mengajak kenalan atau pun bahkan dengan tanpa tedeng aling-aling langsung mengajakku ngentot. Terima kasih buat dukungan dari kalian. 

***** 

Aku yang sangat lelah segera meninggalkan tempat Rei dengan setengah berlari. Tak kuduga, itu membuat toketku yang tak berbeha itu meloncat loncat dengan bebasnya. Aku yang sudah kelaparan, segera membuka pintu mobilku dan dengan segera menancap gasnya. Saat aku sedang di highway, aku pun mulai berpikir apa yang bakalan Rei lakuin dengan foto dan video tadi malam itu. Aku pun kalut, aku takut kalo Rei bakalan menyebarkan foto foto itu ke teman temanku. Aku pun mencoba menelpon tempat Rei, tapi tidak ada yang menjawab. Aku takut untuk kembali ke tempat Rei karena anus dan memekku yang masih sakit. Maka kuputuskan untuk pulang ke rumah dan mengisi perut yang dari tadi merengek rengek untuk diisi. 

Begitu sampai di rumah, sekilas kulihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Segera kugoreng 2 telor ayam untuk kumakan. Hanya segelas air putih dan air mani yang terisi di dalam lambungku. Selesai makan, aku pun segera melepaskan bajuku dan mulai mandi. Selesai mandi, aku segera mengoleskan moisturiser ke memek dan anusku. Terasa dingin dan enak sekali. Tak terasa, aku pun mulai menggerang keenakan. Tapi segera kutepis keinginan untuk masturbasi. Ketika aku mulai menggosok gigiku, kuperhatikan leherku yang banyak sekali bekas cupangan. "Sialan" umpatku dalam hati. Aku pun segera memeriksa cupangan cupangan itu. Ternyata, bukan hanya di leherku, tapi di daerah toketku banyak sekali cupangan yang terlihat sangat merah. 

Aku cuma menggosok gosok bekas cupangan itu dengan penuh kesal. Setelah menyikat gigiku, aku pun segera keluar dari kamar mandi dengan telanjang. Aku memang jarang memakai baju kalau di rumah. Segera kunyalakan TV untuk memecahkan keheningan. Aku segera melepas lelah dengan tiduran di sofa. Tak lama, aku pun terlelap dalam mimpi. Ketika aku terbangun, aku melihat sebuah amplop coklat di atas meja. 

"Buat: Cynthia" Hanya itu yang tertulis di amplopnya, tidak ada nama pengirim atau pun alamat. Aku yang terheran heran segera berlari ke pintu, tapi kudapati pintu masih terkunci rapat. Hanya si Rei yang punya kunci cadangan rumahku. Kutebak kalo isi amplop itu adalah foto foto dari pesta seks tadi malam. Dengan cepatnya kurobek amplop itu dan kudapati puluhan foto bugil dan foto ku yang di entot rame rame itu. Foto demi foto aku lihat dengan teliti. Tak kuduga, foto foto itu bisa membuatku terangsang. Kagetnya aku ketika kulihat adegan yang aku sedang tertidur. Ternyata mereka memasukkan bermacam macam barang ke dalam memekku. Dari mentimun, botol beer bahkan sepatu hak tinggiku. Terus terang aku sangat terangsang melihatnya, tapi aku takut kalo Rei bakalan menyalahgunakan foto itu. Ketika aku mau menelpon Rei, kulihat bahwa ada pesan di mesin penjawabku. Aku segera mendegarkan pesan itu. Ternyata si Rei. 

"Cyn, gimana bagus ga fotonya? Gue tadi ke rumah elo trus gue liat loe tidur ama telanjang gitu. Bagus lho bekas cupangannya. Hahaha.. Oh iya gue tadi ambil semua beha dan celana dalem loe di lemari pakaian loe. Koleksi loe banyak juga ya. Sekarang kalo ga usah pake kayak gituan lagi lah. Loe lebih seksi kok kalo ga pake. Trus loe kalo lagi bulanan loe ke rumah gue aja minta celana dalem elo. OK? Call me ASAP" 
Tercengang aku mendengar berita itu. Segera aku lari ke kamarku dan kulihat bahwa memang benar kalo beha dan celana dalamku sudah raib. Kuraih telpon di kamar dan langsung ketekan nomor telepon Rei. 
Dengan santainya dia menjawab "Halo sayang, udah bangun nih?" 
"Udah gila. Kok loe bisa bisa nya sih ambil semua beha ama CD ku?", teriakku marah 
"Udah lah, kan loe jadi kelihatan lebih sexy kalo ga pake itu", belanya. 
"Seksi apa? Loe gila ya Rei? Ntar kalo orang orang tau muka gue mau ditaruh di mana?", jawabku dengan kesalnya. 
"Heheheh, pilih mana loe, orang orang tau loe ga pake beha ama celana dalem ato loe yang digarap rame rame ama temen temen gue tadi malem?", katanya sedikit mengancam. 
Aku sangat kaget mendengarnya. 
"Mau loe apaan sih, Rei? Loe ga bakalan nyebarin foto foto dan video itu kan?", pintaku memelas. 
"Kalo loe masih ngotot beli beha ama celana dalem lagi ya pasti gue sebarin sih", tegasnya. 

Duniaku pun serasa runtuh mendengarnya. Tak sadar aku cuma terduduk di lantai dengan bengong, sedangkan Rei menutup telponnya. Sambil bangkit berdiri, aku menaruh gagang telpon ku ke tempatnya. Aku segera mengambil robe mandi untuk menutupi tubuhku yang telanjang. Kemudian, aku berpikir sejenak kulepas robeku dan langsung ku kenakan kemeja hitam yang agak longgar dan celana jeans. Kurapikan rambutku dan dengan setengah berlari, aku menyambar kunci mobil dan dompetku, tak lupa juga kuambil kaca mata hitam yang tergeletak di sampingnya. Tak lama kemudian, kupacu mobilku kembali ke tempat si Rei. Aku tau dia sedang tidak ada di rumah. Sesampainya di sana, segera kubuka apartemenya dengan kunci yang pernah dia berikan. Terkejutnya aku saat ku lihat Rei sedang duduk dengan enaknya sambil ngerokok. 

"Kenapa Cyn? Mau lagi?", tanyanya setengah mengejek. 
"Kasih klisenya ke gue", bentakku setengah melotot. 
"Nih ambil aja" katanya sambil melemparkan klise itu ke arahku. 
Tak kuduga, dengan gampangnya dia menyerahkan klise itu. Ketika kulihat muka si Rei yang penuh dengan senyum itu, aku merasa ada yang tidak beres. 
"Loe udah bikin ini digital ya Rei?", selidikku 
"Yup", jawabnya dengan singkat. 
"Rei loe hapus donk pls. Gue ga mau kalo temen temen gue tau", rengekku. 
"Ga bakalan kok. Gue cuma pengen aja punya foto loe yang lagi dientot rame rame. Swear, gue ga bakalan kasih ke siapa pun juga", timpalnya. 
"Awas ya, loe udah janji nih", ancamku. 
"Okey dokey", jawabnya. 
Aku pun langsung lega mendengar itu. Aku tau Rei adalah orang yang bisa jaga janji. Kemudian kuingat kalo Rei masih menyimpan beha dan celana dalamku. 
"Trus beha and celana dalamku gimana?", tanyaku 
"Ooh itu, udah gue buanglah", jawabnya sambil ketawa. 
"Loe boong kan?", tanyaku dengan kaget, "Itu mahal Rei" 
"Berapa sih? gue ganti deh", jawabnya singkat. 

Tak berdaya aku mendengar itu. Pikiranku sudah kalut. Cuma kutatap Rei yang memasang tampang cuek dengan penuh kebingungan. Memang dia berduit tapi jawabannya benar benar menusuk di hati. Ruangan itu menjadi sangat sunyi sejenak. 
"Mau makan siang ga Cyn?" tanyanya memecah kesunyian. 
"Gue mo makan nih cuman ga ada yang nemenin. Loe mau ikut ga?", tanyanya lagi. 
"Ya udah". jawabku dengan pasrah. 
Di dalam lift, Rei dengan santainya mulai meremas toket dan pantatku. Kudiamkan saja ketika Rei bilang kalo tanpa beha dan celana dalam aku terlihat lebih merangsang. Lift pun segera turun ke lantai bawah sedangkan Rei hanya meremas remas toketku dan sesekali melintir putingku. Aku dengan setengah terpejam menikmati permainan itu. Tak terasa, aku tengah mendesah desah dalam nafsu mengikuti permainan tangan Rei di toketku. Tapi permainan itu segera selesai ketika Lift pun berhenti di lantai paling bawah. Kami berdua segera menuju ke mobil si Rei. 
Tak kuduga dengan santai nya dia membuka 2 kancing bajuku dan berkata, "Gini kan lebih sexy". 
Aku hanya menggelengkan kepala mendengarnya. Tanpa memakai beha dan dengan belahan dada yang begitu rendah, membuat orang orang bisa melihat toketku dengan tanpa halangan kalau aku sedikit membungkuk. 

"Body loe itu terlalu seksi lagi, buat apa di tutup-tutupin", katanya ketika melihatku mencoba mengancingkan bajuku. 
"Kenapa sih? Loe minder ama tubuh loe?", sahutnya lagi. 
Urunglah niatku untuk mengancingkan bajuku. Dengan muka yang bete, aku segera duduk di bangku depan di samping Rei. Dia segera mengemudikan mobilnya ke arah China Town. Dengan tersenyum kepadaku, Rei menunjuk ke arah pangkal pahanya. Aku yang sudah tau maksudnya cuman membuka resletingnya dan mulai mengocok barangnya yang sudah setengah berdiri. Dengan agak malas, aku membungkuk dan melahap barang itu tanpa ragu ragu. Kusedot sedot kontol itu dengan penuh nafsu, sambil kupijit pijit buah pelirnya. Rei pun hanya mendesah desah sambil mencoba mengemudikan mobil. Aku merasa mobilnya berjalan melambat. Setelah dengan cepatnya kukocok dan kusedot senjatanya itu, akhirnya Rei pun dengan mengerang gerang menyemprotkan spermanya ke dalam mulutku. Langsung kutelan sperma itu tapi dengan keadaan menunduk, aku pun agak tersedak. Kuangkat wajah ku dan mulai ku lap mulutku dengan tissue. 

"Wah tambah jago loe ya", puji Rei. 
Aku hanya bisa tersenyum dengan paksa ketika mendengarnya. 
"Loe besok kelas jam berapa?", tanyanya. 
"Jem 2 an lah, kayak biasanya", jawabku. 
"Kalo gitu ntar malem maen lagi yuk, cuman gue ama si Donny doank kok. Mau ga?", tambahnya. 
"Ga deh Rei, memek gue masih sakit nih", jawabku terus terang. 
"Udah lah, ga papa, cuma seronde doank kok", rengeknya 
"Liat ntar lah", jawabku tak ambil pusing. 
"Dah sampe nih", katanya singkat. 

Kita pun turun dari mobil dan masuk ke Chinese Restaurant yang terbilang besar. Betapa kagetnya aku melihat si Donny dengan santainya menyapaku. Baru kusadari kalau Donny itu adalah anak yang punya restaurant ini. Dengan santainya dia menyruh Rei dan aku segera naik ke lantai dua. Kuikuti keduanya dari belakang dengan menebak nebak rencana mereka. Sesampai di lantai dua, Donny pun membuka pintu sebuah kamar yang sangat luas. Di dalamnya nampak sebuah tempat tidur dan bermacam macam elektronik. Ternyata itu kamar si Donny. Aku pun segera duduk di lantai di belakang meja pendek dan disusul oleh Donny dan Rei. 

"Loe hebat juga kemaren Cyn", sahut Donny membuka pembicaraan. 
"Ah ga kok", sahutku merendah. 
"Bentar ya gue pesenin makanan di bawah", sahut Donny sambil berlalu. 
Kulihat dia hanya mengangkat telepon dan memesan beberapa makanan untuk diantarkan ke kamarnya. 
"Dasar anak orang kaya", pikirku. 
"Cyn, menurut elo, siapa yang paling kuat kemaren?", tanya si Donny tanpa ada malu. 
"Semua sama kok", jawabku singkat. 
"Pengen lagi ga?", tanya nya menggoda. 
"Ga sekarang deh, sakit semua nih badanku", alasanku. 
"Ayolah, ga bakalan sakit kok", katanya sambil meremas remas toketku. 
"Sorry banget deh Don, gue bener bener capek nih", tolakku dengan halus. 
"Ya udah lah", gerutunya sambil keluar kamar. 

Kulihat Rei hanya tiduran sambil baca komik di lantai. Dia tidak memperhatikan aku sama sekali. Aku pun mulai berdiri dan melihat lihat kamar si Donny. Banyak sekali DVD-DVD porno yang berserakan di lantai. Dinding dindingnya penuh dengan poster poster para pemain sepak bola. Dengan bosan, aku segera menyalakan TV besar di kamar itu. Kuganti ganti saluran TV untuk mencari sesuatu yang kelihatannya menarik. Tapi NOL hasilnya. Channel demi Channel hanya menampilkan acara yang tidak menarik sama sekali. Tiba tiba, pintu kamar pun terbuka dan kulihat seorang pelayan masuk membawa beberapa makanan di atas baki dan menaruhnya di meja. Ketika aku hendak membayar, pelayan itu hanya bilang dengan sopan kalo makannya sudah dibayar oleh Donny. 
"Wah, gentle juga dia", pikirku. 

Tak lama kemudian, Donny pun muncul dengan membawa 3 gelas kecil berisikan liquor. Katanya minuman itu adalah keistimewaan restaurant ini. Aku pun bilang ke Donny kalo lebih enak minumnya setelah makan. Donny cuma ketawa dan mengangguk. Maka, kami pun makan dengan enaknya. Sewaktu makan, Donny dan Rei hanya memuji muji tubuh dan teknik ku selama tadi malam. Aku cuma bisa tersipu malu mendengarnya. Donny pun setuju dengan Rei yang bilang kalo aku lebih merangsang tanpa memakai beha dan celana dalam. Aku hanya menggelengkan kepala mendengar itu. Setelah makan, Donny pun segera memberiku minuman yang tadi di bawanya. Tanpa ba bi bu, segera kutegak minuman. Sangat keras tapi halus. Nama minuman itu adalah Ice fire. Nama yang sangat keren pikirku. Tak lama kemudian, kita pun hanya berbincang bincang tanpa tujuan. Makin lama aku merasa kepala dan mataku semakin berat. 

"Wah KO deh dia", kata Donny kepada Rei 
"Yoi, udah pasti ga kuat lah", timpal Rei 
"Kasian deh ngeliatnya", sahut si Rei lagi 

Aku yang sudah tergeletak tak berdaya itu masih bisa mendengar mereka samar samar. Kemudian, aku merasa salah seorang dari mereka mengangkat tubuhku dan dibaringkannya aku di atas kasur. Dengan cepat nya keduanya segera melepas jeans dan bajuku. Aku sudah benar benar tidak berdaya menghadapinya. Tak lama kemudian, aku merasa ada dua jari yang mengisi memekku. 

"Masih kering nih Rei, ga terangsang dianya", Ternyata si Donny. 
"Udahlah entot aja, ntar juga basah ndiri", sahut Rei enteng. 

Tak kuduga mereka bakalan memperkosaku. Ingin sekali aku berontak, tetapi tangan dan kakiku sangat lah terasa lemas. Kemudian, aku merasa ada kontol yang menyeruak masuk ke dalam memekku. Aku hanya menjerit tertahan menahan sakit yang luar biasa itu. Tanpa memperdulikanku, dia segera memompanya keluar masuk dengan agak susah. Setelah beberapa lama, aku pun menjadi terangsang dan mulai menikmati genjotan itu. Pintar sekali yang mengentotku itu, dia bisa memulai genjotan genjotan dengan cepat dan kemudian mempercepatnya. Diperlakukan begitu, aku pun tidak bisa bertahan lama. Hanya dientot oleh satu orang, aku bisa keluar sampai 3 kali. Saat dia keluar, dia tidak menarik kontolnya dari memekku. Berkali kali kontolnya memuntahkan sperma di dalam memekku. Kemudian dia langsung menarik kontolnya dari memekku. 

Tapi ada kontol lain yang segera mengisi memekku dan mulai memompaku. Aku sempat kuwalahan menghadapi itu. Aku tahu dari gaya dan ukuran kontolnya kalo itu pasti si Rei. Dengan cepat nya Rei memompaku sementara aku hanya bisa mendesah desah kenikmatan. Tak berapa lama kemudian, aku segera mencapai orgasme, tapi Rei masih memompa tubuhku. Rei pun mulai menarik kontolnya dari memekku, tapi aku malah mengangkat memekku dan menyodorkannya ke Rei. Tak kuduga dengan kasarnya Rei mulai memompaku lagi. Aku menjerit kecil ketika kepala kontolnya menhantam dinding rahimku. Tak lama aku pun keluar lagi dan lagi. Aku hanya bisa mendesah keenakan ketika Rei menyemprotkan spermanya ke dalam memekku. 

Aku yang sudah capek hanya bisa terkulai dengan lemas dan penuh keringat. Kudengar langkah kaki mendekat dan kurasakan ada sesuatu menyeruak masuk ke memekku. Aku sudah tidak mempedulikannya lagi. Aku hanya bisa tertidur tak berdaya. 

Ketika aku bangun, kuraba memekku dan kutemukan sebuah dildo menancap dengan tentramnya. Ketika kukeluarkan dildo itu, banyak sekali sperma yang mengalir keluar dari dalam vaginaku. Banyak juga sperma yang telah mengering di perut dan toketku. 
"Sialan", pikirku, "gue dikerjain lagi deh". 
Kulihat Donny dan Rei hanya ketawa melihatku telanjang dengan bermandikan sperma itu. Rei bilang kalo dia bentar lagi mau pulang trus aku disuruhnya pake baju. Ketika bilang kalo aku mau merapikan diri, si Rei bilang itu ga perlu. 

Aku pun langsung memakai baju yang tadi kukenakan dan mengikat rambutku kebelakang. Tanpa lupa pamitan ke Donny, aku dan Rei pun segera meninggalkan tempat itu. Masih banyak sekali sperma yang ada di dalam memekku saat aku di mobil Rei. Entah itu sperma Donny atau Rei tapi dengan jelas kurasakan sperma itu meleleh turun ke pahaku. Di dalam perjalanan menuju tempat Rei, aku hanya diam saja karena kelelahan. Ketika sampai di tempat Rei, aku segera mengambil kunci mobilku dan langsung pulang ke rumah. 

E N D


Oleh: cynthiabang@yahoo.com
 

Sabtu Yang Melelahkan

Namaku Cynthia. Ini baru pertama kali aku coba buat ngirim cerita seksku. Sudah sejak 3 tahun lalu, aku selalu "haus seks". Entah itu karena keperawananku yang diambil oleh mantan cowokku ato itu karena libidoku yang besar. Sejak saat itu, aku selalu mencari cowok yang bisa aku ajak nge-seks. Aku tidak peduli itu cowok apa, yang penting dia punya barang yang bisa memuasin aku. Banyak sekali teman teman cowok ku yang datang di apartemenku kalo aku lagi tidak ada kelas. Begitulah hidupku di LA. Sekarang aku mau cerita tentang pengalaman seks ku yang tak terlupakan. 

***** 

"Hmph, capek nih" umpatku dalam hati. 
Hari itu aku kuliah sampai jam 9 malam. Parkiran mobil pun sudah gelap. Sambil melihat kanan kiri, aku pun berlari-lari kecil menuju ke mobilku yang ku parkir di belakang gedung science. Ketika sampai di mobil, HP ku berbunyi. Ternyata si Rei. 

"Halo Cyn, lagi ngapain?" tanya si Rei. 
"Ini nih, lagi mo pulang baru aja selesai kelas" sahutku sambil menstater mobil. 
"Ooh, mo ke sini ga? Kita ntar mo ngadain pesta nih. Kan hari sabtu, masa di rumah aja sih?" Si Rei pun nyerocos. 
"Oh ya? Mau donk, kalo gitu gue ke sana sekarang deh" jawabku dengan senangnya. 
"OK deh. Bye" 

Sejak hidup di LA, aku selalu suka dengan kehidupan malam. Pesta, diskotik ataupun pergaulan bebas. Akupun mulai merapikan rambut dan pakaianku. Kemudian, aku mulai membubuhkan make-up tipis di mukaku. Setalah selesai, aku pun mengendarai mobilku ke tempat Rei. Rei adalah anak orang kaya. Apartemenya yang terletak di daerah BH itu sangat mahal harganya. Aku pun memberhentikan mobilku di depan Liquor Store. Ketika aku turun dari mobil, banyak cowok bule yang melihat dan bersiul kepadaku. Saat itu aku hanya mengenakan rok pendek dan kaos putih ketat. Payudaraku yang berukuran 34 c itu pun tampil kian menggoda. Memang payudaraku cukup besar untuk orang seukuranku. Ketika aku sedang mencari cari liquor kesukaanku, Hp ku pun berbunyi lagi. Ketika kulihat nama Rei, aku segera menjawab. Hanya percakapan kecil yang terjadi, ternyata dia minta dibelikan beberapa botol bir. Aku pun segera mengambil sebotol XO dan 12 botol corona. Setelah membayar, aku pun segera mengemudikan mobilku ke tempat Rei. Dengan kemacetan LA aku pun tiba di tempat Rei setelah setengah jam di mobil. Rei pun menyambut ku dengan gembira. Ketika aku masuk, ternyata tidak ada seorang pun di situ selain aku dan Rei. 

"Kok ga ada anak anak? Katanya mo pesta?" tanyaku keheranan. 
"Ntar lagi juga pasti datang" jawabnya sambil tersenyum. 
"Siapa aja sih?" kejarku. 
"Cowok-cowok lah, 7 orang deh kayaknya." katanya sambil berjalan ke dapur. 
"Jadi gue cewek sendiri nih?" tanyaku keheranan. 
Dengan santainya dia cuma menjawab "Yup, kenapa? Loe ga suka? Kan loe biasanya suka main keroyokan. Apalagi kalo ceweknya cuman loe sendiri." 
"Loe gila ya? loe bikin pesta buat cuman ngentotin gue rame rame?" tanyaku dengan kaget. 
"Bukannya loe suka kayak gituan, apalagi barang mereka gede gede lagi. Tenang aja, dijamin puas" imbuhnya sambil ketawa nyengir. 
Aku cuma diam saja. Rei memang sering nge-seks denganku, tapi kita tidak pacaran. Aku juga pernah nge-seks dengan Rei dan dua temannya. Tapi kali ini TUJUH orang. Aku takut tapi aku juga terangsang. Aku memang sangat suka menjadi pusat perhatian apalagi gangbang. Rei tau itu. Rei tau semua tentang aku. Tapi aku cuma tau sedikit tentang Rei. Dia sangat suka melihat cewek di entot rame rame. 

"Kenapa? kok bengong?" tanya Rei sambil mengusap usap tangannya ke pantat kiriku. 
"Ga kenapa kenapa kok" jawabku singkat. 
Aku memang sudah biasa dengan kelakuan Rei. Tangan Rei yang tadi cuman memegang pantat kiriku, kini meremas remas pantatku dengan kerasnya. 
"Udah lah Rei, siapin dulu donk makanan buat pestanya" kataku sambil menepis tangannya. 
"Kok gitu sih? Ayo donk kan udah lama gue ga liat loe telanjang" katanya santai. 
"Ya udah kalo loe mau, tapi siapin dulu donk makanannya. Habis itu kalo ada waktu gue mau mau aja. Gimana? Mau ga?" tanyaku menggoda. 
"Hahaha. Kita cuma makan chips doank kok malem ini. Tuh chipsnya udah ada. Tinggal dibuka doank" katanya sambil memasang muka mesum. 
"Iiih, benci gue ama loe" kataku sambil mencuekin muka mesum dia. 
"Ya udah gue bikinin salad deh. Mau ga?" 
"Bikin lah kalo loe mau" katanya singkat. 

Ketika aku membuat salad di meja dapur, tangan tangan Rei menjelajahi pantatku. Aku yang sudah biasa dengan itu cuma mendesah desah kecil. Aku merasakan kedua tangannya mengangkat rok ku sampai ke pinggangku. Dia hanya bersiul ketika melihat pantatku yang penuh. Waktu itu aku memakai G-string jadi dia bisa melihat semuanya. "Auw" jeritku ketika Rei memukul pantatku sambil ketawa. Aku pun meneruskan mengaduk salad ketika dia menurunkan g-stringku sampai ke lantai. Aku segera mengangkat kakiku dan menendang g string itu ke belakang. Aku kira Rei akan segera memasukan penisnya ke dalama memekku, tetapi dia hanya menurunkan rok ku dan merapikannya. 

Aku terheran heran ketika dia melakukan itu tapi aku tidak mengatakannya. Kini tangan Rei mulai meraba raba dan meremas payudaraku sambil mulutnya menciumi leherku. Aku hanya melenguh kecil ketika dia meremas payudaraku dengan agak keras. Aku memberhentikan kerjaanku dan mencoba menikmati rangsangan Rei. Rei pun mulai melepas baju ketatku. Rei hanya diam ketika dia melihat tubuhku yang setengah telanjang. Aku yang sudah sangat terangsang mulai memijit mijit penis Rei dari luar celananya. Rei pun melenguh keenakan ketika aku remas remas dan kukocok penisnya perlahan. Rei tidak diam saja, dia langsung melepas behaku dan melemparkannya. Aku yang hanya memakai rok mencoba membuka baju Rei. Tapi Rei cuman menepis tanganku. Rei pun ketawa ketika melihatku kebingungan. Rei pun mulai membungkuk dan mengambil beha dan g stringku yang berserakan di lantai. Kemudian dia berjalan ke kamarnya meninggalkan aku yang kebingungan dan sangat terangsang. Ketika aku tersadar bahwa payudaraku terpampang bebas, aku pun kembali mengenakan kaos putih ketatku. Aku merasa kalau putingku tercetak jelas dengan baju itu. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Rei pun kembali ke dapur dan kulihat bahwa beha dan g stringku telah dia sembunyikan. 

"Boleh juga toket loe, lebih keliatan gede lho" katanya sambil meremas remas toketku. 
"Mau loe apa sih Rei? Mau ngentot ga sih loe?" tanyaku sudah tidak sabar. 
"Oh, loe mau ngentot?" tanya nya dengan muka sok innocent. 
Aku pun menjadi malu sendiri. Belum sempat aku menjawab telpon apartement Rei berbunyi. Aku tau kalo teman temannya sudah ada di luar. Mereka cuma minta dibukain pintu saja. 
"Nih kalo loe mau ngentot, mending loe sekarang emut kontol gue sampe gue keluar" tantangnya 
"Ada tamu Rei" kataku sambil kebingungan. 
Rei pun segera memencet tombol untuk membuka pintu apartemen. Apartemen Rei ada di lantai 8. 
"Masih ada waktu kok", kata Rei sambil meringis, "ayo mau ga?" 
"Ntar kalo mereka liat gimana?" kataku sambil melihat ke pintu. 
"Cuek aja lah. Mereka juga udah tau kalo loe suka nge seks, apalagi gue udah kasih tau mereka kalo loe suka di gangbang. Udah nyerah aja, ntar juga loe pasti ngemut kontol mereka juga". 

Aku pun hanya diam dan berjongkok di depan dia. Tanganku mulai membuka resletingnya dan ku keluarkan penis dia yang terbilang besar itu. Tanpa ragu ragu, aku pun segera melahap batang itu dan menghisapnya. Rei hanya melenguh kecil sambil menjambak rambutku ketika aku memasukkan penisnya sampai masuk ke tenggorokanku. Aku memang pandai sekali memberi Deep Throat. Ketika aku memberi dia deep throat, Rei pun segera melenguh panjang dan menembakkan air maninya ke mulutku yang langsung kutelan. Aku memang suka menelan air mani cowok. Rei hanya tersenyum ketika aku menjilat jilat batangnya yang perlahan mengecil. Rei pun memasukan senjatanya kembali ke celananya dan aku hanya mengusap bibirku dengan tissue. Tak lama, Pintu apartemen Rei pun terbuka dan masuklah tujuh orang yang tidak aku kenal. Mereka semua berbadan bagus dan bertampang yang lebih dari biasa. 
"Halo Rei, siapa tuh ceweknya?" tanya teman si Rei yang akhirnya kuketahui namanya Donny.
"Oh dia Cynthia, temen gue" Kata Rei santai "Kenalan sana" 

Singkat kata, aku pun berkenalan dengan mereka semua. Aku tidak bisa mengingat nama mereka semua karena mereka terlalu banyak. Rei pun segera bercakap cakap dengan mereka sementara aku masih di dapur menyiapkan makanan. Ketika aku sedang mencari cari tempat buat chips, aku merasakan ada tangan yang memegang pantat ku. Aku kira itu tangan milik si Rei, jadi aku hanya diam dan meneruskan kerjaanku. 

"Hmm, boleh juga pantat loe" 
Ketika aku mendegar bahwa itu bukan suara Rei aku pun kaget dan segera menepis tangan itu. 
"Pinter juga si Rei kalo cari cewek" ternyata itu si Donny. 
"Udah ga usah sok jual mahal, Rei udah ngomong kalo loe itu suka seks" imbuhnya. 
Aku sangat sakit kaget ketika dia ngomong secara terus terang. Aku hanya diam saja sambil menunduk malu. 
"Loe tau kenapa loe di sini?" tanyanya lagi. 
Aku hanya menggelengkan kepala saja. 
"Loe itu di sini buat muasin kita kita. Mending loe sekarang ikutin aja apa yang aku bilang ato loe bakalan diperkosa rame rame ama mereka." katanya mengancam. 
Aku yang tidak punya pilihan lain hanya mengangguk menurut. 
"Hehehehe.. bagus. Sekarang loe temenin mereka ngobrol trus gue bakalan siapin minumannya." suruhnya. 

Aku pun hanya mengangguk dan mengambil salad yang tadi aku buat. Ternyata mereka lagi berjudi. Aku tidak tau apa yang mereka mainkan tapi mereka menyuruhku duduk dan ikut main. Mereka pun segera menjelaskan peraturannya. Aku baru tau kalo mereka itu bermain poker, tapi yang menang bisa menyuruh salah satu dari yang kalah untuk melepas baju. Aku pun mengiyakan aja meskipun aku tau kalo aku kalah dua kali maka aku akan telanjang bulat. Aku pun tersadar, jadi ini maksud Rei mengambil beha dan g stringku. Aku hanya melirik ke Rei yang tersenyum kemengangan. Tak lama, Donny pun datang membawa minuman. Dia memberiku sebotol corona yang tadi kubeli dan kuminum pelan pelan. Ketika ronde pertama di mulai, mereka pun segera dengan cepatnya mengatur kartu mereka. Aku yang tidak tau apa apa, cuma melihat kartuku dan meminum coronaku. Aku merasa bahwa salah satu dari mereka menang, mereka pasti akan menyuruhku membuka bajuku. 

Ternyata benar, aku tidak tau apa nama kartuku tetapi meraka ngomong kalo aku kalah. Maka salah satu dari mereka menyuruhku melepas bajuku. Ketika aku membuka bajuku, mereka hanya berkomentar tentang toketku yang besar itu. Aku yang setengah telanjang hanya menunduk malu dan menutupi putingku dengan tanganku. Tak lama kemudian, mereka memulai ronde yang kedua. Aku merasa bahwa muka dan badanku mulai memanas, aku tidak tau apakah itu reaksi dari bir atau sorotan sorotan mereka. Aku yang mulai merasa canggung, mulai meminum birku sampai habis. Tak lama kemudian, ronde ke dua berakhir dengan melayangnya rok ku. Memekku yang tak berambut itu sudah tidak tertutupi apa apa. Aku merasa memekku mulai gatal, dan aku tersadar kalo Donny telah mencampurkan obat perangsang ke dalam bir ku. Aku yang sudah tidak bisa menahan gatalnya mulai menggesek gesekkan pahaku. 

"Hehehehehe, terangsang ya cyn?" tanya si Rei dengan santainya. 
Aku cuma diam saja dan menunduk. 
"Kalo mau ngerasain kontol kita kita bilang aja Cyn" imbuhnya. 
Aku sangat malu, tapi aku juga terangsang dengan hebatnya. Aku yang masih menggesek gesekan pahaku tanpa sadar mengeluh terangsang. Mereka cuma tertawa melihatku seperti itu. 
Aku pun berkata ke Rei "Rei, please masukin kontol loe". 
Mereka yang mendengar itu hanya tertawa dan mulai mengeluarkan kontolnya. 
Rei pun menjawab "Kalo loe mau dientot, loe ngomong ama mereka semua, jangan cuma gue doank. Ntar yang lain kan iri" katanya mengejek. 
"Pls entot gue, gue udah ga tahan lagi" kataku sambil merangkak ke salah satu dari mereka dan mulai meremas remas kontolnya. 
Mereka hanya ketawa dan memanggilku "maniak seks", "cewek gila kontol" dan lain lain nya. 

Aku pun segera memasukan kontol yang kupegang itu ke mulutku. Kumulai dengan mencium kepala kontolnya dan menjilat jilat batangnya yang sudah tegang. Empunya kontol itu pun segera mengeluh tertahan dan memegang kepalaku dan memaksaku memasukan kontolnya yang panjang itu ke mulutku. Aku hanya memejamkan mata ketika aku merasakan kontol lain menerobos dinding vaginaku. "Ooh", lenguhku tertahan. Seseorang yang mengentotku dari belakang itu segera memaju-mundurkan kontolnya di memekku. Aku merasa kalo tiap kali dia mendorong pantatnya, kepala kontolnya menyentuh dinding rahimku. Salah seorang dari mereka memukul pantatku hingga merah dan memasukan salah satu jarinya ke dalam anusku. Aku pun hanya melenguh keenakan. Ketika aku masih keenakan merasakan jari di anusku, kontol yang ada di mulutku segera menyemprotkan air maninya dan langsung kutelan. Aku pun mulai menjilati kontol itu dengan maksud membersihkannya. Cowok yang kujilati kontolnya itu hanya tersenyum dan meremas toketku. 

Dengan tiba tiba, cowok yang memompaku dari belakang menarik kontolnya. Aku yang masih belum keluar menoleh dengan protes tapi kulihat kalo itu ternyata si Donny yang memompaku dan Donny hanya berdiri dan meninggalkanku sambil tersenyum. Dia pun menyuruhku untuk menungging dengan tangan di meja makan. Aku pun menurut saja. Ketika aku sudah dalam posisi menungging, Donny pun dengan kasarnya memasukkan kontolnya di anusku. Aku pun menjerit menahan sakit yang luar biasa itu. Setelah dua menit kesakitan, aku pun mulai merasa nikmatnya anal seks. Aku pun segera mengikuti irama Donny, dan Donny pun segera mengangkat kedua pahaku dengan kontol yang masih di anusku. Aku pun tidak punya pilihan lain selain bersandar kebelakang supaya tidak jatuh. Donny dengan pelannya menaik turunkan tubuhku sambil memutar badannya. Maka memekku pun terpampang dengan jelas ke cowok cowok yang laen. Aku sangat kaget ketika aku melihat si Rei merekam kejadian itu dan temannya memfotoku. 

Tapi, kenikmatan yang aku dapatkan dari Donny menelan kekagetanku dan membuatku orgasme. Aku segera menggerang gerang keenakan sambil memilin milin puting kananku. Aku merasa ada cairan vaginaku yang menetes keluar. Kemudian, aku merasa si Donny mulai mempercepat kocokannya di anusku. Aku yang takut jatuh segera menyenderkan tubuhku ke belakang dan membiarkan toketku meloncat loncat dengan bebas. Aku pun juga melihat lampu lampu flash kamera yang mengabadikan kejadian itu. Donny pun segera menjatuhkan tubuhku di kasur yang sudah disiapkan cowok cowok lain di ruang tamu. Aku jatuh dengan telungkup dengan kontol yang masih di anusku. Dengan cepatnya, si Donny mencabut kontol itu dan segera mengeluarkan spermanya di dalam gelas wine yang bening. Aku yang kelelahan cuma melihat itu dengan penuh tanda tanya. 

Belum sempat aku mengatur nafas, Donny menyuruhku menjilati kontolnya sampai bersih. Aku menjilati kontol itu dengan perasaan yang jijik. Kemudian salah satu dari mereka segera mengangkatku dan memasukkan kontolnya ke memekku. Aku pun cuma melenguh tertahan. Cowok itu segera memaju mundurkan kontolnya dengan aku keadaan berdiri. Aku hanya bisa berteriak teriak kecil karena kontol itu sangat besar diameternya. Aku merasa ada kontol laen yang menerobos anusku. Aku merasa seperti sandwich karena diapit kedua cowok besar itu. Tak lama kemudian aku pun orgasme lagi dan lagi. Tiap kali mereka mau keluar, mereka segera mencabut kontolnya dan mengeluar kan air mani merek di dalam gelas wine. Aku masih bingung dengan itu, tapi ketiga orang yang belom mengentotku segera mengeroyokku. Ada yang memasukkan kontolnya ke memekku, ke mulutku ataupun mengentot toketku. Aku sudah seperti di dalam sorga dunia. 

Aku tidak tahu sudah berapa kali aku orgasme malam itu. Mereka mengentotku dengan nonstop. Selalu ada kontol yang mengisi vaginaku. Ketika mereka semua sudah selesai mengentotku, mereka menaruhku di sofa dengan kepala di bawah. Aku sudah tidak tahu apa yang terjadi tapi dengan samar samar aku lihat Donny memasukan leher botol bir yang masih penuh isinya ke vaginaku. Aku pun segera terasadar dengan adanya benda dingin di vaginaku, tapi aku sudah terlalu capek untuk berontak. Aku hanya bisa melihat Donny menaik turunkan botol itu di vaginaku. Kemudian, aku merasakan bir yang meleleh turun dari vaginaku ke toketku. Kemudian, Donny segera menarik botol bir itu dan menyuruhku membuka bibir memekku dengan tanganku. Akupun hanya menurut saja. Kemudian, aku melihati Donny memasukan sedotan ke dalam memekku yang penuh dengan bir dan dengan segera aku merasakan bir itu disedot oleh Donny dan ditelannya. Mereka semua tertawa ketika melihatku melenguh menandakan aku orgasme lagi. Aku yang sudah terlalu capek, mulai merangkak ke atas kasur di lantai ruang tamu dan aku pun tertidur. 

Keesokan paginya, aku pun terbangun dengan sebuah mentimun di memekku. Aku kebingungan dan aku lihat cowok cowok itu sudah tertidur dengan lelapnya di sebelahku dan di sofa. Aku pun segera mengeluarkan mentimun itu dari memekku. Ketika aku bangun, aku baru merasakan panasnya anusku dan sakitnya memekku. Dengan sedikit tertatih aku berjalan mencari baju baju ku. Aku menemukan kaos putihku dan rok ku yang langsung kukenakan. Akupun berjalan ke arah kamar mandi untuk merapikan diri. Ketika aku sedang menyisir rambutku yang acak acakan, pintu kamar mandi terbuka dengan tiba tiba dan aku lihat Donny menyeruak masuk. Aku cuma melihat apa yang bakalan dia lakuin. Tak kuduga, dia dengan tanpa malu mulai kencing dengan enaknnya. Aku yang melihat itu hanya menggelengkan kepala dengan jijik. Setelah aku selesai menyisir rambutku, aku segera keluar secepat mungkin dari kamar mandi itu sebelum si Donny menyuruhku berbuat yang macam macam. 

Aku pun segera mencari dompet dan kunci mobilku ketika Rei memegang tanganku dan menyuruhku minum pregnancy pil. Rei menyuguhkan pil itu dan segelas air putih yang langsung kuminum. 
"Hebat juga lo Cyn semalem" pujinya 
"Sakit semua nih Rei" jawabku sambil meringis "Gue pulang dulu ya capek nih" 
"Ya udah tapi minum ini dulu ya?" katanya sambil menyogorkan gelas yang penuh dengan sperma "gue tau loe pasti suka" 
"Aduh Rei gue laper banget, dari kemaren malem gue blom makan" jawabku mengiba. 
"Enggak, minum dulu baru boleh pulang. Udah lah cepet minum" tegasnya. 
"Iih maksa banget sih" gerutuku. 

Rei pun segera mengambil video camnya dan menyuruhku bergaya seolah olah aku menikmati minum sperma. Aku pun hanya tersenyum sambil menegak habis sperma itu. 
Rei pun tersenyum dan berkata "Mulai hari ini kalo loe ke mana mana usahain jangan pake beha ato celana dalem, ok? jadi ntar kalo gue kepengen ngentot, cuma tinggal masukin doank" katanya sambil ketawa. 
"Gila loe" umpatku sambil ngeloyor pergi. 

***** 

Jika kalian suka sama cerita ceritaku jangan lupa kasih comment dan jangan takut emailin aku di cynthiabang@yahoo.com. Pasti aku balas. 

Love, cynthia 

Thursday, January 1, 2009

Petualangan cewe gue #1

From: sex888

The Story begin...

Beberapa minggu yang lalu saya ikut orang tua saya ke luar negeri untuk urusan bisnis. Cukup lama sih, jadi saya meninggalkan Lina, tunangan saya, untuk sementara waktu. Karena dia bosen sendirian, akhirnya Lina bersama dengan 2 temannya pergi jalan-jalan ke sebuah pulau wisata. Malamnya, kita sempat chatting. Melepas kangen lah. Hehehe...Tetapi isi chatnya bikin gw jadi bingung. Lina bilang dia lagi mupeng. Waduh...mana gw di europe lagi.  ngga bisa donk seks jarak jauh. trus gimana? gw tanya. Dia bilang boleh ngga kalau dia "have fun" ama cowok lokal disana? gubrak ! gue kaget. Ini cewek kok jadi horny begini ya sejak masuk ke dunia swing. Salah gw juga sih, gw yg ajak dia swing beberapa kali. Jadi pikirnya ganti-ganti pasangan buat fun ngga masalah, yang penting hati tidak berubah :P (cieee...huek huek). Ya udah, gw ijinkan dia tetapi dengan syarat harus cerita detail ke gue. Wah, dia gembira banget, keliatan di YM-nya. Hik hik hik...kesal deh.

Besoknya, Lina kirim email ke gw menceritakan pengalamannya. Hm...gue ngocok abis deh baca ceritanya :P Cemburu tapi sekaligus seru. Nah, gw ceritakan ulang dari perspektifnya dia. hik hik hik...

---

Sore itu gw mo jalan-jalan ke pantai. Agak mendung sih tetapi yah namanya juga lagi "pengen". Hihihi...Sebelum berangkat, di kamar gw ganti pake bikini two piece warna item. Bikini tuh bikin cewek tambah cekci yach.  hahaha...Semuanya berbentuk segitiga, baik bra maupun cd-nya. Lalu gue tutupi pake tanktop item tipis yang ketat dan pake celana pendek jeans mini. Kedua temen gw pada jalan- jalan ke mall, ngga mau nemenin gw ke pantai. Pas banget seh...Kan gw lagi mupeng nech...lagian pantainya cuman tinggal menyebrang doang dari hotel.

Sesampainya di pantai gw duduk-duduk di pasir. Ga seperti biasanya, kali ini gw cari tempat yang ngga di tengah. Kebetulan disitu ada bekas pondokan dan posisinya mojok. Pantainya agak sepi. Cuman ada beberapa bule dan turis lokal sedang asyik memandang gelombang laut, dengan dikipasi oleh angin yang cukup keras. Rambut gue sedikit berkibar-kibar kayak gadis sunsilk.  Hihihi...  Semua cowok pasti melirik ke arah gw. Bahkan ada yang bule yang melirik sambil tersenyum ke gw sampe cewek lokal bawaannya menjadi sewot dan sempat terjadi argumentasi kecil. :P

Gw lalu sewa tiker dan duduk-duduk disana. Gw sendiri bingung ngapain gw disini.
Kl cr cowok kan ya ke dugem toh? Hehehe...Tapi biarin deh...

Tak lama kemudian, saya melihat ada beberapa cowok lokal dengan bertelanjang dada berbisik-bisik, tertawa kecil sambil sesekali menunjuk ke arah gw. Kulit mereka kehitaman, mungkin "terbakar" oleh panasnya sinar matahari di pantai.

Gw cuekin aja. Lalu salah seorang diantara mereka datang mendekati gw.  "?????", cowo itu menyapa gw. Hehehe...kayaknya pake bahasa Jepang.  Uh..dipikir gw ini nonik sakura yach! sebel deh. Gw bales, "Sore.". Dia terlihat kaget.  Hehehe...makanya jangan sok sksd. Lalu dia bilang maaf karena dia pikir gw orang jepang. Trus dia tanya, apakah gw keberatan kalo dia temeni. GW jawab, "Nope. Silahkan aja.". Pas neh dapet cowok. Dia lalu duduk disebelah gw, ngga pake tiker.

Hm...cowok ini mayan juga. Wajah sih...oklah. tubuhnya kekar bok, mungkin hobi renang. Dadanya bidang. Kulitnya item. Gw tiba-tiba jadi tegang, and *what u know* jadi horny juga :P Namanya *sebut saja* Agung. Julukannya sih beach boy atau apalah. Gw ga tau bener pa kagak. Ngga penting lah.  Kita lalu ngobrol bentar.
"Namanya sapa mbak?"
"Lina"
"Dah lama disini?"
"Baru kemarin"
"Liburan ya"
"Yup"
"Ama sapa?"
"Ma 2 temen gw"
bla...bla...ngobrol2 ringan gitu.

Setelah agak lama, gw kok punya feeling ini cowok boleh juga.  Akhirnya gw mulai membuka diri lah, literally :P Gw lalu mencopot tanktop item gw yang tipis itu
secara pelan-pelan. Agung memandang tubuh gw tanpa berkedip. :P

"mbak cantik ya."
Wew...ucapan standar banget. Gw cumen tersenyum kecil aja. Lalu gue ambil sunblock dan perlahan gw usap-usap ke tangan gw. Gw mencuri pandang ke Agung.  Wew...Dia memandang gw terus-terusan, kayak mo ditelen aje.
"Mbak...mau gue bantu usapin sunbloknya?"
"Hm...boleh deh...Ntar loe sekalian pijitin ya?"
Agung tersenyum lebar, "Boleh.".

Gw lalu tiduran tengkurap diatas tiker. Tak lama kemudian, agung mulai mengolesi punggung gw dengan sunblock. Perlahan tapi mantap, sambil perlahan-lahan dipijit. Oh..enaknya. Untuk beberapa lama dia mengusap- usap punggung gw. Kadang, tangannya agak nakal, sengaja menyentuh bagian pinggir payudara gw yang masih tertutup bra bikini. Hihihi... Gw diem aje.

Lalu perlahan dia mulai turun kebawah. Sambil minta maaf sebentar, dia mulai mengolesi sunblock tadi di pantat gw. Diremas-remasnya perlahan sambil sesekali menggoda lubang dubur gue dengan jarinya. Ups...shit. Cowok ini ngerti juga cara membangkitkan birahi. Hihihi...  Setelah itu, paha gue jadi sasaran kerjanya. Dipijitnya dengan lembut sambil diurutnya kebawah. Bergantian, paha kiri lalu ke kanan.

"Udah selesai, mbak.". blah...koq udah finish seh.
"Mau bagian depannya?"
Aku mengangguk singkat lalu kembali tiduran, kali ini merebah.

Hm...Agung menelan ludah beberapa kali. Hehe...melihat ada cewek berkulit putih mulus sedang merebah didepannya, memakai bikini seksi berwarna hitam.  Payudara gw yang berukuran 34B tentu menggodanya.

Tak lama kemudian, dia mulai mengolesi lenganku dan dipijitnya.  Bergantian, lengan kanan dulu baru kiri. Setelah itu, lagi-lagi sambil meminta maaf pendek, dia mengolesi dada gw sampai ke perut. Sesekali dia mengolesi daerah payudara gue yang ngga tertutup oleh bra bikini. Oh...gw semakin tegang. Gw merasa ada cairan mengalir keluar dari mq gw. ups...terangsang neh...

"Udah mbak".
Duh...kok udah selesai lagi seh?.
Gw membuka mata dengan kecewa. Lalu, gue kembali tengkurap dan minta dia memijit punggung gw. Dia nampak dengan senang hati mengiyakan. Hari nampak semakin senja, dan langit mulai nampak agak gelap. Agung masih tetap duduk disebelah kanan gw.

Perlahan dia mulai memijit punggung gw. Setelah itu, tangannya turun kebawah dan mulai meremasi pantat gue. Aku ngga yakin remasan ini adalah remasan pijat. Gw lebih percaya ini adalah remasan sensual. Hiihihi...GW diem aje sambil menikmati sentuhan dia.

Mungkin karena merasa mendapat lampu hijau, dia mulai lebih berani.  Sekali lagi, sambil minta maaf singkat, tiba-tiba dia menyusupkan jemari tangan kanannya ke bawah untuk mencari mq gw yang masih tertutup cd bikini hitam ini. GW agak kaget tapi diem aja, menikmati :P

Dia memijit-mijit mq gue secara perlahan. Lalu jari tengahnya dipaskan ditengah lubang mq gue yang masih tertutup cd dan digosok-gosokkan. Oh shit...mayan enak neh...dont quit now, please! Jemarinya dengan lembut menggosok dan memijit mq gw. Bergoyang berirama, maju mundur sambil kadang diputar. Oh...yeah.

Gw merasa mq gw semakin basah. Awalnya, gw sempat khawatir diliat orang gimana.  Tapi karena ini termasuk pojok, ditambah senja yang mulai turun, ya udahlah.  Biarin aja. Hihihi...

Setelah agak lama dia memijit dan menggosok-gosokkan mq gw dengan jarinya, dia kembali bertindak lebih jauh. Aku lirik, dia sempat membersihkan lalu menjilati jemarinya. Kemudian, kali ini tanpa minta maaf lagi, dia menyusupkan jemari tadi masuk kedalam cd bikini item gw dan mencari lubang mq gw.  Wah...kurang ajar juga cowok ini. Tapi karena enak ya gw biarin. :P

Tanpa mencopot celana dalam gw, dia memasukkan jarinya kedalam mq gue lalu dikocoknya. "Ah..."..Aku mengerang perlahan, keenakan. Jariku menggenggam pasir
yang ada disekitar gw.

"Enak ya mbak?"
Aku mengangguk pelan, pasrah.
Cukup lama dia mengkocok jari tengahnya didalam mq gue. Gw merasa semakin terangsang dan becek. Kemudian, dia memasukkan jari lainnya lagi kedalam mq gue.
Oh....terasa penuh, sedikit perih tapi enak gila ! Hihihi...
Saat gw lagi keenakan menikmati kocokan jemari Agung didalam mq gw, Agung menambah sensasinya dengan menyusupkan jemari tangan kirinya kedalam payudara kiri gw, masuk kedalam bra bikini yang menutupinya. Diremasnya tete gw dengan lembut.

"Ah...sshh...", erangku semakin keras. Mq gue benar-benar becek neh...Jemari kiri Agung yang nakal itu lalu memilin puting gw, sambil bibirnya menciumi telinga gw.

Oh my...it felt so goood!. Setelah cukup lama memainkan tete kiri gw, dia lalu merubah posisi duduknya kesebelah kiri, dan gantian memainkan tete kanan.

Aduh..
nikmatnya merasakan payudara diremas-remas sambil putingnya dipilin :P Sudah beberapa menit ini dia merangsang gw. Nah, pas gw mo sampai puncak, eh..  tiba-tiba Agung menghentikan kocokan jarinya didalam mq gw. Oh shit.  Kurang ajar banget. Gw sampe menoleh kearah dia, menanti aksi berikutnya.

Sambil tersenyum, Agung perlahan melepas ikatan cd bikini gue, di sisi kanan dan kiri. Wah, gue tegang banget. Ditariknya selembar kain celana dalam gw itu lalu diletakkannya disamping. Agung lalu mulai melepas celana pendeknya dan wow! kulihat penis hitam mengacung keluar. Uratnya terlihat jelas.  Ukurannya cukup besar. Merangsang banget geto lho...

Setelah memasang kondom, dia lalu menindih gw dari belakang secara perlahan.  Gw sangat tegang waktu itu. Tak lama kemudian, gw merasa ada benda tumpul berukuran besar berusaha masuk kedalam mq gw. Oh...gw udah pengen banget.

Tusukan pertama ngga begitu berhasil.
"Uh mbak. Punya mbak masih rapet yah...Perawan ya?"
Aku menggeleng.
"Oh ya gapapa. Biar saya coba lagi."
Setelah beberapa kali mencoba, barulah gw merasakan ada sebatang penis yang berukuran cukup besar melesak masuk kedalam liang veggie gw. Oh shit!  it felt really nice ! memang terasa agak perih N mq gue serasa penuh banget tapi....oh...nikmat sekali...

"Ah....shh...mas....ah...."
Perlahan penis besar itu mulai dikocok didalam mq gue. Tangannya yang kekar menyusup masuk kedalam bra bikini item gw dan meremasi tete gw.  Pantat gw agak nungging dikit agar penisnya bisa masuk lebih kedalam dan lebih terasa.

"Uh...yeah...terus mas..."
Kira-kira demikian erang gw waktu itu. Enak banget disetubuhi dari belakang.  Agung menggoyangkan pantatnya untuk membuat penisnya maju mundur didalam mq gw. Sedang gw mengikuti iramanya agar semakin nikmat. Terkadang Agung meremas payudara gue terlalu keras sampe gw merasa sakit dan lalu gw peringati. Mungkin saking gemesnya ya dia :P Hihihi...

Setelah beberapa menit, gue merasa mau keluar. Gw pegangi lengannya yang masih meremasi payudara gw dari belakang, menariknya agar menggenjot gw lebih keras.
"Ah uh...sssh....ahhh....ssss....ahhh"
"AAAHHHH mas !"
Gw orgasm juga akhirnya. Mq gue terasa berdenyut berkali-kali, dan tubuh gw sedikit bergetar merasakan kenikmatan yang berbeda. Bayangin, disetubuhi ama cowok asing, di tempat umum. Bener-bener bikin tegang. Kayak diperkosa gitu lho, padahal nggak :P

Gw masih berusaha menenangkan diri setelah mengalami orgasm ketika Agung mencabut penisnya. Badan gw lalu dibaliknya hingga menghadap keatas.  Wah, langitnya sudah gelap toh rupanya.

Dia lalu menindih gw dan kembali memasukkan penisnya yang besar itu kedalam mq gw. Duh, enak banget getoo...memang sih, rasa perih agak menyergap saat ditusuk tetapi setelah masuk dan mq gw terbiasa, lumayan lah. Nikmat!
hihihi...

Agung kembali menggenjot gw, tetapi sekarang dari atas. Kulitnya yang berwarna gelap penuh dengan peluh keringat. Kedua tangannya meremasi tete gw dan berpegangan pada buah dada gw itu saat menyetubuhi gw.

"Ah...ah..." erangku penuh nikmat.
Agung lalu berusaha berciuman bibir dengan gw tapi gw tolak.
Hehehe... no deep kissing lah. sorry!

Ya sudah. Dia ngga keberatan. Agung lalu melepas ikatan bra bikini gw dan dengan ganas menyedot puting tete gw yang udah mengeras. Oh...yeah...nikmat sekali.  Lidahnya dengan cekatan menyapu daerah puting dan payudara gw, bergantian kiri dan kanan.

Dia lalu memeluk gw dari atas dengan erat. Supaya lebih mantep goyangannya, gw buka paha gw lebar-lebar dan gw lingkarkan dipinggangnya. Agung terus menggenjot gw dengan cepat. Kita saling mengerang penuh nikmat.

Tak lama kemudian "ah...sshh"
"Ohh...yes...". Gw keluar lagi untuk yang kedua kalinya. Mq gue berdenyut lagi
berkali-kali. Oh...enak banget waktu mq gue meremas penisnya.
Selang beberapa detik kemudian, Agung tiba-tiba melenguh keras dan penisnya
menghunjam semakin keras dan cepat kedalam mq gw.
Auh...perihnya, tapi ENAK! :P

"Oh...mbak...enaknya mbak....OOOoooooo!"....Lalu kurasakan penisnya berkedutan
didalam. Hihihi...lagi muncrat yach ! Enaknya...

Dia lalu ambruk memeluk gw dengan sangat erat. Aku juga memeluknya dengan erat.  Penisnya masih kokoh menembus mq gw. Kaki gw masih melingkar di pinggangnya.  Kami berpelukan dalam posisi bersetubuh ini selama beberapa saat.  Setelah penisnya terasa "loyo", Agung mencabutnya dan rebah disamping gw. Sambil nafasnya tersengal-sengal, dia melepas kondomnya dan melemparnya ke tong sampah.

Saya lalu segera berpakaian dan hendak pulang ke hotel. Udah gelap neh, mendung.  Sepi lagi. Gw pake baju cekci lagi. Bisa berabe :P Hehehe...Tapi untung si Agung ini cukup gentlemen. Dia menawarkan diri untuk mengantar gw sampe KE KAMAR !  Hehehe...Gentlemen atau cari kesempatan neh...Singkat cerita gw sampe didepan kamar dan mencium pipinya tanda perpisahan, untuk saat ini :P

---

[to be continued]

Arthur In Love With A Princess


International Student Organization di kampus saya setiap tahun mengadakan acara dance cruise yaitu acara dansa yang diadakan diatas kapal pesiar. Acara ini dikhususkan untuk mahasiswa international di universitas saya tapi juga terbuka bagi mahasiswa warga negara Amerika juga. Tahun 1996 merupakan tahun terakhir saya kuliah sebelum saya selesai menempuh pendidikan S1. Sebelumnya saya tidak kepikiran untuk ikut acara seperti itu, tapi setelah dibujuk oleh teman saya, akhirnya saya berminat untuk ikut dance cruise.

“What the heck, perhaps it’ll be fun” saya berpikir dalam hati.
Sabtu Sore Di Pier 6
Bulan September di kota San Francisco belum terlalu dingin. Malam itu saya dan 4 teman Indonesia saya telah tiba di pelabuhan tempat naik kapal pesiar. Jangan bayangkan kapal pesiar yang besar dan mewah, karena sesungguhnya kapal pesiar yang dipakai dalam acara ini hanya berukuran medium dan terdiri dari 3 deck. Cukup banyak yang ikut dance cruise ini, saya perkirakan ada sekitar 100 orang yang telah berkumpul. Semua berpakaian rapih, yang pria mengenakan jas dan yang wanita mengenakan evening gown. Di tiket ditulis jam boarding ke kapal pukul 17:30.
Sambil menunggu, saya melihat teman baik saya, Natha Sankavadhana (orang Thailand) datang dengan serombongan besar orang Thailand. Ia melambaikan tangannya pada saya dan menyampiri saya. Saya dan Natha berteman baik karena kita sama-sama mulai dari freshman (tahun pertama), sophomore (tahun kedua) dan junior (tahun ketiga). Tapi ditahun senior (tahun keempat) saya jarang sekelas dengannya karena saya berkonsentrasi di finance sedangkan Natha di accounting. Kami langsung asyik ngobrol sambi tertawa-tawa. Mata saya tiba-tiba tertumbuk pada satu perempuan Thailand yang berdiri diantara orang-orang Thailand.
Penampilannya anggun dengan evening gown warna merah dan rambutnya ditata dengan rapih. Sambil memperhatikan dirinya, saya tetap ngobrol dengan Natha. Sekali dua kali mata saya dan perempuan Thailand itu saling beradu. Saya menganggukan kepala sambil senyum dan ia membalas senyum. Obrolan dengan Natha terpaksa terhenti karena terdengar bunyi sirene kapal pertanda pintu kapal telah dibuka dan orang-orang antri untuk pemeriksaan karcis.
Deck satu diperuntukkan untuk dance floor, dance dua untuk duduk-duduk dan bar sedangkan deck tiga sebagai tempat untuk melihat pemandangan. Jam 18:00 tepat kapal pun berangkat. Orang-orang langsung naik ke deck tiga untuk melihat matahari terbenam di teluk San Francisco. Saya dan teman-teman akrab saya, yaitu Hiroko dan Matsumi (Jepang), Nicholas (Russia) Hendri Wong (Hong Kong), Jafar (Malaysia) dan beberapa teman lainnya lebih memilih untuk hang out di bar untuk ngobrol-ngobrol. Alunan musik disko disusul reggae, musik pop dan slow dance silih berganti di deck satu. Tertawa hiruk pikuk orang-orang terdengar saat ada acara games dan pembagian hadiah. Tapi hal tersebut tidak membuat saya dan teman-teman tertarik dan kami tetap ngobrol dan becanda sambil minum bir.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22:00 dan kapal pun siap-siap untuk merapat ke pelabuhan. Oh damn it, saya langsung teringat ke perempuan Thailand yang saya perhatikan sebelum berangkat. Dimana dia? Saya cari ke deck satu, suasana agak remang-remang. Orang-orang masih asyik slow dance menikmati lagu “For ever young”. Saya ke deck tiga dan celingukan. Ternyata ia ada ditengah-tengah group Thailand dan sedang berfoto-foto. Akhirnya pintu kapal dibuka dan orang-orang pun turun dari kapal. Saya melihat kebelakang dan kelihatannya group Thailand itu belum turun dari deck tiga. Ya sudahlah, nanti saja hari senin saya tanya ke Natha.
Senin Pagi Di Kampus
“Hai Natha, what’s up?” saya menegur Natha yang sedang sarapan di kafetaria kampus.
“Hi Arthur, apa kabar? Saya lagi lihat-lihat foto dance cruise. Lihat deh” Natha menawarkan.
Saya cepat-cepat membuka foto demi foto mencari perempuan yang saya incar, dan ada!
“Eh, yang ini cantik ya? Siapa sih namanya?” tanya saya to the point.
“Hahahaha.. Kamu mau kenal juga ya?” kata Natha sambil tertawa.
“Kenapa?”
“What a coincidence. Namanya Nadia. Waktu di dance cruise, dia tanya ke saya nama kamu, langsung aja saya tawarin mau kenalan nggak?” kata Natha
“Wah terus? Kok nggak jadi?” tanya saya kecewa.
“Yah abisan kamu lagi mabuk di bar dengan anak-anak” kata Natha.
“Enak aja! Saya nggak mabuk” jawab saya sengit.
“Just kidding! Anyway, nih saya kasih nomor telepon dia dan kamu hubungi sendiri ya?” kata Natha sambil menulis angka dikertas lalu memberikannya pada saya.
“Thanks a lot Natha, you’re so sweet” lalu saya cium pipinya.
Malam itu saya telepon Nadia. Orangnya ramah sekali. Nama panjangnya Nadia Padvangkash. Gaya bicaranya tegas dan accent inggrisnya juga lancar, beda dengan orang Thailand lainnya yang accent inggrisnya masih tercampur dengan accent bahasa Thailand sehingga tidak enak didengar. Ternyata Nadia sedang mengambil program S-2, pantesan saya tidak pernah melihatnya di kampus karena jam kelasnya beda dengan mahasiswa S1. Usianya sendiri 3 tahun lebih tua dari saya.
“Mau makan siang nggak besok?” saya menawarkan.
“Besok saya agak sibuk. Bagaimana kalau Jum’at siang?”
“Boleh, kita ketemu di student lounge ya?”
“Sounds great” Lalu saya ucapkan selamat malam dan menutup telepon.
Jum’at Siang Di Student Lounge
“Eh Arthur mau ngedate loh sama anak Thailand” goda si Ucok.
“Anaknya yang tinggi itu ya? Cantik loh” si Jenny nambah-nambahin.
“Ah rese loe semua, sana-sana pergi, bentar lagi orangnya datang” saya belagak marah.
Teman-teman tertawa terbahak-bahak lalu meninggalkan saya. Tidak berapa lama, si Nadia datang. Saya tersenyum dan memanggilnya, Nadia melambaikan tangannya dan balas senyum. Nadia mengenakan celana jeans agak ketat dengan kemeja warna cerah. Rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai. Nadia memang mempunyai pesona tersendiri dan kelihatan cantik dan anggun. Kulitnya putih, hidungnya mancung dan matanya agak sipit.
“Hi, ready to go?” kata saya.
“OK, I’m starving” jawab Nadia
Saya mengemudikan mobil saya kearah Japan Town dan kami makan siang di sebuah restoran sushi yang cukup terkenal di San Francisco. The best sushi in town! Sambil makan siang, kami tak henti-hentinya ngobrol tentang berbagai macam topik. Selesai makan siang, saya menawarkan untuk nonton di bioskop disamping restoran sushi. Nadia setuju-setuju saja. Lalu kami nonton “The Saint” yang baru main. Selesai nonton, saya mengantar Nadia pulang ke apartemennya di daerah down town.
Gedung apartemennya cukup modern dan terawat. Nadia mempersilakan saya masuk ke apartemennya. Kami lalu kembali melanjutkan obrolannya sambil nonton TV. Jam 18:00, dengan menyesal saya terpaksa harus minta ijin karena mau latihan bola basket. Nadia terlihat agak kecewa.
“Saya jemput kamu lagi ya besok” kata saya.
“Bagaimana kalau saya masak untuk kamu besok malam? Setuju?” Nadia menawarkan.
“Boleh aja” jawab saya dengan tersenyum.
“Datang ya jam 17:00, saya tunggu” Lalu saya diantar keluar oleh Nadia dan saya langsung kembali ke kampus untuk latihan bola basket.
Sabtu Sore Di Liquor Store
Saya mempelajari budaya orang bule, apabila diundang makan malam, jangan datang dengan tangan kosong dan perut keroncongan. Harus membawa sesuatu! Saya membeli sebotol white wine yang saya sudah tau pasti rasanya enak. Saya langsung memacu mobil saya ke apartemen Nadia supaya tidak terlambat. Jam 17:00 tepat saya sudah tiba di apartemennya. Nadia membukakan pintu dan tersenyum lebar
“Halo, silakan masuk. Wah kamu beli white wine ya?” kata Nadia.
“Iya, white wine goes well with Thai food” kata saya sok tahu.
“Hahaha, bisa aja kamu” kata Nadia.
Malam ini Nadia mengenakan rok selutut warna hitam dan baju lengan pendek. Pakaiannya sangat sopan. Rambutnya yang panjang ia ikat keatas.
“Wow, kamu masak ini semua?” tanya saya.
“Iya, dari kecil saya sudah terbiasa masak. Saya diajar ibu saya. Yang ini adalah udang goreng, yang itu sayur dan yang ini daging sapi” ujar Nadia memperkenalkan masakannya.
Meja makan sudah tertata rapih, piring, gelas, sendok dan garpu diatur dengan rapih dan ditengah meja ada tempat lilin dengan lilin yang sudah menyala. A perfect dinner. Saya membuka gabus penutup botol wine dan menuangkannya di gelas wine lalu memberikannya ke Nadia dan menuangkan satu gelas untuk saya. Setelah itu kita mulai makan malam.
“Suka nggak?” Tanya Nadia.
“Lezat sekali. Benar-benar enak” puji saya dengan jujur.
Selesai makan, Nadia bangkit untuk mengumpulkan piring dan gelas kotor tapi saya larang. Saya minta Nadia tetap duduk dan saya yang membersihkan meja. Piring, gelas, dan peralatan makan yang kotor saya bilas dengan air lalu dimasukkan ke dish washer (mesin untuk cuci piring, gelas, sendok, garpu dan keluarganya). Nadia memperhatikan kesibukan saya sambil minum wine. Setelah itu, Nadia mengajak saya nonton TV. Kami duduk di sofa sambil nonton TV tapi kami tidak terlalu memperhatikan acara TV karena asyik ngobrol berdua. Diatas coffee table, ada sebuah buku besar bertuliskan “Thailand”.
Saya mengambil buku itu lalu membukanya. Sambil memperhatikan gambar-gambar di buku itu, Nadia sibuk menceritakan tentang adat istiadat negaranya, menceritakan tentang Bangkok. Kira-kira dipertengahan buku, ada satu foto Raja Bhumibol (Raja Thailand) memakai pakaian kasual dan sedang tertawa-tawa dengan 2 remaja putri dan 3 remaja putra. Dibawah foto itu ada tulisan “Raja Bhumibol sedang menikmati masa liburannya dengan berkumpul bersama keluarga besarnya dan tampak sedang bergurau dengan keponakannya”. Saya perhatikan wajah remaja-remaja ini dan ternyata remaja putri itu adalah Nadia.
“Ini kamu ya?” tanya saya.
Nadia tersenyum dan mengiyakan
“Kamu keponakan Raja Bhumibol?”
“Iya, masih keponakan langsung. Dari kecil saya sudah diajar tata krama dilingkungan kerajaan, cara berbicara, cara berjalan, cara makan, belajar menari, dsb” Nadia menerangkan.
“Wah pantesan aja dari pertama kali saya melihat kamu kok rasanya beda sekali dengan anak-anak Thailand lainnya” kata saya dengan kagum.
“Are you a princess?” tanya saya.
“Yah semacam itulah” jawab Nadia tanpa nada sombong.
Nadia menceritakan kisah-kisah lucu selama diajar di kerajaan. Saya mendengarnya dengan asyik. Selesai bercerita, Nadia memutar CD Jim Brickman lalu melanjutkan obrolannya. Ditengah obrolan, saya meletakkan gelas saya yang berisi wine lalu berdiri depan Nadia. Saya julurkan tangan kanan saya lalu membungkuk
“May I have the honor to dance with you, my lady?”
“Certainly, Sir” jawab Nadia sambil tersenyum dengan manis.
Tangan kiri saya terjulur kesamping kiri saya dan tangan kanan saya merangkul pinggang Nadia, sedangkan tangan kanan Nadia menggenggam tangan kiri saya dan tangan kirinya merangkul bahu kanan saya. Kami berdansa diiringi lantunan piano dari Jim Brickman. Sambil dansa, mata kami saling menatap. Dalam hati saya memuji kecantikan Nadia. Saya menjadi sungkan dengan Nadia begitu tahu dia adalah keluarga dekat Raja Bhumibol, hal ini membuat saya menjadi segan untuk mengajaknya ML, kecuali dia yang mengajak ya lain perkara.. hehehe.
Jarak kami menjadi semakin dekat sehingga kami praktis berpelukan. Saya melingkarkan kedua tangan saya dipinggangnya dan Nadia mengalungkan tangannya di leherku. Nadia mendekatkan bibirnya lalu mengecup bibir saya. Saya lalu membalas ciumannya dan Nadia pun membalas ciumanku dan kita berciuman sambil berdansa. Biasanya kalau sudah begini, tangan saya sudah sibuk bergerilya ke tubuh si wanita, tapi kali ini tangan saya tetap dipinggang dan tidak berani bergerak kemana-mana.
Anehnya, si Nadia justru yang meraih tangan saya dari pinggang dan memindahkannya ke pantatnya. Lampu hijau dari Nadia membuat saya mulai bereksplorasi. Saya raba-raba pantatnya dan pinggangnya. Tangan Nadia pun mulai meraba dada saya dan pantat saya. Wah ternyata dia agresif juga. Kami berciuman beberapa lama, lalu Nadia menarik mukanya dan tersenyum pada saya, tangan saya digenggam dan saya dibawa ke kamarnya. Nadia kembali mencium saya dipinggir tempat tidur. Perlahan saya beranikan diri meraba payudaranya. Nafas Nadia mendengus menahan nafsu.
Perlahan saya baringkan Nadia ditempat tidur, saya membuka semua kancing bajunya sehingga tampak BHnya warna merah maroon. Nadia meraih kebelakang roknya dan membuka kaitan roknya lalu saya menarik roknya kebawah dan terlihat celana dalam yang sewarna dengan BHnya. Nadia tersenyum malu lalu ia meraih kemeja saya dan membukanya lalu dilanjutkan dengan membuka celana panjang saya berikut celana dalamku.
Saya kembali mencium Nadia, meremas payudaranya dan memainkan jariku divaginanya. Nadia nafasnya memburu tak teratur, tangannya meraih kontolku dan mengocoknya dengan cepat. Saya membuka BHnya lalu menghisap putingnya. Payudaranya tidak terlalu besar berukuran 32 dan putingnya berwarna coklat muda. Nadia mendesah dengan kencang dan tangannya tak henti-hentinya mengocok kontolku. Nadia memutar tubuhnya sehingga kepalanya persis diatas kontolku sedangkan pinggulnya disamping kepala saya, saya menarik pinggulnya dan mengambil posisi 69.
Saya tarik celana dalamnya kebawah melewati kaki kanannya dan membiarkan celana dalamnya tergantung dipaha sebelah kirinya. Bulu kemaluan Nadia agak lebat tapi terawat dengan baik. Bulu-bulunya terlihat merunduk kebawah dengan rapih. Saya mulai jilat vaginanya dengan rakus sembari meremas pantatnya. Nadia merespon dengan mengulum kontolku.
“Oh Arthur, terus sayang, enak sekali” ujar Nadia.
Setelah ber-69 untuk beberapa lama, saya menggeser Nadia kesamping lalu saya berdiri keluar. Nadia memperhatikan dengan wajah bingung. Saya kembali ke kamar dengan membawa botol white wine. Saya telentangkan Nadia lalu saya tuang sedikit wine ke dadanya turun ke perut ke paha dan ke mata kaki. Lalu perlahan saya jilat wine itu dari dada Nadia. Nadia mendongakkan kepalanya merasakan gairah saat saya memainkan lidah diputingnya.
Kembali saya lanjutkan menjilat wine di perut Nadia, turun ke vaginanya. Saya buka bibir vaginanya lalu menuang sedikit wine ke dalamnya, setelah itu saya hirup wine itu dari vaginanya. Beberapa tetes wine keluar dari vagina dan turun ke pantat Nadia. Tak luput saya menjilat seluruh daerah pantatnya. Nadia menjerit dengan nikmat.
“Arthur, seksi sekali. Sangat erotis. Kamu memang jago membuat saya terangsang”
Saya jilat habis seluruh wine di vagina Nadia, lalu turun ke dengkul hingga mata kaki dan ujung jari kakinya. Semua dijilat habis. Nafas Nadia tersengal-sengal merasakan itu semua.
“Sekarang giliran saya” kata Nadia.
Saya baring terlentang lalu Nadia mengambil selimut yang tipis dan kedua tangan saya diikat dipinggir tempat tidur.
“This girl is getting kinky” kata saya dalam hati.
Nadia menuangkan wine dileher saya lalu ke dada, perut, seluruh kontol saya dituang wine, paha sampai ke jari kaki. Dengan kedua tangan saya terikat diujung tempat tidur, Nadia mulai menjilat wine di leher saya. Ciuman Nadia di leher saya sungguh merangsang. Lalu ia turun ke dada saya dan menjilat kedua puting saya dilanjutkan ke perut dan akhirnya ke kontol saya. Kontol saya dihisap dan dijilat sampai ke biji saya. Kedua belah paha saya diangkat dan Nadia menjilat sampai ke selangkangan saya.
“Oh my goodness Nadia, it feels so fuckin good, terus sayang” kata saya menikmati setiap rangsangan yang saya dapat dari jilatan Nadia.
Nadia menjilati seluruh wine di paha dan betis hingga ujung jari kaki. Puas membuat saya sampai tersengal-sengal menahan nafsu, Nadia memandang saya dengan tatapan yang erotis. Kontol saya kembali diremas, lalu ia jongkok dipinggul saya dan memasukkan kontolku kedalam vaginanya. Baru sekali ini saya ML dalam keadaan terikat, tapi ada sensasi tersendiri yang saya rasakan. Nadia mulai menggoyangkan tubuhnya keatas kebawah dan memutar pantatnya.
Ikatan rambut Nadia terlepas sehingga rambutnya terurai. Tapi Nadia dengan cepat menggulung rambutnya keatas kepalanya dan tangan kanannya menahan rambutnya diatas sedangkan tangan kirinya sibuk meremas payudaranya. Mata Nadia terpejam merasakan kontolku dalam vaginanya. Saya benar-benar terangsang habis-habisan melihat Nadia yang begitu erotis memompa vaginanya dalam kontolku. Ada saat dimana Nadia tidak bergerak tapi saya merasakan vaginanya seperti menghisap kontolku lebih dalam dan terasa seperti digenggam dengan keras.
“Aahh, yes, yes, your dick feels so good in my pussy” ujar sang princess.
Nadia lalu menyorongkan tubuhnya kearah dadaku dan ia mencium bibirku sementara pantatnya masih terus memompa kontolku dalam vaginanya. Nadia melengkungkan dadanya keatas sehingga saya bisa menjilat putingnya. Saya menjilat seluruh payudaranya. Nadia melenguh dengan keras sambil memegang rambutnya yang tergulung diatas kepalanya dengan kedua belah tangannya.
Akhirnya saya mencapai klimaks dan peju saya keluar dengan deras didalam vagina Nadia. Tubuh Nadia mengejang dan ia juga orgasme. Nadia terkulai lemas didadaku, ia melepaskan ikatan tangan saya dan langsung tertidur didadaku. Saya mengecup bibirnya yang mungil dan ikut tertidur dengannya.
Jam 22:00, kami terbangun. Saya ingat ada janji dengan teman untuk hadir dalam acara ulang tahunnya yang diadakan disebuah club di down town San Francisco. Saya mengajak Nadia untuk ikut tapi Nadia lebih memilih untuk tinggal dirumah. Saya pun berpakaian lalu mencium Nadia yang mengenakan jubah kamar.
“I had a wonderful evening with you, my lady” ujar saya.
“Saya juga. Anda membuat saya terbang ke langit ketujuh” jawab Nadia dengan tersenyum
Kami berciuman dan Nadia mengantar saya sampai ke pintu. Princess Nadia yang anggun dan cantik, siapa sangka dibalik sikapnya yang kalem ternyata ia memiliki hasrat seksual yang besar.

Arthur Singapore, Shopping & Sex - 2



Berkali-kali saya menelan ludah dan jantung saya berdebar dengan keras. Terus terang baru sekali ini ada wanita yang masturbasi didepan saya. Vonny terus menggesek jarinya diklitorisnya dengan cepat. Tiba-tiba Vonny membalikkan badannya, ia nungging dalam posisi doggy style, jari tangan kanannya ia selipkan dari bawah selangkangannya dan ia masukkan ke dalam vaginanya. Dengan cepat kedua jarinya itu ia masuk dan keluarkan dalam vaginanya.
Saya perhatikan pantatnya yang bulat dan putih, anus dan vaginanya terlihat begitu indah dan sensual. Payudaranya yang besar tampak tergantung dan bergoyang-goyang mengikuti irama tangan Vonny. Setelah beberapa menit masturbasi, Vonny mencapai orgasme diiringi suara mendesah yang keras. Saya sendiri menarik nafas lega, bukan apa-apa karena kalau Vonny masih masturbasi maka saya akan langsung mengeluarkan kontol dan ikut masturbasi.. Hehehe.
Belum sempat saya bereaksi, Vonny berdiri didepan saya lalu menjulurkan jarinya yang ia pakai untuk masturbasi, saya menjilat kedua jarinya dan mengulumnya. Rasanya sedikit asin. Vonny mencium bibir saya lalu ia jongkok depan saya. Tangannya perlahan mulai membuka risleting celana lalu membuka celana panjang dan celana dalam saya. Dasi kupu-kupu saya disentak dan dibuang ke lantai lalu satu per satu kancing kemeja saya dibuka lalu ia membuka sepatu dan kaos kaki saya.
Kemudian Vonny menarik kedua paha saya dan disandarkan pada sandaran tangan kursi sehingga posisi saya mengangkang depan Vonny. Vonny menjilat kaki saya dan naik ke betis terus ke paha sampai ke pangkal paha lalu turun ke biji. Biji saya dijilat dan dihisap dengan keras.
“Vonny sayang, enak sekali. Terusin sayang, lebih keras” seru saya.
Vonny menjilat batang kontol saya lalu turun lagi ke biji dan turun ke daerah anus. Anus saya dijilat sampai terasa basah sekali. Wah nikmatnya bukan kepalang. Saya sampai berteriak keenakan. Saya berpikir pantas perempuan-perempuan kalau saya jilat bagian anus dan selangkangan akan teriak-teriak dengan nikmat. Vonny lalu mulai menjilat kepala kontol saya dan menghisapnya.
Setelah beberapa menit menghisap kontol, Vonny berdiri dan meminta saya meletakkan kaki saya ke lantai, Vonny mengangkat kaki kanannya dan menyandarkannya ke pundak kanan saya lalu vaginanya didekatkan ke muka saya, kemudian Vonny membungkukkan badannya dan kembali menghisap kontol. Saya langsung menerkam vaginanya. Saya remas-remas pantatnya, saya buka vaginanya dan menjilat seluruh dinding vaginanya dengan rakus. Saya hampir mencapai klimaks dan Vonny kelihatannya merasakannya lalu ia cepat-cepat mencabut kontol saya dari mulutnya.
Kemudian Vonny nungging didepanku sambil bersandar pada tepi tempat tidur. Tanpa dikomando, saya langsung menjilat pantatnya, saya jilat anusnya lalu vaginanya. Vonny mendesah-desah dengan penuh nikmat
“Fuck me Arthur, fuck me” jerit Vonny.
Tapi saya diamkan. Saya tetap menjilat vaginanya sampai puas. Kemudian Vonny saya telentangkan, payudaranya belum kena serangan saya. Dengan gemas saya remas payudaranya dan hisap putingnya. Dengan nafas memburu Vonny kembali memohon agar saya setubuhi. Dengan tidak sabar, Vonny mendorong saya sehingga saya telentang ditempat tidur, ia jongkok diatas saya lalu memasukkan kontol saya ke vaginanya. Vaginanya terasa sempit dan basah.
Dengan penuh gairah Vonny mengayun-ayunkan pantatnya. Vonny menyorongkan dadanya ke hadapan saya dan langsung saya remas payudaranya yang besar. Putingnya yang berwarna coklat muda terlihat keras dan sedikit besar. Saya kemudian mengambil alih, saya mencabut kontolku dan langsung berlutut dibelakang Vonny, pantatnya yang aduhai saya tarik keatas dan langsung saya setubuhi. Setiap kali saya sentak kontol saya kedalam vaginanya, Vonny mengerang dengan keras.
15 menit ber-doggy style akhirnya saya mencapai klimaks, peju saya muncrat kedalam vagina Vonny. Saya mendesah dengan penuh nikmat sementara Vonny langsung lemas ditempat tidur. Vagina Vonny masih terasa mendenyut-denyut di kepala kontol saya pertanda Vonny masih menikmati kontol saya. Kemudian saya cabut kontol saya dan kemudian kita tidur sambil berpelukan tanpa mengenakan benang sehelai pun.
10 Agustus 2003
Saya terbangun jam 6 pagi dengan Vonny dalam pelukan saya. Saya memperhatikan tubuhnya yang mulus tanpa cacat dan teringat aktivitas semalam. Vonny tiba-tiba membuka matanya dan memandang saya kemudian kita saling berciuman. Kontol saya langsung kembali berdiri tegak.
“Kita ML sambil mandi aja yuk” kata Vonny sambil menarik tangan saya.
Didalam kamar mandi, kembali Vonny menyuruh saya duduk ditoilet. Showernya terletak didepan toilet dan dibatasi oleh dinding kaca.
“ML-nya nanti ya, sekarang kamu tonton saya dulu” kata Vonny dengan tersenyum.
Vonny masuk kedalam shower dan mulai menyalakan shower. Ia meraba seluruh tubuhnya dibawah pancuran shower. Payudaranya yang besar ia remas-remas sambil memejamkan matanya. Oh my goodness, kalau harus melewati ini lagi saya bisa tidak tahan gumam saya dalam hati.
Vonny mengambil sabun dan mulai menyabuni seluruh tubuhnya, setiap bagian tubuhnya ia pijit dan remas. Ia mengangkat satu kakinya dan mengelus-elus vaginanya. Vonny menyabuni vaginanya sehingga busanya berbuih kemudian ia meraih pisau cukur dan mencukur daerah vaginanya lalu keselangkangan kemudian bagian dibawah perut. Tak lupa ia mencukur juga kakinya. Setelah dirasakan bersih, ia kembali menyabuni seluruh tubuhnya, sesekali ia melirik kearah kontol saya sambil tersenyum.
Vonny kemudian menyandarkan dirinya ke dinding lalu membuka kakinya kemudian tangan kirinya mengelus vaginanya dan tangan kanannya meremas payudaranya. Suara Vonny terdengar keras dan menggema didalam kamar mandi. Saya akhirnya tidak tahan dan saya berdiri dan masuk kedalam shower. Saya basahi sedikit kontol saya dengan air dan diolesi sabun lalu mulai mengocok kontolku. Vonny memperhatikan diri saya yang sedang masturbasi dan ia semakin cepat mengocok vaginanya dengan jarinya. Tak lama Vonny orgasme dan saya semakin keras mengocok kontolku. Vonny lalu membungkukkan dirinya didepan saya
“Masukin sayang” kata Vonny.
Saya masukkan kontol saya kedalam vagina Vonny. Sisa-sisa sabun dikontol saya membuat vagina Vonny semakin licin. Vonny mendesah-desah dengan keras. Pancuran shower berada tepat diatas kepala Vonny sehingga seluruh rambutnya basah, dirinya terlihat sangat erotis. Setelah mengocok kontol saya dalam vagina Vonny, peju saya kembali muncrat. Vonny langsung memutar tubuhnya dan ia jongkok didepan saya dan menghisap seluruh peju saya.
Walaupun peju saya tidak keluar lagi, Vonny menghisap kontol saya. Sambil meremas payudaranya dengan tanan kanan, tangan kirinya mengocok kontol saya sambil menghisapnya. Kontol saya yang tadinya sedikit mulai melemas akhirnya kembali bergairah dan tegak kembali. Saya tarik Vonny sampai berdiri lalu mencium bibirnya. Tangan kiri Vonny masih terus mengocok kontol saya.
Lalu saya minta Vonny untuk nungging dilantai untuk doggy style. Saya kembali memasukkan kontol saya ke vaginanya tapi dilarang Vonny.
“Di pantat Arthur, masukin ke pantat” pinta Vonny.
Saya arahkan kontolku ke pantat Vonny dan perlahan-lahan memasukkannya. Vonny meringis menahan sakit. Dengan perlahan-lahan saya masuk dankeluarkan kontolku kedalam anus Vonny, jeritan kecil Vonny yang kesakitan berubah menjadi desahan yang penuh nikmat. Anus Vonny terasa sangat sempit dan menggenggam kontol saya dengan keras. Vonny kembali agresif, ia memaju-mundurkan pantatnya dengan penuh nikmat.
Tapi posisi ini agak sulit bagi saya untuk menikmatinya, akhirnya saya cabut kontol saya dari anusnya. Saya meminta Vonny berdiri dan saya memasukkan kontol kedalam vagina Vonny dari arah depan. Vonny mencium bibir saya dengan penuh nafsu. Saya terus menekan kontol saya ke dalam vagina Vonny. Klimaks pun tiba dan kembali peju saya keluar didalam vagina Vonny. Kami saling berpelukan dengan lemas dibawah pancuran air hangat.
Selesai ML, kami turun ke lobby untuk sarapan kemudian pergi belanja. Jam 12 sebelum check out, kami kembali ML. Setelah puas, kami mengemaskan seluruh koper dan menitipkan di lobby karena pesawat kami berangkatnya malam dan kami masih mau Jalan-jalan di Singapore. Vonny bercerita bahwa dulu di Melbourne ia pernah diminta mantan pacarnya untuk menari telanjang dihadapannya. Ia merasakan kenikmatan saat menari telanjang. Kemudian mantan pacarnya kembali meminta ia menari di sebuah klub striptis di Melbourne. Dengan senang hati Vonny melakukannya. Vonny merasa senang dan puas melihat wajah-wajah para pengunjung melihat dirinya yang telanjang dan masturbasi. Bahkan jika Vonny sedang tegangan tinggi, Vonny akan sekali-sekali datang ke klub striptis itu dan menari.
Vonny cerita ia pernah mengajak Lisa menari telanjang di klub itu dan Lisa pun mau walaupun hanya sekali saja. Di panggung itu, Lisa dan Vonny melakukan adegan bersetubuh. Hasilnya mendapat tip yang sangat banyak. Selesai menceritakan itu semua, Vonny mengancam saya jangan sekali-sekali menceritakan pada Jeffry. Pengalaman sex di Singapore memang menambahkan sederetan pengalaman sex saya.

Musim Panas di Los Angeles - 3

  Ketika keluar dari kamar Jeanne, aku mencium wangi makanan. Sepertinya Jeanne membuat nasi goreng dan oseng-oseng ayam dan udang dengan sa...